"Thank you", gumam wanita di sebelahku samar.

"What for?", tanyaku.

"For helping me, and my son?"

Aku terkekeh, "no problem, mam".

Eh lho, kok wanita itu merengut?

"Apa?", tanyaku lagi.

"Don't call me 'mam' ", celosnya.

Dahiku menyerngit, "But, you're a mom?!"

Dia mendengus, "Just shut up".

Aku terkekeh lagi. Wanita ini, kalau bukan melihat sikapnya terhadap anak laki-laki tadi, aku takkan percaya kalau dia seorang ibu. Heol, wajahnya masih imut sekali, tubuhnya juga langsing, masih seperti anak gadis.

"Hey, Joshua!"

Aku menoleh, hampir saja aku menyahut jika saja tak kulihat kalau ia sedang meneriaki anaknya yang tengah asik menarik ekor kucing.

Si kecil menoleh dan tertawa.

"Don't do that", kata wanita itu lagi.

"Ku kira kau memanggilku.."

"apa?"

"Joshua"

"It's my son name"

"But it's my name too"

"haha memang namanya mainstream, pasaran. You know? Hmm bagaimana aku menjelaskannya ya..", si wanita menekuk lututnya lalu meletakkan tangannya di atas sana kemudian menumpuk telapaknya dengan dagu, "Bahkan member boy grup kesukaanku bernama Joshua".

"Korean?"

"Yap. Omong-omong, apa kebangsaanmu? Kau bisa bahasa Indonesia, wajahmu terlihat seperti orang Amerika, tapi logat dan matamu seperti Korea. Kau mirip member boyband hahahaha"

Aku tersenyum.

Apa? Aku hanya sedikit GR kok, siapa tau dia membicarakanku.

Lagipula aku memakai topi dan masker, wajar saja aku tak dikenal.

"Emm, mungkin jika aku melepas maskerku, kau merasa familiar?"

Dia menoleh, "Kol!". Mungkin maksudnya, coba saja.

Aku menurunkan maskerku dan tersenyum, lalu buru buru kembali memasang masker ke hidungku.

"Oh my God! Are you, Jisoo? Hong Jisoo?!"

"Sst!", desisku panik.

Heol, kalau orang orang tahu, aku bisa membuat kehebohan. Bisa bisa manager akan mengomeliku lagi-_-

Wanita itu menutup mulutnya kaget, "Hong? Jisoo?"

Aku mengangguk, "Anyeong!".

"How can you speak Indonesian?!"

"I learned it a bit. How did you know me?"

"I'm your fan.", katanya tersipu.

Wow, aku punya fans ahjumma? Ah tak apa, dia cantik.

"I mean , I'm your group's fans..", ralatnya menekankan kata 'group'.

Oh.

"Wow, you'll come to the concert then?"

Wanita itu menggeleng, "Can't do that".

"karena anakmu? Kenapa tidak kau titipkan pada suamimu?"

Dia menoleh kedepan, lalu terdiam. Bibirnya mengulas senyum tipis.

Apa aku kelewatan? Eh, jangan-jangan suaminya sudah meninggal?

"Sorry...", gumamku tanpa sadar.

Dia tersenyum, terlihat seperti dipaksakan bagiku..

"it's ok.", katanya, "I just can't".

Ku akui, aku kecewa. Aku harap ia melihatku bernyanyi di panggung.

"But, aku harap konsernya berjalan lancar", sambung wanita itu tersenyum manis.

Setidaknya bagiku manis hehe

"Thanks"

Ia mengangguk, matanya mengekor gerakan si kecil Josh yang asik mengejar burung gereja.

"What's your name?"

Ia menyerngit mendengar pertanyaanku.

"Maksudku, kau sudah tahu namaku. Apa aku boleh tahu namamu?"

Dia tertawa, memamerkan sebuah lesung di pipi kiri.

"Sure. I'm Eunjin"

"God. Pantas saja wajahmu terlihat seperti orang Korea"

Kami berdua terkekeh.

"My Dad. My mom is American"

"Kita mirip ya", timpalku, "maksudku, latar belakang orangtua kita". sambungku meralat.

Ia mengangguk sambil masih terkekeh.

Cantik.

Manis sekali.

Eh?

Aduh, bodohnya aku. Wanita ini kan milik orang lain hahaha

"Kenapa melamun?"

Aku tergagap kaget, "eh, tidak kok".

"Jelas jelas kau melamun"

Aku tersipu tak menanggapi.

"Berapa usiamu?". Ups! Bodohnya aku menanyakan hal pribadi pada orang asing! Ingin rasanya kutarik kembali ucapanku andai bisa. Ugh..

Kali ini si wanita terkekeh, "Kau pasti tak percaya kalau aku sudah menikah dan memiliki anak ya? Karena wajahku terlihat muda?", kekehnya.

Aku mengangkat bahu, "Just curious". Padahal aku setuju dengan ucapannya. Hehe

"I'm just a year younger than you"

What the...! A year younger?! She's still 21 and yet she already had a child?!