Exchangeable chapt.2
Oke ini telat banget updatenya. Makanya saya sogok dengan update 5k. Awas kalo bilang ini pendek! Ini udah sepanjang titit oseh! *digampar nini* :3
Sebenernya ini panjang karena tokoh lain sih.. aku pengen ngenalin karakter lain, sama sedikit jelasin beberapa pertanyaan dichapt kemaren lewat chapt ini. Sorry~
Karena panjang(?) bisa jadi ngebosenin, sweetless, apalah apalah. typo juga.
Enjoy!
RnR!
"Sesuatu terjadi? Kau berurusan dengan bocah?"
Sehun menoleh pada pria berwajah cantik yang baru saja keluar dari toilet. Sehun menoleh dan mendekati jaejoong -si pria cantik- dengan segaris tipis senyum remeh di wajahnya.
"Bukan apa apa. Hanya kelinci kecil lugu yang menggoda serigala untuk memangsanya"
"Hei apa yang membuatmu tertarik nak?"
"Membuatku geram lebih tepat sebenarnya. Tapi geramku juga yang membuatku tertarik paman. Bibir gemuknya yang kasar itu mungkin minta dilumat agar kata katanya lebih halus padaku. Haha" sehun terkekeh kecil mengingat bagaimana jongin yang berusaha menjadi abang baik. Dimatanya, dia terlihat seperti anak SD yang jengkel karena sang adim diganggu kakak kelas. Bocah.
" -tapi diluar kekesalanlu. dia memang memiliki bokong kenyal yang bagus paman. Ah his asshole should be so tight, right? Heh." Celananya semakin sesak bersamaan otaknya yang otomatis mebuat gambaran visual pipi pantat jongin yang tercetak montok dibalik celana jeans ketat yang digunakan tadi.
"Apapun. terserahmu. Hanya -jangan libatkan aku kali ini"
Sehun mengernyit menatap jaejoong. "Kenapa?"
Jaejoong selalu mendapat banyak peran dalam semua pekerjaannya. Termasuk memilih partner berkuda.
"Aku tidak ingin berurusan dengan yun- dengan bocah sekolah. ya. Itu saja."
Sebenarnya ia ingin bertanya lebih. Apa apaan alasan seperti itu? Tapi sehun memilih diam. "baiklah. Terserah. Ashh. Aku harus mendapatkan penghangat paman. Sampai jumpa."
...
"Ibu bantu aku!"
Teriak jongin begitu sampai diruang tamu rumahnya. terburu buru berjalan ke kamar adiknya dan merebahkan tubuj sang adik di ranjang dengan dominasi warna merah muda.
"Astaga. Apa yang terjadi jongin? Ada apa dengan adikmu?"
Nyonya kim turut panik melihat keadaan putri bungsunya yang tidak sadarkan diri dengan busana yang bukan pakaian sehari hari puterinya. Tidak biasanya eunhee berdandan dengan gaun pendek dan ketat seperti ini.
"Aku tidak tahu bagaimana eunhee bisa datang ke tempat seperti itu. Kurasa beberapa teman eunhee bukan orang yang baik."
"Apa maksudmu? Tempat apa? Astaga putriku. Jongin ambilkan piyama adikmu."
Jemari nyonya kim tidak bisa berhenti mengelus cemas dahi puterinya. Jongin berjalan mendekati almari eunhee. Sempat ternganga sejenak melihat isi almari adiknya yang rapi dan tertata dengan segala baju, aksesoris, dan peralatan peralatan wanita pada umumnya. Tentu saja berbeda jauh dengan almari jongin yang sepi dan sedikit berantakan. Jongin belum pernah melihat isi tempat tempat pribadi wanita sebelumnya. Kalau begini jongin tidak heran kenapa eunhee selalu memintanya menunggu sebentar (menurut jongin 20menit itu bukan waktu yang 'sebentar') saat mereka akan keluar bersama.
Tapi jongin bersumpah ia tidak melihat pakaian sejenis dengan gaun yang sedang dipakai adiknya sekarang. Gaun hitam tanpa lengan yang hampir memperlihatkan belahan dada eunhee ukuran yang menurut jongin kekecilan karena cukup mencetak lekuk tubuh eunhee, panjangnya pun tidak lebih dari sepuluh senti dari pantat. jujur saja sebagai laki laki normal jongin sempat kesusahan menelan salivanya melihat penampilan adiknya saat pertama kali.
adiknya adalah gadis baik baik yang tahu bagaimana berpakaian sepantasnya, begitupun jongin dan keluarganya. Oh, mungkin jongin tidak se'baik baik' itu. setidaknya saat dirumah dan didepan eunhee jongin benar benar berusaha menjadi sosok kakak dan anak yang baik untuk eunhee dan orang tuanya. Kemudian jongin akan bertransformasi saat ia diluar rumah. Jongin akan terlihat sama dengan remaja laki laki lainnya.
Jongin tak menyangkal jika ia disebut nakal, urakan, atau apapun saat diluar rumah. Karena memang itu kenyataannya. bagaimanpun ia sering mengunjungi night club, setidaknya tiga sampai empat kali dalam seminggu. Jongin juga mengkonsumsi minuman beralkohol tapi jongin tahu diri dengan kemampuan minumnya yang cukup payah. Biasanya jongin hanya mampu menhabiskan 4 gelas dan itu sudah cukup membuat kepalanya terasa sangat berat.
Tapi sejauh ini jongin tidak pernah mencoba satu pun jenis obat obatan terlarang. jongin tahu itu akan cukup beresiko untuknya. Terakhir, seingat jongin ia tidak pernah mencoba atau terpikir untuk menggoda dan bermain dengan wanita. Pernah sekali salah satu temannya menantang jongin untuk mencoba sesekali bermain seks dengan pacarnya, jia. siapapun tidak akan menolak berhubungan tubuh dengan siswi pintar, populer, cantik dengan tubuh semampai yang semakin memperlengkap kesempurnaannya. Dan jongin tetap seorang jongin. Ia menolak. Ia hanya berpikir bagaimana jika wanita itu adalah adiknya dan pria lain memperlakukan adiknu seperti mainan?. Jongin sama sekali tidak keberatan jika temannya mengoloknya habis habisan hanya karena menolak tantangan tidak pentingnya.
Tapi kenapa masih ada orang orang yang mencoba mengganggu adiknya?
Apa jongin kurang mengawasi eunhee sampai adiknya salah pergaulan?
Jongin mengambil satu setel piama berwarna babyblue lalu memberikan oada ibunya. Ia duduk disamping ibunya dengan tetap menatap adiknya.
"Jadi,tempat apa yamg kau maksud tadi dan apa yang terjadi jongin?"
"Aku kebetulan bersimpangan dengan soojung dan jinri dijalan, mereka teman sekelas eunhee. Lalu kudengar mereka tertawa dan menyebut nyebut nama eunhee didalam pembicaraan. Tapi aku tidak melihat eunhee sedang bersama mereka. Aku hanya merasa sesuatu sedang terjadi. Jadi aku menanyakan dimana eunhee dan soojung memberitahuku eunhee sedang berada di sebuah kelab didekat sekolahnya"
Nyonya kim sedikit terkejut mendengar anaknya bisa sampai masuk ketempat seperti itu. karena sedari kecil ia tidak pernah memperkenalkan kehidupan malam pada anak anaknya terutama eunhee.
"Bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tahu. Kurasa ada yang menjebaknya. Saat aku sampai didalam kelab itu yang kulihat eunhee sudah setengah sadar mungkin dia sempat minum disana. Seorang pria merangkul paksa eunhee dan menggiringnya kesebuah bilik padahal eunhee sudah menolak. aku-aku hanya terbawa emosi dan kesal melihat bajingan itu bu. Jadi aku menghajarnya dan eunhee pingsan. Lalu-"
Jongin mendadak terdiam. Matanya menerawang menatap lantai kamar adiknya. Tiba tiba perkataan pria itu kembali berputar seperti kaset yang terus berulang. Karene aku juga tidak akan melepaskanmu. Jujur saja jongin sudah merasa sedikit was was saat pria itu mengucapkan kata kata itu. ia pikir, pria itu tidak main main dengan perkataannya.
"Lalu?"
sahutan ibunya membuat Jongin tersadar dari lamunannya. berusaha sewajar mungkin agar ibunya tidak bertanya lebih.
"Ah bukan apa apa. Lupakan. ibu, aku belum menyelesaikan tugasku. Aku- aku akan kembali kekamar."
Nyonya kim mengernyit. Jongin itu tipe pelajar yang menyelesaikam tugasnya semalam sebelum tugasnya dikumpulkan. Dan besok hari minggu.
"Kau tidak pandai berbohong jongin. Kalau kau mau tidur bilang saja. Sana. Pergilah. Selamat malam sayang. Mimpi indah ya."
"hehe. Ya. Selamat malam ibu."
Jongin beranjak dari ranjang eunhee. Pikirannya masih berkutat dengan ucapan pria yang ditemuinya di kelab. Kalau begini bagaimana dia bisa bermimpi indah?
...
"Aahh.. Disana-ah! Sodok lagih"
"Diamlah hani. ugh"
Sehun hanya terfokus pada dirinya yang sebentar lagi akan sampai pada puncaknya. Beruntung dia bertemu dengan wanita yang mengaku bernama hani ini. hani datang begitu saja menggoda sehun dengan pantat besarnya. Perduli apa sehun dengan segala pertimbangannya atau apalah. Saat penisnya sudah sekeras ini yang ia pikirkan hanya vagina atau lubang anal seseorang yang mampu menyelesaikan ereksinya. Setidaknya dia harus keluar sekali untuk menidurkan kembali penisnya.
"A-ahh aku sampai nghhh"
Mata sehun masih terpejam dengan kepalanya yang menengadah keatas. Selepasnya dari klimaks sehun melepas penyatuannya dengan hani. Tapi wanita itu justru menggenggam penis sehun agar tidak keluar dari vaginanya.
"Tolong. Biarkan aku keluar sekali lagi"
Sehun memandang datar wajah hani yang memohon. tujuannya bermain dengan hani hanya sebatas menidurkan kembali penisnya. Bukan memuaskan wanita itu. Bahkan hani sudah tiga kali orgasme sebelumnya.
"Ck. aku bertaruh di nakasmu ada banyak mainan yang akan membantumu sayang."
Sehun menarik penisnya. Kembali memakai pakaiannya kemudian berjalan menuju nakas disamping ranjang yang masih ditiduri hani. Benar saja. Sex toys didalam lacinya tidak bisa dikatakan sedikit.
Tangannya bergerak mengambil sebuah vibrator big size dan sebutir pil yang ia yakin itu pasti perangsang.
Ia menelan pil yang dibawanya. Tidak menelan juga. Hanya meletakkannya ditepian lidahnya. ia berjalan Kembali mendekati hani. Bibirnya langsung meraup bibir hani dengan kasar.
"Urmh uhh"
Lenguhan hani menjadi pertanda lidah sehun berhasil memasuki rongga mulut hani dan menyalurkan pil yang berada di mulutnya. Hani tidak ambil pikir. Ia hanya mrnelan oil yang diberikan sehun dan menikmati permainan lidah sehun namun tak lama sehun melepas pagutannya.
"Nah. Anggap itu bantuanku. Dan ini-"
Sehun mengambil kaos merah tipis yang sebelumnya digunakan hani dan menggunakannya untuk mengikat kedua tangan hani dibelakang tubuhnya. Tangannya mengambil vibrator yang ia letakkan di sampimgnya. Menyalakan vibrator dengan getaran maksimal dan memasukkan vibrator itu pada vagina hani.
"Nah. Dimana dia?"
Hani masih sibuk menggeliat dengan vibrator yang dimaju mundurkan sehun. Sampai akhirnya hani mendesah keras
"A-hh.. sehunhh agh! Ini benar benar-aahh!"
"Gotcha. Baiklah, cukup disini. Anggap ini ucapan terimakasihku. Semoga benda ini memuaskanmu bitch. Sampai jumpa"
Ucap sehun sambil terus mengelus klitoris hani yang benar benar basah. Kemudian meninggalkan hani yang masih menggeliat resah dengan keringat yang mengucur deras.
Sebelum sehun membuka pintu bilik seseorang terlebih dulu membuka pintu itu dari luar.
"Tuan apa- maaf."
pengawal sehun (seseorang yang membuka pintu tadi) seketika menunduk melihat keadaan wanita dibelakang sehun.
"Abaikan dia. Ada apa?" Tanya sehun dengan wajah datarnya.
"tuan, kami menunggu perintah mengenai kim jongin."
"Oh dia. Kita bisa keluar terlebih dulu dari sini. Biarkan dia mendapatkan puncaknya."
Sehun tersenyum remeh menatap hani
"Have a great orgasm dear."
Kemudian sehun menutup pintu bilik hani. Sehun melangkah menuruni anak tangga sambil memikirkan tindakan apa yang akan dilakukannya pada kim jongin. Ia tidak yakin melepaskan orang yang sudah merendahkannya didepan banyak orang.
"baiklah. Dengarkan aku. Cari tahu apapun tentang kim jongin. Kalian tidak perlu melakukan kekerasan jika tidak benar benar dibutuhkan. Aku tidak terburu buru untum mendapatkan bocah tengik yang manis itu."
"Baik tuan."
"Oh. Kalau kau butuh hiburan kau bisa memakai gadis di bilik tadi. Dia tidak mungkin harus bertahan dengan vibrator itu seharian."
"siap tuan. Terimakasih."
Sehun mengangguk dan memasuki porsche hitam metalnya.
...
pagi ini jongin berangkat sekolah bersama eunhee. Sebenarnya ini bukan kegiatan yang istimewa karena mereka juga hampir setiap hari berangkat dengan mobil yang sama dengan jongin sebagai supirnya. Yang berbeda hanya jongin akan mengantar eunhee benar benar sampai didepan pintu kelasnya. Sekedar meningkatkan proteksi pada adik satu satunya.
"Eunhee!"
Merasa seseorang meyebut namanya, eunhee mencengkram lengan jongin agar berhenti sejenak. Ia menoleh kebelakang melihat seseorang sedang berlari mendekat kearahnya dan jongin.
"Oh. Jaehyun sunbae. Ada apa?"
Jaehyun menyapa jongin dengan senyum tampannya. Yah, kau harus beramah tamah dengan kakaknya kalau mau dapatkan adiknya. Sekalipun dia teman sekelas yang tidak terlalu dekat denganmu.
"Pagi jongin, pagi eunhee. Eunhee, apa kau sibuk nanti malam? keberatan nonton bersama?"
"Nonton? ba-"
"Tidak. Eunhee tidak boleh keluar. nanti malam ada acara keluarga."
Eunhee menyikut lengan kakaknya kesal. Ia merasa sungkan dengan jaehyun. seakan tidak perduli dengan tegukan ludah kasar teman sekelasnya, jongin hanya menatap adiknya datar.
"Apa? Kukira Kau tidak lupa nanti malam taeoh dan keluarganya akan berkunjung"
"Ah iya. Maaf nanti malam keluarga pamanku akan kerumah. Bagaimana dengan lusa?"
"Lusa? Tidak mas-"
"lusa juga tidak bisa, aku akan mengajak eunhee ke taman kota."
"Oppa!"
"Kau sudah menerima ajakanku dimobil tadi. Aku oppamu. Itu juga termasuk acara keluarga."
jaehyun meneguk ludahnya kasar -lagi. Entah hanya perasaannya saja atau memang jongin mempersulit siapapun yang ingin mendekati adiknya. 'Oh ayolah jongin. Kau teman sekelasku. Kau tahu sendiri aku hanya fokus pada adikmu dan aku bukan payer seperti ravi. Aku memenuhi syarat untuk menjadi asik ipar jongin!" Maunya jaehyun mengatakan itu pada jongin. Tapi tidak, merebut hati jongin perlahan akan memberi hasil yang lebih baik.
Semakin hari jongin seperti bodyguard artis papan atas yang melindungi kliennya dari paparazi dari pada seorang kakak.
Matanya iseng iseng menatap tubuh jongin dari ujung atas sampai bawahnya. Berfantasi singkat tentang 'jongin si bodyguard' membayangkan jongin bermuka sok sangar dengan kaca mata hitam bertengger dihidung manisnya. Sebenarnya wajah jongin sangat manly, tapi manisnya lebih mendominasi. Belum lagi pantat bulat berisi dan lekukan pinggul jongin yang menyempit. Kakiknya juga cukup jenjang untuk ukuran laki laki yang bertingkah dingin padanya. Tidak, jongin tidak cocok dengan perumpamaan bodyguard sangar ala jaehyun.
"Mungkin kapan kapan saja, aku akan menunggu waktu senggangmu eunhee."
"Dan ku usahakan tidak ada waktu luang untuk bocah kecil seperti kalian untuk pergi berdua" potong jongin.
"Kau teman sekelasnya dan seumurannya oppa. Sekedar mengingatkan kalau kau lupa."
Jangankan jaehyun, eunhee sendiri sudah menahan diri sedari tadi untuk tidak membekap mulut abangnya yang terlampau resek.
Eunhee tersenyum kikuk pada jaehyun. "Akan kuusahakan. mm.. aku akan kekelas. Bye"
Eunhee mendorong dada jongin. berjalan mundur semakin jauh dari jaehyun kemudian membalikkan tubuh jongin agar berhenti memberi pandangan dinginnya pada jaehyun.
"Kita pulang bersama. Jangan terima ajakan siapapun untuk pergi tanpa seizinku. Tidak perduli dekat atau jauh, lama atau sebentar. Paham?"
"iya aku mengerti. Sudah sana pergi. Baik baik oppa pesek!"
Jaehyun berbalik saat eunhee berjalan masuk kekelasnya dan jongin berbalik arah menuju kelasnya sendiri.
Di dekat tangga dua siswi berdiri menghalangi jalannya "selamat pagi jaehyun sunbae. Kau terlihat tampan pagi ini. Ah, dan ini, aku membuat sandwich untukmu. Terimalah." Tangan siswi bernama jinri terulur dengan box biru ditangannya. Soojung disampingnya juga memberikan senyum dan gerakan bibir kecil semacam ucapan selamat pagi.
Jaehyun tersenyum kikuk menerima pemberian jinri. Ini bukan kali pertama ia menerima pemberian jinri. Hampir setiap hari dua gadis itu menghampirinya dan salah satu yang lebih tinggi selalu membawa sesuatu untuk makanan, minuman, ajakan kekantin bersama, ajakan nonton, atau belajar bersama. Beberapa jaehyun terima dan yang lain ditolak. Tapi sikap kedua juniornya ini terkadamg membuatnya kurang nyaman.
Jaehyun tersenyum kikuk menerima sandwich jinri "terimakasih, ehm. Dan kalian juga.. -cantik hari ini." Sekedar beramah tamah sebagai balasan tidak apa kan?
"Uhuk."
Suara batuk seseorang disamping belakang jaehyun. Suara seseorang yang masuk dalama daftar 'orang orang yang harus direbut hatinya dan jaga image saat didepannya'. Jongin.l dibelakangnya saat dirinya memuji gadis lain.
"Tch." Jongin berlalu begitu saja.
"Sunbae, lusa ada pertunjukan musik ditaman kota. Bagaimana kalau pergi bersama?"
"Maafkan aku jinri. Lusa mungkin aku akan ada janji dengan eunhee."
"Kim eunhee? Adik jongin sunbae?"
Jaehyun mengangguk antusias. berpamitan dan berlari meyusul jongin untuk menjelaskan sesuatu. Meninggalkan dua gadis cantik menggerutu kesal.
...
kemarin malam eunhee masih anteng dirumah dengannya. Malam ini keberuntungan berpihak pada jaehyun. Tepat jam 6 sore jaehyun datang kerumahnya dengan boneka beruang besar di tangannya. Sempat duduk dan minum teh bersama dengan ibunya sampai moonkyu mengetuk pintu rumahnya dan menunda acara menahan adiknya. Ayahnya mengajarkan untuk tidak mengecewakan tamu. Turuti keinginan tamu, layani dengan baik, saat tamumu tersenyum saat itu kau adalah tuam rumah yang baik pula.
baik moonkyu maupun jaehyun sama sama bertujuan mengajak masing masing jongin dan eunhee keluar.
Nyonya kim masuk kekamar eunhee menghentikan aksi menarik dan mendorong pintu lemari antara jongin dan eunhee. "Eunhee kenapa belum bersiap?"
"Ibu! Oppa menggangguku. Tendang bokongnya bu! Dia menghalangiku."
Nyonya kim menggeleng geli. Kedua anaknya masih seperti jongin dan eunhee SD.
"jongin moonkyu menunggumu. Kau juga harus berganti pakaian kan?"
"Moonkyu?" Nyonya kim mengangguk.
"Dia bilang pestanya akan dimulai."
"Ah iya! Chanyeol! Traktiran! Makan gratis!"
Jongin melesat keluar dari kamar adiknya. Lupa begitu saja dengan misi menahan eunhee.
...
"Star club"
"Kau serius?"
"Duarius jongin"
Jongin memandang chanyeol dengam wajah beku. tidak berbeda dengan jackson dan moonkyu.
"Hei ekspresi macam apa itu adik adik? Apa kalian tidak suka dengan destinasi kali ini? Baiklah, aku akan mengabari minho kalau rencana berubah."
"Tidak!" Seru ketiganya bersamaan.
"whoa, aku tidak tahu harus berkata apa hyung. Ini pertama kalinya, dan aku tidak membayangkan kesempatan datang diparuh pertama usia delapan belasku."
Jackson berbicara dengan mata berbinar. Tentu saja ini star club. Salah satu kelab termahal di korea yang pengunjungnya bisa dipastikan bukan pelajar ingusan seperti dirinya dan teman temannya. Chanyeol dan minho bisa bersombong, Kelab mahal yang kebanyakan pengunjungnya adalah orang orang besar dan pengusaha juga publik figur, dengan pengamanan yang ketat sudah menjadi tongkrongan mereka di tahun pertama kuliah.
Keduanya termasuk siswa terpandang saat di sekolah. Disegani, begitupun temannya yang lain karena berasal dari kalangan berada, juga unggul dalam beberapa mata pelajaran ditambah jongin dan teman temannya yang beberapa kali menyumbangkan kemenangan dalam kompetisi non akademik.
Chanyeol dan minho, kakak kelas mereka yang lulus setahun lalu dari sekolah yang sama. Masing masing melanjutkan studi di universitas yang berbeda. Berawal dari pertemuan kecil di kelab yang biasa dikunjungi jongin dan kawan kawannya, berlanjut dengan bermain ToD bersama. Kemudian chanyeol memperkenalkan taehyung, adik kekasih chanyeol. Dan temannya taeyong. Yang keduanya adalah siswa seangakatan dengan eunhee.
Sejak itu Mereka menjadi teman dekat.
Dan kali ini reuni kecil pertama mereka bertujuh setelah kelulusan chanyeol dan minho.
"Ngomong ngomong soal umur.." jongin teringat taeyong dan taehyung yang berada di mobil lain bersama minho.
"Bukankah taehyung dan taeyong masih 17 tahun? Bagaimana kita bisa masuk bersama? Kudengar kelab itu cukup ketat"
"Tenang saja. Noonaku bekerja disana dan dia sudah membereskan apa yang kau khawatirkan jongin sayang"
"Noona mu bekerja disana? whoaa. Tariannya pasti indah" jackson dan moonkyu tergelak. Jongin hanya tersenyum
"Fuck. Apa yang kalian pikirkan bocah?! Tentu saja bukan posisi seperti itu. Dia manajernya. Ini pertama kali noonaku betah bekerja lebih dari 6 bulan. Biasanya noona akan mencari tempat kerja baru setelah tiga bulan. Dia type yang gampang bosan."
"Tentu saja dia mempertahankan pekerjaamnya. Bekerja dengan gaji lumayan dan kau bisa ikut bersenang senang setiap hari. siapa yang menolak?" Moonkyu menimpali
"Haha. itu untukmu bocah. Noona bilang hampir setiap hari anak pemilik kelab datang kesana. katanya Anaknya tampan. dan noona adalah fangirl terselubungnya. Ah, dia belum menyadari ketampanan luar biasa adiknya sendiri"
"Cih"
Pembicaraan tidak penting mengisi perjalanan mereka sampai mobil chanyeol memasuki pelataran parkir kelab disusul mobil minho
"Baiklah, kalian bisa lakukan apapun yang kalian mau. Kita bisa berpencar. Minum, main kartu, menari, atau one night stand. Terserah. Ingat tempat kumpulnya di mobil masing masing. Oke?"
"Oke."
"Oh. Jangan lupa ini semua atas namaku atau kalian bayar sendiri sendiri" ucap chanyeol sebelum berjalan bersama memasuki gesung kelab.
Musik hasil garapan jari jari disk jokey menghentak keras. Sekumpulan orang berbusana macam macam mode berkumpul lantai dansa menari dengan kemampuan beragam. Penari penari meliukkan badan erotis dengan tiang yang tersambung dengan meja bundar. Sebagian lain ada di meja meja yang melingkar dengan kartu dan botol botol minuman, mereka yang tidak berpasangan memilih duduk didepan meja bartender dan beberapa pasangam lain bercumbu panas di tiap lorong, ada yang berjalan sempoyongan menuju bilik.
Taehyung dan jackson memilih menari bersama. Minho, chanyeol, moonkyu, dan taeyong berkumpul dimeja dekat arena menari. Jongin memisahkan diri, moodnya tidak sebaik biasanya. Dirinya sendiri tidak tahu apa penyebabnya. langkahnya berakhir pada kursi kosong di bar. Menimang sejenak minuman apa yang akan menemaninya malam ini
"Fortified wine."
Pilihannya jatuh pada wine yang belum pernah dicoba olehnya. Kelab langganannya hanya menyediakan wine sejenis red, white, dan sparkling. Sedang fortified adalah jenis langka yang kadar alkoholnya lebih tinggi dari wine yang lain.
Bartender pria didepannya mengangguk dan menyiapkan pesanan jongin.
Gelas wine berleher tinggi berpindah ketangan jongin. perlahan menyesap cairan berwarna cantik itu. Tiap teguk dirasakannya rasa masam dari proses pembusukan yang katanya semakin busuk membuat minuman itu semakin digemari. Juga perasaan terbakar hangat yang menulusup dalam tenggorokan. Sesekali alisnya mengernyit dan bibirnya mendesis merasakan panas dalam dirinya
Gelas kosong kembali terisi dengan minuman yang sama. Dan jongin meneguk semangat. Dalam tiga kali teguk gelas kembali kosong. tangannya terangkat mengembalikan gelas kosong pada bartender dan memintanya mengganti dengan tequila. Jongin hanya penasaran. Karena chanyeol sering bercerita sensasi dari minuman hasil penyulingan tumbuhan agave yang (kata chanyeol) akan menyempurnakan imajinasimu.
Saat tequilla berada dihadapannya jongin menatap gelasnya sekilas kemudian mencicip sedikit terlebih dahulu. matanya terpejam erat, alisnya bertaut rapat menahan rasa aneh dari cairan tersebut. Sungguh wine lebih enak menurut jongin.
bibirnya kembali mendekat pada permukaan gelas. Mencoba meneguk cepat tequilanya. Baru seperempat dan jongin mempercayai yang chanyeol katakan. Karena kepalanya benar benar berputar sekilas. Jongin tidak melanjutkan acara mencoba tequilla. Ia tidak mau berakhir seperti chanyeol yang benar benar lupa diri dan ngaco setiap kali minum.
Jongin mulai samar. Ringan, terbang, abu abu. Wajahnya memerah, dirinya melayang antara sadar dan tidak. Salah satu tangannya menyangga dagu. Matanya terpejam dan sekelebat bayangan pria yang ditemuinya di kelab beberapa hari yang lalu tiba tiba muncul. Perkataannya kembali berputar seperti kaset didalam kepalanya. Jongin tertawa kecil. Mentertawakan ketakutan yang sempat hinggap pada dirinya. Matanya membuka memandang remang setengah kabur "haha. Yang benar saja. Itu pasti hari sial. Ya, hanya hari sial" ucapnya kemudian menyandarkan kepalanya di meja bar. Matanya kembali terpejam dan bibirnya terkekeh pelan. "Lagi pula tidak mungkin kami bertemu lagi. Iya. Semoga saja tidak"
Jongin beranjak dari tempatnya. Berjalan menyeret kaki dengan mata teroicing mempertajam penglihatannya mencari pintu yang terhubung dengan parkiran. Hanya sekedar mengintip sekitar mobil chanyeol dan minho. Barangkali teman temannya sudah berkumpul untuk pulang. Tapi mobil kosong tidak ada siapapun diluar atau didalamnya. Jongin kembali membawa dirinya kedalam kelab. Mencari sofa untuk duduk dengan nyaman.
Sebuah spot di pojok tertangkap retina. Sofanya kosong, meja masih rapi tidak ada gelas bekas pakai atau ceceran cairan tumpah. Jongin menghempaskan tubuhnya. Membanting kepalnya kebelakang. Kepalanya pening dan ia hanya butuh posisi ini sebentar tanpa gangguan siapapun. matanya terpejam tak nyaman saat sofa yang diduduki terasa bergerak karena beban baru disisi lain. "Tch" dia mendecih tak perduli dengan siapapun disampingnya. Ia hanya ingin tidur sejenak.
"Bocah, apa sesuatu terjadi dengan adikmu? Kita bertemu lagi."
Jongin mengangkat kepalanya suara penganggu itu seperti seseorang yang sempat berputar terus menerus dalam memorinya. Matanya memicing guna memperjelas objek didepannya.
"Kau?" Seeorang disamping duduknya tersenyum satu sisi.
"Ya, aku."
"kenapa kau ada disini?"
"Apa aku butuh alasan untuk mengunjungi kelab keluargaku sendiri?"
Jongin diam. Memperbaiki posisi duduknya. Hanya sekedar menghormati. Di ujung sofa seorang pria lain dengan setelan serba hitam duduk setelah pria pengganggu disampingnya memberi kode untuk turut duduk.
"Kukira kau pernah mengatakan padaku untuk tidak melepaskanku jika sesuatu terjadi dengan adikmu"
"Adikku baik baik saja. Aku kemari bukan untuk itu"
"Oh? Kalau begitu biarkan aku menarik kesimpulan dengan sudut pandangku mengrnai pertemuan kedua ini. Kau ingat? Aku juga tidak akan melepaskanmu. Jadi, apa Kau yang menyerahkan diri padaku?"
Bagai muncul kembali kepermukaan setelah terhanyut dalam kubangan air, jongin sedikit mendapatkan jalan pikirannya. Dirinya menangkap sinyal sesuatu yang bahaya.
"Aku tidak mengerti maksudmu. Maaf aku harus pergi"
Jongin hendak beranjak sebelum tangan pria pucat disampingnya menahannya dan menarik pinggangnya hingga dirinya terhempas kembali terduduk di sofa.
"Lepaskan tanganmu"
"Haha. Baiklah. Jangan terburu buru. Mari minum bersama sebentar jongin. Temanmu masih menikmati servis pegawaiku" pria itu menjetikkan jarinya memanggil seorang pelayan.
"Satu long island dan black russian. Oh. Berikan aku pelengkapnya juga untuk teman kecil ini. Satu butir saja." Pelayan mengangguk dan mundur dari hadapan sehun.
Yang dirasakan jongin adalah ketidak nyamanan. Ia ingin segera beranjak dari tempatnya.
"Aku sudah minum, tidak perlu repot repot mentraktirku. Dan aku bukan escort boy brengsek."
"Namaku sehun bocah, bukan brengsek. Kau harus ingat itu. lagipula ini hanya cocktail jongin, bukan absinthe. Duduklah dengan tenang atau kau lari, Dan saat aku menangkapmu dan tidak perduli apapun aku akan menciummu."
ancaman sehun membuat jongin menjeda aksi menolaknya. Serius, jongin ingin memejamkan mata dengan tenang sejenak. Kepalanya masih pening dan sehun terus menganggunya. Masa bodoh dengan sehun. Jongin kembali menyandarkan kepalanya kebalakang dengan sesekali memijat pelipisnya.
Sampai terdengar suara dentingan gelas kristal uang diletakkan di meja kaca dan jongin masih sibuk dengan dirinya sendiri. Sehun menerima plastik kecil berisi sebutir pil putih di dalamnya.
"Ayo minum jongin. Jangan sia siakan ini."
Jongin masih diam tidak menghiraukan ucapan sehun.
Ia merasa pinggiran gelas yang dingin menekan bibirnya. Matanya membuka pelan. Yang tertangkap matanya adalah segelas cocktail warna cerah yang digenggam sehun berada persis didepan bibirnya dengan wajah sehun yang sedang tersenyum tampan dibelakang gelas.
"Minumlah"
Jongin menggeleng. Kembali memejamkan matanya. Tapi tangan sehun menahan tengkuknya dan mencoba menegakkan tubuhnya. Memaksa dirinya menerima sulangan cocktail dari sehun.
"Ayo. Sedikit saja. Kau harus coba ini."
Jongin ingin menolak namun bibir gelas itu terus mendorong bibirnya. Jongin mengalah. Satu tegukan masuk tenggorokannya dan kepalanya semakin pening. Hanya berharap semoga setelah ini sehun tidak memaksanya lagi dan membiarkannya tidur dengan tenang.
"Nah. Good boy."
Baru saja jongin kembali rebahan sesuatu kembali menanti didepan bibirnya. Matanya kembali terbuka dengan terpaksa.
"Ap-"
Dirasakannya sebutir pil masuk dalam rongga mulutnya saat ia baru saja akan bertanya benda yang dimasukkan sehun.
"Hanya semacam obat yang akan menggantikan rasa peningmu. telan saja." Ucap sehun dengan ibu jari yang menahan kedua lapis bibir jongin. Dengan susah payah jongin menelan pil pemberian sehun.
"Karena tidak ada air. Jadi minum dengan long islandmu saja nak."
Sehun kembali mencekoki jongin dengan cocktailnya.
"Habiskan jongin" ucapnya tanpa menarik gelas itu sedikitpun. Jongin pasrah. Biji jangkunnya bergerak naik turun mengikuti cairan yang masuk perlahan dalam tubuhnya. Sedang sehun menatap jongin yang berusaha menghabiskan minumannya dengan segaris senyum yang tertarik di salah satu ijing bibirnya.
Yang terpikirkan dalam otak jongin hanya turuti saja apapun yang diminta sehun dan pergi secepatnya. Setelah gelasnya kosong jongin bernafas terengah. Dia harus pergi dari sini sebelum sehun bertindak lagi. Jongin berusaha berdiri tegak begitupun pria diujung sofa yang hendak mencegah jongin.
"Terimakasih. Aku harus pergi"
Tapi bahkan sebelum dirinya bergerak selangkah kepalanya terasa dua kali lipat lebih berat dari sebelumnya membuat jongin mengerang dan kembali ambruk pada tempat awalnya. Sehun menyeringai.
"Tak perlu buru buru kan? Nikmati saja" suara sehun terdengar husky dan nafasnya menggelitik belakang daun telinganya. Menghantarkan sesuatu yang aneh pada tubuh jongin.
"Ugh-"
rasanya tidak tenang. Tubuhnya ingin terus bergerak. Panas disekitarnya terasa berkali kali lipat apalagi saat deru nafas sehun menerpa lehernya. Jongin mengerang saat jemari sehun menyentuh lembut daun telinganya. Terus kebelakang kemudian turun ketengkuknya. Sentuhan sekecil apapun mengahantarkan aliran listrik kecil yang menghangatkan tubuhnya dan membuatnya semakin gerah.
"Kenapa?" Bisik suara berat sehun tepat dibelakng telinganya dengan terpaan tiupan kecil.
"Anhh. Gerah. Sesakh." Jawabnya.
Sehun tersenyum ganjil. Sentuhan lengan kokoh sehun yang tahu tahu merangkul pundaknya dan jari jari sehun yang tak berhenti mengelus puncak kepalanya juga membelai bagian wajahnya membuat jongin ingin terus bergerak. Menginginkan sesuatu menyentuh tiap jengkal tubuhnya. Sentuhan dari apapun itu. Terutama tubuh orang lain. Bibirnya mengecup telinga jongin menyempatkan lidahnya untuk menjilat cuping jongin
"Mmhh"
Kemudian bergerak pada pipi, mata, hidung, dan bibir jongin. Mengecupnya kemudian menghisap bibir bawah jongin. lidahnya terjulur menjilat garis pertemuan bibir jongin meliuk kanan kiri untuk membuka bibir jongin agar lidahnya bisa melesak kedalam.
Tangan kirinya menahan tangan jongin yang mencoba mendorong sehun. Tangan kanannya menarik kulit dagu jongin sehingga bibir bawah jongin ikut tertarik kebawah. Lidahnya langsung memasuki rongga jongin.
"Urmhh" daging tak bertulang yang hangat itu berhasil menerobos dan menjelajah tiap sudut yang terjangkau olehnya. Jongin tidak tahan untuk tidak kembali bersuara.
"U-ughh" aliran darahnya terpacu deras. Dan rasa menggelitik yang nikmat itu juga berpacu dan terasa mengumpul di bagian selatan tubuhnya menbuatnya semakin sesak. Tangannya yang bebas masih mencoba mendorong sehun. Memberi penolakan tam berarti bagi sehun. Sehun justru mengalungkan tangan jongin keleharnya dan mengarahkan tangan kiri jongin ke bagian menggembung di selangkangannya. Menuntun tangan jongi agar meremas kecil miliknya.
Jongin terkaget mendapati tangannya bertemu dengan benda keras dibalik celana sehun sontak membuka matanya. Sehun melepas tautab lidahnya didalam rongga mulut jongin. Menatap jongin intens. Tangan kirinya bergerak menuju bagian selatan jongin yang juga membesar. Menggenggam batangan disana dan menggerakkan tangannya dengan gerakan vertikal cepat yang membuat jongi kembali terpejam menengadahkan kepalanya
"A-akhh. Se-sehun"
"Ya sayang?" tangan sehun masih terus mengerjai batang jongin. Tangan lainnya masih membimbing tangan jongin untuk terus meremas miliknya. matanya menatap wajah Jongin yang terengah memerah. Matanya terpejam erar dan bibirnya merah merekah terbuka dengan erangan erangan yang terus keluar.
"ugh. To-tolong hentikan a-akhh! Sesak. Nghh"
Sehun menghentikan gerakannya. Tangannya terlepas dari jongin namun matanya tidak. Terus menatap tubuh jongin yang bergerak gelisah.
"sesak?"
"I-iya" jongin menjawab terengah. Tubuhnya sibuk menggeliat menggesekkan dirinya sendiri pada sofa kulit. Tangannya tidak berhenti menyentuh dada dan pahanya sendiri.
"Gerah?"
Jongin mengangguk. Tangannya tidak bisa berhenti menjamah tubuhnya sendiri.
sehun mengangkat tubuh jongin dan meletakkan jongin dipangkuannya.
"Mungkin kita perlu sedikit membuka pakaianmu" tangan sehun bergerak cepat melepas jaket cokalt jongin. Hampir selesai pekerjaan sehun melepas jaket, tangan jongin mencegah sebelah tangan sehun. "Jangan".
Sehun melepas tangannya dari genggaman jongin dan meneruskan acara melepas jaket jongin. Begitu jaket terpisah dari tubuh jongin, sehun segera merapatkan posisinya dengan jongin hingga perpanjangan keduanya bertemu dan membuat jongin mengerang
"ngghhh"
Tangan sehun meraih kedua tangan jongin, memposisikan keduanya diatas kepala jongin dan menahannya dengan satu tangan. Tangan lainnya bergerak menelusup kedalam kaos putih jongin meraba kulit dibaliknya. Terus bergerilya menggoda jongin dengan mengitari pusarnya meraba halus permukaan perut sang bocah yang sepertinya sedang dalam proses pembentukan abs. Membuat jongin kembali mendesah nikmat. Jongin semakin resah dengan segala sentuhan sehun yang membuat tubuhnya tidak bisa diam dan terus bergerak hingga vitalnya sering kali menubruk milik sehun yang membuat sehun menggeram kecil merasakannya.
tangan sehun bertemu dengan bulatan dengan tonjolan kecil di dada jongin. Menggosok gosok puting jongin dengan cepat
"Ssshh ahh" desah jongin.
Jemari sehun terus meremat, menyentil dan memelintir puting jongin. Mulutnya mengulum tonjoan lainnya. Menghisapnya dari luar kaos menjilat dan sesekali mengigit hingga bagian kaos didaerah itu basah dan memperlihatkan samar samar payudara rata milik jongin. Tangannya dikeluarkan memilin bagian yang sudah basah. Lidahnya beralih pada puting yang belum dikulumnya. Jongin melemah dengan sentuhan sehun. Lututnya lemas seperti agar agar. Hanya menggantung pasrah. Apapun yang diperbuat sehun oadabya membuat sesuatu melonjak lonjak didalam dirinya hingga tabpa sadar ia menggesekkan penis nya yang masih tertutup jeans oada milik sehun. Sehun mengeram dalam kulumannya untuk puting jongin yanpa sengaja mengginggit puting jongin dengan cukul keras.
Jongin mendongak terengah saat sehun semakin gila menggesekkan batang keduanya dan memilin juga mengulum dadanya
"A-akhh! Sehun. Mmhhh" Jongin menggigit bibirnya kuat. Sehun beralih keleher jongin. Bersemangat mengerjai bocah diapngkuannya. Memberikan butterfly kiss sepanjang leherbsampai belakang telinga jongin diakhiri dengan tiupan nafas mulutnya di telinga jongin yang membuat tubuh jongin bergetar. Jongin merasakan ereksinya semakin membesar dan berkedut. Semakin sesak.
Tangan sehun beralih dari dada ke penis jongin dan meremas remas batang berkedut itu. Jongin menggigit kuat bibir bawahnya menahan diri untuk tidak terus terusan bersuara.
Tapi sehun ingin jongin berisik dengan desahannya "moan for me dear" dan tangan sehun berubah mengocok cepag penis jongin dari luar celana jeansnya. Jongin semakin tidak karuan.
"aakkh! Ahh! Sehunh ahh! Ngghh"
sehun masih mengocok jongin. "J-jangan. Sesuatu akan-aghh! Keluar. Anhh!"
Tangan jongin mengepal memegang tangan sehun yang menahan kedua tangannya. menggigit pipi dalamnya menahan ledakan nafsunya. Ia merasa begitu tinggi saat sehun tam henti hentinya mengocok semakin cepat dan menghisap biji jakunnya
"Sehun! Ngghhhh. AKHH!"
Jongin mendesah keras saat dirasa penisnya sudah menembakkan cairan semennya. Sehun melepaskan tangan jongin. Dan jongin langsung terkulai lemah pada tubuh sehun. kedua tangannya berada lemas di kanan kiri sehun. Sehun memberi ciuman ciuman ringan disekitar tengkuk jongin yang masih terengah pasca klimaks.
sehun menghentikan sejenak acara mencumbu bocahnya. Memanggil orang yang masih setia di ujung sofa menatap sehun tergagap kaget.
"Siapkan kamar."
Tbc-
Lets talk:
Oh astaga akhirnya selesai. *Gasp
Nulis bagian anu ternyata susah ya? saya anu sendiri pas ngetik ini sambil insomnia dikost. Untung temen sekasur uda tidur. *lirikin pirda yang ileran* mana jadinya biasa gini. Ga ada anu anu nya. Aihh -3-
Jam 03:06 dini hari. Maap yes kalo typo masih nyempil. kantung mata uda ngalahin bantal nih. Hmm. tbh semua fanficku diketik pake hape, update dari hape, apa2 dari hape kecil emesh ini. Sedangkan jempol gede saya merusak impian nulis tanpa typo. Maklumilah(1)
Sebelumnya, maap buat update yang very very very late ini. Aku cuma bisa ngetik pas ada mood ngetik. Maklumilah(2) B type yang kelewat males ini readersdeul. Aku ga bisa kalo disuruh tepat waktu, teratur, gak telat, dll. Tergantung hidayah sih wkwk.
Karena awalnya fanfic ini juga aku ga niat bikinnya. Ini chapt 1 nya dibikin pas lagi nunggu bus berangkat. Ngetikbya oneshoot dan langsung publish aja karena bus nya masib belom mau jalan dan aku mati bosen. Hehe. makanya jadinya cuma seupil. Kebanyakan typo lagi -_- aduhh. Maklumilah(3)
Karena ini bikinnya sesuka hati jadi aku bingung juga alur ceritanya mau dibikin gimana soalnya aku kebanyakan nyusun plotnya. -_- maklumilah(4) author labil ini.
eh ffn emang sering ngilang sendiri ya wordnya? ._.
Last, kali aja ada yang mau nyumbang ide? Or wanna gimme an advice? '-' review juseyoh. :*
love, JAE, JONGIN, OSEH. Mwah. *gumoh*
