This Is What I Feel
Nyaaaaaa~~~~ chappie 2 nyoooo 8D
Berhubung kelima chapter lanjutan fanfic ini dimusnahkan oleh key DEL yang tak tersengajakan~~~ maka saya disini mau tak mau harus membuat ide yang baru karena saya sudah lupa akan cerita intinyaaaaaa T_T ' ' '
Nah nah, since my friends rarely come to help me out for translating, maaf bila saya ada salah kata =(
Disclaimer: The characters are owned by CLAMP w/ some characters are made by me =)
Maria sedang berjalan ke sekolah saat tiba-tiba seseorang dengan sengaja mendorongnya dari belakang hingga ia nyaris terjatuhkan.
"aduh!"
Orang yang mendorongnya dari belakang tertawa terbahak puas. "iiih! Dasar monyet!"
Maria menjitak keras kepala syaoran hingga syaoran menjerit.
"ouch! Lo gila ya? Dasar macan lo!" syaoran menjitak balik maria.
"lagian kamu jahil! Kenapa sih dorong kayak gitu? Tanggung jawab ya kalau aku amnesia!"
"lebaaay dah. Lo kan mainan guaaa, jadi suka-suka gua laa, bego lo.." jawabnya enteng. Maria hanya mengepal tangannya karena kesal dan lalu menginjak kaki kanan syaoran dengan keras.
"aduh! HEH! Sakit, geblek!" bentak syaoran sambil mengeluh kesakitan. Kini giliran maria yang tertawa, seraya julurkan lidahnya sepanjang-panjangnya pada syaoran.
"MONYET JELEK! Wheeeeee!" maria segera berlari memasuki gerbang sekolah. Syaoran memandang kesal dari belakang, namun tertawa kecil.
"dasar macan stress! Gua baru jatuh tadi, udah diinjek pula! A***** lo, mar!"
xXxXxXxXx
"eh, xiao lang, yang ini caranya gimana, sih?"
"eh eh, ini dibeginikan, ya?"
"ngantri dong! Kan gua duluan yang tanya dia! Xiao long, udahan belum ngitungnya?"
Xiao Long terlihat sangat sibuk melayani pertanyaan teman-teman se-science club-nya, sedangkan Maria dan Tomoyo sedang mengobrol dengan tenang dan terasa menyenangkan.
"eh, mar, lo kok bisa jadian sih?" tanya tomoyo tiba-tiba sambil tertawa kecil. Maria langsung blushing sejadi-jadinya seakan baru saja memakan 20 buah rawit.
"i-itu-.. u-um, a-aku juga kurang tahu.. nyehe~ wheeeee~~~" ujarnya sambil menjulurkan lidahnya dengan nakal kepada Tomoyo. Tomoyo yang melihat hal itu tertawa kecil dan mengelus punggung maria.
"asiiiiik, berhubung lo belum traktir waktu itu, sekarang traktir yaaaaa! Hehehe" tomoyo mencubit pipi maria yang chubby dan menggemaskan itu.
"t-tomo~~ s-sakit iiih~~~" keluh maria seraya melepaskan cubitan tomoyo dari pipinya.
"lo keimutan, sih! Wheeee~~~" kini giliran tomoyo yang menjulurkan lidah, dan dengan balasan juluran lidah pula dari maria. Lalu mereka pun tertawa. Xiao Long yang akhirnya selesai menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut menoleh ke arah Maria, dan ia tersenyum kecil seakan bahagia dengan melihat maria bahagia pula.
Cilla sedang berjalan ke depan kelas untuk presentasi dihadapan teman-teman sekelas dan gurunya saat maria menemukan sesuatu terselip di buku paket bahasa mandarinnya. Sebuah surat. Maria membuka surat itu perlahan-lahan, dan ia terbelak melihatnya. Raut mukanya berubah seketika, namun ia berusaha tenang dan kembali menyimpan surat itu di bukunya.
"gua tunggu lo di belakang sekolah sehabis pulang sekolah. Kalau ga, berarti lo ngarep temen-temen lo pada menderita!"
xXxXxXxXxXx
"oi, xiao long!" seseorang yang xiao long kenal memanggilnya dari belakang dan menepuk pundaknya. "nih. Buku lo ketinggalan di rumah. Syukur-syukur gua berangkat terakhir gara-gara nyariin buku pr gua."
Xiao Long membalikkan badannya dan menatap sosok kakaknya yang menggenggam buku paket miliknya. Xiao Long pun mengambil buku itu dari tangan kakaknya dengan lembut. "terima kasih ya, kak.."
Syaoran hanya terdiam menatap adiknya yang 'jenius' itu, membayangkan bagaimana jika ia...
Ah, sudahlah.. pikiran macam yang aneh.. Syaoran pun segera bergegas berlari ke lapangan basket dan bermain bersama teman-temannya disana, dan Xiao Long pun kembali berjalan untuk menemui guru fisika-nya.
Saat syaoran sedang berlari, ia tiba-tiba ia terdiam menatap seseorang yang sedang tertawa dengan teman sebelahnya. Lalu ia tersenyum nakal dengan akal bulusnya yang 'mengesankan'.
Perlahan syaoran mendekati gadis itu, diam, pelan. Dan dia menggenggam sebuah gambar pocong di belakangnya. Dan saat gadis itu lengah, dengan sigap dan cepat syaoran memperlihatkan gambar itu dengan jelas di depan muka gadis tersebut dalam jarak yang hanya berjarak 7 cm dari depan muka gadis itu.
"GYAAAAAAAAAAAA~~~~~~!" spontan gadis itu memeluk sahabatnya ketakutan.
"pergiiiii! Ga mauuuuuu~~~~~!" jerit gadis itu dengan rasa ketakutan yang sangat besar. Syaoran tertawa terbahak-bahak atas apa yang baru saja ia lakukan.
Tomoyo yang melihat maria menjerit tak jelas seperti itu pun segera menjitak keras kepala syaoran, "elo tuh sinting atau bagaimana, sih? Dasar gila lo! Bayar ganti rugi suara jeritan dia!" bentak plus canda tomoyo seraya memasang mimik antara marah dan hendak tertawa.
Syaoran tak dapat berhenti ketawa, "hahahaha! Rasaaaaa, rasaaaa!"
"KAKAK SYAO JELEEEEEEEEKK!" bentak maria sambil mencubit pergelangan tangannya. Syaoran mengeluh sakit. "ouch! Heh! Sakit, bego!" seru syaoran seraya melayangkan jitakkan yang tak kalah keras daro tomoyo ke kepala maria.
"IIIH GA ADIL!" maria dan syaoran pun mulai bertengkar lagi.
"dasar monyet!" ejek maria kesal.
"macan lo!" ejek syaoran.
"nyebelin!"
"macan stress!"
"gila!"
"miring!"
Tomoyo tertawa kecil melihat mereka berdua, dan tawaannya berhenti saat Xiao Long datang dengan tenangnya dihadapan mereka dan wajah yang bingung saat melihat mereka berdua teriak-teriak tidak jelas seperti itu.
"kak, maria, ada apa ini?" tanyanya bingung. Syaoran dan maria menoleh bersamaan dan menjawab serempak, "(KAKAK/PACAR) (KAMU/ELO) TUH SINTING!"
Xiao Long mengangkat sebelah alisnya, heran. Tomoyo menahan tawa. Syaoran menjitak kepala maria, dengan balasan injakan kaki ala maria. Kembali, syaoran mengeluh kesakitan. Xiao Long tersenyum kecil.
"kakak jangan begitu sama maria.." xiao long memegangi pundak maria dengan lembut, membuat wajah maria menjadi semerah tomat segar yang siap untuk disantap.
"halah, banyak bacot dah lo, belagak jadi cowok heroik!" ejek syaoran sambil memukul sedikit pundak xiao long. "udahan ah! Jadi ga seru gua mainin dia. Duluan ya!" segeralah syaoran berlalu dari hadapan mereka bertiga.
"DASAR MONYET JELEEEEEEKK~~~!" Maria berteriak ke arah Syaoran dengan kesal, tapi sepertinya syaoran tak acuh
Xiao Long menghadapkan wajahnya ke maria yang masih murung. "kamu ga apa-apa?"
Jantung maria berdegup-degup kencang. "t-tidak apa-apa.."
Tomoyo giggled kecil. "kayak tomat!" mumbled tomoyo. Maria dan Xiao Long pun bercengkrama, dan Tomoyo ikut mendengarkan. Sayangnya, Xiao Long harus segera ke kelas karena ada tugas dari bu Marcell; guru matematika. Maria dan Tomoyo pun segera bergegas ke kantin sebelum kantin padat akan pengunjung.
xXxXxXxXxXx
tomoyo dan maria sedang berjalan menuju pintu kelas saat syaora menghampiri mereka berdua yang seperti biasa, pulang bersama. Mereka bertiga pun menunggu xiao long yang sedang sibuk mencatat agenda kelas untuk esok hari di bagian 'jadwal pelajaran'. Setelah semua selesai, xiao long pun menghampiri kakaknya dan mereka berdua untuk ikut pulang bersama.
"eh, lo pada belum traktir nih!" keluh tomoyo dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
"halah, minta pj (pajak jadian) ke meraka mah sih ga bakal dikasih! Udah jadian 2 bulan tetep aja ga mau ngasih-ngasih! Hahaha," ujar syaoran dengan tenang sambil memegangi kakinya yang masih terasa sakit sedikit akibat terjatuh ditabrak seorang asing yang tak dikenalnya. Dan parahnya, maria malah menendang bagian luka itu sampai 2 kali dengan keras setelah ia bermain basket di lapangan pada waktu istirahat.
Tiba-tiba, saat mereka sudah sampai di gerbang sekolah, maria teringat akan sesuatu. Ia terdiam dan berhenti berjalan.
Tomoyo menatap sahabat baiknya itu, heran. "lo kenapa, mar?" tanya tomoyo pelan. Maria hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"um, ada barang yang ketinggalan! Kalian duluan saja, ya! Nanti aku menyusul. Hehe.. dadah!" maria segera berlari kembali ke sekolah dan meninggalkan mereka bertiga tanpa menghiraukan panggilan tomoyo. Syaoran menyilakan kedua tangannya, berpikir. Xiao long melihat kakaknya, dan ia segera mengerti. Xiao long pun terdiam. Sedangkan tomoyo bingung menatap keduanya.
Syaoran akhirnya berbicara. "eh, lo mikirin hal yang sama?" tanyanya kepada xiao long. Xiao long mengangguk.
"oi, tomo. Kita buntutin si maria." Ujar syaoran sesegera mungkin seraya mulai berlari ke sekolah. Xiao long dan tomoyo pun mengikuti dari belakang.
Syaoran lalu tiba-tiba mengangkat tangannya kepada mereka mengisyaratkan untuk berenti. Syaoran, xiao long, dan tomoyo pun menoleh dibalik dinding. Lho? Maria kebelakang sekolah? Tanya tomoyo dalam hati, penasaran. Mereka bertiga pun mengikuti perlahan.
Mereka bersembunyi dibalik dinding. Dan terdengar suara lantang, kasar, dan seenaknya.
"oh, jadi lo dateng juga ya, hey bocah sialan.."
Suara perempuan.
"i-iya.. k-kak.."
Suara maria? Lho? Maria kenapa? Ada apa ini? Mereka bertiga bertanya-tanya dalam hati.
"lo, berani-beraninya jadian sama xiao long!"
"a-aku.."
"DIEM LO!"
Tomoyo mulai kesal dan hendak berdiri untuk menemui kakak kelas itu, namun xiao long dan syaoran mencegah; "suuusssshh!" bisik mereka. Tomoyo pun menurut dengan rasa kesal.
"LANCANG BENER LO SAMA KAKAK KELAS!"
"..." xiao long melihat maria tertunduk lemas tak berdaya.
"lo mau nyari gara-gara ya, hah?"
"g-ga, kak.."
"a*****. Hey, guys, kayaknya nih anak perlu dikasih pelajaran, nih.." seru gadis itu. Dan muncullah segerombol kakak kelas di belakang kakak kelas itu.
"m-mau apa-.." maria mundur selangkah karena ketakutan.
"eh, hajar nih anak." Ujar kakak kelas itu dengan santai.
Gerombolan kakak kelas itu pun mengerumuninya. Kali ini, mereka bertiga sudah tak dapat tinggal diam. Xiao long yang paling dahulu berdiri dan berlari. Mereka bertiga melihat dengan jelas tangan salah seorang dari gerombolan itu telah mengepalkan tangannya di udara dan tangannya pun melayang.
"HENTIKAN!"
jajajajajajaaaaaaaang~~~ Cliffhanger =w=
Nyaaaaa~~ dunno wad to type agaun on here since i lost the main stories~~~ TT~TT
Gomen nee, hahaaa, especially to my sweetie lol =w= ' ' '
Peace =D
