Disclaimer : Everything written in this blog is creation of my imagination. The characters belongs to their mangaka, but the plot belongs to me. Please DO NOT REDISTRIBUTE!

Author : _kadzuki_ aka fate_aram

Rating : T

Pairing : AkaKuro, AoKise

Genre : AU, Crack, Shonen-ai, Comedy

Cast : Kuroko Tetsuya, Akashi Seijuurou, Kise Ryouta, Aomine Daiki, Murasakibara Atsushi, Midorima Shintarou

Summary : Demi kembalinya ketenteraman di asrama mereka, Midorima, Kise, Aomine, dan Murasakibara, berusaha untuk 'mendamaikan' Akashi dan Kuroko. Sementara Akashi masih down gara-gara dibilang bau oleh kekasihnya sendiri, dan yang bersangkutan sibuk dengan tugas kelasnya, para member Kiseki no Sedai pun mengadakan rapat untuk menguak bencana mahadahsyat tahun ini.

A/N : Sekadar pemberitahuan, semua fanfic yang gw posting di sini juga di posting di blog wordpress gw, Deferto Neminem. Jadi ga ada cerita plagiat-plagiatan, ok?! Itadakimasu~


[Part 2]

.

.

" …jadi karena itu Kurokocchi menghindari Akashicchi… "

Para pemilik mata berwarna safir, zamrud, dan amethyst yang sedari tadi menyimak Kise dengan seksama kini cuma bisa terpana. Bengong. Cengo. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tertawa salah, menangis juga salah. Bisa-bisanya bencana yang menimpa mereka berasal dari satu hal yang memalukan.

Kentut.

Kenapa harus kentut coba?

Kenapa bukan sesuatu yang 'wah' dan lebih masuk akal? Misalnya gara-gara Akashi miskin kek, Akashi jelek kek, Akashi bisulan di pantat kek, Akashi mesum kek… Eh, yang terakhir sih Aomine.

Hanya gara-gara menghindar karena takut kentut, semua berpikir bahwa Kuroko menghindari Akashi karena sang emperor bau, dan memicu tindakan ekstrim berupa pencemaran udara. Yah, ini bukan sepenuhnya salah sang bayangan sih. Otak Kiseki no Sedai yang kelewat kreatif juga turut ambil bagian dari tragedi ini. Seandainya mereka menyinggung hal yang lain, bukan menyinggung soal bau…

Serius deh, keempat anggota Kiseki no Sedai kepingin nangis. Selama ini bertahan hidup bertaruh nyawa hanya karena kentut. Nasib.

" Terus, kita harus gimana? " Aomine memecah keheningan.

" …Kita langsung bilang saja sama Aka-chin. " ujar Murasakibara sambil membuka kantong cemilannya yang entah sudah keberapa.

" HUWAAAAAAA! JANGAN! AKU BAKAL DIBUNUH SAMA KUROKOCCHI! " Kise menangis di pojokan. Lagi.

" Sudah deh, biarkan saja dia. Aku capek, nodayo. " komentar Midorima.

" MIDORIMACCHI JAHAT-SSU!"

" Kita harus mencari cara agar mereka segera berciuman dan berbaikan. " Midorima benar-benar mengabaikan Kise, tidak peduli meskipun yang bersangkutan menangis sambil berguling-guling seperti anak TK yang tidak dibelikan mainan. " Semua ini harus segera berakhir sebelum salah satu dari kita tewas, nodayo. "

Ruangan itu langsung senyap. Untuk urusan yang menyangkut otak, rasanya para member Kiseki no Sedai terlalu mengandalkan sang raja. Sekarang giliran sang raja tukang lempar gunting itu galau, semua tidak bisa apa-apa. Murasakibara cuma memikirkan makanan, Aomine dari luar sampai dalam isinya cuma ke-hentai-an, Kise kebanyakan merengek dan menangis, lalu Midorima…

" Hari ini Cancer berada di posisi ketiga dari bawah, nodayo. Berarti apapun ide yang kusarankan hari ini akan berakibat buruk. Jadi aku tidak akan membuat rencana apa pun, nodayo. "

" TERUS KALAU GITU NGAPAIN KITA RAPAT, BEGO?! "

.

.

Koridor kelas satu lantai tiga bangunan SMA Teikou Academy dihiasi kebisingan yang lebih dari biasanya. Satu kelas di ujung koridor, yang biasanya sunyi, damai, dan aman sejahtera kini berisik meskipun masih dalam tahap yang bisa dikendalikan. Itulah kelas 1-1 yang dihuni Akashi dan Midorima. Biasanya kelas itu tenang karena ada Akashi yang siap melempar gunting saktinya tiap kali ia merasa terganggu dengan lingkungan kelasnya. Tapi sekarang sang emperor sedang galau, buta akan keadaan sekelilingnya, bahkan kalau ada granat nyasar ke kelas itu dia nggak bakal sadar.

Midorima, yang biasanya mengambil keuntungan dari (kengerian) ketenangan yang diciptakan Akashi, kini pusing tujuh keliling. Dan yang membuatnya stres ini bukan hanya kebisingan kelasnya yang tidak wajar, melainkan juga kondisi Akashi yang semakin parah pasca dikatai sama pacarnya sendiri. Bagaimana tidak? Sang raja kini sering bergumam tidak jelas sambil mencorat-coret buku catatannya, berjongkok di sudut kelas disertai hawa mencekam, lalu menulis semacam surat disertai foto Kuroko. Midorima yakin, kini tinggal menunggu waktu saja hingga sang raja melakukan usaha bunuh diri.

Dan seandainya pemuda berambut merah itu tahu semua kegalauannya ini berasal dari kentut…

Kiseki no Sedai akan dibabat habis dalam satu lemparan gunting. Kecuali Kuroko tentunya.

Yang ia bisa kini hanya memompa kembali semangat pemuda bermata heterokrom itu, mengambalikan jati dirinya, menemukan kembali harkat dan martabatnya, serta mengingatkannya akan kedudukannya selama ini. Semacam kayak software yang di-install ulang, lalu di-customize. Dan kalau beneran bisa kayak gitu, ia akan menghapus setting-an auto-scissors catapult Akashi.

" Hei, Akashi. " panggilnya, memulai rencana pengembalian semangatnya. " Nanti siang mampir ke kelasnya Ku… "

" Cinta ini derita, kuharap kau juga merasa.

Apa yang kuharap tanpa banyak tanda tanya.

Rasa ini fakta, selektif bukan posesif.

Ku tak ingin berdusta, kucinta kau... " –Bondan Prakoso – Bunga-

CKRIS.

Sebuah gunting berwarna merah melayang, menyerempet lengan Sakurai Ryou, seorang pemuda polos tak bersalah di dekat jendela. Kelas hening seketika. Tangannya yang sedang memegang ponsel langsung bergetar hebat, tidak berani menoleh ke arah asal gunting itu terbang.

" Go-gomen… Ba-barusan ringtone saya… Nanti saya silent… "

" Jangan cuma di-silent! Ganti, nanodayo! Kalau perlu ganti pakai Cinta Satu Malam! "

CKRIS.

Gantian Midorima yang nyaris mati.

" Bu-bukan, nodayo! Ganti ringtone-nya sama Paranoid Doll, atau soundtrack Power Ranger kek! "

" Ta-tapi ini ringtone khusus buat pacar saya… "

CKRIS.

" IYAAAAA! SAYA GANTI! SAYA GANTI LAGU POK AME-AME! "

Pemuda malang itu pun langsung ngibrit keluar kelas sambil menangis. Midorima tutup mulut, tidak mau mempertaruhkan nyawa gara-gara asal ngomong. Sementara si pelempar gunting masih jongkok di pojokan dengan aura yang semakin mencekam.

Baru beberapa detik setelah situasi gawat itu terlewati, satu bunyi yang cukup familier kembali menggemparkan kelas.

" I hate you! Yeeee-eah!

I'm fine living without you! " -2NE1 – Hate You-

CKRIS.

Kali ini gunting sang emperor mampir pada Furihata Kouki, membuat yang bersangkutan langsung membatu. Ponsel di tangan pemuda itu terus berbunyi sambil bergetar, sepertinya sih alarm atau reminder. Entah itu memang setting ponselnya atau sudah takdir, bagian lagu yang dimainkan hanya bagian reff-nya, membuat Akashi semakin galau. Midorima, yang tidak mau (kondisinya) kondisi kaptennya itu semakin terpuruk, tanpa berpikir panjang langsung menyambar ponsel Kouki dan melemparnya keluar jendela kelas.

" PONSELKUUUUUUUUUU! " teriak Kouki dengan nada yang sama di iklan Mie S*dap.

" Akashi, yang tadi jangan dipikirkan nodayo. Kita ke kelas Ku… "

" Kimi to wakarete ninen ga tatsu ne.

Nanda ka kinou no you ni omoeru yo.

Betsu betsu no michi aruiteru kedo.

Mada sukoshi kimi no hou muite shimau yo.* " –Gazette – Shichigatsu Youka-

Gantian, Akashi yang mematung. Midorima kepingin bunuh diri, loncat dari jendela kelas.

Tahu kenapa?

Karena kali ini ponsel milik sang shooter-lah yang berbunyi.

Sebagai catatan, itu bukan ringtone asli ponselnya. Ringtone aslinya adalah soundtrack Pretty Cure yang rajin ditonton tiap hari Minggu. Kalau ringtone-nya berubah, ini pasti gara-gara keusilan si pirang tukang nangis. Tuhan, kenapa di saat nggak keren seperti ini nyawanya bakal tercabut? Dengan cara yang tidak elit pula, mati karena serangan gunting. Ditambah lagi pelakunya adalah orang yang sedang galau. Nista sekali.

" Ak-Akashi, sebentar nodayo… Akan kujelaskan… "

Pemilik mata heterokrom berambut merah yang sedari tadi jongkok di sudut perlahan berdiri, masih lengkap dengan aura hitam di sekeliling tubuhnya. Perlahan ia mulai melangkahkan kaki ke arah Midorima. Yang dituju langsung memasang posisi bertahan, kedua tangan melindungi kepala, sudah pasrah mau diapa-apakan oleh kaptennya itu.

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada rasa sakit yang menjalar akibat gunting yang mengenai sasaran. Tidak ada perih dari gunting yang menyerempet kulit. Bahkan tidak ada suara gunting yang melayang terbang. Takut-takut, Midorima memicingkan sebelah matanya, mengintip apa yang ada di hadapannya. Barangkali Akashi sudah kehabisan amunisi dan berniat mencekiknya.

Tapi ternyata dugaannya meleset. Tidak ada seorang pun di hadapannya.

Midorima menurunkan kedua tangannya dan berbalik. Dilihatnya Akashi sudah mencapai pintu kelas, tidak ada satu orang pun yang berani menghalangi jalannya. Tanpa berpikir dua kali, Midorima langsung menghampiri pemuda berambut merah itu.

" Akashi, kau mau kemana, nodayo? " sahut Midorima sambil meraih bahu sang kapten. Kalau Akashi berniat membunuh seisi gedung hanya karena ringtone-nya, ia harus menghentikannya saat ini juga, apapun taruhannya. *apacoba*

" Jangan ganggu Shintarou. " balas Akashi dalam bisikan. Ia menepis tangan Midorima dari bahunya. " Aku ingin menyendiri. "

Pemuda berambut hijau itu hanya terdiam, tidak bisa melawan. Bagaimanapun juga, (kata-kata) titah sang emperor adalah mutlak, jangan membantah kalau tidak mau ada gunting yang melayang. Akashi melenggang pergi begitu saja, meninggalkan wakil kaptennya mematung di pintu kelas. Begitu Akashi menghilang di ujung koridor, suara berisik yang seolah hilang saat Akashi mengamuk kembali mengalir.

Hanya Midorima yang masih membeku dalam posisinya. Hingga setelah satu menit terlewati, ia mendadak sadar dengan pupil yang membesar.

" AKASHI MAU BUNUH DIRI, NODAYO?! "

.

.

Kise dan Aomine, pasangan kekasih paling cetar membahana di asrama Scarlet Fox**, asrama mereka. Pasangan nano-nano paling ajaib yang pernah ada di Perguruan Teikou dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Bagiaman tidak? Aomine sang seme, berperawakan dan berkelakuan layaknya preman ganguro Shibuya, ace tim basket asrama, sekaligus mesum-ers sejati, bisa langgeng berpacaran dengan Kise si uke yang dulu sempat jadi model, berambut pirang, manja, dan berbonus cengeng. Dan kini pasangan ajaib itu sedang berjalan santai di koridor lantai dua gedung SMA sambil makan es loli.

" Eh eh, Aominecchi, itu apaan? " sahut Kise sambil menunjuk setitik kecil warna hijau di ujung koridor.

" Hah? It… "

Belum sempat Aomine menjawab, titik hijau yang ditunjuk Kise membesar dan mendekat dengan kecepatan yang menakutkan, menunjukkan sosok sang shooter dengan ekspresi yang unbelievable. Maksudnya unbelievable disini adalah sesuatu yang nggak mungkin ditunjukkan Midorima kalau dia dalam keadaan normal.

" Mid— "

Pemuda berambut hijau itu melewati mereka begitu saja. Aomine dan Kise bengong sesaat sebelum menoleh ke arah Midorima yang menjauh.

" Dia itu ngap— "

Midorima mendadak mengerem, menimbulkan bunyi decit yang memekakkan telinga. Tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun, ia berlari mundur dengan kecepatan yang sama, menghampiri duo ganguro-blonde yang masih terpana. Belum sempat kedua orang itu merespon, ia langsung menyambar Aomine dan mengguncang-guncangnya dengan sedikit histeris.

" Kalian! Cepat cari Kuroko nodayo! "

" He?! "

" Bukan ha-he-ha-he gitu! Pokoknya cepat cari, nanodayo! "

" Memangnya ada apa? " sahut Kise penasaran.

" Akashi mau bunuh diri! "

Aomine dan Kise langsung cengo. Mereka tidak salah dengar, kan? Si raja sadis berambut merah itu mau bunuh diri? Yang ada juga selama ini dia yang nyaris membunuh banyak orang dengan gunting mautnya. Lagipula dia adalah tipe yang selalu mengutamakan logika dan akal sehat, jadi bunuh diri akan ada dalam opsi masa depannya ketika logikanya sudah tak dapat lagi digunakan. Tapi ada satu yang mereka lupakan.

Cinta itu tak butuh logika.

Bagi Akashi Seijuurou, cinta itu berarti Kuroko Tetsuya.

Dan kini Akashi beranggapan kalau Kuroko membencinya. Sekarang wajar kalau sang emperor berniat bunuh diri karena kelewat galau.

Sayangnya, ada satu hal yang tidak diketahui pemuda bermata heterokrom itu tapi diketahui oleh para member Kiseki no Sedai, yaitu alasan dibalik mengapa Kuroko menghindari Akashi. Alasan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan 'bau' yang membuat Akashi mengambil langkah ekstrim untuk harum overdosis dan berakhir dengan dikatai bau oleh kekasihnya sendiri.

Kentut.

Saat sadar, baik Aomine maupun Kise cuma bisa senyum mesem-mesem, antara kepingin ketawa dan kepingin nangis. Kepingin ketawa karena jika Akashi bunuh diri, maka mereka akan terbebas dari yang namanya latihan neraka. Tidak akan ada lagi gunting yang melayang dan mempertaruhkan nyawa hanya gara-gara asal ngomong. Tapi di sisi lain, mereka kepingin nangis karena jika Akashi bunuh diri dan arwahnya tahu kalau dia mati gara-gara hal bodoh aka kentut, para member Kiseki no Sedai bakal dihantui sampai mereka gila.

" Haaahh— " Pasangan kekasih itu menghela nafas bersamaan, terjebak dalam pilihan tersulit dalam hidup mereka.

" Bukannya 'haaah—'! Cepat cari Kuroko, nanodayo! Aku tidak mau dihantui sama Akashi seumur hidup. "

Yah, ternyata dia juga takut digentayangi.

" Baiklah. Kalau sudah ketemu Akashi beritahu kami-ssu. " sahut Kise.

" Oke, nodayo. "

Tanpa mengucapkan selamat tinggal, Midorima langsung berlari lagi seperti orang kesetanan. Duo ganguro-blonde yang ditinggalkan cuma bisa mendengus pelan sebelum akhirnya mulai berlari untuk mencari sang bayangan yang keberadaannya susah sekali untuk dideteksi. Barangkali mereka harus menciptakan inovasi berupa Kuroko-radar, radar yang khusus melacak keberadaan Kuroko. Mirip-mirip Dragon-radar yang di Dragon B*ll itu loh.

" Ngomong-ngomong, si Tetsu lagi dimana, yah? " sahut Aomine.

" Di kelasnya barangkali. Kelasnya kan lagi banyak tugas-ssu. "

Beriringan, mereka berlari ke arah kelas 1-8 yang terletak di lantai satu. Lorong itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa anak yang sedang mengobrol di koridor. Dan satu sosok familiar berdiri di depan kelas yang mereka tuju. Jangkung, berambut ungu mencolok, ditambah kantong makanan yang nggak kira-kira.

" Murasakibaracchi! "

Yang dipanggil menoleh dengan tatapan malas, otaknya mencerna ingatan akan duo yang berlari ke arahnya. Sembari terus memakan maiubo favoritnya, ia menelengkan kepala seperti anak kecil.

" Ah, ternyata Preman-chin dan Cengeng-chin. " ujarnya polos.

" Hei! Aku bukan preman! " balas Aomine.

" Murasakibaracchi belum diisi sampai penuh, yah? "

Buset deh Kise. Dikira Murasakibara itu semacam truk angkutan barang apa.

" Tumben, ngapain Minechin sama Kisechin kesini? Mau minta cemilanku, ya? Nggak boleh! "

" Oh My God! " erang Aomine putus asa. Ia memang susah berhadapan dengan anak kecil yang terperangkap dalam tubuh raksasa satu ini. Masih mending menghadapi Kise yang lagi ngambek. " Bisa nggak kau nggak menyamakan kami denganmu?! "

" Minechin kan pernah menghabiskan cemilan soreku diam-diam. "

Ingin rasanya Aomine membenturkan kepalanya ke dinding saat itu juga. Kenapa sih pemuda berambut ungu itu cuma bisa mengingat dengan jelas kalau menyangkut soal makanan?! Giliran menyangkut hal penting malah nggak pernah nyambung.

" Eh, eh, Murasakibaracchi, Kurokocchi ada nggak-ssu? "

" Ng? Kurochin? Kayaknya sih tadi keluar. "

" Lama nggak? " Wajah Kise memucat.

" Mungkin. Kurochin bawa banyak kertas. "

Kise langsung mojok sambil nangis sesengukan. Sudah menceritakan hal yang seharusnya tidak ia ceritakan, bakal dibunuh sama teman sekamarnya yang unexpressiveness but adorable, dan kini ia akan digentayangi arwah sang raja gunting. Malang sekali nasibnya.

" Kisechin kok nangis? Segitunya ditinggal Kurochin? "

" Cep-cep… " Aomine berusaha membujuk pacarnya sambil mem-puk-puk-nya. " Jangan nangis lagi, nanti kita benar-benar dihantui sama si rambut merah. "

Tangisan Kise malah tambah keras.

" Ayo, udahan nangisnya! Kita masih bisa hidup kalau bisa menemukan Tetsu! "

Pemuda berambut pirang itu akhirnya berhenti menangis dan mengelap air matanya dengan seragam kekasihnya yang mirip preman itu. Sebenarnya sih Aomine ogah seragamnya dijadikan lap gratisan, tapi daripada Kise terus menangis dan mereka tidak bisa menemukan Kuroko tepat waktu…

" Murasakibaracchi, nanti kalau ketemu Kurokocchi tolong sampaikan pesanku, bisa-ssu? " sahut Kise sembari bersiap pergi, mencari harapan untuk hidup.

" Pesan? "

" Bilang para Kurokocchi, segera temukan Akashicchi. Akashicchi mau bunuh diri-ssu! "

.

.

Hampir lima menit berlalu setelah Kise dan Aomine mampir ke kelas 1-8. Sang raksasa berambut ungu masih terus makan, mulutnya bergerak tanpa henti seperti mesin yang sudah di-setting otomatis. Matanya menerawang jauh, tidak mempedulikan sekelilingnya. Bahkan kalau ada gempa bumi tujuh skala Richter pun dia tidak akan sadar. Baginya, dunianya cukup hanya dirinya dan makanan.

Oke. Ini agak melemceng dari cerita. Cukup kita singgung Murasakibara sampai di sini. Kalau tidak teman setimnya akan berakhir dengan dihantui.

" Murasakibara-kun? Kenapa masih makan sambil berdiri di sini? "

Akhirnya pemuda berambut sewarna langit yang diburu demi kedamaian dunia *lebai deh* pun menampakkan diri. Dengan wajahnya yang selalu datar, expressionless, disertai eksistensinya yang tipis, ia menengadah menatap sang raksasa yang menoleh ke arahnya dengan perlahan.

" Ah, Kurochin. " sahutnya pelan. " Tadi Preman-chin dan Cengeng-chin mencarimu. "

" Ung? Aomine-kun dan Kise-kun mencariku? Ada apa? "

" Sepertinya… tadi Kisechin meninggalkan pesan. "

" Pesan? "

Murasakibara mengangguk. Ia terdiam sambil memasukkan sebatang pocky ke mulutnya. Perlahan ia menelengkan kepalanya ke kiri. Lalu ke kanan. Lalu muncul tanda tanya imajiner di atas kepalanya. Ia berusaha lebih keras untuk mengingat apa yang dikatakan pemuda berambut blonde itu, sampai-sampai dahinya berkerut dan alisnya bertaut, mengubah wajahnya jadi menakutkan.

Buset. Padahal belum sepuluh menit sudah lupa.

" AH! " Murasakibara menepukkan kedua tangannya. Setelah bersusah payah *?* mengobok-ngobok ingatannya dengan otak yang berkecepatan tiga puluh dua megabyte, ia akhirnya mengingat pesan dari si pirang nan manja itu.

" Jadi? "

" Kuro-chin disuruh mencari Aka-chin. Aka-chin mau gantung diri. "

Kuroko langsung membatu. Kata-kata Murasakibara yang singkat, padat, dan jelas itu mendadak menjelma menjadi suatu kalimat ruwet penuh konotasi yang sulit dipahami. Otaknya yang biasa bekerja dengan tenang, kalem, dan bekerja dengan kecepatan yang stabil itu kini mendadak lemot.

Akashi. Gantung. Diri.

Kata-kata itu meresap masuk ke kepalanya dengan sangat lamban. Begitu otaknya mencerna tiga kata itu baik-baik, tubuhnya langsung bereaksi. Misdirection-nya aktif hingga level maksimum, dan kedua kakinya membawanya secepat yang ia mampu.

Ingatannya langsung menyusun tempat-tempat yang biasa didatangi kekasihnya itu. Atap sekolah? Kekasihnya itu berniat gantung diri, bukan bunuh diri dengan loncat dari atap. Lapangan basket? Mau gantung diri di ring basket? Kayaknya kurang tinggi deh. Taman belakang asrama? Sebelum bunuh diri, sudah keburu ramai duluan.

Kuroko menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Kenapa ia malah membayangkan kekasihnya tercintanya bunuh diri, sih? Lagipula bagaimana bisa belahan jiwanya yang sadis, berharga diri tinggi, dan beraura mirip raja (neraka) itu kepikiran untuk bunuh diri. Seperti bukan seorang Akashi Seijuurou saja.

Atau… Ia melakukan sesuatu yang tak termaafkan dan dia tidak menyadarinya?

Bingo.

Tapi rasanya tidak mungkin. Kalau ia melakukan kesalahan, Akashi pasti sudah menegurnya, layaknya saat mereka sedang berlatih basket. Pasti ada masalah lain yang membuat orangnya satu-satunya sampai putus asa dan berpikiran untuk mengakhiri hidupnya yang nyaris bisa dibilang sempurna.

Plis, Kuroko, Plis. Kamu pikir cinta itu sama kayak latihan basket?

" SEI-KUUUNNNN! JANGAN MATI DULUUUU! "

Untuk pertama kalinya sepanjang riwayat pendidikannya di Teikou Academy, seorang Kuroko Tetsuya berteriak. Nama pacarnya lagi. Ditambah dengan nada 'pacarku-sekarat-sebentar-lagi-akan-meninggal-kare na-mengidap-penyakit-mematikan'. Sumpah, orang tak berdosa yang mendengar teriakannya itu akan mengira ada sepasang kekasih yang sebentar lagi terpisah oleh hidup dan mati.

.

.

Sementara itu, pasangan nano-nano yang gagal menemukan sang bayangan kini getol mencari pemuda berambut merah yang notabene kapten mereka. Hampir seluruh gedung SMA mereka jelajahi, dari atap hingga aula, di lemari penyimpanan alat kebersihan, di klinik *Aomine dan Kise harus mati-matian menahan keinginan mereka untuk bercumbu di sana demi nyawa mereka*, bahkan sampai ke bilik tiap toilet.

Sayang, sang pemilik mata heterokrom itu tidak bisa mereka temukan. Pemuda yang auranya paling dikenal paling menakutkan itu kini seolah ditelan bumi. Saat tidak dibutuhkan, yang bersangkutan malah asyik-asyik lempar gunting. Giliran dia dibutuhkan demi kelangsungan hidup beberapa manusia yang satu tim dengannya, ia malah menghilang tanpa jejak.

Kini mereka sedang beriringan menuju perpustakaan, memutar lewat halaman belakang gedung SMA. Hanya tempat berisi ribuan buku itu saja yang belum mereka periksa. Seandainya Akashi tidak ada disana, tamatlah sudah.

" Hiks… Gimana-ssu? Kita nggak bisa nemu Akashicchi… Hiks… " Kise mulai sesengukan, membayangkan hidupnya yang akan berakhir sebentar lagi.

" Jangan nangis, ah! " Aomine mengelus-elus kepala kekasihnya, meski sebenarnya apa yang ia lakukan itu untuk menenangkan dirinya sendiri. " Kalau kutemukan si sadis sialan itu akan kulempar dia ke kolam di depan asrama. Bisa-bisanya sampai kepikiran buat bunuh diri segala. "

" Beneran-ssu? "

Mata Kise berbinar penuh harap, seperti anjing yang akan diberi steak oleh majikannya. Di tangan kirinya tergenggam erat sebuah ponsel dengan gantungan anak ayam menangis, di layarnya tampak sebuah tulisan 'RECORD: ON'.

" O—oi! It-itu ka— "

" Sudah kurekam-ssu! Nanti kalau ketemu dan Akashicchi malah mengomeli kita, aku akan memutar rekaman kata-katamu barusan-ssu! "

Aomine berjengit ngeri. Yang barusan itu cuma omong besarnya saja, aslinya sih mana berani dia sama sang emperor. Ia bisa membayangkan darah yang sebentar lagi tertumpah. Seandainya Akashi batal bunuh diri dan mendengar rekaman barusan, dialah yang akan mati. Apes.

Demi keberlangsungan hidupnya, Aomine mengayunkan tangannya dengan tiba-tiba, mencoba mengambil ponsel berisi rekaman terkutuk itu. Sayang, reflek Kise jauh lebih cepat. Pemuda berambut pirang itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan mulai berlari ketika sadar sang kekasih akan menghancurkan barang bukti di tangannya.

" OI, RYOUTAAA! "

" KEJAR AKU DAIKICCHI! "

Pasangan layaknya kopi susu itu berkejar-kejaran sepanjang perjalanan ke perpustakaan. Entah sejak kapan, latar belakang mereka seolah disinari oleh cahaya mentari yang lembut, taman belakang yang tidak terurus terlihat lebih rapi dan bersih seperti halaman istana Buckingham, ditambah lagi kemunculan hewan-hewan tak diundang seperti kupu-kupu, kelinci, dan anjing maltese.

Tunggu. Ini nggak salah cerita? Ini masih KuroBas, bukan Candy-Candy, kan?

Embun-embun yang seharusnya sudah menghilang kembali bermunculan, menghasilkan efek bling-bling. Kise sudah mengenakan gaun Cinderella, menunjukkan senyum menawan. Aomine sudah berbalut kostum pangeran, tersenyum memamerkan barisan gigi (kuning yang lama sudah nggak disikat) putih mengilap yang kontras dengan kulit ganguro-nya. Tinggal diberi backsound lagu India bakal lengkap deh.

Oke. Ini beneran salah cerita. Balik lagi.

Aomine, dengan tampang kayak beruang ngamuk, masih mengejar-ngejar Kise yang lari sambil cengar-cengir. Sang copycat memanfaatkan kelincahannya untuk mengelak dari serangan membabi-buta Aomine. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat, pasti terjun, eh, jatuh juga. Ia melompati semak-semak rendah tanpa menyangka ada lubang-lubang berderet yang dibuat untuk menanam pohon baru dan…

GEDEBUK.

" Gotcha! "

Aomine langsung menindih tubuh Kise yang terjerembap, memastikan agar dia tidak kabur lagi bersama dengan ponsel nistanya. Dengan kondisi masa depan yang terancam oleh Akashi dipadu dengan otak mesumnya, Aomine mendapat suatu ide yang sangat erotis.

" Ryouta, kalau kau tidak mau menghapus rekaman laknat itu, kita akan 'main' di sini. Sekarang juga. "

" Eeeehh?! "

Seringaian mesum muncul di wajah sang pemuda ganguro. Tangannya mulai bergerak nakal, menjelajahi tubuh sang blonde di atas, dari perut dan merayap perlahan ke atas. Semburat merah muncul di pipi Kise. Godaan kekasihnya itu adalah penyiksaan terkejam untuknya. Untunglah logikanya bertahan berkat ponsel di tangannya.

" Ryouta~ Hapus dong sayang~ " Aomine menyodorkan wajahnya, bibirnya mulai maju dari tempatnya.

" Hmmph…! Ng—gak! "

Usaha pemberontakan Kise tampak sia-sia bagi Aomine. Bagaimanapun juga cepat atau lambat pemuda di bawahnya itu tidak akan bisa bertahan dari serangannya, karena ia tahu Kise akan bereaksi sebaliknya, kecanduan dengan tiap sentuhannya.

" Oh? Jadi minta 'main' seka— "

" SEI-KUUUUUNNNN! "

.

.

Ketika Aomine dan Kise masih asyik berkejar-kejaran layaknya film B*llywood-nya Shahr*kh Kh*n, Kuroko—yang galau kuadrat karena belum menemukan sang kekasih yang katanya mau gantung diri—kini sedang berlari ke arah perpustakaan lewat koridor yang menghubungkan gedung SMA dan sarang (cinta mereka) buku tersebut.

Sama halnya dengan pasangan nano-nano cetar membahana yang dibahas barusan, Kuroko sudah mencari ke setiap jengkal gedung SMA tanpa membuahkan hasil. Akhirnya, setelah semakin putus asa dan takut belahan jiwanya keburu gantung diri, Kuroko memutuskan untuk melanjutkan pencariannya ke perpustakaan. Pertimbangannya, tempat itu adalah salah satu sarang cinta mereka. Err—sepertinya ini alasan yang salah. Oke, pertimbangannya adalah karena lokasinya yang nyaris selalu sepi. Cocok sekali untuk gantung diri dan baru ditemukan beberapa hari kemudian.

Memperlambat tempo lari karena tubuhnya sudah mulai berteriak memprotes, iseng-iseng pemuda tanpa ekspresi itu mengerling ke arah taman depan perpustakaan. Dan apa yang ada disana segera menyita seluruh perhatiannya. Matanya terbelalak dan ia tanpa sadar menahan nafas.

Akashi Seijuurou.

Kekasihnya.

Berdiri di taman depan perpustakaan. Lebih tepatnya, di pinggir kolam taman.

Otak Kuroko yang kecepatannya setara dengan RAM satu gigabyte itu langsung bekerja, berusaha menafsirkan pemandangan yang dilihat oleh kedua matanya.

Akashi. Gantung diri. Kolam.

Kemudian sebuah lampu imajiner menyala dalam kepalanya. Kesimpulan singkat yang bisa ia ambil adalah Akashi batal gantung diri, tapi malah berniat menenggelamkan diri.

" SEI-KUUUUUNNNN! "

Tanpa sempat berpikir lebih lanjut, tubuh Kuroko langsung bereaksi. Berlari dengan kecepatan tinggi ke arah pemuda berambut merah itu berada. Yang ada dalam benaknya hanya satu, hentikan usaha bunuh diri kekasihnya. Jika sampai gagal, ia juga akan mati. Klise memang, tapi ia tidak bisa hidup tanpa Akashi-nya.

Sang emperor masih berdiri di pinggir kolam, tidak bergerak seinci pun. Matanya terpaku pada air tak beriak di hadapannya. Saking galaunya, ia tidak mendengar suara bayangannya tercinta yang meneriakkan namanya dengan histeris. Ia menghela nafas pelan, mencondongkan tubuh untuk melihat bayangannya di atas permukaan air.

Kuroko—yang masih belum menjangkau Akashi—makin panik ketika melihat pemuda itu mencondongkan tubuhnya. Ia menambah kecepatannya, melupakan kaki yang sudah minta diistirahatkan. Ia menerjang ke arah pemilik mata heterokrom kesayangannya, bermaksud mendorongnya ke samping, menggagalkan usaha bunuh dirinya.

Sayangnya, di saat-saat terakhir Akashi mendadak membalikkan badannya. Kuroko, yang tidak menyangka kalau Akashi berbalik, menyeruduknya karena terlanjur memasang kecepatan larinya di gigi lima *dikira mobil apa?!*

BYURR.

Oke, dari suaranya saja sudah ketahuan kalau mereka berdua sukses nyemplung ke kolam. Sekarang namanya bukan usaha bunuh diri, tapi percobaan pembunuhan. Dua pemuda yang (terjun) jatuh ke kolam bergerak tidak karuan, antara kaget bertemu dengan air dan megap-megap mencari oksigen.

Sementara pasangan kekasih ajaib sedang mengerahkan usaha untuk menyelamatkan diri, sosok pasangan kopi susu berambut mencolok dari Kiseki no Sedai muncul di balik semak-semak tak jauh dari lokasi 'percobaan pembunuhan'. Mereka mengendap-endap ke tempat itu setelah mendengar jeritan histeris Kuroko.

Mereka kira jeritan itu dikarenakan Kuroko melihat sosok Akashi yang terbujur kaku, berhasil bunuh diri. Ternyata bukan. Setitik kekecewaan hadir bersama rasa lega saat mereka melihat sang bayangan menyeruduk sang emperor dengan telak.

Awalnya mereka berniat menolong dua orang yang tengah panik itu, namun setelah Kise berpikir lebih jauh *yah, nggak jauh-jauh amat, otaknya Kise kan nggak se-expert Midorima atau Akashi* mereka memutuskan untuk jadi pengamat saja. Hitung-hitung pengamanan diri kalau Akashi mendadak lempar-lempar gunting.

Di tengah kolam, dimana airnya yang jernih kini mengeruh akibat teraduknya kotoran yang mengendap di dasar, sang pemilik mata heterokrom mulai berhasil mengendalikan diri. Sedikit mengutuki diri akibat sesaat kehilangan kendali barusan, ia melirik ke arah sang pujaan hati yang masih memeluk pinggangnya erat-erat.

" Tetsuya? " Ia memicingkan sebelah matanya.

" Sei-kun… Jangan bunuh diri… "

Akashi cengo.

Bunuh diri?!

" Hei, Tetsuya. Buka matamu. " ujar Akashi. " Mana mungkin aku bunuh diri di sini? "

Kuroko tersentak, mulai menyadari ada yang sedikit tidak beres. Lututnya menyentuh sesuatu yang padat. Ia masih bisa menghirup oksigen dengan bebas. Perlahan, ia membuka matanya yang sedari tadi ia pejamkan rapat-rapat, dan…

Ingin rasanya Kuroko membenturkan kepalanya keras-keras ke dinding terdekat.

Bagaimana ia bisa lupa? Yah, wajar saja sih kalau lupa, tadi kan dia terlalu histeris. Tapi keterlaluan sekali kalau lupa bahwa kedalaman kolam itu hanya enam puluh senti. Mana mungkin ada orang yang mau menenggelamkan diri di situ? Sampai dunia kiamat juga nggak bakal bisa. Semburat merah menghiasi wajahnya akibat malu yang mendera. Namun tak sekali pun ia melepaskan pelukannya dari tubuh Akashi.

" Syukurlah… Ternyata Sei-kun tidak jadi bunuh diri… " ujarnya pelan.

" Tetsuya, dari tadi kamu ngomong soal 'bunuh diri' terus. Memangnya siapa yang mau bunuh diri? " Akashi balik bertanya.

" Sei-kun. " jawab Kuroko polos.

Akashi tambah cengo. Memangnya tampangnya kelihatan seperti orang frustasi yang sudah kepingin mengakhiri hidupnya?

Seseorang tolong berikan cermin padanya. Biar lain kali kalau galau dia bisa ngaca.

Di sisi lain, hatinya berbunga-bunga karena sang pujaan hati sudah tidak membencinya lagi dan kembali ke dalam pelukannya. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Kuroko berdiri. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. Dunianya telah kembali normal dan berwarna.

Lagipula siapa yang bilang kalau Kuroko membencinya? Kuroko cuma bilang dia BAU. Dia saja yang salah paham.

" Siapa yang bilang aku mau bunuh diri? " sahut Akashi sambil menatap bola mata sebiru langit yang dicintainya.

" Nggg… Murasakibara-kun. Tapi katanya itu pesan dari Kise-kun dan Ahomine-kun. " balas Kuroko dengan tampang innocent seorang ultimate uke.

Lagi-lagi dua orang bodoh itu. Ingin rasanya Akashi merajam mereka dengan guntingnya saat itu juga. Bisa-bisanya mereka menyebarkan berita bohong tentang dirinya. Yah, meskipun ada efek positif dari tindakan bodoh mereka.

Di saat yang sama, pasangan nano-nano yang masih bersembunyi di balik semak-semak mendadak merinding disko. Menatap lurus ke arah pemuda berambut merah di tengah kolam, mereka tahu kalau pemuda itu merencanakan sesuatu yang buruk. SANGAT BURUK.

" Kupikir… Kupikir kau membenciku… "

" Benci? " Kuroko menautkan kedua alisnya, bingung. " Aku tidak akan pernah membenci Sei-kun. "

Mendengar kata-kata itu meluncur dari mulut kekasihnya, spontan Akashi memeluknya erat-erat. Ia membenamkan wajahnya di lekukan leher orang yang dicintainya, menyesap aroma vanilla yang lama tidak ia rasakan. Kuroko balas memeluknya, menikmati curahan kasih sayang tanpa kata yang ditujukan untuknya.

Entah berapa lama mereka berada dalam posisi itu, tidak mempedulikan bahwa mereka sangat basah dan masih di tengah kolam. Akashi melepaskan pelukannya. Ia menatap bola mata sewarna langit yang digilainya. Tanpa sadar ibu jarinya mengusap pipi kekasihnya. Entah apa yang mereka berdua pikirkan—atau mereka memang sama sekali tidak berpikir—mereka hanya memandang ke kedalaman mata satu sama lain.

Perlahan, kedua wajah itu mendekat seiring tubuh yang mulai saling memeluk erat. Secara naluriah Kuroko memejamkan kedua matanya, diikuti Akashi. Dan akhirnya apa yang mereka nanti-nantikan selama ini, satu hal yang seharusnya terjadi di atap sekolah berhari-hari yang lalu, terjadi juga.

Kedua bibir itu menempel. Bertemu.

Begitu lembut. Begitu manis. Bibir Kuroko terasa manis bagai vanilla bagi Akashi, dan bibir Akashi terasa bagai… Akashi untuk Kuroko. Kuat. Dominan. Penuh otoritas.

Ciuman itu awalnya terasa sangat canggung. Namun setelah beberapa saat menikmati tekstur dan rasa bibir satu sama lain, akhirnya Akashi mengambil inisiatif untuk bergerak lebih dulu. Beberapa detik kemudian Kuroko mulai merespon. Ciuman mereka terus berlanjut ke arah yang lebih intens, dimana lidah Akashi sudah menjilati bibir kekasihnya, meminta izin untuk masuk dan mengeksplor lebih dalam. Dengan senang hati sang bayangan memberikan sebuah celah di bibirnya dan—

DUUUUUUUTT. PRET PREEET. PREEEEEET. PRET PET.

HOLY. SHIT.

Kuroko membatu seketika. Shock. Akashi perlahan menoleh ke arah dimana pasangan kopi-susu tukang bikin masalah berada. Tampaknya ia sudah menyadari keberadaan mereka berdua sejak beberapa saat yang lalu. Matanya berkilat tajam, aura membunuh memancar kuat dari tubuhnya. Kondiri Akashi saat ini mirip G*ku dalam mode Super S*iya.

Sementara yang dituju cuma bisa terdiam di tempat, takut untuk bergerak karena akibatnya bisa fatal. Nyawa mereka berada dalam ancaman gunting terbang. Kise menoleh ke arah kekasihnya dengan pandangan setengah marah-setengah kepingin nangis. Kenapa di saat krusial seperti ini kekasihnya itu nggak bisa mengerem kebiasaan kentut sembarangannya itu sih?!

" A-Akashi… Bi-bisa kami jelaskan… " cicit Aomine ngeri.

" Aku. Tidak. Perlu. Penjelasan. " Sebuah gunting berkilat berbahaya di tangannya. " MATI KAU, DAIKI! "

.

~~~~~FIN~~~~~

.


Kadzchan End-Note :

* Since I broke up with you, it's been two years, right?

Somehow it still feels like yesterday

We walk in different path right now, but

I'm still looking forward for the news about you -Gazette-Shichigatsu Youka-

** Scarlet Fox : nama salah satu asrama di Kuroshitsuji. Gw pinjem buat setting sekolahnya Kisedai. Hehehe. =)

Penasaran dengan apa yang bakal diderita member Kiseki no Sedai akibat kejadian ini? Silakan baca epilognya di postingan selanjutnya~

Thank you for reading, RnR puh-leaseee~ =)