SELIR

Chapter 2

-Awal-

Jika terdapat kesamaan cerita, itu hanya kebetulan

Percayalah, bukan unsur kesengajaan

Disclaimer© : Masashi Kishimoto

Warning : typos, OOC dan masih banyak lagi.

.

.

.

.

Kerajaan Megah berlatar belakang Pegunungan, berdiri kokoh menjulang. Lambang - lambang Kipas menghias setiap menara, Tembok tinggi di kelilingi Kanal kecil yang indah, barisan para prajurit yang berlatih, dan para pelayan Istana yang sibuk berlalu lalang menjalankan tugasnya masing-masing. Dari kejauhan terlihat laki-laki dengan iris Oniksnya yg kelam memincing tajam, lengan kokohnya memegang Busur Panah siap untuk melesakkan anak Panah kearah Papan Sasaran.

Shuuttt…!

Sebuah anak Panah melesat tepat di lingkaran tengah Papan Sasaran, sang pemilik menurunkan busurnya kemudian tersenyum angkuh.

" ini terlalu mudah" gumamnya

Laki-laki yang biasa di panggil Sasuke itu kembali mengarahkan anak Panah pada Papan Sasaran namun belum sempat ia melesakkan anak Panahnya sebuah suara familiar mengganggu kegiatannya.

"yang mulia Pangeran" panggil seorang laki-laki dengan rambut putihnya yg khas salah satu pengawal Sasuke.

"Hn" Sasuke berbalik mata dengan iris onix itu memandang Kakashi tajam memberi tahu bahwa dirinya merasa terganggu.

"Maaf telah mengganggu kegiatan anda pangeran" ucap kakashi tenang, baginya dirinya sudah terbiasa menerima segala ekspresi tak mengenakan dari sasuke bisa di bilang sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Kakashi.

" Yang mulia Raja ingin pangeran menemui beliau." lanjutnya

" Katakana padanya aku sedang sibuk "

" Maaf Pangeran tapi Raja tidak menerima penolakan"

"cih.." Sasuke berdecak kesal. Kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut, dengan kakashi yang mengikutinya.

-Awal-

Setelah percakapan panjang antara dirinya dan Ayahnya, Sasuke memilih mengistirahatkan tubuhnya di salah satu Saung yang terdapat di taman Istana. Matanya terpejam tapi ia tidak sedang tidur, samar-samar terdengar suara langkah kaki mendekat, Sasuke tau siapa pemilik langkah kaki tersebut namun ia memilih untuk tetap diam.

" Kau sudah selesai " Tanya Sakura kemudian duduk di samping Sasuke yg sedang tetidur dengan tangan yang di tumpu di kepala, Sakura sebenarnya tau Sasuke tidak benar-benar tidur " minumlah kau pasti lelah " Sakura meletakkan nampan yang berisi ocha hangat dan beberapa danggo di samping Sasuke.

"hn" matanya masih tertutup hanya gumaman tak jelas yg keluar dari bibirnya.

Sasuke membuka matanya, lensa berwarna hijau sewarna batu Jamrud yang pertama ia lihat saat membuka matanya membuatnya tersenyum dan detik itu juga ia teringat ucapan yg di katan oleh Ayahnya tadi, Sakura yang merasa di perhatikan Sasuke sampai sebegitunya ikut tersenyum.

" kau ada masalah, Sasuke-kun?" sakura bertannya.

Sasuke menggeleng, lalu menghela nafas pelan kemudian membaringkan kepalanya pada pangkuan Sakura, Beberapa hari ini kepalanya benar-benar ingin pecah tuntutannya sebagai Pangeran Istana, belum lagi masalah dengan Kerajaan lain dan satu masalah lagi yang benar-benar membuat otaknya berputar mencari jalan keluar.

"KETURUNAN"

Oh ayolah, ini baru lima tahun pikir Sasuke wajar bukan bahkan ada yg sepuluh tahun menikah baru memiliki keturunan. Sasuke tak habis pikir apa yang ada di isi kepala Ayahnya apa hanya keturunan, keturunan dan keturunan? dan yang membuat dirinya marah besar pada Ayahnya adalah, Ayahnya seenak mulutnya menyuruh dirinya untuk menikah lagi. Apa Ayahnya sudah gila mana ada wanita yang ingin di madu.

Tapi Sasuke tidak bisa memungkiri, perkataan Tabib Istana beberapa minggu yang lalu membuat semua harapannya nyaris pupus.

Flashback on

2 minggu sebelumnya.

.

.

.

"yang mulia, maafkan saya tapi sepertinya Permaisuri Sakura tidak akan bisa mengndung itu sangat berbahaya sebab-." ucapanya terhenti Tabib yang sudah hidup hampir setengah abad itu sedikit ragu untuk melanjutkan perkataanya.

Sedangkan Sasuke hanya menyimak dalam diam.

" Rahim Permaisuri sangat lemah dan ada benjolan besar di daerah perut bagian bawah Permaisuri ja-" perkataan Tabib itu tiba-tiba terhenti saat melihat Sasuke mengangkat tangannya

"sudah hentikan, intinya" kata Sasuke

" Permaisuri tidak akan bisa hamil, itu akan sangat berbahaya bagi nyawa Permaisuri, Yang Mulia"

Sasuke terdiam kaku, ia memejamkan matanya tangannya mengepal kuat Sasuke merasa seperti ada palu besar yang baru saja memukul dadanya. Sakit sekali.

"kau boleh keluar" ucap Sasuke pelan

"baik, permisi yang mulia" Tabib tua itu membungkuk hormat kemudian pergi meninggalakan ruangan Sasuke.

Flashback off

.

.

.

"Sasuke-kun"

"Sasuke-kun"

"SASUKE-KUN" teriak Sakura pelan, yang membuat Sasuke tersadar dari lamunannya

"hn"

Sakura memutar matanya bosan "apa hanya dua konsonan itu yang kau tau Yang Mulia" ejek Eakura, Sasuke hanya menyinggungkan sedikit bibirnya, mendengar cibiran Sakura.

"ada apa?" Sakura bertanya lagi dengan tangannya yang menyibak rambut bagian depan Sasuke.

"tidak ada aku hanya lelah" jawab Sasuke asal.

"kau berbohong Sasuke-kun, Ada apa?." Kini suara sakura melembut.

Tiba-tiba Sasuke bangkit dari pangkuan Sakura dan mencium kening Istrinya.

"aku lapar" Sasuke berbohong.

Dan Sakura hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah Suaminya, sebenarnya Sakura tau ada yang sedang di sembunyikan Sasuke darinya tapi Sakura memilih tetap diam.

-Awal-

Di lain tempat, di dapur Istana terlihat para Pelayan dapur sibuk dengan masakan mereka masing-masing, termasuk gadis dengan surai Indigo yang di ikat ekor kuda yang sedikit berantakan, dia terlihat sangat sibuk di antara yang lain, Tubuh mungilnya berlari kesana kemari dengan gesit terlihat sudah terbiasa.

"Hinata ambilkan bawang!" teriak seorang wanita, yang mungkin tak akan ada yang menyangka jika umurnya sudah hampir setengah abad.

"hai" teriak Hinata kemudian ia menggerakan kakinya dengan sedikit berlari mengambil barang yang di inginkan kepala Pelayan dapur itu.

Suara wanita itu kembali terdengar

"hinata yang itu"

Lagi

"hinata bukan"

Lagi

"hinata sebelah sana"

Dan lagi.

"Hinata, Hinata, Hinata, Hinata, Hinataaa"

Brukkkk.

Di dalam gudang bahan makanan gadis yang di panggil Hinata itu terduduk, wajahnya terlihat kelelahan, mata dengan iris Amethystnya terpejam dan tangannya memijit betisnya pelan. Semenjak menjadi Asiten Kepala dapur Istana beberapa hari yang lalu, membuatnya harus bekerja ekstra, Tsunade benar-benar tidak memberinya ampun ia di didik agar gesit, cepat, dan cekaatan. Tapi Hinata tidak pernah mempermasalahkan, baginya ini hanyalah salah satu bagian dari kesuksesan yang menunggunya di depan sana. Namun seketika hayalannya buyar saat mendengar pintu gudang terbuka sedikit.

"Hinata kau di dalam, Tsunade mencarimu" teriak seorang laki-laki dengan tubuh agak gempal

"iya" jawab Hinata sedikit berteriak agar suaranya terdengar, sambil bangkit berdiri meninggalkan tempat favoritnya yang biasa ia gunakan untuk beristirahat atau pun tidur sejenak saat tidak ada pekerjaan lagi. Aroma Vanilla, Ocha dan rempah-rempah mampu memikat hatinya, yang membuat tempat itu menjadi salah satu tempat favoritnya di dapur.

-Awal-

Hinata berjalan dengan sedikit tergesa-gesa ia tidak ingin membuat tsunade marah besar, salahkan otaknya yang lamban, bukannya bertanya dimana keberadaan Tsunade pada Chouji tadi. Dan alhasil sekarang dirinya harus menggerakan kakinya untuk berjalan cepat bahkan kadang berlari-lari kecil, ia berkali-kali meminta maaf kepada siapapun yang hampir di tabraknya dan sekaligus bertanya kepada setiap orang yang lewat, dimana keberadaan Tsunade. Namun nihil tak ada satu pun yang tau dimana keberadaan Tsunade sekarang.

Brukkkk.

Namun karena sedang terburu-buru Hinata tidak sengaja, di salah satu belokan lorong ia menabarak seorang laki-laki dengan tubuh yang tegap bersurai blond sehingga, Tubuh Hinata yang notabenya kecil terdorong kebelakang dan membuat bokongnya mendarat dengan tidak elit di lantai.

"aww" Hinata meringis pelan sambil memegang bokongnya yg sakit

"kau tidak apa-apa Nona" laki-laki itu merendahkan tubuhnya mensejajarkan tingginya dengan perempuan yang baru beberapa detik tadi menabraknya ia memiring kan sedikit kepalanya untuk melihat apakah perempuan yang menabraknya baik-baik saja.

"iya a-ano go-gomen" Hinata membungkukan sedikit tubuhnya " ma-maafkan saya aa" Hinata menatap laki-laki itu dengan bingung Hinata merasa asing dengan laki-laki yang ada di hadapannya sekarang.

"Naruto, Uzumaki Naruto" ucapnya, sepertinya laki-laki yang menyebut dirinya sebagai Naruto dapat membaca kebingungan Hinata.

"Uzumaki-San ma-maaf saya benar-benar minta maaf" ucapnya menyesal

Naruto menggaruk lehernya yang tidak gatal agak kikuk, seharusnya dia yang meminta maaf sudah membuat seseorang terjatuh, walaupun bukan dia yang menabarkanya, tapi di lihat dari sisi mana pun di sini dirinya baik-baik saja.

"bukan masalah" ucap Naruto sambil berdiri dari jongkoknya. "biar ku bantu" tawarnya, Naruto mengulurkan tangannya pada hinata yang masih terduduk di lantai.

"ti-tidak apa-apa Uzumaki-san, a-aku bisa sen…" namun belum selesai hinata melanjutkan ucapannya, Naruto memotong kata-katanya.

"Aku yang salah, berikan tanganmu." intruksinya, kemudian menggerakan kepalnya mengangguk memberi kode untuk Hinata, agar segera memberikan tangannya.

"a-ano a-arigatou Uzumaki-san" hinata bingung harus apa dia bukan orang yg pintar bicara. Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

"sepertinya kau sedang terburu-buru?" Naruto bertanya, iris Safirnya menilik seluruh wajah Hinata yang sedikit menunduk " kau sedang mencari seseorang" Tanya-nya lagi

Hinata mengaggukan kepala

" biar kubantu" tawar Naruto. belum sempat Hinata menolak permintaan Naruto suara lain sukses membuat Hinata melebarkan matannya. Dan Daruto hanya mengeryit heran melihat ekspresi Hinata.

"Hinata kemana saja kau aku mencarimu bukan kah-." kata-katnya terhenti saat melihat laki-laki yg berada di depan Hinata. Dirinya sukses terkejut Tsunde lalu membungkukan badannya hormat, membuat Hinata kebingungan.

" Yang Mulia Pangeran Uzumaki" kata Tsunade

Hinata yang mendengar kata Pangeran mengedipkan matanya beberapa kali 'Pangeran' pikirnya hinata masih belum sadar tapi kemudian matanya melebar lagi 'Pangeran' berarti yang ia tabrak adalah seorang Pangeran pikir Hinata. muka Hinata mulai berubah merah, ia langsung membugkuk hormat, melakukan hal yang sama seperti Tsunade lakukan dengan wajahnya yang merona karena malu.

"jangan terlalu formal" ucap Naruto, dirinya sebenarnya sangat heran apa sebegitu berpengaruhnya gelar Pangeran yang di sandangnnya.

Hening sejenak.

Namun suara Naruto memecah keheningan "masalah dia" Naruto membuka pembicaraan, sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Hinata. "aku tadi meminjamnya sebentar" ucap naruto berbohong. "Sepertinya Istana ini banyak mengalami perubahan jadi membuatku bingung" kekehnya

"o iya terimaksih atas bantuannya Hinata. " Naruto menepuk-nepuk kepala Hinata pelan. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Tsunade dan Hinata.

Aroma Citrus dan Jeruk saat Naruto berlalu melewatinya membuat Hinata sadar dari keterkejutannya, laki-laki itu baru saja menolongnya, dirinya tidak bodoh ia mengerti kebohongan itu.

"Hinata ayo!"

"eh, i-iya" Hinata sempat menoleh sebentar melihat punggung lebar Naruto, sebelum pergi mengikuti Tsunade.

Sepanjang perjalanan menuju ke ruangan Sasuke, senyum Naruto terus mengembang entah apa yang membuat laki-laki dengan surai Blonde itu tersenyum senang.

" menarik" ucapnya

-Awal-

Naruto memandang pintu besar yang tepat berada di depannya, dua pelayan perempuan menyambutnya dengan hormat.

"apa Sasuke ada didalam?" Naruto bertanya pada salah satu pelayan.

"benar Yang Mulia, Pangeran sudah menunggu anda Yang Mulia" lalu pelayan itu membukakan pintu dengan ukiran lambang kipas yang indah, mempersilahkan dirinya masuk

"terimakasih."

.

.

.

"yo Teme" teriak Naruto saat melihat Sasuke yang sedang mengelap pedang kesayangannya.

"cek…bisa hentikan panggilan jelekmu itu, itu menjijikan"

"o…ayolah itu sangat keren" Naruto terkekeh, kemudian duduk di salah satu kursi yang kosong di sebrang Sasuke yang hanya terhelat meja. Di rinya terus memperhatikan pergerakan tangan Sasuke yang masih fokus dengan pedangnya.

"apa kau tidak merindukanku?"

"…" tak ada jawaban

"kau bahkan tak memperlakukan tamumu, dengan baik"

"…"

"hey…hey apa menariknya pedangmu itu?" Naruto mencibir Sasuke

"langsung ke intinya saja Dobe" Sasuke meletakan pedang miliknya di dinding tempat ia biasa mengoleksi pedang. Kemudian duduk kembali melihat tampang Naruto dengan malas.

"ok, ok baiklah"

"aku ingin mengadakan kerja sama"ucapnya serius

"untuk?" sasuke menaikan sebelah alisnya.

"untuk melawan pemberontakan Akatsuki, kau mengerti maksud ku kan?" Naruto memandang Sasuke dengan tampangnya yang serius.

"hn" ada perubahan ekspresi di wajah Sasuke saat nama Akatsuki di sebutkan.

"apanya yang hn, ha" Naruto berucap sedikit kesal

"hah…sudahlah, percuma bicara padamu" Naruto bangkit dari kursinya lalu melangkah pergi "aku ingin mencari udara segar" lanjutnya. Tapi tiba-tiba Naruto menghentikan langkahnya ia menolehkan kepalanya sedikit tanpa membalikkan badannya"

"kuharap kau memikirkannya"

Setelah itu suara pintu tertutup terdengar. Meninggalkan Sasuke sendirian yang sedang menatap langit-langit kamarnya ingatannya kembali pada kejadian beberapa tahun silam saat apa yang telah pemmimpin Akatsuki itu lakukan pada dirinya, yang membuatnya terus mengingat wajah pemimpin Akatsuki itu sebagai daftar orang paling atas yang ingin ia bunuh.

"pembalasan akan segera dimulai" Sasuke menyeringai mengerikan.

.

.

.

Naruto sebenarnya tidak habis pikir kenapa dirinya bisa berteman dengan orang egois, seperti Sasuke berengsek itu. Mungkin karena dirinya tau siapa Uchiha bungsu itu, sebenarnya Sasuke tidak seperti yang orang-orang lihat luarnya. dia Sasuke sama seperti laki-laki pada umunya namun karena didikan dan latar belakang rumah tangga orang tuanya yang bisa di bilang 'Broken Home' yang membentuknya menjadi pribadi seperti sekarang, Naruto tau karena mereka tumbuh bersama sejak kecil, hanya saja mereka di didik dengan kepribadian yang berbeda, Naruto bisa di bilang sosok yang ceria sedangkan Sasuke berbanding balik dengannya, ya 'suram' mungkin lebih tepatnya menggambarkan Sasuke, tapi Sasuke maupun Naruto, mereka berdua tidak pernah mempermsalahkan perbedaan itu. Mereka merasa nyaman dengan kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing. Intinya mereka nyaman.

-Awal-

Malam beranjak, sinar Jingga mulai menghilang suara-suara Hewan malam memecah kesunyian, angin berhembus pelan menerpa tirai kamar wanita yang sedang memandang gelapnya malam melalui balkon kamar miliknya, entah apa yang sedang wanita itu pikirkan, wanita dengan surai pink itu mengeratkan pelukan tangnnya pada tubuhnya saat hembusan angin berhembus lebih kencang menggodanya. Namun wanita itu di buat lebih terkejut, saat lengan besar tiba-tiba melingkari perutnya.

"Sasuken-kun" ucap Sakura kaget.

"apa yang sedang kau pikirkan" bisik Sasuke di telinga Sakura, sedikit menjilatnya.

"tidak ada aku hanya mencari udara segar."

Hening beberapa detik hanya deru nafas tenang yang terdengar. Sampai Sakura membuka kembali pembicaraan.

"Sa-Sasuke-kun" ucap Sakura ragu

"hn"

"apa kau menginginkan seorang anak" Sakura bertannya matanya menatap jauh kedalam gelapnya malam.

"kenapa kau bertannya seperti itu" Sasuke kurang suka dengan topik yang mereka bahas. Atmosfir yang awalnya hangat berubah menjadi sedikit berat.

"tidak ada, hanya saja kau butuh penerus Sasuke-kun"

"aku tidak peduli"

"Sasuke-kun, bagaimana jika kau menikah lagi" ucapnya lebih tepat berbisk, tapi Sasuke tidak tuli Sasuke langsung mebalik tubuh Sakura menghadapnya, mengguncang bahu milik sakura pelan.

"Apa kau sadar dengan ucapanmu hah!." Suara Sasuke meninggi. Sakura hanya mengalihkan pandangannya kesamping tak ingin menatap mata kelam milik Sasuke. "tatap aku saat aku bicara Uchiha Sakura" Sasuke bisa melihat setetes cairan bening lolos dari mata istrinya, hati sasuke langsumg mencelos uchiha bungsu itu langsung merengkuh tubuh bergetar istrinya dirinya sedikit merasa bersalah seharusnya dirinya tidak terbawa emosi.

"maaf" gumam Sasuke menyesal.

Tubuh Sakura masih bergetar, sebenarnya sakura tidak bermaksud membuat Sasuke marah hanya saja dirinya merasa tidak becus menjadi seorang istri, sampai sekarang ia belum bisa memberikan anak untuk suaminya, ia merasa bahwa dirinya telah gagal.

"kau butuh istirahat" ucap Sasuke sambil melihat wajah Sakura, tangannya sesekali menyeka cairan bening yang terus lolos dari matanya, Sasuke membantu Sakura untuk berjalan Ketempat tidur yang biasa mereka berdua gunakan. Lalu menenggelamkan diri mereka dalam selimut tebal.

.

.

.

Setelah melihat Sakura terlelap Sasuke menghela nafas sesekali memijit batang hidungnnya, Sasuke sangat tau Sakura pasti sangat tertekan.

Tapi mustahil dia Sasuke tidak akan pernah menuruti permintaan terakhir istrinya yang satu itu.

Tidak akan pernah.

.

.

.

Tapi,

Ada yang bungsu Uchiha itu tidak tau

Bahwa tadir itu.

Suka sekali.

Mempermainkan.

-Awal-

To Be Continue

Hohoho…akhirnya ona update juga maaf karena keterlambatan ona, banyak sekali masalah yang membuat ona baru bisa ngelanjutin cerita ini. Gomen (sedikit curhat)

Di chap ini mungkin belum ada secen sasuhinanya ya, ona sengaja, karena ona ingin menonjolkan siapa saja para pemain di chap ini walaupun seiring berjalnnya cerita ini akan ada pemain tambahan . Dan gimana udah lumayan jelasskan seperti apa rumah tangga sasuke. Hohoho.

Bisa di bilang kisah cinta sasuhina nanti akan sedikit rumit (sedikit bocoran)

O….iya ona akan sangat senang saat ada yang bertanya tentang cerita ini atau pun menebak jalana cerita ona kalian bisa review apapun yang kalian ingin tanyakan jangan lupa kritik dan saran kalian sangat ona butuhkan

Jika ada yang membingungkan silahkan di tanyakan

Ona masih pemula ya jadi jika alur, plot, latar dan penulisannya masih berantakan tolong di maklumi ya review saja.

Untuk membalas keterlambatan ona, ona akan usahakan chap 3 minggu depan akan di usahakan ona publis. Maafkan ona.

Untuk cover terimakasih ya agan. #crystal94

Ok sekian dulu makasih sudah menyempatkan baca jangan lupa review ya.

Q&A review

Apa perbedaan summary dan prolog. Summary itu biasanya menjelaskan seperti apa nanti ceritanya. tapi bukan inti dari ceritanya ya hanya gambaran saja. Dan prolog itu lebih ke potongan-potongan cerita yang di ambil dari beberapa chapter yang isinya percakapan atau pemikiran para tokoh atau pun peristiwa penting yang menarik. Ini menurut analisis saya dan teman saya ya, mudah-mudahan terjawab. Jika ona salah silahkan benarkan.

Terimakasih see you