Death Game - Stage 1
-Inspiration-
[Disclaimer]
"Naruto, anime, dan manga lainnya"
-Author-
[darkdanu91]
Summary
Sebuah permainan kematian dimana beberapa orang diharuskan saling membunuh satu sama lain untuk dapat membebaskan diri. Tapi, apakah benar mereka dapat bebas?. Siapa musuh dan teman? Ketahuilah itu sebelum bertindak.
.
.
.
Chapter 2 - Musuh Atau Teman
TOKO, 07:00 AM
[DIDALAMNYA]
Matahari pagi membawa kehangatan bersama semangat baru. Semalam adalah malam yang cukup berat bagi masing-masing orang.
Baik itu Naruto, Menma, Rias, tak terkecuali Sona. Keempat remaja itu masing-masing saling bergantian berjaga saat malam hari.
Kini yang sudah terbangun adalah Menma. Ia membereskan bola pingpong yang telah di desain menjadi bom asap versinya.
Pengetahuan itu di dapatnya dari salah satu video youtube yang ia tonton. Disana, Menma belajar banyak hal dan pengetahuan.
Ia memasukan semua bola itu kedalam tas selempang. Bersama pisau lipat, dua gunting, dan korek api yang ia temukan semalam.
Ia kemudian berjalan kearah Naruto. Remaja itu masih terlelap. Dengan pelan, Menma membangunkan Naruto dengan cara menggoyangkan tubuh remaja tersebut.
"Hei.. Bangunlah, Naruto.."
"Ehm.. Ohayou Menma.."
"Ohayou.. Tolong bangunkan yang lain. Aku akan mengambil persediaan untuk sarapan.."
Naruto mengangguk pelan. Ia menatap Rias yang tak jauh darinya. Perempuan itu tertidur dengan lelapnya.
Semalam, perempuan itu menceritakan kisahnya. Sama seperti dirinya, terbangun dalam ketidaktahuan.
Berada disebuah sofa rumah kayu yang dimana disampingnya hanya terdapat sebuah tongkat baseball.
Perempuan itu menyusuri setiap ruang di rumah tersebut. Tetapi, ia tak menemukan apapun.
Hingga sebuah suara terdengar dari arah luar. Yang ternyata itu berasal dari perkarangan rumah disebelahnya.
Suara jeritan minta tolong perempuan. Dimana menjerit kesakitan dengan tangan yang terpotong.
Saat itu ia melihat seorang laki-laki membawa sebilah kapak di tangannya. Benda itu berlumuran darah.
Rias hanya menatap dari kejauhan. Sembari menangis dalam diam. Pikirannya menyuruhnya untuk lari. Meski ia iba kepada perempuan tersebut. Ia tak bisa berbuat apapun.
Rias Gremory, seorang anak orang kaya yang merupakan teman sejak kecil Sona. Ingatan terakhirnya adalah ketika dirinya hendak pergi ke ruangan klub ekskulnya.
Saat itu, ia merasa ada orang yang membekapnya dari belakang. Lalu secara tiba-tiba telah berada disini.
Pertemuannya dengan Sona adalah ketika ia terus berlari dan berlari. Dengan isak tangis dan air mata yang terus keluar membasahi pipi.
Ia tak tau harus kemana. Melangkah tanpa arah tujuan. Hingga kakinya membawanya ke sebuah hutan.
Disana, ia bertemu Sona. Secercah harapan mengetahui kalau dirinya tidak sendirian di tempat ini.
Meski ada banyak pertanyaan di kepalanya. Kenapa dan mengapa ia ada ditempat ini, dan juga kenapa bisa teman masa kecilnya berada di hutan seperti ini.
Melangkahkan kaki menuju Sona. Ia menutup mulut ketika melihat sebuah mayat didepan gadis tersebut.
Tubuh Sona bergetar. Ia dapat melihat shotgun yang tergeletak di samping perempuan tersebut.
Sona menyadari kehadiran Rias. Dengan cepat memeluk sembari terisak. Keduanya menangis bersama. Menumpahkan semua beban di hati mereka.
Setelah itu, Sona mulai menceritakan sebuah kertas yang ia temukan di saku rok miliknya.
Rias pun juga menemukan kertas yang sama dengan isi yang sama pula di saku roknya juga.
Kertas yang berisi sebuah informasi mengenai hal yang disebut "Death Game". Mereka menyadari kalau mereka tak sendirian di tempat ini.
"Rias.. Rias.. Bangun..."
"Um.. Na-Naruto.. Sudah pagi kah..??"
Perempuan itu mengerjapkan matanya pelan. Berusaha mengatur intensitas cahaya yang masuk. Matanya melihat jelas wajah Naruto.
Remaja itu nampak mengulurkan tangannya. Rias mengambil uluran tangan tersebut. Kini perempuan itu telah berdiri sejajar dengan Naruto.
"Bangunkan.. Er.. Siapa itu namanya.. So-Sonya..??"
"Sona.."
"Yap.. Sona.. Hehe.."
Naruto tertawa ringan. Rias tersenyum melihat itu. Perempuan itu lalu berjalan kearah Sona.
Maniknya menatap poni teman kecilnya yang berantakan. Rambut Sona yang dipotong pendek terlihat tak beraturan dan kacau.
Selain itu, kacamata yang terbingkai di wajah perempuan itu nampak tak terpasang benar disana. Rias tak mempermasalahkan itu. Ia dengan pelan menggoyangkan tubuh Sona.
"Sona bangun.. Sudah pagi.."
"Uhm.. Rias..?? Dimana Menma..??"
"Menma..?? Ada apa dengan laki-laki itu. Heh.. Jangan-jangan.."
Rias memasang wajah penuh arti. Sedangkan Sona, gadis itu menahan malu. Semburat merah terpatri di wajah miliknya.
"Jangan-jangan apa hah.. U-Udah ah, Aku mau mengecek sekitar.."
Rias menatap kepergian Sona. Perempuan itu menggeleng pelan dengan senyum tipis di wajahnya. "Dasar.. Ia tak mau mengakuinya.." batin Rias dalam hati.
Ditempat Naruto, remaja itu nampak bersama Menma. Mereka berdua berada di luar toko.
Ia membantu Menma mencari beberapa batu sebagai pijakan. Setelah menemukan benda yang dicari.
Naruto menyusun batu tersebut sesuai perintah Menma. Sedangkan Menma, remaja itu nampak masuk kembali ke toko.
Ia bertemu Sona. Perempuan itu tersenyum kearahnya. Menma tak mengerti kenapa Sona tersenyum.
Hal yang bisa dilakukannya adalah tersenyum balik. "Apa tidurmu nyenyak..??" tanya Menma sembari mengambil tas selempangnya.
"Uhm.." ujar Sona sembari mengangguk pelan. Perempuan itu mengekori Menma dari belakang. Ia mengamati laki-laki itu tengah mengambil kantong plastik besar.
Menma mengambil dua kantong. Satunya ia berikan kepada Sona. Perempuan itu menerimanya dan menatap Menma bingung.
"Jangan heran. Ayo bantu aku memasukan bahan makanan yang ada. Kita tak bisa selamanya disini.."
"Ma-Maksudmu kita akan pergi..?? Ke-Kemana..??"
Reaksi Sona sedikit terkejut. Menma tak begitu peduli, remaja itu sudah mulai memasukan beberapa roti di dalam kantong plastiknya.
"Entahlah.. Tapi jika kau tak ingin ikut tak apa. Aku bisa bersama Naruto saja. Aku tak bisa selamanya disini. Seperti yang kubilang semalam, aku ingin mencari informasi sebanyak mungkin.."
Menma berterus terang. Sona menundukkan kepalanya. Perempuan itu meremas pelan rok miliknya. Raut wajahnya sendu.
"A-Aku.. Takut.. Diluar sana.. Sudah cukup.. A-Aku tak ingin melihat orang mati. A-Ataupun membunuh seseorang lagi. Hiks..."
Isak tangis terdengar. Menma menghentikan kegiatannya. Setelah memasukan beberapa botol air minum. Ia lalu mengambil tempat duduk disamping Sona.
Meletakkan kantong plastik miliknya yang telah terisi penuh bahan makanan dan minuman. Matanya dapat melihat Rias yang melihat kearahnya.
"Ada apa ini..??"
"Tidak ada apa-apa. Bisakah kau membantu Naruto diluar. Biar aku urus Sona disini.."
Menma berkata dengan serius. Rias mengangguk pelan. Sepertinya mempercayakan Sona kepada Menma tidak ada salahnya.
"Baiklah.. Tolong yah, Menma.."
Setelah berkata seperti itu, Rias melenggang pergi menjauhi mereka berdua. Perempuan itu berjalan keluar toko. Ia melihat Naruto sedang kewalahan dalam menyusun batu.
Melihat ekspresi Naruto yang kadang kesal, kadang serius, membuat Rias tertawa geli. Perempuan itu menghampiri Naruto dan berjongkok sama seperti remaja itu.
"Boleh aku bantu..??"
"Aku ragu kau bisa, Rias. Karna dari tadi aku selalu gagal ter.. NANI...!!"
Remaja itu menatap tak percaya. Perempuan didepannya, menyelesaikan pijakan hanya dalam percobaan satu kali saja.
Sedangkan dirinya, ia telah menghitung kegagalannya sebanyak enam kali berturut-turut.
"Ba-Bagaimana bisa..??"
"Hihi.. Naruto-kun.. Kau selalu menaruh batu kecil dibawah yang besar. Berat batu kecil tak akan cukup menopang batu besar. Aku hanya melakukan kebalikannya.."
Tanpa sadar Rias memanggil remaja itu dengan panggilan yang tak biasa. Sedangkan Naruto, remaja itu tak terlalu peka. Ia masih larut dalam pemikiran tentang pijakan batu tadi.
"Ngomong-ngomong.. Naruto-kun belum menceritakan kisah sebelum kita bertemu. Semalam aku sudah menceritakan ceritaku. Gak adil kalo aku gak tau ceritamu.."
"Kau mau tau ceritaku..?? Er.. Gimana yah.. Aku kalo bercerita pasti membosankan.."
"Mou.. Bilang aja gak mau cerita. Pokoknya ceritain sekarang.."
NYUT..
"Itte..!!"
Cubitan keras mendarat di pinggang Naruto. Remaja itu melenguh pelan. Tak berhenti sampai disitu, Rias mencoba mencubit Naruto lagi.
"Ba-Baiklah.. Berhenti mencubitku. Aku akan mulai bercerita. Tapi, aku harus mencari kayu kering permintaan Menma. Akan kuceritakan sambil mencari. Jadi, bantu aku.."
Rias mengangguk setuju. Mereka berdua lalu mencari disekitar toko. Mulai berjalan menuju sebuah pohon. Disana, terdapat beberapa ranting kering.
"Jadi.. Sama sepertimu, Rias. Aku terbangun dalam kondisi tidak mengetahui apa-apa. Aku terbangun di sebuah bangunan mirip rumah sakit. Disampingku tergeletak pistol dengan beberapa kotak yang berisi peluru didalamnya."
Rias mendengarkan dengan seksama. Sembari mengumpulkan ranting kayu. Naruto juga melakukan hal yang sama. Sembari melanjutkan ceritanya.
"Aku diburu dalam ketidaktahuan. Seseorang berniat membunuhku. Ia yang berbekal granat menyerangku tiba-tiba. Saat itu aku hanya bisa berlari dan berlari..
.. Disaat keadaanku terdesak. Dimana situasi saat itu aku dapat merasakan kematian akan menjemputku. Sebelum hal itu terjadi, Menma menyelamatkanku..
.. Ia menolongku dengan membunuh seseorang yang tengah mengejarku itu. Lalu, aku bertemu denganmu dan Sona di toko ini..
.. Sejujurnya, saat ini aku bingung. Ingatanku tentang betapa tidak bergunanya aku saat melihat orang yang ingin membunuhku. Saat itu tanganku gemetar, menembakkan peluru saja tak ada yang mengenai sasaran..
.. Aku takut, maaf saja.. Aku tak bisa menjadi seseorang yang dapat diandalkan seperti Menma. Death Game.. Membunuh seseorang.. Aku rasa aku tidak akan bisa bertahan dalam waktu satu minggu. Aku terlalu lemah untuk melakukan pembunuhan.."
Naruto menjelaskan dengan nada lirih. Disampingnya, Rias mengusap pelan punggung remaja tersebut.
Perempuan itu tersenyum lembut kearah Naruto. Remaja itu hanya menatap datar. Saat ini ia bahkan bingung harus berekspresi seperti apa.
"Kau itu kuat, Naruto-kun. Jangan bilang dirimu lemah. Seseorang yang tak bisa membunuh orang lain. Dalam kondisi dimana mereka dituntut melakukan itu. Kau itu tak lemah. Aku yakin kita dapat keluar dari situasi ini. Teruslah percaya kalau kita akan selamat. Berjanjilah, Naruto-kun.."
Rias memandang penuh harap. Naruto sedikit termenung. Remaja itu menatap perempuan disampingnya yang masih mempertahankan senyum kecil kearahnya.
Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Rias. Membuat perempuan itu menatap punggungnya sendu. Tetapi, beberapa detik kemudian. Naruto membalikkan badannya.
Perempuan itu melihat Naruto tersenyum lebar kearahnya. "Jangan diam saja disana. Ayo cepat.. Aku yakin kita bisa keluar darisini. Aku berjanji padamu, Rias..".
DI TEMPAT MENMA
[Dl DALAM TOKO]
Suasana nampak hening. Baik Menma maupun Sona belum berbicara. Keduanya masih larut dalam pikiran masing-masing.
Beberapa saat sebelumnya. Sona memberanikan diri untuk menceritakan kisahnya sebelum bertemu dengan Menma dan Naruto.
Perempuan itu menjelaskan apa yang terjadi kepada Menma termasuk kejadian saat tangannya dengan keji membunuh seseorang. Ekspresi Menma hanya datar.
Remaja itu tak pernah menyalahkan Sona. Ia mungkin akan melakukan hal yang sama seperti perempuan itu jika dalam posisi begitu.
Membunuh dan dibunuh. Death game hanya memberitahu hal tersebut. Seseorang harus membunuh lima orang dalam durasi waktu satu minggu.
Saat ini didalam otak Menma selalu terpikir hal tersebut. Apa benar ia akan mati jika tidak membunuh lima orang lainnya. Jika hal tersebut benar-benar terjadi. Maka, apa yang benar-benar harus ia lakukan.
Semua ini terlalu rumit. Tetapi, Menma tidak ingin memusingkan hal itu untuk saat ini. Terlepas dari membunuh atau tidak. Sepertinya mengamati situasi dan bertahan hidup selama mungkin adalah pilihannya sekarang.
"Ne Sona.. Kau bilang yang memburumu membawa crossbow ditangannya bukan..??"
"Uhm.." sahut Sona singkat. Saat ini perempuan itu tengah terduduk dengan memeluk kedua kakinya.
"Kalau begitu.. Sudah kuputuskan. Bawa aku kesana, Sona.."
DEG..
Perempuan itu tersentak. Sementara Menma, remaja itu menatap Sona dengan lekat. Manik ungu dan hitam memandang satu sama lain.
"Aku tau kau pasti akan terkejut. Beberapa orang memang terlalu sulit untuk melupakan sesuatu perbuatan mereka. Apalagi dalam keadaan ini kau telah membunuh seseorang. Begitu juga aku, kita sama..
.. Terlepas dari siapa yang salah dan benar. Itu tidak penting lagi. Aku tau terlalu sulit untuk melupakan. Tetapi, dalam keadaan sekarang. Cobalah untuk memikirkan hal terbaik yang bisa kau lakukan saat ini, Sona.."
Perempuan itu termenung. Kata-kata panjang dari Menma sedikit membuat bebannya menjadi ringan. Menma benar, Ia tak bisa terus terpuruk seperti ini.
Sona lalu berdiri dan mulai mengambil bahan makanan yang ada. Memasukan dengan cepat dan rapi. Tak lupa juga dengan minumannya.
Melihat hal itu, Menma tersenyum tipis. Remaja itu mengecek magazine sniper miliknya. Satu peluru telah tiada, ia mengambil sebuah kotak di saku celana miliknya.
Dikotak tersebut terdapat 10 butir peluru. Menma mengambil satu untuk membuat magazine miliknya menjadi pas 6 peluru. Satu peluru telah digunakan saat itu untuk membunuh seseorang yang memburu Naruto.
Setelah memasukan satu peluru kedalam magazine. Menma menaruh kotak peluru ke dalam tas selempang. Remaja itu kemudian mengalungkan sniper miliknya di punggung.
.
.
.
SKIP TIME..
Saat ini Naruto, Menma, Sona, dan Rias telah berada di luar toko. Mereka berempat saling bahu membahu untuk menyiapkan sarapan seadanya.
Berbekal pijakan batu dan ranting kering yang ditemukan Naruto dan Rias, Menma kemudian menyalakan api dengan korek api gas miliknya.
Dibantu dengan beberapa bungkus plastik snack yang mereka makan semalam. Api pun kian lama kian membesar dan membakar perlahan ranting kering yang ada.
Sebuah sarden kaleng dengan daging kaleng Menma masukkan kedalam api untuk dipanggang.
Sementara itu, Naruto dan Rias membuat sebuah alas seadanya untuk menaruh makanan nanti dari bungkus snack yang ada. Untuk Sona, perempuan itu menyiapkan minuman.
Setelah beberapa saat kemudian. Sarden dan daging kaleng pun matang. Keempat orang itu memakannya dengan hening.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka kemudian sudah siap untuk pergi. Naruto memegang pistol miliknya ditangan kanan. Rias membawa tongkat baseball miliknya yang sempat tertinggal di toko.
Sona sudah siap dengan shotgun miliknya. Dengan Menma yang memegang erat snipernya. Keempat orang itu lalu berjalan dengan Naruto, Rias, dan Sona yang mengekori Menma dari belakang.
Langkah demi langkah, akhirnya mereka sampai di hutan. Sona menunjukkan tempat mayat yang semalam ia bunuh.
Setibanya disana, Menma dan Naruto mengamati mayat laki-laki tersebut. Sedangkan Rias, perempuan itu mencoba untuk menenangkan Sona yang bergetar.
"Wajahnya hancur.. Dengan bagian perut yang berlubang.."
Kata-kata Menma sukses membuat Sona terisak. Trauma perempuan itu kembali muncul.
"Menma.. Sebaiknya kita lakukan ini dengan cepat. Ambil crossbownya lalu pergi darisini. Kau tau apa alasanku bukan.." ujar Naruto sambil melirik Sona yang sedang dipeluk Rias.
Menma mengangguk pelan. Ia lalu mengambil crossbow yang terpegang di mayat tersebut. Disana juga terdapat tas yang di desain khusus untuk menaruh panah.
Tas itu ia lepaskan dari punggung mayat. Menma menghitung jumlah anak panah yang ada. Terdapat 15 buah disana. Kemudian maniknya tak sengaja melihat sesuatu yang ada di crossbow.
"Tak kusangka benda ini terpasang 2x scope.."
Hiks.. Hiks..
"Menma.. Apa kau sudah selesai sekarang.."
"Hn.. Baiklah, kita pergi.."
Remaja itu berjalan menjauhi mayat tersebut. Diikuti Naruto dan yang lain. Di perjalanan, Menma melihat beberapa anak panah yang tertancap di pohon dan tanah.
Anak panah itu sama. Sepertinya seseorang yang mengejar Sona sempat menggunakan crossbow ini. Tak ingin menyianyiakan benda itu, Menma mengambil semua anak panah yang tertancap di sepanjang perjalanan.
Manik Menma kemudian melihat kearah Rias. Remaja itu merasa dalam tim ini hanya perempuan itu yang tidak memiliki senjata jarak jauh.
"Rias.. Kau yang pegang crossbow ini. Serahkan bat itu kepada Naruto.."
Perempuan itu hanya nurut saja. Ia menerima crossbow dari Menma dan tas yang berisi panahnya. Sekarang total panah disana berjumlah 21 buah.
"Naruto-kun ini.."
Rias menyerahkan pemukul baseball miliknya. Naruto mengangguk pelan lalu mengambilnya dengan tangan kiri. Di tangan kanannya ia memegang erat pistol miliknya.
EST.. EST..
Suara desisan terdengar. Keempat orang itu menghentikan langkah. Sona melihat sesuatu di arah samping.
Perempuan itu menggoyangkan bahu Menma. Mengisyaratkan remaja itu untuk melihat hal yang dia lihat.
"Di-Disana.. Ada ular.."
Sontak semuanya menatap kearah yang Sona lihat. Benar saja, disana terdapat seekor ular sebesar lengan manusia.
Menma mengisyaratkan untuk tetap tenang. "Abaikan saja.. Makhluk itu tak akan mengganggu jika kita tidak mengganggunya juga.." terang Menma.
Naruto juga berpikir begitu. Tetapi, bagaimana dengan makhluk yang sekarang ada didepan mereka. Remaja pirang itu mengisyaratkan untuk melihat kedepan.
"Teman-teman.. Kalau makhluk didepan ini. Apakah kita harus mengabaikannya juga.."
Seekor singa tengah menatap lapar. Menma yang biasanya bersikap tenang juga ikut terkejut sekarang.
"Ba-Bagaimana ini..?? Haruskah kita lari sekarang.." tanya Rias takut. Perempuan itu bahkan telah mengambil ancang-ancang untuk berlari.
"Sepertinya.. Ikuzo Menma..!!"
Teriakan Naruto membuat yang lain ikut berlari. Dimana mereka semua mengikuti remaja pirang tersebut.
Singa yang awalnya diam pun nampak berlari juga mengejar mereka. Gerakan makhluk itu jauh lebih cepat.
"Menma..!! Bagaimana sekarang..!! Singa itu sebentar lagi akan menerkam kita..!!"
"Kau kira aku pemimpin disini..!! Cobalah untuk berpikir juga, Bakayaro.."
Naruto mendecih pelan. Remaja itu terus berlari. Tetapi, ia dapat melihat langkah kaki Rias yang melambat. Begitu juga Sona yang sudah kehabisan nafas.
Remaja itu mencoba untuk berpikir hal apa yang harus ia lakukan sekarang. Tetapi, meski dipikir terus menerus. Naruto tak memiliki ide apapun.
Terlepas dari semua itu, Naruto mendadak menghentikan langkahnya. Hal itu membuat yang lain juga ikut melakukan hal yang sama.
"Na-Naruto..!! Apa yang..~"
"Teruslah berlari..!!"
"Hah..!! Jangan gila..!! Kau berpikir untuk melawan singa itu.. Kau ini bodoh atau apa.."
"Berisik, Menma. Teruslah berlari..!! Aku punya rencana.."
Meski Naruto bilang seperti itu. Remaja itu saat ini tengah ketakutan setengah mati. Alih-alih memegang pistol dengan benar.
Tangannya sekarang tak bisa berhenti untuk bergetar. Menma menyadari hal itu. Mana bisa ia melarikan diri dan percaya begitu saja dengan Naruto.
"Baka..!! Lihat tanganmu.. Kau bahkan tak bisa berhenti untuk bergetar..!!"
"Cih.. Aku tau. Tapi, peduli setan. Jika tak bisa membidik dengan baik. Maka, tinggal hajar saja makhluk itu..!!"
Naruto melepaskan pistol miliknya. Ia lalu memegang bat yang awalnya milik Rias dengan kedua tangan.
Ia lalu melesat kearah singa dan bersiap untuk memukul. Rias, Sona, dan Menma tak percaya ini. Mereka bertiga terkejut melihat kelakuan barbar Naruto.
"Terima ini..!! Makhluk sialan.."
JDAK..
Besi tumpul itu sukses mengenai kepala singa. Meski dalam keadaan bergetar, Naruto tak ingin memberikan celah.
Remaja itu terus maju. Ia menendang tubuh singa dengan sepatu miliknya. Wajahnya mengeras, tidak sampai disitu saja. Naruto kembali melayangkan batnya dan memukul singa itu lagi.
Di kejauhan, seorang perempuan nampak tersenyum tipis melihat aksi Naruto saat ini. Surai pirangnya yang dibiarkan tergerai tertiup pelan angin pagi.
Perempuan itu dapat melihat Naruto sebentar lagi akan mengalami kesulitan. Dimana hal itu ditandai dengan singa yang mulai menghindari pukulan bat remaja tersebut.
Ia lalu mengambil sebuah senjata yang terkalung di punggungnya. Senjata itu berbentuk senapang patah dengan laras besar yang dipotong pendek.
Laras yang patah itu bertujuan untuk memasukkan 1 peluru yang ia ambil di tas kecil yang terpasang di pinggang miliknya.
Setelah memasukkan peluru. Ia bersiap dengan senjata miliknya. M79 adalah nama senjata perempuan tersebut. Senjata itu biasa disebut pelontar.
Sesuai dengan fungsinya, senjata itu dapat melontarkan peluru yang dapat meledak seperti granat. Perempuan itu mulai menyesuaikan jarak untuk bersiap melontarkan.
"Pirang-kun..!! Menjauhlah darisana..!!"
Sebuah teriakan sukses membuat Naruto menatap arah suara. Laki-laki itu dapat melihat seorang perempuan yang sudah bersiap untuk menembakkan sesuatu.
Tanpa pikir panjang, ia berlari dari tempatnya. Singa tak tinggal diam, makhluk itu mengejar Naruto dari belakang.
Sebelum sempat menerkam Naruto. Makhluk itu harus terkena peluru yang dengan cepat meledak dan melukai tubuhnya.
BLAR..
Ledakan terjadi. Naruto menatap horor. Setelah asap menghilang, ia dapat melihat tubuh singa yang sudah tak berbentuk.
Dibelakangnya, seorang perempuan nampak menghampiri. Perempuan itu tersenyum tipis kearah Naruto. Ia mengulurkan tangan bermaksud membantu remaja itu berdiri.
Karna disaat ledakan terjadi, Naruto reflek terduduk. Remaja itu tanpa pikir panjang menerima uluran tersebut.
Dari kejauhan, Menma dan yang lain nampak menghampiri. Mereka menatap perempuan yang bersama Naruto.
"Izinkan aku memperkenalkan diri. Miko Shion, aku datang dari 'Association'. Beberapa meter darisini ada timku. Maukah kalian ikut aku bersama timku menuju basecamp.."
"Association..?? Apa itu..?? Selain itu.. Kau pasti sudah tau tentang perihal 'Death Game'. Biar kutanya padamu.. Kau musuh atau teman..??.."
Ucapan Menma terdengar dingin. Tapi, gadis yang bernama Shion hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
"Musuh atau teman..?? Tentukan saja sendiri.. Jadi, apakah kalian mau ikut. Bersamaku menuju 'Association'.."
.
.
.
To Be Continued
