Disc: Naruto hanya milik Masashi Kishimoto sepenuhnya.
Gendre: cerita awal = sedih : kakashi, team 7 minato dan Konohagakure
Di pertengahan cerita = sedih dan romantis : kakashi, team 7
Memasuki akhir cerita = romantis : kakashi dan sakura
Akhir cerita = humor : kakashi dan Konohagakure
Maaf kalau gendre cerita ini banyak dan pairing tiap gendre berbeda, tapi memang begitulah aku membuatnya
...
-o—
Sebuah kenangan hadir dan menghilang dengan seiring waktu berlalu.
Terlihat nyata namun sebenarnya palsu.
Dan hal itupun berganti menjadi 'petualangan' yang menyakitkan.
Seberapa lama harus menahan sedangkan penderitaan selalu bertambah dari waktu ke waktu?.
Seberapa lama harus menahan agar air mata ini tak terlihat oleh orang lain?.
Dan seberapa jauh harus berjuang bila tak ada satupun seseorang yang diinginkan hadir di relung hati?.
Kosong, tak berisi. Itulah yang ada di dalam hati seorang 'Hatake' terakhir.
-o—
BUKAN AKHIR
CHAP 2.
Perlahan namun pasti Kakashi membukakan matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit pondok yang di buat Yamato –sepertinya. Kakashi terdiam cukup lama sampai menyadari sesuatu.
'Mengapa aku masih hidup?'. Pertanyaan itu yang kini terlintas di otak jeniusnya.
SRAKK.
Terlihat Sakura memasuki ruangan yang kini di tempatinya. Ia menegok melihat gadis itu terkejut dengannya.
"Kakashi –sensei" histeris Sakura.
"ng? Apa?" tanya Kakashi.
"tidak" Sakura terdiam sampai sebuah senyuman hadir di wajahnya. "Syukurlah Kakashi –sensei sudah sadar" ucapnya senang.
Kakashi tersenyum di balik maskernya dengan lemah. Ia mengalihkan perhatiannya ke langit pondok menatap penuh kekosongan.
"apa yang sudah terjadi, Sakura?" ucapnya.
Sakura terdiam. Ia tidak tau harus dari mana menjelaskannya pada gurunya itu.
"tidak, Kakashi –sensei. Tidak sekarang" jawabnya.
Kakashi terdiam cukup lama. Lama sekali. Memikirkan seorang sosok yang menjadi dalang di balik perang shinobi ke -4 ini.
'Obito, seharusnya kau menyalahkan diriku dan membunuhku saja'.
Mata Kakashi kini menerawang jauh ke masa lalu. Tanpa Sakura ketahui Kakashi menangis meskipun Kakashi hanya meneteskan setetes air mata saja.
"Kakashi –sensei, apa kau baik-baik saja?". Sakura prihatin dengan keadaan gurunya itu. Bagaimana tidak? Sosok yang di anggap Sakura sebagai orang yang kuat kini terlihat lemah tak berdaya. Bukan, bukan soal keadaan fisik Kakashi yang Sakura maksud melainkan hati sang guru.
'kuat?' Sakura diam. 'bukankah tidak ada seorang pun di dunia ini yang kuat?'.
Sakura merenung dengan pikiran sombongnya. Ingin sekali ia tertawa berpikir seperti itu.
"bukankah tidak ada seorang pun di dunia ini yang kuat?" jelasnya membuat Kakashi menoleh.
"apa?"
"eh..?"
"tadi kau bilang apa?" tanya Kakashi.
"memang tadi aku mengucapkan apa, sensei?" Sakura mencoba bersikap wajar. Kakashi melihat Sakura dengan bingung. "entahlah, aku tak begitu jelas mendengarnya" ungkapnya.
Sakura mendesah, lega karena gurunya itu tak mendengar ucapannya dengan jelas.
"Sakura, kemarilah. Apa kau mau selamanya berdiri di situ?" pinta Kakashi.
Sakura tersenyum melihat perlakuan gurunya itu. "tentu saja tidak, sensei". Sakura pun mendekati gurunya yang terbaring lemah.
"Sakura, sudah berapa lama aku berada di sini?" tanya Kakashi mencoba mencari tau.
"satu minggu. Sudah satu minggu sensei tak sadarkan diri ..." jelas Sakura pada Kakashi. "... dan banyak yang terjadi" ucap Sakura pelan. Kakashi membulatkan matanya, tak percaya. Selama itukah ia tak sadar? Pikirnya.
"aku ingin tidur, Sakura".
"ng? oh, tentu" Sakura mengangguk. "kalau begitu aku akan keluar ".
Namun, sebelum Sakura melangkah lengannya tertahan dengan sebuah tangan kekar milik Kakashi.
"temani aku" mohon Kakashi. Sakura terkejut dengan apa yang di inginkan gurunya itu namun ia mengerti bahwa sekarang ini gurunya membutuhkan perhatian, perhatian yang khusus.
"ya" Sakura mengangguk setuju. Ia pun duduk di sebuah kursi. Mengamati gurunya hingga terlelap membuat ia sadar akan sesuatu.
'ternyata selama ini anggapanku tentang Kakashi –sensei adalah sebuah kesalahan besar. Ia bukan orang yag kuat sekalipun ia memang benar-benar kuat. Ia hanya tidak bisa untuk mengungkapkan siapa dirinya. Tidak pada siapapun meskipun orang itu telah ia percayai sepenuh hati'
Sakura tersenyum, namun tanpa sadar ia menangis.
'sebenarnya, Kakashi –sensei itu...' Sakura menyeka air mata yang di sadarinya keluar.
'ketakutan'. Sakura menunduk.
...
Sudah beberapa hari ini Naruto tak seperti biasanya. Diam seperti bukan sifatnya.
"Naruto..." panggil Yamato namun yang di panggil hanya diam memandangi sesuatu di depannya.
"Naruto!" teriak Yamato. Naruto tersadar dan memalingkan mukanya pada Yamato.
"eh, ada apa Yamato –sensei?".
Yamato hanya mendesah melihat tingkah Naruto yang di anggapnya tak wajar. Sebenarnya bukan hanya Naruto yang bersikap tak wajar, namun Sasuke dan Sakura terkadang pula Sai pun ikut tak wajar, ah... tidak, ia sendiripun bersikap tak wajar.
"apa kau tidak akan memakan ramen mu itu?" ucapnya.
"oh? O, ya. Hehehehe aku kelupaan Yamato –sensei" ungkap Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal lalu melahap ramen instan yang telah di pindahkan ke mangkuk di depannya seperti biasa.
Yamato pun merenung dan hanya meratapi kuah ramen yang tersisa di mangkuk. Terlihat cerminan dirinya. Ia tersenyum, 'apakah wajahku aneh?' pekiknya, lucu. Namun Yamato kembali ke pikiran semulanya. Memikirkan bagaimana keadaan seseorang yang sudah di anggapnya seorang kakak sekaligus ketua meskipun orang itu tak lagi menjadi ketua dari pasukan Anbu, tempatnya bernaung selama ini di dunia shinobi.
'apa yang ku pikirkan sama dengan yang Naruto, Sasuke, Sakura dan Sai pikirkan?' tanyanya pada dirinya sendiri.
...
Kakashi membukakan matanya.
'masih pemandangan yang sama'
Kakashi tersenyum getir meratapi nasibnya yang kini terbaring. Ingin ia bangun dan lari dari hatinya sendiri. Namun di satu sisi ia menyadari bahwa ia tak akan pernah bisa membuat lari hatinya. Tidak dengan semua yang telah ia lakukan pada semua orang. Ini kesalahan yang harus ia terima bukan? Namun ia tak menyadari seberapa besar luka yang kini telah membuka sempurna di saat ia ingin menutupinya.
Ia menengok, di lihatnya perempuan berambut pink itu tertidur pulas.
'sepertinya aku membuatnya kelelahan' pikirnya.
Suara pintu terbuka. Di lihatnya Gondaime Hokage berdiri menatapnya dengan penuh senyuman sesudah wajahnya terlihat terkejut.
Tsunade bersyukur karena akhirnya Kakashi telah sadar. Di lihatnya muridnya tertidur di sisi ranjang yang di tempati Kakashi dengan pulas dan tanpa gangguan.
"dasar Sakura" keluh Tsunade.
Kakashi hanya tersenyum melihat hokage ke-5 geleng-geleng tak percaya pada muridnya.
"aku yang menyuruhnya menemaniku tidur. Namun, aku tak menyangka bahwa ia juga ikut tertidur" jelas Kakashi pada Tsunade. Tsunade mengangguk, mengerti dengan ucapan Kakashi dan membiarkan Sakura terlelap.
"Kakashi, aku ingin kau ikut denganku. Apa kau sudah bisa menggerakkan tubuhmu?"
Kakashi menatap lurus mata Gondaime Hokage itu dengan bingung, namun Kakashi cepat-cepat mengangguk untuk pertanyaan Tsunade di akhir kalimatnya.
"benar?" Tsunade mencoba meyakinkan.
"ya" jawab Kakashi sambil mencoba bangkit tanpa mengganggu Sakura yang tertidur.
"bagus".
Pintu terbuka perlahan, Tsunade dan Kakashi yang sudah berdiri keluar dari ruangan dan menutup kembali pintu.
...
Sakura mengeliat.
'ng?'. Sakura menyadari ada sesuatu yang aneh. Ia membuka matanya. "sejak kapan aku tertidur?" paniknya. Namun ia lebih panik manakala sesosok yang seharusnya berada di atas ranjang, berbaring kini malah hilang.
"Kakashi –sensei" khawatirnya sembari keluar mencari sosok yang di maksud. Malangnya, ia terjatuh karena tertabrak seseorang. Ia mengadahkan kepalanya melihat siapa sosok yang di tabraknya yang ternyata Naruto.
"Sakura? Ada apa?" ungkap Naruto.
'a ..a.." Sakura terbata-bata terlalu terkejut dengan kehadiran beberapa rekan se timnya.
"ada apa?" tanya Sasuke yang bingung dengan ucapan Sakura. Sedangkan Sai hanya mengangguk, seraya setuju dengan pertanyaan yang di lontarkan Sasuke.
Yamato mencoba membantu Sakura untuk berdiri. "Sakura, tenanglah" pintanya pada Sakura yang terlihat sangat panik. "ada apa? Coba kau jelaskan pada kami perlahan-lahan" usulnya.
Sakura panik. "Kakashi –sensei. Kakashi –sensei" ucap Sakura memanggil nama gurunya berulang-ulang dengan nafas terengah-engah.
"ada apa dengan Kakashi –sensei, Sakura?" tanya Naruto, sama paniknya.
"Kakashi –sensei tak ada" ungkap Sakura. Yamato yang tak mengerti dengan ucapan Sakura mencoba masuk ke ruangan itu dan ia tidak melihat sosok yang di carinya.
"Sakura, dimana ketua Kakashi?" ucap Yamato, panik.
"aku tak tau, aku tertidur. Aku tak tau" Sakura hampir saja menangis keras jika Sai tidak menepuk punggungnya dengan lembut. "tenanglah, Sakura. Kita cari, bagaimana?" usul Sai membuat Sakura agak tenang.
"aku setuju" ungkap Naruto.
"aku juga" Sasuke dan Yamato mengangguk. Dan mereka semua mulai mencari sosok pria berambut perak yang kini tengah bersama Tsunade pergi ke sebuah pondok tempat 2 orang rekan setim dari pria berambut perak itu berada.
...
Kakashi melihat 2 sosok mayat yang di tutup seluruh tubuhnya oleh kain putih.
"aku tidak tau apa yang harus kulakukan pada mereka" ungkap Tsunade sambil membuka kain itu. Kakashi diam melihat siapa mayat itu.
Ya, itu adalah mayat Obito. Kakashi menggigit bibirnya dengan keras, mencoba berusaha menahan tangisan.
"Kakashi, kau baik-baik saja kan?" tanya Tsunade melihat ekspresi Kakashi yang sepertinya berubah. Kakashi mengangguk setelah ia berhasil menahan tangisannya.
"dan..." Tsunade kembali membuka kain yang menutupi mayat di sebelah Obito.
Kakashi seakan berhenti bernafas. Terlalu terkejut untuk di definisikan. Ia membulatkan matanya selebar mungkin.
"apa?" ucapnya tak percaya dengan sosok mayat itu. sosok yang hilang ketika ia membunuhnya. Sosok perempuan bernama Homura Rin, seorang medic-nin dalam kelompoknya dulu.
Tsunade memalingkan mukanya, tak sanggup untuk melihat wajah Kakashi saat ini. Mungkin lebih tepatnya, tak kuasa untuk memperlihatkan kenyataan ini pada Kakashi. Namun, Tsunade tau, cepat atau lambat Kakashi harus mengetahui semua ini sepahit apapun Kakashi menerimanya, ia harus memberi tahunya.
Flashback
Tsunade datang, para kage datang. Dan perang telah berakhir dengan di menangkan oleh Naruto serta Sasuke yang membantu Naruto membuat Tsunade dan para kage senang. Namun Tsunade menyadari ada sesuatu yang aneh. Ya, Naruto, Sakura, Sasuke, dan beberapa shinobi yang dikenalnya menangis. Bukan tangisan kebahagiaan namun tangisan kesengsaraan. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah 3 orang sosok yang terbaring dan salah satu diantara sosok itu, ia mengenalnya.
"ng? bukankah itu Kakashi?" ucapnya.
Tsunade akhirnya sadar, "apa Kakashi telah mati?" tanya Tsunade tak percaya. Naruto menggeleng cukup untuk membuat Tsunade lega. Lalu apa yang mereka tangisi? Bukankah kita telah menang? Tapi mengapa tidak ada yang bahagia? Pikirnya.
"Gai, ada apa? Bisa kau jelaskan?" pinta Tsunade, tak mengerti dengan situasi yang terjadi. Namun Gai hanya mengucapkan nama yang tak di kenal olehnya.
"Rin." Ucap gai seseungukan dan berulang kali.
"Rin? Siapa dia? Dan... oh, sebenarnya siapa yang memakai topeng Akatsuki yang mengaku-ngaku sebagai Uchiha Madara?". Tsunade mencari seseorang yang dapat menjelaskan semua perkara yang sedang terjadi. Ia mengalihkan matanya pada sosok yang di kenal dengan IQ diatas 200 itu.
"Shikamaru, sebenarnya ada apa? Bisa kau jelaskan sesuatu padaku?" tanyanya.
Shikamaru yang sedari tadi menunduk, mengadah menatap wajah sang hokage yang sepertinya memintanya untuk menjelaskan sesuatu ini. Ia pun berdiri dari duduknya, mencoba memberi penjelasan.
Tsunade yang akhirnya mengerti karena dijelasakan oleh Shikamaru hanya membisu. Kage yang lainnya yang mendengar penjelasan Shikamaru juga hanya diam.
Tsunade berjalan ke arah Naruto, mendekatinya memberinya ketenangan.
"Naruto, sebaiknya sekarang kita membawa tubuh Kakashi untuk segera di obati dan tentang Uchiha Obito dan Homura Rin biar aku saja yang mengurusnya. Sekarang kau. Sakura, Sai, Yamato dan..." ia mengalihkan pada sosok yang ada di samping Naruto. ".. Sasuke, aku beri tugas untuk memebawa Kakashi ke tempat aman. Biar Sakura yang mengobati Kakashi" jelasnya. Mereka mengangguk dan mulai mengikuti saran yang di ajukan oleh Tsunade.
"Naruto, kita harus membawa Kakashi –sensei."jelas Sasuke sambil membantu Naruto untuk berdiri. Dengan lunglai, Naruto berjalan bersama rekan setimnya sedangkan Tsunade hanya memerintahkan beberapa pasukan untuk membantu shinobi yang terluka untuk segera di obati.
Tsunade melihat Yamato membawa Kakashi dalam gendongan.
'Kakashi...'
Yamato membawa Kakashi ke suatu tempat dan Naruto serta yang lainnya juga mengikuti Yamato.
'Kakashi, apakah kau akan kalah?' pikir Tsunade prihatin dengan ninja berbakat yang di juluki Copy-nin itu.
End Flash
Kakashi masih dalam kondisi yang sama, terkejut, sebelum akhirnya ia bisa mengendalikan keterkejutannya itu.
'seberapa lama aku harus menahan semua ini?' Kakashi terdiam, menatap lantai.
'seberapa lama aku harus menahan semua ini?' ulangnya.
"Tsunade, bisa kau pergi?" pinta Kakashi pada Tsunade. Tsunade hanya mengangguk dan berjalan menuju pintu.
"Kakashi jangan pernah kalah" usul Tsunade sesaat sebelum ia keluar.
'kalah? Dari apa? Bukankah sejak awal aku telah kalah?' pikir Kakashi. Ia menangis.
'cukup!. Cukup!. Hentikan semua ini!. Sudah cukup!' pintanya. Kakashi menutup ke dua telinganya, menghentikan pikirannya yang sedang berkecamuk.
'HENTIKAN!'
...
Tsunade menyandarkan tubuhnya pada kursinya, memandang atap langit ruangannya. Ia berdiri, berjalan menjauh dari kursinya. Ia berhenti, menatapi para shinobi dari jendela ruangannya. Melihat para shinobi sudah bisa tertawa lagi membuat hatinya menangis.
"Jiraiya, jika kau masih hidup apa yang akan kau katakan pada Kakashi? Aku bukan tipe orang sepertimu yang bisa memberi semangat hidup pada orang-orang.".
Tsunade masih menatap para shinobi dengan pikiran masa lalunya.
"Jiraiya, kau tau? Orochimaru, dia sudah pulang namun ia memutuskan untuk kembali ke tempatnya lagi dan aku tak tau harus bagaimana untuk mencegahnya seorang diri. Aku tak bisa untuk menahan dia. Jiraiya, apa Naruto, Sasuke, dan Sakura itu mirip kita?" tanyanya pada angin.
Tsunade menangis namun cepat-cepat ia hapus air matanya itu.
"Kakashi apa yang akan kau lakukan sekarang untuk hidupmu?" tanyanya pada seorang Hatake yang keberadaannya sepertinya masih berada di pondok itu.
"Tsunade –basan" Naruto masuk ke ruangannya tanpa persetujannya, membuat ia cepat mengalihkan perhatiannya pada sosok pahlawah desa itu.
"apa?" tanyanya setenang mungkin.
"Kakashi –sensei, ia menghilang" ungkap Naruto penuh kekhawatiran. Tsunade tersenyum, "tidak, Naruto. Kakashi sedang berada bersama dengan rekan setimnya" jawabnya mencoba menghilangkan kekhawatiran Naruto yang tampaknya berlebih.
Naruto mendesah senang. "syukurlah, aku kira Kakashi –sensei hilang. Ng?..". naruto menyadari ada sesuatu yang aneh dengan ucapan Tsunade.
'bersama dengan rekan setimya?' pikir Naruto berulang-ulang sampai ia menyadari ada sesuatu yang salah dengan kata-kata itu.
"maksudnya saat ini Kakashi –sensei sedang berada ..." Naruto menatap lurus wajah hokage, mencari jawaban.
"ya" Tsunade mengangguk. "Kakashi sedang berada di pondok itu" lanjutnya. Naruto pergi tanpa pamit, panik dengan kata-kata yang di lontarkan oleh Tsunade.
"Naruto" ucap Tsunade lemah.
...
Naruto berlari secepat yang ia bisa. Ia ingin segera pergi menemui Kakashi, gurunya. Memeluknya menanyakan kabarnya. Ingin ia memanggil gurunya dengan sebutan 'pervect' lagi, bercanda bersama timnya dan Sai juga Yamato yang sudah menganggap mereka sebagai bagian dari timnya.
"Kakashi –sensei". Naruto memanggil nama gurunya berulang-ulang.
Dalam larinya, teringat beberapa episode dengan gurunya. Mulai dari saat ia dan timnya yang telah di bentuk menunggu, menjahili gurunya itu. Lalu saat perkenalan dan saat latihan pertama mereka dengan gurunya dan saat-saat ketika ia dan timnya dinyatakan lulus tentunya dengan cara yang aneh.
"Kakashi –sensei" ucapnya lagi.
Jika Naruto mengingat sosok gurunya yang di kenalnya, terkadang ingin ia mengetahui semua tentang gurunya itu. Pertanyaan tentang siapa gurunya itu sudah lama tetanam dalam benaknya, namun karena berbagai masalah menghadangnya tanpa ia mau, terutama tentang Sasuke membuatnya harus mengubur semua misteri yang ada dalam diri gurunya yang ingin di ungkapnya. Ah, tidak, sebenarnya sejak awal ia memang sudah tidak mempedulikan tentang siapa gurunya itu.
'kenapa aku tak mencoba bertanya sekedar untuk mengetahui sesuatu tentang Kakashi –sensei, ya?' pikirnya tak percaya mengapa ia baru bisa berpikir seperti itu saat orang yang di maksud berada dalam penderitaannya sekarang ini.
'kenapa baru sekarang aku memikirkan hal ini? Memikirkan tentang siapa sebenarnya ia, di mana ia tinggal dan hal-hal lainnya? Mengapa aku melupakan orang yang sudah membuat kami menjadi sehebat ini?'
Naruto hanya bisu. Ia berhenti mencoba memikirkan tentang gurunya saat ini dan sekarang ini yang di inginkannya adalah pergi ke tempat gurunya itu, memberinya perhatian yang di butuhkan, setidaknya itu yang bisa ia lakukan karena selama ini ia melupakan orang yang sama berjasanya dalam hidupnya.
...
Hari ini pemakaman Obito dan Rin. Mereka di makamkan di pemakaman mereka sebelumnya. Semua shinobi yang mengenal mereka hadir namun satu sosok berambut perak tidak datang sama sekali. Mereka mengerti mengapa Kakashi tak hadir. Ini terlalu berat bagi Kakashi. Bagaimana tidak? Hal ini pun berat bagi mereka. Selesai pemakaman, satu per satu dari mereka memberi penghormatan.
"aku benar-benar tak percaya" ungkap Anko pada nisan yang bertuliskan Uchiha Obito. Ia mengalihkan lagi pada nisan satunya, Homura Rin.
"kalian tau? Ini sangat gila" ia menutup matanya yang kini tengah menangis. Setelah ia puas, ia mengahpus air matanya dan kembali ke barisan.
Selanjutnya giliran Gai yang memberi kata. Ia menggigit bibir bawahnya.
"sebenarnya apa yang kau lakukan?" ungkapnya. Pertanyaan itu akhirnya terlontar juga. "aku tak percaya. Itu bukan Obito yang aku kenal"
"apa kau tau? Kalau Kakashi selalu merindukan dirimu?". Gai menangis, setengah sesunggukan. "kau sejak dulu memang bodoh!".
Gai terdiam dalam waktu lama. "sekarangpun masih sama bodohnya". Ia kembali ke dalam barisan. Ini bukan kematian biasa. Yah, ia mengetahui tidak ada sebuah kematian yang 'biasa' dalam kehidupan siapapun. Namun, ini terlalu menyakitkan baginya setidaknya itu yang ia rasakan sekalipun rasanya bukan 'sangat sakit'.
Hujan tiba-tiba terjatuh. Setetes, dua tetes air mata kini bercampur adu dengan hujan. Mereka tidak peduli, setidaknya beberapa orang. Mereka terdiam dalam waktu yang lama. Mematung, menulusuri kenangan masa lalu. Mereka menyadari, tidak ada satu kenangan yang 'hilang' namun 'hilang'. Seburuk itukah diri mereka? Mereka sendiripun tidak mengetahuinya. Semua itu adalah misteri.
Namun disisi lain pun, mereka menyadari. Bukan mereka yang berhak bernostalgia terlalu lama. Bukan, dan takkan pernah. Mereka mengetahuinya dalam hati masing-masing. Bahwa kini seorang yang tersisa di antara dua nama yang terbaringlah yang berhak. Namun, mereka juga mengetahuinya, lagi-lagi. Bahwa orang 'itu' kini pasti menyalahkan dirinya terus-menerus. Seingat mereka, dulu orang 'itu' pun menyalahkan dirinya. Bukan karena melenceng dari misi ataupun gagal –dalam kamus orang itu tak ada kata ;gagal, tapi karena tak pernah bisa melindungi salah satu dari dua orang yang terbaring kini.
"hei, apakah kalian tau bahwa tiap hari Kakashi selalu saja pergi kemari? Menghabiskan waktunya di sini, menceritakan semua yang ia alami pada kalian. Apakah kalian mengetahuinya?" tanya Gai. Semua orang menagis meskipun di antara beberapa orang yang hadir tak mengenal dua nama yang terukir di nisan tapi tetap saja mereka ikut menangis.
"meskipun aku mencobanya untuk menghentikan kebiasaannya itu, namun rasanya percuma. Ia terus melakukannya meskipun sudah kucegah berkali-kali hingga rasanya aku menyerah. Ia memang keras kepala, sejak dulu. Bukankah kau juga mengetahui sifatnya, Obito, Rin?" Gai berucap lagi.
Anko maju pada sebuah nisan, membuat semua orang memperhatikannya.
"apa kau tau, Rin?" tanyanya pada nisan itu. "aku selalu mencintai Kakashi sejak dulu. Namun, semakin aku berusaha untuk mendekatinya, ia malah makin menjauh dariku. Sangat jauh" ia tetawa, terlihat di wajahnya rona merah meskipun air mata dan kesedihan yang mendominasi wajahnya yang terlihat sangat jelas. "lalu..." ia memberi jeda pada kalimatnya. "di saat aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, ia malah datang membuat hatiku goyah. Aku tau, Kakashi tidak mencintaiku begitu pula dengan dirimu, bukan? Kau tau bahwa sejak awal ia tidak mencintaimu meskipun kau selalu memberinya perhatian yang lebih". Ia mengusap wajahnya. "tapi kau tidak pernah menyerah. Tidak sekalipun menyerah untuk mendapatkan perhatiannya. Aku selalu bangga dengan sikapmu yang seperti itu meskipun dalam beberapa hal lainnya kau lemah. Maaf, tapi itu yang aku dapatkan dari dirimu dan aku tak suka dengan kebohongan". Ia lalu berjalan menuju nisan satunya.
"dan kau, Obito" tunjuknya pada nisan bertuliskan sebuah nama Uchiha Obito. "bukankah kau tau seperti apa Kakashi itu? bukankah sejak dulu kau selalu ingin membuat Kakashi mengakui keberadaanmu? Dan apakah kau tau, saat ia pulang dari perang dunia ketiga, hanya berdua dengan hokage ke empat, gurumu, ia terlihat sangat lemah dan aku menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi antara kalian ber dua yang tak kami ketahui. Dan aku, sangat terkejut bahwa ternyata kau dan Rin dinyatakan tewas" Anko meremas dadanya, mulai terisak-isak. Semuanya menangis semakin keras.
Flashback
Perang dunia ke tiga berakhir dengan di menangkan oleh Konoha. Namun, untuk mencapai kemenangan itu tak sedikit pula yang menjadi korban. Shinobi Konoha yang masih hidup membawa rekannya yang meninggal dalam perang untuk di makamkan selayaknya.
Terakhir, dua orang muncul dari pintu menuju Konoha. Satu orang berambut kuning dan satunya lagi berambut perak.
"ah.. itu mereka" tunjuk seorang anak perempuan bernama Anko. Semua anak memperhatikan arah yang di tunjuk Anko.
"Kakashi" panggil seorang anak berbaju ketat berwarna hijau, Gai. Ia berlari pada sosok yang di maksud lalu tersenyum dengan senyuman *Clingg* nya sambil mengangkat jempol. "kau memang hebat" senangnya. Namun, Kakashi –yang dimaksud, hanya menatapnya dengan pandangan kosong membuatnya heran.
"Kakashi mana Obito dan Rin?" tanya Asuma, anak dari hokage ke tiga. Kakashi hanya menatapnya, sama, pandangan kosong. Setelah itu Kakashi ambruk membuat pria dewasa di sebelahnya mengendongnya. "akh.. maaf" ucapnya yang tak lain adalah Namikaze Minato, guru pembimbing team tujuh, menghilang mungkin membawa anak dalam gendongannya ke rumah sakit –sepertinya.
"loh? Akh... mungkin Kakashi kelelahan. Tapi...". Asuma terdiam, memberi jeda untuk berpikir.
"mana Obito dan Rin, ya?" ia mengangkat alisnya bingung, tak mengerti dengan dua orang yang sedari tadi di harapkan tidak juga muncul.
"ng...". Kurenai terdiam sebelum ia berbicara. "apa terjadi sesuatu dengan mereka?" idenya.
Semuanya menoleh pada Kurenai, memandangi wajahnya cukup lama sampai semuanya menyadari bahwa memang ada sesuatu yang tak beres. "kalau begitu..." Kurenai mulai gelisah, bukan hanya ia melainkan semuanya.
"tidak! Itu tidak mungkin!" Gai histeris.
"tenang dulu, Gai. Kita tak boleh menyimpulkan sesuatu yang belum pasti, ingat?" Asuma mencoba menenangkan teman-temannya yang mulai panik. Gai pun mulai tenang, semuanya pun ikut tenang. "sekarang bagaimana kalau kita mencoba mencari tau?" usulnya yang di balas anggukan semua teman-temannya.
...
Upacara pemakaman sudah selesai beberapa waktu yang lalu. Namun, masih ada beberapa orang yang memutuskan untuk menetap, diam, mengenangi beberapa orang yang baru di kubur sebagai 'Pahlawan' yang tak akan mungkin di lupakan namun itupun hanya untuk mengenang sebelum akhirnya orang-orang itu pergi meninggalkan makam, menuju jalan yang baru.
"Minato –sensei" panggil Gai dengan hati-hati. Minato mengadahkan wajahnya pada Gai. "ada apa?" tanyanya.
"kalau boleh kami tau, sekarang Kakashi sedang berada di mana?" Anko mulai mengeluarkan air mata namun cepat-cepat di usapnya.
'ah... iya,ya. Mereka pun khawatir dengannya' pikir Minato dengan tatapan sedih. Ia tersenyum –lebih tepatnya dipaksakan.
"Kakashi..." Minato mencoba memberi udara pada saluran pernafasannya, mencoba kuat untuk memberi tau. "ia sedang berada di makam 'mereka'" jawabnya. Semuanya melebarkan matanya, lalu menundukkan kepala mereka. Ada beberapa orang dari anak-anak yang berdiri di hadapan Minato, menangis. Ada yang berusaha untuk tak terlalu terkejut, namun sayang tak berhasil.
Gai pergi meningalkan teman-temannya, berlari ke arah hutan dimana makam Obito dan Rin di buat. Semuanya menoleh dan mengikutinya. Minato terdiam melihat sosok anak-anak yang ingin bertemu dengan murid satu-satunya yang tersisa. Ia pun mulai ikut menangis. Ia tau, ia tidak terluka berat yang menyakitkan, namun ia juga tau ia telah kehilangan murid-muridnya dan itu yang membuat ia 'sakit', hatinya. Ia pun mengetahui bahwa sekarang ini murid yang tersisa di bawah bimbingannya kini yang lebih menderita. Sangat. Karena ia tau bahwa Kakashi tak dapat melindungi siapapun di antara rekan setimnya itu. dan ia tau bahwa hubungan murid bimbingannya mulai terlihat akrab apalagi dengan sosok rambut perak, Kakashi.
'kenapa di saat semuanya mulai membina hubungan yang baik, 'hal ini' malah terjadi?' pikir Minato tak mengerti.
'seberapa Kakashi harus selalu menerima penderitaan karena kehilangan? Ia masih kecil. Pikirannya hanya sebatas anak kecil, ia membutuhkan sesuatu untuk mengokohkan keberadaannya yang tak hanya sekedar sebagai shinobi yang harus memenuhi aturan dan misi. Ia masih kecil untuk mengerti 'arti' yang sebenarnya tentang kematian. Ia masih lugu meskipun ia berpikir telah dewasa. Ia sudah cukup kehilangan ayahnya karena 'misi' yang gagal di lakukan, kenapa kali ini ia lagi-lagi harus kehilangan karena 'misi' yang ku berikan padanya?'
"akh..." Minato mencoba menahan tangisannya. Seseorang memeluknya, seorang perempuan yang telah menjadi kekasihnya, Kushina. "su..dah..lah Mi...n..a..to" ucap Kushina patah-patah. Ia pun menangis.
"tolong, aku mohon. Kau harus bisa merelakannya" Kushina mencoba memberi semangat pada Minato.
"kau tau? Sekarang ini, tugasmu adalah mengawasi Kakashi. Kita harus mengawasi Kakashi".
Minato terdiam, menggigit bibir bawahnya membenarkan ucapan Kushina.
'ya, aku masih mempunyai seorang murid lagi. Aku harus menjaganya.' pikir Minato.
"terimakasih, Kushina. Dan mohon bantuannya" ucap Minato pada Kushina. Kushina hanya mengangguk.
...
"Kakashi". Betapa terkejutnya Gai dengan anak kecil yang sedang terduduk di tanah tak berdaya dan tanpa pertahanan itu. Gai mencoba mendekati namun tiba-tiba ia ditahan oleh seseorang. Ia mendongak menatap wajah Genma yang menganggukkan kepalanya mencoba memeberi tanda supaya Gai jangan dulu mendekati Kakashi. Namun, Gai tidak mempedulikan tanda itu. Ia berlari menuju Kakashi.
"hei, Kakashi" panggil Gai. Namun, respon yang ia dapat hanyalah keheningan. Ia menggigit bibir bawahnya melihat Kakashi yang seperti ini. Mungkin ia tak menerima rivalnya menjadi seperti ini.
"Kakashi". Gai memegang pundak Kakashi dengan hati-hati. "Kakashi tak apa, Kakashi. tak apa. Kau tidak sendiri. Kau masih memiliki kami"
Semua anak-anak yang lain yang mendengar kata-kata yang di ucapkan Gai mengangguk setuju.
"ya, kau masih memiliki kami" ujar Shizune sambil mengepalkan tangannya.
Kakashi terdiam. "tidak". Mendengar apa yang diucapkan Kakashi, Anko menghajarnya dengan sangat keras membuat yang lainnya terkejut.
"Anko, apa yang kau lakukan?" tanya Ebisu tak mengerti.
"berisik!" perintah Anko.
"kau lucu, apa sih yang kau lakukan?". Kurenai tak habis pikir mengapa di saat seperti ini, Anko malah memunculkan kebiasaannya.
Asuma terdiam, Kotetsu dan Izumo hanya menunduk sisanya menghentikan amukan Anko yang akan memukul Kakashi –lagi.
"apa kau tau, Kakashi? apa kau tau?" teriak Anko.
"apa kau tau?". Anko berhenti berteriak, menangis sesungukan. "apa kau tau?" ulangnya.
Kakashi terdiam, "tau apa?" tanyanya tak mengerti.
"apa kau tau? Mungkin, Obito dan Rin selamat". Kakashi terdiam mendengar kata-kata yang di luncurkan Anko yang menurutnya begitu mudah. "masih hidup?" Kakashi menggigit bibir bawahnya. "masih hidup? Apa maksudmu, Anko? apa maksudmu?" teriak Kakashi.
Anko terdiam, butuh waktu untuk menjelaskannya. Butuh waktu sampai air matanya dapat berhenti turun.
"aku pikir, selama tubuh mereka belum ditemukan mungkin mereka masih hidup" hanya kata itu yang dapat Asuma keluarkan, membantu Anko yang kesulitan menjelaskan. Yang lainpun ikut mengangguk, setuju.
"apa maksudmu?" Kakashi tersenyum kecut. "aku..." ia menunjuk dirinya. "aku melihat Obito mati di depanku. Lalu aku sadar bahwa akulah yang membunuh Rin dengan tanganku" ia mematung.
Semuanya diam, hanya hembusan angin yang melaju di antara mereka. "akulah yang membuat mereka mati. Tapi kenapa? Bukan, kenapa bukan aku saja yang mati?" tanyanya tak mengerti, menangisi. Hening. Tak ada satupun yang dapat menjawabnya.
"bahkan kalianpun tak mengetahuinya".
End Flash
"kini..." Anko memberi jeda. "kini kalian memang benar-benar telah mati" ucapnya pada akhirnya.
Semuanya menangis. "kini kalian benar-benar mati" ulang Gai.
Harapan itu akhirnya terwujud. Harapan dari tiap orang yang masih berdiri di ke dua nisan itu.
'akhirnya tubuh kalian benar-benar telah hilang' pikir semuanya.
Naruto, Sasuke, Sai, Yamato menunduk kepalanya menyembunyikan tangisan. Sedangkan Sakura menangis, memeras dadanya.
'kenapa? Kenapa semua ini terjadi pada Kakashi –sensei?'pikir Naruto.
'Kakashi –sensei'hanya nama itu, yang terngiang di kepala Sakura saat ini. Bukan Sasuke. Ia tidak peduli, untuk saat ini. Ingin ia bertemu gurunya memberinya semangat yang ia mampu dimana dulu gurunya itulah yang memberinya semangat bahwa suatu hari nanti Sasuke akan pulang ke Konoha.
'Kakashi –sensei'
...
Kakashi menatap tiga buah batang kayu di depannya. Ia teringat, dulu saat Naruto diikat di tengah batang pahon yang tertancap itu sama seperti saat dimana Obito juga terikat.
Kakashi tersenyum, samar untuk dilihat. Lalu pandangannya beralih pada batang pohon yang ada di sbelah paling kanan. Kakashi juga ingat. Di tempat itu, seorang medic-nin menyandarkan tubuhnya, Rin, nama itu yang Kakashi selalu ingat.
Dan di batang pohon paling kiri, di situlah ia berada.
Kakashi menangis namun hening. Hanya suara air hujan yang di dengarnya. Ia menatap batang kayu itu sebelum memjamkan matanya.
"kau menyebalkan, Kakashi".
"bicaralah pada dirimu sendiri sebelum kau mengatai orang, bodoh"
"berisik. Terserah aku" Obito tak terima.
"huh, aneh. Kau terlahir di keluarga 'Uchiha' yang merupakan klan terkuat tapi kau tak ada kuatnya sama sekali" Kakashi geleng-geleng tak percaya.
"be-ri-sik".
"huh, bahkan untuk berbicarapun kau mesti mengeja. Apa kau tak bisa berbicara dengan benar? Sungguh, jika untuk berbicarapun kau seperti itu, aku heran mengapa para guru di akademi meluluskanmu? Hm, apa ini karena kau adalah salah satu keluarga 'Uchiha'?"
Kata-kata yang Kakashi ucapkan cukup mampu membuat Obito berwajah merah, bukan malu namun kemarahan yang luar biasa. "brengsek".
"kau mengatai dirimu sendiri,Obito?" tanya Kakashi. "kalau begitu baguslah".
'Cukup. Sudah cukup. Ini sudah keterlaluan. Kakashi benar-benar sudah keterlaluan'. Seketika itu pula, Obito menghajar Kakashi. Kakashi tersungkur ke tanah. Ia bangkit dan menghajar Obito. Obito meringis kesakitan karena darah muncul dari hidungnya tapi ia tak peduli. Saat ini ia benar-benar marah akan perkataan Kakashi. Kata-kata Kakashi sudah cukup menghinanya dan itu menembus hatinya yang mudah goyah.
"apa kau tau, Kakashi? kau memang benar-benar menyebalkan. Asal kau tau saja, aku lulus dari akademi dengan kemampuanku sendiri! Terserah kau mau mengataiku apa saja tapi jangan pernah membawa nama klan ku, Kakashi" Obito memukul Kakashi lagi sambil menyeka hidungnya. Ia menangis, sungguh ia benar-benar marah. Kakashi menyeringai.
"o ya? Kenapa aku tak percaya ya, bodoh?"
Obito mengepalkan tangannya memejamkan matanya. Ia tersenyum.
"kenapa kau tersenyum bodoh" hina Kakashi.
"kau ingin tau mengapa aku tersenyum, Kakashi?" tawar Obito.
"buat apa aku peduli?" heran Kakashi.
"ya buat apa kau peduli. Tapi aku juga tak peduli" ungkap Obito. "kau iri" jawab Obito dan itu membuat Kakashi tertawa.
"aku iri? Denganmu? Maaf saja ya, jika aku jadi kau aku akan malu dengan kekutanku yang sepertimu itu".
Obito terdiam, otaknya sudah tak bisa mengontrol lagi untuk memukul Kakashi dengan kuat. Sangat kuat.
"suatu hari nanti aku pasti akan mengalahkanmu, Kakashi. Dan membuatmu mengetahui seberapa besar kekuatanku" janji Obito pada dirinya sendiri.
"mengalahkanku? Hm, tentu, itupun jika kau benar-benar bisa mengalahkanku" ujar Kakashi.
Kakashi membukakan matanya. Terdiam sebelum akhirnya tertawa. Namun, tidak untuk hatinya.
"kau sudah mengalahkanku, Obito" ungkap Kakashi. Ia terjatuh. Merintih, hatinya memintanya untuk menangis keras, sangat keras.
"maaf. Maafkan aku, Obito. Maaf. Sungguh aku minta maaf padamu" Kakashi menangis mengingat percakapannya dengan Obito. Ia tau, jika ia mengingat masa lalu bersama rekan setimnya, tidak ada satu hal pun yang baik untuk di bicarakan. Setiap waktu jika bertemu, ia pasti mengajak Obito untuk mulai adu debat. Entah itu tentang kekuatan, aturan, atau apapun juga semuanya ia pasti akan membuat Obito marah. Dan hal itupun akhirnya hanya terselesaikan dengan Obito mengalah atau Minato, guru pembimbingnya yang menghentikannya dan menyuruhnya untuk mendinginkan kepala.
Kakashi tau. Dulu, ia belum dewasa sama sekali. Meskipun ia kuat, ia mengetahui semua jurus dan aturan tidak lantas membuatnya 'dewasa' dalam urusan perasaan. Ia lemah.
Mungkin, saat Obito mengatakan padanya bahwa ia sebenarnya iri, itu sangat tepat. Tepat sekali hingga membuatnya berkata lebih kejam.
Begitupula dengan perempuan berambut coklat yang satu teamnya. Seorang medic-nin yang selalu mengobatinya di kala ia terluka. Ia ingat, tidak pernah sekalipun ia mengatakan terimakasih pada Rin. Tidak. Hatinya terlalu 'keras' untuk mengucapkan kata-kata yang menggelikan, baginya. Namun, ia juga tau bahwa Rin selalu tersenyum di saat ia menatap wajah Rin meskipun hati kecilnya selalu berusaha menolak tapi itu semua nyata. Ia juga tau, bahwa ia sering mengatai Rin lemah dan merepotkan tapi ia tidak meminta maaf atas ucapannya.
Uchiha Obito.
Homura Rin.
Nama-nama yang selalu membuatnya menyesali atas sikapnya. Ia sombong, angkuh, dan merasa bahwa ia tak memerlukan siapapun selain dirinya. Padahal ia tau, bahwa dirinya ingin memiliki orang lain. Membawanya ke tempat yang benar-benar di inginkannya. Bukan misi atau yang berbentuk perintah membunuh. Ia sudah biasa melakukannya. Terlalu biasa untuk dikatakan sering.
Sudah cukup tubuhnya yang selalu terluka, dan entah sejak kapan hatinyapun ikut terluka. Seberusaha apapun ia untuk membuang hatinya, dirinya pun semakin terbuang. Tenggelam, hingga orang lain sulit untuk menggapai dirinya yang sebenarnya.
Bukan, kehidupannya sejak awal hanyalah pembuangan dari hatinya yang sebenarnya yang menginginkannya untuk mengerti. Ia tau, mungkin ia menjadi seperti itu saat ayahnya di temukan telah mati, bunuh diri. Ia tidak ingin menyalahkan ayahnya yang sangat di idolakan. Tidak ingin. Ia tau bahwa ayahnya menanggung beban berat karena di salahkan namun ia tidak mencoba untuk membuat ayahnya melepaskan beban itu dan ia malah menambah beban itu, baik secara sadar atau tidak. Itu yang ia benci pada dirinya.
Bukankah penyesalan selalu datang terakhir, Kakashi?
Ia teringat akan kata-kata yang di ucapkan Minato padanya, entahlah ia tidak ingat kapan gurunya mengatakan hal itu padanya. Ya, penyesalan selalu datang terakhir dan itu takkan mengubah apa yang telah terjadi.
Hujan semakin deras dan malam mulai datang.
'semuanya telah berakhir, Kakashi. Berakhir, dan semua yang kau inginkan di dalam hatimu yang kau tutupi dengan sangat rapat hingga kau sendiri tak menyadarinya, semua hilang. Berakhir' jawab seseorang dalam dirinya pada dirinya sendiri.
Kakashi memandang pemandangan di depannya. Bola matanya kosong. Hampa. Dan ia tidak tau kapan penderitaannya akan berakhir.
Kakashi bangkit, memandang pemandangan di depannya sekali lagi. Mencoba tersenyum meskipun itu adalah senyum palsu. Setidaknya ia sudah sering tersenyum palsu. Lalu ia meninggalkan lapangan hijau itu yang becek karena genangan air hujan.
'sekejam apakah aku?'
.
.
.
.
TBC
Tolong reviwsnya.
