Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')
Let The Story Begin...
.
.
.
Acara makan malam pun selesai dan para tamu sudah pulang. Kini tinggallah sang tuan rumah yang tengah duduk berduaan saja diteras belakang memandangi bulan purnama penuh dimusim panas. Bahu kekar Hishigi menjadi penyangga yang pas untuk tubuh mungil Tokito. Tak banyak kata yang mereka ucapkan kala itu, karena seperti hal-nya mereka dahulu, kata-kata tidak terlalu berperan penting bagi mereka.
"Kau ingat?" Tanya Hishigi memecah keheningan. Tokito cuma bergumam tanda ia mendengar. "Pertama kali kita duduk berduaan seperti ini dulu. Saat itu kau terus diam saja " Lanjut Hishigi.
"Sudahlah, anata. Aku malu" Ujar Tokito. Hishigi terkekeh pelan. Diciumnya pucuk kepala wanita yang amat dicintainya itu.
"Terima kasih, anata...untuk segalanya" Lirih Hishigi. Tokito memeluk pinggang Hishigi menambah dekat jaraknya dengan lelaki yang telah merebut hatinya sejak pertama kali mereka bertemu. Perjalanan cinta mereka memang terbilang tak mulus, Tokito harus menyamar jadi cowok dan jadi pengawal pribadi Hishigi. Lalu mereka berpisah dan nyaris tak bisa bersatu lagi kalau saja Hishigi saat itu gak nekat ngelamar Tokito. Pada akhirnya tak lama setelah lamaran, Hishigi pun memecat Tokito. Alasannya karena sekarang Hishigilah yang melindungi Tokito. Tapi kalau pada akhirnya berakhir bahagia, rasanya segala pengorbanan ini sesuai.
Hishigi tak henti-hentinya mengecup pucuk kepala Tokito. Menyalurkan afeksi dan cintanya sebagai seorang suami. Tokito pun tampak menikmati tiap-tiap perlakuan Hishigi. Setelah mereka menikah, tampaklah sifat hangat Hishigi yang sangat kontradiktif dengan topeng dinginnya. Selama beberapa bulan terakhir hamil Yuan sampai dengan Akari, Hishigi rela memindahkan kantornya sementara ke rumah demi agar dapat memantau kondisi Tokito. Memastikan bahwa ia tak melalui semua ini seorang diri.
Keheningan pun menjadi melodi latar mereka berdua kali ini. Rasanya Tokito mengerti kenapa Hishigi menyukai kesunyian. Dipejamkan kedua matanya, menikmati semilir angin malam diantar oleh nada degup jantung suaminya yang begitu menenangkan. Seolah semuanya akan baik-baik saja. "Anata..." Ujar Tokito.
"Hm?" Jawab Hishigi.
"Apa...kau tidak menyesal?" Tanya Tokito.
"Untuk...?" Tanya Hishigi lagi. Tokito menggigit bibirnya, ragu. Tapi kalau tidak bilang, bisa saja ini akan jadi bom waktu.
"Well, aku tahu kau penyuka kesunyian. Kau bahkan sering marah padaku dulu karena aku banyak ngomong. Dan sekarang kau mendapatkan miniatur diriku dengan segala kecerewetanku. Kau tidak menyesal?" Tanyanya. Hishigi terkikik geli mendengar pertanyaan panjang isinya. Ia menghela nafas dan memandang langit malam yang sepekat matanya.
"Hari Sabtu pukul setengah satu dini hari. Aku masih ingat saat kau membangunkanku tiba-tiba dan mengatakan ketubanmu pecah. Lalu kemudian segalanya terasa sunyi. Entah kenapa telingaku mendadak tuli, nalarku sudah tidak berfungsi. Aku begitu ketakutan setiap saat kau mengejan, kalau aku bisa menggantikanmu saat itu, tanpa pikir panjang aku pasti akan melakukannya" Ujar Hishigi. Tokito menatap wajah Hishigi.
"Pukul tiga dini hari, Yuan pun lahir. Dan kau tahu? Telingaku seakan berfungsi kembali mendengar suara tangisannya. Bagiku...itu melodi terindah yang pernah kudengar, seakan malaikat sendiri yang memainkannya untukku." Lanjutnya. Tokito tersenyum, kedua dadanya serasa penuh oleh kebahagiaan. "Tidak ada hal lain paling membahagiakan bagiku selain mengetahui bahwa ada kehidupan kecil yang mengalir sebagian darahku...aku tahu, aku akan kehilangan kesunyian itu, tapi aku menemukan kedamaian dalam setiap celotehan berisik mereka." Lanjut Hishigi.
Tokito mengecup lembut pipi Hishigi. Betapa beruntungnya ia memiliki Hishigi. Pria yang menyayangi keluarganya lebih dari apapun. Tiba-tiba terdengar tangisan dari arah kamar Akari. Saat Tokito bangkit, Hishigi malah menahannya. "Biar aku saja, kau tidurlah" Katanya seraya mengecup kening Tokito lalu pergi menuju kamar sang buah hati.
.
.
.
Beberapa menit sudah berlalu namun Hishigi belum juga kembali ke kamar. Tangisan tidak lagi terdengar namun tetap Tokito khawatir. Jangan-jangan suaminya ketiduran, bisa-bisa dia masuk angin lagi. Maka Tokito pun memutuskan menyusul sang suami ke kamar Akari.
Di lorong, terdengar seperti suara orang bersenandung. Pelan-pelan Tokito mendorong sohji kamar Akari. Kedua iris chrystoberyl-nya melihat sosok jangkung Hishigi tengah menina-bobokan Akari dalam gendongannya. Senyum pun dengan sendirinya terlukis diwajah Tokito.
"Maaf, apa aku membangunkanmu?" Bisik Hishigi. Tokito menggeleng pelan. Dihampirinya Hishigi dan Akari yang sudah tertidur pulas kembali dalam gendongan Hishigi. Diusapnya punggung Akari yang lalu ditidurkan Hishigi kembali ke dalam boks bayinya. Senyuman masih tak lepas dari wajah Tokito bahkan ketika Hishigi berbalik menghadapnya. "Ibunya mau juga?" Tanya Hishigi pelan. Belum sempat Tokito bereaksi, Hishigi keburu menggendong Tokito ala bridal style kembali ke kamar mereka. Tampaknya sampai kapanpun Hishigi tidak memberikan celah pada Tokito untuk membuat pilihannya. Agaknya sifat egoisnya masih tersisa, terutama dalam hal memonopoli sang istri.
TAMAT
(a/n) Sesuai janji cuma cerita two shoot dengan tema yang ringan dan yang lucu :3
Sengaja auhtor gak masuk-masukn OC biar lebih gampang buat para readers sekalian ngebayangin tokoh-tokohnya. Buat kemiripan ama enggaknya sih mirip-miripin aja, namanya juga fanfic ._.
Mind to RR? Review anda semangat saya :3
