Darling, you left something at my place © Aquien

Harry Potter © JK Rowling

Alih bahasa oleh neko chuudoku.

.

CHAPTER 2

.

"Uhm, saya laki-laki. Saya tak punya rahim," Harry memberitahu yang lain, merasa betul-betul bingung. Dia yakin ini pasti semacam lelucon. Meski dia rasa McGonagall atau Snape bukanlah tipe yang senang bercanda. Tetap saja, pasti ada semacam kesalahpahaman.

"Ya, karena itulah ramuan ini diciptakan. Seperti yang telah dikatakan Madam Pomfrey, masculum generatia memungkinkan bagi dua laki-laki untuk memiliki anak bersama. Ramuan ini bekerja dengan cara menciptakan rahim magis di dalam salah satu laki-laki dan kemudian secara sihir menyatukan genetik keduanya dan memungkinkan bagi janin untuk tumbuh di dalamnya." McGonagall tampak berusaha melakukan yang terbaik untuk terdengar setenang mungkin agar tak membuat Harry tak senang. Seakan hal itu bisa dihindari. Hamil? Dengan anak Malfoy, dari sekian banyak orang? Ini pastilah semacam mimpi buruk. Mungkin sebetulnya Voldemort belum mati, dan ini adalah semacam metode penyiksaan jenis baru yang dia ciptakan untuk Harry. Dia perlahan membuat Harry gila dengan menjebaknya di dalam semacam ilusi aneh yang menjengkelkan. Setidaknya Harry harap itulah kenyataannya, karena bila ini benar-benar terjadi, matilah dia.

Dia hamil. Ada bayi tumbuh di dalam dirinya. Bagaimana cara bayinya keluar nanti? Dia merasakan ketakutan mulai terbangun dalam dirinya. Dan bagaimana dia akan merawatnya kelak? Apakah dadanya akan tumbuh dan menghasilkan air susu dan omong kosong lainnya? Bagaimana caranya mengganti popok? Dan bagaimana dia bisa mendapat nilai NEWT dan menjalani pelatihan Auror kalau dia punya bayi yang harus dirawat? Apa yang harus kau lakukan pada bayi? Apa yang senang bayi lakukan?

Harry merasakan dirinya hampir panik sepenuhnya. Hidupnya sudah mulai normal setelah beberapa tahun, dan sekarang ini? Ini tidak adil! Dia tak bisa merawat bayi! Bagaimana dia harus melakukan ini? Dia memang memiliki teman-teman, tapi untuk berapa lama hingga mereka melanjutkan hidup mereka sendiri sementara dia tinggal di rumah membesarkan anak—mengganti popok, bersendawa, merencanakan tanggal bermain…

"Bernapas, Mr. Potter." Dia merasakan tangan McGonagall di bahunya, sebuah keberadaan stabil yang membantunya tenang. Untuk sementara waktu dia hanya fokus untuk bernapas.

"Apakah ada orang lain yang ingin kau hubungi? Kau mintai dukungan?"

"Saya tak tahu… Mungkin Sirius dan Profesor Lupin." Ayah baptisnya memang bisa jadi sedikit aneh kadang-kadang, tapi dia dan Profesor Lupin adalah hal terdekat yang dia miliki sebagai keluarga.

"Jadi, kau ingin membesarkan bayinya kalau begitu?" Madam Pomfrey tiba-tiba bertanya. Harry menatapnya. Dia bahkan tidak mempertimbangkan pilihan lain. Dia rasa dia memang tidak merencanakan semua ini, dan keadaan ini betul-betul kacau, tapi tetap saja yang tumbuh di dalam dirinya adalah manusia. Dia mungkin tak tahu banyak soal bayi, tapi bagaimana pun juga, dia tahu dia bisa membesarkannya lebih baik daripada yang dilakukan keluarga Dursley padanya. Dan dia selalu mengharapkan memiliki keluarga. Mungkin ini tidak terjadi seperti yang dia pikirkan, tapi hal-hal memang jarang sesuai dengan yang dia harapkan. Siapa yang tahu? Mungkin Ginny akan senang karena dia yang harus melahirkan anak pertama mereka?

Bayinya mungkin akan canggung memiliki seorang ayah berumur 18 yang bahkan tak pernah memeluk bayi sebelumnya, seorang ibu tiri berumur 17 yang mungkin atau mungkin tidak ingin menjadi bagian dari semua ini, dan seorang mantan narapidana dengan pasangannya yang seorang manusia serigala sebagai orang tua baptis. Tetap saja, bayi ini adalah keluarga, dan Harry tidak akan menelantarkannya.

Tekad Harry pastilah terlihat di wajahnya, karena McGonagall dan Madam Pomfrey berbagi pandang dan lalu si perawat pergi menuju kantornya. Pada saat yang sama, Snape juga pastilah memutuskan keberadaannya tidak dibutuhkan lagi, karena dia juga pergi.

McGonagall berbalik pada Harry. "Aku akan menyusun rencana untuk Mr. Black dan Profesor Lupin agar datang mengunjungimu besok."

"Saya berasumsi Anda juga akan menyiapkan tempat tinggal untuk kami pada saat yang sama."

Harry betul-betul lupa soal Malfoy. Bukan si menyebalkan itu yang hamil, jadi kenapa pula dia masih ada di sini? Dan apa yang dia bicarakan?

"Maaf, Mr. Malfoy? Kalian masih punya asrama masing-masing."

"Tentunya Anda tidak mengharapkan saya untuk tinggal dengan para Gryffindor? Saya rasa tidak apa-apa bila Harry ingin pindah ke dungeon bersama saya, tapi saat kehamilannya berlanjut, dia akan memerlukan kedamaian dan ketenangan. Saya yakin Anda mengerti itu." Malfoy terdengar seperti sedang menjelaskan hal yang sudah kentara, tapi Harry cukup yakin Harry tak mengerti satu pun hal yang dia katakan. Dan kenapa Malfoy tiba-tiba memanggilnya 'Harry'? McGonagall juga tampak bingung.

"Aku jamin padamu, kebutuhan Mr. Potter akan dipenuhi. Bila dia ingin kamar untuk dirinya sendiri, kami akan mengurusnya, tapi itu terserah padanya. Aku tak tahu kenapa kau ingin terlibat?"

Malfoy melengkungkan alis mendengarnya.

"Apa Anda lupa, Kepala Sekolah, bahwa yang tengah dia kandung adalah pewaris Malfoy? Saya jamin pada Anda, saya tak akan membiarkan orang lain merawat calon suami saya saat dia sedang hamil anak kami."

Kata-kata Malfoy pastilah masuk akal bagi McGonagall, karena tiba-tiba dia tampak menyadari sesuatu. Akan tetapi Harry merasa seluruh dunia tiba-tiba berhenti masuk akal.

"Uhm…" Harry tahu dia melongo pada Malfoy. Si menyebalkan ini mengoceh soal apa sih sekarang?

"Dengar Malfoy," dia memulai.

"Draco." Malfoy menginterupsi.

"Apa?"

"Draco. Karena kau akan jadi suamiku, maka sudah sepantasnya kau memanggilku dengan nama depan."

"Dengar, Malfoy," Harry berhasil melanjutkan, "Aku tidak akan jadi suamimu! Kau sudah gila atau apa?"

"Kau hamil anakku. Seorang pewaris Malfoy tidak boleh terlahir di luar pernikahan. Sudah cukup buruk anak ini dikandung sebelum pengikatan, tapi karena situasinya tidak biasa, jadi bisa dimaafkan. Tapi kita harus mulai merencanakan upacara pengikatan secepat mungkin."

"Aku tidak… Kau, kau… Aku tidak akan terikat padamu! Dengar, aku mengerti kau ingin bertanggung jawab dan itu sungguh, uhm, baik dan semacamnya, tapi sungguh Malfoy," Harry merasa sama paniknya dengan kedengarannya.

"Draco," lagi-lagi Malfoy menginterupsi.

"Malfoy," Harry bersikeras, "lanjutkan saja hidupmu. Sungguh. Aku akan bicara pada Sirius dan Remus, dan mereka akan membantuku. Mungkin Ginny juga mau membantuku. Kau pergi saja nikahi darah murni mana pun yang kau sukai dan punya pewaris sendiri bersama mereka."

"Tidak."

"Kenapa tidak? Kau bahkan tidak menyukaiku! Tinggalkan aku sendiri! Aku tidak menyukakimu!"

"Dan persisnya apa inti dari omonganmu?"

"Kita tidak bisa terikat!"

"Kenapa tidak?"

"Karena kita tidak saling mencintai satu sama lain!" Harry hampir berteriak sekarang, sementara Malfoy hanya berdiri di sana, menatap Harry dengan kalem seakan dia adalah semacam binatang langka di kebun binatang Muggle.

"Dan kenapa hal itu penting?"

"Kenapa hal itu…" Harry hampir terbata-bata. Apa yang salah dengan si idiot ini? "Kau menikah, atau terikat atau apalah, dan membesarkan anak bersama karena kau saling mencintai!"

"Tidak."

"Apa maksudmu tidak?"

Malfoy menghela napas. Itu adalah tanda emosi pertama yang Harry lihat sejak mereka memulai diskusi menggelikan ini. McGonagall tengah berdiri diam di sisi, rupa-rupanya memutuskan untuk membiarkan mereka berbicara.

"Kau terikat karena orangtuamu sudah menemukan pasangan yang cocok untuk memiliki pewaris denganmu. Atau, dalam kasus kita, karena pewaris sudah dikandung dan kau tidak boleh membiarkan pewaris tersebut lahir di luar pernikahan."

Harry merasakan rahangnya jatuh lagi.

"Tapi aku tidak mau terikat padamu."

"Kau tak punya pilihan."

"Aku cukup yakin aku punya pilihan."

"Tidak, kau tak punya. Ini ada dalam hukum."

"Apa? Jadi menurut hukum aku harus terikat denganmu?"

"Hukum jelas menyatakan bahwa bila seorang anak dikandung, yang nantinya akan menjadi pewaris keluarga darah murni, maka orangtua anak tersebut harus terikat, supaya tidak akan muncul pertanyaan soal warisan—tidak ada anak diluar nikah yang diizinkan dalam rumah tangga keluarga darah murni."

"Aku tidak peduli pada aturan darah murni bodohmu!" Harry merasa ingin berteriak lagi, dan dia cukup yakin dia baru saja melakukannya.

"Itu bukan aturan. Itu adalah hukum."

"Itu bukan hukum."

"Aku bisa memberimu salinannya. Malahan, aku bisa memberimu gulungan aslinya dari putusan Wizengamot yang tercatat pada tahun 1374."

"Itu lebih dari enam ratus tahun yang lalu."

"Ya. Itu adalah hukum yang sudah ada sejak lama."

"Ini keterlaluan! Kita tidak hidup di zaman pertengahan lagi! Tidak ada yang mengharapkan siapa pun untuk masih mematuhi hukumnya."

"Aku jamin padamu, hukum itu dijunjung dan dihormati oleh semua keluarga darah murni."

"Aku bukan darah murni."

"Ya, aku tahu. Itu sangat disayangkan, tapi untungnya keluarga Potter tadinya adalah darah murni meskipun darah ibumu melakukan kerusakan serius. Dan hukumnya masih berlaku padamu—kau hamil anak keluarga darah murni dan hanya itu yang penting."

"Aku tidak… Aku tak percaya ini. Ini bodoh. Aku bilang untuk terakhir kalinya: aku tidak akan terikat denganmu!"

"Ya, kau akan terikat denganku."

"Malfoy," Harry melakukan usaha untuk terdengar masuk akal, "apa kau ingin terikat denganku?"

"Apa yang kuinginkan, atau tidak kuinginkan, tidaklah relevan. Aku selalu tahu bahwa aku tak punya pilihan dengan siapa aku terikat kelak." Malfoy menyatakannya sebagai fakta, tidak menunjukkan emosi apa pun. Dia membuat Harry gila. Logika darah murni sama sekali tidak masuk akal. Harry menggosok keningnya lelah.

"Apa kepalamu sakit?" tanya Malfoy tajam. "Kau perlu istirahat. Aku akan mengurus segala urusan formalitas. Apa perlu kupanggilkan Madam Pomfrey untukmu? Mungkin satu peri rumah harus ditugaskan untuk membawakanmu makanan, atau bantal tambahan?"

"Apa? Aku tidak perlu Madam Pomfrey, dan aku tidak perlu kau mengurus apa pun! Aku…"

"Tuan-tuan, maaf menyela." Mereka berdua menoleh untuk menatap McGonagall, yang tengah menatap mereka dengan ekspresi khawatir. "Bagaimana bila kita menghubungi Mr. Black dan Profesor Lupin dulu untukmu, Mr. Potter? Dan juga hubungi Mr. dan Mrs. Malfoy? Lalu kalian semua dapat berkumpul dan membicarakan situasi kalian. Akan tetapi, sebelum mereka sampai ke sini, kau, Mr. Potter, akan tinggal di Menara Gryffindor dan kau, Mr. Malfoy, tetap tinggal di dungeon Slytherin. Mungkin akan perlu waktu satu atau bahkan dua hari untuk menyusun pertemuannya. Aku akan memberi tahu kalian setelah aku tahu kapan semua orang bisa datang ke sini. Adapun untuk hari ini, kalian berdua diizinkan tidak masuk kelas pagi kalian, tapi kalian diharapkan untuk menghadiri kelas setelah makan siang. Itu akan memberi waktu dua jam bagi kalian untuk istirahat."

Malfoy tampak hendak protes, tapi lalu dia mengangguk tegas setuju. Harry juga mengangguk, meski agak cemberut. Tak akan pernah ada diskusi yang membuatnya setuju untuk terikat dengan Malfoy.

Saat dia hendak meninggalkan ruang kesehatan, Malfoy mendahuluinya, membukakan pintu untuknya. Apa-apaan? Harry telah membunuh Pangeran Kegelapan kesayangan si bodoh ini, tapi sekarang dia pikir Harry tak mampu membuka pintu sialan hanya karena dia sedang hamil? Harry melotot murka pada Malfoy, yang bahkan tidak berjengit sebagai respon. Sebaliknya, ketika Harry berjalan ke arah Menara Gryffindor, dia mendapati Malfoy berjalan beberapa langkah di belakangnya.

"Apa kau perlu bantuan?" bayangannya yang menjengkelkan bertanya.

"Kurasa aku mampu menaiki beberapa anak tangga sendiri, Malfoy." Kalau begini terus, pelototan di muka Harry dengan segera bakal jadi permanen.

"Draco," Malfoy menyatakan dengan kalem. Ya, pelototan Harry sudah pasti jadi permanen. Harry mendaki tangga, Malfoy mengikuti dekat di belakangnya. Ketika dia mencapai lukisan masuk, dia menatap tajam pada Malfoy. Seraya melengkungkan sebelah alis, Malfoy mundur satu langkah untuk menunjukkan bahwa dia tak bermaksud 'menguping tak sengaja' kata kuncinya. Tapi Harry tetap membisikkan kata kuncinya supaya aman dan saat Wanita Gemuk membuka lubang lukisan, dia berjalan masuk dengan menghentak-hentakkan kaki, meyakinkan pintu masuk ke menara tertutup di belakangnya, meninggalkan Malfoy di luar.

Dia lanjut menghentak-hentak melewati ruang rekreasi kosong menuju kamar asramanya. Setelah sampai di sana, dia melemparkan diri ke kasur dengan muka terlebih dulu. Dia bertekad untuk tidak pernah bergerak lagi. Selamanya. Atau setidaknya hingga mimpi buruk ini berakhir dan dia bisa kembali pada kehidupan lamanya, kehidupan yang masuk akal.

.

-bersambung-

.