Chapter 2
THE PRECIOUS THING
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasorixDeidara / SasorixSakura / DeidaraxSai
Rated : M
Genre : Hurt/Comfort/Romance
Warning :Shou-ai, Typo
Selamat membaca ^^
"Sasori-kun kenapa kau tak menjawab panggilanku tadi malam?" tanya Sakura yang tiba-tiba masuk keruangan Sasori tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Sakura" desah Sasori malas mendengarkan omelan kekasihnya itu, Sasori tau betul jika Sakura sudah marah maka dia harus mendengarkannya berceramah sampai berjam-jam.
"Kemana kau semalaman?" selidik Sakura.
"Diapartemen" jawab Sasori.
"Bohong, aku tau kau semalaman dibar!"
"Kau tau aku paling tidak suka dimata-matai Sakura" ucap Sasori tegas.
"Aku tidak memata-matai mu, hanya kebetulan ada teman ku yang juga berada disana" jelas Sakura.
"Apa kau sedang ada masalah Sasori-kun?" tanya Sakura sembari berjalan mendekat kearah Sasori, ia rangkul pundak Sasori yang tengah duduk dari belakang.
Tak ada respon Sakura mempererat pelukannya pada Sasori.
"Apa yang kau inginkan Sakura?" tanya Sasori.
"Kau tau betul apa yang ku inginkan" desah Sakura ditelinga Sasori.
"Kemarilah" Sasori menarik pergelangan tangan Sakura hingga ia berdiri didepan Sasori.
Sasori menuntun Sakura hingga duduk dipangkuannya, Sasori hanya mengamati wajah Sakura yang mulai memerah, jahatnya entah mengapa yang ada dibayangan Sasori adalah Deidara, yang Sasori lihat Deidaralah yang kini tengah duduk dipangkuannya.
Perlahan Sasori mencium bibir Deidara pelan, yang sebenarnya adalah Sakura.
Sasori eratkan pelukannya dipinggang Deidaranya, dan perlahan menarikan jemarinya dipunggung Deidara, ia sentuh Deidara lembut, ia cium leher yang menguarkan aroma citrus lemon yang sangat ia sukai itu yang nyatanya adalah aroma parfum mawar yang tidak Sasori sukai.
"Dei" desahan lolos dari bibir tipis Sasori.
Sontak desahan itu membuat Sakura hampir mengeluarkan air mata, Sasori tidak begitu sering menyentuh Sakura, namun saat ia menyentuhnya ada dua perasaan yang Sakura rasakan.
Pertama yang Sakura rasakan adalah sebatas keinginan untuk menyalurkan kebutuhan saja, Sasori begitu dingin saat menyentuhnya, bahkan mendesahkan namanyapun tidak.
Kedua yang Sakura rasakan adalah sentuhan penuh cinta dan sayang, Sasori menyentuhnya penuh kelembutan seakan Sakura adalah sesuatu yang mudah pecah namun saat itulah Sakura merasakan perasaan yang amat sakit karna pada kenyataannya entah Sasori sedang melihatnya seperti sosok siapa, tatapannya kosong, mungkin Sasori sedang membayangkan sosok wanita yang bernama "Dei" yang selalu lolos dari desahannya.
Sakura pernah bertanya sebenarnya siapa Dei namun tak pernah mendapat jawaban jelas dari Sasori, ia hanya menjawab jika Dei itu masa lalunya.
Karna rasa cinta Sakura yang begitu besar ia tak mempermasalahkannya walaupun hatinya begitu sakit.
Kembali Sasori mencium bibir Sakura mesra sebelum pintu ruangan mereka dibuka tanpa ijin.
"Kami masuk" ucap dua orang pemuda yang tiba-tiba masuk tanpa ijin.
"Upss.. maaf kami mengganggu" sambungnya yang sebenarnya merasa tidak enak karna sudah mengganggu 'kegiatan' Sasori dan Sakura tapi bukannya keluar ia malah tetap masuk dan mendudukan dirinya dikursi depan meja Sasori.
"Dei, Sai" ucap Sasori kaget dengan kedatangan mereka.
Sementara Sakura lekas-lekas turun dari pangkuan Sasori dan membenarkan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan.
"Dei" batin Sakura saat mendengar Sasori memanggil nama itu lagi.
"Jadi tadi Sakura ya" batin Sasori yang melihat Deidara datang bersama Sai.
Sasori duduk berhadapan dengan Sai dan Sakura berdiri disamping Sasori sementara Deidara masih mematung didekat pintu.
Ia tak percaya melihat kejadian tadi, ia lebih tak percaya kenapa hatinya bagai ditusuk ribuan jarum ketika melihat teman Sai itu berciuman mesra dengan seorang gadis hingga airmatanya menumpuk disudut matanya.
"Sebenarnya siapa dia?" batin Deidara sembari menatap lekat Sasori.
"Kemarilah Dei" ucap Sasori lembut.
"Apa dia Dei yang selalu Sasori-kun desahkan namanya? Tapi bukankan dia seorang pria walaupun dia memang terlalu cantik untuk ukuran pria" batin Sakura.
Deidara melangkah maju lalu duduk disamping Sai, namun matanya masih lekat menatap Sasori.
Sasori yang merasa tengah diawasi oleh Deidara memilih memalingkan wajahnya, ia ingat pesan Kyubii, juga ia tak mau menyakiti Deidara lagi, tapi Sasori juga sadar akan wajah terluka Deidara, juga airmata yang sudah menumpuk diujung matanya itu.
"Jadi apa jauh didalam lubuk hatimu kau memang masih mencintaiku Dei?" tanya Sasori dalam hati.
"Sasori bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Sai memulai pembicaraan.
"Baik" jawab Sasori singkat.
"Maaf, maksud pertanyaan Sai-san apa?" tanya Sakura yang tak mengerti maksud Sai.
"Lho kau tidak tau jika Sasori hampir pingsan kemarin?" Sai balik bertanya.
"Oh dia tidak cerita" ucap Sakura lirih.
"Sudahlah, jadi angin apa yang membawamu kemari Sai?" tanya Sasori mengalihkan pembicaraan.
"Oiya sebelumnya kenalkan ini tunanganku, Deidara dan Deidara ini adalah sahabatku Sasori" ucap Sai.
"Hajimemashite, aku Deidara" Deidara mengulurkan tangan, belum sempat Sasori meraih tangannya Sakura sudah terlebih dahulu menjabat tangan Deidara.
"Aku Sakura, dan ini tunanganku Sasori" bohong Sakura, Sasori menatap Sakura tajam sebelum tatapannya kembali meredup saat kembali menatap Deidara.
Deidara yang mendapat tatapan lembut dari Sasori tak bisa menyembunyikan rona merah dipipinya.
"Jadi kalian juga sudah tunangan?" tanya Sai.
"Belum/sudah" ucap Sasori dan Sakura bebarengan.
"Terserahlah, aku kesini ingin mengantarkan ini" ucap Sai sembari menyodorkan sebuah amplop.
Sasori mengambilnya dan membukanya pelan.
"Undangan pernikahan kalian?" lirih Sasori.
"Ya, kami akan menikah pada awal musim dingin, kira-kira dua bulan dari sekarang" terang Sai.
Sasori tersenyum pahit pada Sai dan Deidara, jangan tanya seberapa Sasori terluka, bahkan mungkin lukanya sudah cukup untung menghilangkan kewarasannya.
"Datang ya" ucap Sai antusias.
"Tentu" jawab Sasori mencoba menyembunyikan kegetirannya.
"Baiklah kalau begitu kami pamit dulu, banyak yang harus kami persiapkan dan silahkan lanjutkan 'kegiatan' kalian yang tertunda" ucap Sai tak bisa menyembunyikan senyum jahilnya.
Sasori tertawa hambar mendengar ucapan Sai, Sai dan Deidara beranjak pergi.
"Baca undangannya baik-baik ya" ucap Deidara sebelum menghilang dari balik pintu.
"Tinggalkan aku sendiri!" perintah Sasori.
"Kau tak apa Sasori-kun?" tanya Sakura khawatir melihat perubahan sikap Sasori.
"Tidakkah kau mendengarku?" ucap Sasori rendah.
"Baiklah" Sakura mencium puncak surai Sasori yang tengah tertunduk menyembunyikan wajahnya lalu beranjak pergi.
"Aaarrrgghhh" Sasori membanting vas bunga yang ada dimejanya hingga beradu dengan lantai sebelum berubah menjadi serpihan.
"Apa kau begitu terluka Sasori-kun? Jadi benar dia adalah Dei yang kau maksud? Apa kau benar-benar tak mengganggapku sedikitpun walaupun kita sudah melewati waktu yang cukup lama bersama?" pertanyaan demi pertanyaan hinggap dihati Sakura yang kini masih berdiri mematung dibalik pintu ruangan Sasori.
.
.
Sampai diapartemen Sasori langsung membuang jas dan juga tasnya kesembarang tempat, ia melonggarkan dasinya sedikit dan membuka kancing teratas kemeja yang ia kenakan.
Ruangan apartemen Sasori begitu dingin tapi entah mengapa ia begitu merasa panas terlebih dibagian dadanya.
Ia segera menuju kulkas dan mengambil sebotol red wine dari sana, ia tak tahu sejak kapan ia mulai menjadi pecandu alkohol.
Sasori kembali keruang utama dengan membawa sebotol wine dan satu buah gelas, ia sandarkan punggungnya pada sofa besar yang terdapat diruangan tersebut.
Belum sempat Sasori menuangkan wine kegelasnya ia mendengar bel rumahya berbunyi, dan dengan langkah gontai ia membukakan pintu untuk si tamu.
Sasori tak percaya sosok yang kini berada dihadapannya, berulang kali ia mengusap matanya sebelum tangan seseorang itu menggenggamnya pelan.
"Kau sedang tidak bermimpi Sasori-san"
"Dei" lirih Sasori.
Sasori mempersilahkan Deidara masuk keapartemennya, sampai diruang utama Sasori mempersilahkan Deidara duduk sementara ia kembali kedapur untuk mengambil minuman untuk tamu yang tak diundangnya.
"Tak ada yang bisa aku temukan kecuali ini" ucap Sasori sembari memberikan sebotol air mineral pada Deidara karna tak mungkin ia memberikan minuman beralkohol untuknya.
"Tak masalah" Deidara menerima air dari pemilik rumah.
"Apa yang membawamu kesini dan darimana kau mendapatkan alamatku?" tanya Sasori yang sudah duduk disamping Deidara.
Dada Deidara berdetak kencang kala menyadari Sasori sudah duduk disampingnya walau terpisah sedikit jarak diantara mereka.
"Aku sudah menuliskan memo dan juga alamat emailku agar kau menghubungiku diundangan itu tapi tak ada email masuk jadi aku meminta alamatmu pada Kyuubi" ucap Deidara pelan.
"Dan aku hanya ingin menanyakan dulu kita punya hubungan apa?" Sasori menoleh kearah Deidara mendengar pertanyaan yang dilontarkan padanya.
"Apa yang membuatmu berfikir kita punya hubungan sebelumnya?" tanya Sasori pelan.
"Saat pertama kita bertemu kau memanggil dan berkata kau rindu padaku, juga raut wajah terlukamu itu pasti ada penyebabnya" jelas Deidara.
Sasori tak bisa menjawab ucapan Deidara, ia lebih memilih menenggak segelas wine yang tadi belum sempat ia cicipi itu.
"Katakan padaku!" perintah Deidara.
"Kau mau tau jawabannya?" Sasori balik bertanya.
"Jika aku tak mau tau jawabannya aku tak akan rela jauh-jauh kesini, menemui orang yang tidak aku kenal!" Deidara sedikit kehilangan kesabarannya.
"Kalau begitu biarkan tubuhmu yang mengingatnya" ucap Sasori lalu mendorong Deidara paksa hingga ia jatuh terlentang disofa sementara Sasori berada diatasnya, membuat jarak beberapa centimeter dengan bertopang pada lengan yang mengapit kiri kanan Deidara.
Dapat mereka rasakan gemuruh berat nafas dari masing-masing mereka, juga detak jantung yang seolah berlomba siapa yang paling cepat.
Sasori mematri kaca aquamarine Deidara agar tak lepas dari kelereng coklat madunya, lama mereka bertatapan saling menyelami makna yang tersimpan dalam iris satu sama lain.
"Dei" lirih Sasori yang tak bisa lagi menyembunyikan kegetiran dalam nada bicaranya, setetes air jatuh dari ujung matanya dan jatuh membasahi pipi Deidara.
Reflek Deidara mengusap ujung mata Sasori yang hampir menjatuhkan kristalnya lagi dengan tangan kanannya.
Tangan kirinya ia gunakan untuk meraih punggung Sasori dan menariknya pelan hingga ia bisa merasakan nafas Sasori dilehernya.
Ia peluk erat Sasori, Deidara tak tau mengapa ia bisa melakukan itu pada orang yang belum begitu ia kenal, namun yang jelas melihat Sasori menangis membuat hatinya seperti terkoyak.
Sasori terdiam mendapat pelukan dari Deidara, ia benar-benar bahagia bisa merasakan pelukan yang sudah lama sekali ia rindukan.
Sasori merebahkan kepalanya dipundak Deidara.
Lama mereka saling memeluk tanpa ada yang mau melepaskannya duluan, Deidara benar-benar merasa nyaman bersama Sasori membuat ia tambah yakin jika mereka pernah ada hubungan yang spesial sebelumnya.
"Ceritakan padak-" Sasori membungkam pertanyaan Deidara dengan menciumnya lembut, lalu beralih keleher Deidara dan membuat beberapa kissmark, Sasori yang merasa tak ada perlawanan dari Deidara melanjutkannya dengan membuka satu persatu kancing kemeja yang Deidara kenakan, hingga memperlihatkan dada yang lebih bidang dibanding dengan yang Sasori ingat.
"Kau sudah tumbuh menjadi pria dewasa Dei" desah Sasori sembari menciumi dada Deidara.
Deidara tak membalas ucapan Sasori karna sebenarnya dia tak tau maksud Sasori, ia malah membalikkan badannya dan Sasori hingga kini ia yang berada diatas Sasori.
Ia ciumi bibir dan leher Sasori tanpa henti, ia tak tau bagaimana ia bisa melakukan hal yang bahkan dengan Sai pun tidak pernah, dengan Sai ia hanya sebatas ciuman itupun Sai yang memulainya.
"Sebenarnya siapa kau untukku?" batin Deidara tanpa menghentikan ciumannya.
Sasori membiarkan Deidara mendominasi, ia penasaran sampai sejauh mana Deidara akan menyentuhnya.
Deidara mencium bibir, leher sampai pusar Sasori segaris lurus.
Sejenak ia berhenti, ia berfikir akan melanjutkannya atau tidak, bagaimanapun sekarang ia adalah milik Sai bahkan sebentar lagi akan menikah.
"Jangan lanjutkan" ucap Sasori datar yang melihat keraguan dan kebingungan dimata Deidara.
Sasori beranjak bangun sebelum tubuhnya dihempaskan lagi oleh Deidara hingga punggungnya beradu dengan sofa, dan dengan cepat Deidara menindihnya lalu kembali menciumnya.
Sasori lihat dari ujung mata Deidara yang terpejam mengeluarkan airmata.
"Kau kenapa Dei?" tanya Sasori penuh kekhawatiran.
"Kau tidak perlu memaksakan dirimu" lanjutnya saat tak mendapat tanggapan dari Deidara malah tangisan Deidara semakin menjadi.
Sasori mendorong pundak Deidara menjauh.
"Jangan bergerak!" perintah Deidara sedikit terisak.
"Ini sangat aneh, aku ingin sekali menyentuhmu, ingin sekali kau sentuh tapi aku juga tak mengerti kenapa perasaan ini hadir, dengan Sai saja aku tak pernah menginginkannya sampai sejauh ini, sebenarnya apa hubungan kita? Ini menyiksaku, perasaan yang aku tak tau namanya" lirih Deidara.
"Mendekatlah" Sasori menarik Deidara dan menjatuhkannya dipelukannya, ia ciumi puncak benang emas Deidara, ia peluk erat orang yang paling berharga dihidupnya itu.
Lama mereka saling merangkul hingga tak Sasori sadari Deidara sudah tertidur didadanya.
"Kau sudah tidur ternyata, pantas saja ternyata sudah larut" ucap Sasori yang melihat jam sudah menunjukan pukul 11pm.
Sasori menggendong Deidara dan menidurkannya diranjangnya, ia selimuti Deidara sampai sebatas dada lalu mencium keningnya lama.
"Apa aku bisa melepasmu?" tanya Sasori pada dirinya sendiri.
Sasori merebahkan dirinya disamping Deidara dengan memberi jarak dengan guling diantara mereka, ia tatap wajah terlelap Deidara yang begitu damai sebelum ia jatuh terlelap menyusul Deidara.
.
.
"Ri-san.. oi Sasori-san bangun" Deidara mencoba membangunkan Sasori yang masih terlelap padahal hari sudah siang.
"Dei.. Deidara!" pekik Sasori yang lupa jika Deidara berada dirumahnya sejak semalam.
"Ya.. sudah jam 10am, apa kau tidak bekerja?" tanya Deidara.
"Tinggalah lebih lama, aku tidak akan bekerja hari ini" pinta Sasori lalu merangkul pinggang Deidara yang duduk disampingnya, ia sembunyikan kepalanya diperut Deidara.
"Baiklah" balas Deidara seraya mengelus-elus surai marun Sasori.
"Lepaskan, aku ingin mandi"ucap Deidara kemudian.
"Apa kita perlu mandi bersama?" goda Sasori.
"Baka!" Deidara blushing, kemudian dengan segera melepaskan pelukan Sasori dan menuju kamar mandi.
Tak berapa lama bel pintu apartemen Sasori kembali berbunyi, dengan langkah malas Sasori menuju kepintu dan membukanya.
"Sakura?" ucap Sasori yang kaget dengan kedatangan Sakura.
"Sudah siang kau tidak kekantor, hp mu juga tak bisa dihubungi aku pikir kau kenapa-napa jadi aku memutuskan untuk mengunjungimu" jelas Sakura lembut.
"Batre handphone ku habis aku lu-"
"Sasori-san apa aku boleh meminjam bajumu?" putus Deidara yang tiba-tiba muncul hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian privasinya, surai pirang panjangnya nampak lebih panjang karna basah, air masih menetes dari ujung-ujung surainya.
Deidara yang melihat kehadiran Sakura cukup bingung tak tau harus bagaimana, bagaimanapun Sakura adalah kekasih Sasori.
"Dei.. kun" ucap Sakura terbata, ia hampir menangis saat matanya menangkap beberapa kissmark dileher dan juga dada Deidara.
Deidara yang mengetahui kemana sorot mata Sakura segera menutupi tanda cinta Sasori itu menggunakan tangannya, meski ia sadar tak semuanya bisa ia tutupi.
"Maaf sepertinya aku hadir diwaktu yang tidak tepat, besok aku menunggumu dikantor Sasori-kun" ucap Sakura lirih, ia mendekat kearah Sasori dan bermaksud mencium bibir Sasori namun Sasori memalingkan wajahnya.
"Sampai jumpa" lirih Sakura, agaknya ia sedikit malu karna ciumannya tidak disambut oleh Sasori padahal jelas-jelas ia pacarnya, dan Deidara yang bukan apa-apanya bisa mendapatkan kissmark dari Sasori.
Seperginya Sakura Sasori segera menutup dan mengunci pintu, ia tak mau ada yang mengganggu harinya bersama Deidara.
"Kenapa kau menolak ciumannya? Kenapa kau tak mengejarnya? Kenapa kau begitu dingin padanya? Kenapa kau bersikap seperti itu pada kekasihmu?" cerca Deidara sedikit marah dengan sikap Sasori.
Dengan cepat Sasori menuju kearah Deidara dan mengunci pergerakannya dengan menyudutkannya ketembok.
"Karna jika aku menerima ciumannya, aku mengejarnya, aku bersikap hangat padanya, dan bersikap manis layaknya seorang kekasih didepan matamu aku tau kau akan terluka" jawab Sasori rendah.
"Tapi dia kekasihmu, kenapa kau lebih menjaga perasaan ku daripada perasaan kekasihmu?" tanya Deidara lirih menundukkan kepalanya.
"Lihat mataku! Karna tak ada yang lebih aku perdulikan kecuali dirimu" jawab Sasori mantap.
"Aku harus pulang" Deidara mendorong dada Sasori, ia ingin segera pergi, terlalu lama bersama Sasori membuat hati dan pikirannya bercampur aduk.
"Kau sudah janji akan tinggal lebih lama" Sasori menarik pergelangn tangan Deidara lalu menciumnya kasar, ia takut Deidara pergi meski kenyataanya Deidara pasti akan meninggalkannya.
"Lep..pass, sak..it" lirih Deidara disela-sela ciumannya dengan Sasori, bisa ia rasakan aroma seng yang menguar saat bibirnya digigit oleh Sasori, namun Sasori enggan melepasnya membuat cairan marun itu bergabung dengan saliva mereka berdua.
Sasori menggendong Deidara dan membawa kekamarnya, ia banting Deidara keatas ranjang king size miliknya.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Deidara yang melihat perubahaan sikap Sasori yang sudah tertutup kabut nafsu.
Akal Sasori sudah tertutup nafsu saat melihat Deidara yang bertelanjang dada ditambah air yang menetes dari rambutnya membasahi sebagian tubuh Deidara.
Dengan cepat Sasori menarik handuk yang melingkar dipinggang Deidara hingga membuat ia bertelanjang sepenuhnya.
"Sasori-san" lirih Deidara mencoba menyadarkan Sasori.
Sasori tak mengubris panggilan Deidara, ia duduk disisi ranjang lalu tanpa babibu langsung memasukkan benda privasi Deidara kedalam mulutnya.
"Nghh..." desah Deidara yang merasa ada aliran listrik yang tiba-tiba menjalar keseluruh tubuhnya kala merasakan miliknya dihisap oleh Sasori.
Hangat bercambur basah memberi sensasi tersendiri bagi Deidara, terlebih dia belum pernah merasakan sebelumnya, sepengingat Deidara.
Sasori terus saja memainkan benda itu layaknya anak kecil yang memainkan lollipopnya, menghisapnya lebih keras dan keras lagi, membuat kewarasannya sendiri hampir hilang.
"Ugh.. ngh.. sto..opp.. sas sori-san, henti.. hentikan!" Deidara menarik baju tidur Sasori mencoba menghentikannya namun percuma, ia malah lebih keras lagi menghisap milik Deidara.
Tubuh Deidara bergetar menahan sengatan yang terus menjalar ditubuhnya.
"Uhh..mmm..aghh..mo..motto tsuyoku" desah Deidara yang kehilangan kendali dirinya, ia tak tahan lagi untuk menolak sentuhan Sasori.
Sejenak Sasori menghentikan aktivitasnya saat mendengar desahan Deidara, lalu mendongakkan wajahnya menatap Deidara ,wajah Deidara hampir merah padam menahan hawa nafsunya sendiri.
"Ughh.. sentuh aku Sasori-san" wajah Deidara memerah menahan malu karna dia meminta hal yang memalukan pada orang yang baru saja ia tolak sentuhannya.
"Tentu" balas Sasori singkat.
Ia kembali meminkan benda milik Deidara membuat siempunya kewalan, Sasori beralih menciumi perut dan dada Deidara kemudian mencium bibirnya hangat, ia memainkan bibir Deidara, tak lupa mengabsen gigi-gigi yang tersusun rapih disana, mengajak daging tak bertulang itu berdansa.
Sasori meraba tonjolan yang kini sudah mengeras kemudian mengigitnya lembut sementara tangan yang satu memainkannya dengan memilin-milin tonjolan itu.
Deidara kehilangan kendali dibawah dominasi Sasori, ia mengeliyat tak karuan karna sentuhan Sasori.
"Setelah ini jika kau minta berhenti tak akan ku turuti" desah Sasori rendah.
"Umm" Deidara mengalungkan tangannya keleher Sasori kemudian menciumnya mesra, ia tak peduli lagi Sasori itu milik siapa, dirinya itu milik siapa, yang ada dipikirannya saat ini hanya ingin sentuhan Sasori.
"Kau harusnya meletakkan ini dipundakku" Sasori mengangkat kedua kaki Deidara kemudian meletakkannya dipundak kanan kirinya.
Deidara mencoba menyatukan kakinnya lagi namun ditahan oleh Sasori, sesungguhnya ia malu sekali berada diposisi seperti ini dengan orang yang belum begitu ia kenal.
Sasori tersenyum melihat tingkah Deidara, ia kembali menciumi pangkal kaki Deidara namun melewatkan bagian privasinnya, membuat Deidara sedikit kecewa.
Menangkap raut kecewa pada Deidara ia dengan tiba-tiba memasukkan jari tengahnya kelubang sempit Deidara.
"Agh" desah Deidaara menerima perlakuan Sasori yang tiba-tiba.
Sasori yang merasa Deidara baik-baik saja menambahnkan jari telunjuknya masuk kemudian jari kelingkingnya membuat Deidara berdenyit nyeri.
"Sa.. kitt, hen.. ti.. berhenti" ucap Deidara terbata, ia benar merasakan sakit yang amat ketika merasakan ketiga jari Sasori memasukinya dan membuat gerakan zig zag seakan ingin memperbesar lubangnya.
"Rileks Dei" Sasori mencium bibir Deidara mencoba mengalihkan rasa sakitnya.
Sasori teringat ia masih menggunakan pakaian lengkap, ia keluarkan ketiga jarinya kemudian dengan cekatan menanggalkan pakaiannya.
Bisa Deidara lihat milik Sasori yang sudah berdiri tegak yang ukurannya lebih besar dari miliknya, ia tak bisa membayangkan benda itu akan memasukinya.
Sasori memulainya kembali dengan menciumi badan Deidara dan sesekali membuat kissmark disana-sini.
"Buka kakimu Dei" Sasori menuntun kaki Deidara hingga diposisi seperti sebelumnya.
"Sasori-san" desahan Deidara saat menyebut namanya membuat ia hilang kendali.
Perlahan ia masukkan miliknya kedalam Deidara, belum sepenuhnya miliknya masuk bisa ia lihat Deidara sedikit mengeluarkan air mata, juga raut wajahnya seperti kesakitan.
"Dei, tahan sebentar.. aku berjanji setelahnya kau tidak akan kesakitan" Sasori mencoba menenangkannya, ia berhenti bergerak agar Deidara bisa beradaptasi dengan benda miliknya.
"Ii yo.. lanjutkan" seperti perintah Deidara Sasori sedikit demi sedikit memasukkannya hingga miliknya tertanam penuh dilubang Deidara.
Perlahan ia memaju mundurkan pinggulnya pelan kemudian menambah kecepatannya sedikit demi sedikit, ia tak mau menyakiti Deidara.
"Mmhhh.. stopp.. urgh.. murii, itai.. ahhh" bagian bawah Deidara benar-benar seperti terbakar kala Sasori bermain didalam lubangnya, namun bukannya berhenti Sasori malah semakin mempercepat gerakannya, ia menumbuk-numbuk milik Deidara tanpa henti.
".. nghhh" desah Deidara kala Sasori menemukan sweet spotnya.
"Koko ka?" Sasori menghantamkannya berulang-ulang hingga kekuataannya seperti akan habis, tapi menginggat mungkin ini satu-satunya kesempatan ia bisa menyentuh Deidara menghilangkan semua rasa lelahnya.
Keringat sudah membanjiri tubuh mereka berdua namun Sasori belum mau menghentikan kegiatannya, ia bahkan mulai bermain kasar membuat Deidara mendesah sekaligus mengaduh karna tak kuat menahan sakit dibagian bawahnya yang mungkin kini sudah lecet.
"Stopp.. arghh.. ku.. mohon stop" pinta Deidara memelas, ia sudah hampir tak kuat, ia juga sudah keluar berulang kali.
"Aghhh.." desah Deidara yang merasakan cairan Sasori memenuhinya, setelahnya Sasori ambruk didadanya.
Nafas mereka berdua tersenggal-senggal, dan peluh semakin membanjiri mereka. Suhu ruanganpun dirasa semakin panas.
Deidara mendorong tubuh Sasori dari atasnya kesamping tubuhnya, bisa ia lihat mata sayu Sasori yang masih sedikit tertutup kabut nafsu.
Diluar matahari sudah meninggi namun didalam sebuah apartemen hari bagai masih malam, tirai-tirai tebal menghalangi sinar matahari yang ingin masuk.
Sang pemilik apartemen pun belum mau menghentikan aktivitas panas dengan pasangannya.
"Mmnghh.. aghh.. henti kan.. ahh.. permainan mu Sasori-san"ucap Deidara disela-sela desahanya.
Sesaat mengisi tenaga Sasori kembali menyerang Deidara.
Dengan posisi miring dan menempatkan Deidara didepannya membuat Sasori semakin leluasa menyentuh setiap inci tubuh Deidara.
Ia menanamkan miliknya didalam Deidara tanpa mengerakkannya, tangan kanannya ia gunakan untuk bermain dengan junior Deidara, tangan kirinya ia gunakan untuk memainkan puting Deidara sementara bibirnya terus mengigit-gigit leher Deidara.
Mendapat sentuhan disemua titik rangsangnya secara bersamaan membuat Deidara hanya bisa mendesah dan terus mendesah, sembari sesekali meminta Sasori untuk menghentikan aktivitasnya.
"Berhentii.. aku sudah tak sanggup.. ahh" Deidara mencoba menyingkir dari Sasori namun gagal.
"Tapi kita baru memulainya" desah Sasori berat ditelinga Deidara.
"Bbo..dohh, kita sudah memulainya berjam-jam lalu" reflek Deidara mengerutkan lubangnya membuat milik Sasori seakan ditarik kedalam.
"Hoo.. tapi bawahmu meminta lagi" Sasori kembali memasukkan miliknya lebih dalam.
"Stopp.. ku.. mohon" pinta Deidara sedikit terisak.
Sasori yang mendengar isakan dari ucapan Deidara sejenak membeku.
"Apa aku sudah terlalu jauh?" batin Sasori.
Sebelum Sasori benar-benar menghentikan permainannya ia berniat menanamkan benihnya lebih dalam lagi didalam Deidara.
Sasori kembali mengulang aktivitasnya yang tadi, kali ini dengan cepat dan keras ia memaju mundurkan miliknya, memborbardir lubang Deidara.
Deidara lagi-lagi hanya bisa mendesah dan meringis sakit menahan permainan Sasori, rasanya dirinya seperti terbelah menjadi dua.
Sasori menghujamkan miliknya jauh kedalam Deidara dan mengeluarkan cairan semennya disana sebelum mengakhirinya.
Selesai dengan kegiatannya Sasori mengeluarkan benda miliknya dari Deidara, membuat Deidara bernafas lega karna akhirnya Sasori menyelesaikan permainannya.
"Maaf Dei aku baru bisa berhenti" lirih Sasori menciumi jejak airmata Deidara.
"Umm.. daijoubu" Deidara meraih dagu Sasori dan mencium lembut bibir Sasori.
Ia tak mengerti dengan dirinya sendiri, tak lama sebelumnya dia mengutuki Sasori karna tak mau berhenti dan kini ia sudah memaafkannya bahkan menciumnya mesra.
~~TBC~~
