Hari ini Kai bilang dia mau menginap di rumah Sehun.
Jadi sekarang BMW M4 Coupe milik Sehun terparkir di depan gerbang sekolah Kai, karena kemarin Sehun bilang dia yang akan menjemput Kai. Namun tiga menit yang lalu dia dikirimi pesan oleh bocah itu yang menyatakan bahwa guru sialan itu (kata Kai) menyuruhnya melakukan sesuatu lagi.
Tau begitu tadi Sehun tidak usah datang satu jam lebih awal—
Kai memandangi BMW Sehun dari jendela kelasnya. Harusnya ia sudah pulang sejak tadi. Hari ini dia dan Sehun berencana main ke game center (Kai yang memaksa sih, dia bilang dia bosan). Tapi kalau sesore ini sih, dia rasa akan kurang puas bermain, Sehun menyetujui ajakannya karena dia juga mau belanja bulanan.
Kai merasa maklum melihat Sehun yang seperti duda ditinggal mati istrinya.
Segera ia mengumpulkan pekerjaan kepada gurunya dan berlari menuju gerbang. Sehun tidak memarkir mobilnya di parkiran, sehingga Kai berpikir cat mobilnya bisa meleleh.
"Kai-kun!"
Kai menoleh dan dikejutkan oleh seorang gadis yang tiba-tiba saja menggelayuti lengannya. "Himeji-san. Kau mengagetkanku,"
Gadis dengan rambut dikucir setengah itu hanya menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih. "Aku punya dendam dengan Akihisa,"
"Si bodoh itu kenapa?"
"Besok tendang kepalanya supaya dia cepat peka, ya?"
Jongin tertawa dan mengacak rambut Himeji. "Kukira kau bisa menendangnya sendiri."
"Itu sih bagian Minami," katanya. "Kau pulang sendiri?"
"Ya, begitulah, dengan BMW,"
"BMW Coupe itu?!" Himeji sedikit memekik sambil memelototi mobil Sehun. "Apa kau punya sugar daddy?"
"Sugar—apa?"
"Tidak-tidak. Lupakan. Ya sudah, dah Kai-chan~"
Dengan melihat adegan itu Sehun sewot sendiri. Cara Kai tersenyum dan tertawa dengan gadis itu, membuatnya senewen.
Gadis itu cantik sih, tapi tetap saja kalau dengan Kai dia tak sebanding.
Jadi yang sebanding itu siapa, Hun?
Tentu saja aku—Hah apa?
Sehun berpura-pura tidur dengan menyandarkan kepalanya pada kemudi. Setelah ini rencananya dia akan mengutuki bocah itu karena sudah menunggunya terlalu lama.
Tuk tuk
Sehun bukannya tidak dengar Kai yang mengetuk jendelanya. Hanya saja, dia sedang dalam mode 'ngambek' kan sekarang? Jadi dia tetap pura-pura tidur.
Ketika Kai membuka pintu di bagian lain barulah Sehun berpura-pura terbangun dan berlagak terkejut.
"Idiot. Bagaimana kalau yang masuk rampok?" Kai bertanya saat dia sudah duduk dan memakai seat belt.
"Salahmu sendiri yang lama. Lagipula kalau itu rampok, pastilah kamu," balas Sehun tak kalah sengit.
"Aku tidak memintamu menjemputku lagian."
"Aku tidak mau seseorang curiga aku punya sugar baby,"
"Sugar—apa? Kenapa gula-gula itu ngetren sekali sih?"
"Aku heran kenapa kau bisa sampai ke Jepang."
.
Title : Watashi Wa Nani O Suru Tame No Rakka
Writer : Dirty Noble's master
Main Cast : Oh Sehun & Kim Jongin
Rated : M
Length : [1/2]
.
.
Jongin sudah selesai menyikat gigi malam menggunakan sikat gigi Sehun. Dia melompat lebih dulu ke ranjang Sehun.
"Capeknya~" Jongin meregangkan tubuhnya dan Sehun mendengar suaranya seperti rengekan kucing.
Sehun duduk di tepi ranjang dan mengecek notifikasi ponselnya satu per satu. Tidak ada apa-apa. Kosong. Sebenarnya memang selalu seperti itu. Dan memang hanya Kai yang berani menyabotase ponselnya sehingga nomornya bisa sampai ke ponsel bocah itu.
Anehnya dia tidak bisa marah—atau malah senang? Dengan begitu ia bisa menghubungi Kai kapanpun.
Sehun merebahkan tubuhnya di samping Kai setelah sebelumnya melempar ponselnya ke meja nakas. Menarik selimut bagi mereka berdua, khusus untuk Kai, ia menarik selimut hingga ke leher bocah itu.
Kai sedikit risih. Memang sih ibunya atau kakaknya dulu sering melakukan itu.
Tapi sekarang seperti ada ratusan lalat berjalan di perutnya—geli, tapi menyenangkan.
"Oyasumi, bocchan." Sehun berbaring memunggungi Kai dan memeluk guling kesayangannya.
"Bisa tidak sih berhenti memanggilku bocah?" Kai menggeram di antara kalimatnya. Tak ada jawaban. Sial Sehun mengacuhkannya.
Kai menolehkan kepalanya dan mendapati bahu lebar dan punggung tegas Sehun. Lagi-lagi dia mengagumi postur tubuh pria dewasa itu.
"Bocchan,"
Kai menggeram. "Apa?" dengusnya.
"Orang tadi, pacarmu?" Sehun bertanya tanpa mengubah posisinya.
"Orang mana? Aku bertemu hampir ratusan orang si sekolah—"
"Yang di gerbang denganmu," Kai meragukan pendengrannya. Tidak mungkin kan Sehun bertanya dengan nada sesendu itu.
Dan sikap usilnya mulai. "Oh, itu. Kenapa? Dia manis kan? Dadanya juga lumayan,"
Sehun berdecak, "Jadi dia itu kekasihmu atau bukan?"
"Bukan. Tenang saja fans nomor satuku, aku ini single player."
Kai tidak tahu kalau sekarang Sehun mengulum senyum di balik tubuhnya. Iya merasa geli sendiri, kenapa rasanya menyenangkan saat tahu Sehun cemb—memperhatikannya?
"Sehun?" kini giliran Kai memanggilnya.
"Dengan 'nii', Kai,"
"Jadi apa benar kau itu duda ditinggal mati istrimu?"
Seharusnya Sehun membalas ledekan Kai itu. Hanya saja—
Kenyataannya memang dia sudah ditinggal mati oleh kekasihnya. Dan sejak itu Sehun bahkan tidak terpikir untuk mencari calon istri baru. Bukan karena tidak ada yang mau, no, Sehun tidak semengenaskan itu. Itu karena memang dia yang belum melupakan mantan kekasihnya itu.
Kai sebenarnya akan tertawa. Namun karena melihat respon Sehun yang membeku seperti itu, Kai jadi tak enak hati sendiri.
Setelah melirihkan kata maaf dan mengucapkan selamat tidur, Kai meninggalkan Sehun yang kembali terbayang oleh sosok yang mengisi hari-harinya dulu, bahkan hatinya sampai sekarang.
Kai terbangun karena merasakan kering di tenggorokannya. Suhu udara di kamar Sehun sangat rendah sehingga dia hampir menggigil. Jadi ia memutuskan untuk menaikkan suhu AC dan mengambil segelas air di bawah.
Kai baru saja akan turun dari ranjang ketika sebuah tangan menahan lengannya. Kai menoleh dan gerakan tiba-tiba Sehun yang menariknya itu membuat Kai jatuh menimpa tubuhnya.
"S-sehun—?"
Kai membulatkan matanya ketika Sehun membalik tubuhnya sehingga sekarang dirinyalah yang di bawah dengan tubuhnya yang dikunci oleh kedua kaki panjang Sehun.
Selama ini Kai tidak pernah sedekat ini dengan Sehun. Kai merasa terhipnotis oleh tatapan sayunya, serta bau badan yang tercampur cologne itu.
Ini salah, harusnya dia menendang Sehun dan mematahkan salah satu iganya sekarang. Sayangnya tubuhnya tidak konsisten dengan pikirannya saat Sehun mengendus dan mengecupi lehernya.
"Ngh—" Kai menggigit bibir saat Sehun menggigit kulit lehernya. Dia yakin pasti berbekas. Kai ingin menangis. Oh sialan Sehun membuatnya seperti seorang gadis sekarang.
Sehun menatap mata Kai yang berair. Dia memang kehilangan kontrolnya sekarang. Tangannya masih sibuk menggerayangi bagian-bagian sensitif Kai.
Kai hampir memekik ketika Sehun menekan ereksinya dengan lutut. Kai terlalu gengsi untuk memeluk Sehun, jadi tangannya hanya meremas seprai dan bantal.
Sehun melihat Kai menggigit punggung tangannya. Dia tidak suka, karena itu akan melukai tangannya. Sehun mengambil tangan Kai untuk melingkar di lehernya dan mulai mengajaknya bercumbu.
"Aahn—"
Sehun mengecapi rasa manis ketika menyesap bibir Kai. Mungkin karena bocah itu penyuka makanan manis, pikirnya. Sehun memagut bibir hingga ke dagunya dan hanya dibalas oleh huruh-huruf vokal dengan suara rendah khas milik Kai.
"Jongin.."
Kai membuka mata ketika Sehun memanggil nama aslinya. Sehun menggeram pelan ketika merasakan organ di bagian pangkal pahanya bereaksi cepat dengan melihat Kai—dengan bibir bengkak merah dan mata sayu itu.
"Brengsek. Kau brengsek menggerayangi anak dibawah umur, Sehun—" kalimat Kai terputus oleh desahan tertahannya sendiri ketika Sehun dengan tidak sabaran menyentakkan celananya hingga terlepas.
Sehun sendiri tidak mau ambil pusing dengan sindiran Kai, dia sendiri tahu kalau Kai sebenarnya juga sudah tidak tahan.
Sehun melucuti pakaian bagian bawahnya sendiri setelah sebelumnya mengambil kondom dengan lubrikannya di laci nakas. Kai hanya menatapnya tidak percaya.
"Kau serius ingin mencabuliku?" Kai tidak membantunya memakai kondom, karena ia sendiri sebenarnya masih tidak rela dengan posisinya.
"Ya."
Pria yang lebih tua menarik lebar kedua kaki Kai. Kai hanya menggigit bibirnya karena ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia memang pernah—sering melakukan seks, tapi dengan perempuan.
Kai menahan nafas ketika Sehun memulai penetrasinya. Serius, rasanya aneh dan cukup sakit karena hell, penis Sehun itu besar. Dan untuk yang kesekian kalinya Kai iri dengan bagian-bagian tubuh Sehun.
Sehun merendahkan tubuhnya ketika mendorong penisnya lebih dalam, Kai memeluk kepalanya dan menggigit pundaknya.
"Nn—ahh Sehun—"
Desahan bocah itu memacu jantung Sehun, mendorongnya untuk menginginkan lebih dari sekedar remasan rektum Kai pada penisnya. Tanpa menunggu kesiapan Kai, pria itu bergerak.
Kai mendesah dengan suara rendah. Terkadang hanya tertahan di kerongkongannya ketika Sehun menyodok sesuatu (yang nikmat) di dalam rektumnya dengan keras. Pinggul Sehun bergerak semakin cepat cepat seiring tusukannya pada anal Kai.
Dan sukses membuat Kai mengeluarkan desahan panjang keenakan.
"L-lagi— Sehun,"
"Feels good?" Sehun bertanya dengan menghadiahi sebuah kecupan pada bibir kissable Kai. Kai bukannya tidak mau menjawab. Hanya saja dia takut kalau dia membuka mulut, dia akan mengeluarkan desahan memalukan, dan artinya Sehun akan semakin brutal lagi.
Sehun turun dan menyingkap kaos Kai ke atas. Cepat-cepat mengemuti salah satu puting kecoklatan itu dan memilin-milin puting lainnya. Kai heran Sehun bisa membagi peran tangannya tanpa menghancurkan konsentrasi pada sodokannya.
Dan yang lebih mengherankan adalah ketika Sehun bisa membuatnya klimaks tanpa menyentuh penisnya. Oh, Kai merasa seperti slut sekarang.
Sperma Kai mengotori kemeja Sehun dan sedikit mengenai bajunya. Tak lama kemudian Sehun mencapai klimaks dengan menyemprotkan sperma ke dalam kondomnya.
Bagian dalam Kai terasa hangat karena sperma Sehun. Dia berpikir bagaimana panasnya ketika Sehun meledak tanpa kondom di dalamnya. Hm, ingatkan Kai mencongkel otaknya nanti, karena sekarang dia bau sperma, lelah, dan mengantuk.
Sehun menarik diri sebelum miliknya melemas dan mencabut kondomya. Lalu melemparnya ke tempat sampah setelah mengikat ujungnya. Sehun memberikan kecupan lama pada dahinya sebelum menyusul Kai ke alam mimpi disana.
.
.
A/N
Hng..
Pertama, ff ini kan banyak kurangnya. Jadi saya berterima kasih bagi yang bersedia baca ff abal ini.
Terus, kemaren ada yang mengkoreksi, judul nihongo-nya itu salah. Banget. Harusnya 'Watashi Wa Rakano Tame Suru Nani Wo Suru'. Entah apa yang bener. Tapi kalo salah ya salahkan google translate(?)
Ada yang bilang posisinya kek LevixEren fanart, wkwk, ada yang tau juga rupanya. LeviEren juga pairing favorit saya. Sehun mirip banget muka gepengnya kek Levi.
Ff ini banyak sumber inspirasinya sih. Dan kutipan-kutipan novel saya ambil juga. Jadi kalau merasa ada 'sesuatu' yang sama mungkin ya sumbernya dari situ(?)
Special Thanks:
LoveHyunFamily, kamong jae, sexkai, tokisaki, , hunkaiship14, Kamong Jjong, , , dan readers lain yang belum disebutkan (saya sebut di chapter depan deh.. Kalo ada :v), serta silent readers dan khususnya silent readers kesayanganku dengan tanda kutip dan emoticon titik dua bintang.
