Thanks for the review, Miity! Bakal kucoba bikin yang lebih bagus. Tapi seminggu lagi. Aku bikin ceritaku sampe sekarang nggak kubaca ulang sebelum kupost. Buru buru sih. Kan mau ujian. ;-) Nih chappie selanjutnya, buat semuaaaaanyaaaa yang udah mbaca. Updateanku cepet kan? (Alah entar juga lanjutannya lamaaaa! Hehehe)


Aoko berdiri di balkon di atas permata yang akan dicuri KID. Tegang. Ini akan jadi pencurian pertamanya… melawan ayahnya sendiri.

Berusaha meredam rasa bersalah di hatinya, ia mengenakan mantel hitam yang membuatnya nyaris tidak terlihat di kegelapan balkon. Matanya mengawasi Kaito yang melangkah naik ke balkon—di seberangnya. Aoko menghembuskan nafas lega. Paling tidak ia tidak harus langsung bertemu dengan Kaito…

Aoko sudah menukar permata di situ dengan permata palsu. Dia sudah melukis tanda KID dengan sejenis bahan kimia yang akan berubah warna begitu bersentuhan dengan bom asap biru.

Yang akan meledak… lima menit sebelum KID datang.

Yaitu sekarang.

Asap biru menenggelamkan polisi di bawah—terdengar seruan kaget dan panik. Aoko tidak bisa menyalahkan mereka… masih lima menit sebelum waktu, bagaimanapun.

Asap mereda, dan permata palsu itu berdiri dengan bangga di dalam kaca. Ayahnya terpaku.

"A-A-Apa? Ini masih lima menit sebelum waktu!"

Di balkon seberang, Kaito melihat dengan terkejut ke arah permata itu… matanya melebar. Lucu, dia tidak memakai Poker Face saat sendirian. Kaito mengangkat wajah dan melihatnya. Dari sudut matanya, Aoko melihat jam berdetik.

Lima…empat…tiga…dua…satu.

Waktu untuk KID.

Kaito sepertinya tahu ini, dan sedetik kemudian ia menghilang ditelan asap pink, berganti dengan sosok sang pencuri ironis dengan baju putih. Senyum soknya mengembang di wajahnya, dan dia berbicara.

"Selamat malam, gentleman." Katanya tenang. "Rupanya seseorang mendahuluiku hari ini."

Aoko meledakkan bom asap warna biru dan muncul dengan kostumnya. Ia memakai senyum manis yang ia latih, dan, tentu saja, poker face.

"Selamat malam," katanya dengan nada royal. "Senang bertemu dengan anda semuanya."

Perhatian seluruh polisi teralih padanya—dan mereka melongo. Satu orang yang masih cukup waras untuk bergerak mulutnya membuka dan menutup… yah, seperti ikan, dan ia berseru kaget.

"Lady KID!"

Aoko tersenyum manis—dan menghilang lagi. KID—dia melompat dari balkon ke lantai satu, dan seperti biasanya, membuat keributan. Aoko menggelengkan kepalanya.

Dia keluar lewat jendela dan memanjat ke atap, diiringi kutukan kutukan yang, tak diragukan lagi, datang dari polisi yang dikerjai KID. Tapi Aoko tidak ingin mengerjai siapa siapa. Ia hanya memanjat, terus, dan menunggu KID di atap yang kosong.

Dan ia berdiri dalam pose khasnya sendiri. Pose seorang Lady—seorang Lady Kaitou.

Lady KID. Aoko cukup menyukai nama itu.

Rupanya ia tak perlu menunggu lama untuk KID. Pintu atap terbuka.

"Maaf membuat anda menunggu, ma chere." Kata KID ketika ia muncul. Dengan anggun ia membungkuk untuk mencium tangannya.

"Ah," katanya, "Bonjour."

"Ada yang bisa saya lakukan untuk anda?"

Dasar pencuri gentleman, pikir Aoko, nyaris tertawa. Dia begitu menyebalkan di sekolah—Tapi sangat sopan sebagai seorang Kaitou.

"Bukan kamu yang melakukan," kata Aoko tenang. "Aku yang melakukan."

KID memiringkan kepalanya, meminta Aoko untuk melanjutkan.

"Aku ingin membantumu menemukan Pandora."

Untuk beberapa saat, KID terdiam. Aoko tahu dia pasti terkejut. Aoko membiarkannya berpikir, merasakan angin malam berhembus, membuat jubahnya berkibar.

"Kamu tahu?"

Aoko memiringkan kepalanya sendiri.

"Ya."

"Kamu tahu kalau ini berbahaya?"

Aoko tertawa. Dia sudah menemukan versi tawanya sendiri, tawa yang manis, yang jauh lebih ironis dari senyuman sang Kaitou.

"Kalau aku tidak tahu seberapa berbahaya, kenapa aku melakukan ini?"

"Dan… jika aku bilang ya… apa yang kamu inginkan?"

Sekarang giliran Aoko untuk terdiam. Apa yang dia inginkan? Aoko hanya ingin membantu. Tidak ada lagi. Karena dia tidak bisa membiarkan Kaito sendiri.

Tapi dia tidak bisa memberitahu Kaito kalau dia adalah Aoko kan? Kaito akan menyuruhnya—jangan melakukan ini lagi. Yah… dia sudah menulis di buku itu kenapa ia tidak memberitahunya. Untuk keselamatannya sendiri.

Dengan perlahan, intonasi yang tertata rapih, Aoko memberikan jawabannya.

"Hanya kepercayaan."

"Sebuah harga… yang cukup kecil."

Kini Aoko tersenyum lagi.

"Aku percaya padamu, monsieur. Aku hanya ingin membantu. Dengan caraku sendiri… Apapun yang kau katakan. Au revoir."

Kerumunan polisi berlari masuk melalui pintu atap. Aoko melompat, mengaktifkan hang glidernya sendiri, membiarkan Kaito bermain dengan para polisi.

Tapi ia masih sempat menyelipkan permata curiannya ke kantong Kaito.


Aoko menguap. Pagi ini sangat melelahkan.

"Aaaooookooo!!!"

Aoko memelototi Kaito yang ceria. Apa dia tidak punya syaraf capek? Aoko tahu persis tadi malam dia mengerjai nyaris seluruh anggota kepolisian—dan sekarang, dia datang seolah olah tadi malam dia tidur jam tujuh dan bangun jam enam. Kebanyakan energi, pikir Aoko sebal.

"Bakaito. Diam."

Kaito cemberut.

"Aku bosan."

"Dan aku capek."

Aoko memberinya pandangan sedingin es. Kaito mengeluarkan koran… dan membaca lagi.

Headlinenya, Lady KID Telah Tiba!

"Spekulasi tentang hubungan Lady KID dengan Kaitou KID…"

Aoko melihat Hakuba muncul tiba tiba. Kaito memelototinya. Aoko nyaris tersenyum melihat Hakuba pergi sambil menggumam Lady KID—tapi ingat. Aoko Nakamori membenci Kaitou KID.

"Si idiot itu punya pacar?" Aoko menggerutu. "Oooh, kasihan anggota fans KID…"

"Katanya ada klub fans Lady KID. Anggotanya cowok."

Aoko akan melompat kaget jika ia tidak ingat kebenciannya akan KID.

"Dasar pengganggu! Pencuri idiot!"

Lucu. Aoko mengejek dirinya sendiri. Tapi lebih lucu lagi…Aoko baru saja membantu musuh besarnya.

Aoko memutuskan kalau dia sudah menjadi orang aneh.


Hem hem hem. Bakal update sesegera mungkin. Oke ya???