My Troublesome Life
CrossOver:
Naruto & Infinite Stratos
Rated:
Mature (Untuk konten di dalamnya)
Pairing:
Naruto x ?
Genre:
Adventure, Action, Comedy(Maybe), Drama, Sci-Fi and etc.
Summary:
Hidup ini memang sangat merepotkan sampai-sampai diriku sudah bosan untuk menjalaninya, tapi terkadang hal yang tak terduga sering kali membuat hidup ini lebih seru. Terkadang pula aku bingung dengan jalan pemikiranku sendiri.
...
...
...
Sepuluh tahun yang lalu ketika umurku kira-kira 2 tahunan, aku mendapatkan seorang adik laki-laki dari ayah dan ibuku. Aku merasa senang karena kini aku tak sendirian lagi, aku bisa mengajaknya bermain setiap saat. Itulah yang ada dipikiranku saat itu.
Namun, ayah dan ibuku sepertinya tidak senang dengan adikku ini. Padahal ketika aku melihatnya, dia begitu polos dan imut dengan tiga goresan tipis seperti kumis kucing itu di masing-masing pipinya. Setelah ayah menjelaskan ketidaksenangannya karena adikku itu memiliki kelainan pada jantungnya, tentunya itu merubah pola pikirku terhadap adikku sendiri.
Siapapun yang membuat orang tuaku tidak senang, pasti aku akan membencinya sampai kapanpun. Dan itu berlaku pada adikku sendiri...
Aku tidak begitu mengerti darimana kebencian itu datang, namun aku tidak pernah ingin menemuinya semenjak saat itu...
Sampai ketika umurnya menginjak usia 5 tahun dan diriku 7 tahun, aku kembali bertemu dengan adikku itu walaupun terbilang sebentar karena ayah mengajakku pergi ke sebuah pesta dan ingin menyatakan jika aku adalah pewaris di keluarga Namikaze. Dia memaksa untuk ikut bersama ayah ke pesta tersebut, namun ayah memarahinya dan memaksanya kembali ke kamar. Entah kenapa aku senang melihatnya dimana orang yang kubenci menderita.
Dia tumbuh menjadi anak yang cukup tampan dengan wajah polosnya serta imut dengan garis tipis di pipinya, tapi aku belum menyadarinya saat itu. Aku masih dibutakan oleh kebencian tak beralasan pada adikku itu.
Menurut ayah dan ibuku, mereka menyewa seorang pelayan untuk mengurusi kehidupan adikku itu. dengan kata lain, semua kegiatan dalam hidupnya diurusi oleh seorang pelayan. Aku juga tak pernah melihatnya bergabung di meja makan ketika kami sarapan atau makan malam, aku merasa senang karena tidak melihat wajah dari orang yang kubenci.
Suatu hari, ketika pertengahan musim semi berlangsung, pelayan yang mengurusi Naruto tiba-tiba mengatakan jika adikku itu menghilang dari kamarnya bahkan ketika dirinya mencari di setiap sudut mansion, dia sama sekali tak menemukannya. Dia yakin jika Naruto menghilang.
Ayah dan ibuku sama sekali tak mau ambil pusing dan membiarkannya karena menurut mereka Naruto pasti tak akan pergi jauh mengingat kondisinya, mereka yakin dalam beberapa jam Naruto akan pulang.
Tapi keyakinan ayah dan ibuku itu tidak terbukti sama sekali, satu hari penuh tak ada tanda-tanda jika Naruto kembali pulang ke mansion. Pelayan yang mengurusi Naruto langsung menghubungi pihak kepolisian dan menganggap jika Naruto memang menghilang, entah itu karena melarikan diri atau diculik.
Pihak kepolisian melakukan hal terbaik untuk mencari keberadaan Naruto saat itu, pelayan yang sering mengurusi Naruto sering kali berdiam diri di kamar milik Naruto sambil berharap jika tuan mudanya itu kembali dengan selamat. Itu berlangsung selama beberapa hari.
Pada hari kesepuluh masa pencarian kepolisian menemukan sebuah kaos yang sering kali dipakai oleh Naruto dan disana terdapat bercak darah yang sudah mengering, pihak kepolisian sendiri menemukan kaos itu tersangkut di sebuah ranting di pinggir sungai yang arusnya cukup kencang dan lumayan dalam. Mereka juga sudah menelusuri sungai itu, namun tak menemukan petunjuk kembali.
Pelayan itupun langsung menangis histeris dan menyalahkan dirinya karena dirinya lalai dalam menjaga Naruto dan pihak kepolisian sendiri menghentikan pencarian serta menyatakan jika Naruto meninggal karena terseret arus air sungai tanpa diketahui dimana jasadnya.
Aku begitu senang karena orang yang kubenci itu menghilang seutuhnya dari keluarga ini, tapi aku melihat ayah begitu sedih dan ibu bahkan menangis dipelukan ayahku. Aku sama sekali tak mengerti sekarang, mereka tidak senang dengan kehadiran Naruto, tapi kenapa mereka malah menangisi anak itu ketika dia sudah hilang sepenuhnya.
Seminggu setelah itu, pelayan yang ditugaskan untuk mengurusi Naruto memilih untuk berhenti bekerja di mansion kami. Alasan keberadaannya disini hanya karena Naruto, jika Naruto tidak ada berarti tenaganya sudah tak dibutuhkan lagi.
Kedua orang tuaku menawarinya untuk tetap bekerja disini dan mengurusku sebagai gantinya dan gajinya akan dilipat gandakan, namun pelayan itu tetap menolak dan memilih berhenti bekerja.
Semenjak saat itu, berita buruk menyebar tentang keluarga Namikaze yang lalai dalam membesarkan anak. Itu membuat martabat dan harga diri keluarga Namikaze runtuh secara perlahan, masih beruntung jika perusahaan keluarga Namikaze itu tidak bangkrut.
Pada suatu malam, aku berinisiatif untuk masuk ke dalam kamar pribadi milik Naruto yang sama sekali tak dikunci. Di ruangan itu hanya ada ranjang yang cukup besar dengan nakas kecil di sampingnya, meja belajar beserta raknya yang diisi beberapa buku, karpet yang cukup luas serta meja makan beserta kursinya yang bersebelahan langsung dengan jendela kamar. Ini berbeda sekali dengan kamarku yang super duper mewah bahkan disini tak ada mainan satupun.
Aku mencoba untuk duduk di kasur yang biasa Naruto pakai, meskipun empuk tapi aku bisa merasakan kesendirian tanpa ada sentuhan orang tua disana. Pandanganku teralihkan pada bingkai foto dimana terdapat foto Naruto beserta pelayan itu dan itu merupakan satu-satunya foto yang ada di dalam kamar tersebut. Berbeda dengan kamarku yang penuh dengan foto dalam berbagai momen, bahkan aku memiliki album juga.
Hatiku terasa seperti ditusuk ketika melihat foto tersebut, Naruto terlihat sangat bahagia bukan dengan ayah maupun ibu tapi dengan pelayan yang selalu mengurusnya. Berbanding terbalik denganku, yang hampir 80% fotoku pasti bersama dengan ayah maupun ibu.
Pandanganku teralihkan pada buku bersampul biru yang dibiarkan tergeletak di atas meja belajar milik Naruto, kuhidupkan lampu kecil yang hampir berdampingan dengan buku bersampul biru tadi. Dengan rasa penasaran yang tinggi membuat kedua tanganku bergerak untuk membukanya, hal pertama yang kulihat dari buku itu adalah nama Naruto (yang ditulis dalam huruf kanji).
Meskipun terlihat tidak rapi namun aku bisa membacanya dengan jelas, apa mungkin jika ini adalah buku harian miliknya? Rasa penasaran itu terus mendorongku untuk membuka halaman selanjutnya, dimana terdapat tanggal dan deretan tulisan yang tidak begitu rapi disana.
Buku itu berisi penuh dengan kesan, keluh kesah dan pengalaman yang dialami oleh Naruto. Terkadang aku menyadari jika tulisan yang dibuatnya merupakan isi hatinya yang tak bisa ia ungkapkan kepada orang lain, perasaanku seolah-olah tercabik-cabik oleh tulisan itu bahkan tanpa aku sadari jika aku menangis karena membaca buku tersebut.
Aku tak menyangka jika Naruto sangat menderita dan sengsara di usianya yang seharusnya bisa merasakan kesenangan, jika saja aku tidak termakan oleh pemikiran bodoh dan dangkal itu pasti aku bisa menemaninya dan menyemangatinya setiap waktu.
Kenapa aku baru menyadarinya ketika dia sudah tak ada? Tapi apakah aku boleh berharap jika suatu hari aku bisa bertemu dengannya dan meminta maaf karena aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untuknya?
Itu mustahil!
Tapi...
...
...
...
Di sebuah kamar yang cukup luas yang berisi dua ranjang yang cukup untuk dua orang disertai dengan nakasnya, meja belajar yang cukup besar dan dua lemari untuk pakaian penghuni kamar tersebut.
Pada salah satu ranjang di kamar tersebut, terdapat seorang perempuan berambut pirang panjang yang terurai dengan posisi telungkup sambil memeluk bantal empuk tempat kepalanya bersandar. Raut wajah dan sorot matanya menunjukan kesedihan yang sangat mendalam, bahkan dia juga melewatkan jam makan malam.
Pikirannya masih terpenuhi oleh masa lalunya tentang Naruto yang dinyatakan meninggal karena hilang terbawa arus sungai, tapi beberapa jam yang lalu, dia baru saja bertemu dengan adiknya yang hilang itu. Apa artinya harapannya itu terkabul?
"Naruto," gumamnya dengan sangat pelan, entah sudah berapa kali dirinya memanggil nama itu. Ia masih ingat betapa besar, kasar dan hangatnya tangan adiknya itu ketika menggenggam tangannya. Itu pertama kalinya dirinya bersentuhan dengan adiknya.
Clekek!
Blam!
Dia mendengar suara pintu kamarnya terbuka kemudian tertutup lagi menandakan jika teman sekamarnya itu sudah kembali dari acara makan malamnya di kantin, tapi ia sama sekali tak menggubrisnya. Sebenarnya dia ingin tidur tapi matanya sulit sekali untuk terpejam.
"Naruko! Aku membawakan makan malammu, kau tak akan bisa tidur jika perutmu dalam keadaan kosong lho," ucap perempuan berambut biru terang dengan potongan pendek yang sudah meletakan nampan berisi makan malam untuk teman sekamarnya di meja belajar yang sangat besar itu.
"Tatenashi... sudah kubilang aku tidak lapar," ucap Naruko tanpa semangat hidup sama sekali.
"Mou... kau itu kenapa sih? Daritadi kelakuanmu seperti mayat hidup saja, tidak seperti biasanya," ujar Tatenashi yang berjalan mendekati ranjang Naruko dan duduk di pinggirannya "Apa terjadi sesuatu tadi?" tanya Tatenashi yang ingin tahu.
"Tidak ada apa-apa," jawab Naruko dengan singkat dan masih tanpa semangat.
"Hmm... kau yakin tidak ingin menceritakannya?" tanya Tatenashi dengan senyum jahil terukir di bibirnya kemudian salah satu tangannya merayap ke salah satu paha putih mulus milik Naruko dan mengelusnya perlahan "...Atau kamu ingin aku memaksamu agar kamu menceritakannya, hmm?" tanya Tatenashi lagi.
"Yaaahhn!" Naruko langsung membalikan badannya dan menarik kakinya agar tangan jahil Tatenashi tidak mengelus pahanya lagi, dia akan mengeluarkan suara aneh jika pahanya dielus seperti itu "T-Tatenashi... j-jangan elus pahaku seperti itu," ucap Naruko kesal yang kini sudah dalam posisi duduk sambil memeluk bantalnya.
"Hehe... itu satu-satunya cara agar kau tidak murung lagi," ucap Tatenashi tanpa merasa bersalah sama sekali "Jadi, mau cerita?" tanya Tatenashi sekali lagi agar Naruko menceritakan masalah yang sedang dialaminya itu.
"Mmmm... aku bertemu lagi dengan adikku," jawab Naruko dengan singkat disertai tatapan kosong dari kedua matanya, itu pertemuan yang sangat singkat.
Tatenashi yang mendengar itu tentunya terkaget "Yang benar? Memangnya dimana? Bukankah kamu bilang adikmu itu sudah lama meninggal?" rentetan pertanyaan itu terlontar dari mulut Tatenashi layaknya sebuah kereta api.
Naruko mengangguk kecil "Aku bertemu dengannya saat aku ingin mengambil buku yang tertinggal di kelas, kami tak sengaja bertubrukan dan dia menolongku," jelas perempuan itu dengan matanya yang sudah berkaca-kaca seperti ingin menangis "Tapi kenapa? Kenapa dia tak mengenaliku?" tanya Naruko pada Tatenashi tentunya.
Perempuan berambut biru terang itu mengerti dengan apa yang dirasakan oleh teman sekamarnya ini "Sudahlah, mungkin terjadi sesuatu padanya hingga dia tak bisa mengingatmu. Katamu, adikmu itu hanyut terbawa arus sungai, 'kan? Kemungkinan besar, kepalanya terbentur kemudian mengalami hilang ingatan hingga tak bisa mengingatmu. Nanti juga kalau dia sembuh, dia juga akan mengingatmu lagi," hibur Tatenashi sambil menepuk dan mengelus rambut pirang Naruko.
"Jika itu terjadi, butuh waktu yang lama agar dia sembuh dan bisa mengingatku lagi," Naruko tak ingin itu terjadi, dia berharap Naruto bisa mengingatnya meskipun pertemuan mereka dulu ketika masih kecil hanya bisa dihitung dengan jari tangan.
"Tenang saja, aku akan membantumu menyembuhkannya," ucap Tatenashi yang berusaha menenangkan Naruko.
"Bicara memang mudah."
"Hey, Naruko. Apa adikmu yang kau bicarakan ini memiliki rambut pirang sepertimu yang jabrik dan acak-acakan lalu memiliki tanda seperti kumis kucing di pipinya dan sangat suka sekali dengan ramen?" tanya Tatenashi yang baru menyadari sesuatu dalam pikirannya.
"Iya, tapi darimana kau tahu? Seingatku, aku tak pernah menceritakannya serinci itu padamu," tanya Naruko dengan tatapan penuh menyelidik.
Tatenashi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Naruko "Tadi aku melihatnya di kantin, dia memiliki selera makan yang sangat tinggi terhadap ramen. Aku tak menyangka jika adikmu seimut itu, bolehkan jika aku berpacaran dengannya?" goda perempuan itu pada Naruko.
"A-apa yang kau katakan? Jelas-jelas aku tak akan menyerahkan adikku itu padamu, Tatenashi," ucap Naruko yang terlihat kesal karena godaan dari teman sekamarnya itu.
"Ayolah, kakak ipar! Restui aku dengan adikmu itu, aku pasti akan menjaganya sebaik mungkin kok, ya?"
"Tidak, Tatenashi. Dia itu adikku dan hanya aku yang boleh memilikinya."
"Hmm, begitu. Kalau begitu aku akan merebutnya darimu."
"Coba saja kalau bisa!"
...
...
...
Laki-laki pirang yang sudah siap dengan seragam Akademi IS-nya itu hanya berdiri mematung dengan ekspresi aneh di wajahnya ketika melihat kantin asrama itu terlihat masih sangat sepi walaupun waktu sudah hampir menunjukan pukul 7 pagi, meskipun terbilang satu jam lagi sebelum kelas pembelajaran dimulai tapi seharusnya ada satu atau dua orang disini.
"Tapi ini lebih baik daripada direcoki banyak perempuan, aku tak bisa makan dengan tenang," gumam Naruto sambil melangkahkan kakinya mendekati meja tempat memesan makan, dia tak menyangka jika ramen buatan sekolah ini sangat enak. Mungkin jika dia menikmatinya lebih tenang lagi, rasanya pasti akan dua kali lipat sangat enak dari sebelumnya.
"Permisi, Obaa-san!" ujar Naruto pada wanita paruh baya yang ada di sisi lain dari meja pesanan tersebut, menurutnya wanita itu cukup ramah.
"Ah, Naruto ya. Kau terlalu pagi datang kesini, apa kau ingin mengambil sarapan?" tanya wanita tersebut dengan ramahnya, dia bisa hapal nama itu karena hanya ada dua laki-laki di asrama ini dan dia dapat membedakannya dengan teliti.
"Ya, Obaa-san. Aku ingin memakan ramen buatan bibi yang sangat enak itu, apa boleh?" pinta Naruto yang berharap jika wanita itu sudah menyediakan makanan kesukaannya itu, dia memang sudah terbiasa memakan ramen setiap hari baik itu pagi, siang ataupun malam.
"Terima kash pujiannya, tapi apa tak apa-apa jika kau sarapan dengan ramen pagi-pagi begini?" tanya balik wanita tersebut.
"Tak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan makanan itu. Rasanya kurang jika aku tidak memakan ramen," jawab Naruto dengan seringai rubahnya terukir di bibirnya.
"Baiklah, tapi kau juga harus memakan makanan yang bergizi sesekali. Memakan ramen setiap saat juga tak baik untukmu," ucap wanita tersebut yang tengah memberikan saran kepada remaja pirang yang ada di depannya sambil menyediakan makanan yang dipesan oleh Naruto.
"Yah, akan aku usahakan."
"Ini dia ramen spesialnya," ucap wanita itu sambil menyerahkan nampan yang diatasnya terdapat semangkok ramen dengan berbagai macam topping diatasnya seperti daging, kue ikan, dan sayuran.
"Terima kasih banyak, Obaa-san."
"Sama-sama!"
Naruto pun mengangkat nampan itu menuju salah satu meja dimana terdapat kursi melingkar disana, letaknya berada di pinggiran ruangan kantin asrama tersebut. Suasana tenang inilah yang sangat ia rindukan, dia bisa makan dengan lahap jika seperti ini.
Dia mengambil sumpit yang sudah disediakan dan membelahnya menjadi dua bagian kemudian mengaduk ramen itu agar semua bumbunya merata, asap yang membawa aroma kuah ramen itu menusuk indra penciumannya.
"Selamat makan!" seru Naruto yang selanjutnya mulai memakan ramen tersebut "Enak!" pujinya ketika merasakan rasa dari ramen tersebut.
"Apa aku boleh duduk disini?"
Mendengar suara seseorang yang meminta ijin kepadanya membuatnya berhenti melahap ramen dan menatap siapa yang meminta ijin untuk duduk di kursinya yang masih kosong itu "Ya, pakai saja," jawab Naruto yang terlihat pasrah saat mengijinkan adik dari Tabane itu duduk di kursi kosongnya.
"T-terima kasih," perempuan itu duduk sambil meletakan makanan yang dipesannya diatas meja yang sama dengan laki-laki pirang itu, makanan perempuan itu terlihat bergizi dan seimbang menurut Naruto.
Naruto kembali menyumpit beberapa helai mie ramen itu dari mangkoknya dan Houki juga memulai sarapannya tanpa berkata apapun lagi, suasana hening menyelimuti kedua insan yang tengah menikmati sarapannya. Tak ada satupun dari mereka yang mau membuka suara.
Houki sendiri tak tahu kenapa dirinya malah ingin duduk bersama Naruto, tapi melihat Naruto memakan makanannya sendirian, itu malah mengingatkannya dulu ketika dirinya masih bersama dengan Tabane. Dia bisa melihat betapa lahapnya anak itu memakan makanannya meskipun hanya sendirian, mengingat masa itu membuat dorongan kepada Houki untuk mendekatinya.
"Jadi, bagaimana kabarmu sekarang, Shinonono-san?" tanya Naruto yang berinisiatif untuk membuka suaranya pada perempuan itu, walau bagaimanapun perempuan itu adalah adik dari orang yang mengurusinya selama ini.
Houki yang tiba-tiba saja diberi pertanyaan seperti itu sedikit terkejut dan bingung untuk menjawab apa "Ya, seperti yang kau lihat aku baik-baik saja... d-dan...," Houki menghentikan perkataannya seakan ragu untuk menyampaikan kata-kata untuk selanjutnya.
Naruto yang tengah melahap ramennya itu malah terhenti dan menatap kearah Houki dengan tatapan ingin tahu "Dan... apa?" ucap Naruto yang mengulangi perkataan terakhir dari Houki, dia juga bingung kenapa perempuan itu tiba-tiba bungkam.
"Dan... panggil aku Houki saja," ucap Houki dengan nada yang sangat pelan.
"Eh? Apa kau serius dengan itu, Shinonono-san?" tanya Naruto yang sedikit tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh perempuan di depannya ini.
"Apa wajahku ini terlihat sedang bercanda menurutmu?" tanya balik Houki ditambah dengan ekspresi kesal di wajahnya, jika dia tak serius tak mungkin dirinya ragu untuk mengatakan semua itu pada Naruto.
"Tidak, masalahnya kita dulu tak pernah mengobrol seperti ini. Jadi, jika itu maumu, aku tak bisa menolak," jawab Naruto yang menunjukan seringai rubahnya pada Houki, tentunya dia sangat senang bisa mengobrol santai seperti ini dengan Houki "Kau juga boleh memanggilku Naruto," tambahnya.
"Y-ya, kurasa kita bisa mulai lebih akrab dari sekarang," balas Houki yang terlihat gugup karena perkataan Naruto sambil memakan sarapannya lagi.
Mereka berdua akhirnya melanjutkan sarapannya dengan diselingi obrolan-obrolan ringan tentang keseharian mereka selama mereka berpisah beberapa tahun ini, jarak diantara mereka berdua akhirnya bisa menghilang walaupun masih terlihat canggung satu sama lain.
"Naruto?" panggil Houki pada laki-laki yang ada dihadapannya ini.
"Ya, Houki. Ada apa?" jawab Naruto yang tengah menikmati ramennya yang hampir habis di mangkoknya itu, perempuan itu pasti ingin mengatakan sesuatu padanya.
Houki terlihat senang ketika mendengar Naruto memanggil namanya, namun ekspresi itu tak bertahan lama dan digantikan dengan ekspresi yang sedikit serius "Apa kau datang ke Akademi ini karena paksaan dari kakakku?" tanya Houki yang ingin meminta kejelasan dari pertanyaan yang selalu berputar di kepalanya itu.
Naruto menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang sangat empuk itu setelah menyeruput mie ramen itu ke dalam mulutnya "Ya, awalnya aku mengira jika itu adalah paksaan. Tapi aku tahu, dia menginginkan sesuatu yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya. Makanya aku tidak protes lagi ketika dia menyuruhku kesini," jawab Naruto dengan disertai senyuman ramahnya.
"B-begitu ya," gumam Houki yang paham dengan jawaban yang diberikan oleh Naruto, sepertinya Naruto memang lebih memahami kakaknya.
"Lagipula aku sudah berjanji padanya supaya menjagamu selama aku bersamamu dan kebetulan sekali kita sekelas," ujar Naruto yang menunjukan seringai rubahnya pada Houki kemudian menghabiskan ramen yang tersisa di mangkoknya dengan sekali tenggakan.
"E-eh...? A-aku bukan anak kecil lagi yang harus dijaga, tahu," sanggah Houki yang terlihat terkejut mendengar pernyataan dari Naruto, itu terdengar seperti seorang laki-laki yang sudah mendapat restu dari kakak iparnya supaya bisa menjaga adiknya.
"Ahhh... Yah, aku tahu, kau itu sudah dewasa. Tapi mana mungkin aku menarik sebuah janji pada seseorang, aku harus tetap menjaganya sampai kapanpun," balas Naruto yang meletakan mangkok kosongnya di atas nampan yang sebelumnya dibawa bersamanya.
"K-kau... sama sekali tak berubah ya," gumam Houki ketika mendengar perkataan Naruto sebelumnya.
"Houki?" sekarang giliran Naruto yang memanggil perempuan itu.
"Y-ya?" balas Houki dengan singkat.
"Bisa temani aku jalan-jalan sebentar setelah ini dan menunjukan beberapa tempat? Yang kau tahu saja juga tak apa-apa kok," pinta laki-laki pirang itu sambil menyatukan kedua telapak tangannya menandakan jika dia memohon dengan sungguh.
"Ya... jika kau tak masalah denganku, aku juga tak akan menolak," jawab Houki yang kembali melahap sarapannya yang ada di depannya.
"Terima kasih, kau memang baik," puji Naruto dengan menunjukan cengiran lebarnya.
...
...
...
"Uwah! Dia benar-benar imut dan gagah disaat yang bersamaan."
"Kudengar kemarin dia mengalahkan Orimura-kun dalam duel latihan, padahal dia sama sekali tidak menaiki IS, lho."
"Dia memang tipe laki-laki sejati."
"Aku benar-benar ingin berpacaran dengannya."
'Apa inikah yang disebut dengan fansgirl dadakan? Aku benar-benar masuk ke dalam kandang macan.'
Saat ini, laki-laki pirang yang tengah menjadi perbincangan hangat diantara para perempuan di Akademi IS itu sedang berjalan di koridor dimana dirinya sekarang melewati beberapa kelas untuk sampai di kelasnya. Setelah dirinya berjalan-jalan dengan Houki untuk menunjukan beberapa bagian dari akademi tersebut, dia menyuruh Houki untuk berangkat terlebih dahulu ke kelasnya.
Bukannya dia tak mau berangkat bersama, tapi dia tahu para perempuan sering kali terpicu pada hal yang berbau persaingan apalagi jika berhubungan dengan lawan jenisnya. Daripada dia nantinya memicu sesuatu yang merepotkan, lebih baik dirinya berjaga-jaga saja supaya para perempuan itu tidak melakukan hal yang merepotkan nantinya.
Perjalanannya menuju kelasnya sendiri terasa sangat panjang seolah-olah koridor ini memiliki panjang berpuluh-puluh kilometer, ini deritanya jika bersekolah di Akademi yang 99,99% diisi oleh perempuan.
Jika orang-orang menganggap jika Akademi ini adalah sebuah surga, maka dirinya akan menganggap sebaliknya. Keagresifan yang mereka tunjukan sangat terlihat jelas, bahkan dia sudah bisa merasakan aura persaingan sesama perempuan baik diantara kakak kelas atau teman seangkatannya.
Sssseesshh!
Pintu otomatis yang ada di depannya terbuka dengan lebar memperlihatkan kelasnya yang ramai akan murid perempuan dan sebagian besar dari mereka berkumpul di sekitar bangku Ichika, setidaknya bukan hanya dirinya yang merasakan kerepotan karena perempuan. Tapi Ichika ini orangnya tidak terlalu peka, jadi mana mungkin dia bisa merasakan hal seperti itu.
"Yo, Ichika! Hari yang indah, bukan?!" sapa Naruto pada Ichika sambil berjalan menuju bangkunya yang bersebelahan, dia juga memberikan senyuman ramah kepada beberapa perempuan yang berkumpul di bangku Ichika.
"Oh, Naruto-san. Ya, hari ini memang sangat indah seperti biasanya," ucap Ichika yang membalas sapaan dari laki-laki pirang itu, setidaknya dia tidak merasa kesepian dengan adanya Naruto yang memiliki nasib yang sama sepertinya.
"Ne, Uzumaki-kun?"
Baru saja Naruto mendudukan dirinya di kursi, dia sudah mendengar marganya dipanggil oleh seseorang dan yang memanggilnya adalah perempuan yang ia mintai tolong supaya menunjukannya nomor kamar asrama yang sebelumnya diberikan oleh Chifuyu. Di bangunan yang sebesar itu, mana mungkin dirinya tidak tersesat, terkadang dia lupa harus berbelok di persimpangan sebelah mana agar sampai di kamarnya sendiri.
"Takatsuki-san, ya?" ucap Naruto yang menyebutkan marga dari perempuan berambut biru gelap pendek yang berdiri di hadapan mejanya "Oh ya, Terima kasih atas yang kemarin ya. Itu sangat membantu, kau tahu," tambahnya.
Perempuan itu tersenyum senang ketika mendengar marganya dipanggil dan ucapan 'Terima kasih' dari laki-laki pirang tersebut "Tidak perlu berterima kasih, Uzumaki-kun. Aku juga senang bisa membantumu," ucap perempuan itu yang memiliki nama lengkap Shizune Takatsuki.
"Hmm... tapi tetap saja, kurasa ucapan 'Terima kasih' saja belum cukup," ujar laki-laki pirang itu, setidaknya dia juga harus membalas pertolongan dari Shizune itu dengan sesuatu yang setimpal juga.
"Bagaimana kalau Uzumaki-san ikut makan siang bersama kami saat istirahat nanti? Kebetulan kami membuat makanan lebih," celetuk salah satu perempuan yang ada di samping Shizune, menurutnya peluang langka seperti ini tak boleh disia-siakan.
Naruto sedikit mempertimbangkan tawaran tersebut "Memangnya tidak apa-apa kalau aku bergabung? Malah nanti aku yang mengganggu kalian," dia hanya ingin menanyakan keyakinan Shizune dan temannya itu tentang ajakan yang ditawarkan padanya.
"Tak apa-apa kok, hitung-hitung Uzumaki-kun mencoba masakan buatan kami," ucap Shizune dengan menunjukan senyuman ramahnya, dia malah senang jika laki-laki pirang itu bergabung dalam acara makan siang mereka.
"Baiklah, jika kalian memang tidak keberatan," Naruto akhirnya menyanggupi tawaran tersebut setelah kedua perempuan itu yakin untuk mengajaknya, kedua perempuan itu juga terlihat senang mendengar jawaban darinya.
"Ah, curang! Aku juga mau makan siang bersama Uzumaki-san."
"Aku juga membuat makanan enak khas daerahku, lho. Uzumaki-kun harus mencobanya, ya?"
"Hey, aku juga ingin makan siang bersamanya, tahu!"
Sementara Naruto hanya mengeluarkan tawa canggung yang terlihat aneh ketika melihat kelakuan dari beberapa perempuan yang sudah mengitari bangkunya 'Pada akhirnya aku malah seperti pencicip masakan mereka siang nanti, dasar menyusahkan,' ucapnya dalam hati sambil menggaruk pipinya yang sama sekali tak gatal.
Dia menolehkan kepalanya kearah samping kiri setelah merasakan ada seseorang yang memperhatikannya dan melihat Houki yang juga tengah menatapnya, Naruto hanya menunjukan cengirannya pada perempuan itu yang dibalas oleh Houki dengan memalingkan wajahnya kearah jendela.
'Sepertinya aku lagi yang salah disini...'
...Dan setelahnya, wali kelas dan asisten wali kelas, Chifuyu dan Maya masuk ke dalam kelas membuat gerombolan perempuan itu membubarkan dirinya dan duduk di bangkunya masing-masing kemudian bimbingan kelaspun dimulai.
...
...
...
"Hah... Aku benar-benar kekenyangan hari ini, bisa-bisa aku tidak akan makan sampai besok," gumam laki-laki pirang yang tengah tiduran di atas rerumputan sambil bertumpang kaki dengan menggunakan kedua tangannya sebagai bantalan tidur, kepalanya menatap kearah langit yang letaknya sangat jauh itu dengan tatapan datar.
Memang sangat enak jika tidur setelah perut terisi penuh dengan makanan, bisa dibayangkan bagaimana nyenyaknya tidur seseorang setelahnya. Seperti itulah yang sekarang dirasakan oleh laki-laki tersebut, setelah menemani para perempuan yang mengundangnya makan siang itu di kantin, dia memilih untuk kembali tapi bukan ke kelasnya namun atap Akademi yang terasa nyaman untuknya.
Matahari yang belum mencapai puncak tertingginya juga membuat sinarnya tak terasa menyengat di kulitnya, malah mendukung rasa kantuk yang dialaminya sekarang ini. Padahal dirinya masih memiliki kelas untuk diikuti...
"Mungkin bolos satu jam tak akan jadi masalah, lagipula aku sudah paham betul dengan teori IS itu sejak dulu," monolog laki-laki tersebut sambil menyamankan posisi tidurnya, lagipula dirinya juga butuh penyegaran setelah beberapa teori bersarang di otaknya. Jadi, biarkan dirinya beristirahat untuk sejenak saja.
Kedua kelopak matanya mulai terpejam berusaha mengantarkan kesadarannya sendiri menuju alam mimpi baik yang indah ataupun yang buruk, mungkin jika mimpi bisa memilih, mungkin dia hanya ingin mimpi yang indah saja dalam tidurnya.
Belum dua menit berlalu semenjak dia menutup kedua kelopak matanya, insting pendeteksinya berkata jika sekarang ini ada seseorang yang sedang memperhatikan kegiatannya. Sebagai petarung, kelima indranya dituntut untuk lebih peka dan lebih sensitiv. Dalam jarak kurang dari satu meter itu, dia bisa merasakan dengan jelas kehadiran orang tersebut.
Remaja laki-laki itu membuka matanya dengan perlahan dan membuat orang yang duduk tepat bersebelahan dengan kepalanya itu terkejut kemudian memalingkan wajahnya ke samping seolah tak mau jika wajahnya itu terlihat oleh Naruto.
"Kau... yang kemarin itu, kan?" tanya Naruto tanpa mengubah posisinya sambil menatap pada perempuan yang duduk di samping kepalanya, melihat dan mengingatnya sebentar membuat dirinya ingat pernah bertemu perempuan itu sore kemarin.
"Uhm... Apa aku mengganggu tidurmu?" tanya perempuan itu sedikit ragu-ragu dan takut jika laki-laki itu akan marah karena acara tidurnya terganggu karena keberadaannya disana, dia juga tak tahu dorongan apa yang membuat dirinya mengikuti laki-laki itu kesini.
Dia bangkit dari posisi tidurnya sambil mengangkat kedua tangannya keatas berusaha untuk merenggangkan ototnya "Tidak, lagipula aku hanya sedang menikmati angin disini," jawaban yang dilontarkannya tidak semuanya bohong, dia memang sedang cari angin di atap Akademi itu.
"Begitu," balas perempuan itu dengan pelan, suasana kembali hening hingga mendatangkan kecanggungan untuk mereka berdua. Tak ada yang bisa dilakukan selain diam seribu bahasa layaknya orang bisu, tapi tiba-tiba perempuan itu mendapatkan topik pembicaraan yang mungkin saja menarik perhatian Naruto.
"Terima kasih ya, untuk yang kemarin," ucap perempuan itu dengan senyuman kecil merekah di bibir tipisnya, jika saja mereka tidak bertabrakan kemarin sore, mungkin perempuan itu tak akan mengetahui jika adiknya itu ada di Akademi ini.
Naruto menolehkan kepalanya kearah perempuan itu dengan senyuman ramah yang terpasang di bibirnya pula "Jangan terlalu dipikirkan. Kita memang sama-sama tidak berhati-hati kemarin, masih untung sih tak ada yang terluka," balasnya yang mengubah posisi kakinya menjadi bersila sekarang "Oh ya, kemarin kalau tidak salah kau menyebut namaku, kan?" tanya Naruto yang sepertinya menuntut jawaban pasti dari perempuan yang memiliki rambut sama pirangnya dengan dirinya.
Perempuan itu, Naruko sedikit terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan oleh Naruto "Y-ya, aku menyebutkannya kemarin," sebenarnya itu hanya refleknya karena bertemu secara tiba-tiba dengan adiknya itu.
Naruto menghela napasnya perlahan lalu berkata "Baru kemarin aku datang kesini, sudah hampir semua penghuni Akademi ini mengenalku. Apa aku memang seterkenal itu ya?" keluh Naruto sambil mengalihkan pandangannya kearah langit biru yang jauh diatas sana.
Tawa kecil keluar dari mulut Naruko ketika mendengar perkataan dari Naruto yang membuatnya ditatap bingung oleh laki-laki itu "Bukan hanya itu sih, nama kita juga hanya berbeda satu huruf saja," balas Naruko dengan senyuman kecil yang masih terpasang di bibirnya.
"Bohong. Kau pasti bohong, kan?"
"Apa untungnya jika aku berbohong padamu? Kau bisa memastikannya nanti."
"Lalu namamu?"
Naruko sendiri sudah yakin untuk melakukannya apapun reaksi yang akan diberikan oleh Naruto setelahnya "Namaku... Naruko," ujar perempuan itu memperkenalkan namanya yang belum ia sampaikan kemarin, sekarang hanya tinggal menunggu reaksi Naruto setelah mendengar namanya.
Keheningan tercipta beberapa saat kemudian membiarkan angin berhembus melewati mereka berdua, Naruko yang sedari tadi menunggu reaksi dari laki-laki di depannya menjadi was-was 'A-apa dia akan marah padaku?' tanya perempuan itu pada dirinya sendiri ketika melihat Naruto tak melakukan reaksi apapun.
"Itu beneran namamu? Bukan ngarang, kan?" tanya Naruto tiba-tiba dengan nada tak percaya, nama perempuan itu memang hanya berbeda satu huruf dengannya.
"Beneran, tahu. Kau bisa memeriksanya sendiri dalam kartu pelajarku ini kalau mau," ucap Naruko yang setengah membentak karena melihat reaksi Naruto yang terlihat biasa saja.
"Tak perlu, aku hanya terkejut saja tadi. Nama kita memang berbeda satu huruf saja, tapi rasanya aku pernah mendengarnya tapi kapan ya?" ucap Naruto yang memasang pose berpikir dan berusaha mengingat-ngingat kapan ia mendengar nama itu "Lupakan saja, mungkin aku salah," tanggapnya sendiri.
Naruko yang melihat reaksi dari Naruto mulai berpikir dalam hati 'Aku memang tidak terlalu dekat dengannya waktu kecil sih, tapi mana mungkin Naruto tidak mengetahui nama anggota keluarganya. Apa dia kehilangan ingatannya? Aku harus memastikan apa dia kehilangan ingatannya atau tidak,' pikirnya dalam hati.
"Naruto, sebenarnya aku..."
"Disini ternyata kalian berdua!"
Perkataan Naruko langsung terpotong ketika seseorang berteriak dengan penuh ketegasan dari arah pintu masuk atap tersebut dan dirinya tahu itu berasal dari siapa, dia menolehkan kepalanya kearah kanan menatap perempuan berambut hitam panjang tengah berkacak pinggang menatap kearahnya dengan Naruto.
"Orimura-sensei?!" ucap Naruko spontan yang membuat Naruto sedikit memutar kepalanya dan melihat wali kelasnya sudah memasang wajah garang padanya.
Keduanya mulai berdiri dari rerumputan yang sengaja ditumbuhkan diatas atap tersebut...
Puk!
Puk!
Namun keduanya mendapatkan hantaman buku tebal di pucuk kepala mereka, keduanya meringis memegangi kepala mereka yang terhantam buku tebal itu.
"Jadi, ada yang bisa kalian jelaskan kenapa malah membolos pelajaran dan malah berduaan disini?" tanya Chifuyu dengan tatapan menuntut di matanya seolah meminta jawaban yang jelas dari kedua murid beda tingkatan di depannya ini.
"A-ano... Sebenarnya begini... Umm...," Naruko berusaha mencari alasan yang tepat untuknya dan Naruto agar tidak mendapatkan hukuman dari guru pembimbing kelas 1 yang terkenal dengan ketegasannya itu.
"Ini keinginanku untuk bolos disini dan dia berusaha menegurku untuk kembali di kelas, jadi dia sama sekali tak ada hubungannya dengan ini," ucap Naruto dengan begitu santai, sebenarnya ini bukan kesalahannya sepenuhnya tapi dia tak mau jika Naruko juga dihukum karena kesalahan yang dibuatnya.
"Tapi, Naruto..."
Laki-laki itu menepuk salah satu pundak Naruko dengan tinggi badan yang terpaut hanya beberapa centimeter saja, tentunya dengan Naruto yang lebih tinggi "Sudahlah, sebaiknya kau kembali saja ke kelas. Ini salahku, jadi aku juga yang harus bertanggung jawab," ujarnya dengan senyuman kecil di bibirnya.
Naruko menganggukan kepalanya lalu membungkukan tubuhnya kearah Chifuyu "K-kalau begitu, saya permisi dulu, Orimura-sensei," setelahnya Naruko melangkahkan kaki menuju pintu keluar dari atap tersebut, namun dia berbalik terlebih dahulu dan menatap kearah Naruto "Sampai jumpa nanti ya."
Setelah itu, Naruko menghilang di balik pintu. Kemungkinan besar, dia kembali menuju kelasnya.
"Untuk orang yang hanya menegur, itu sangat aneh bagiku," celetuk Chifuyu yang menatap kearah Naruto dengan tatapan meremehkan.
"Berisik! Lagipula aku tak suka menyalahkan orang lain," balas Naruto dengan senyum miring di bibirnya "Jadi, apa hukumannya? Bukankah Orimura-sensei datang kesini untuk menghukumku?" tanya laki-laki pirang itu sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Sebenarnya aku datang kesini untuk menemuimu saja, tapi kalau kau memang meminta hukuman, akan kuberikan."
Naruto yang sudah percaya diri jika perempuan itu datang kesini untuk menghukumnya mendadak sweatdrop sendiri "Kalau bukan untuk menghukumku, lalu kenapa Orimura-sensei kesini?" tanya Naruto yang masih ada dalam keadaan sweatdrop.
"Aku hanya ingin memberitahukan kalau perlengkapanmu sudah sampai disini dan sekarang ada di lapangan no. 06," jawab Chifuyu yang terlihat memasang senyuman mengintimidasi pada Naruto.
Naruto mengerutkan dahinya "Perlengkapan apa maksud Orimura-sensei?" tanya Naruto yang terlihat bingung sekarang, dia tak pernah meninggalkan sesuatu atau menyuruh seseorang untuk mengantarkan barangnya ke Akademi ini.
"Tapi, Tabane bilang..."
"Tabane-nee?!" ujar Naruto yang terdengar kaget mendengar Chifuyu membawa nama perempuan yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri itu ke dalam obrolan "Lalu perlengkapan itu ada dimana?" tanya Naruto lagi.
Duk!
"Ketika orang bicara, biarkan orang itu menyelesaikan perkataannya lebih dulu dan kau bisa berkomentar sesuka hati setelahnya," ujar Chifuyu yang sudah memukulkan kembali buku tebalnya itu kearah pucuk kepala Naruto "Tabane bilang jika dia memberikannya padamu langsung, kau pasti akan menolak. Jadi, dia mengirimkannya setelah kau datang kesini," sambungnya.
Naruto yang tengah meringis kesakitan itu berusaha mencerna perkataan dari guru pembimbing yang menurutnya kejam itu, entah kenapa dia tiba-tiba teringat dengan perkataan Tabane beberapa hari yang lalu 'Apa dia membuatkanku IS? Tidak, aku sama sekali tak memiliki bakat menaiki benda itu. Lalu apa?' pikirnya dalam hati.
"Orimura-sensei, bisa antarkan aku untuk melihat perlengkapan yang dibicarakan itu? Aku hanya ingin memastikannya," pinta Naruto dengan rasa penasaran terkumpul dalam dirinya.
"Baiklah, ikut aku," titah Chifuyu yang sudah membalikan badannya membelakangi Naruto, tapi beberapa saat kemudian dia melirik Naruto melalui ekor matanya "Namun, hukumanmu menunggu setelah ini," ujarnya yang kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
Laki-laki pirang itu terlihat lesu mendengar itu "Baiklah, Orimura-sensei," jawabnya tanpa gairah hidup sama sekali dan melangkahkan kakinya dengan gontai mengikuti guru kejam itu –menurutnya- ke lapangan no. 06 untuk melihat peralatan yang dikirimkan oleh Tabane.
Dia yakin ini masih ada hubungannya dengan tawaran pembuatan IS itu.
Bersambung...
Apa ini menjawab rasa penasaran kalian?
Naruto disini memang diberi peralatan oleh Tabane, tapi masih belum tahu apa itu IS atau hal lainnya. Tapi yang pasti itu akan terjawab di chapter selanjutnya.
Terima kasih untuk review yang kemarin.
