Warning : Shonen-ai. AoKaga. Abal-abal. Quick-plot? Jamandulu(?)!AU. OOC. Typo? Tidak sesuai EyD. Quick-typing as usual. Unbeta.
Disclaimer : AoKaga milik Fujimaki-sensei. Plot cerita milik saya~ XD
A/N : Yap! Quickie-update X3 /masa.
Saya lupa bilang. AU ini muncul entah darimana (curiga gara-gara kebanyakan baca doujin KiKuro dengan AU ini X'D) dan saya keingat di IFA itu ada AU terbaik? (Ataulah itu lah) Jadi saya iseng mikir AU apa yang bagus.
Terus, AoKaga. Personally memang mereka salah satu OTP saya (Satu chara untuk satu chara. Saya tidak mau ngeship mereka dengan yang lain :'D /ribut) dan saya ga pernah buat fic yang AoKaga-centric (kebanyakan KiKuro, AkaFuriAka, TakaMidoTaka-_-)
Lalu masalah tema (ini terakhir kok X"3) saya lagi pengen coba tema yang berat (Drama, angst, tragedy, hurt/comfort?)
Saya ga ngerti kenapa saya jabarin owo" wkwk.
Enjoy! X3
.
O.O.O.O.O.O
.
Once Upon a Time : Dying in Your Hand
.
.
Bulan terus berputar mengelilingi bumi. Hari demi hari masih berlalu. Namun, tidak pernah ada kata damai diantara kedua klan yang saling berseteru itu. Yang ada, hubungan kedua klan itu makin merenggang.
"Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa pada klan ini."
Kata-kata yang keluar dari bibir pria bersurai merah api itu menyadarkan Daiki. Sedari tadi mereka hanya saling bersandar, membiarkan diri mereka saling menopang punggung yang lain selagi menikmati angin malam yang berhembus.
"Sepertinya... Kita harus secepatnya menghilangkan perasaan ini kau tahu?" Ucap Taiga lagi sambil membalik badannya dan menatap mata berwarna aquamarine itu, "Kita tidak tahu kapan tepatnya kita akan saling membunuh." Lanjutnya.
Daiki hanya menatapnya.
Seakan tidak mau mendengar maupun melihat sesuatu yang dinamakan kenyataan.
"Oi, katakan sesuatu! Ataukah kau akan membunuhku sekarang?" Seru Taiga tidak sabaran.
Daiki kembali menatapnya dingin.
Daiki tahu hal ini akan terjadi.
Dimana akhirnya kedua pemimpin klan membulatkan hati mereka untuk saling menyerang satu sama lain.
Meski belum terjadi, tapi, Daiki tahu itu AKAN terjadi.
Pastilah sebagai samurai yang handal, ia diharuskan menghabisi nyawa musuh lebih dulu - sebelum ia dihabisi.
Namun, ia juga berhadapan dengan salah satu samurai terhebat. Yang sayangnya, dimiliki oleh klan musuh. Daiki pernah berpikir, haruskah ia mengacungkan pedang tajamnya pada pemuda bermarga Kagami itu?
Segera ia keluarkan belati kecil yang ia selipkan dibalik obinya. Lalu ia acungkan didepan wajah Taiga.
Taiga menahan nafasnya hingga akhirnya ia mendengar Daiki berkata, "Tapi... Sebenarnya, aku tidak keberatan kalau aku mati di tanganmu."
Mata anak pemimpin klan Kagami membulat, "Oi. Jangan bercanda." Daiki hanya menggelengkan kepalanya, memasukkan kembali belati yang ia keluarkan lalu menggenggam tangan pemuda yang ia cintai tersebut.
Karena itu Taiga, Daiki pun rela mati di tangannya.
.
Tragis memang.
Antara cinta dan harga diri.
Manakah yang harus dipilih?
.
"Oh, Daiki-kun!" Sambut seorang wanita berambut coklat yang disanggul keatas. Kimono berwarna biru tuanya menyapu lantai kayu kediamannya.
"Okaa-san, hati-hati." Daiki memegangi Ibundanya tersebut agar jangan sampai terjatuh hanya karena terinjak kimononya itu.
"Aih, Daiki-kun benar-benar pria idaman...!" Gumam Ibu Daiki, "Kenapa kau belum memiliki kekasih sama sekali, Daiki-kun... Ibumu ini sangat ingin menggendong seorang cucu."
Daiki hanya memasang ekspresi terkejut.
Mengingat umurnya memang sudah sampai pada rentang waktu untuk menikah, wajar saja, jika orang tuanya mempertanyakan "Kapan kau akan menikah?" Atau "Siapakah kekasihmu?"
Meski Daiki tidak akan menjawabnya dengan, "Nanti." Atau dengan, "Aku tidak mempunyai satu pun."
Bohong memang.
Ia mempunyai seorang kekasih diseberang sana.
Yang tidak akan mungkin direstui oleh kedua orang tuanya, terutama Ayahnya.
"Lebih baik, Okaa-san istirahat saja." Ujar Daiki mengalihkan topik dan mengantarkan Ibundanya ke sebuah ruangan yang cukup besar. Beralaskan tatami dan beratapkan anyaman bambu.
Disana, Ayahnya sudah menunggu.
"Daiki, aku harus berbicara denganmu."
Daiki sendiri memiliki firasat buruk akan hal ini.
.
O.O.O.O.O.O
.
"Kagami." Suara berat itu yang selalu dirindukan Taiga setiap hari. Memanggil namanya - marga lebih tepatnya, dengan suara itu. Namun itu dahulu kala, sekarang mereka berdua memanggil nama kecil masing-masing.
Taiga ingat saat pertama kali mereka bertemu.
Mereka hampir saling bunuh.
Tentu saja, apa yang kau ingin lihat saat salah seorang dari masing-masing klan bertemu?
Namun, entah kenapa. Setelah pertarungan pedang cukup lama, tidak ada satupun yang mengenai titik vital musuh.
Kelelahan, mereka akhirnya menyerah dan beristirahat bersama. Bertukar cerita yang awalnya sangat canggung - mengingat mereka adalah musuh.
Namun, apa yang sebenarnya takdir inginkan? Cinta muncul ditengah-tengah mereka dan menjadikan Taiga serba salah. Taiga mengutuki hidupnya.
"Taiga."
Suara itu lagi.
Taiga sangat bersyukur bila ia masih diizinkan untuk mendengar suara orang itu.
Mungkin, suaranya bisa menjadi suara terakhir yang ia ingin dengar saat ajalnya.
Atau biarlah Daiki yang mengambil nyawanya agar ia bisa mendengar suaranya untuk yang terakhir kali.
"Taiga. Oi, apa kau mendengarku?" Taiga segera membuka kelopak matanya. Rupanya ia sempat tertidur dengan bersandar pada pohon tempat mereka biasa bertemu.
"A-Ah, Daiki. Maafkan aku. Apa ada kabar terbaru dari Otou-sanmu?" Pertanyaan basa-basi yang selalu mereka ajukan. Meski sebenarnya sangat penting mengetahui perkembangan klan masing-masing.
"Tidak." Daiki menempatkan dirinya untuk duduk disamping pujaan hatinya, "Tapi, aku harus membicarakan sesuatu yang penting denganmu." Dari nada yang digunakan Daiki, Taiga tahu bahwa yang akan ia bicarakan bukanlah hal yang baik.
"Aku dijodohkan."
Benar 'kan?
"Hah?"
"Aku dijodohkan dengan Satsuki dari klan pengembara Momoi." Jelas Daiki dengan wajah masam.
Taiga terdiam seperti patung.
Dadanya juga terasa sesak saat mendengar kata-kata itu.
Taiga tahu Satsuki. Itu nama bunga cantik yang mekar di bulan kelima. Satsuki juga merupakan tanaman Bonsai yang sering dimiliki orang pada umumnya.
Taiga juga tahu klan Momoi itu. Klan yang memiliki tingkat kepintaran yang tinggi meski tidak mungkin menyamai kejeniusan klan Akashi ataupun Midorima. Tak lupa klan itu sangat pandai mengumpulkan informasi dalam waktu sekejap.
Tapi, Satsuki Momoi. Wanita periang yang memiliki berambut merah muda seperti buah persik itu... Wajahnya juga manis. Tak lupa tubuhnya yang sangat diidam-idam oleh para lelaki. Di samping itu pula, sifatnya yang baik dan hangat itu...
Bisa jadi, Daiki akan jatuh hati pada wanita itu.
"Bu-bukankah itu bagus? Dia juga tipemu bukan? Berdada besar?" Komentar Taiga sambil menyikut kekasihnya itu.
"Apa kau bodoh? Aku sudah bilang, aku dan Satsuki hanya teman! Dia menyukai orang lain dari klan Kuroko!" Sergahnya.
"Kau mengatakannya seakan kau menyukainya."
Daiki tidak suka hal ini.
Ia tidak suka melihat ekspresi Taiga yang memelas seperti anjing dibuang meski ekspresi yang Taiga gunakan adalah berusaha tersenyum.
Daiki juga tidak suka Taiga yang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Hal itu menjadikan mereka berdua seperti tidak saling kenal.
"Kau ini!" Daiki menarik lengan hakama merah maron Taiga untuk mendekat padanya, "Dengar. Aku mencintaimu. Dan aku tidak akan mau menikah dengan Satsuki!" Daiki menyatakan hal itu dan menguncinya dengan sebuah ciuman lembut pada bibir Taiga.
Taiga, tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya dapat membalas dan tanpa sadar membiarkan tangannya menggenggam erat bagian lengan hakama Daiki yang hari ini berwarna biru laut - seperti matanya.
Sebuah ciuman lembut yang dapat mengiris hati saat mengingat kenyataan.
Biasanya, Daiki akan menutup pertemuaan rahasia mereka dengan sebuah ciuman lembut - entah di bibir atau di pipi ataupun di kening.
Namun yang paling terutama, setiap di akhir pertemuan mereka... Mereka selalu berharap agar waktu dapat berhenti hanya untuk mereka berdua...
.
O.O.O.O.O.O
.
A/N : Eh. Gimana yah. Alurnya pas ga siiiih?! TTwTT Kepanjangan di A/N curiga-_- /plak. Saya ga tau penjabaran tentang bunga Satsuki bener apa ga. Kata om gugel gitu yaudah :"3 dan saya gatau cara penanggalan tahun jaman samurai-_- maka dari itu saya bilang bulan kelima-_-
Silahkan tuangkan pemikiran anda setelah membaca ini X3 Thankies for reading, readercchi! *tebar cinta*
