"Itadakimasu~" ucap keempatnya lalu mulai makan.

Di bangku kosong di sebelah Atsuko, terletaklah lima bungkus maiu-bo dan sebungkus cha-cha yang belum dibuka. Rasa-rasanya ia tidak ingin memakan pemberian cowok surai hitam itu sendirian. Ia akan memakannya bersama cowok itu nanti. Well, kalau mereka bertemu lagi, sih.

Atsuko menyantap curry-nya dengan lahap. Ia sudah kelaparan dari tadi.

"Ah, Atsuko-chan rupanya duduk di sini."

Suara itu tiba-tiba muncul lagi. Atsuko menoleh setelah menelan curry di mulutnya. Cewek itu mengerjap-ngerjapkan matanya saat menatap si surai hitam.

"Muro-chin."

"Aku mencarimu dari tadi, Atsuko-chan. Sebelum kita berpisah lagi, tulis nomor teleponmu di sini, ya?"

...

Kuroko no Basuke beserta cowok-cowok ganteng di dalamnya punya Tadatoshi Fujimaki seorang *nangis darah di balik layar*

High School Romance punya saya

Warning: Fem!GoM, super OOC, berisi karakter dan ejaan yang dinistahkan. Fanfic ini hanya untuk kesenangan sendiri~

Note: 3rd year di manga/animenya saya buat masih 2nd year di sini biar ga cepet minggat hohoho

Special thanks for:

Schnee-Neige, Guest, Yoga205, Haruki and Mimi, 6ichigoStrawberry-nyan yang sudah review, juga para faver & follower fanfic ini. Saya tjinta kalian *lempar lope lope melayang*

Balasan review untuk kalian yang menawan ~

Ceritanya kawaii/unyu/cute terima kasihhh~ u_u terhiru Apa nanti Momoi akan muncul? Iya tapi soal kapan saya belum pasti xD Adegan *ehem* Akashi sama senpai perak ditambahin yah. Saya memang berencana begitu hohohoho. Kenapa fem!Akashi gak sama Nijimura aja? Jujur pas nulis chapter pertama saya ga kepikiran dia hohoho. Tapi di chapter ini dia sudah muncul xD Ditunggu lanjutannya & semangat lanjutinnya terimakasihhh, ini update-annya o_o

Happy Reading!

...

"Aku mencarimu dari tadi, Atsuko-chan. Sebelum kita berpisah lagi, tulis nomor teleponmu di sini, ya?"

Tatsuya mengulurkan tangannya sendiri dan memberikan Atsuko sebuah pulpen bewarna ungu yang manis. Cewek itu kembali mengerjap-ngerjapkan matanya menatap pulpen unyu tersebut.

Menyadari lawan bicaranya sedang menunggunya, Atsuko segera menuliskan deretan angka di telapak tangan lebar milik Tatsuya. Tatsuya tersenyum dan berterimakasih pada cewek itu.

"Arigatou, aku akan meneleponmu."

"H'ai~" jawab Atsuko yang sebenarnya tidak terlalu mengerti maksud dibalik perkataan Tatsuya. cewek itu sangat polos. Diharapkan kepada Tatsuya Himuro agar tidak menodai kepolosan seorang Murasakibara Atsuko. Oke ehem. Tes satu dua tiga.

"Pulpenmu, Muro-chin," ucap Atsuko seraya menunjukkan pulpen ungu yang masih ada di tangannya itu.

"Untukmu saja, Atsuko-chan. Cocok dengan warna rambutmu." Tatsuya menyunggingkan senyum cakepznya sebelum menghilang dibalik kerumunan siswa-siswi di kantin.

Atsuko menatap pulpen itu lekat-lekat. Cewek itu sudah melupakan curry-nya.

"Murasakibara, habiskan dulu makananmu," tegur Shina membuyarkan lamunan Atsuko. Cewek berambut hijau itu membetulkan letak kacamatanya meskipun tidak ada kesalahan letak sama sekali. Kacamata itu sudah sangat cocok dengan bentuk hidungnya.

"H'ai~" jawab Atsuko, kembali menyantap curry-nya yang sempat terlupakan.

Sementara cewek itu menghabiskan sisa curry-nya, Tetsu tiba-tiba menghela nafas. Midorima Shina yang berada di sampingnya nampak penasaran. Tidak biasanya cewek emotionless itu menghela nafas. Wajahnya kan selalu datar seperti tidak punya beban hidup maupun kesenangan hidup.

"Ada apa?" tanya Shina pada temannya itu. Tetsu memalingkan wajahnya dari ponsel flip-nya dan menatap Shina.

"Kagetora-sensei memanggilku ke gym. Aku harus memperbaiki nilai PE ku yang hancur minggu lalu," jelas Tetsu dengan wajah datar meskipun sebenarnya ia merasa capek dan khawatir.

Shina yang sudah berteman dengan Tetsu sejak SMP bisa membaca ekspresi Tetsu yang tersirat. "Aku bisa membantu."

"Tidak apa-apa, Shina-chan. Aku akan melakukannya sendiri," tolak Tetsu dengan halus. Cewek itu tersenyum tipis. Shina mengangguk mengerti.

Shina mencolek Kise Ryoumi, mengisyaratkan cewek itu untuk memberi jalan pada Tetsu.

"Ehh, Tetsu-cchi mau ke mana?" tanya Ryoumi penasaran sambil mengunyah telur dadar di dalam mulutnya.

"Habiskan makananmu dulu, aho," tegur Shina pada Ryoumi.

"Ke gym. Ada urusan kecil. Aku pergi dulu, Shina-chan, Ryoumi-chan, Atsuko-chan." Tetsu membungkukkan badannya empat puluh lima derajat sebelum pergi meninggalkan ketiga cewek itu.

Cewek yang bertubuh paling pendek di antara teman-temannya itu mulai berlari kecil saat ia sudah keluar dari kantin. Waktu istirahat yang tersisa tinggal lima belas menit lagi.

Cewek itu berbelok ke kiri dan menelusuri koridor sekolah yang panjang. Kagetora-sensei, guru PE-nya ada di gym indoor saat ini.

Tetsu langsung membuka pintu gym indoor itu begitu ia sampai di depannya. Nafasnya tersengal-sengal karena habis berlari. Tubuhnya yang kecil tidak mendukungnya untuk memiliki energi yang banyak.

"Kagetora-sensei," panggil Tetsu begitu ia masuk ke dalam gym.

Gym indoor Teiko High School sangatlah luas. Di dalamnya terdapat court untuk bermain basket. Karena masih waktu istirahat, masih banyak orang bermain menggunakan lapangan itu.

Tetsu merasa bodoh memanggil seseorang dengan suara begitu kecil di ruangan yang begitu luas. Namun wajahnya tetap datar. Cewek berambut biru itu pun mulai berkeliling untuk mencari sang guru. Namun sepanjang penglihatannya, ia tidak menemukan guru galak itu di manapun.

Tetsu mendekati lapangan basket yang penuh dengan pemain-pemainnya. Ia berusaha memanggil seseorang di sana.

"Ano," ucap Tetsu.

Tidak ada yang menyahutnya.

"Anoo," ucapnya lagi dengan suara yang lebih keras.

"Awas!" Seseorang berteriak. Tetsu belum sempat menolehkan kepalanya ke sumber suara itu. Kepalanya tiba-tiba terhantam sesuatu yang sangat berat, begitulah yang dirasakan cewek kecil itu sebelum semuanya menjadi gelap.

"D-Dia pingsan!" seru seorang cowok yang paling dekat dengan Tetsu saat cewek itu tumbang. Orang-orang mulai berlarian mendekat — antara ingin melihat saja atau merasa bertanggung jawab atas kejadian ini.

"D-Dia kan... Kuroko Tetsu! M-Manisnya!" seru cowok lainnya yang baru tiba untuk melihat Tetsu.

"Mana? Mana? Aku juga ingin lihat Tetsu-chan~"

"Bibirnya... bolehkah aku menciumnya?"

"Tidak! Tetsu milikku!"

Kericuhan pun mulai terjadi di sekitar cewek yang sedang pingsan itu. Sebuah bola basket menghantam kepala kecilnya dengan lumayan keras tadi. Semoga saja dia tidak amnesia.

"Oii, bubar! Kalian ngapain, sih!? Baru kutinggal sebentar sudah ngerumpi." Seorang cowok bertubuh tinggi dengan warna rambut yang aneh—merah di atas dan sedikit hitam di bawah—bergabung bersama cowok-cowok itu. Tidak bisa dikatakan bergabung sih, soalnya cowok itu mulai menyuruh mereka satu persatu untuk kembali latihan.

Lalu cowok itu melihat surai biru cerah di antara kerumunan teman-teman cowoknya. Ia hanya mengenal satu orang dengan rambut bewarna itu.

"Kuroko... Tetsu?" gumam cowok itu sambil berjalan mendekat. Sekarang ia dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan cewek itu di sini.

Terbaring. Pingsan. Tak sadarkan diri. Dengan beberapa cowok di sekelilingnya berharap bisa mengrepenya.

"Kuroko-san!" Cowok berambut aneh itu segera menghampiri Tetsu yang terbaring tanpa proteksi. Ah, bahasa yang ambigu sekali. Tetsu masih berpakaian lengkap kok.

"Apa yang terjadi?" Cowok berambut aneh itu terdengar khawatir. Ia meninggalkan timnya beberapa menit untuk pergi ke toilet tadi dan beberapa kejadian ini sudah terjadi dalam waktu yang sungguh singkat.

"B-Bolanya tidak masuk ring dan tau-tau aja udah terlempar ke luar lapangan, lalu kena Tetsu," jelas seorang cowok yang sepertinya dalang dari tragedi ini.

"Ya ampun. Hey, orang pingsan jangan dikerumuni dong! Apalagi seorang cewek." Cowok itu bergerak maju diikuti gerakan mundur teman-teman setimnya. Kharisma yang dimiliki cowok ini menguar-nguar.

"Aku akan membawanya ke UKS. Kalian kembali latihan. Dan kau—" Cowok itu menunjuk pada sang tersangka kejadian ini. " —harus minta maaf padanya saat dia sudah sadar nanti."

"H-H'ai!"

Cowok berambut aneh itu pun mulai mengangkat tubuh kecil Tetsu dengan kedua tangannya. Ia menggendong cewek mungil itu dengan gendongan bridal.

Cowok-cowok yang tadinya berharap dapat meng-ehem-ehem Tetsu hanya menatap iri pada si cowok berambut aneh.

Dan sampai Tetsu dibawa keluar dari gym oleh cowok berambut aneh itu, Kagetora-sensei belum juga menampakkan diri. Diketahui dari satelit gugel, guru galak itu sedang men-stalk anak ceweknya sendiri melalui CCTV yang dipasangnya. Dasar bapak-bapak jones.

...

Cowok berambut aneh itu—oke kita panggil saja Kagami—menelusuri koridor sekolah dengan agak risih. Pasalnya setiap orang di sana langsung bisik-bisik saat melihatnya.

'Kenapa aku membantunya?' pikir Kagami.

Kagami—si cowok berambut aneh plus beralis aneh itu—memang tidak terlalu dekat dengan Kuroko Tetsu. Mereka hanya teman sekelas yang jarang berbicara satu sama lain. Cewek itu begitu pendiam dan dirinya sendiri bukan tipe yang akan mengajak bicara kalau tidak ada keperluan.

Kagami menghela nafas. Well, anggap aja nambah pahala, nak. Lagipula cewek yang kau bantu itu idolanya para cowok. Tambahan lagi, cewek itu ringan banget. Sama sekali tidak membebani tubuh besar tinggimu.

Belok kiri. Belok kanan. Lurus. Sampailah Kagami pada UKS. cowok dengan tinggi 190cm itu mendorong pintu kaca UKS dengan tubuhnya.

Dingin. AC menyala mengademkan ruangan berukuran 5m x 4m itu. Terlihat seorang cewek berpakaian suster duduk di salah satu ranjang pasien.

"Kagami-san?" Suster berambut hitam itu memastikan nama si cowok yang baru masuk. Kagami mengangguk.

"Apa ada ranjang kosong? Dia ketimpuk basket." Kagami menjelaskan keadaan cewek pingsan di gendongannya itu.

"Baringkan saja di sini." Si suster beranjak dari ranjang yang tadi didudukinya lalu menepuk-nepuk ranjang itu.

Kagami membaringkan Tetsu di sana dengan hati-hati.

"Aku akan periksa dia. Silahkan kembali ke kelasmu, Kagami-san," ucap si suster surai hitam.

"Kalau begitu aku titip dia. Arigatou!" Kagami membungkukkan badannya lalu berjalan keluar dari UKS.

...

Teiko High School merupakan sekolah khusus anak SMA. Bangunan sekolah ini hanya terdiri atas 3 lantai karena setiap lantainya sangatlah luas.

Lantai pertama terdiri dari ruang loker yang terletak di dekat pintu masuk utama, ruang UKS, Cafetaria, toilet wanita & pria, gym indoor, ruang administrasi, dan ruang ganti. Tidak ada ruang kelas di lantai pertama. Oleh karena itu, si cowok berambut dua warna itu mulai berlari kecil menaiki tangga saat lonceng berbunyi.

Koridor lantai dua kini penuh dengan murid-murid yang hendak masuk ke kelas masing-masing. Beberapa terlihat santai saja karena guru mata pelajaran terakhir biasanya datang agak lama.

Kelas X-B tampaknya yang paling cepat berkumpul di kelasnya. Pelajaran terakhir mereka adalah Fisika yang diajar oleh guru super ketat plus galak. Karena itu mereka tidak bisa berleha-leha. Untungnya Kagami lebih cepat sampai dari pada guru yang dimaksud. Cowok itu segera duduk di bangkunya yang terletak agak belakang.

"Tetsucchi dan Daicchi kok belum balik ya-ssu? Bisa dihukum loh," bisik Ryoumi pada Atsuko yang sedang mencoret-coret bukunya dengan pulpen ungu yang diberikan si surai hitam tadi.

"Hmm..."

Yang diajak bicara ternyata tengah melamun.

Tak lama kemudian guru Fisika nan galak itu pun masuk ke dalam kelas. Keadaan di kelas itu seketika hening.

...

Lantai pertama Teiko High sudah kosong sejak berbunyinya lonceng barusan. Namun ada saja beberapa murid yang masih berseliweran.

Dua di antaranya adalah Dai dan cowok yang sedang dipapahnya—Sakurai. Mereka seharusnya sudah sampai di UKS dari tadi, namun cowok penuh lebam dan luka di sekujur tubuhnya itu bersikeras menghindari tempat tersebut. Mereka pun menuju halaman belakang dan duduk di bangku yang ada di sana.

Rasanya kejam kalau Dai mengancam cowok itu untuk pergi ke UKS. Sakurai pasti punya alasan, pikirnya. Oleh karena itu Dai duduk manis di samping Sakurai—bersedia mendengarkan apapun yang akan diutarakan cowok itu.

"Pengurus di sana... adalah cewek yang kusukai." Sakurai menunduk, menatap sayu pada lebam di tangannya yang kurus. "Kalau dia melihatku lemah seperti ini, dia tidak akan suka padaku."

Dai mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Bingung dengan pernyataan Sakurai yang menurutnya aneh.

"Kok begitu?" tanya Dai tak paham.

"Cewek-cewek biasanya gak suka cowok lemah, iya kan, Aomine-san?" Sakurai menatap Dai dengan wajah putus asa. Dai menatap balik cowok di hadapannya itu.

"Tapi aku suka Sakurai, kok." Pernyataan polos itu terungkap kedua kalinya dari bibir mungil milik Dai.

Sakurai kembali terperanjat. Namun dia mensugesti dirinya agar tidak baper supaya tidak menjadi koper a.k.a korban perasaan.

Tidak bisa memilih kata yang tepat untuk diucapkan, Sakurai hanya terdiam. Dai memecah keheningan.

"Sakurai, cewek-cewek memang cenderung mencari cowok yang kuat. Tapi—" Dai memandang ke dalam kedua bola mata Sakurai. "—yang mereka butuhkan sebenarnya adalah cowok yang bisa melindungi mereka."

Mata Dai berkilat dan dia tersenyum seolah-olah baru saja memberikan nasehat yang sangat bijak. Sakurai mengerjapkan kedua matanya, namun cowok itu kembali menunduk. "Aku lemah. Aku tidak akan bisa melindungi siapapun."

Dai gemas ingin memeluk cowok di hadapannya itu. Namun pelukan bak gorilanya pasti akan menyakiti Sakurai. cewek itu pun hanya membaringkan kepalanya ke bahu Sakurai.

"E-Eh, Aomine-san?" Cowok itu terkejut. Ini pertama kali dalam hidupnya berada sedekat itu dengan seorang cewek. Wajahnya memerah.

"Panggil Dai saja~" sahut Dai dengan nada girang.

"G-Gomennasai." Sakurai hanya menunduk, tidak tahu harus berbuat apa. Kalau ia menyingkir, ia takut membuat cewek itu marah. Jadi ia hanya membiarkan bahunya menopang kepala Dai, cewek tan manis yang sudah menyelamatkannya dari pembulian.

...

Cewek bersurai hijau itu menggerakkan kaki-kaki jenjangnya untuk menaiki tangga. Di tangannya terdapat buku-buku tebal yang ditumpuk tinggi hingga hampir menutupi wajahnya sendiri.

Midorima Shina sedang menjalani hukuman karena membawa-bawa boneka kodok ke dalam kelas. cewek itu tidak menyangka guru seni yang baik hati sedang absen hari ini dan digantikan oleh guru pengganti yang suka menindas cewek-cewek.

Shina-lah yang kena tindas kali ini. Ramalan Oha-Asa yang menyatakan Cancer berada di urutan terakhir hari ini memang benar adanya.

Dengan berjuta kutukan di dalam hatinya, cewek itu membawa buku-buku berat itu ke lantai tiga. Bebannya makin bertambah saja karena harus menaiki belasan anak tangga. Baru menempuh setengah perjalanan, tangannya sudah pegal.

"Berat..." keluhnya. Ia sangat ingin meletakkan buku-buku itu ke bawah dan mengistirahatkan tangannya. Namun guru penindas itu akan menambah hukumannya jika ia tidak kembali dalam waktu sepuluh menit.

Dengan berat hati Shina kembali melangkah. Buku yang menumpuk tinggi itu agak menghalangi pandangannya. Cewek itu berusaha ekstra hati-hati.

Empat anak tangga lagi dan ia akan sampai ke lantai tiga.

"Hoyy, tangganya baru di-pel, loh. Hati-hati," seru sebuah suara dari atas. Shina tidak dapat melihat pemilik suara itu dengan jelas karena terhalang buku.

Cewek itu kembali melangkah tanpa mengindahkan peringatan itu. Saat kakinya menginjak anak tangga berikutnya, ia merasakan permukaannya begitu licin. Tiba-tiba saja tubuhnya sudah kehilangan keseimbangan.

"H-Hyaa!"

Kakinya tergelincir dan tubuhnya serasa ditarik gravitasi bumi dengan kuat. Cewek itu refleks menutup matanya rapat-rapat. Buku-buku tebal di tangannya sudah berjatuhan dan menimbulkan suara debuman.

Greb.

Shina terus menunggu saat di mana punggungnya akan bersentuhan dengan marmer dingin di bawahnya. Namun saat ini, ia malah merasakan sesuatu yang hangat dan empuk. cewek itu masih belum berani membuka matanya meskipun sudah lewat lima detik.

Seharusnya, dengan gaya tarikan gravitasi, punggungnya sudah mencium lantai marmer dua detik yang lalu.

"Ahahaha." Tawa renyah itu mendadak masuk ke dalam telinganya. Shina mengernyit. Selain karena sumber tawa itu sangat dekat dengannya, ia juga heran mengapa ia belum jatuh juga.

Apa yang terjadi?

Cewek itu mulai membuka kedua matanya secara perlahan dan menangkap sebuah wajah. Sementara itu, punggungnya masih menekan ke sesuatu yang hangat dan empuk.

Shina sekarang berada dalam pelukan seorang cowok bersurai hitam. Lengan kokoh cowok itu menahan tubuh mungil Shina agar tidak terjatuh. Dan lengan itulah yang terasa hangat dan empuk.

"W-Wajahmu! Wajahmu tadi lucu sekali! Pffttt." Cowok itu kembali tertawa. Shina tersentak dan mulai menyadari apa yang sedang terjadi.

"M-Menyingkir!" Shina mendorong bahu cowok surai hitam itu dan berusaha bangkit. Saat cewek itu berhasil berdiri ia malah tergelincir untuk yang kedua kalinya—membuatnya kembali jatuh ke pelukan si cowok.

"Kan sudah kubilang hati-hati, Shin-chan." Cowok itu memandang Shina dengan khawatir. Tangannya kini memeluk pinggang Shina. Tubuh Shina bersandar ke tubuhnya.

Wajah Shina memerah sepenuhnya. Namun cewek itu tetap bangkit lagi dan menghindar. Kini ia melangkah menuruni anak tangga karena bagian atas hanya akan membuatnya tergelincir lagi.

Setelah memastikan ada cukup jarak di antara mereka, Shina berbalik dan menunjuk-nunjuk cowok di hadapannya itu. "K-Kau! J-Jangan harap aku berterimakasih setelah kau menodaiku, n-nanodayo!"

Cowok bersurai hitam itu hening sejenak sebelum kembali tertawa renyah. Penuturan cewek itu membuatnya benar-benar tergelitik. Ditambah lagi dengan cara penyampaiannya yang terbata-bata begitu. Menggemaskan.

"Maaf aku sudah menodaimu, Shin-chan." Cowok itu menyahuti kalimat Shina sambil berusaha menahan tawa geli. "Tapi kalau aku tidak menolongmu, kau sudah tergeletak di bawah sana dengan posisi mengenaskan." Si surai hitam menatap wajah Shina yang makin memerah akibat perkataannya itu.

"Urusai! Harusnya kau saja yang jatuh! Ke neraka sana!" teriak Shina geram. Sesudahnya cewek itu langsung berlari meninggalkan TKP.

"Ara~ Shin-chan." Cowok bersurai hitam itu berdiri menatap kepergian Shina sambil menyunggingkan senyuman sejuta arti.

...

"Oy~ lihat siapa cewek ini!"

Cowok bersurai perak itu dengan seenak jidat menarik Seiko masuk ke kelasnya yang ada di lantai tiga. Guru pelajaran terakhir mereka kebetulan sedang tidak masuk karena males.

"W-Whoaa, Seiko-chan!"

"Aah~ apa dia mau menarik kembali penolakan cintanya padaku?"

"Geblek kamu. Mana mungkin lah."

"Sekali sampah tetap sampah."

"Kampret kalian semua."

Kelas yang sebelumnya sudah heboh karena gak ada guru itu menjadi makin heboh. Seiko yang terpaksa berada di kelas asing itu kembali merasa takut. Namun karena tidak mau imagenya jatuh, ia tetap memasang wajah angkuhnya. cewek itu menatap kesal pada cowok berbau indomie di sampingnya.

"Lakukan yang tadi kubilang," bisik si surai perak bernama Mayuzumi Chihiro itu pada Seiko.

"I-Iya, tau! Jauh-jauh sana, bau indomie!" ketus Seiko sambil memalingkan wajahnya seolah-olah terusik dengan bau indomie tersebut. Sebenarnya ia hanya tidak mau perutnya berbunyi di saat ia dalam kandang macan begini. Berkat Mayuzumi, Seiko tidak jadi makan bersama teman-temannya tadi. Bau indomie saat ini sangat menggoda seleranya.

Seiko menarik nafas dalam-dalam. Ia tampak bersiap untuk mengucapkan sesuatu.

"Mayuzumi!" suara itu seketika membatalkan kegiatan Seiko. Seseorang berdiri di dekat pintu kelas yang berplat XI-A, dan dialah pemilik suara barusan.

"Ups, orangnya di situ rupanya," bisik Mayuzumi lagi. Seiko menoleh ke orang yang dimaksud.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa basah begitu?" tanya si cowok yang lebih tinggi dari Mayuzumi sambil berjalan masuk ke dalam kelas.

"Ini—kuah indomieku tumpah tadi," jawab Mayuzumi.

"Pergilah berganti pakaian dulu," ucap cowok berambut hitam dengan poni disisir menyamping itu. Cowok itu lalu membungkukkan badannya sedikit dan menyapa Seiko.

"Adik kecil, cari siapa? Ini sudah jam pelajaran, loh," ucap si cowok surai hitam pada Seiko.

Wajah si cowok yang lumayan dekat dengan wajahnya sendiri membuatnya canggung. Seiko mundur beberapa langkah dengan wajah memerah. Mayuzumi sweatdrop.

"A-Aku bukan adik kecil! Aku di sini karena si breng—" Sebelum Seiko mengeluarkan kata 'brengsek'nya, Mayuzumi sudah memotong ucapan cewek itu.

"Dia mencarimu, Nijimura."

"Hah?—eh." Seiko hendak membantah namun Mayuzumi sudah men-deathglare-nya.

"I-Iya, aku mencari N-Nijimura-s-senpai." Cewek dengan rambut diikat twintails itu menunduk malu.

'Brengsek kau, Mayuzumiii!' teriak Seiko dalam hati. Kalau bukan demi sesuatu yang ia inginkan, ia tidak akan melakukan semua hal memalukan ini.

Kelas XI-A itu seketika kembali riuh setelah mendengar ucapan Akashi Seiko. Semuanya bertanya-tanya mengapa pula cewek itu mencari-cari ketua kelas mereka yang rada kudet itu.

"Begitu ya? Maaf membuatmu menunggu, kalau begitu." Nijimura tersenyum ramah pada Seiko. Seiko biasanya akan memalingkan wajahnya dan "Hmph!". Namun kali ini ia berusaha mati-matian untuk tidak melakukannya.

"Ada urusan apa ya?" tanya Nijimura mengkonfirmasi.

Mayuzumi di sampingnya terus mengirim telepati. 'Ayo lakukan!'

Seiko mengepalkan tangannya dengan kesal. Ia berusaha mengabaikan Mayuzumi supaya emosinya tidak meledak.

"A-Aku ingin bicara empat mata saja dengan Nijimura-senpai." Seiko sudah berusaha agar suaranya tidak bergetar namun tetap saja ia merasa sangat canggung.

"Baiklah~ Tapi aku hanya punya waktu lima menit. Apa cukup?"

"Y-Ya itu sudah cukup! Mari."

Seiko melesat duluan ke luar kelas, diikuti Nijimura. Diikuti lagi secara diam-diam oleh Mayuzumi dan beberapa murid kepoh lainnya.

"Kalian jangan ikut!" bisik Mayuzumi pada tiga cowok yang membututinya. Namun ketiga cowok itu tak bergeming. Mayuzumi menghela nafas. "Nanti kukirim foto privasi Akashi Seiko untuk kalian deh. Pokoknya jangan ikut dulu sekarang! Kalau ketahuan, kita semua dicincang."

"Kalau begitu, aku setuju."

"Aku juga."

"Yaudah kami balik dulu, Mayuzumi-san."

Ketiganya berjalan kembali ke kelas. Mayuzumi bernafas lega. Ia menyusul Seiko dan Nijimura yang ternyata menuju ke atap sekolah.

"N-Nijimura-senpai, aku — eh, maukah N-Nijimura-senpai jadi p-p —"

Mayuzumi terkekeh geli mendengar Seiko tergagap-gagap seperti itu. Ia sedang asyik nguping dari balik pintu menuju atap.

"Pacarmu?" Nijimura melanjutkan perkataan Seiko.

Seiko menggigit bibirnya. Cewek itu mengangguk kecil lalu menunduk dalam-dalam. Ia menunggu jawaban cowok di hadapannya itu sambil mengingat apa yang membuatnya melakukan acara pernyataan cinta nista ini.

...

Flashback

"Siapa yang pedophile, ha? Aku murid di sekolah ini juga, tahu. Kenapa panggil aku buaya? Memangnya cewek kecil sepertimu tau apa artinya itu? Sampah? Sebutan macam apa? Mulutmu itu yang kotor—aku akan memberimu pelajaran!"

Mayuzumi menyeret Seiko ke ruang ganti yang saat itu sepi. Seiko sudah bergidik ketakutan saat Mayuzumi dan dirinya tinggal berdua saja di ruangan gelap itu. Ketakutannya makin bertambah saat Mayuzumi mengunci satu-satunya pintu yang dapat digunakan untuk keluar.

Mayuzumi sedikit menyeringai menatap cewek kecil itu. Cewek yang selalu terlihat angkuh di depan publik itu kini bergetar ketakutan di hadapannya.

"Kau takut dengan ruang gelap, kan?" Mayuzumi berseru. Satu kalimatnya itu membuat Seiko terbelalak.

"B-Bagaimana kau—"

"Lalu, kau juga takut dengan ini, kan?" Mayuzumi berjalan cepat ke arah Seiko. Cewek itu langsung memucat dan melangkah mundur. Mayuzumi terus mengintimidasi cewek itu hingga punggung Seiko menabrak loker di belakangnya.

"Hentikan—"

Mayuzumi memerangkap tubuh Seiko dengan kedua tangannya. Seiko dapat mencium bau tubuh Mayuzumi dengan jelas meskipun sudah tercampur bau indomie pada seragam sekolahnya. Mereka begitu dekat. Seiko tidak dapat bernafas dengan leluasa di posisi ini. Ia bahkan mulai takut untuk bernafas saat Mayuzumi mulai mempertipis jarak di antara wajah mereka.

Dua senti lagi dan kedua bibir mereka akan bersentuhan. Seiko terisak. Tubuhnya tidak mau bergerak sesuai perintahnya lagi.

"Lalu.. kau paling takut ini, kan?" Mayuzumi berbisik. Ia kembali membuat jarak di antara wajah mereka dengan membalikkan tubuh mungil Seiko sehingga cewek itu kini memunggunginya.

Mayuzumi menggerakkan tangannya perlahan. Ia menyentuh pinggang kecil Seiko dan tangannya terus merambat ke atas. Seiko mulai menangis. Air matanya menetes membasahi tangan Mayuzumi.

Mayuzumi tertegun. Ia menghentikan gerakan tangannya dan kini memeluk pinggang Seiko dengan lembut. Ia ingin merebahkan punggung cewek itu ke dada bidangnya namun seragamnya yang terkena kuah indomie menahannya dari berbuat demikian.

"Maaf. Aku tidak bermaksud," bisik Mayuzumi di telinga kanan Seiko. "Aku akan melepasmu sekarang."

Seiko tiba-tiba mencengkram tangan Mayuzumi yang masih melingkar di pinggangnya. Cowok itu sedikit tersentak.

"B-Bagaimana kau tau semua hal yang kutakuti?" tanya Seiko.

"Aku... aku hanya tau saja," jawab Mayuzumi. Seiko kini mulai menusukkan kukunya ke kulit tangan Mayuzumi.

"A-Aku takut sekali." Seiko kembali meneteskan air matanya. Kuku-kukunya menusuk makin dalam. Mayuzumi meringis kecil. Ia sadar ia harus segera memberi ruang pada cewek itu.

Mayuzumi menarik tangannya dengan sedikit tenaga karena Seiko mencengkramnya dengan begitu kuat. Ia lalu bergerak mundur beberapa langkah, menjauhi cewek itu.

"Aku akan nyalakan lampunya. Tenangkan dirimu," ucap Mayuzumi pelan. Ia lalu menuju ke sisi ruang yang memiliki saklar lampu. Ruangan itu seketika terang benderang setelah lampu menyala.

Mayuzumi melihat Seiko masih berdiri di tempat yang sama, dengan posisi yang sama. Punggung kecil cewek itu bergetar menahan tangis.

Mayuzumi merasa bersalah setengah mati. Niat hati cuman iseng, malah bikin nangis anak cewek orang.

Mayuzumi bersumpah pocong. Dia awalnya nakut-nakutin Seiko supaya cewek itu minta maaf padanya. Namun pada akhirnya, malah Mayuzumi yang ingin minta maaf habis-habisan.

Setelah berulang kali mengucapkan maaf bahkan sampai mengatakan kalimat nan alay seperti: 'apa yang harus kulakukan supaya kau memaafkanku?' dan 'aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku', Mayuzumi akhirnya berhasil membuat cewek itu mengangguk memaafkannya.

—meskipun dengan pengorbanan harus jadi babu cewek itu selama seminggu penuh.

Mereka lalu bertukar nama. Sampai baru saja rupanya mereka belum tau nama satu sama lain.

"Akashi Seiko."

"Mayuzumi Chihiro."

Tidak ada salaman. "Mana mungkin aku menyalami babu sepertimu?" ucap Seiko yang kembali menjadi cewek super angkuh.

Padahal tadi dia super rapuh.

Mayuzumi tidak habis pikir. Cewek di depannya itu seperti punya kepribadian ganda saja.

Mereka duduk di sebuah bangku panjang yang ada di dalam ruang ganti itu. Seiko duduk di tengah sementara Mayuzumi disuruhnya duduk agak jauh ke kanan.

"Lebih jauh lagi!" Dan sampailah Mayuzumi di ujung bangku.

'Cewek ini... jangan-jangan nangisnya cuman akting tadi!?'

"Mayuzumi," panggil Seiko kemudian. Pelipis Mayuzumi berkedut. Jelas-jelas dia kakak kelasnya, kenapa memanggil tanpa embel-embel begitu? Ah Mayuzumi lupa, dia sekarang babunya Seiko.

"Mayuzumi." Seiko memanggilnya lagi karena belum mendapat respon.

"Apa?" sahut Mayuzumi mencoba tabah.

"Kau... tau banyak soal psikologi, kan?" tanya Seiko. Mayuzumi kaget.

"Dari mana kau tau?"

"J-Jawab saja!"

"Hhh... ayah dan ibuku psikolog handal. Jadi mereka banyak mengajariku sejak kecil."

"Kalau begitu... s-sebagai babuku kau harus membantuku menyembuhkan phobia-ku."

"Ha?" Mayuzumi menatap cewek yang berada di sampingnya itu dengan heran. Seiko menatapnya balik dengan tatapan turuti-saja-perintahku.

Mayuzumi menghela nafas dan mengangguk. Seiko berseru girang. "Apa treatment pertamaku?"

Mayuzumi tersentak mendengar ucapan cewek itu. Sebuah bohlam lampu menyala tiba-tiba muncul di atas kepalanya.

Cowok itu pun tersenyum creepy. Tentunya dengan sembunyi-sembunyi.

"Dengar," ucap Mayuzumi sok serius. "Treatment itu tidak gampang."

"A-Aku tau! Tapi aku benar-benar mau sembuh."

"Kalau begitu, kau harus menjalani semua treatment yang kuanjurkan dengan serius."

Seiko mengangguk.

"Tapi aku ragu kau bisa melakukannya. Jadi sebaiknya kau pemanasan dulu. Kau harus melakukan satu hal yang belum pernah kau lakukan sebelumnya."

"Hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya? Apa itu?"

"Hh... aku tidak tau. Mungkin... menyatakan cinta pada seorang cowok?" Mayuzumi menyeringai.

Tebakannya benar. Seiko terperanjat.

"K-Kenapa aku harus melakukan hal bodoh seperti itu!" protes cewek itu.

"See? Pemanasan saja gak bisa, gimana masuk ke treatmentnya—"

"Aku belum mau punya pacar, dasar psikolog geblek gadungan! Kalau aku nembak cowok, aku pasti langsung diterima." Mayuzumi sweatdrop mendengar penuturan super pede itu. Namun ini sesuai rencananya.

"Aku kenal seseorang yang gak bakalan nerima kamu jadi pacarnya."

"Hmph! Gak mungkin, kecuali dia gay."

"Dia memang gay."

"S-Serius?"

"Ya." Mayuzumi tersenyum. "Jadikan dia objek pemanasanmu. Namanya Nijimura Shuzo.

Dia teman sekelasku."

End of Flashback

...

Tiga menit berlalu. Seiko masih juga belum mendapatkan jawaban. Angin berhembus menerpa rambutnya yang diikat twintails.

"Ah, waktuku habis. Aku harus kembali ke kelas."

Seiko cengo dan buru-buru menaikkan wajahnya.

"Aku sudah tau Nijimura-senpai itu gay. Tapi setidaknya kasih jawaban dong!"

Mayuzuki seketika jawdrop mendengar seruan Seiko itu. Wat the pak?

...

T

O

B

E

C

O

N

T

I

N

U

E

D

...

A/N: Tolong gebuk Mayuzumi yang ngambil kesempatan dalam kesempitan. Tabokin juga karna fitnah Nijimura — *author menimpakan kesalahan ke orang lain* /geplaked

Ngomong-ngomong, saya sangat senang dengan dukungan kalian loh! Terima kasih xD

Lima dari enam anggota The Beauty Generation mengalami rambut rontok — salah script, maksudnya, sudah bertemu dengan jodohnya! (atau bukan?)

Dukung terus pasangan-pasangan yang sudah terkuak dengan mengirim sms ke kotak review #modusmodebaru

Untuk Kise Ryoumi alias fem!Kise, maafkan daku yang belum mempertemukan dirimu dengan cowok yang kamuh idam-idamkan. Saya rada bingung kamu cocoknya sama siapa, biasa kan dihomoin terus sama GoM /slap.

Rencananya sih, fem!Kise sama Kasamatsu, ada yang ingin berbagi saran gimana dua sejoli itu bertemu? #ciaa.

O iya, saya butuh OC loh! Ada yang mau OC-nya jadi satpam Teiko High? /plak. Engga deng. Silahkan jika ada yang mau berpartisipasi di cerita abg High School Romance, kirimkan OC-mu sesuai format di bawah ini (?)

Nama:

Gender:

Role dalam ff:

Tampilan fisik:

Personality:

Saya ga janji ambil semua dan ga janji rolenya bakalan banyak, apalagi kalau rolenya mau jadi suami saya, nanti akang Mido marah loh! /slapslap.

Kemunculan OC-nya akan disesuaikan dengan jalan cerita, jadi bukan first come first serve o_o (Note: Lowongan untuk jadi pacar fem!GoM sudah penuh, kembalilah 2628 tahun lagi)

Setelah chapter ini, saya akan menerapkan sistem 14 hari minus x. X adalah jumlah review yang saya terima setelah saya update 1x o_o

Jadi jika hanya ada 4 review, saya akan update 10 hari setelah update sebelumnya.

Jadwal saya makin padat akhir-akhir ini orz. Jadi dukungan akan sangat menyemangati saya dalam melanjutkan fanfic ini o_o9

Sekian basah basih saya.

Love,

EsCream