F I K A
Byun Baekhyun – Park Chanyeol
[Boys Love. Mpreg. Family. Lokal! Semiformal!]
Mature Diqit yha.
.
.
.
Dua
.
.
Ichi dan Ocha mulai masuk Sekolah, setelah puas tidak puas dua Minggu libur mereka harus memaksa diri bangun pagi dan mandi. Hanya itu. Karena mulai dari air hangat sampai bekal Baekhyun yang siapkan, ia bekerja ekstra pagi ini ditambah mengurus Chanyeol terlebih dahulu. Ketika semua orang sudah menghuni ruang makan untuk sarapan, Baekhyun bahkan masih berkutat dengan dua kotak bekal keponakannya.
Chanyeol kesal.
Mereka baru saja menikah dua bulan lalu, seharusnya menikmati waktu berdua sambil bermanja-manja. Tapi sekarang, Baekhyun persis seperti ibu yang memiliki dua anak. Sibuk sekali.
"Ocha mau telur puyuh atau telur dadar?"
"Dua-duanya, Onti."
"Mau Onti kupasin juga?"
"Iya, soalnya nanti kalo kupas sendiri tangan Ocha jadi bau amis."
Baekhyun terkekeh selagi pelan-pelan mengupasi empat buah telur puyuh untuk masing-masing kotak bekal keponakannya. Tenang saja, tetap steril kok karena Baekhyun memakai sarung tangan plastik. Setelah selesai menyusun, kotak bekal di tutup dan dimasukkan kedalam tas sekolah Ichi maupun Ocha sekaligus dengan susu kotak penambah tinggi badan. Chanyeol masih memantau tanpa menampakkan eskpresi menyenangkan, diam-diam menyeruput kopi hitam sambil mendumel dalam hati.
"Onti nggak taruh selada 'kan di kotak bekal Ichi?" Tanya si sulung saat Baekhyun akan mencuci tangan di wastafel.
"Hm? Ichi nggak mau selada?"
"Tuh 'kan, Onti nggak nanya dulu sama Ichi."
Memastikan tangannya kering, Baekhyun mengeluarkan kotak bekal Ichi dari tas dan mengamankan selembar daun selada darisana.
"Maaf, Onti kirain Ichi suka selada." Tak ada lagi sayur, lelaki itu menaruh kembali kotak bekal Ichi ke dalam tas dan mengancinginya. "Semua udah lengkap, belum? Ocha mana topi sama dasinya, sayang?"
Si bungsu menyengir, "Tadi Ocha udah cari tapi nggak ketemu. Kayaknya ketinggalan di rumah bunda, deh."
"Huft, sebentar biar Onti yang cariin."
Chanyeol melihat istrinya meninggalkan konter dapur terburu kemudian menatap tajam masing-masing wajah keponakannya.
"Berapa kali harus Om bilang, jangan bikin Onti kerepotan. Ini mulai dari bangun tidur semuanya Onti yang urus. Mandi, pakaian, kaus kaki, sarapan, bekal. Makin kesini makin manja, kapan gedenya."
"Ocha masih kelas 2 SD, Om."
"Terserah." Chanyeol meletakkan cangkir kopi yang sejak tadi ia pegang ke atas meja, "Ichi, kamu kakak disini. Tolong contohin sikap baik di depan adikmu, jangan ikutan manja, harus bisa ngebantu Onti sedikit."
Ocha menatap sang kakak yang terdiam seolah habis dimarahi pak guru kejam di sekolah.
"Iya, Om." Sahut Ichi pelan, mengunyah nasi goreng pun rasanya tak enak lagi.
"Yaudah, ngapain nunduk terus? Om nggak marah, kok."
Si sulung mengangkat dagunya tapi masih tak berani menatap Chanyeol, sedangkan pria berseragam itu masa bodo, selagi ia mengatakan yang baik-baik pada keponakannya tak masalah.
"Siapa bilang topi sama dasinya nggak ada? Ocha carinya nggak bener, tuh." Baekhyun datang masih terburu-buru dan langsung memakaikan dasi dikerah kemeja Ocha, lalu topinya. "Kalian berangkat sama Om, ya."
"Lho, kok?" Chanyeol lah yang protes pertama kali. "Nggak bisa gitu, Bee."
"Bus Sekolah mereka nggak masuk komplek kita, Chan." Baekhyun kembali fokus pada dua keponakan cantik-cantiknya, "Ichi sama Ocha tunggu diluar, ya. Onti mau ngomong dulu sama Om."
"Shiap!"
Ocha membuat gestur hormat lalu jalan beriringan dengan Ichi keluar dari konter dapur setelah memakai tas punggung berkarakter mereka.
"Kamu kenapa, sih?"
"Apanya?"
"Nggak boleh kayak gitu, ah. Ichi sama Ocha 'kan anak kakak kamu sendiri, harus sayang dong sama mereka."
"Siapa bilang aku nggak sayang sama mereka, Bee? Kalo aku nggak sayang, dari kemarin udah aku pulangin."
Baekhyun menghela napas mengalah, mendekati suaminya untuk merapikan seragam pria itu yang katanya hari ini akan ke pelabuhan. Chanyeol kelihatan tampan seperti biasa dan selalu, tubuhnya tinggi dan besar, bagus sekali saat baju seragam membungkus ketat lekuk badannya. Sedikit membuat khawatir. Pasti pegawai perempuan yang belum menikah banyak melirik bahkan diam-diam mengagumi Chanyeol.
Risiko memiliki suami baik dalam visual dan tentu mapan.
"Yaudah, berangkat hati-hati. Jangan ngebut dan jangan lupa kabari aku nanti." Baekhyun merapatkan tubuhnya dengan kedua tangan menapak di masing-masing dada sang suami sementara Chanyeol ikut menggenggam jemari kanan Baekhyun yang terdapat berlian pernikahan mereka sambil melayangkan tatapan cinta teramat dalam.
"Kamu juga, Bee. Istirahat yang banyak, kata Dokter nggak boleh terlalu capek. Cukup ngurusin Ichi sama Ocha, pekerjaan rumah tinggalin aja. Aku akan cari asisten rumah tangga secepatnya." Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dan menebar ciuman selembut krim susu, "Kamu harus persiapin diri."
Si mungil terkekeh kemudian menjauhi bibir Chanyeol yang sehalus kupu-kupu itu.
"Aku udah siap banget, kok." Baekhyun makin melepaskan kekehan ketika sang suami ikut mengelus perutnya main-main, "Tunggu Park kecil disini."
"OM, OCHA UDAH TELAT, NIH! MASIH LAMA NGGAAAK?"
"Huft, curut." Hardik Chanyeol, belum pun ritual paginya melumat bibir Baekhyun terlaksana. "Nanti kalau kita punya anak jangan sampe kayak Ichi sama Ocha. Langsung resign aku jadi orang tua, serius."
"Ya, menurut bapaknya juga gimana."
"Aku? Waduh, pasti anak kita gantengnya kebangetan, Bee. Walaupun nggak akan ngelewatin gantengnya aku yang udah overload ini."
"Perasaan. Yaudah sana pergi, hati-hati, lho."
Chanyeol menyempatkan beberapa detik untuk menahan tengkuk Baekhyun dan menghisap bibir tipisnya. Kalau tidak begitu, ia pasti tidak akan fokus bekerja.
.
.
.
Sedikit cerita mengenai permasalahan, mengapa Baekhyun bisa menikah dengan Chanyeol yang lebih pantas jadi pamannya? Semua sudah terencana sejak awal Baekhyun duduk di bangku kampus. Mulai dari lelaki itu ingin memilih Teknik Mesin sampai berakhir menjadi mahasiswa Arsitektur yang sama sekali tidak pandai membuat sebuah garis lurus. Sang mendiang ayah menentang keras saat dirinya mengaku ingin mengambil studi S1 Teknik Mesin, katanya;
"Kamu terlalu cantik dan imut untuk berurusan dengan mesin, Baekhyun. Papa nggak siap kamu jadi urakan dan kotor seperti anaknya temen papa." Sang ayah menghela napas, "Sungguh menyia-nyiakan visual."
"Jadi, Baekhyun harus ambil apa, Pa?"
"Apa yang kamu suka, sayang."
"Teknik Mesin."
"Enggak boleh, apapun selain Teknik Mesin."
Saat itu Baekhyun sudah pasrah, memilih asal jurusan dan entah kenapa ia diterima menjadi salah satu penghuni bangku Arsitektur. Kuliahnya menjadi niat tak niat. Harus menahan iri setiap kali melihat sekumpulan anak-anak Teknik Mesin berkumpul di taman. Sial, mereka keren sekali. Bebas dan bahagia. Bagaimana dengan Baekhyun? Masa perkuliahannya suram.
Sampai di pertengahan tahun, ia dan sang ayah terlibat obrolan.
"Baekhyun, kamu pernah denger tentang anaknya temen ayah?"
"Yang mana? Temen ayah 'kan banyak."
"Chanyeol, anaknya Om Siwon. Katanya dia tertarik sama kamu dan pengen ketemu. Gimana?"
Baekhyun meletakkan cangkir teh hangat ke atas meja yang ia buat khusus untuk sang ayah.
"Pa, Baekhyun lagi sibuk-sibuknya kuliah mana sempet ngurus hal begituan." Si mungil memijit-mijit pangkal hidung, "Berhenti ngasi foto Baekhyun ke temen-temen papa. Baekhyun bisa kok cari pacar sendiri."
"Apa salahnya dicoba? Anaknya ganteng, badannya bagus dan terpenting, pekerjaannya menjamin."
"Kalo kriteria papa kayak gitu, kenapa kemarin nolak Sehun?"
"Kalo dia mah papa emang nggak suka. Bilang S aja nggak bener, gimana mau jagain kamu?"
Kalau pria yang bersangkutan mendengar, mungkin ia akan menangis bahkan mungkin melompat dari gedung perusahaan saking merasa terhina.
"Papa udah terlanjur bikin janji. Minggu besok kamu datang ke kafe Aroma, dia tunggu disana."
"Papa~ Papa seriusan ih, Baekhyun nggak suka kayak gini."
Pada akhir dari rengekannya, Baekhyun tetap datang ke kafe yang dikatakan sang ayah dan memastikan bahwa meja 17 adalah meja yang sudah di reservasi. Tapi, ia malah tidak melihat anak temen ayahnya melainkan seorang pria dewasa yang sedang memainkan ponsel. Baekhyun sampai kaget, tak bisa berkata-kata, jadi.. ayahnya ingin menjodohkan ia dengan seorang Om-Om?
"Baekhyun?"
Tak sadar, bukannya mundur si mungil malah mendekati meja 17 ragu-ragu dan mau tak mau mengangguk canggung. Hell, please. Suara pria itu bahkan sangat mirip pedopil, bikin gemetar.
"U-udah lama?"
"Belum. Saya juga baru duduk." Chanyeol, nama yang sempat ayahnya beritahu itu mempersilakan Baekhyun duduk dengan senyum manis.
Sumpah, lidah Baekhyun gatal ingin memuji dahi Chanyeol yang terekspos tak tahu malu itu. Terlalu indah untuk seukuran pria matang dihadapannya.
"Jadi, kamu masih kuliah?"
Mengangguk kecil, "Baru masuk tahun ini, Om."
Chanyeol terdiam, menggigit bibir dalamnya merasa kikuk ketika Baekhyun sangat santai memanggil sebutan tak mengenakkan itu alih-alih Mas?
"Apa saya kelihatan setua itu, Baek?"
"H-ha? Enggak, kok. Cuma.." Baekhyun kembali memerhatikan penampilan Chanyeol yang benar-benar formal. Jauh dari kata anak muda.
Pantofel, kemeja resmi, rambut rapi, bibir tanpa pelembab tapi entah kenapa enak dilihat, dan.. ya.. begitu.
Baekhyun tersenyum menutupi kesalahan apa yang ia ucap, berusaha mengalihkan topik dan mengangguk saja ketika Chanyeol meminta untuk memanggilnya dengan sebutan Mas. Pertemuan mereka berjalan seperti air, menghabiskan waktu bertukar obrolan juga sesekali bercanda tentang Baekhyun dan Teknik Mesin yang tidak pernah bisa bersatu.
Jujur, Baekhyun nyaman dengan Chanyeol. Tak peduli senjang usia mereka sepuluh tahun. Sesosok dewasa yang bisa mengimaminya dan mengoreksi setiap ia melakukan tindakan benar atau salah. Setia. Canyeol hanya bisa terikat dengan satu orang saja. Perhatian. Mungkin agak menggelikan bagi orang yang tak paham, Chanyeol hampir setiap hari mengirim pesan manis agar Baekhyun serius mengikuti kelas. Alasan yang membuatnya menikmati setiap goresan pensil di atas kertas sketsa dan tak lagi merasa salah jurusan.
Begitu Chanyeol pun serius terhadap Baekhyun. Rela menunggu lamarannya terpending sampai sang kekasih menyelesaikan S2 di Inggris. Baekhyun mendapatkan beasiswa, awalnya menolak karena ia sudah yakin siap menjadi seorang istri, tapi setelah berdiskusi dengan Chanyeol pikiran Baekhyun bisa lebih terbuka. Pria itu mendukung studinya dan mengatakan kalau pendidikan paling utama. Jadi, Baekhyun menghabiskan dua tahun di Inggris dan mengejar gelar magisternya susah payah.
Sampai akhirnya Baekhyun pulang dengan perasaan rindu bercampur kecewa, mengapa Chanyeol tidak datang ke pesta kelulusannya? Sial, Baekhyun sempat berpikir jika sang kekasih berselingkuh.
Tahu-tahu bandara ramai, maksudnya memang selalu ramai, tapi kali ini khusus tertuju padanya. Banyak kamera dari teman-teman yang menyambut kedatangannya, mengira untuk apa sampai merekam segala? Tentu, puncaknya ketika Baekhyun berhenti melangkah tepat beberapa meter dari seorang pria bajingan yang memakai seragam kebanggaan Kepabeanan. Baekhyun gemas hingga matanya memanas, ingin menerjang Chanyeol dengan lemparan sneakers dan baju-baju dalam kopernya bila perlu.
Bagaimana bisa pria itu tersenyum seolah tak merasa bersalah sama sekali? Apa benar Chanyeol berselingkuh dan berniat mempublikasi hubungan barunya pada Baekhyun? Hua, kejam!
"Park Chanyeol, bajingan gila."
Seruan kaget bukan datang dari Chanyeol, melainkan banyak orang yang mengerumuni mereka seakan menunggu sesuatu. Ya, sesuatu seperti Baekhyun benar-benar murka dan Chanyeol akan habis di kepalan mungilnya.
"Kamu pulang, Bee?"
Ah, tidak. Panggilan manis dan ketukan pantofel yang membuat kepala Baekhyun pusing. Paru-paru menyempit selagi pupilnya bergerak gelisah menanti Chanyeol yang berjalan mendekat. Sungguh ia sesak sekarang, ingin memeluk sang kekasih karena tak bohong ia sangat rindu! Lebih rindu daripada merasa kecewa perihal kelulusan tempo lalu.
"Kamu.. berhenti disitu, Park. Aku masih marah!"
Telunjuk Baekhyun terarah asal membuat Chanyeol berhenti tapi tak memudarkan senyum. Astaga, ia geram bukan main.
"Kamu nggak kangen sama aku?"
"Berani kamu nanya gitu? Padahal kemarin kamu nggak datang, seolah kamu nggak peduli sama aku, Chanyeol." Suara serak Baekhyun menahan isakan, ia masih tahu malu dimana kakinya sekarang berdiri.
"Kamu tahu pekerjaan aku nggak bisa ditinggal barang sehari." Kata si tinggi selangkah demi selangkah mengambil jarak dekat, "Kamu juga tahu Inggris itu jauh."
"Chanyeol.. kamu jahat."
"Maaf. Kamu mau kita putus?"
Apa? Dahi Baekhyun mengernyit dalam semakin tak paham terbuat dari apa hati pria bajingan itu. Terang-terangan minta putus di tempat ramai? Jadi, alasan teman-temannya merekam untuk mengabadikan momen memalukan ini, ya? Ah, begitu.
"Aku.." Nggak mau putus, Chan.
"Selamat atas gelar magister kamu, Bee." Chanyeol sampai di hadapan tubuh pendek Baekhyun. Satu tangan besarnya terangkat untuk merapikan poni sang kekasih yang tak tertutup baret berwarna hitam, senada dengan rambut halus si manis. "Sekarang, udah siap ambil gelar Park dari aku?"
Teriakan bercampur siulan bersahutan antara teman-teman Baekhyun dan anggota Kepabeanan yang merupakan rekan Chanyeol. Tentu pegawai-pegawai berseragam itu merasa geli mendengar cuitan si tinggi, seolah tak cocok dengan usianya.
"Ma-maksud kamu?" Baekhyun mengangakan mulut kecilnya bersamaan kepala terdongak, menatap Chanyeol aneh sekaligus bingung.
"Kalo nanti kamu datang mau bicarain soal S3, aku nggak akan izinin kamu pergi lagi." Jemari ranting kekasihnya ia angkat, memandang penuh kerinduan pada jari-jari yang dulu sering ia kecup. "Aku baru sadar, untuk apa buang-buang waktu ngoleksi banyak gelar kalo ujung-ujungnya gelar yang kamu pake itu tetap dari aku?"
"Chan_"
"Marry me, Byun Baekhyun. Jangan buat aku nunggu lebih lama lagi."
Baekhyun betul-betul menangis saat Chanyeol mengeluarkan sekotak berlian dari saku celana seragamnya dan siap memakaikan ke jari manis si mungil. Tak peduli suaranya seperti bocah bahkan wajah pun terlihat memalukan, Baekhyun tak kuasa menahan lemas di kaki dan mungkin akan merosot kalau Chanyeol tak memeluk pinggangnya untuk melancarkan sebuah ciuman bibir yang romantis.
Sorak-sorakan dari mulut orang yang menggoda, Baekhyun tak ambil pusing. Padahal seharusnya ia marah dan memukul Chanyeol, tapi pria dewasa ini terlalu tak tertebak sampai Baekhyun pun tak bisa bersikap apa-apa selain pasrah mengikuti lumatan bibir Chanyeol.
.
.
.
Chanyeol sedang memantau tiga buah kapal yang datang membawa barang impor dari luar sementara banyak pegawai memeriksa kelayakan barang dan menimbang-nimbang memberikan izin serta pengenakan pajak. Banyak tumpukan kontainer sudah lulus dari pemeriksaan awak pabean dan cukainya terbayar sesuai prosedur. Angin berhembus agak kencang dari arah laut, Chanyeol sampai harus menyipitkan mata untuk menatap tujuh meter ke depan.
Getaran dari saku celana bagian kanan mengusiknya, ia pikir Baekhyun, yang mungkin tidak puas setelah tadi telponan hampir dua puluh menit. Untung Chanyeol termasuk senior, jadi tidak terlalu masalah. Tapi begitu tahu nama ibu mertua terpampang seolah menantang, Chanyeol tersedak dan berjalan cepat menjauhi tepi dermaga.
"Halo, ma?"
"Chanyeol, kamu sibuk? Tadi mama telpon Baekhyun tapi nggak diangkat-angkat."
"Ah, iya. Tadi Baekhyun sempet nelpon dan katanya pengin tidur siang."
"Begitu? Ya ampun, anak itu satu bener-bener, ya." Gerutu wanita paruh baya yang Chanyeol sebut-sebut awet muda dari seberang, "Kamu di kantor, Chan?"
"Enggak. Aku lagi di pelabuhan ngecek beberapa barang masuk. Mama ada perlu sama Baekhyun? Mungkin nanti bisa aku sampein."
"Nggak ada, sih. Mama cuma kangen sama anak sulung mama yang super manja itu. Apalagi sekarang Jungwoo udah resmi ninggalin mama, huhu."
"Resmi? Resmi kemana, ma?"
"Itu, suaminya beli rumah baru. Mau nggak mau mama harus ngelepasin Jungwoo."
Seseorang mereka bicarakan disini adalah adik kandung Baekhyun yang statusnya lebih dulu menikah daripada sang kakak. Bahkan sekarang Jungwoo tengah hamil enam bulan kalau tidak salah, Chanyeol hanya tahu sekilas.
"Yaudah, nanti malam aku ke rumah mama bareng Baekhyun. Bawa Ichi sama Ocha juga, kebetulan mereka dititipin kak Yoora beberapa Minggu ini."
"Oh, cucu-cucu mama yang gemesin itu? Iya! Bawa mereka, Chan, daripada Baekhyun mama lebih kangen Ichi sama Ocha."
Chanyeol mual seketika.
"I-iya, ma, siap." Kenapa juga ia harus menyebut nama biji-bijian itu? Menyebalkan.
"Yaudah, kamu balik kerja sana. Mama tutup telponnya dan maaf ganggu kamu siang-siang gini."
"Nggak papa. Malah aku seneng mama nelpon."
Setelah panggilan terputus dengan manis, Chanyeol kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan kembali ke dermaga. Bersiap-siap melanjutkan tugas sebelum kembali ke kantor pukul tiga sore nanti.
.
.
Baekhyun menunggu Grab pesanannya datang di teras rumah. Karena Chanyeol cukup sibuk dan kebetulan dua keponakannya ada les tambahan khusus matematika dasar sampai sore, Baekhyun memanfaatkan jasa transportasi online untuk menjemput mereka. Tapi, belum sempat Baekhyun bilang terima kasih dan membayar, ia mendapati Ocha turun dari mobil dan menangis kencang. Baekhyun langsung melempar tatapan tanya pada Ichi sambil mengelus punggung Ocha yang memeluk pinggangnya.
"Adeknya kenapa, Chi? Kok nangis gini, ya ampun."
"Anu, maaf Mas. Sebenarnya si adek nangis karena nggak mau naik mobil saya, takut katanya." Adu supir Grab sambil menggaruk jambangnya bingung.
"Iya, Onti. Ichi juga males kalo Ocha cengeng, Ichi malu diliatin temen-temen." Sahut Ichi sengit kemudian pamit masuk ke dalam rumah setelah membungkuk sebagai tanda terima kasih pada supir Grab.
"Lho, kenapa Ocha nangis, hm? Paman Grabnya 'kan baik mau jemput Ocha terus dianterin pulang." Baekhyun berlutut untuk melap wajah berantakan Ocha yeng sudah memerah parah, "Om nggak bisa jemput karena masih kerja."
"O-Ocha takut karena nggak kenal, hiks."
Baekhyun menghela napas dan kembali berdiri hendak membayar. Ekspresi wajahnya menyiratkan beribu kata maaf karena supir Grab itu pasti kebingungan selama perjalanan.
"Ayo, bilang makasi juga sama pamannya."
Ocha menggeleng dan memeluk pinggang Baekhyun makin erat sambil menyembunyikan wajahnya di perut Onti.
"Kalo gitu saya pamit, Mas."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Sepeninggal Grab, Baekhyun menggendong tubuh berat Ocha kemudian masuk ke dalam rumah.
"Mandi dulu, ya? Nanti abis mandi kita makan keik bareng kak Ichi."
Si bungsu mengangguk antusias, "Nggak usah sisain untuk Om ya, Onti. Om jahat nggak mau jemput Ocha." cemberut sebal.
Baekhyun terkekeh, "Iya, kita abisin aja semua keiknya."
...
