Hope you like this fiction :)


Jumat pagi, tiga hari sebelum kegiatan belajar dimulai mereka memutuskan untuk pindah ke apartment yang sudah disiapkan oleh orang tua mereka.

"Kami sudah membereskan peralatan yang kalian butuhkan." Kata Nyonya Park sambil membuka pintu apartment tersebut. "Kami juga sudah menggandakan kuncinya, jadi masing-masing dari kalian dan kami punya satu kunci." Terdengar erangan dari Chanyeol.

Memasuki apartment, mereka melihat ruangan luas yang dilengkapi tv dan peralatan elektronik lainnya, "Ayah kalian berbaik hati membelikan alat-alat elektronik dan memasangkannya dengan koneksi internet tercepat." Kali ini Jongin yang mengerang. Dia yakin kalau Ayahnya yang mengatur ini, untuk mengawasi mereka. "Di sebelah kiri itu ada kamar mandi dan kamar tidur. Disebelah kanan ada kamar yang lebih besar dan dapur yang juga sudah kami lengkapi peralatannya. Kulkas juga sudah kami isi. Nanti sesekali kami akan datang kesini untuk mengisi kulkasnya." Sambung Nyonya Kim, seolah tidak mendengar erangan Jongin.

"Kamarnya cuma dua?" Sehun yang pertama menyadari keanehan ini.

"Ayahmu tidak bilang?" Yang dijawab oleh Nyonya Kim.

Chanyeol, Sehun dan Jongin hanya menggelengkan kepala mereka. "Mungkin Ayahmu lupa." Nyonya Oh menjawab. "Jadi kamar yang sebelah kiri tadi akan menjadi kamarnya Chanyeol, sedangkan kamar yang lebih besar akan ditempati oleh Sehun dan Jongin."

Sehun dengan cepat menghampiri kamar yang katanya akan ditempatinya, disusul Jongin, "Tapi tempat tidurnya hanya satu Bu." Teriak Sehun dari dalam kamarnya.

"Satu juga cukup besar untuk berdua." Nyonya Oh menjawab.

Sehun menoleh ke arah Jongin, seolah bertanya bagaimana? "Ikuti saja." Jawab Jongin.

Sehun menghela nafasnya, setidaknya dia tidak harus sekamar dengan Chanyeol.


Setelah ibu mereka pamit untuk meneruskan agenda mereka, Chanyeol langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya. Mungkin langsung meneruskan tidurnya yang tertunda karena ibunya. Sedangkan Jongin langsung membereskan barang yang dibawanya, tidak banyak makanya dia bisa bersantai nonton tv sekarang. Sehun masih di dalam kamar mereka, memperhatikan kamar yang akan ditempatinya. Ada satu tempat tidur yang cukup besar untuk berdua, dua lemari dan dua meja belajar. Setidaknya kamar ini memang cukup luas untuk ditempati berdua.

Sehun keluar dan menuju dapur, dia membuka kulkas yang kata Nyonya Kim tadi sudah diisi dan mengeluarkan sebotol yoghurt untuk diminumnya. Sehun menghampiri Jongin yang sedang menonton tv di ruang tengah. Melihat ruang tengah membuat Sehun tersadar kalau ibu mereka benar-benar menyiapkan semuanya untuk kebutuhan mereka. Sehun melihat ada games console, dvd player, sampai ke essential oil diffuser, membuat Sehun berasa dirumah.

Sehun menghampiri rak di dekat lemari tv, melihat foto mereka yang dipajang disitu. Ada foto mereka bertiga memeluk satu sama lain sambil tersenyum lebar, Sehun ingat foto ini diambil saat ulang tahun Chanyeol yang ke empat. Mereka tetap tersenyum lebar walaupun muka mereka dipenuhi krim kue. Sehun tersenyum geli melihatnya.

Foto berikutnya diambil saat pesta Halloween ditahun yang sama. Sehun ingat mereka tergila-gila dengan ninja tahun itu. Jadi mereka bersikeras untuk memakai kostum ninja yang membuat ibu mereka kebingungan mencarinya. Dengan kain seadanya akhirnya ibu mereka menjahit kostum mereka. Sehun ingat penutup kepala Jongin lepas saat mereka bermain kejar-kejaran sehingga Jongin harus menabrak pintu saat itu karena matanya tertutup penutup kepalanya, Sehun yang dibelakangnya pun tidak siap untuk berhenti dan malah menabarak punggung Jongin. Dibelakangnya Chanyeol tak berhenti menertawakan mereka yang hidungnya memerah karena tabrakan tersebut. Sehun bahkan lupa kenapa gambar ini bisa diambil, karena seingatnya tidak ada siapapun saat itu.

"Kau belum pernah melihat foto-foto itu?" Jongin yang sedari tadi memperhatikan Sehun pun bertanya.

Sehun menggeleng dan menghampiri Jongin, duduk disebelahnya. "Sepertinya ibumu yang menyimpan foto-foto ini."

Jongin mendengus, "Kalau kau ingat Ibuku terobsesi dengan kamera yang dibelikan Ayah tahun itu. Tapi setelah bosan kameranya diberikan kepadaku. Membuatku jadi terobsesi juga dengan mengambil gambar."

"Jadi sekarang kau jago fotografi?" Tanya Sehun.

"Sekarang aku sudah jarang berburu gambar. Ujian masuk universitas kemarin menyita banyak waktuku."

"Tidak diragukan, aku ingat kau tidak pernah setengah-setengah kalau mengerjakan sesuatu. Kau paling sebal kalau Chanyeol berusaha mengganggumu saat sedang bermain." Sehun berkata sambil menaikkan kakinya ke atas meja dihadapan mereka, pegal.

Jongin berdeham, "Apa kau ingat aku menjengukmu saat.." Jongin menolehkan kepalanya pada kaki Sehun. "saat itu." Lanjutnya ragu.

"Saat masih dalam pengaruh bius aku sayup-sayup mendengar suara orang yang keluar masuk kamarku. Mataku terbuka tapi pandanganku kabur. Sampai sekarang pun aku masih pakai kacamata karena itu. Jadi maaf, aku sepertinya lupa." Sehun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Jongin mengangguk, "Kau kelihatan…" Jongin ragu meneruskannya, "sangat buruk saat itu."

"Aku tahu. Untungnya ingatanku samar." Kekeh Sehun.

"Apa masih sakit?" Tanya Jongin lagi.

"Kalau terlalu lama berdiri atau berjalan, ya sakit. Tapi akan membaik esok harinya setelah istirahat." Sehun berdiri ketika yoghurtnya habis, "Kau mau makan tidak. Aku mau membuat spaghetti." Kata Sehun sambil berjalan ke dapur.

"Boleh." Jawab Jongin, "Tapi kau bisa masak kan?"

"Tidak juga." Benar saja, mereka makan spaghetti asin sore itu.


Chanyeol baru keluar keesokan siangnya. Entah bagaimana ada orang yang bisa tidur selama itu, hampir 24 jam kalau Sehun tidak salah hitung. Tanpa makan dan minum.

"Tidak ada makanan?" Tanya Chanyeol yang keluar kamar hanya menggunkan boxernya.

"Ada nasi. Goreng sosis atau nuget saja." Jawab Sehun.

"Baru sehari saja makananku sudah tidak sehat." Gerutu Chanyeol.

Sehun memperhatikan Jongin yang tidak menggubris Chanyeol sama sekali. Sehun bingung kenapa Jongin bisa mengabaikan Chanyeol yang seenaknya begitu.

"Besok ada rencana tidak Jongin?" Sehun bertanya.

Jongin mengangguk, "Aku mau keluar untuk membeli beberapa buku dan beberapa sayur dan buah sepertinya."

Pantas diam saja, Jongin juga merasa makanan mereka tidak sehat. Pikir Sehun. "Aku titip Jong." Chanyeol menyahut dari tempatnya menggoreng entah apa di dapur. "Mereka bahkan tidak meninggalkan kimchi untuk kita."

"Beli sendiri saja, aku tidak tahu seleramu." Jawab Jongin tenang.

"Yasudah beli bersama saja besok." Jawab Chanyeol. Dan entah kenapa Sehun jadi merasa ditinggalkan disini.

Menutupi rasa kecewanya, Sehun pun masuk ke kamarnya. Membuka laptop dan melakukan apa saja yang bisa dia lakukan untuk menghabiskan waktunya, seperti menonton serial tv favoritnya.


Minggu pertama masuk kuliah tidak banyak yang terjadi. Sehun yang jurusan manajemen, Jongin yang jurusan bisnis dan Chanyeol yang jurusan teknik kebanyakan masih perkenalan saja. Tidak berbeda banyak. Mereka kebanyakan mendapat jadwal pagi dan padat sampai siang atau sore. Bedanya kalau Sehun akan langsung pulang sedangkan Jongin akan menghabiskan waktu dulu di perpustakaan kampus mereka, kalau Chanyeol hanya akan pulang sebentar, berganti baju lalu pergi lagi. Diantara mereka bertiga hanya Sehun yang tidak mempunyai kendaraan, bukannya tidak mampu. Sehun tidak bisa mengendarai motor seperti Chanyeol atau mobil seperti Jongin. Jadi Sehun akan jalan kaki untuk berangkat atau pulang dari kampus.

Jumat sore ini Sehun menaikkan kakinya di atas bantal yang ditumpuknya tinggi. Seharian ini dia banyak berjalan, dari satu kelas ke kelas lainnya jaraknya sangat jauh, belum lagi Sehun harus turun naik tangga. Beruntung sepatu yang dipakainya cukup nyaman hari ini.

"Sedang apa Sehun?" Kata Jongin sambil memasuki kamar mereka.

Sehun bahkan tidak sadar saat Jongin masuk, "Kakiku pegal berjalan seharian. Jadi sedang kuistirahatkan."

Jongin terdiam, "Kau sadar tidak memakai bantalku?" Jongin bertanya. "Untuk kakimu."

Terkejut, Sehun pun dengan cepat duduk dari tidurnya dan mengangkat kakinya dari tumpukkan bantal tersebut. "Maafkan aku Jongin." Kata Sehun sambil menyingkirkan bantal Jongin dan menaruhnya kembali di sisi tempat tidur Jongin. "Aku meminjam bantalmu karena kalau aku hanya menggunakan satu bantal itu terlalu pendek."

Jongin menghela nafasnya dan menaruh tas kuliahnya. "Sebenarnya tidak apa-apa asal kau sudah cuci kaki." Jawab Jongin. "Chanyeol sudah pulang?" Jongin bertanya sambil mengambil handuknya, bersiap untuk mandi.

"Tadi sudah pulang, tapi sepertinya keluar lagi." Jawab Sehun, memutuskan untuk menonton tv saja sambil menunggu Jongin selesai mandi.

Mengganti channel untuk mencari tontonan yang menarik membuat Sehun kecewa. Sepertinya stasiun tv pun menyuruhnya pergi keluar jumat malam ini. Tapi Sehun lelah, lagi pula mau kemana kan? Sehun belum punya teman dekat di kampus, pulang ke rumah pun bukan ide yang baik.

"Kau tidak masak Sehun?" Tanya Jongin saat keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan boxernya. Jongin sendiri sudah tidak terlalu canggung lagi di depan Sehun. Berbeda dengan Chanyeol yang memang sudah tidak canggung dari awal, Jongin baru membicarakan masalah kebiasaannya ini pada Sehun di malam ke dua mereka tidur bersama. Jongin sebenarnya sama seperti Chanyeol yang hanya tidur menggunakan boxer, Jongin juga bilang kalau ada hari dimana dia tidak akan mandi seharian dan hanya akan bermain game saja. Sehun tidak keberatan, asal Jongin tidak mengganggunya. Dan sampai saat ini baik Chanyeol maupun Jongin tidak ada yang mengganggunya atau membuat masalah. Untuk itu Sehun bersyukur.

"Aku mau pesan saja sepertinya. Kau mau tidak?" Sehun lelah dan malas masak. Tapi dia tetap butuh makan malam kan?

"Pesan apa? Ayam goreng?"

"Kedengarannya enak, pedas atau original?" Sehun langsung membuka aplikasi di ponselnya.

"Aku mau yang original saja." Jawab Jongin. "Paha ya. Aku tidak suka dada, menggelikan."

Sehun mengangguk, walaupun bingung kenapa dada menggelikan dan dengan cepat mengetikkan pesanan mereka di ponselnya. "Sudah." Sehun terdiam sebentar, "Chanyeol mau tidak ya? Aku hanya memesan untuk kita berdua tadi."

"Paling baru nanti malam dia pulang, dia juga pasti sudah makan seperti biasanya." Jawab Jongin cuek.

Pesanan mereka datang 15 menit kemudian. Karena disini tidak ada orang tua mereka, mereka bisa makan hanya dengan tangan, tidak perlu garpu, sendok atau sumpit. Hilang sudah pelajaran tata krama yang sudah ditanamkan dari kecil.

Belum selesai mereka makan, Chanyeol pulang.

"Kalian memakan ayam hanya dengan cola?" Tanyanya remeh, Chanyeol mengeluarkan botol-botol bir yang dibawanya di dalam kantung plastik, "Kalian itu sudah besar, harusnya minum bir kalau makan ayam goreng begini." Katanya sambil duduk disebelah Sehun.

Sehun mendengus, "Tumben sekali jam segini sudah pulang, tidak ada kegiatan diluar?" Sehun bertanya.

"Aku bosan. Lagi pula aku ingin menghabiskan waktu dengan housemateku." Jawab Chanyeol, mengambil tepung ayam yang sudah dipisahkan Sehun untuk dimakan terakhir.

Sehun mengerang kesal dibuatnya. "Menyebalkan, kenapa tidak mengambil punya Jongin saja? Punya Jongin masih banyak tuh."

Chanyeol tertawa, "Punya Jongin tidak enak." Sehun mendengus sebal karena Chanyeol dan dengan cepat menghabiskan ayamnya takut kalau Chanyeol mengambilnya lagi.

Setelah selesai makan Chanyeol dan Jongin mengobrol di ruang tengah sedangkan Sehun mengupas melon untuk pencuci mulutnya.

"Kenapa tidak kita jadikan malam ini, malam upgrading saja?" Chanyeol menyuarakan idenya.

Sehun yang baru datang dari dapur pun tertawa, "Seriously? Kita kan bukan anak pramuka."

"Seriously." Jawab Chanyeol dengan nada mengejek, "Kita memang bukan anak pramuka, tapi kita kan akan tinggal bersama beberapa tahun ke depan. Masa kita tidak mengenal satu sama lain." Chanyeol menjelaskan, "Bagaimana Jongin?"

"Terserah saja. Tanyakan saja apa yang ingin kalian tahu, aku kan hanya tinggal menjawab saja." Kata Jongin lalu menenggak birnya.

"Dua lawan satu, mau tidak mau kau harus ikut Sehun." Kata Chanyeol final.

"Tapi aku yang bertanya duluan ya?" Sehun berkata.

"Shoot." Jawab Chanyeol ringan.

Sehun terlihat berpikir, "Kalau aku tidak salah hitung kita sudah 16 tahun tidak bertemu kan? Aku ingat dulu kalian berdua tidak pernah akur. Chanyeol tetap saja menyebalkan seperti dulu, tapi Jongin sangat diam sekali dibandingkan waktu kita masih kecil dulu. Kadang aku ragu apa kalian masih teman kecilku yang dulu."

Chanyeol bersiul pelan, "Not bad, ku kira kau akan bertanya apa makanan kesukaanku." Chanyeol dan Jongin tertawa, lagi-lagi Sehun merasa tertinggal disini. "Tiga tahun lalu saat kau cedera, aku dan Jongin menjengukmu. Setelah itu kami lumayan sering bertemu, tidak pernah putus kontak. Kau salah kalau kami tidak pernah akur, kami hanya berbeda pandangan dalam banyak hal. Entah kau percaya takdir atau tidak, saat kau cedera banyak juga yang berubah dalam hidup kami. Aku dan Jongin merasa cocok untuk berteman karena kami sama-sama bingung menghadapi Ayah kami. Ayah kita mempunyai sifat yang mirip, kalau kau sadar saat itu aku yakin kau pasti juga akan bergabung bersama kami."

"Dua kali setelah cedera itu," Sehun mengambil jeda, "dua kali aku mencoba bunuh diri. Aku merasa sendiri dan Ayahku menuntut banyak. Apa kalian tidak tahu?"

Chanyeol bungkam, jadi Jongin yang menjawab, "Kami tidak tahu kalau kau mengalami itu semua. Kurasa Ayahmu menyembunyikannya." Jongin mengambil jeda, "Kau tahu, hidup kami juga tidak sebaik itu. Aku dan Chanyeol tidak putus kontak karena kami merasa hanya satu sama lain yang bisa mengerti. Saat itu Chanyeol baru tahu kalau Ayahnya mempunyai istri lain selain Ibunya, saat itu Ayahku baru diangkat menjadi CEO, semua berubah, aku bahkan hanya bisa sesekali bertemu Chanyeol."

"Aku ingat saat itu aku mengaku pada Ayahku kalau aku gay." Chanyeol terkekeh geli, "Dia mengusirku jadi aku harus menginap di tempat Jongin. Karena merasa malu dengan Ayahnya Jongin akhirnya Ayahku menyuruhku kembali, lagi pula dia sadar kalau kakakku tidak bisa diandalkan untuk menjadi ahli waris."

Sehun mengerang, "Aku benci mengetahui fakta kalau keluarga kita penuh drama."

Jongin menenggak habis birnya dan mulai membuka botol keduanya, "Karena semua kebutuhan yang terpenuhi sama dengan harus menjadi anak baik."

"Nah itu," Sambung Chanyeol. "Aku dan Jongin sama sekali tidak pernah kekurangan apa pun, kami meminta hari ini dan besok Ayah kami akan membelikannya, tapi konsekuensinya Jongin harus ikut bersama Ayahnya di acara kantor seperti kemarin, atau untukku minimal aku tidak membuat masalah."

"Bagus kita dikumpulkan begini, aku tidak perlu berpura-pura menjadi anak baik lagi kalau di depan kalian kan?" Jongin berkata.

Sehun mengerutkan dahinya, berpikir, "Tapi kau akan diam di perpustakaan sampai malam setelah jam kuliah selesai. Kau belajar kan? Kenapa kau tetap belajar kalau tidak suka?"

Chanyeol tertawa kencang, sedangkan Jongin sudah tersedak bir yang ditenggaknya karena mendengar pertanyaan Sehun. Lagi-lagi Sehun mendengus, mungkin kalau Sehun bertemu mereka lebih awal dia juga akan mengerti.

Setelah mengatur nafasnya Jongin pun berbicara, "Aku kagum pada Tuan Oh, beliau benar-benar menjaga dirimu dengan baik Sehun." Jongin berdehem untuk menetralkan suaranya, "Ayahku sengaja memfasilitasi kita dengan internet dan semua perlatan ini agar dia bisa mengontrol kita, dia bisa mengetahui apa yang kita tonton, apa yang kita akses. Makanya aku memilih membuka laptopku ditempat lain. Lagi pula aku sudah bisa keluar dari rumah begini, sayang sekali kalau masih bisa diawasi kan?"

Sehun mengangguk paham, tapi tidak lama karena seperti tersadar sesuatu Sehun pun panik. "Aku membuka blog-ku kemarin, Ayahmu tahu juga kalau begitu?"

Jongin mengangguk, "Mungkin saja dia sudah memberi tahu Ayahmu. Lagipula itu hanya blog biasa kan?"

Sehun kelihatan pucat, lebih pucat dari biasanya. "Aku mengalami depresi setelah cedera itu, Ayahku membuatku pergi terapi kejiwaan, mereka memintaku menulis untuk mengurangi depresiku. Tapi itu tidak bisa mengurangi depresiku sampai aku memajangnya di blog-ku dan membuat orang lain membacanya. Aku merasa punya teman cerita disana. Selama ini aku selalu memakai nama pena jadi Ayahku tidak tahu."

"Separah itu?" Tanya Chanyeol.

Sehun mengangguk, "Separah itu." Sehun mengambil satu botol dan menenggak habis isinya.

Chanyeol menghela nafasnya, "Sepertinya bukan ide yang baik ya upgrading ini?"

Sehun tertawa pelan, "Tidak apa-apa. Aku tidak tahu sebanyak kalian."

"You know what?" Jongin menyambung. "I'm so sick of wearing masks and reciting from scripts someone else wrote." Jongin mengangkat botolnya, "Cheers."

"Cheers." Kata Chanyeol dan Sehun sambil mengangkat botol mereka juga.

"Kata-katamu tadi, akan ku masukkan ke blog-ku selanjutnya Jongin." Sehun berkata membuat Chanyeol dan Jongin tertawa. Sehun jelas sudah mabuk, begitu pun Jongin.


Keesokannya Sehun terbangun dengan badan yang sakit semua. Sehun tidur beralaskan tangan Jongin dikepalanya dan kaki Chanyeol di bawah kakinya. Mereka terlalu mabuk untuk masuk ke kamar semalam. Entah bagaimana caranya mereka bisa sampai ke posisi begini. Untungnya karpet yang mereka tiduri cukup tebal dan luas sehingga Chanyeol atau Jongin tidak sampai terantuk meja atau kursi.

Dengan susah payah Sehun mendudukkan dirinya, meregangkan badannya. "Akhirnya kau bangun juga, tanganku sampai mati rasa." Jongin menyusul untuk membuat darah kembali mengalir di tangannya.

"Aku malas mandi. Mau main game?" Jawab Sehun tidak nyambung.

Jongin menaikkan sebelah alisnya, "Bangunkan dulu Chanyeol, aku ke kamar mandi dulu."

Sehun mendengus, dia bangkit untuk membereskan botol-botol sisa semalam juga sampah yang mereka tinggalkan. Jongin belum selesai juga saat Sehun selesai membereskan. Di depan Sehun, Chanyeol masih tertidur dengan nyenyaknya.

"Chan bangun." Sehun menggoncangkan badan Chanyeol dengan kakinya. Tidak bergerak. Jadi Sehun mendiamkannya saja, biar nanti dibangunkan Jongin, pikirnya.

"Kenapa Chanyeol belum bangun?" Tanya Jongin setelah keluar dari kamar mandi.

"Aku tidak bisa membangunkannya." Jawab Sehun ringan, "Ayo main game." Ajak Sehun lagi.

"Chanyeol Ayahmu menelepon." Dengan ajaib Chanyeol pun terbangun, seperti mencari ponselnya. Sehun yang melihat reaksi Chanyeol pun tertawa.

"Sialan." Desis Chanyeol, yang langsung berdiri dan masuk ke kamarnya.

"Nah ayo main games." Kata Jongin.

"Injustice ya?" Kata Sehun sambil mengangkat CD-nya.

"Seriously Sehun, kau suka DC juga?" Jongin terlihat kaget.

Sehun hanya mendengus, "Kalau terlahir kembali aku akan meminta pada Tuhan agar aku menjadi bagian dari Bat's family. Sesuka itu aku pada DC." Sehun pun memasukkan CD-nya dan membiarkan Jongin memilih karakternya.

"Kau tidak punya kekasih Sehun?" Jongin membuka percakapan saat mereka memulai permainannya.

"Tidak ada." Jawab Sehun, "Tapi ada satu mantanku yang sampai sekarang masih sering menemuiku. Ayah sampai bingung bagaimana mengusirnya. Kau?"

"Ayahku sudah menjodohkanku dengan seseorang. Tapi sampai sekarang Ayah belum mempertemukan kami ataupun memberi tahuku siapa orangnya." Jongin menghela nafas, "Akan buang-buang waktu kalau aku mencari kekasih sendiri kalau ujung-ujungnya aku menikah dengan orang pilihan Ayahku kan?"

"Memangnya kau tidak penasaran bagaimana rasanya punya kekasih? Aku yakin banyak perempuan yang mendekatimu."

"Aku sama seperti Chanyeol." Jawab Jongin singkat.

Sehun terdiam sebentar, "Dan Ayahmu tidak marah?"

Jongin tertawa, "Entahlah, dulu aku pernah memperkenalkan wanita yang dekat denganku tapi Ayah menolak. Tapi saat aku mengaku kalau aku gay Ayah bilang, itu sesuatu yang tidak bisa Ayah atur, nanti Ayah carikan saja yang cocok denganmu."

"Kau tidak bertanya Ayahmu akan mencari wanita atau pria?" Tanya Sehun lagi.

"Dulu aku dan Chanyeol sempat menebak kalau Chanyeol lah yang akan dijodohkan denganku. Tapi kau tahu Chanyeol, keesokannya dia datang dengan kekasih kecilnya ke rumahku, membuat Ayahku kaget setengah mati. Tetap saja Ayah tidak bisa mengusir Chanyeol seenaknya kan?" Sehun hanya mengangguk saja, "Ku kira kau dijodohkan juga."

Sehun tertawa, "Dengan siapa?" Jongin hanya mengangkat bahunya, "Pertama, aku itu sama seperti kalian. Kedua, sampai sekarang belum ada orang yang bisa meyakinkanku kalau pernikahan itu menyenangkan. Kau tahu, kita lihat mereka mengadakan pesta besar-besaran mengundang banyak orang lalu seminggu kemudian kita lihat mereka bertengkar di sosial media, setelah ramai semua orang tahu lalu mereka berbaikan. I don't get the point to do that in the first place you know."

"Itulah yang membuatku malas mencari kekasih. Aku ikuti saja apa kata Ayahku." Jawab Jongin ringan.

Sampai di layar muncul tulisan The Flash won! Jongin pun bersorak, "Aku menang!"

"Tanding ulang!" Tuntut Sehun.

Belum sempat Jongin membalas, Chanyeol keluar dari kamarnya, "Kalian ini berisik sekali sih." Katanya sambil memakai jaket kulit hitam andalannya. Penampilannya sudah rapih walaupun belum mandi.

"Kau mau kemana?" Tanya Sehun.

"Menjemput kekasihku. Dia bilang ingin main kesini." Jawab Chanyeol ringan. "Saat aku kembali nanti kalian harus sudah mandi dan berpakaian layak ya. Aku tidak mau kekasihku mengkhawatirkan keadaanku tinggal dengan kalian." Dengan itu Chanyeol mengambil kunci motornya dan pergi keluar.

Sehun mendengus, "Seenaknya saja."

"Kalau aku jadi kau sih aku akan menuruti perintah Chanyeol. Percaya padaku, kau akan lebih kerepotan lagi kalau harus berurusan dengan kekasihnya Chanyeol." Jongin menyarankan.

"Separah itu?"

"Separah itu." Jawab Jongin sambil berlalu menuju kamar mandi.


Should I make this without conflicts?