SMA Hwa Dokgo, Seoul, 15.30 KST

"Baekhyun," suara lirih seorang anak lelaki berparas manis mengalihkan atensi dua orang anak laki-laki lainnya yang tengah sibuk mencatat dan mengoreksi di laboratorium sekolah sore itu.

"Kenapa han?" Baekhyun mengernyitkan dahi kala mendapati teman satu kelompoknya di mata pelajaran ini menunjukkan raut wajah gelisah. "Apa kau sakit?"

Anak lelaki manis pemilik nama Luhan itu menggeleng pelan, "tidak"

"Lantas?"

"Aku tahu han, dan sejujurnya aku juga tidak nyaman," ini celetukan dari seorang anak laki-laki lainnya yang memiliki rambut hitam lebat hingga menutupi dahi dengan bibir melengkung cantik menyerupai hati. Oh yang ini namanya Do Kyungsoo.

"kalian berdua ini sebenarnya kenapa?" Baekhyun akhirnya meletakkan pulpennya di atas buku laporan pratikumnya yang masih terbuka.

"bagaimana mungkin kau masih bisa berkonsentrasi mengerjakan itu sementara di depan pintu laboratorium ada seorang pria berandalan raksasa dan gerombolan sialannya yang menatap seolah kita ini daging segar?" ucap Kyungsoo sarkas. Peduli setan dengan mulutnya yang selalu memuntahkan umpatan jika sudah membahas tentang Park Chanyeol dan geng-nya.

"Aku sudah bilang padanya untuk menungguku di Taman sekolah, tapi kau pikir dia semudah itu mendengarkan omonganku? Kau tahu kan dia itu seorang Park Chanyeol" jawab Baekhyun tenang sambil menghela nafas panjang.

"ya, Park Chanyeol, si ketua gangster sekolah yang tergila-gila pada murid cerdas pendiam bernama Byun Baekhyun. Sungguh tidak di duga" ini Luhan, dalam sekejap kata-kata sarkas Kyungsoo menular pada anak manis berambut serupa permen karamel ini.

Baekhyun kembali menghela nafas panjang, "aku akan minta yeolli pergi," begitu Baekhyun beranjak, tangan Luhan langsung mencekalnya kuat sedangkan Kyungsoo melotot pada pemuda kecil itu.

"Kau mau melihat kami dipaksa melompat dari atap sekolah karena dianggap telah mempengaruhimu untuk mengusirnya dari sini, huh? Kau tahu kan dia itu seorang Park Chanyeol ?" Luhan berucap dengan raut wajah takut yang hiperbolis.

"lagipula bagaimana caranya kau meminta dia pergi? Apa dia akan mendengarkanmu? Kau lupa kalau dia itu seorang Park Chanyeol?" ujar Kyungsoo skeptis, sambil meletakkan pulpen dan bersedekap.

"Aku akan aegyo di hadapannya" ucap Baekhyun ringan.

"Oh gosh," Kyungsoo mendengus sedangkan Luhan akhirnya melepaskan tangan Baekhyun demi melihat teman baiknya itu berjalan ke arah pintu masuk laboratorium untuk menemui pacarnya.

"Aku khawatir Kyung, kau pernah tidak berpikir kalau terlibat dengan Park Chanyeol itu adalah keputusan terburuk yang pernah diambil oleh Baekhyun?" gumam Luhan dengan mata yang masih memandang si kecil berambut hitam yang kini sudah menggapai handle pintu berwarna putih bersih itu.

Kyungsoo menghela nafas pelan sambil melanjutkan kembali pekerjaannya,

"sejujurnya aku memang khawatir. Anak itu masih polos dan perilakunya halus , dia dan Park Chanyeol itu bagaikan dua elemen yang berbeda. Kau tahu, seperti eumm... Api dan cahaya? Api itu membakar dan cahaya itu menyinari"

Luhan mengalihkan pandangannya ke arah Kyungsoo, "kau benar, mereka itu bagai api dan cahaya. Oh bahkan dia tidak mau dengar petuah dari kita dan nekat membiarkan Park Chanyeol memilikinya. Aku hanya takut suatu hari dia akan terlibat dengan masalah si ketua geng dan menjadi korban kekerasan. Kau tahu, mungkin perang antar geng? Baekhyun bisa saja kena pukul atau sabetan parang, Kyung!"

"aku juga pernah berpikir sampai ke situ. Tapi kau pikir apa yang bisa kita lakukan? Dia sendiri yang memilih untuk menerima Park Chanyeol menjadi kekasihnya, kalaupun kita bisa menyadarkannya untuk menjauhi si ketua geng, apa kau kira Park Chanyeol akan diam saja? Damn, tentu saja dia akan mendekap kembali Baekhyun apapun yang terjadi."

"kau benar. Aku hanya berharap Park-sunbaenim tidak akan menyakiti Baekhyun secara fisik maupun mental,"

"hmm, aku juga berharap begitu tapi maaf han, aku benar-benar jijik kau memanggilnya dengan embel-embel sunbaenim, tidak cocok untuk imej-nya,"

Luhan hanya tertawa kecil dan melanjutkan tulisannya.

E ) ( O

Baekhyun menghela nafas saat mendapati pemilik hatinya berdiri tepat di depannya sambil bersedekap angkuh saat ia membuka pintu laboratorium sekolah.

"Chanyeol-sunbae.."

"hmm, kau sudah selesai hyun?" Chanyeol membelai pipi Baekhyun dengan lembut.

Baekhyun menggeleng pelan, "belum sunbae, pekerjaanku tidak akan cepat selesai kalau sunbae masih disini."

Chanyeol mengernyitkan dahinya lalu memegang kedua bahu kekasih mungilnya, "kenapa?"

"aku tadi sudah bilang kalau lebih baik Chanyeol-sunbae menunggu di taman sekolah kan? Tapi kenapa—"

"oh sialan" umpat salah satu teman satu geng Chanyeol yang memiliki lengkungan mata sipit yang khas serta suara keras yang membahana—Kim Jongdae—saat melihat Chanyeol mengecup bibir Baekhyun singkat sebelum menatap anak itu lagi dengan tatapan yang lebih dalam.

"karena aku mau menunggumu disini. Bukan di Taman, hyun"

Baekhyun terdiam, wajahnya merona dan jantungnya berdentum keras di balik dadanya. Anak itu memang sudah terbiasa dicium Chanyeol di depan anggota gengnya seperti ini, tapi rasanya tetap sama.

Ia merona dan jantungnya ribut.

Pikirannya buyar.

Selalu. Selalu itu yang terjadi.

Tapi demi tugas pelajaran Kimia-nya yang dalam tahap tanggap darurat, maka Ia memasang kerlingan polos pada Chanyeol dan mendekatkan bibir tipisnya ke telinga lebar kekasihnya dan berbisik,

"demi Tuhan sunbae, aku tidak bisa berkonsentrasi karena mataku ini terus melirik ke arah pintu karena ingin melihat wajahmu terus. Kau pikir aku bisa mengerjakan rumus reaksi dengan benar saat mataku ini bahkan tidak mau melihat kertas laporan pratikum dan malah terus menatap ke arahmu? Kau tidak mau kan kalau aku terus terjebak di laboratorium sepanjang sore?"

Oh dan ya, Park Chanyeol tersenyum tipis setelahnya kemudian pergi dengan damai bersama teman se-gengnya setelah menyematkan satu kecupan di pipi hyunhyun kecilnya.

"oh astaga anggap saja itu aegyo" Baekhyun bergumam kecil sambil mengedikkan bahunya kemudian kembali masuk ke dalam laboratorium sekolah diiringi oleh suara tepuk tangan penuh kekaguman dari kedua teman baiknya karena kepiawaiannya dalam menjinakkan ketua gengster sekolah.

E ) ( O

"sebenarnya kita mau kemana yeolli?" Baekhyun bertanya dengan mata penuh rasa penasaran ketika Chanyeol sedang sibuk memakaikan helm ke kepala anak itu.

"kau akan tahu nanti." Jawab Chanyeol sambil menaiki motor sport hitam gagah miliknya dan memberi isyarat lewat kedikan kepala agar Baekhyun segera naik ke atas motor.

Baekhyun naik dan memposisikan dirinya senyaman mungkin di belakang Chanyeol,

"sudah~"

"pegangan sayang,"

Baekhyun cemberut namun wajahnya merona, "begini?" Baekhyun memegang jaket kulit yang pacarnya pakai tepat di bagian pinggang.

"peluk kalau tidak mau jatuh," Chanyeol menyempatkan dirinya untuk menyeringai tampan tanpa bisa dilihat oleh Baekhyun.

Baekhyun memeluk sang ketua gangster dengan erat, "begini?"

"kau rata"

"apa—" Baekhyun mencibir kesal setelah tahu apa yang kekasihnya maksud,"yeolli menyebalkan! Pacari saja perempuan biar ada yang empuk dan menonjol!"

"tidak minat. Dada rata mu itu jauh lebih menarik bagiku daripada dada wanita,"

Baekhyun menyembunyikan wajah meronanya di balik punggung kuat Chanyeol,

"omong kosong,"

Chanyeol hanya tertawa kecil kemudian melajukan motornya keluar dari gerbang sekolah.

Sepanjang perjalanan mereka berdua terdiam, Chanyeol fokus pada jalanan sedangkan Baekhyun larut dalam pikirannya sendiri sembari tangan lentiknya yang makin erat memeluk pinggang sang ketua gengster sekolah.

Ketika motor Chanyeol berhenti di lampu merah, tangan kiri laki-laki itu mengusap lembut tangan kecil yang saat ini melingkar erat di perutnya.

"Kau mengantuk , hmm?" suara berat sang ketua membuat Baekhyun membuka mata dan mengangguk lucu.

"Iya yeolli, apakah masih jauh?" tanya Baekhyun sambil menguap dan menumpukan dagunya di bahu Chanyeol.

"sebentar lagi hyun. Kau tahan dulu ya?"

"baiklah," kemudian saat motor sport Chanyeol melaju lagi, anak itu kembali menyandarkan kepalanya ke punggung kekasihnya.

E ) ( O

Baekhyun mengerutkan dahi dalam saat dirinya turun dari atas motor Chanyeol.

Itu sebuah bar.

Bar yang tersembunyi di balik gedung-gedung tinggi dan terletak jauh di dalam gang sempit.

"hyun,"

"baby boy,"

"sayang"

Chanyeol berdecak dan mencium singkat bibir Baekhyun.

"m—maaf yeolli," ucap Baekhyun setelah tersadar dari lamunannya.

"kau kenapa? Aku memanggilmu dari tadi. Apa bangunan ini lebih menarik daripada aku?"

"emm aku hanya sedang berpikir, bagaimana bisa di gang sempit seperti ini ada bar? Dan untuk apa kita kesini yeoli? Apa kau mau minum vodka ? Baik, aku akan pesan jus strawberry saja seperti biasa," Baekhyun mengedip polos.

"oh iya, yeolli sudah ganti baju tapi aku masih pakai seragam dan Cuma ditutup mantel saja. Apa bisa masuk??"

Chanyeol ingin sekali melumat kasar bibir anak ini. Oh dia merasa sangat gemas, tapi pada akhirnya Ia hanya berdeham setelah berhasil mengendalikan diri kemudian Ia genggam tangan pacar mungilnya dan mengajak Baekhyun berjalan memasuki bangunan itu.

Warna hitam-merah mendominasi lorong sempit yang menghubungkan pintu depan dengan bangunan utama, memberi kesan erotis dan gelap.

"tidak untuk vodka sayang. Aku ada urusan sebentar disini, kau tunggu di lounge ya? Aku sudah pesankan satu untukmu." Chanyeol melihat bibir Baekhyun sedikit maju.

"tidak ada jus strawberry?"

"Tentu saja ada sayang, kau pikir aku akan membiarkan kesayanganku kehausan disini, hm?"

Senyum Baekhyun mengembang, "thanks, Chanyeollie"

"apapun untukmu," mereka berdua sampai di lounge yang dimaksud dan Baekhyun begitu terkejut dengan desain ruangan yang begitu mewah.

"Aku tidak menyangka lounge nya sebagus ini, padahal terlihat sempit dan biasa dari luar." Baekhyun meletakkan tas ranselnya di meja kaca dan duduk di sofa hitam yang ada di ruangan itu.

Chanyeol tersenyum geli dan ikut duduk di samping Baekhyun, "ini lounge khusus, hanya ada lima disini. Ini bar yang berbeda hyun,"

Baekhyun memiringkan kepala memandang Chanyeol lebih dekat, "yeolli sering mengajakku ke bar atau klub malam kan? Jadi apa yang berbeda?"

"tempat ini lebih berbahaya hyun, itu sebabnya aku minta kau untuk menungguku disini dan jangan keluar selangkahpun dari tempat ini tanpa pengawasan. Mengerti?"

Baekhyun mengangguk, "iya, aku mengerti"

"aku pergi dulu, oke? Ini hanya sebentar"

Baekhyun mengangguk lagi.

Chanyeol tersenyum tipis dan mencium pipi Baekhyun, "jangan keluar selangkahpun. Aku akan tahu jika kau melakukannya."

"iya yeolli."

"hmm aku pergi" Chanyeol beranjak dari sofa dan begitu Ia hampir mencapai pintu, sepasang tangan mungil memeluknya dari belakang dengan amat erat.

"aku mohon, berhati-hatilah yeolli. Jangan lama-lama"

Chanyeol terkekeh kecil lalu berbalik dan memeluk Baekhyun tak kalah erat.

"iya sayang. Jangan lupakan pesanku tadi, arraseo?"

"Iya yeollie."

Chanyeol akhirnya keluar dari ruangan itu setelah mendaratkan kecupannya pada bibir tipis si kecil.

Baekhyun menghela nafas pelan sembari tersenyum, "aku kadang lupa kalau dia itu ketua geng berandalan sekolah."

E ) ( O

Selepas mengamankan Baekhyun di lounge VIP, Park Chanyeol bergegas berjalan ke arah bar utama di bangunan itu. Kaki panjang berbalut celana jeans dan boot hitamnya dengan angkuh melewati kerumunan orang yang tengah dibuai alkohol, ekstasi, dan tubuh-tubuh indah setengah telanjang milik wanita-wanita malam meliuk kesana kemari mengikuti hentakan musik yang dibawakan dengan begitu semarak oleh seorang Disk Jockey dari atas sana.

Mata gelap Chanyeol menangkap siluet seorang lelaki tampan berkulit Tan yang sedang menikmati segelas martini di sofa besar di pojok ruangan.

"hey yo, lama sekali!" sapa lelaki Tan bernama Kim Kai itu sambil meletakkan gelasnya.

"aku harus mengurus sesuatu dulu tadi." Chanyeol duduk di sofa tunggal, berseberangan dengan sofa tempat Kim Kai duduk.

"Mengurus Byun kecil mu dulu?" Kim Kai menyeringai.

"begitulah, aku mengajaknya kesini karena sebentar lagi perang akan tiba. Dia harus tetap di dekatku sampai hari itu berakhir."

"hmm, banyak yang mengincar anak itu. Tidak hanya karena dia milikmu tapi juga karena dia punya aura manis yang menarik." Ucap Kim Kai dengan seringaian.

"Apa kau baru saja bilang kalau kekasihku menarik di mata mu?" Chanyeol mendelik tak suka pada Kai.

"kau pikir siapa yang tidak menganggap Byun kecilmu itu tidak menarik? Bahkan laki-laki normal di luar sana mendadak jadi gay setelah melihat kekasihmu berjalan dengan riang sepulang sekolah,"

Chanyeol menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil bersedekap angkuh,

"Aku tidak akan membiarkannya pulang sendirian lagi setelah ini dan tidak akan membiarkannya terlalu sering terlihat di tempat umum."

Kai mendengus malas, "kau sangat posesif. Dia tidak akan suka kalau kau mengurungnya"

"aku tidak mau hyun-ku dilihat oleh mata para bajingan itu."

Kai memutar bola matanya malas, "kau juga bajingan, by the way"

Chanyeol menyeringai, "ya aku bajingan tapi dia milikku. Jadi aku bebas melakukan apapun padanya"

"aku heran mengapa anak itu betah berada di dekat ketua geng berandalan sekolah."

"kenapa tak kau tanyakan sendiri padanya?"

Kai mencibir pelan, "hey kau tidak minum?"

"tidak. Aku tidak ingin memperkosa Baekhyun disini kalau aku mabuk,"

"kau belum menidurinya juga sampai sekarang? Ckck ini sudah hampir setahun kan? Wow bagaimana bisa kau menahan gairahmu?"

"dia belum siap Kai." Chanyeol memijit pelipisnya, "sudahlah, kita langsung saja membahas strategi untuk perang mendatang."

Kai terkekeh pelan setelah melihat wajah frustrasi ketua geng sekolah yang sampai saat ini belum juga meniduri kekasih kecilnya, "kau selalu mengalihkan pembicaraan jika sudah membahas tentang bercinta dengan Baekhyun. Kenapa tak kau beri aprosidiac di minumannya saja? Akan lebih mudah membuat Byun Baekhyun membuka kakinya untukmu" Kai menyeringai.

Chanyeol menatap Kai dengan sorot mata tajam,

"Sial, oke aku tidak akan membicarakannya lagi."

Chanyeol kembali ke mode aman, "jadi mereka berencana akan menyerang markas kita langsung pada akhir Bulan ini? Dan itu siang hari?"

"bahkan mereka akan membagi kelompoknya ke dalam dua bagian dan mendatangi sekolahmu dan sekolahku terlebih dulu secara bersamaan. Agar kita tidak bisa bekerja sama, oh sialan mereka tahu kita ini sudah berkoalisi." Kai mendecih kesal.

Chanyeol memasang seringai, "kalau begitu beri saja mereka kejutan."

"kejutan macam apa kali ini?"

"akan kuberitahu nanti lewat line, disini rawan mata-mata kau tahu," mata besarnya dengan tajam melirik sekeliling , seketika orang-orang yang tengah sibuk memperhatikan mereka berdua karena mengenali Chanyeol dan Kai sebagai ketua geng berandalan kembali ke posisi mereka masing-masing.

Kai menyeringai, "yeah keputusan bijak ketua Park, musuh itu ada dimana-mana."

Kemudian dua pimpinan geng itu menyatukan dua kepalan tangan mereka tanda koalisi telah benar-benar terjalin antara ketua geng SMA Hwa Dokgo dan SMA Dong-Hyul.

"ketua!"

Kemudian penuturan pelan Johnny—salah satu anak buah Chanyeol—di telinganya membuat laki-laki berambut merah api itu tiba-tiba merasa murka bukan main.

"sialan!" umpat Chanyeol kesal sambil beranjak dari sofa diikuti oleh Kim Kai yang penasaran, apakah gerangan yang membuat Park Chanyeol terlihat begitu murka.

E ) ( O

Beberapa menit sebelumnya...

"Bahkan tidak ada channel anime disini? National geographic juga tidak ada? Lounge macam apa ini, membosankan!" Baekhyun menggerutu sendirian saat Ia mencoba mencari hiburan lewat televisi besar di ruangan itu sambil menunggu Chanyeol, anak itu kesal karena channel yang diinginkannya tidak ada disana.

Ngomong-ngomong Ia sudah bermain game di ponsel selang lima belas menit setelah Chanyeol pergi, kemudian Ia beralih bermain rubik yang dibawanya dari rumah, beberapa saat kemudian anak itu lagi-lagi merasa bosan dan menemukan remote televisi tergeletak di rak.

"Yeolli lama sekali, sebenarnya apa yang dia lakukan di dalam sana?" Baekhyun berpikir untuk menyusul sang ketua geng, namun Ia ingat kata-kata Chanyeol untuk tetap diam disini sampai pria itu kembali.

"Tidak boleh melanggar apa yang Yeolli katakan. Okay, I'm fine!" Baekhyun menguap lebar setelah mengatakan itu, memutuskan untuk tidur sebentar karena serius, laporan pratikum kimia terkadang bisa mengikis kewarasan hingga ke ubun-ubun.

Ya, itulah rencananya, kalau saja suara gebrakan kasar dari pintu kayu tidak terdengar hingga ke telinga Baekhyun.

"Apa-apaan itu?" Baekhyun langsung bangun dari posisi tidurnya.

Kemudian suara bantingan kedua terdengar, Baekhyun mengendap pelan menuju pintu lounge pribadi Chanyeol dan mencoba mendengarkan apa yang terjadi diluar.

Dor!

Braakk!

Bajingan sialan!!

"woah mereka mengumpat dan menembak, sepertinya ada perkelahian besar di luar, " bukannya menjauh dari pintu, Baekhyun malah makin menempelkan telinganya ke pintu kayu mahoni itu dengan kernyitan penasaran di dahi kecilnya.

Padahal bisa saja peluru-peluru itu menembus pintu kayu yang tak seberapa tebal itu, namun dengan santainya Byun Baekhyun menempelkan telinganya di sana hanya untuk mendengarkan keributan di koridor lounge itu.

"Tunggu, Yeolli bilang ini lounge VIP kan? Jadi sebenarnya kemana para penjaga tempat ini?" Baekhyun bermonolog ria dengan nada heran karena, oh wtf ini kan lounge VIP! Mengingat bar ini tersembunyi di dalam gang, tentu yang menggunakan lounge ini pastilah bukan orang-orang dari kalangan lurus dan biasa.

Lihat saja, bahkan pemimpin kelompok gengster besar di Seoul seperti Park Chanyeol saja menggunakan lounge ini, bagaimana dengan penyewa lainnya?

Baekhyun membuka sedikit pintu itu, membuat celah amat kecil untuk sekadar melihat gambaran kekacauan di luar dan oh, mata sipitnya melebar ketika hal pertama yang dilihatnya adalah tembok bercat abu-abu di koridor itu sudah penuh dengan cipratan darah. Bahkan ada seonggok mayat pria yang tergeletak tepat di depan pintu lounge nya dengan keadaan penuh luka tusuk.

Baekhyun buru-buru menutup pintu kembali ketika ada seorang pria dengan rambut hitam legam seperti melihat ke arahnya. Oh bisa gawat jika Ia sampai terlihat disini.

Baru saja Ia akan menghela nafas ketika sebuah suara keras membuat tangannya tergesa mengunci pintu dan mendorong sofa single dengan susah payah untuk mempersulit akses masuk ke dalam ruangannya.

"SEGERA DOBRAK PINTU NOMOR 614 ITU! DI DALAM SANA ADA KEKASIH PARK CHANYEOL! CEPAT TANGKAP DIA HIDUP-HIDUP!!" itulah teriakan yang membuat Baekhyun kelabakan membuat Benteng pertahanan seadanya.

"Bangsat sekali orang ini!" batin Baekhyun kesal.

Segera saja laki-laki kecil itu memakai tas ranselnya di punggung, kemudian bersembunyi di sebelah rak televisi.

Jantungnya berpacu amat cepat ketika pintu kayu yang tak seberapa kuat itu di dobrak dengan kasar dari luar, kunci pintu yang jadi pertahanan pertamanya hampir remuk sebentar lagi, sedangkan sofa single yang jadi Benteng kedua mulai sedikit sulit untuk dihancurkan.

Oke, ini kesempatannya untuk menelepon.

"oh seandainya disini ada jendela! Kisahku hari ini akan lebih mudah!" ucapnya pelan sambil menunggu panggilannya dijawab oleh sang ketua gengster. Anak itu sampai menggigit ujung ibu jarinya karena gelisah teleponnya tak diangkat juga oleh Chanyeol.

"Astaga kenapa harus bertemu orang-orang sialan itu disini? Sebenarnya musuh Yeolli ada berapa banyak sih di Korea?"

BRAAAKK!!

"hey anak manis keluarlah!" suara bengis terdengar di telinga Baekhyun, membuat tubuh anak itu bergetar takut.

"Sialan! Mereka berhasil menembus bentengku??"

"tak apa manis, ikutlah dengan patuh Dan kami tidak akan melukaimu!"

"PATUH KEPALAMU!!"

DOR!

Baekhyun hampir terlonjak dari persembunyiannya ketika Ia melihat peluru tertancap di dinding lounge itu.

"Keluarlah baik-baik atau aku akan memberondong habis tempat ini,"

Kemudian dengan beberapa pertimbangan di otaknya, anak itu akhirnya keluar dari persembunyian dan tanpa gentar berdiri di depan musuh Chanyeol.

"Oh sialan dia sangat manis" ucap seorang pria berambut hitam yang tadi sempat memergoki Baekhyun mengintip dari balik pintu, "namaku Dean, sayang. Ikut denganku okay?"

Emosi Baekhyun makin tersulut ketika dirinya ditatap dengan tatapan melecehkan oleh pria bernama Dean ini.

"bagi untukku juga, nanti malam kita gilir dia," ucapan pria berambut orange di sampingnya membuat mata Baekhyun melotot marah.

"oke Zic," Dean menyeringai.

Si rambut orange maju dengan seringai keji menuju Baekhyun, namun detik ketika pria bernama Zico menyentuh tangan Baekhyun, detik itu juga si pria terpelanting jauh hingga punggungnya membentur dinding koridor.

Untuk beberapa saat Dean dan tiga anak buahnya terdiam melihat pemandangan itu.

Bagaimana bisa anak kecil ini membuat seorang Zico mengerang kesakitan dengan darah keluar dari mulutnya? –begitulah kira-kira pikiran Dean dan komplotannya.

"jangan pernah..."

Dean mengalihkan pandangannya kembali pada Baekhyun yang tengah melihat Zico dengan tatapan datar.

"Jangan pernah mencoba menyentuhku karena hanya Park Chanyeol yang boleh melakukannya," ucap Baekhyun dengan mata nyalang.

"bocah ini sudah gila!" Dean mengumpat, "Sudah berapa kali kau ditiduri olehnya hingga kewarasanmu hilang begini? Apa sebegitu nikmatnya disetubuhi oleh Park Chanyeol, heh?"

Baekhyun melayangkan tinjunya ke arah wajah Dean dan dengan sigap dihindari oleh pria berambut hitam itu, kemudian Baekhyun ganti menyerangnya dengan kaki. Ketika hampir mengenai perut Dean, pria itu menangkap sebelah kaki Baekhyun dan mendorongnya ke depan hingga Baekhyun hampir terjungkal ke belakang, setelah itu memberi pukulan telak pada Baekhyun hingga sudut bibir anak itu terluka.

"damn!" Baekhyun mencoba berdiri dan kembali menerjang Dean, namun dua anak buah pria berambut hitam itu maju dan memegang kedua tangan Baekhyun.

"Si brengsek ini benar-benar curang, heh? Kau takut menghadapiku seorang diri?" Baekhyun sekuat tenaga memutar tubuhnya dan menendang keras perut kedua pengawal itu. "Sungguh pengecut!" Baekhyun menampilkan senyum mengejek.

Emosi Dean tersulut, "berisik dasar bocah!" dan ketika Dean hendak maju untuk mencekik leher Baekhyun, sebuah tendangan keras membuatnya tersungkur tepat di bawah kaki Baekhyun.

Baekhyun menatap ke depan dan melambai, "yeollie!"

"Kau baik, hyun?" Chanyeol segera berjalan ke arah Baekhyun, mengabaikan erangan kesakitan Dean dan anak buahnya. "oh sial, aku akan memanggil dokter Jungshin ke apartemenku" Chanyeol mengusap pelan luka di sudut bibir Baekhyun.

"tidak apa-apa yeolli, tidak perlu memanggil dokter Jungshin! Aku bisa mengobatinya sendiri, aku kan sudah sering mengobati yeolli ketika kau habis bertarung"

"jangan bantah aku dan ikut ke apartemenku setelah ini," Chanyeol menatap Baekhyun tajam.

Bibir Baekhyun mengerucut lucu, "oke baiklah baiklah! Jangan menatapku begitu."

Chanyeol mengecup sekilas bibir si mungil dan berbalik untuk mendapati Kai dan Johnny yang masih ternganga melihat keadaan sekitar yang kacau balau.

"Oh man, apa Byun kecilmu yang sudah membuat seseorang terkapar di luar sana?" Kai menunjuk pada Zico yang pingsan, "dan ini?" tangannya gantian menunjuk dua anak buah yang tadi terkena tendangan Baekhyun.

Chanyeol menatap Baekhyun dan mengusap rambutnya, "tentu saja , lalu kau pikir siapa lagi?"

"ha-habis bagaimana lagi? Mereka mencoba menculikku dan mengatakan hal-hal yang menakutkan padaku... Aku.. Aku tidak mau disentuh orang lain selain yeollie. Jadi aku terpaksa pakai kekerasan" ucap Baekhyun terbata sambil menunduk.

Chanyeol tertegun mendengarnya lalu sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum tipis, "Johnny, singkirkan sampah ini dari hadapanku" ucap sang ketua pada Johnny sambil menunjuk Dean dengan jari telunjuknya tanpa mengalihkan tatapan dari Baekhyun, "lakukan seperti biasa, dia sudah mengganggu milikku"

Kemudian setelahnya hanya terdengar suara Dean yang meronta dan menyumpah serapah pada Baekhyun ketika Johnny dan .anak buah Chanyeol yang lain menyeretnya keluar dari lounge itu.

"Ugh orang itu sangat seram." Baekhyun mendongak menatap pria berambut merah api di depannya, "i'm sorry, aku benar-benar terpaksa memukulnya yeolli. Aku tidak mau diculik! Aku tidak mau terpisah dari yeolli seperti waktu itu. Please jangan marah"

Chanyeol membawa Baekhyun ke dalam pelukannya, "aku tidak marah hyun. Aku yang minta maaf karena terlambat datang hingga tanganmu sendiri harus melakukan hal kasar,"

"it's okay yeollie, aku kan laki-laki! Jadi tidak apa-apa!"

"iya, kau lelaki cantik-ku."

Baekhyun cemberut, "aku tampan!"

Chanyeol terkekeh gemas,

"kita pulang ke tempatku sekarang, bertemu dokter Jungshin untuk mengobati lukamu, arraseo?" ucap Chanyeol sambil menempelkan dahinya ke dahi milik kekasih mungilnya.

"iya yeol, oh apa ada marsmellow di apartemen mu hari ini?"

"selalu ada sayang, kapanpun kau datang ke apartemenku akan ada banyak marsmellow dan strawberry untukmu,"

Baekhyun mencium pipi Chanyeol malu-malu, "thanks yeollie!"

"hmm" Chanyeol membalasnya dengan lumatan di bibir si kecil.

Oh Kim Kai yang malang, Ia hanya mencibir dan akhirnya berbalik setelah melihat betapa lembutnya Chanyeol jika sudah berhadapan dengan Baekhyun.

"bagaimana bisa bocah kecil itu menjinakkan serigala liar macam Chanyeol sih? Sungguh tidak masuk akal." Sungutnya saat Ia berjalan di koridor menuju pintu keluar.

To Be Continued

siapapun yang menemukan cerita ini tolong review tolong review please please please