Apakah seorang Lee Haechan akan benar-benar tersakiti, ataukah sebaliknya?
The Real Game | chap 2 |
-oOo-
7 September 2017
Di pagi yang hangat, matahari sudah bertengger manis di tempatnya. Sinarnya yang temaram membuat seberkas bayangan semu di antara pepohonan yang rindang. Daun-daun bergelayut manja menerpa udara yang berhembus. Burung-burung berkicau ria tanpa mempedulikan dinginnya pagi hari. Tak mengusik para manusia yang masih terlelap, enggan menampakkan tubuhnya di balik selimut.
Hal itu terjadi pula pada pemuda yang masih setia bersembunyi di balik tebalnya selimut. Dan tanpa ia sadari wajah di balik kacamata tebalnya tampak cantik alami, wajah imutnya dapat terlihat jelas saat ia telelap,
"Haechan ah! cepatlah bangun kau tidak lihat sekarang jam berapa eoh!"
Terdengar teriakan keras dari lantai dasar yang cukup membuat tubuh itu sedikit bergerak. Rumah yang dihuninya memang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Jadi itu cukup membuatnya merasa terganggu oleh teriakan cempreng yang ia yakini milik eommanya. Perlahan sepasang mata indah pun kini terbuka.
Haechan meengucek matanya yang masih terkantuk. Menolehkan kepalanya melirik ke arah jam dinding di kamarnya. Seketika matanya membelalak melihat arah jarum jam.
"Ya! Oh tidak."
Haechan memekik keras, segera melompat dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar dengan terburu-buru. Pukul 06.30! yang benar saja. Dia terlambat sekolah untuk pertama kalinya.
Kakinya melangkah cepat menuju kamar mandi, segera membersihkan badannya. Bahkan karena terlalu fokus dengan kegiatannya ia tidak mempedulikan eommanya yang berteriak, memanggil dan memarahinya karena ia terlambat bangun pagi.
Jangan salahkan Haechan, tapi salahkan handphonenya yang sudah ia pasang alarm itu tidak berbunyi. Dan berujung ia bangun kesiangan.
"Aish! Aku harus cepat!" Gerutu Haechan setelah ia keluar dari kamar mandi lalu melesat cepat menuju kamarnya.
"Haechanie, eomma buatkan bekal ne?"
"Ne eomma." Haechan berteriak dari dalam kamar menjawab eommanya, setidaknya Haechan masih waras untuk menjawab pertanyaan eommanya walaupun dalam keadaan yang sangat mengenaskan.
Beberapa saat kemudian, Haechan keluar dari kamarnya. Melangkah menuruni anak tangga sambil memakai kacamata tebalnya. Berjalan menghampiri meja makan, memperhatikan eommanya yang tengah sibuk berbicara dengan...
"Jaemin?"
"Selamat pagi embulku tersayang." Jawab Jaemin seraya memamerkan deretan gigi putihnya.
Hening
...
Beberapa detik kemudian
"APA YANG KAU LAKUKAN DIRUMAahKU?!" Teriak Haechan nyaring, tepat setelah ia duduk di sebelah Jaemin. Bagus Haechan kau membuat dua makhluk lain dirumahnmu menutup telinga dalam waktu bersamaan.
"Yak! Lee Haechan jangan berteriak!" Omel eomma Haechan.
"Ah mianhae eomma." Katanya sambil mengatupkan kedua tangannya, setelahnya ia kembali berbalik menghadap Jaemin yang tengah menggerutu.
"Ouch telingaku sakit." Terlihat Jaemin mengusap telinganya yang sakit.
"Itu salahmu sendiri duduk di sampingku." Ujar Haechan dengan nada datarrnya. Pasalnya Haechan merasa kesal dengan pemuda yang satu ini. Saat kemarin malam ia menumpang dirumahnya, lalu ketika ia mencari sosok Jaemin di pagi hari, sang eomma mengatakan bahwa Jaemin sudah pulang saat Haechan masih terlelap tidur. Padahal waktu itu Haechan ingin minta antar Jaemin ke sekolahnya, karena kemarin pagi ia harus sudah ada di sekolah untuk piket.
"MWO?! Aku sudah dari tadi duduk disini." Bela Jaemin seraya menoyor kepala Haechan, di depan eommanya eum? Sudah biasa.
"Terserahlah." Kata Haechan cuek sedang Jaemin mendengus sebal.
"Lalu, sedang apa kau dirumahku wahai Na Jaemin?" Tanya Haechan melupakan bahwa dirinya sudah amat sangat telat bersekolah.
"Mengantarkan kue." Jawab Jaemin
"Kue? Eomma aku ingin bawa kue ke sekolah juga...eh sekolah? Sekolah...SEKOLAH?!" Pekik Haechan untuk kesekian kalinya ia berteriak di pagi hari. Melihat jam tangannya.
"JAM TUJUH?! Eomma aku terlambat..arrggghhhhh Jaemin, kau masuk jam 8 kan? Sekarang antarkan aku."
Haechan berteriak frustasi lalu menggeret Jaemin ke luar rumah, setelah sebelumnya ia memasukkan bekalnya ke dalam tas. Jaemin yang tengah di tarik oleh Haechan hanya bisa pasrah, toh setidaknya ini bisa dijadikan ajak permintamaafannya.
"Aku berangkat!"
Haechan kembali berteriak seraya masuk ke dalam mobil milik Jaemin.
"Ayo, Jaem kita berangkat, kalau bisa ngebut sekalian." Perintah Haechan tanpa sadar wajah Jaemin yang berubah masam.
"Kau pikir aku supirmu, eoh?" Tanya Jaemin sebal.
"Eh?"
"Ah! bukan begitu maksudku, aku minta tolong padamu bukannya sedang memberi perintah, aish." Tampak Haechan merenggut frustasi.
"Ya..ya...kita berangkat sekarang." Kata Jaemin cepat sambil menyalakan mesin mobilnya, perlahan berjalan melewati kawasan perumahan dan beberapa detik kemudian...
WUZZZZ
"YA! NA JAEMIN JANGAN KENCANG-KENCANG!" Teriak Haechan. Lagi?
"Siapa yang menyuruhku untuk ngebut, hah!" Ujar Jaemin santai.
"AKU MEMANG MENYURUHMU UNTUK MENGEBUT, TAPI KAN INI MASIH DI KAWASAN PERUMAHAN, JAEM." Omel Haechan masih tidak menurunkan volume suaranya.
"YA! KAU TAK PERLU BERTERIAK JUGA KALI, CHAN!"
"KAU JUGA BERTERIAK, JAEM." Balas Haechan tak terima.
"Chan berhenti berteriak di dekatku." Kini bisa kita ketahui bahwa Jaemin benar-benar marah, dan melampiaskannya dengan menancap gas mobilnya ketika ia sudah berada di jalan raya.
"OH TIDA! JAEMIN, KAU GILA." Haechan masih betah untuk berteriak, tak menyadari bahwa bisa saja suaranya itu habis dalam waktu singkat.
"YES I'M CRAZY, CHAN."
Begitulah mereka, Lee Haechan dan Na Jaemin dua orang gila apabila disatukan. Kadang Jeno pun harus kena imbas kalau Haechan dan Jaemin sedanng bertengkar. Inilah sifatnya, sifat asli seorang Lee Haechan apabila orang lain sudah mengenalnya lebih jauh.
Hal serupa pun dirasakan oleh Jeno. Pada awalnya Jeno memandang Haechan hanyalah pemuda pendiam, tak banyak bicara, kutu buku, makannya Haechan jarang punya teman. Tapi setelah ia berpacaran dengan Jaemin yang mau tak mau ia juga mengenal Haechan, pada akhirnya Jeno tau kalau Haechan itu tipikal orang yang cerewet dan blak-blakan, yeah kecuali masalah pribadinya yang suka ia tutupi.
CKITTTT
Bunyi khas rem mobil milik Jaemin terdengar nyaring saat mereka tiba, tepat di depan gerbang sekolah Haechan yang sudah mau ditutup. Tak banyak bicara, Haechan langsung membuka pintu mobil Jaemin.
"Terima kasih, Jaem, bye." Teriak Haechan sambil berlari menuju gerbang sekolah, tak mau orang lain melihatnya telambat, atau lebih tepatnya ia tak mau gerbang itu tertutup sebelum ia masuk.
"Ajusshi tunggu..." Pekik Haechan saat ia melihat Park ajusshi menutup gerbangnya.
SEET
Tepat waktu, yeah akhirnya Haechan bisa meloloskan tubuh mungilnya saat pintu gerbang yang sedetik lagi akan tertutup.
"Kamsahamnida ajusshi." Kata Haechan seraya membungkukkan badannya. Ia menyadari bahwa waktunya untuk berjalan ke kelas tidak banyak, tanpa buang waktu lagi ia langsung berbalik dan...
BRUUK
"Ah~ sakit." Reflek Haechan memegang bagian kepalanya yang terkantuk oleh tubuh sedikit lebih tinggi darinya.
"Makannya kalau jalan hati-hati." Ujar namja didepannya, terdengar dingin.
DEG.
Jantung Haechan berdegub saat mendengar suara beratnya. Suara yang ia kenali, suara milik...dengan cepat Haechan mendongkakkan kepalanya memastikan bahwa perkiraannya benar atau salah.
Dan..
Mata Haechan tidak berkedip saat melihat sosok dihadapannya dengan jarak yang lumayan dekat. Ternyata dugaannya benar, yang ia tabrak itu adalah seseorang yang selama diam-diam Haechan sukai. Mark Lee.
"Ah mianhae sunbae." Ujar Haechan cepat, seakan tersadar, ia cepat membungkukkan badannya ketika pikirannya telah kembali ke alam sadar.
'Tsk." Mark, pemuda itu berdecak sambil menatap Haechan datar. Melipat kedua tangannya di depan dada.
"Seorang Lee Haechan terlambat sekolah?" Mark bertanya pada Haechan yang masih betah menundukkan kepalanya.
"Eh?" Kini Haechan mendongkak cepat ketika namanya disebut oleh pemuda super cool di hadapannya, kening Haechan sedikit berkerut. Bagaimana seorang Mark Lee mengetahui namanya dan ia termasuk siswa yang rajin.
"Bagaimana bisa sunbae mengetahui namaku?" Tanya Haechan penasaran tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Mark.
Tampak Mark hanya mengangkat sebelah alisnya, dan kemudian ia menujuk ke arah seragam Haechan.
"Lee Hae-chan." Ujarnya mengeja setiap kata pada nametag Haechan.
-oOo-
Haechan POV~
"Lee Hae-chan." Ujarnya sambil mengeja namaku.
Aish, aku kira ia mengenalku. Awalnya aku cukup senang ketika ia tahu namaku, tapi setelah ia mengeja namaku yang tertera di namtege seragamku, pupus sudah kesenanganku. Bahkan aku merasa malu, dengan pedenya aku bertanya dari mana ia mengetahui namaku.
Bodoh kau Haechan mana mungkin Mark mengetahui namamu, jangankan namamu bahkan ia tak pernah melirikmu walaupun pada saat itu kau pernah berpapasan dengannya. Eh tapi bagaimana ia tahu kalau aku anak rajin.
"Eh emm tapi sunbae, kenapa kau tahu kalau aku jarang terlambat?" Aku ingin bertanya padanya tentangku, aku berharap kali ini jawaban memuaskan yang aku dapatkan. Aku juga sudah merelakan waktuku untuk pergi ke kelas.
"Terlihat dari penampilanmu." Jawabnya singkat.
Hah? Hanya itu, ish apakah ia berpikir sampai seperti itu terhadap penampilanku. Benar-benar menyebalkan. Tapi, kenapa ia tak masuk ke dalam kelas, padahal bel masuk sudah berbunyi saat aku menabraknya.
"Kau tidak masuk ke kelas?" Tanyaku padanya.
"Bukan urusanmu." Jawabnya dan melenggang pergi meninggalkanku sendiri.
"Ck, kenapa pula aku bisa menyukai pria sepertinya" Gerutuku masih pada posisi semula, berdiri terdiam sendiri.
"Hei anak muda, kau juga tak masuk ke dalam kelasmu atau kau berniat untuk membolos" Lamunanku pecah ketika mendengar penuturan Park ajusshi dari pos jaganya.
"Oh tidak aku telaaaaat!" Pekikku, berlari secepat kilat menuju kelas. Aku harap, ini yang pertama dan terakhir bagiku telat datang ke sekolah. Ternyata cukup merepotkan.
And Haechan POV~
-oOo-
Mark. Figure tampan dengan kulit putih maskulin itu tampak berjalan santai menuju kelasnya, tanpa peduli bahwa dirinya telah melewatkan beberapa menit pelajaran yang mungkin sudah dimulai. Pria itu masih saja berjalan, menikmati suasana tenang di sekitarnya. Setidaknya ia sempat bersyukur saat ia telat datang kesekolahnya, tepat bel masuk berdering. Secara tidak langsung, tidak akan ada gerombolan manusia pengusik ketenangan.
Masih menikmati perjalanannya tanpa menyadari bahwa ia sudah sampai di depan pintu kelasnya. Takut dikeluarkan oleh guru? Tidak. Mark merasa biasa saja kalau ia datang terlambat sekolah, toh ia sedikit berkuasa disini,
Membuka pintu kelasnya perlahan. Pemandangan yang terkesan ramai menjadi hal pertama kali ia lihat saat membuka pintu kelasnya.
"Hoi Mark." Panggil Yuta dari bangkunya.
Mark hanya melambaikan tangannya sekilas, kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju teman-temannya.
"Tidak masuk?" Tanya Mark.
"Jung songsaengnim sakit jadi kelas di kosongkan." Jawab Matthew mengerti apa yang ditanyakan oleh Mark.
"Oh." Gumannya lalu duduk di bangkunnya.
"Sudah mulai?' Tanya Jonhy kemudian. Mark menatap Jonhy bingung.
"Lee Haechan." Ujar Lucas
"Hn."
"Hanya 'hn' saja?" Lanjut Jonhy tak percaya dengan jawaban Mark.
"Kalian itu bodoh apa memang lemot"
Jleb
Kata-kata Mark barusan membuat teman-temannya menatap tajam kearah Mark.
"Hei hei kalian tak usah menatapku seperti itu. Well kalian baru memberiku tantangan dua hari yang lalu, dan tidak mungkin kan aku mendekatinya langsung tanpa membuat strategi untuk mendapatkannya. Kalian tahu, mungkin ia sedikit berbeda dengan yang lainnya." Jelas Mark merasa jengah dengan tatapan menuntut temannya itu.
"Maksudmu?"
"Dia bukan pria centil yang selalu beteriak histeris saat aku berada dengannya, dia itu bukan pria yang suka mencari sensasi agar mendapatkan perhatianku, lalu dia itu tipikal orang yang belum mengenal kata cinta dalam artian dia termasuk pria yang polos."
"Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu?" Tanya Jonhy penasaran, pasalnya Mark jarang menjabarkan orang yang belum ia temui atau ia kenal.
"Aku bertemu dengannya tadi di gerbang sekolah" Jawab Mark seraya mengeluarkan novel tebal kesukaannya.
"MWO?! KALIAN SUDAH BERTEMU." pekik Matthew, Yuta, Lucas, dan Jonhy bersamaan. Membuatnya mengundang banyak perhatian kelas. Tapi tak berapa lama kemudian, mereka kembali pada aktivitas masing-masing setelah. Lucas meminta maaf atas teriakannya barusan. Sedangkan Mark sendiri, ia malah asyik membaca buku yang dipegannya.
"Ehem, kau bertemu dengannya Mark? Tapi bagaimana bisa? bahkan aku belum memberi Photonya padamu, niatnya pagi ini aku akan memberikannya padamu." Kata Lucas menginterupsi.
"Dia menabrakku tadi pagi."
"Hah! wow pertemuan tak disengaja rupaya. Kuyakin kau mengetahui namanya dari namtage di seragamnya ya kan?"
Mark hanya menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Jonhy.
"Apanya?"
"Ia, Lee Haechan, menurutmu bagaimana dia?"
"Lumayan dan dia pria polos."
-oOo-
Mark POV~
Yuta memberitahu bahwa Lee Haechan berada di perpustakaan saat jam pertama istirahat. Dan disinilah aku, di perpustakaan sekolah. Well, walaupun aku ini seorang yang suka membaca buku, tapi aku tak pernah menginjakkan kakiku di perpustakaan kecuali saat kerja kelompok
Kuedarkan pandanganku mencari sosoknya. Ku telusuri rak-rak buku diperpustakaan, karena sebelumnya aku tak menemukannya di ruangan khusus untuk membaca.
"Ish kenapa rak buku harus setinggi ini sih."
Tersengar sebuah gerutuan dari arah sebrang rak buku yang sedang ku telusuri, sedikit terlihat wajahnya yang tengah mempoutkan bibirnya. I got you Lee Haechan dan aku akan memenangkan taruhan konyol ini.
Aku pun berjalan mendekatinya, melihatnya yang sudah payah menggapai salah satu buku. Tsk, kasian juga melihatnya harus berloncat ria untuk mendapatkan sebuah buku. Tanpa pikir panjang aku langsung meraih buku yang ia inginkan. Mudah bukan? Yeah karena aku beruntung memiliki tubuh yang tinggi.
Ia tampak sedikit terkejut atas kedatanganku. Dengan cepat ia langsung membalikkan tubuhnya ke arahku. Dan apa ia selalu memasang ekpresi berelebihan di depan orang. Matanya membelalak saat melihatku. Apa aku hantu sampai ia seperti itu.
"Kau membutuhkan buku ini?" Tanyaku pada akhirnya.
"Nn-ne gomawo." Jawabnya terbata.
"Ah, sunbae membaca novel Percy Jackson Series, The Sea Of Monster?" Tanyanya antusias sambil menunjuk buku yang sedang aku bawa.
"Ya, aku memang menyukainya." Jawabku sedikit aneh dengan dirinya yang terlihat berbeda, sebelumnya ia terlihat kaku tapi saat ia melihat buku yang aku bawa ia terlihat entahlah senang mungkin.
"Benarkah?"
"Ya, wae?"
"Ani..hanya saja aku juga menyukainya. Percy Jackson and The Olympians termasuk salah satu novel favoritku, sayangnya aku belum baca semuanya." Wajah senangnya kini sedikit menjadi telihat menyedihkan. Apa hanya karena ia tidak bisa membaca buku ini hingga habis membuatnya bersedih, itu berlebihan. Tapi yah aku harus tahu tentang dirinya.
"Sampai mana kau sudah membacanya?" Tanyaku padanya.
"The Ligthning Thief, The Sea of Moster, The Titan's Curse" Jawabnya
"Aaah sepertinya kau sangat mengharapkan untuk membaca kelanjutannya ya?"
"Ya, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Gumannya lirih.
"Kalau kau mau aku bersedia meminjamkannya untukmu, bagaimana?" Tawarku padanya.
"Benarkah sunbae?" Tanyanya tak percaya, tak lupa matanya kini terlihat berbinar senang.
"Ya"
"Ah kamsahamnida sunbae." Ujarnya seraya membungkukkan badannya, apa ia hobi membungkukkan tubuhnya. Ck manusia aneh tapi nyata.
"Oh ya, lain kali kau tidak usah memanggilku sunbae. Panggil aku hyung saja."
"Baiklah" Ucapnya sambil memalingkan wajahnya. Sekilas entah itu perasaanku saja atau bukan, aku melihat semburat merah menghiasi pipi putihnya. Sebegitu sensitifkah ia, aku hanya menyuruhnya untuk memanggilku hyung tapi dia sudah seperti itu. Sepertinya setelah ini aku akan lebih dekat lagi denganmu.
Yeah, setidaknya rencanaku akan berjalan lancar. Aku yakin akan mendapatkannya dengan mudah, dalam waktu sebulan kau akan menjadi milikku, dan pada akhirnya aku akan meninggalkanmu. Terkesan jahat, memang, tapi aku adah Mark Lee yang tak akan mengenal kata kalah, apalagi dengan permainan yang dibuat teman-temanku sendiri.
And Mark POV~
-oOo-
TBC
Terima kasih banyak buat kalian yang udah meluangkan waktu untuk review, so enjoy for the next chap
