15 Agustus 1945, Showa 20
Rumah Sakit Palang Merah Cabang Sendai, Miyagi, Jepang
Koshi gemetaran, tak bisa ia menahan air matanya untuk tak jatuh dari pelupuk. Wajahnya basah dalam seketika mendengar saban kata yang didengarnya dari Kaisar yang disiarkan di radio. Ujaran pemimpin negeri itu terputus-putus karena saluran yang buruk dan terkadang ada ujar yang tak jelas dan tak dimengertinya. Eita memeluk Koshi dari samping sambil memanggil-manggil nama suaminya, merana dan meraung.
"Wakatoshi—"
Jepang kalah. Ini berbeda dari apa yang dikatakan suaminya terakhir kali ketika mereka berpisah dulu. Suara-suara kecewa dan kesedihan turut jua ia dengar di belakangnya, dari kawan-kawan sesama petugas medis, pasien-pasien terluka dan cacat. Ada jua desah lega tahu perang berakhir dan segala kesedihan yang selalu dilanda Jepang akan berakhir jua—mungkin.
Eita sesenggukan di bahunya. Keduanya sama ketakutannya memikirkan nasib suami mereka yang masih berada di garis depan sana. Koshi membalas pelukan kawannya itu dengan erat, menyembunyikan wajahnya di leher Eita yang sama bergetarnya seperti ia. Ada ketidakpercayaan terhadap pendengarannya sendiri, pun reaksi Eita menyadarkannya bahwa ini semua nyata.
Ada seruan dari kepala rumah sakit untuk mereka kembali bertugas, pun kesedihan Eita dan Koshi tak bisa redam jua. Mereka tak bisa mengobati pasien dengan senyum menenangkan, ketakutan tergambar di raut wajah mereka yang semua itu dirasa wajar pasca mereka mendengarkan penyerahdirian Kaisar ke tangan sekutu. Tak ada kegembiraan di setiap inchi tanah Jepang hari itu. Bahkan jauh lebih kelam dan sunyi dari hari-hari penuh kesedihan yang pernah lewat. Khawatir pada banyak hal, dari yang 'akan jadi apa Jepang setelah kekalahan ini' hingga 'bisakah mereka memakan nasi kembali dengan tenang seperti sebelum perang membuncah'.
"Sawamura-san, kau akan ke Hiroshima besok, tolong bersiaplah."
"Eh?" Koshi menatap Akaashi Keiji—rekan sejawatnya dari Tokyo. Akaashi datang ke Miyagi subuh-subuh sekali tadi pagi dengan truk tentara, ditugaskan oleh pusat untuk menarik tenaga-tenaga medis dari daerah. Tatap hijau Akaashi yang terakhir kali dilihat Koshi sedikit lebih hidup, kini redup dan layu. Mungkin sama bersedihnya akan keputusan dari Kaisar. Kata si hitam jelita itu lagi, "Hiroshima dan Nagasaki butuh lebih banyak tenaga medis. Dan Oikawa-san menginginkan kau dan Ushijima Eita-san yang dianggap jauh lebih berpengalaman di garis depan. Ushijima-san akan menjadi wakil palang merah di Nagasaki."
Ah, tentu saja. Tujuh tahun bertugas di Manchuria tidak membuat Koshi merasa takjub pada seberapa parahnya kondisi di tanah air. Sejauh ini tak ada yang lebih parah dan menyedihkan daripada ketika ia berada di garda depan dulu itu. Kemampuannya dibutuhkan oleh negara dan Koshi takkan memiliki waktu untuk berduka dan memikirkan suaminya. Ia harus percaya pada Daichi. Daichinya akan baik-baik saja dan pulang dengan utuh, selamat jiwa dan raganya. Kembali ke sisinya dan Shoyo yang menanti di rumah hangat penuh cinta mereka.
Daichi masih berusaha di garis depan sana. Bertempur dengan para musuh dengan gagah perkasa. Dan Koshi di sini memiliki pertempurannya sendiri.
"Kaasan—"
Hati Koshi tercubit melihat wajah antusias sang putra tunggal yang menyambut kepulangan ibunya. Shoyo baru benar-benar pulih sebulan lalu meskipun kini yang menjadi ujaran mulut kecilnya hanyalah, 'Kapan tousan datang?'
Shoyo sama merindunya pada Daichi, seperti Koshi yang menginginkan hangat peluk Daichi yang lama hilang darinya.
"Tousan sudah pulang?" Shoyo mendongak pada Koshi yang baru sampai di depan pintu masuk. Tangan kecilnya memegangi celana Koshi, menuntut jawaban yang menyenangkan hatinya. Senyuman Koshi perih dan katanya dengan pelan, "Belum, sayang. Sebentar lagi. Perang sudah selesai dan tousan pasti akan segera pulang."
Mata cokelat yang serupa seperti mata Daichi itu berkilat semangat. Wajahnya merah karena antusias dan senang—tak mengerti apa yang terjadi, "Perang selesai? Tousan menang? Hore!"
Koshi berjongkok, menyamai tinggi si jingga. Telunjuknya menempel di bibir kecil anaknya dan ia berdesis, "Sayang, perang memang selesai. Tapi kita masih bertempur. Jadi masih belum boleh senang, ya. Nanti saja kalau tousan sudah pulang."
"Koshi, kau pulang cepat hari ini." Ibunya menengok dari pintu samping. Tangan wanita tua itu dipenuhi oleh cucian kering yang baru diambilinya dari tiang jemuran. Mata ibunya merah dan bengkak, jelas karena menangis. Sama bersedihnya begitu tahu kekalahan yang diderita negaranya. Koshi berdiri dan mengambil sebagian cucian itu, "Ibu, ada yang ingin kubicarakan."
Shoyo sudah berlari masuk ke dalam rumah dan Koshi mengajak ibunya ke ruang keluarga. Mata cokelatnya sayu, "Aku harus ke Hiroshima. Kami berangkat jam 2 pagi besok dan aku pulang hanya untuk mengambil barang-barangku."
Dilihat Koshi wanita tua di depannya itu terdiam sejenak. Saat pengeboman Tokyo Maret lalu, Koshi pergi dari rumah selama tiga bulan, terpaksa meninggalkan anaknya yang sakit keras dan baru kembali ke Miyagi setelah sekutu mengebom Sendai jua. Itu bahkan belum ada sebulan Koshi bersama dengan anaknya ketika kini lagi-lagi ia dipanggil untuk pergi ke Hiroshima.
"Bagaimana dengan Shoyo?"
"Aku akan memberi tahu Shoyo sendiri. Dia anak yang pintar, Ibu. Dia mengerti aku adalah petugas kesehatan. Dibutuhkan semua orang. Aku akan sering mengirim telegram dan akan kuusahakan mencari informasi tentang Daichi juga."
Tangan Koshi masih gemetaran sejak tadi. Wanita tua itu memegang lembut tangan anaknya dan katanya pelan, "Jangan memaksakan dirimu, sayang. Berhati-hatilah. Aku akan beritahu ayahmu jika dia pulang nanti."
Koshi mengangguk dengan senyum perih. Dia berdiri dan pergi ke kamarnya, Shoyo mengguncang kaleng permen Sakuma dan mendengarkan isinya yang masih penuh dengan gembira. Sejauh ini tak ada satupun isi permen itu yang ia makan selain yang ia makan di Manchuria bersama ayahnya dulu. Ketika dulu Koshi menawari si jingga itu, Shoyo menolak dan berkata, "Shoyo makan kalau tousan pulang."
Meskipun entah kapan itu terjadi.
"Sho-chan." Ia duduk di samping anaknya. Mengelus lembut rambut jingga bocah lima tahun itu. Koshi merasa bersalah karena ulang tahun Shoyo terjadi saat ia dan Daichi tidak bersama dengannya. Bocah itu melewatkan hari ulang tahunnya di bawah futon tebal karena sakitnya, sendirian, gemetaran sambil terus memanggil-manggil sang ayah yang tak tahu kapan pulangnya. Pucuk kepala jingga itu dicium Koshi dan ia berbisik lembut. Ditahannya air matanya agar tak jatuh dan membuat Shoyo tahu bahwa ia bersedih, "Kaasan harus pergi nanti. Sho-chan di rumah bersama jiichan dan baachan, ya."
Tak disangka Koshi Shoyo mendongak dan menatapnya. Mata cokelat itu heran dilihat si perak, "Kemana?"
"Bekerja ke tempat yang jauh dan berbahaya."
"Pulang?"
Shoyo memeluk tubuh kecil itu. Tangan Shoyo diambilnya dan dipermainkannya jari-jari mungil bocah itu. "Kalau pekerjaan kaasan sudah selesai."
"Nanti pulang bersama tousan?"
Kali ini Koshi terdiam. Digigitinya bibirnya untuk menahan gejolak perih di dalam dadanya. Sekali lagi diciumnya kening Shoyo yang masih mendongak padanya. "Kaasan sayang Shoyo."
Shoyo sumringah dan dia berdiri. Mencium pipi ibunya dengan sayang. "Shoyo sayang kaasan juga."
Sekali lagi si jingga mengguncang kalengnya sebelum diulurkannya kaleng permen itu pada ibunya. "Kaasan, makan permen."
Koshi tertawa pelan melihat laku putranya itu. Diambilnya kaleng sebesar telapak tangan anaknya itu dan dibukanya tutupnya. Tangan Shoyo mengulur dan di telapak kecil itulah Koshi menjatuhkan dua butir permen berwarna putih dan jingga. Koshi berujar terkejut, "Wah, keluar dua."
Shoyo mengambil satu yang berwarna jingga dan menyuapkannya ke mulut ibunya, "Untuk kaasan."
Dengan senyuman gembira, Koshi membuka mulutnya dan Shoyo meletakkan permen yang dia ambil ke atas lidah sang ibu. Koshi mengambil yang tersisa di tangan Shoyo dan berkata, "Aaaa."
Si jingga menurut dan membuka mulut sambil tersenyum girang ketika merasakan manis permen itu di lidahnya setelah sekian lama menahan diri untuk tidak memakannya. Kaki kecilnya terhentak-hentak gembira dan Shoyo berloncat sekali sebelum memeluk leher ibunya dengan penuh sayang. Koshi tertawa pelan dan menciumi aroma khas anak kecil putranya itu.
Ah, dia benar-benar menyayangi buah hatinya dan Daichi ini.
.
16 Agustus 1945, Showa 20
Truk menuju Tokyo, Jepang
Ada sekitar sepuluh tenaga medis di dalam truk itu. Tiga dari Miyagi, satu dari Aomori, dari Akita dan Iwate masing-masingnya dua, dan satu lagi naik saat mereka melalui Fukushima tadi, ditambah Akaashi Keiji. Sisanya ada lima tentara. Tiga truk yang mengiringi mereka di depan dan belakang pun dipenuhi kempeitai yang ditarik dari daerah jua, satu truk sisanya berisi perlengkapan medis dan obat-obatan.
Selama perjalanan, Akaashi terus menunduk. Lima menit sekali dia mengusap bandul kalung yang dia kenakan, sesekali membuka liontinnya dan menatap foto yang ada di sana. Fotonya dan tunangannya, Bokuto Kotaro, kapten kapal perang Hyuga yang—menurut kabar—Juli lalu tenggelam di laut Kure.
"Akaashi?"
Si hitam tersenyum tipis pada Koshi yang menatapnya prihatin. Mata hijau itu makin luyu dilihat si perak. Dilihat Koshi bibir bawah Akaashi digigit kuat-kuat sebelum Akaashi berbisik, memastikan hanya bisa didengar oleh Koshi dan Eita yang duduk di kanan dan kirinya. "Bokuto-san meninggal saat dia mempertahankan Hyuga bulan lalu. Dia tenggelam dengan kapal yang dia banggakan."
Dan entah kenapa kali itu menjadi sangat sunyi. Lima belas orang yang ada di sana terdiam, mereka terguncang oleh batu-batu yang meloloskan diri ke atas aspal hanya untuk diinjaki ban truk. Untuk kali pertama itu Koshi pun Eita melihat Akaashi menangis sunyi. Bibir si hitam terkatup rapat namun air matanya tak henti turun dari pelupuk. Tangan kanan Akaashi berkali-kali menyapu matanya namun tetap saja ia tak bisa menghentikan tangisannya sendiri. Koshi memeluk tubuh layu itu dengan penuh kasih sayang. Perih di hatinya tahu koleganya berduka sementara hatinya yang lain melayang pada dambaan hatinya di negeri seberang. Ia tak ingin merasakan kesedihan yang sama seperti yang dialami Akaashi, tapi ketidakpastian kabar dari suaminya jauh lebih menyakitkan lagi dirasa Koshi.
Dua perawat Miyagi itu tak bisa mengatakan apapun. Baik Eita pun Koshi tak bisa mengujarkan kalimat hiburan apapun. Jepang kalah, kematian Bokuto tak bisa tertunda. Seolah pengorbanan kapten kapal itu sia-sia belaka. Dia berjuang hingga akhir hayatnya hanya untuk kalah.
Ujar terakhir Akaashi makin membuat ngilu Eita dan Koshi.
"Bokuto-san bahkan melamarku di malam sebelum dia berangkat bertugas dulu itu."
.
20 November 1945, Showa 20
Hiroshima, Jepang
Pasien itu memekik saat Koshi menarik kulitnya yang mengelupas. Seluruh kaki kanannya kering dan hitam. Gosong karena pika—kilat—atom 6 Agustus lalu dan dipenuhi belatung dan sudah berbau busuk. Semenjak sampai di Hiroshima, Koshi hanya beranggapan bahwa itu adalah neraka. Seruan, pekik kesakitan, minta ampun entah pada siapa selalu terdengar di antara tumpukan tubuh-tubuh tak terkenali itu. Ada yang terbakar habis dan masih hidup pun kesakitan karena rasa panas yang mereka rasakan, mereka bagaikan mayat hidup, kondisi yang begitu memprihatikan dan menyakiti hatinya. Belum bau-bau racun, bau berbagai hal yang habis terbakar, dan bau bangkai yang tak terkirakan bisa membuat siapapun pingsan dalam seketika. Koshi bahkan tak bisa tidur dengan tenang karena semerbak mengganggu pernapasannya itu. Ia sama sekali tak melepaskan maskernya jika memang benar-benar tidak dibutuhkan.
"Sawamura-san, ada yang datang dengan penyakit aneh itu lagi." Seorang perawat pemula—lelaki muda itu bahkan belum lulus dan masih menyandang status mahasiswa ketika dibawa ke Hiroshima—berbisik kepadanya ketika Koshi selesai membersihkan kaki pasiennya. Lanjut si mahasiswa, "Duburnya mengeluarkan darah yang sangat banyak kali ini."
Koshi menggeleng. Sejak jatuhnya senjata baru sekutu di Hiroshima dan Nagasaki, sudah banyak ditemuinya orang-orang yang memiliki penyakit aneh yang tak dikenalinya. Bisa jadi itu salah satu efek dari bom itu jua yang saat ini belum tercatat di dunia medis. Tak ada yang tersembuhkan sejauh ini, semuanya mati dalam keadaan menggenaskan, tanpa bisa tertolong.
"Beri dia obat pereda sakit, setelah itu panggil Oikawa-sensei."
"Aku sudah ke Oikawa-sensei dan dia hanya menyuruhku untuk membiarkannya kali ini."
Si perak tersentak. Oikawa jelas sudah menyerah sejak banyak pasien dengan gejala-gejala yang tak diketahuinya itu makin memenuhi rumah sakit darurat ini. Tak ada yang bisa mereka lakukan terhadap pasien seperti itu dan kebanyakan dari mereka merasa frustasi melihat korban-korban berjatuhan tanpa bisa diberikan pertolongan apapun.
Koshi melepaskan sarung tangannya dan sudah akan keluar dari barak ketika di pintu masuk tiba-tiba dua orang tentara sekutu menghadangnya. Memelototinya dengan cara yang mengerikan dan membuatnya bergetar. Pasien-pasien yang ada di barak itu mengeluh mengetahui keberadaan tentara musuh dan banyak orang di sana ketakutan.
"Koshi Sawamura?"
Si perak gemetaran. Kepalanya menoleh ke samping terlebih dahulu, mencari bantuan meskipun nihil. Ia kembali mendongak, menatap orang-orang tinggi berkulit putih pucat itu, dan mengangguk pelan.
"Come with us."
Koshi makin bergetar ketika tangannya disentak oleh salah seorangnya. Tubuh kecilnya gemetaran selama perjalanan, diperhatikan oleh orang-orang yang ada di barak itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Pun Koshi tak bisa melakukan apapun, dia berada di pihak yang kalah yang mau tak mau menurut pada kemauan si pemenang.
Ketidakmengertiannya menjadi-jadi saat tubuhnya dipaksa naik ke atas truk pengangkut kecil. Koshi bahkan lupa untuk memberontak saat dilihatnya Oikawa dan rekan-rekannya yang lain terdiam melihatnya dengan kejut di mata mereka. Koshi hanya menggeleng pada kawan-kawannya, sebagai jawaban atas ketidaktahuannya kenapa ia digiring oleh tentara sekutu sebelum ia berujar, "Tolong jangan beritahu ibuku, Tooru."
.
22 November 1945, Showa 20
Tokyo, Jepang
Koshi dibawa ke markas Amerika di Kure dan bermalam di sana sebelum kemudian kembali disuruh menaiki truk ketika subuh datang. Dari penerjemah yang bekerja untuk Amerika, dia akan dibawa ke Tokyo tanpa diberi tahu untuk apa.
Ia tak diikat, matanya tak ditutup jua. Tak ada belenggu yang dipasang di tubuhnya, tapi Koshi terlampau ketakutan untuk melarikan diri dari mereka. Hatinya gundah luar biasa, di pikirannya hanya terbayang Shoyo dan suaminya, Daichi. Jantungnya berdebar hebat bahkan setelah ia didiamkan selama berjam-jam di dalam sebuah ruangan yang lebih mirip ruang interogasi itu.
Mungkinkah ini menyangkut Daichi? Mungkinkah mereka akan dipertemukan kembali? Tapi untuk apa? Untuk terakhir kalinya sebelum mereka menghabisi Daichi di depan mata kepala Koshi sendiri?
Pintu ruangan tempat Koshi berada terbuka dan mengejutkan Koshi. Seorang prajurit berseragam yang berbeda dari seragam prajurit Amerika yang diketahuinya masuk. Rambut orang itu perak mengkilap, tersisir rapi belah tengah. Mata hijaunya kecil dan terlihat mengerikan jika ditambahkan dengan perawakannya yang tinggi menjulang dengan kulit putih pucat.
Dia bukan orang Amerika. Yang Amerika adalah prajurit yang ikut masuk di belakangnya karena nama yang terbordir di bajunya itu sangat 'Eropa'.
Si perak tinggi itu duduk di seberang Koshi. Dia tersenyum, tapi caranya tersenyum terlihat mengerikan di mata cokelatnya. Prajurit Amerika berdiri di depan pintu. Menjaganya seolah-olah pintu itu bisa lari dan membawa kabur Koshi kapanpun.
"Halo. Selamat siang."
Dia bisa berbahasa Jepang. Koshi mengangguk sekali dengan waspada. Orang tinggi di depannya sama sekali tidak menghilangkan senyuman ganjilnya. Lanjut orang itu dengan bahasa Jepang yang lancar dan bagus meskipun aksennya sangat aneh didengar Koshi, "Namaku Lev Haiva. Aku tentara Soviet yang mendapat tugas dari petinggiku di Manchuria—"
Rasa-rasanya jantung Koshi berhenti seketika kala Manchuria diucapkan oleh orang itu. Jangan katakan orang ini membawa kabar buruk tentang Daichi kepadanya langsung.
"—dan timku meneliti kasus kriminal yang dilakukan nana-san-ichi butai—unit 731. Sawamura Koshi-san, namamu berada di dalam daftar orang yang terlibat kasus percobaan biologi dan kimiawi yang dilakukan unit ini—"
Koshi berjengit ngeri. Tubuhnya gemetaran hingga ke ujung kakinya. Si Rusia itu terus melanjutkan sambil menikmati kengerian yang dirasakan Koshi di depannya. "—yang benar-benar biadab dan tidak manusiawi. Mungkin yang lain bisa menyebutnya sebagai Auschwitz camp versi Asia?"
Si perak malang itu menggeleng kuat-kuat. Air matanya berjatuhan dan bibirnya digigitinya kuat-kuat. Wajahnya memerah karena darahnya naik ke kepala dengan cepat dan tubuhnya gemetaran. "Aku sama sekali tidak terlibat percobaan mereka. Aku bersungguh-sungguh. Aku—aku hanya berada di sana selama dua—tiga hari. Aku—aku memang semula ditugaskan di sana dan—dan diajak oleh Ishii-san, tapi sungguh aku benar-benar tidak terlibat."
Ia sesenggukan. Wajahnya basah dalam seketika dan berkali-kali ia menggeleng kuat-kuat. Ketakutan menguasai dirinya dan tangannya terus menerus menutup mulutnya sendiri agar tidak mengerang dan merintih ketakutan.
"Lalu kenapa kau ketakutan, Sawamura-san?"
Mata cokelatnya mencoba menghindari tatapan hijau tajam itu meski tak bisa. Dengan takut-takut Koshi membalas pandangan itu dan ia tak kuasa menghentikan tangisannya. "Karena aku tidak bisa melupakan pengalaman yang terjadi dalam beberapa hari di Harbing saat itu. Itu sangat mengerikan dan aku sangat ingin amnesia untuk hal itu. Aku tak bisa berada di sana. Itu membuatku ketakutan seumur hidup. Tempat itu sangat mengerikan. Aku—aku adalah perawat yang seharusnya merawat manusia dan—dan bukannya—"
Tangis Koshi pecah dan kali itu ia tersedak karena ludah dan ingusnya sendiri. "—mereka memperlakukan manusia seperti binatang. Dan—dan pembunuhan masal."
Koshi makin sesenggukan. Jantungnya tak bisa tenang. Haiva memancing, "Menyebarkan epidemik?"
"Mereka bahkan meracuni sungai dan—dan menyebarkan penyakit berbahaya."
Lev Haiva membuka catatannya, seolah-olah membaca sesuatu, "Kau berkata kau hanya berada di sana selama beberapa hari, tapi ada yang mengatakan kau memiliki peran dalam pelepasan bom virus tahun 1940 lalu."
Koshi menjerit tiba-tiba. "Itu tidak benar! Aku tidak berhubungan dengan mereka. Aku segera minta dipindahkan setelah melihat kebiadaban mereka. Aku bekerja untuk rumah sakit di Manchuria sejak tahun 1938 dan tak pernah bertugas di manapun selain di sana."
"Minta dipindahkan dengan pengaruh dari suamimu? Dia bahkan disidang karena kasus Nanking."
Koshi menggeleng kuat-kuat. "Daichi tidak terlibat dengan kasus di Nanking. Itu unit lain. Bukan unit suamiku. Daichi seumur hidupnya tidak pernah bertugas di Nanking. Aku bersumpah."
"Kau bisa saja berbohong untuk melindungi suamimu."
Tangisan Koshi makin kuat. Tubuhnya tak bisa berhenti gemetaran hebat, "Aku bisa menyebutkan nama yang membuktikan bahwa Daichi tidak terlibat pembantaian itu. Dan—dan aku memiliki surat-surat yang membuktikan itu juga."
Lev makin tersenyum, "Aku sudah mengunjungi rumah orang tuamu dan menemukan surat-surat itu, Sawamura-san."
Si perak terdiam sejenak. Kini yang ada di bayangannya adalah putra tunggal mereka. "Kau melakukan sesuatu pada anakku?"
Tawa itu menyakitkan didengar si perak malang, "Tentu saja tidak. Aku dan agenku bertamu baik-baik dan bahkan aku sempat bermain dengan Shoyo. Dia anak yang manis. Jadi aku meninggalkannya bersama neneknya. Tenang saja."
Hati Koshi menjeritkan kata biadab.
"Semula tujuanku ke Jepang adalah untuk menangkap kriminal-kriminal yang kabur dari Manchuria seperti kau, Sawamura-san. Ada banyak tersangka yang melarikan diri dari tempat perkara, tahu. Dan kau ada di daftarku—"
"Aku tidak terlibat pada percobaan apapun atau aksi kriminal mereka yang manapun!" Koshi terus berkeras meskipun bantahannya terlihat kurang meyakinkan karena air mata dan raut wajahnya. Mata hijau itu melirik ke Koshi sebentar sebelum beralih ke arah lain di belakang kepala Koshi, entah apa. Dia melanjutkan kalimatnya yang terputus dengan nadanya yang aneh, "—dan mengumpulkan bukti-bukti."
Koshi merana, "Aku sungguh-sungguh tidak terlibat. Kau bisa mencari buktinya jika aku terlibat dan kau takkan pernah menemukannya karena aku memang tidak terlibat."
Lev terkekeh pelan dan Koshi tidak menyukai cara tertawa itu. "Yah, kau dicoret dari daftar tersangka. Kau benar, kau tidak terlibat. Aku sudah tahu dari awal."
Orang itu mengambil sesuatu dari tasnya. Surat-surat yang tentu diambilnya dari rumah keluarga Sugawara di Karasuno. "Kini yang kubutuhkan adalah kesaksianmu atas surat-surat ini. Ini mungkin bisa meringankan hukuman suamimu di Siberia sana, kau tahu?"
.
Sekitar lima jam Koshi berada di hadapan Lev Haiva dengan tanpa hentinya menangis diiringi intimidasi mengerikan dari mata hijau dan tubuh besar itu hingga akhirnya orang Rusia itu merasa puas dengan informasi yang dikuliknya dari Koshi. Koshi kemudian dibawa ke sebuah ruangan lain dimana Eita menantinya dengan tangis tak henti.
Dengan cepat Koshi memeluk kawannya yang terlihat tidak berdaya dan lemah luar biasa. Ibu jari Eita diperban dan diakui Eita bahwa kukunya sempat ditarik oleh mereka karena ketidakmauan Eita untuk berbicara dan mengaku.
"Wakatoshi dibawa ke Siberia oleh Soviet," Eita merintih pelan dengan tak melepaskan pelukannya pada si perak. Koshi menyapu air matanya sendiri. Dicobanya meredakan tangisan yang sejak tadi terus menyakiti dadanya. "Daichi juga dibawa ke Siberia, Eita. Mereka bersama."
Ushijima Eita menegakkan tubuhnya. Tangannya memegangi pundak Koshi dengan kuat dan matanya menggambarkan ketakutan yang dirasakannya, "Aku sudah dengar bahwa sekali kau ke Siberia, kau takkan pernah bisa kembali lagi. Koshi—aku takut. Aku masih ingin bertemu dengan Wakatoshi. Tsutomu masih membutuhkannya. Kenjiro juga. Dia masih memiliki dua anak untuk dihidupi dan membutuhkannya."
Si perak Sawamura mencoba tegar di depan kawannya. Ia terpaksa memberikan senyum meskipun menjadi getir dan pecah. "Percayalah mereka akan kembali, Eita. Tolong jangan pesimis. Shoyo juga masih membutuhkan ayahnya. Aku percaya Daichi akan kembali. Kau juga percayalah pada suamimu."
Koshi mengatakan itu bukan untuk menyemangati kawannya. Ia mengujarkan itu lebih untuk menguatkan dirinya sendiri yang hancur berantakan begitu tahu Daichi dibawa jauh ke utara sana. Jauh dari tanah hangat Jepang yang masih terasa panas akibat bom-bom yang dijatuhkan oleh sekutu untuk membuat negeri ini tidak berdaya.
Namun setidaknya ia tahu Daichi masih hidup dan bukannya mati sendirian di dataran China sana. Masih ada harapan bahwa mereka bisa dipertemukan kembali.
Ia berharap bahwa hangat cintanya dan Shoyo bisa dirasakan oleh Daichi meski jarak jauh memisahkan mereka. Ingat bahwa Shoyo dan Koshi menantikannya di tanah Jepang ini dan hal itu cukup untuk membuat Daichi terus bertahan hidup demi keluarganya.
Satu pintanya pada dewanya yang kini tak ia tahu dewa mana yang harus ia sembah, adalah Daichi yang berumur panjang dan segera pulang.
Koshi masih ingin menjadi tua bersama suaminya.
.
WAR OF THE SON
-bersambung
.
Betewe, chapter dua ini hadiah untuk Sugawara Koshi karena hari ini—13 Mei—adalah hari ibu di Jepang sana. Selamat hari mama, mama Koshi. Love ya. Terus bertahan kubikin kayak gini, ya /plak
Oke, jadi rencananya fanfiksi ini akan dibuat tiga chapter. Satu chapter terakhir nanti adalah finalnya. Saya—yang sekarang—terus berdoa di dalam hati agar saya yang ada di masa depan lebih berbaik hati dari saya yang sekarang agar dia—si saya di masa depan—mau mengakhiri fanfiksi ini dengan ending yang sedikit lebih manusiawi.
Terima kasih sudah bersedia membaca dan mereview.
.
.
Btw saya masih gak terima dan marah atas apa yang saya—di masa lalu—lakukan karena sudah membunuh Bokuto saya yang tercinta di fanfiksi ini dan bikin Akaashi menangis dengan cantiknya.
Terus jadi War of the Self :")
Terus kepikiran ini fanfiksi kok jadinya kayak War of the Uke, ya? Para ukenya pada tangis-tangisan semua /heh /plak
Btw, maaf buat penggemar Lev di luar sana. Gak tau kenapa cocoklogi-nya si saya main ke antagonis!Lev kalau masalah perang dunia kayak gini /plakplak
Oh ya, namanya Lev itu kan Haiba Lev yah di kanonisasinya, tapi kalau pronounce-nya di Rusia kata 'Haiba' itu terasa aneh (di telinga anehnya si saya) didengar daripada 'Haiva'. Jadi saya pake nama Haiva Lev. Malah niatnya mau jadi Haiva Lyovochka biar 'tsar'-nya lebih kerasa /plak
