Destiny
Chapter 2
.
Cast : Chibi!Yun x Chibi!Min
Jung Yunho x Shim Changmin
.
.
.
Mendengar adiknya berkata seperti itu, membuat perasaanya membuncah seketika. Ia pun berusaha menenangkan adiknya dan mengusap lembut punggungnya. Hingga akhirnya Changmin terlelap di pelukan Yunho.
Ini pertama kalinya bagi Yunho untuk merasakan adik tersayangnya sedekat ini.
" Chami cayang Yuno hyung.. " Changmin meracau dalam tidurnya.
Deg!
Lagi- lagi Yunho merasakan perasaan yang sama ketika Changmin mencium pipinya. Bagaimana mungkin hanya karena sebuah kalimat sederhana yang keluar dari lubuk terdalam Changmin membuat Yunho begitu terkesima dan membuat jantungnya berdetak kencang tak menentu.
Kini Yunho mengeratkan pelukannya terhadap adiknya. Jika memang benar apa yang dikatakan Changmin kalau besok ia harus berpisah dengan Changmin. Maka malam ini menjadi malam terakhir yang bisa ia habiskan bersama adiknya.
Yunho memeluk adiknya dengan khidmat. Untuk pertama kalinya ia benar- benar merasa seperti seorang kakak. Karena ini pertama kalinya ia tidur bersama adiknya. Walaupun di dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini hanya akan menjadikannya dalam masalah besar jika ibunya mengetahui Changmin tengah tidur di kamarnya yang sempit ini. Namun Yunho tidak perduli. Sekali lagi, ia mantapkan hatinya, bahwa ia akan menjadi seorang anak yang baik yang akan selalu menjaga adik dan ibunya.
Mengingat kembali ibunya dan membayangkan ibunya dalam pikirannya, Yunho meraih sebuah pigura yang terletak di meja samping tempat tidurnya. Dalam foto itu, hanya ada Yunho, ayah, dan ibunya yang tersenyum bahagia. Yunho tak ingat usia berapa ia saat itu. Yang jelas, dalam foto itu, Yunho yang tertawa bahagia digendong ayahnya dengan salah satu tangannya yang terangkat menggenggam tangan ibunya.
Tanpa sadar Yunho menitikan air matanya. Sepertinya sudah lama sekali ia tak pernah menggenggam tangan ibunya lagi. Momen yang terekam di dalam foto itu, adalah yang terakhir kali ia memegang tangan ibunya.
Yunho pun terlelap dalam tidurnya dengan perasaan sedih bercampur senang dengan foto keluarganya dan sekaligus adiknya yang kini tengah dipeluknya.
.
.
" Changmin?... Changmin! " Nyonya Shim kaget sekaligus panik bukan main saat menemukan Changmin tidak ada di sampingnya.
Hanya dengan mengikuti firasat dan naluri seorang ibu, ia segera bergegas menuju kamar anaknya yang lain, Yunho.
Langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamar Yunho. Ia benar- benar ragu untuk memasuki kamar itu. Ia bahkan tidak ingat, kapan terakhir kali ia memasuki ruangan itu. Ruangan yang dengan sengaja di disain khusus untuk seorang Yunho yang masih bayi kala itu. Bahkan, ia sendiri yang menentukan dekorasi interior ruangan itu.
*Flashback
" Honey, bagaimana menurutmu? Bagus tidak dekorasinya? " tanya Nyonya Shim pada suaminya dengan penuh semangat saat pengerjaan kamar selesai.
" Kamu yang memilih sendiri dekorasi dan pilihan warnanya, sayang? "
" Iya! Bagaimana? Suka tidak? " tanya Nyonya Shim dengan sangat antusias dan mata berbinar- binar.
Dengan senyum mengembang penuh suaminya menjawab " tentu saja! Ini luar biasa sayang.. Yunho pasti akan betah tidur di sini.. "
*Flashback end
Nyonya Shim menghela nafas panjang dan memutar handle pintu dengan perlahan. Langkahnya ia buat seringan mungkin, tidak ingin membangunkan penghuni yang ada di dalamnya.
Baru beberapa langkah ia memasuki ruangan itu langkahnya kembali terhenti saat kedua matanya menangkap sesuatu.
Ruangan itu sepenuhnya tidak ada yang berubah dari sejak terakhir kali ia memasukinya. Semua dekorasi, pigura, warna tembok, dan susunan perabotnya masih sama persis seperti yang dulu ia atur.
Ia tercengang beberapa detik sebelum akhirnya titik matanya menemukan Changmin yang kini tertidur bersama Yunho.
Dengan langkah yang tertatih dan sedikit diseret, ia menguatkan kakinya menuju tempat tidur Yunho.
Tiba – tiba saja semua terasa sesak dan membuat kakinya berat sekali untuk melangkah ke sana.
Tubuhnya terguncang dengan tangannya yang ia kepal erat.
Ia teringat pada suaminya. Suami yang amat ia cintai. Suaminya yang bahkan tidak akan pernah ditemui Changmin.
*Flashback
" Honey... " panggil Nyonya Shim setengah berbisik pada suaminya yang tertidur di pinggir kasur Yunho.
Dengan sebuah buku dongeng di tangan kirnya dan tangan kanan yang tengah berada di atas kepala Yunho, suaminya perlahan membuka matanya.
" Maaf sayang.. aku ketiduran setelah membacakan dongeng pada Yunho.. "
Nyonya Shim tersenyum melihat suaminya yang tengah berusaha mengumpulkan kesadarannya untuk perlahan bangkit dari tempat tidur.
" ayo.. " ajak suaminya untuk keluar ruangan.
" tunggu.. " Nyonya Shim berbalik ke arah tempat tidur dan mencium puncak kepala Yunho dengan berbisik lembut " .. selamat tidur sayang.. "
*Flashback end
Membayangkan kejadian yang telah lalu, pandangan Nyonya Shim sedikit kabur. Tangis yang tertahan.
Saat ia akan meraih dan menggendong Changmin, ia menemukan sebuah pigura yang dipegang Yunho. Ia akhirnya mengalihkan tangannya untuk mengambil pigura tersebut dan terkejut sekali saat ia melihatnya.
Akhirnya, tanpa bisa ia tahan lagi, air matanya pun memberontak keluar dan mengalir dengan deras. Jantungnya serasa ditusuk- tusuk oleh ribuan jarum.
Dengan segera ia menaruh pigura itu, menggendong Changmin, bergegas keluar ruangan. Sesak penuh yang menghimpit tubuhnya benar- benar membuatnya tak tahan ada di ruangan itu berlama- lama.
" umma? " dengan setengah sadar, Changmin bertanya dalam gendongan ibunya
" iya sayang.. ini umma... sshhh.. ayo tidur lagi sayang... shhh... " ibunya berusaha menidurkan Changmin kembali, namun sepertinya terlambat. Kesadaran Changmin sudah terkumpul sepenuhnya.
" umma? Menangis?... kenapa umma?.. apa Chami calah cama umma? "
" tidak sayang.. umma tidak apa- apa.. "
Ibunya meletakkan Changmin di atas kasur.
" umma... kenapa bawa Chami kecini? Chami mau cama Yuno hyung umma.. " Changmin mulai sadar bahwa ia kini di dalam kamarnya.
" ... "
" umma... Yuno hyung umma... " Changmin mulai merengek dan menarik- narik lengan baju ibunya.
" tidak bisa sayang.. tidak boleh.. "
" tapi kenapa umma? Kenapa Chami tidak boleh tidul cama Yuno hyung? "
" karena ia bukan kakakmu.. "
" makcudnya apa umma? "
" Yunho bukan siapa - siapa kita.. "
" Chami tidak mengelti umma.. "
" mungkin saat ini kamu tidak mengerti sayang.. tapi suatu saat nanti, kamu pasti akan mengerti.. kenapa umma melarang kamu untuk dekat – dekat dengan Yunho.. "
" tapi Yuno hyung kan baik umma.. kata Bu Gulu Chami kalau olang baik halus didekati, tapi kalau penjahat halus dijauhi.. "
" Iya sayang.. Yunho itu orang jahat.. bahkan sangat jahat.. "
" tapi Yuno hyung tidak pelnah jahat umma! " Changmin bersikeras
" Yunho itu orang jahat sayang.. Dia... pembunuh appa.. "
" pembunuh? ... makcudnya apa umma? "
" Yunho yang sudah menyebabkan appa meninggal.. dia yang membuat kamu tidak bisa menemui appa lagi selamanya... "
.
.
" Yunho.. " panggil Nyonya Shim saat Yunho sedang membereskan meja makan.
" ada apa umma? " Yunho menghampiri ibunya
" hari ini.. kamu tidak usah sekolah.. "
" kenapa umma? Kenapa Yunho tidak usah sekolah? " kedua alis Yunho berkerut. Ia mengantisipasi apa yang akan dikatakan ibunya. Sebagian dirinya sudah mengetahui fakta yang dikatakan Changmin padanya semalam.
" umma mau mengajakmu ke sebuah tempat.. kamu bereskan semua baju dan peralatanmu.. "
" kenapa aku harus membereskan semua barangku, umma? "
" jangan banyak tanya! Lakukan saja Yunho " ibunya berbalik hendak meninggalkannya
" umma.. " panggilan yunho membuat langkah ibunya terhenti
" apa... umma... ingin Yunho pergi dari sini? " Yunho berkata lirih sambil menunduk lemas. Tubuhnya mendadak oleng dan kakinya bergetar menahan keseimbangan.
" aku rasa.. kamu akan lebih baik jika hidup di sana Yunho... "
Mendengar pernyataan ibunya, benar- benar seperti membuat dunianya runtuh dan air matanya tak terbendung lagi.
Tanpa sadar ia berlari ke arah ibunya dan menahan kaki ibunya
" umma... andwae... salah Yunho apa umma..hiks.. hiks.. Yunho tidak akan meninggalkan rumah ini umma... ummaaa... Yunho mohon... " Yunho menangis histeris memohon di kaki ibunya.
" percayalah Yunho.. ini jalan yang terbaik untukmu.. "
" hiks.. hiks.. tidak umma... Yunho mau tetap di sini.. Yunho mau menjaga umma dan Chami... hiks..hiks..huaaaa..."
.
.
" umma, kita mau pelgi kemana cama Yuno hyung? " tanya Changmin saat ia bersama Yunho dan ibunya di dalam mobil.
" kamu tidak perlu tahu sayang.. yang jelas, Yunho akan tinggal di sana sekarang.. "
Changmin yang duduk di kursi penumpang di depan menoleh ke belakang. Ia melihat Yunho yang membuang jauh pandangannya ke luar jendela. Sempat ia lihat sebulir air mata di ujung mata kakaknya. Ia membuka mulutunya untuk memanggil kakaknya dan mengucapkan sesuatu, tapi kemudian ia menutup mulutnya kembali. Changmin tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan katakan.
Akhirnya Changmin pun menyerah dan menghadap ke depan kembali. Bibir mungilnya mengerucut lucu dan kedua alis tebalnya berkerut menjadi satu. Tangannya menggenggam erat celana pendek seragam sekolahnya.
Changmin memikirkan apa yang dikatakan ibunya semalam mengenai Yunho. Namun semakin ia memikirkan, ia malah semakin tidak mengerti. Dan itu membuatnya benar- benar frustasi dan menjambak- jambak rambutnya sendiri.
" Changmin? " ibunya memanggil menangkap apa yang dilakukan anaknya itu
" hmm? " Changmin menoleh pada ibunya dengan kedua tangannya yang masih mengepal rambutnya.
" apa yang kamu lakukan sayang? " tanya ibuunya heran sambil sesekali menoleh ke arah anaknya.
Changmin yang baru sadar kalau tangannya masih menggantung di rambutnya, segera menurunkan tangannya dan menyengir lebar pada ibunya. Membuat gigi rapinya terekspos lucu dengan semburat merah di pipinya.
" kita cudah campai, umma? " tanya Changmin saat ibunya membelokkan mobilnya dan masuk ke sebuah pekarangan.
" iya anak pintar.. " ibunya tersenyum sambil menoleh ke arah Changmin.
" Nah, ayo kita turun.. " ajak ibunya pada Changmin dan Yunho setelah selesai memarkirkan mobilnya.
Dengan segera Yunho turun dari mobil dan membukakan pintu untuk adiknya. Sementara ibunya mengambil dan membawakan barang- barang Yunho.
Mereka bertiga berjalan menyusuri pekarangan dan menuju sebuah rumah besar di depan mereka.
" Selamat datang Nyonya Shim.. " sambut seorang wanita muda saat mereka bertiga tiba di depan pintu.
" Sebelumnya saya minta maaf.. hmm.. dan ini, Yunho.. " ibunya menarik Yunho ke depan
" Halo Yunho... kamu pasti lupa sama saya.. " sambut wanita itu sambil tersenyum ramah pada Yunho dan memeluk Yunho dengan hangat.
Yunho hanya menatap dan memperhatikan wanita itu dengan lekat. Berusaha berpikir, barangkali ia dapat mengenali wanita itu. Namun, pikirannya benar – benar buntu saat ini.
" Nah Yunho, mulai sekarang, kamu akan tinggal di sini.. " ucapan ibunya menyadarkan kembali pikirannya yang sempat sibuk
" umma.. " Changmin menarik- narik rok ibunya " ... tlus Chami bagaimana? Apa Chami juga tinggal di cini cama Yuno Hyung? "
Ibunya berjongkok menghadap Changmin " tidak sayang.. kamu akan tetap tinggal bersama umma.. hanya Yunho yang tinggal di sini.. "
Melihat dan mendengar hal itu, benar- benar membuat Yunho sedih sekali.
" Ayo Yunho.. kita masuk.. kita lihat kamar kamu.. " ajak wanita muda tadi.
Yunho masih bergeming. Ia tak pernah membayangkan kalau rasanya akan sesakit ini. Ia tidak pernah membayangkan akan hidup terpisah dengan ibunya dan adiknya.
" Yunho.. " panggil ibunya
Yunho hanya menatap nyalang pada ibunya.
" apa kamu mau mengatakan sesuatu pada Changmin? " tanya ibunya.
Yunho menoleh pada Changmin.
Changmin segera menghampiri Yunho. Bibirnya mengerucut dan mata bulatnya berkaca- kaca. Yunho tahu sebentar lagi pasti air mata akan keluar dari mata indah adiknya itu.
" Yuno hyung! " Changmin memeluk kakaknya dan Yunho mengusap lembut punggungnya.
" Chami sayang, jaga umma baik – baik ya selama hyung tidak ada.. " ucap Yunho dengan sedikit bergetar, berusaha menahan tangisnya.
" andwaee... hyuuuuung..hiks..hiks.. Chami cayang Yuno hyung! Huaaaa... " tangis Changmin pun pecah.
Melihat hal itu, ibunya menarik Changmin dan menjauhkan Changmin dari Yunho.
" ummaaaa... Yuno hyuuung...huaaaa! " tangis Changmin semakin menjadi – jadi.
" kalau begitu, kami permisi... terima kasih sebelumnya.. " ibunya pamit pulang dengan menggendong Changmin yang masih menangis keras. Ia semakin mempercepat langkahnya saat Changmin berusaha memberontak dari gendongannya dengan kedua tangannya yang berusaha menggapai- gapai ke arah Yunho.
Yunho hanya diam mematung dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
" Hyung juga sayang Chami.. " ucapnya lirih saat melihat mobil ibunya mulai bergerak di kejauhan, meninggalkannya dengan wanita asing yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
.
~TBC?
.
.
Terimakasih banyak untuk HoMin 'eL, berrychan, yunbear, minminbab, Guest, cloud3024, Irmawks, shin min hyo, HachiBabyMinnie, IW, Silver Bullet 1412, vivi minnie, ajib4ff, yunjae always, yunlicha, AYUnhomin, BumMinnie3, diya1013, Daevict024, Snakey me, ELLucky77, s4kur4h4n4 untuk reviewnya. Mohon selalu dukungannya yaa
Maaf yaa gak bisa bales atu- atu. Soalnya jadi panjang banget kalo dibales atu- atu. Hehe. Soal ff ini incest atau bromance, sepertinya keduanya iya ~kekeke
Maaf typonya dan juga nyiksa yun yang polos, tapi emang tujuannya buat nunjukin kalo yun bisa bersikap dewasa walaupun msh kecil.
Kalo mengenai sifat ibunya, mungkin nanti- nanti aja yaa reveal kasus sebenarnya. Itu pun kalo masih ada yang mau lanjut ^.^
Last, silahkan reviewnyaaa buat upah nulis ff iniiiii...
