Ryu : ...
Rin & Len : ...
Ryu : ...
Rin : Oi, ngomong apa kek! Kenapa bengong?
Ryu : Oh, sudah mulai? *ditembak* Ya, pertama-tama gomenesai kepada minna semua karena lama update, selain karena tugas sekolah yang menumpuk, aku juga sedang seneng gambar. Berhubung lagi libur seminggu, aku lanjutkan fic ini. Review kalian sudah kubalas lewat PM kan? Arigatou atas review, favourite, dan alert-nya. Ini dia Chapter 2-nya! Selamat membaca! (smile)
Your Doll
Disclaimer : Yamaha Corporation & Crypton Future Media
Warning : OOC, AU, Typo(maybe), dll ;-)
Aku hanyalah bonekamu yang hanya bisa melihatmu, tanpa bicara, tersenyum, dan tertawa bersamamu. Kuharap, suatu saat nanti akan datang keajaiban yang bisa membuatku hidup di sisimu, selamanya.
Chapter 2 : My New "Owner"
Saat ini yang bisa kulakukan hanya menatap ke luar jendela etalase toko, melihat orang berlalu-lalang di depan toko tanpa memedulikan toko mainan ini. Entah kenapa, aku merasa rindu pada Rin. Biasanya, saat ini dia sedang memasak makan malam sambil bersenandung riang. Aku sangat merindukan senyuman polosnya itu dan suaranya yang lembut.
Tiba-tiba seorang anak yang sebaya dengan Rin dengan rambut twintails berwarna tosca berlari ke depan etalase toko ini dan terus menatap... aku? Tatapannya itu terlihat begitu cerah dan memancarkan pengharapan. Matanya yang berwarna senada dengan rambutnya itu terus menatapku dengan tatapan berkaca-kaca.
"Kaa-san, bolehkah aku meminta boneka itu?", tanya anak berambut twintails itu pada wanita dewasa di sampingnya. Sepertinya wanita itu adalah ibu dari anak itu. Aku tersentak mendengar perkataan anak itu. Apa yang dimaksud anak itu adalah aku?
"Kenapa tidak, Miku? Kamu sudah menjadi anak manis selama ini.", jawab wanita itu sambil tersenyum. Anak yang dipanggil Miku itu melompat girang mendengar jawaban ibunya. Mereka berdua pun masuk ke dalam toko mainan, tempat di mana aku dijual oleh Leon. Aku tidak dapat melihat mereka karena saat ini mereka sedang berada di belakang punggungku. Tapi, aku masih bisa mendengar percakapan mereka dengan penjaga toko.
"Berapa harga boneka yang berambut honey yellow itu?"
"25 yen. Boneka itu baru saja dijual ke sini beberapa jam yang lalu. Anda beruntung dapat menjadi pemiliknya yang pertama."
Mungkin kalau aku bisa marah, aku sudah marah besar pada penjaga toko itu. Tentu saja, pemilikku yang pertama adalah Rin! Sampai kapanpun, tidak ada seorang pun yang boleh menyangkal hal itu!
Setelah beberapa percakapan yang tidak terlalu penting bagiku karena aku tahu pada akhirnya pasti aku akan dibeli oleh wanita itu, akhirnya penjaga toko mengambilku dari rak tempat aku diletakan, dan memberikannya kepada Miku. Miku langsung memelukku erat, mungkin lebih erat dari pelukan Rin, tapi pelukannya itu tidak sehangat pelukan Rin padaku.
Ibunya Miku segera membayarku dan menggandeng tangan Miku untuk mengajaknya pulang. Miku segera membalas ajakan ibunya dan berbalik menggandeng tangan ibunya. Kalau Rin berada di posisi ini, pasti dia akan menolak gandengan ibunya dan memilih untuk tetap memelukku. Ternyata Rin memang tetap akan menjadi pemilikku yang terbaik.
Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya kami sampai di rumah Miku dan ibunya. Berbeda dengan rumah Rin dan ayahnya yang kecil dan sederhana, rumah Miku dan ibunya sangat besar dan mewah! Bagiku yang sudah terbiasa tinggal di rumah Rin, rumah ini terlihat seperti sebuah istana kerajaan. Aku ingin sekali mengajak Rin untuk ikut bersamaku ke istana ini.
Kami pun masuk ke dalam rumah dan ibunya Miku segera pergi meninggalkan Miku di ruang tamu sendirian, tidak. Bersamaku.
"Miku, ibu siapkan makan malam dulu ya. Kamu bermain saja dulu dengan boneka barumu itu." Miku membalas perkataan ibunya itu dengan senyuman yang disertai dengan anggukan. Ibunya pun segera pergi sehingga aku hanya berdua dengan Miku, pemilik baruku.
"Baiklah, sebaiknya aku memberimu nama apa, ya?", kata Miku sambil menatapku. Harus kuakui, wajah pemilik baruku ini manis juga. Tapi bagaimanapun juga, dia tidak berhak memberiku nama baru! Sampai kapanpun juga, namaku adalah Len Kagamine, nama yang diberikan Rin padaku.
"Bagaimana kalau... Cindy?" Baik, kata-kata Miku tadi membuatku sangat marah! Jadi dia tidak tahu kalau aku ini laki-laki? Tapi, bagaimanapun juga, aku tidak bisa protes. Aku hanya sebuah boneka yang hanya bisa menyimpan tanggapanku di dalam hati.
Miku pun membalikkan tubuhku dan melihat tulisan berwarna kuning keemasan yang berbunyi "Len Kagamine". Dia mengangguk-angguk seolah mengerti sesuatu dan mengelus tulisan itu.
"Jadi kamu laki-laki, ya? Gomenesai... Dan, sepertinya kamu sudah punya nama sendiri.", kata Miku sambil menatap wajahku. Walaupun dia meminta maaf, tapi wajahnya tidak menunjukkan tanda penyesalan sedikitpun, berbeda dengan Rin. Rin menganggapku bukan sebagai boneka, melainkan sahabatnya yang paling dekat dengannya. Tapi sepertinya Miku menganggap kalau aku hanyalah boneka semata, yang tidak bisa merasakan apapun.
"Baiklah, Len... Bolehkah aku melepas ikat rambutmu?" Aku tersentak mendengar perkataan Miku barusan. Apa dia... mau melepas ikatan persahabatan di antara aku dan Rin? Aku ingin sekali berteriak dan mengatakan tidak, tapi seperti yang kalian tahu, aku tidak bisa melakukannya.
Tangan Miku mulai menaiki kepalaku dan menyentuh ikat rambutku. Dia menariknya perlahan dan ikat rambutku... lepas. Aku merasa kalau tali persahabatanku dengan Rin juga terlepas, diiringi dengan lepasnya tali ikat rambutku yang selalu melilit di rambutku. Ingin sekali rasanya aku menangis dan segera merebut kembali ikat rambutku itu dari tangan Miku, tapi aku hanya bisa pasrah melihat Miku melempar ikat rambutku itu ke tempat sampah.
"Nah, Len. Sepertinya kita harus memperkenalkan dirimu pada calon teman-teman barumu.", kata Miku sambil tersenyum manis. Setelah itu, tanpa berkata apa-apa lagi dia langsung membawaku ke sebuah ruangan yang serba berwarna tosca. Di sana terdapat banyak mainan dan boneka-boneka yang terlihat mahal dan mewah.
Yang terlintas di pikiranku saat itu juga adalah Rin. Pasti dia akan senang jika melihat ini dan bisa bermain dengan semua mainan ini. Mendadak aku merasa sangat merindukan Rin, padahal aku baru berpisah dengannya selama beberapa jam. Aku tidak bisa membayangkan kalau kami sudah berpisah sampai beberapa hari, atau bahkan beberapa minggu? Aku tidak mau berpisah dengan Rin!
Lalu Miku membawaku ke tempat di mana boneka-bonekanya yang mahal itu diletakan. Dia menaruhku di hadapan boneka-boneka itu dan tersenyum manis pada boneka-boneka itu.
"Perkenalkan, ini Len Kagamine, teman baru kalian. Kalian harus bersikap baik padanya, ya!", serunya sambil tersenyum, tapi dengan nada yang datar. Rasanya berbeda sekali dengan Rin.
"Miku-chan! Makanan sudah siap!" Tiba-tiba ibunya Miku berseru memanggil Miku. Miku pun segera menoleh dan berlari menuju ruang makan, meninggalkan aku dan semua boneka-bonekanya begitu saja. Dia berlari begitu saja seolah kami tidak tampak olehnya saat itu. Kalau Rin berada di posisi seperti ini, mungkin dia akan mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu, atau bahkan membawa SEMUA bonekanya untuk pergi makan bersamanya.
Aku terjatuh ke lantai bagai selembar kertas, tanpa ada yang mau membantuku untuk dapat duduk kembali. Saat ini yang ada di kamar hanyalah kami, para boneka yang merasa ditinggalkan oleh pemilik kami, yaitu seorang anak perempuan bernama Miku. Mungkin perasaan mereka saat ini sama sepertiku, merasa tidak dianggap keberadaannya oleh Miku.
"Hey, kau!" Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara berbisik di telingaku. Siapa itu?
"Len!" Sekarang suara itu berseru memanggilku. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan memutar bola mataku. Jangan salah, aku bisa memutar bola mataku atau berbisik pelan kalau tidak ada "manusia" yang melihatnya.
"Aku?"
"Tentu saja!"
"Di mana kamu?"
"Di sini!" Sepertinya suara itu berasal dari tumpukan boneka mewah di hadapanku. Aku melihat ke asal suara itu dan melihat sebuah boneka cantik yang berambut pink panjang.
"Apakah kamu juga milik salah satu teman Miku?", tanya boneka yang memanggilku itu. Pertanyaannya tadi membuatku agak bingung.
"Teman Miku? Apa yang kau maksudkan?", tanyaku mengembalikan pertanyaan boneka itu.
"Hampir dari kami semua yang ada di kamar ini adalah boneka milik teman Miku yang direbut Miku secara paksa.", kata boneka lain yang memakai syal dan berambut biru.
"Miku menyuruh para bodyguard-nya untuk merebut kami dari pemilik kami yang sesungguhnya.", terang boneka dengan rambut pink itu lagi. Aku dapat melihat matanya terlihat sangat sedih.
"Lalu Miku tidak mempedulikan kami. Dia hanya melihat kami sekilas dan pergi melakukan hal lain, seperti mencari boneka baru yang dianggap 'pantas' untuknya." Kali ini boneka berambut pigtails berwarna magenta yang berbicara. Tiba-tiba mata semua boneka yang ada di kamar ini terlihat begitu sedih, seperti hendak menangis.
"Bagaimana denganmu?" Aku tersentak dan merasa sangat sedih mengingat kejadian tadi saat aku dijual ke toko.
"Aku... " Aku pun menceritakan semua kejadian tadi, dari saat sedang bermain bersama Rin, sampai sehingga aku bisa berada di kamar ini. Semua boneka di kamar ini terlihat mendengarkan ceritaku dengan cermat.
"Aku ingin bertemu dengan Rin lagi... Hanya dia pemilikku, dan selamanya, hanya dia sahabatku..." Aku tidak sanggup berbicara lagi. Aku terlalu sedih untuk dapat berbicara lagi. Mungkin kalau aku bisa menangis, aku sudah menangis meraung-raung saat ini.
"Len..." Aku menoleh ke arah boneka berambut pink itu lagi.
"Sebenarnya dari dulu kami punya cara untuk keluar dari tempat ini, tapi belum ada yang berani melakukannya..." Aku tersentak mendengar perkataan boneka berambut pink itu.
"Bagaimana caranya?", tanyaku penasaran. Mungkin ini merupakan petunjuk bagiku!
"Begini..."
. . .
APA?
Semua boneka di kamar ini terlihat takut-takut. Cara ini memang sangat berbahaya. Kalau sampai gagal, nasib sebuah boneka bisa tamat. Tapi keinginanku untuk bertemu kembali dengan Rin lebih besar dibandingkan rasa takutku.
"Aku akan melakukannya!", seruku yakin.
To be Continued
Ryu : Akhirnya Chapter 2 yang sedikit lebih panjang ini jadi juga...
Len : Eh, kok nasibku malang banget ya?
Ryu : Itu udah nasibmu... *ditimpukin pisang*
Miku : Dan, kayaknya aku egois banget di Chapter ini...
Ryu : Tenang, Miku-chan. Ini kan OOC. Okay, boleh minta beberapa review?
Luka : Kata Ryu, kalau reviewnya dikit, idenya gak bisa keluar. Katanya review itu sumber inspirasi fic ini.
