Prolognya sangat singkat jadi sekarang dikasih lebih panjang sedikit(?). Maaf bagi yang bingung dan mengira ini oneshot karena author sendiri mengakui(?). Selamat membaca~

Disclaimer: Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi


Our fleeting love is an airship in the sky

Chasing after an unseen firefly

"Dai-channnnnn! Lagi-lagi kau bolos latihan!"

Seorang gadis berambut peach terlihat kesal menemukan teman kecilnya yang sudah akrab dengannya sejak kecil kembali tidur di atap. Anak laki-laki itu sendiri tampak tak acuh dengannya dan hanya mengubah posisi tidurnya.

"Berisik, Satsuki. Aku mau tidur. Jangan ganggu aku."

"Dai-chan! Ayo bangun dan pergi latihan! Aku tidak akan pergi sampai kau ikut denganku!" ucap Momoi tersebut sambil menarik-narik anak laki-laki berambut biru itu.

"Ck! Iya, iya, aku latihan! Puas?!" Aomine pun bangun dengan kesal dan berjalan ke arah pintu sambil diikuti gadis berambut peach yang senang berhasil membujuknya.

"Oh ya, Dai-chan, nanti aku ada rapat panitia MPK(?), mungkin aku akan pulang lebih lama, jadi kalau sudah selesai latihan tidak usah menungguku ya?" Pria berkulit eksotis itu hanya melirik malas "Memang siapa yang mau menunggumu?" Momoi mengerucutkan mulutnya "…Dai-chan..tidak perlu tsun begitu padaku.."

"Siapa yang tsun?!"


"Uwahhhh, ini sudah malam! Rapatnya lama banget sih!" Terlihat Momoi berlari tergesa-gesa ke gym untuk mengikuti kegiatan klub basket Touou sebagai manajer dan menemukan gym tersebut dalam keadaan kosong. Dengan kecewa gadis tersebut berjalan menuju gerbang sekolah hendak pulang ke rumah ketika ia melihat seorang anak laki-laki sedang berjongkok di samping gerbang sekolah. Ia segera berlari menghampirinya.

"Dai-chan?"

"Ck! Kau lama, Satsuki." Aomine langsung berdiri kemudian berjalan meninggalkan Momoi yang masih terdiam. "Kau mau kutinggal?"

"EH, TUNGGU, DAI-CHAN?! KAU BELUM PULANG?" "Ck, tadi pelatih menghukumku segala, makanya aku pulang telat."

Momoi tersenyum, berlari kecil, menjajarkan diri dengan sahabatnya itu "Hehe, Dai-chan, pelatih tadi kan ikut rapat festival olahraga bersamaku." "…"


Before this love disappears let`s just escape

To a place where we both won`t fade away

"Tapi Dai-chan, kau cidera!" "Aku tidak peduli! Kau bukan bodyguard maupun babysitterku, Satsuki!" "Tapi, Dai-chan-" "Berhenti ikut campur dalam urusanku! Aku tidak mau melihatmu lagi, kau dan muka jelekmu!" Sebuah file melayang tepat mengenai dagu Aomine "AKU JUGA TIDAK AKAN PEDULI DENGANMU LAGI DAI-CHAN! KAU MAUPUN WAJAH HITAM-MU YANG LUAR BIASA!". Sekilas Aomine dapat melihat airmata dari mata sahabatnya itu "O-oi, Satsuki?"


Momoi turun dari kereta, menghela nafas. Bertengkar dengan Aomine, ia tanpa sadar langsung kabur ke SMA Seirin, menumpahkan isi hati ke anggotanya, termasuk Kuroko. "Biar kuantar kau, Momoi-san. Aku yakin, Aomine-kun pasti sangat mengkhawatirkanmu sekarang." Ucapan Kuroko terngiang di kepalanya. Ia bahkan belum bisa menghadapi sahabatnya itu sekarang.

Hari sudah mulai gelap. Momoi segera berjalan pulang, tetap sambil memikirkan bagaimana ia memperbaiki hubungannya dengan Aomine. Bagaimanapun, sekesal apapun, Momoi tetap saja mencemaskan sahabatnya itu. Lagipula karena itulah ia memilih bersekolah di Touo. Ia tidak bisa membayangkan bila ia dan Aomine terus bertengkar, seperti orang asing, tidak ada lagi yang berlangganan meminjak buku catatannya, tidak ada lagi yang harus ia kejar-kejar untuk latihan, tidak ada lagi yang berjalan bersama dengannya ke rumah, tidak ada lagi yang memanggilnya-

"Satsuki."

Momoi mengangkat wajahnya yang daritadi menunduk, mendapati pria berambut navy berdiri di depannya. "..Dai-chan.."

Keheningan yang canggung menyelimuti mereka berdua. Momoi mengalihkan pandangan "Apa yang kau lakukan disini, ganguro*."

Aomine mendengus, "Kau lama sekali, bodoh," katanya sambil membalikkan badan "Ayo."

Momoi tidak beranjak "Kukira kau tidak ingin melihat wajahku yang jelek ini?" ujarnya sinis.

"Maka jangan pasang wajah jelek lagi, Satsuki," sahut Aomine seraya ia mulai berjalan.

Momoi menggembungkan pipinya, kesal "Kau kira aku punya berapa muka, Dai-chan?!"

"Entahlah, yang kuingat wajah tidak jelekmu hanya saat kau tersenyum."

Momoi terdiam, memandang sahabatnya yang semakin menjauh, merasakan wajahnya perlahan semakin menghangat.

"Oi, Satsuki, kau mau kutinggal?!"

Momoi tersentak, berjalan cepat mengejar sahabatnya itu "Kau bicara seperti wajahmu sendiri tidak jelek, Dai-chan!"

"Hm? Aku tidak peduli tentang wajahku, aku yakin semua sudah terpesona dari permainan basketku."

"Satu-satunya yang terpesona hanya kau, Dai-chan. Ingat saja kata-katamu, 'yang dapat terpesona oleh diriku adalah aku sendiri'. "

"Oi- Satsuki, teme! Kata-kata darimana itu?!"

Merekapun berjalan pulang bersama, di bawah taburan bintang-bintang yang menemani mereka.


The night we gazed at the star in that summer fair

My eyes found that the light was to much to bear

"Hmm.. sepertinya kurang sedikit kayu manis.." Momoi mengambil toples berisi kayu manis dari cabinet dapur, mengambil sesendok dan memasukkannya ke panic berisi coklat panas yang sedang diaduknya.

"Nah, sudah jadi! Dai-chaaan!" Momoi memanggil sahabatnya yang sedang duduk di sofa ruang tengah, dengan muka kusut, siap kabur kapan saja.

Tapi sayangnya ia tidak bisa.

13 Februari. Sehari sebelum hari yang mendebarkan bagi kaum hawa maupun adam, yaitu valentine. Mendebarkan untuk memberikan coklat kepada orang yang mereka sukai. Mendebarkan untuk menunggu apakah akan ada coklat yang datang untuk mereka.

Ya, Momoi sengaja memanggil Aomine (baca: memaksanya) untuk menjadi tester coklat bikinannya yang luar biasa itu. Entah bagaimana ia berhasil memancing Aomine untuk datang, silahkan kalian pikirkan sendiri.

Dengan sangat berat hati, Aomine membawa dirinya ke dapur keramat itu, bersiap menghadapi apapun yang harus ia hadapi.

"Dai-chan, coba cicipi ini." Momoi menyodorkan sesendok coklat yang masih cair ke arah Aomine. Laki-laki itu menatap nanar benda di hadapannya, hanya dapat menjerit dalam hati 'Tuhan, kapan cobaan ini akan berakhir?'.

Tidak heran, Aomine yang malang sudah hampir 4 jam di rumah sahabatnya itu dan telah mencicipi setidaknya 5….atau 6? Aomine bahkan sampai lupa sudah berapa banyak rasa yang ia coba. Ada yang gosong, ada yang pedas, ada yang berbau bunga(?), maupun yang tak terdeskripsikan. Dengan hati yang bergetar, Aomine akhinya menyuap coklat itu.

"Bagaimana kali ini, Dai-chan?" tanya Momoi dengan muka penuh harap. Oh wahai Momoi, tidakkah kau lihat wajah Aomine yang mulai berkeringat itu? Aomine menelannya dengan susah payah, "…lebih baik.." sahutnya datar. "Waaah, akhirnyaa!" seru Momoi senang. "Aku mulai khawatir tidak dapat membuatnya tepat waktu, tapi setidaknya rasanya lebih enak sekarang kan, Dai-chan?"."Ya.." jawab Aomine singkat. Ya, memang rasanya lebih baik, tapi itu bukan berarti enak kan? ",semoga beruntung besok." "Terima kasih Dai-chan! Aku harap Tetsu-kun menyukainya." Momoi tersenyum senang, sementara Aomine bernafas lega karena akhirnya ia bebas…dan sedikit khawatir akan 2 temannya itu.

14 Februari, hari yang ditunggu-tunggu itu.

Aomine sampai bosan melihat adegan romantis maupun penembakan yang terjadi di lingkungan sekolahnya. 'Hmm.. aku penasaran akan bagaimana nasib Satsuki dan Tetsu.'

Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi 4 jam yang lalu. Aomine sengaja menetap di sekolah untuk bermain basket dengan beberapa teman di timnya (dan kejar mengejar karena diledek seniornya sebagai yang tidak dapat coklat satu pun). Hari sudah mulai gelap, dan Aomine melangkah pulang. Di tengah perjalanan, ia terhenti, melihat seorang gadis berambut peach berdiri termenung di samping sungai. 'Satsuki? Apa yang ia lakukan..?'Aomine dapat melihat kepala Momoi tertunduk, menatap kotak coklat yang ada di tangannya, matanya yang berkaca-kaca, dan tak lama tangannya meraih jeruji yang membatasi sungai tersebut.

"SATSUKI APA YANG KAU PIKIRKAN HAH?!" Zone mode, aomine langsung berlari meraih tangan Satsuki.

"Da-Dai-chan?!" Satsuki terlonjak melihat sahabatnya yang tiba-tiba muncul, dengan ganas pula "Apa yang kau lakukan di sini?" "Harusnya itu jadi pertanyaanku, bodoh! Kau pikir apa yang akan kau lakukan?!"

Momoi terdiam, menatap kembali kotak yang ada di tangannya. "Dai-chan..aku..berpikir untuk membuang saja benda ini.." Aomine terdiam, melihat raut wajah sahabatnya yang muram. "O-oh.." Aomine mendadak merasa tambah bodoh karena sempat berpikir yang tidak-tidak. "Kau tidak jadi memberikannya pada Tetsu?" "Aku sudah memberikannya..sebenarnya.." Ujar Momoi terpotong "..tapi..tapi..setelah ia memakan coklat ini, IA TIBA-TIBA PINGSAN DAI-CHAAANN!"

Aomine hening.

"Ia lalu dibawa ke UKS.. Lalu..lalu..aku kabur."

Aomine makin tidak bisa berkata-kata.

"Aku malu, Dai-chan! Seburuk itukah coklat bikinanku sampai membuat oragn pingsan?!"

Pria itu dapat melihat gadis itu semakin berkaca-kaca. Ia semakin frustasi mencari kata-kata yang tepat untuk menghibur sahabatnya itu.

"Ini semua percuma.. Lebih baik jika sampah ini dibuang saja!" Momoi menggenggam erat kotak berisi coklat itu, bersiap melemparnya, sampai tiba-tiba sebuah tangan yang besar menahan tangannya. Momoi menoleh ke belakangnya "Dai-chan..?". Aomine mengambil kotak itu, mencomot isinya dan melahapnya. "Dan setelah semua itu kau akan membuang ini begitu saja? Lebih baik aku yang makan, Satsuki. Lihat? Aku tidak pingsan, kan?" Momoi memandang sahabatnya itu, tidak menyadari bahwa Aomine semakin lama semakin memucat. "H-Hn..". Setelah coklat-coklat itu habis, Aomine membuang kotak itu ke sungai. Tolong jangan tiru tindakkannya. "Jangan mempermasalahkannya, Satsuki. Coklat yang sudah kau buat dengan susah payah semalaman, mana mungkin seburuk itu." Ujar Aomine, sambil berlalu, meninggalkan Satsuki yang terdiam, memandang punggung sahabatnya sambil merasakan rasa hangat di dadanya.

Keesokkan harinya, tepatnya sepulang sekolah, kesunyian terjadi di gym. Tubuh-tubuh anggota tim, termasuk pelatih, bergelimpangan tak berdaya. Sementara itu di gedung sekolah, keributan sedang terjadi. Suara langkah kaki yang begitu rebut dan cepat terdengar dari lantai ke lantai.

"DAI-CHAANNNN KENAPA KAU LARI TERUS SIHHH?! TIDAK PERLU MALU! INI SEMUA MEMANG UNTUKMUU!"

"APA-APAAN KAU MEMBERIKAN SEMUA COKLAT GAGAL BIKINANMU KEPADAKU, SATSUKI?!"

"HABIS..KUPIKIR KARENA TUBUH TETSU-KUN YANG LEMAH MEMBUATNYA PINGSAN, TAPI TERNYATA TIM TOUO JUGA, KECUALI KAU!"

"ALASAN MACAM APA ITU, SATSUKI?! KAU GILA MENYURUHKU MENGHABISKAN SEMUA ITU!"

"TAPI KAU BILANG INI ENAK KANN? DAN KAU BELUM DAPAT COKLAT 1 PUNNN!"

"ARGH, BERHENTI MENGEJARKU, SATSUKI!"

"MAKANYA TERIMA SAJA!"

"HELL NO!"

"DAI-CHANN JANG TSUN BEGITU, IH!"

"SIAPA YANG TSUN?!"


And to the you who could blinked an "I love you"

Let my voice reach to you my words so true

"HOAHMMMMMMM" "Dai-chan, setidaknya tutup mulutmu saat menguap selebar itu!" tegur Momoi pada sahabatnya. "Pelajaran terakhir tadi membosankan Satsuki, wajar saja aku mengantuk." Yah, berhubung ia seorang Aomine Daiki, hanya basket dan basket yang ia sukai, tidak perlu bertanya tanggapannya terhadap pelajaran Fisika.

"Kalau kamu tidak pernah memperhatikan wajar saja nilaimu selalu merah, Dai-chan!"

"Aku tidak peduli, kau kira aku akan memakai rumus parabola untuk memasukan bola ke ring, he?"

Momoi hanya bisa menghela napas dengan tingkah sahabatnya itu. "Dai-chan.. kau-.."

Tiba-tiba Momoi tersentak. Rasa ngilu tiba-tiba menjalar pada kedua matanya. Ia memandang Aomine yang ada di depannya.

Momoi mengusap matanya, berusaha menghapus wujud Aomine yang kini berbayang di matanya.

"Dai..chan.."

Aomine berhenti berjalan, berbalik dan melihat sahabat masa kecilnya itu menatapnya tanpa ekspresi.

"Satsuki?"

"Dai..Dai-chan...mataku.." Gadis itu terus mengusap matanya, tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan matanya. "Aneh.. mataku.. tiba-tiba mataku terasa sakit, dan kini pandanganku menjadi aneh!" "Oi, oi, Satsuki, tenangkan dirimu! Apa tidak mungkin karena minusmu bertambah?" Ujar Aomine, berusaha menenangkan gadis itu.

'Tidak, Dai-chan.. aku tidak yakin itu..'

"….sini, Satsuki." Aomine dengan paksa menyeret Momoi untuk mengikutinya.

"Kita mau kemana?" Satsuki bertanya namun ia hanya dijawab dengan keheningan


Bau obat-obatan segera terhirup ketika Aomine memasuki rumah sakit. Dia berjalan tanpa henti hingga ia sampai di ruangan yang bertuliskan "Momoi Satsuki". Tampak Momoi yang sedang duduk di ranjang yang sudah disediakan untuknya ketika Aomine membuka pintu.

"Dai-chan! Kau datang menjengukku?" Momoi berkata dengan riang sementara Aomine hanya diam dan duduk di sampingnya. "Hei, Dai-chan, mereka bilang aku harus dioperasi setelah itu harusnya tidak ada masalah dengan penglihatanku lalu-" Ucapannya terhenti ketika Aomine mengusap kepalanya dengan lembut.

"Satsuki, tidak usah berpura-pura di depanku."

Momoi terdiam, terlihat bahunya perlahan bergetar, kemudian terdengar isak tangis dari gadis berambut peach tereebut. "Dai-chan..aku….aku…takut…". Kesunyian menyelimuti mereka. Aomine kemudian merogoh kantungnya, mengeluarkan sesuatu.

"Satsuki.. ini-" "Apa itu Dai-chan? Apa itu untukku?" Senyum jahil terukir pada wajah Momoi, dengan sigap ia merebut benda itu dari tangan Aomine "Sini lihat!" "What the- oi, Satsuki!"

"Uwaaaa" Momoi tersenyum lebar melihat benda itu. Sebuah kalung dengan bandul berbentuk kunci perak, dengan batu permata berwarna pink ditengahnya "Oi, Satsuki! Ck, kau merusak suasana" Aomine hanya bisa facepalm, menutupi rasa malunya yang menjadi-jadi. "Itu.. Ahem..untuk menghiburmu sedikit. Ini, punyaku permatanya berwarna biru" Aomine berusaha memecahkan kecanggunan, menunjukkan kalung yang ia pakai. "TEEHEE(?) Makasih yaa, Dai-chan! Aku senang mengenal Dai-chan!" Momoi tertawa sambil memeluk Aomine erat-erat, sudah melupakan semua rasa takutnya.


So now, as we play out this predictable story

Every time that we meet, i`d always see a memento mori

Seorang lelaki berambut biru tua terbangun dari tidurnya di sebuah tempat dimana warna putih menyelimuti seluruhnya.

"…..pfft. Jadi ini yang namanya flashback ketika akan mati?" Aomine tertawa getir. "Hm?" Dirasakannya tangannya memegang sesuatu, dilihatnya benda yang hendak digapainya tadi dengan seluruh tenaga yang tersisa kini berada di tangannya, handphone. Layarnya menunjukan sebuah pesan yang belum ditulisi untuk dikirim kepada seorang gadis.

By voicing all the feelings in my heart

I knew where I would wind from the start

Bidding you goodbye, bidding you goodbye just tears me up inside

Aomine kemudian mengetik sesuatu, sesuatu yang ingin disampaikan kepadanya seorang sejak dulu. Begitu pesan itu dikirim, perlahan handphone tersebut menghilang dari tangannya.

If we were granted the wish we wished the most

Someone else will lose something that they hold close

"….maafkan aku, Satsuki." Aomine tersenyum miris.

So I have to say goodbye now

tbc


Omake(?)

"Dai-chan..aku….aku…takut…". Kesunyian menyelimuti mereka. Aomine kemudian merogoh kantungnya, mengeluarkan sesuatu.

"Satsuki.. ini-" "Apa itu Dai-chan? Apa itu untukku?" Senyum jahil terukir pada wajah Momoi, dengan sigap ia merebut benda itu dari tangan Aomine "Sini lihat!" "What the- oi, Satsuki!"

Momoi tertegun melihat benda pemberian Aomine itu. "Dai-chan.. ini.." Aomine menghindari kontak mata dari Momoi "Yah, aku hanya berpikir untuk menghiburmu sedikit.." "..lalu, kenapa-" "..dan aku pikir, karena dari kecil kamu takut kodok gara-gara aku, kupikir ini agar kamu bisa lebih tidak takut lagi dengan makhluk itu.."

Momoi hening sejenak. Awalnya ia sudah ingin menimpuk Aomine dengan bantal, tapi mendengar alasannya, ia tidak bisa menahan tawa "Pfft..BUAHAHAHHAHA"

"A-Apa yang lucu?!"

"Hahahahaha, Dai-chan seleramu itu- HAHAHAHA"

Aomine menahan rasa malunya yang menjadi-jadi "Kalau tidak suka ya sudah, sini kembalikan" Ujarnya sambil berusaha meraih kalung berbandul kodok berwarna pink itu. Momoi berhasil menghindari sergapan Aomine "Enak saja! Kau kan sudah memberikan ini padaku! Tenang saja, aku akan memakainya kok, Dai-chan! Hehehe, aku sayang Dai-chan!" Momoi tertawa sambil merangkul Aomine, melupakan semua rasa takutnya.