Angin malam menyapa lembut tengkuk Kakashi melalui jendela kafe yang sengaja dibiarkannya terbuka lebar malam ini. Memberikan sensasi dingin dan menggelitik syaraf-syarafnya yang tegang secara bersamaan. Di depannya, segelas irish coffee karya Iruka yang tinggal seteguk digenggamnya dengan ragu. Matanya lelah, namun laki-laki dengan surai keabu-abuan itu enggan untuk terpejam. Dia masih ingin berada di sini. Di kafe ini.

Kakashi enggan untuk pulang.

"Iruka, buatkan aku satu irish lagi," gumamnya begitu satu teguk terakhir berhasil mengalir di kerongkongannya.

"Tidak, Kakashi. Ini sudah larut malam. Kau. Harus. Pulang!" Iruka yang sedari tadi setia menemaninya memilih menolak permintaan sahabatnya itu.

"Satu gelas lagi dan aku akan pulang setelahnya,"

"Kau mengatakan hal yang sama sejak gelas keduamu hingga gelas keempatmu,"

"Ini yang terakhir, aku akan bayar,"

"Aku tidak peduli sekalipun kau bayar dua kali lipat, kau harus pulang sekarang!" Iruka sengaja meninggikan nadanya di ujung. Bukan maksudnya membentak Kakashi seperti ini. Tapi demi akal sehat sahabatnya itu, Iruka bahkan rela kalau dia harus menendang pantat Kakashi keluar dari kafe ini sekarang juga.

Iruka bukannya tidak tahu kenapa Kakashi sedang senang memanjakan dirinya dengan minuman berkafein yang dicampur dengan sedikit kadar wiski Irlandia itu. Iruka juga bukan sahabat yang tidak peka dengan kondisi sahabatnya sendiri. Laki-laki itu bahkan tahu, mengerti dan paham problematika apa yang kini tengah membelit sahabat karibnya ini. Sebuah benang kusut yang dijalin oleh Kakashi sendiri bahkan setelah Iruka sempat memperingatkan bahayanya sebelumnya. Iruka hanya tidak ingin Kakashi berlari dari benang kusut yang kini menjeratnya hanya untuk terjerembab dalam kekusutan yang lainnya. Bagaimanapun, Kakashi tetap harus menghadapinya.

Kini, Kakashi yang dulu bersikeras untuk mengambil langkah (yang menurut Iruka salah) itu, tengah merasakan resiko jalan yang dipilihnya. Laki-laki itu terjerat dalam sebuah situasi rumit yang dia sendiripun tidak tahu apa konklusinya. Situasi yang membenamkannya pada sebuah rasa asing, menyenangkan namun menakutkan sekaligus terlarang baginya. Sebuah mimpi buruk tak berkesudahan.

"Kautahu dengan baik Iruka kenapa aku memilih masih di sini,"

"Kautahu kalau aku tahu, Kakashi. Tapi itu pilihanmu, jalanmu. Jangan kau bilang aku tidak pernah mengingatkanmu dulu,"

"Ya, harusnya aku mendengarkanmu saat itu,"

"Seperti sekarang kau juga harusnya mendengarkanku lebih baik lagi, Kakashi. Aku sudah memberikanmu toleransi dengan lebih memilih menemanimu di sini daripada menemani Ayame pulang, bahkan kuberi kau bonus empat gelas irish coffee. Jadi sekarang waktumu melakukan kewajibanmu!"

Kakashi memandang Iruka kosong. Helaan napas terdengar melalui celah-celah di bibirnya.

"Kau kadang lebih cerewet daripada ibuku, Iruka."

"Kau harus pulang!"

"Tapi itu bukan rumahku."

"Kau harus pulang, Kakashi! Karena—" Iruka menguatkan suaranya, dia harus mengembalikan Kakashi pada konsekuensi pilihan hidupnya sendiri,"—karena kau yang sekarang adalah Uchiha Sasuke!"

allihyun presents

A KakaSaku Fanfiction

Platonis

AU. Hurt/comfort. Romance/Family. Maybe OOC. Plot hole.

KakaSaku slight SasuSaku

September Challenge fic for Lia Kazehaya

DLDR is on term

Naruto and all of chara belongs to Masashi Kishimoto

I don't take any profit of this fanfiction except having fun.

.

.

KakaSaku : Platonis

-chapter II-

Terkadang Tuhan terlalu berbaik hati karena acap kali memberikan hamba-Nya apa yang tidak diminta.

Kakashi sebelumnya tidak pernah berpikiran demikian. Tidak sebelum dia mengenal pria yang diketahuinya hanya lewat sebuah pembicaraan dengan Iruka singkat di malam hari. Tidak juga ketika dini hari Naruto menelponnya dengan kepanikan yang membabi buta memintanya untuk datang ke rumah sakit saat itu juga. Bahkan tetap tidak ketika Kakashi dikenalkan pada sebuah kejadian tragis yang menimpa calon rekan kerjanya itu.

Sungguh, Kakashi tidak pernah mempertanyakan kebijakan Tuhan selama ini.

Sampai akhirnya Kakashi menemukan satu momentum yang mengubah jalan hidupnya ke arah yang dia sendiri pun tidak tahu menuju ke mana. Sebuah sandiwara yang tidak pernah dia minta seumur hidupnya. Dia hanyalah korban; seseorang yang kebetulan berada di situasi, waktu dan tempat yang tidak tepat.

"Maafkan aku, nak. Tapi kumohon mengertilah, situasi ini mungkin akan sedikit rumit tapi aku janji tidak akan berlangsung lama!" Suara renta Kizashi yang bergetar tertangkap jelas dalam jarak dengar Kakashi.

Setelah sebelumnya Kakashi cuma bisa mematung dengan tangan kebas di dalam kamar inap Sakura, akhirnya Kizashi mengajak Kakashi keluar kamar menuju sudut rumah sakit yang sepi. Meninggalkan Sakura yang kembali tidur pulas setelah menggenggam tangan Kakashi (yang dia pikir tangan Sasuke) di sampingnya.

"Maaf Paman, tapi kupikir ini akan lebih dari sekedar sedikit rumit. Aku tidak—"

"Aku tahu, aku tahu, nak! Aku tahu aku salah, ini terlalu gegabah! Tapi tolong mengertilah posisiku sekarang! Aku baru saja kehilangan menantuku dan hampir saja kehilangan anakku juga calon cucuku. Sekarang anakku baru saja terbangun dengan kondisi tidak lagi sempurna, matanya buta dan dia mencari suaminya! Suaminya, nak! Suaminya! Demi Tuhan, aku tidak tahu lagi harus bagaimana! Sakura putriku satu-satunya, dia cahayaku, masa depanku! Aku tidak mungkin menghancurkannya!"

Kizashi mengambil napasnya dengan susah payah, suaranya sendiri dia tahan sedemikian rupa supaya sebisa mungkin tidak terisak. Walaupun dia tahu dia tak mungkin menutupi kerapuhannya saat ini. Tubuh rentanya bergetar hebat dengan tangan-tangan keriputnya yang kini tengah mencengkeram bahu Kakashi dengan erat , begitu erat hingga buku-buku jarinya sendiri memutih. Kepalanya begitu pening, memori yang sama terus berulang-ulang memutar di sana; Sakura yang membuka mata tanpa bisa melihat apa-apa.

Sakura-nya. Putrinya. Cahayanya.

"Paman, kau hanya akan membuatnya semakin tersakiti kalau sampai nantinya Sakura tahu kalau Sasuke—"

"Karena itu, kumohon! Jadilah Sasuke! Jadilah Sasuke untuk putriku! Dia membutuhkan Sasuke untuk hidup, dia membutuhkanmu!" Kizashi kembali mencengkeram bahu Kakashi lebih erat lagi, seolah-olah ingin menyampaikan rasa sakit dan keputusasaannya lewat sana.

"Tapi aku bukan Sasuke!"

"Kau akan jadi Sasuke, nak! Kau akan jadi Sasuke! Sasuke-nya Sakura! Aku akan membantumu, kami akan membantumu! Tolonglah!"

Kakashi mengusap wajahnya pias. Hal-hal berbau dramatikal seperti ini sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Menonton drama saja tidak ada dalam daftar hobinya, Kakashi hanya tahu beberapa majalah dewasa sebagai asupan bacaannya ketika sedang senggang. Satu-satunya passion dalam hidupnya hanyalah tentang kopi dan cita-citanya sebagai barista pro yang kini tengah ia tempuh sebagai karir.

Sekarang, dia dihadapkan pada sebuah masalah yang sebenarnya bukan masalahnya. Orang yang baru saja dikenalnya belum genap dalam hitungan jam kini memintanya untuk menjadi menantu jadi-jadiannya. Ini gila dan tidak masuk akal. Walaupun Kakashi mengerti dengan baik bagaimana kondisi Kizashi saat ini, begitu rapuh dan kalut, tapi tindakannya yang membuat situasi seolah-olah Kakashi adalah Sasuke tidak bisa dibenarkan. Kakashi tidak perlu mempertanyakan logika Kizashi saat ini yang jelas-jelas sedang tidak berjalan dengan semestinya. Hanya saja, Kakashi adalah orang yang masih memiliki kewarasannya. Dia tidak mungkin dan tidak ingin terlibat lebih jauh lagi lebih daripada ini.

"Aku tidak yakin ini yang terbaik, Paman! Putrimu lebih membutuhkan pengertian daripada kebohongan,"

"Kau tidak akan berkata demikian kalau kau yang ada di posisiku, nak! Sakura membutuhkanmu sebagai Sasuke. Dia harus hidup, untuk dirinya dan juga anaknya! Kaulihat sendiri kan tadi Sakura langsung tenang begitu menggenggam tanganmu? Dia percaya kau adalah Sasuke, nak! Bagaimana mungkin aku mengatakan Sasuke…Sasuke mati setelah dia merasa baru saja menggenggam tangan Sasuke di sampingnya? Itu sama saja kau menyuruhku mencabut separuh nyawa anakku! Aku lebih baik berbohong seumur hidupku daripada menyaksikan anakku hancur perlahan-lahan!"

Kakashi menelan ludahnya pelan menyaksikan mata tua di hadapannya perlahan-lahan basah.

"Bisakah kalau bukan aku saja?"

"Aku tidak ingin melibatkan lebih banyak orang lagi! Lagipula, kau sedikit banyak mirip dengan Sasuke, nak. Aku bisa merasakannya… Kumohon!" Kizashi kini bahkan sudah tak mau repot-repot lagi menahan tangisnya. Pipinya yang dihiasi dengan keriput senja mulai basah oleh air mata. Tangannya yang tadinya mencengkeram bahu Kakashi dia tangkupkan di depan wajahnya, bergetar jauh lebih kencang daripada sebelumnya.

"Kumohon… Kalau kau tidak memandangku, setidaknya lakukan ini demi putriku, nak! Aku mohon!"

Kakashi termangu melihat profil seorang Ayah yang kini sedang tergugu di depannya. Seorang Ayah yang terlampau menyayangi putrinya hingga tidak mau putrinya tergores sedikitpun , bahkan oleh kenyataan sekalipun. Putri tunggalnya yang kini terbaring di dalam sana.

Kakashi kembali mengingat saat pertama Sakura membuka mata. Kosong dan ketakutan. Kakashi tidak yakin hal yang mana yang membuat Sakura begitu takut, apakah ketakutannya pada kegelapan yang menyergapnya ketika membuka mata, atau ketakutannya tentang ketiadaan hawa Sasuke di sampingnya, atau justru ketakutannya pada kenyataan menyakitkan yang mungkin sudah diperkirakannya namun tidak dapat diterimanya. Yang Kakashi tahu, wajah ayu itu menyimpan lebih banyak kecemasan daripada wajah kosong dengan kepanikan yang tadi dia tampilkan.

Membuat Kakashi sedikit banyak ingin melindunginya.

"Bisakah aku minta waktu untuk berpikir, Paman?"

.

.

.

Detak jarum jam kapel rumah sakit yang berdentang riang seolah mengejek eksistensi kegalauan Kakashi saat ini. Bunyinya yang riuh seolah-olah menginjak-injak kekhawatirannya menjadi seratus kali lebih lecek daripada seharusnya. Hanya dalam imajinya, tentu saja.

Awalnya, Kakashi sengaja pergi ke kapel untuk berdoa setelah sebelumnya berpamitan pada Kizashi untuk memikirkan tawaran yang diajukan Ayah-yang-sedang-putus-asa itu. Dia pikir otaknya akan dapat berpikir lebih jernih jika berada di sini. Ketenangan yang ditawarkan oleh sebuah kapel akan menuntunnya menuju keputusan yang tepat. Hanya saja Kakashi melewatkan satu hal, kalau ketenangan juga membuat sensitifitasnya terhadap beberapa hal kecil naik. Dan kadang justru mengganggu.

Bunyi detak jam perunggu yang terpasang di sisi depan kapel ini misalnya.

Lebih daripada imajinya tentang kekhawatirannya yang diinjak-injak, Kakashi merasa setiap detak jarum jam itu seolah mengejarnya tanpa lelah. Setiap detiknya seakan mengingatkan Kakashi bahwa masa depan seseorang sedang dipertaruhkan pada keputusannya setelah ini. Menuntutnya untuk terus berpikir tentang segala detail yang harus dia hadapi setelahnya. Baik jika dia menerimanya, ataupun menolaknya.

Jaket kulit yang dikenakannya sudah terlepas dari tubuhnya. Kakashi meletakkannya di samping tempat dia duduk. Rahang kokoh laki-laki bermata hitam kelabu itu mendongak berpangkukan tangannya yang bertumpu pada kursi di depannya. Matanya mengarah ke depan tapi tidak melihat apa pun. Tidak ada satu titik pun yang menjadi fokusnya.

Kakashi putus asa, dia tidak tahu harus bagaimana.

"Uchiha Sasuke kau benar-benar orang yang luar biasa. Sudah meninggalpun masih luar biasa. Bahkan kau meninggalkan tugas bagi orang yang seumur hidup pun tidak kau ketahui eksistensinya ini."

Perkataan Kakashi terdengar seperti semacam sarkasme. Laki-laki itu tersenyum kecil sebelum kembali menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangannya. Tertawa janggal di baliknya.

Kembali Kakashi mengurai semua kejadian mengejutkan ini. Tentang Sasuke dengan kematiannya, Sakura dengan ketakutannya dan Kizashi dengan keputusasaannya. Juga tentang andilnya dalam hal ini. Jika dia gambarkan, dia sebenarnya berada di luar lingkaran itu kalau saja Kizashi tidak menariknya secara paksa. Meski sudah begitu pun tetap saja hal ini bukanlah masalahnya.

Kakashi tidak memiliki relasi apapun dengan ketiganya. Bahkan dengan Sasukepun dia hanya mengenal sebatas nama calon rekan kerja. Tidak ada beban yang harus ditanggungnya jika Kakashi memilih untuk lari. Toh dia tak mengenal Kizashi, tidak juga Sakura.

Kenapa dia harus peduli?

"Kumohon… Kalau kau tidak memandangku, setidaknya lakukan ini demi putriku, nak! Aku mohon!"

Perkataan Kizashi kembali melayang di antara hamburan kepingan ingatannya. Terdengar masih tidak masuk akal bagi logikanya. Putrinya, Sakura, bukanlah hal substansial dalam hidup Kakashi, kenapa dia harus melakukan semua ini untuk wanita asing yang bukan haknya?

Uchiha Sakura, wanita yang malang.

Harus diakui Sakura bukanlah wanita biasa-biasa saja seperti yang sering Kakashi temukan di dalam jalur hidupnya, bahkan jika dibandingkan dengan mantan-mantannya sekalipun. Terlepas dari tragedi yang baru saja menimpanya, Sakura memiliki daya pikat wanita dewasa yang tidak dapat Kakashi tolak. Kakashi bukannya bermaksud kurang ajar namun hormon laki-lakinya tetap tidak dapat memungkiri rasa ketertarikan yang mengikat sejak pertama kali melihat wanita itu membuka mata.

Kekosongan yang ditampakkan sepasang batu giok itu justru yang menjadi segala keterpikatan Kakashi berpusat. Terlihat kontras dengan kecantikannya yang alami, lengkap dengan surai merah jambunya yang tergerai pucat mengitari wajah pasinya. Membuatnya tampak rapuh sekaligus tetap cantik.

Seperti peri yang tersesat dalam kegelapan.

Tapi justru itu yang membuat Kakashi semakin goyah. Dia dengan segala kewarasannya tentu tahu resiko terbesar dari ikatan palsu itu adalah hal ini, perasaannya. Menjadi suami bagi istri orang lain saja sudah salah, apalagi dengan kecenderungan ketertarikannya pada Sakura sejak awal. Kakashi tidak bisa menjamin hatinya memiliki resistensi yang tinggi untuk itu.

"...Kaulihat sendiri kan tadi Sakura langsung tenang begitu menggenggam tanganmu? Dia percaya kau adalah Sasuke, nak!"

Tangannya. Bahkan Kakashi masih bisa merasakan kehangatan yang menjalar lewat jari-jari kurus Sakura ketika menggenggam tangannya tadi. Hangat, halus namun kuat. Sensasi yang menggelitik.

Seandainya saja, ada satu saja alasan yang bisa membuatnya memang harus mengambil keputusan ini. Alasan krusial yang membuatnya harus tetap tinggal di sini dan memenuhi keinginan Kizashi. Satu saja.

"... Lagipula, kau sedikit banyak mirip dengan Sasuke, nak. Aku bisa merasakannya… "

Begitukah?

Kakashi termangu di bangku. Karena dia mirip Sasuke, laki-laki Gary-stu itu, makanya semua ini harus dia yang menjalaninya. Harus Kakashi yang melakukannya, sekalipun Kakashi sebenarnya tidak wajib peduli, tapi tetap dia yang harus menjalaninya. Karena Kakashi mirip Sasuke.

Sesederhana itu kah?

"Aku tidak ingin melibatkan lebih banyak orang lagi!"

Dalam hati Kakashi ingin sekali mengumpat, menghujat segala keterlibatan yang tidak dia inginkan. Kesadarannya menjelaskan, bahwa sudah terlambat baginya untuk menghindar. Kakashi sudah terlanjur terjerat.

"Sasuke, kuharap kau memberikan restumu untukku." ujar Kakashi entah pada siapa.

Setelahnya, Kakashi berdiri dari duduknya. Memakai kembali jaket kulitnya yang sempat terlupakan. Lalu berjalan keluar kapel dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Setidaknya, dia telah mencapai keputusannya. Resikonya bisa dia pikirkan nanti, kan?

"Paman, kau berjanji ini tidak akan lama kan?"

"Te-tentu saja! Kita akan menemukan cara yang tepat untuk mengakhirinya nanti! Kau bersedia kan, nak?"

"…aku akan menjadi Sasuke, untuk Sakura."

.

.

.

Tidak perlu waktu lama bagi Naruto untuk mendengar kabar itu. Segera setelah Kakashi memberi kabar (tidak) bahagia kepada Kizashi, Naruto menelponnya. Laki-laki dengan kemampuan menyamarkan emosi sama dengan nol itu terdiam dulu di ujung telepon sebelum mulai berbicara pada Kakashi, lirih.

"Aku sudah dengar semuanya, Kakashi."

Suara Naruto terdengar parau. Ada kemarahan yang kentara ditahannya, juga ada kebingungan dan kegelisahan yang membalutnya.

"Yah, kuharap kau tidak marah padaku."

"Aku ingin membunuhmu, sungguh."

"Kalau itu bisa menyelesaikan semuanya, silahkan saja, aku tidak keberatan."

"Kau—" Terdengar suara gertakan gigi di seberang sana "—aargh! Kau berkata seolah-olah nyawamu begitu murah, Kakashi! Kau pikir ini semua terjadi karena apa, hah? Kalau bukan karena ada nyawa yang melayang semuanya tidak akan seperti ini. Kalau saja aku tidak—"

"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Naruto! Harus berapa kali kubilang itu tidak ada gunanya, kalau kaubisa menyelesaikan masalah ini dengan keluhanmu aku akan dengan senang hati membiarkanmu mengeluh sampai esok hari. Ma—"

"LALU AKU HARUS BAGAIMANA?! Kau pikir ini mudah bagiku, hah? Aku tahu aku tidak berguna dan hanya bisa mengeluh. Padahal aku lah penyebab semua ini terjadi, kalau saja aku tidak menawari Sasuke untuk pindah saja ke kafe Ayah, Sasuke tidak akan pernah ke sini. Tidak harus mengalami kecelakaan naas itu! Sakura tidak harus buta dan kau tidak perlu jadi seperti ini, Kakashi! "

Kakashi menghela napas, berat. Menghadapi Naruto yang sedang dikuasai emosi negatifnya sama susahnya dengan menangani keributan yang ditimbulkan kucing melahirkan. Sama-sama memusingkan. Naruto mungkin memang pemuda ceria dalam kesehariannya, begitu peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Hanya saja kepeduliannya kadang menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Sekarang saja Kakashi bisa mendengar satu dua isakan dari ponselnya.

"Ayahmu akan menertawakanmu kalau melihatmu menangis di depan ponsel begitu."

"Aku tidak sedang di rumah."

"Kau di mana?"

"Kau tidak perlu tahu."

"Jangan melakukan hal bodoh."

"Aku tidak bodoh! Kau yang bodoh, dasar bodoh!"

"Hhh, kalau sudah puas mengataiku bodoh sebaiknya kau segera pulang."

"… Kakashi, apa yang bisa kubantu untukmu?"

"Tenangkan dirimu, berhentilah mengeluh, pulang dan percayakan semuanya padaku, Naruto!"

"MANA BISA AKU TENANG DALAM SI—"

"Kalau kusuruh kau tenang berarti kau dilarang berteriak kepadaku sekalipun itu lewat ponsel. Sebaiknya kau me-reset ulang cara pikirmu itu, mungkin kau memang awal dari semua ini karena meminta Sasuke pindah ke kafe Ayahmu. Tapi kau juga harus ingat kalau Sasuke bukan pion tak berotak, dia memutuskan untuk pindah karena keinginannya sendiri dan kecelakaan itu baik kau atau Sasuke tidak pernah ada yang menginginkannya."

Naruto terdiam sejenak di ujung sana.

"Tidak segampang itu kalau melakukannya…"

"Aku akan terkejut kalau kau bisa melakukannya dengan gampang."

"Kau memang menyebalkan , Kakashi!"

"Aku setuju."

Terdengar bunyi helaan napas lagi dari seberang sana, namun suara isakan Naruto sudah berhenti, hanya suaranya masih terdengar parau.

"Kau... kalau butuh bantuanku bilang saja. Aku mengenal Sasuke sudah lebih dari separuh hidupku, mungkin aku bisa membantumu."

"Ya, akan kuingat."

"…Kakashi,"

"Hm?"

"Tolong jaga Sakura, ya?"

Kakashi terdiam, tiba-tiba saja lidahnya kelu untuk sekedar berkata 'ya'.

.

.

.

Keesokan paginya Kakashi bangun tidur dengan belasan panggilan tak terjawab yang semuanya beralamatkan dari orang yang sama, Kizashi. Sungguh, Kakashi tidak habis pikir kenapa kehidupannya akhir-akhir ini berkutat pada telepon di pagi hari. Terakhir kemarin dia menerima telepon di pagi hari, Iruka sukses membuat telinganya memerah dengan segala ceramahnya tentang masa-depan-luas-terbentang-yang-kau-buang, atau tentang barista-anak-dewa-yang-berlagak-jadi-pahlawan-kesiangan, atau bahkan ceramah kalau-mau-cari-istri-jangan-dengan-cara-instan. Bentuk perhatian dari Iruka memang sering seperti itu, dan Kakashi menghargainya.

Lalu pagi ini, Haruno Kizashi menghujaninya dengan rentetan notifikasi missed call. Sudah lebih dari sepuluh kali berarti ada hal penting yang ingin disampaikannya. Baru saja Kakashi ingin menelpon balik, ponselnya kembali berdering.

"Ya, Paman?"

"Kakashi, bisakah kau ke rumah sakit sekarang, nak? Sakura mencari Sasuke—mencarimu!"

Kakashi terdiam sejenak mendengarnya. Merasakan sensasi asing menjalar ke perutnya, menghantarkan rasa mual yang mengaduk-aduk. Tiba-tiba dia ingin mundur saja, berkata maaf aku tidak bisa. Menghilang dari peredaran mereka selamanya.

"Ya, Paman. Sebentar lagi aku akan langsung ke sana."

Tapi terlambat. Kakashi bukan lelaki tanpa komitmen yang akan mundur hanya karena rasa mual yang menyerangnya. Keputusan ini keputusannya. Resiko ini miliknya.

Setelah ini, Kakashi pasti akan terbiasa dengan semuanya tanpa harus merasa mual lagi.

Bukan begitu, 'Sasuke'?

==tbc==

Irish coffee : kopi khas Irlandia yang cara peracikannya mencampurkan wiski ke dalamnya.

Halooo, maaf saya apdetnya lama banget. Tiga bulan, orz, lama banget T.T hiks, Lia maafkan aku yang tidak konsisten ini :'( *mewek sambil peluk Daiki*

Saya gak akan protes kalau pada lupa ceritanya jadi silahkan saja baca chapter pertama terlebih dahulu '-')/ hehehe. Chapter ini lebih pendek daripada sebelumnya, sengaja memfokuskan ke konflik batinnya Kakashi. Semoga feel-nya lebih dapet daripada chapter 1 kemarin dan alurnya, apakah masih kecepetan? atau jangan-jangan chapter ini terlalu nyinetron? ==" Kalau ada yang kurang atau ada saran silahkan sampaikan saja, ya =)

Kakasaku-nya masih belum ada interaksi lagi di sini, chapter depan baru dimunculkan. Btw, saya gak jadi bikin ini jadi threeshot (salahkan draft saya yang menghilang entah kemana -_- orz) tapi tetep aja gak bakalan panjang, ding. Eheee, gak nyampe 10 chapter, mungkin 5 aja.

Dan soal semacam summary yang suka saya taruh sebelum disclaimer itu sebenernya sengaja saya bikin buat kasih gambaran akan seperti apa jalan ceritanya ini nanti. Ya kaya semacam trailer gitu, mungkin banyak yang bingung ya? Eheee, tapi saya suka bikin kaya gitu. Semacam bikin penasaran ehehehe /dibuwang.

Mohon doanya ya semoga chapter depan bisa saya update lebih cepat lagi, Aamiin =)

Terakhir, terima kasih untuk yang sudah review di chapter sebelumnya : Aoi Lia Uchiha, Tomat-23, Sakura Hanami, haruno yuwi, Seijuurou Eisha, kai anbu, kHaLerie Hikari, miiyamii, ZeZorena, Aozora Straw, Kumada Chiyu, Uzumaki Shizuka, inoueyuuki89

Dan juga buat yang udah favs dan follows. Juga buat kalian yang sudah membaca cerita ini. Mind to review again? =)

Thank you, see ya next chapter =)

Story only= 2783word

040314, hometown

alihyun.