Disclaimer : Rick Riordan lah
Warning : OC, salah ketik, dan berbagai kesalahan khas anak baru
Chapter 2
"Kau monster!" Jerit Pete dengan suara seperti ayam dicekik.
Monster itu menoleh kepada Pete dengan cepat.
"Aku dulu seorang Ratu, sampai Hera yang terkutuk itu mengubahku menjadi monster," katanya. "Cukup penjelasannya, aku lapar. Lebih baik kumakan kalian bertiga saja walaupun aku kurang suka kambing," dia menerjang.
Aku mengelak dan mencomot sepotong besi tua karatan yang tergeletak di halaman rumah siapapun itu. Makhluk itu mendesis. Ia berbalik dan memandangku, bergerak ke kiri dan ke kanan mencari celah dari ayunan tongkat besiku. Pete sudah terlempar ke seberang jalan didepak ekor ular Mrs. Henderson.
"Ayolah Sayang, cukup main-mainnya," bujuk monster itu.
"Apa yang kau inginkan?" Tanyaku gemetar.
Ia mengerutkan kening. "Aku lapar dan aku menginginkan bayi itu," matanya terus memandangi Rachel. Suasana hening, hanya gemeretak pepohonan ditiup angin dan tangisan Rachel yang memenuhi udara. Dengan ngeri aku menyadari kalau dia mengincar Rachel sedari tadi. Dia monster pemakan bayi! Aku lumpuh ketakutan.
"Kau monster!" Teriakku. "Kau monster jahat yang memangsa bayi-bayi!" Aku terus menceracau.
"Tidakk!" Makhluk itu melolong murka. "Hera juga membunuh anak-anakku! Aku dahulu seorang ibu!" Dia meratap. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis menyayat-nyayat hati.
Pete mengendap-endap mendekat dan berbisik, "Biar kugendong bayinya. Lawanlah dia," Ia menggapai Rachel dan mengambilnya. Kemudian dia meraba-raba saku jaketnya. Pete mengeluarkan sebuah belati kecil tumpul yang berkilat dan menyodorkannya padaku.
"Kenapa kau—" seruku tertahan.
"Kau pasti bisa. Kaulah yang bisa, bukan aku. Kau diberkahi kekuatan para dewa," katanya.
Tiba-tiba monster itu tersentak. Ia menggeleser dan menyerang. Aku berdiri menghadapinya hanya dengan sepotong besi karatan dan belati tumpul.
Sebelum dia mencapaiku, aku mengayunkan besi itu dan menghantam pelipisnya. Dia meraung dan ekornya menyabet punggungku dengan keras. Aku terlempar dan tersungkur. Rasa pedih menjalar di punggungku. Ia menggeleser cepat ke arahku. Tapi aku lebih cepat. Aku menghantam kepalanya berkali-kali seperti orang gila. Gila karena ketakutan. Monster itu menggelepar dan mencakar bahuku.
Bodohnya, aku tidak memperhatikan ekornya. Benar sekali kata orang, hati-hatilah dengan ekor ular. Saat aku sadar, ekornya sudah melilit tubuhku. Aku meronta-ronta. Dia melilitku makin erat. Tulang rusukku seperti hampir remuk. Aku mulai kesulitan menghirup udara. Ternyata begini rasanya dililit ular raksasa super di film Anaconda.
Di suatu tempat Pete berseru, "Belatinya, Raven!"
Aku mengangkat belati di tangan kiriku, tidak yakin apa kegunaan benda tumpul ini, lalu aku menusuk dadanya tepat saat taringnya mau menyobek leherku. Matanya membelalak sesaat, dan sekejap ia melebur menjadi debu kuning.
Pete berlari menghampiriku. Aku terduduk lemas.
"Kau hebat!" Serunya.
Aku masih terguncang namun berhasil berkata, "Aku harus mengembalikan Rachel."
Sisa hari itu berlalu begitu cepat. Kami sampai di rumah keluarga Hall tepat sebelum orangtua Rachel kembali. Mrs. Hall yang tergesa-gesa masuk terkejut melihatku berlumuran debu kuning. Aku mengatakan ada sedikit masalah tapi semua baik-baik saja. Pete mengantarku pulang, dan omong-omong, ia sudah memakai sepatunya. Ibuku terkesiap melihatku dan Pete muncul. Saat itulah sesuatu yang aneh terjadi. Ibuku malah berkata, "Sudah waktunya, ya?"
Dan Pete menjawab, "Ya."
Ibuku memelukku dan memberikan ransel kepadaku. "Aku sudah menyiapkan semuanya, Pete. Kalian sebaiknya pergi sekarang."
APA-APAAN? Kenapa mereka kelihatan bersekongkol untuk melakukan suatu kejahatan? Dan pergi kemana? Aku tidak mau pergi kemana-mana, aku lelah.
"Tunggu, pergi kemana?" Tanyaku.
"Perkemahan Musim Panas," jawab ibuku.
"Humffh, lelucon yang sangat lucu. Aku tidak mau ke manapun, tidak juga ke perkemahan konyol," jawabku.
"Harus, Raven," kata ibuku lembut.
"Begitu ya? Permisi, aku mau mandi lalu tidur," kataku dengan tingkah yang aku yakin mengesalkan.
"Raven," nada suara ibuku mencegahku kabur ke kamar. "Dengarkan aku, kau akan tahu segalanya nanti. Tapi kau harus patuhi aku sekarang dan pergi ke perkemahan bersama Pete."
Aku berbalik. Aku tidak percaya ibuku memaksaku cepat-cepat pergi ke suatu tempat apapun itu bernama perkemahan. Pete mengangguk-anggukkan kepala dengan sok tahu mendengar permohonan ibuku.
"Tidak bisakah kita pergi besok? Perkemahan kan, tidak akan kemana-mana," kataku.
"Bukan masalah perkemahannya, tapi kaulah masalahnya," kata ibuku tenang. Pete memonyong-monyongkan bibirnya. Aku tidak bisa berbuat apapun. Bukan saja karena aku terlalu bingung. Tapi juga karena aku terlalu lelah untuk protes.
Ibuku memanggil taksi dan aku serta Pete masuk ke dalamnya. Ibuku melambai dan taksi melaju. Aku memandang ke luar jendela dan mengerjap-ngerjapkan mata, menahan air mata yang hampir tumpah. Aku tidak pernah pergi jauh-jauh dari ibuku, karena kami hanya berdua. Kami hanya saling memiliki satu sama lain di dunia ini. Tidak ada yang menopang ibuku selain aku. Akulah kekuatannya, bahan bakar yang menahannya agar tetap hidup. Dia akan hancur kalau tidak ada aku. Seperti aku akan hancur tanpanya.
"Kau selalu bisa kembali nanti, Raven," kata Pete lirih. Untungnya di dalam taksi gelap, jadi Pete tidak bisa melihatku menangis. Aku menangis dan menangis tanpa suara sampai mataku berat. Di ambang batas kesadaranku, aku berpikir bahwa aku belum mengembalikan VW butut Mr. Henley.
"Ssst, Raven, bangun. Kita sudah sampai," Pete mengguncang bahuku pelan.
"Mmm…?"
"Ayo," katanya. Dia meminta sopir berhenti di bawah suatu bukit. Sopir itu melirik bingung dan Pete berusaha meyakinkannya untuk menurunkan kami di sana.
"Kita ke mana?" Tanyaku.
"Perkemahan Blasteran. Seharusnya kau datang saat musim panas, tapi aku belum menemukanmu saat itu," jawabnya saat kami mendaki bukit. "Karena sekarang kau sudah mengetahui sedikit banyak tentang dirimu, kita harus segera masuk perkemahan,"
"Tapi aku tidak tahu apa-apa! Dan kurasa aku tidak gila karena kau juga melihat monster itu, kan?" Protesku.
Pete menjawab, "Kau akan diberi tahu segalanya besok, sekarang kau boleh tidur."
Kami sudah sampai di puncak bukit. Seketika tampaklah pemandangan aneh di balik bukit. Aku tidak mengira akan menemukan banyak bangunan di lembah ini. Kami menuruni bukit. Aku tercengang melihat ladang stroberi, hutan, danau, panjat tebing, lintasan balap, dan terutama sekumpulan bangunan aneh.
Seorang anak perempuan berambut pirang yang mungkin lebih tua satu tahun dariku menyongsong kami.
"Pete, kalian baik-baik saja?" Serunya.
"Aku baik, Annabeth. Tapi kurasa Raven butuh sedikit pemeriksaan organ dalam. Dia hampir diremukkan Lamia tadi," Pete mengedikkan kepalanya padaku.
"Terima kasih, Pete. Nah, ayo ikut aku," kata Annabeth padaku.
"Dah, Raven," Pete melambai kepadaku dan berlari masuk hutan.
"Raven, aku tahu kau lelah. Tapi, sebentar saja, kita harus melakukan peme-riksaan," Annabeth membawaku menyusuri kumpulan bangunan aneh itu. Kami berhenti di depan bangunan putih sederhana bernomor 50. Annabeth mengetuk pintunya. Seorang anak laki-laki kurus tinggi berambut pirang kusut membuka pintu. Ia mengerjap-ngerjapkan mata.
"Annabeth! Demi dewa-dewi, ini sudah larut malam," gerutunya.
Annabeth meringis, "Sori Clay, aku ingin minta tolong kau untuk memeriksa rekrut baru. Dia baru saja dicekik Lamia."
Anak itu, Clay, menatapku dan mempersilakan kami masuk. Bangunan putih itu cukup mengesankan di bagian dalam. Mirip sebuah klinik, lengkap dengan peralatan kedokteran modern. Aku menatap Annabeth ragu.
"Tidak apa-apa, Raven. Clay adalah anak Asclepius. Dia ahli dalam hal ini dan dapat dipercaya," rekomendasi Annabeth.
Aku pun menurut karena kehabisan tenaga. Clay memeriksaku dengan seksama secara profesional.
"Dia baik-baik saja Annabeth. Tidak ada satu tulangpun yang bergeser, remuk atau patah," komentarnya. Oh, oke. Seorang anak yang bermain dokter-dokteran, teman berkaki kambing, dan guru Biologi pemakan bayi. Sungguh hari yang sempurna.
"Terimakasih Clay, lanjutkan tidurmu," Annabeth mengajakku keluar. Kami berjalan kembali ke arah tadi dan menuju kumpulan bangunan berbentuk U di sebelah depan. Annabeth menuju sebuah bangunan sederhana yang bernomor 11 dan membuka pintunya.
"Kau tidur di sini malam ini, Raven. Saat ini pondoknya kosong karena semua anak Hermes sedang pulang ke rumah untuk bersekolah," jelasnya.
Ia mempersilakanku tidur di sebuah tempat tidur susun. Aku sangat merindukan bantal, jadi saat merebahkan diri di kasur, aku langsung terlelap.
-Continue-
A.N
Makasih yang udah cape" liat ceritanya. Mohon maafkan saya untuk segala hal yang tidak berkenan bagi pembaca.
