Disclaimer: M. Kishimoto
Title: The Beginning of everything
Pair: Sasuke U. & Hinata H.
Genre: Romance
Warning: AU, tanda baca nyasar, cerita ga jelas, sangat OOC,typos bertebaran,melenceng dari EYD yang berlaku dll
Terinspirasi dari komik (yang saya lupa pengarang sama judulnya )awalnya, tapi diubah sana-sini oleh Author dan jadilah cerita abal ini.
Ini adalah fanfic pertama saya, jadi mohon bimbingannya para senpai. Kritik dan saran selalu terbuka
Keterangan tambahan:
'…'= dalam hati
Kata yang dibold+center= masa lalu
Kata yang dibold= telfon, e-mail dll
Mohon maaf untuk chapter yang kemarin karna tidak ada keterangan kalau masih bersambung terus banyak typo berceceran serta dilengkapi oleh ejaan yang -amat sangat- mengenaskan –sekali-.
Hontou ni gomen ne #bungkukgakbalikbalik (T_T)
Don't like don't read!
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxx
Chapter 2
Selama masa hidupnya yang baru menginjak delapan belas tahun beberapa bulan yang lalu, Sasuke terbiasa dengan orang-orang yang berteman dengannya untuk mengincar hartanya. Jadi ,saat ada seorang gadis mungil yang datang menemuinya atas permintaan Mamanya tersayaang, Sasuke mengira dia sama dengan para gadis tawaran ibunya yang lain.
Yang hanya tertarik pada marga beserta serentetan jaminan yang menyertainya.
Sasuke muak.
"Ma, Cacuke enak ya, punya banyak uang bica beli mainanan yang banyak"
Muak dengan uang yang dimilikinya atas pemberian orang tuanya
"Wah, bungsu Uchiha itu hebat ya, bisa meraih penghargaan pertama di olimpiade sesulit itu,"
"Justru kalau dia kalah, malah jadi luar biasa, lihat saja garis keturunannya, kakaknya saja prestasinya juga terbilang gemilang, haah…enaknya jadi keturunan Uchiha,"
Muak dengan nama belakang yang selalu mengiringi langkah keberhasilannya.
"Wah itu Sasuke-kun, hari ini pun dia tetap sama… Dia tampan sekali,"
"Lihat saja caranya berjalan….sungguh berkarisma, aku tersepona…Sasuke-kun I love you"
Muak dengan para gadis yang selalu mengejarnya karna wajah rupawan serta pesona yang tak diinginkannya.
Sasuke menatap Hinata dengan pandangan jijik serta meremehkan, Hinata yang ditatap seperti itu terlebih lagi dengan ucapan yang bagai menusuk ulu hatinya, merasa terinjak-injak harga dirinya. Wajahnya memerah bukan karana malu yang selama ini selalu sukses mewarnai pipi tembemnya tapi karna Sasuke yang menurutnya sudah kelewatan. Kesabaranya juga ada batasnya. Kemarahan yang sedari tadi ditahanya pun meledak juga.
Pelan-pelan diusapnya pipi Sang bungsu Uchiha dan ..
PLAKK
Sasuke yang kaget segera beringsut dari posisi semula sembari menggosok pipinya yang barusan dihadiahi tamparan oleh gadis dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan,hah?!"
Sasuke yang marah menatap Hinata nyalang. Seumur-umur belum pernah ada seseorang yang bergender perempuan berani menamparnya. Baik itu anak kecil, gadis, wanita , janda sampai nenek-nenek sekalipun. Walaupun mamanya selama ini sering memarahinya namun hanya sebatas memblokir kartu kredit dan beberapa fasilitas mewah yang di berikan padanya. Hinata menatap galak.
"Kau pikir aku wanita murahan yang hanya mengincar uangmu,hah? Sampai kapanpun aku tidak akan sudi mengambil hartamu, TUAN MUDA" Hinata menekan kata terakhir dengan penuh emosi.
"Sasuke,"
"…" Hinata merasa otak Sasuke mulai bergeser dari tempatnya semula. Lha kan, tadi Hinata lagi marah-marah sama si iblis bermodel rambut pantat ayam,kok dia cuma balas dengan satu kata yang tak sinkron sama perkataan Hinata. Sepertinya rumor kalau Sasuke adalah remaja terjenius nomor tiga setelah si ahli peretas sistem komputer dan si berandalan pindahan sekolah luar kota hanya isu belaka.
"Sudah ku bilang panggil aku Sasuke, aku benci dengan kosa kata yang kau pakai tadi,"
Sumpah, demi bulu mata anti-septik si Orochimaru-sensei, Hinata tak pernah semarah ini sebelumnya, emosinya selalu terkontrol berkat latihan yoga yang rutin dijalaninya selama dua tahun terakhir, namun, si iblis bermodel rambut pantat ayam yang berada di ruangan yang sama dengannya sekarang ini, membuat emosinya mendekati level 'berbahaya'. Coba pikir deh sekarang , setelah merasa dilecehkan oleh perkataan 'pedas' terus dianya tak merasa punya salah dan malah menyuruh seenak jidatnya memanggil nama kecil seolah sudah kenal sejak lama. Siapa juga yang tak merasa emosi?
Hinata tersenyum lebar nan manis, sangat kentara kalau dipaksakan.
"Asal anda tau TUAN MUDA, bukan kemauanku untuk datang ke rumah anda, senang bertemu dengan anda dan selamat tinggal semoga kita tak akan pernah berjumpa lagi. Selamat sore,TUAN MUDA"
Hinata sengaja memanggil Sasuke Tuan Muda dan menekan tiap patah katanya karna Sasuke mengatakan dia benci kata itu, dan Hinata percaya.
Hinata juga tahu kalau kecil kemungkinan bagi mereka untuk sekedar tak bertatap muka, mengingat ayahnya adalah bawahan ayah sang Iblis, bisa saja si iblis meminta ayahnya untuk memecat ayah Hinata. Mengingat hal itu membuatnya berhenti seketika. Masa iya Sasuke seegois itu?
"Kenapa? Berubah fikiran?"
"Takkan pernah"
Hinata menjawab pertanyaan Sasuke tanpa membalik.
'Dia sangat menyebalkan. Oh Tuhan.. sabarkanlah aku'
Tapi, Hinata tidak takut pada Sasuke.
Dan. Takkan. Pernah.
Tapi jika kemarahannya barusan membuat ayahnya harus mengambil resiko dari tindakanya. . .
Hinata tidak mau itu terjadi, Namun ego serta harga dirinya yang mulai sedikit demi sedikit terbangun mengurungkan niatnya untuk sekadar meminta maaf. Toh Hinata juga tak salah. Salah siapa yang membuat Hinata emosi hingga berbuat seperti itu?
Sasuke
Jadi menurut hematnya Sasuke yang harusnya meminta maaf padanya. Hinata juga bakal maafin kok, meskipun dengan berat hati. Masalah beras. Selesai. Dan END.
Hinata menarik gagang pintu ganda yang ada dihadapannya dengan sekali sentakan kuat. Kemudian menutupnya dengan bantingan yang memekakkan telinga. Sasuke menatap punggung Hinata yang mulai menghilang di balik pintu dengan seringaian tipis.
'Menarik.'
"Sebenarnya saya penasaran mengapa anda mengatakan kalau Tuan Sasuke tidak baik-baik saja, memangnya apa yang terjadi?" Lelaki paruh baya yang sekarang berada di taman belakang Kediaman musim panas keluarga Uchiha terlihat sedikit mengerutkan keningnya.
Pasangan Uchiha yang berada disampingnya hanya menghela nafas berat.
"Semenjak kematian Ayah, Sasuke menjadi seperti itu. Lebih sering menutup diri, berfoya-foya, bermain perempuan, klabing, dan lainnya. Sasuke mengira kematian Ayah karna Ibu tak setia dan lebih sering pergi ke luar negeri sendiri tanpa Ayah. Padahal bukan seperti itu, dua tahun terakhir masa hidup Ibu, beliau mengidap penyakit kronis, semenjak itu, Ayah yang biasanya selalu menemani, bermain dan memanjakan Sasuke menjadi pribadi yang lebih tertutup, beliau hanya keluar saat makan dan ke kantor, selebihnya, beliau hanya mengurung diri di kamar tak mau bicara dan menolak setiap orang yang hendak datang saat beliau sakit. Setahun terakhir masa hidupnya, beliau koma dan hingga akhir, meninggal tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk keluarganya. Semenjak itu, Sasuke membenci perempuan, baginya perempuan hanya mainan yang dapat langsung dibuang kalau bosan,
Sekalipun Mamanya tapi aku tak berarti di matanya.."
Mikoto menatap taman indah nan asri di hadapannya dengan pandangan kosong tanpa titik fokus. Mikoto seperti menerawang terperangkap dalam dunianya sendiri.
Tes
Tak terasa setetes air mata jatuh menuruni pipinya.
"Aku yang salah, karna sebagai ibu, aku bukan repot mengurus anak-anakku tapi justru aku malah mementingkan karirku yang baru mencapai titik puncak setelah sekian lama aku berusaha dan bekerja keras….. Anak-anakku tumbuh dengan limpahan materi, tapi. .. tapi…"
Mikoto tak dapat meneruskan 'curhatan'nya karna isak tangis yang ditahannya mulai pecah.
"Aku tak becus sebagai orang tua"
Fugaku mendekap Mikoto erat. Hiashi bersyukur, bukan karna tertawa di atas penderitaan pasangan Uchiha yang dianggapnya sebagai penolongnya. Namun, karna sejak kecil, kedua buah hatinya dibanjiri oleh kasih sayang darinya dan mendiang istrinya yang tercinta, walaupun bukan dalam bentuk materi. Meskipun setelah sang istri harus berpulang pada Sang Pencipta, mereka bersyukur sempat memberi kasih sayang yang melimpah pada kedua buah hati mereka. Karna sang istri memegang satu prinsip teguh.
' Setiap orang harus mempunyai masa kecil yang bahagia untuk dikenang saat masa tersulitnya dan Sebagai pengingat saat masa terpuruknya dan aku menginginkan itu untuk anak-anakku'
Dan Hiashi mengabulkannya demi sang istri. Meski sekarang harus pontang panting mencari penghasilan untuk mencukupi kehidupan keluarga kecilnya.
Hiashi menerawang menatap awan. Menutup kelopak mata yang telah sedikit berkerut dimakan usia. Membanjiri wajah dewasanya dengan siraman sinar mentari sore.
"Mikoto, aku hanya ingin mengatakan hal ini bukan sebagai seorang motivator. Tapi, aku mengatakan ini sebagai seorang ayah, sebagai seorang sahabat untukmu, Jangan terpaku pada masa lalu. Jadikan masa lalu pelajaran serta kenangan yang akan menuntut kita pada masa depan cerah berarti. Aku tahu kau membangun karirmu dimulai dari nol. Aku sangat mengenalmu, kau sangat menyayangi keluargamu, aku tidak menyalahkanmu,..."
"...tapi kupikir kau terlalu memanjakan putra bungsumu, Miko-chan" Hiashi tersenyum tipis
Mikoto masih terisak dalam dekapan suaminya. Perlahan Mikoto melepas dekapan erat tersebut
"Hiashi apa kau punya saran? Kau tau aku percaya padamu aku menganggapmu seperti kakakku, tolong bantu aku!" Mikoto menatap Hiashi dengan tatapan penuh harap. Sembari mengatupkan kedua telapak tangannya.
Hiashi ditatap seperti itu oleh salah satu teman sejawatnya jadi tak enak juga, Namun apa yang bisa dilakukan untuk membuat si Bungsu Uchiha bisa tobat?
Tiba-tiba muncul bohlam lima watt yang menyala terang diatas kepala Hiashi. Yah secara simpelnya Hiashi dapat wangsit.
"Kenapa tidak kau blokir saja semua kartu kredit dan visa cardnya, dan semua fasilitas mewah yang kau berikan padanya...lebih efisien lagi suruh dia cari penghasilan sendiri."
"Kelihatannya terlalu berat,"
Masa iya Sasuke harus cari kerja, apa kata dunia coba?
Seorang Uchiha, terlebih lagi yang dalam kasus ini, Uchiha Sasuke..
Iya, Uchiha Sasuke itu lho si Bungsu Uchiha, adiknya si Itachi. Masa iya dia harus menenteng map tebal terus keliling kota dan mencari perusahaan yang lagi cari pegawai baru.
Oke. .itu hanya bayangan Mama Mikoto yang rada nggak ikhlas bayangin anak kesayangannya kepanasan, kehujanan, terus..lupakan.
"Yah kalau masih berat bagimu.. sedikit demi sedikit ajari Sasuke cara hidup mandiri, susahnya cari uang dan yang lainnya"
Hiashi mencoba mencari jalan tengah yang sekiranya tidak memberatkan kedua belah pihak, antara Sasuke dan Mikoto. Dan yang dapat menguntungkan keduanya.
"Ku dengar Hinata membiayai sekolahnya sendiri.."
Mikoto membuka topik baru, Hiashi merasa perasaannya tak enak.
"Iya, dia mendapat beasiswa dan membantu pemasukan keluarga dengan memberi les privat untuk anak SMP, memang kenapa?"
Hiashi merasa topik ini akan membuat perasaanya menjadi was-was. Keringat dingin meluncur menuruni tengkuknya. Hiashi menelan ludah mencoba membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba mengering.
"Bagaimana kalau Sasuke tinggal sementara waktu di rumahmu, siapa tau dari kehidupannya bersamamu dia bisa berubah, kau mau kan, Hiashi?"
Mikoto mengeluarkan jurus andalannya. Puppy eyes no jutsu. Tak peduli usia tapi jurus itu berhasil membuat Hiashi panas dingin, pasalnya bukan gara-gara jurus andalan Mikoto. Namun tatapan galak suaminya yang diarahkan padanya seolah mengucapkan secara non verbal Bilang-iya-atau-nyawamu-takkan-selamat.
Tuh,kan benar kata nenek moyangnya dulu feeling Hyuuga memang terbukti sembilan puluh sembilan persen akurat.
TBC
Pojok –penderitaan- Author:
Kyaaa…. Gomen ne..(bungkuk2)
Saya emang nggak becus bikin cerita #pundung dipojokkan T_T
Perasaan pas baca komiknya cuman 10 halaman, eh kenapa pas saya nulisnya jadi berlembar-lembar T_T
Moku-Chan,Dreamer Ladies, Dr. Boo-Chan, Guest: sankyuu…ini udah apdet :D
KumbangBimbang: bukannya Sasu emang udah lahir dengan tingkat kepedean melewati batas normal yak? #chidoried XD
Sankyuu..
: Sasu emang dari dulu gitu.. akemi herman ama Mikoto dulu ngidam apa sampe lahir makhluk kayak si Sasu gitu # plaakk XD
Gui gui M.I.T: Sankyuu.. atas sarannya,senpai. Jawaban pertanyaan pertama: dengan sangat menyesal saya menjawab cerita abal ini masih lanjut alias tbc. Karna kemaren saya lupa ngasih keterangan mangap #dibejekramerame XD
Yosh,saya sudah berusaha meminimalisir kesalahan saya di chapter ini, bagaimana menurut senpai?
Dedicated : buat onee-chan
23-01-13
Akemi M. Ryouzaki
