REINCARNATION

.

.

.

Chapther 2 : Perkenalan

.

.

.

Di hari berikutnya Kyungsoo terbagun di sofa dengan selimut tebal menenggelamkan tubuhnya. Ia merasa kepalanya sedikit pusing.

"Kau sudah sadar?" suara Chen yang berjongkok di samping sofa, ada gurat khawatir di wajahnya. "Hey! Katakan sesuatu!" desaknya lagi terdengar sebal karena tak ada satu kata pun yang keluar dai mulut Kyungsoo.

Ingatan Kyungsoo langsung berputar ketika malam kemarin sebuah kucing menubruknya hingga..."Kucing" guman Kyungsoo lemah.

Chen langsung memutar bola matanya malas. "Katakan sesuatu yang berguna! Seperti ohh aku baik-baik saja..atau semacamnya", ujarnya seakan menirukan suara gadis namun lebih mirip suara kucing tercekik.

"Tidak..tidak...seekor kucing menubrukku, hingga aku jatuh pingsan di depan kontrakan si penghuni baru. Aku ke sana tadi malam" jelas Kyungsoo yakin.

Chen mengerutkan keningnya, "Kau bicara apa? Kau terserang deman hebat tadi malam, hingga aku terus menepuk nepuk pipimu menjagamu agar tetap sadar. Sekarang kau malah bercerita hal yang tidak kau lakukan" protes Chen merasa jengkel memiliki sepupu sinting.

"Tapi aku kesana tadi malam, aku sangat yakin itu" elak Kyungsoo tak mau kalah.

Jongin yang sibuk memasukkan beberapa buku tebal ke dalam tas hitam pun akhirnya mendesah pelan dan memilih berjalan mendekati sofa berharap mampu menghentikan pertikaian persaudaraan ini. "Mungkin kau berhalusinasi. Sebuah demam bisa saja memberikan efek halusinasi" jelas Jongin memberikan hipotesis yang mungkin dapat di terima.

"Ya ampun, Jongin kau tahu sendiri kan aku membawa bunga dan sekantung apel merah lalu berjalan ke luar rumah" sanggah Kyungsoo.

Jongin malah menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Jika kau sudah sehat, ikutlah bersamaku ke perpustakaan kota. Kau butuh udara segar dan sebuah buku" ucapnya final.

Disinilah Kyungsoo dan Jongin sekarang. Duduk di antara rak-rak penuh dengan buku mulai dari yang berbau harum khas buku baru hingga buku lama yang sudah kusam termakan usia. Perpustakaan kota berjarak sekitar 3 kilometer, butuh sekitar 20 menitan untuk mencapainya dengan sepeda kesayangan Jongin. Kau tak akan menyangka dirinya adalah siswa menengah atas tahun kedua. Dengan wajahnya yang seksi dan sikap bijaknya seperti sudah hidup ribuan tahun.

"Jadi kenapa aku tidur di sofa? Katanya aku demam? Cih, tidak berperasaan sekali membiarkan wanita demam tidur di sofa" umpat Kyungsoo.

Jongin hanya bergumam "Hmm.." tanpa menengok sedikit pun. Ia membolak-balik buku kusamnya tanpa merasa terganggu.

"Apa yang kau maksud dengan 'hmmm..' ? Berbicaralah yang jelas, aku lebih tua darimu, Jonginn!" desak Kyungsoo kesal.

Jongin menghebuskan nafasnya pelan,"Kau tahu...kadang aku merasa lebih tua darimu. Maaf soal kemarin dan tadi pagi, kamarmu-"

"Ada apa dengan kamarku?" tanya Kyungsoo penuh kecurigaan.

"Kamarmu kotor" ucap Jongin cepat sebelum sepupunya ini bertanya macam-macam. Ingatan Jongin kembali ke malam itu.

Malam sebelumnya

Jongin mendapat perasaan tak enak bahkan sebelum kakak sepupunya itu pergi berkunjung ke si penghuni baru. Ia pernah berpapasan, walau hanya hitungan detik saja tapi rasanya sudah familiar dengan wajah itu. "Kau tidak perlu kesana jika tidak ingin" Jongin mencoba memperingatkan, dirinya yakin hal buruk akan terjadi. Namun, Kyungsoo sang kakak sepupu tetap bersikukuh datang demi sopan satun.

Ini sudah 15 menit sejak kepergiaannya. Jongin memutuskan menyusul. Seperti dugaannya, Kyungsoo tak sadarkan diri di depan pintu. Celah pintu masih terbuka. Tak ada aktifitas di dalam. Gelap tanpa penerangan.

"Meongg..." suara kucing hitam yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat kakinya.

"Astaga..apa maumu kucing kecil? Kau mau membantuku membopong kakakku ini?" tanya Jongin, kucing itu hanya mengeong lagi entah apa katanya. Jongin tertawa kecil, bagaimana dirinya yang jenius ini mengajak bicara seokor kucing hitam. Bodohnya aku, pikir Jongin dalam hati.

Setibanya di kontrakan Kyungsoo, Chen menghujaninya dengan banyak pertanyaan dan mengikutinya menuju kamar Kyungsoo yang di lantai atas. "Apa yang terjadi? Kenapa dengannya? Apa yang kau lakukan? Apa sesuatu terjadi padanya? Apa dia dibunuh?."

Jongin tak menjawab pertanyaan sang kakak satu pun.

"Yakkk! Kucing siapa ini?" jerit Chen melengking menemukan kucing hitam membuntutinya.

"Biarkan saja. Tolong ambilkan apa pun yang membuatnya bangun" pinta Jongin dengan pikiran berkecambuk. Chen akhirnya menurut walau tak tau apa yang harus ia ambil.

Sepeninggal kakaknya, Jongin menatap pintu kamar Kyungsoo yang tertutup. "Andai aku punya tambahan tangan" gumannya lemah.

"Meongg!" kucing itu menyahut.

"Oh baiklah...ini lebih baik daripada punya empat kaki dengan empat ketiak." Dengan keadaan masih membopong Kyungsoo, tanganya mencoba menggerakan handle pintu.

Krieeettt! Jongin mendorong pintu perlahan. "Oh God" ujarnya lalu cepat-cepat menutup pintu.

"Kenapa masih berdiri disini?" suara Chen muncul di belakangnya sambil membawa botol isi air es.

"Kamarnya sangat kotor, lebih baik kita tidurkan di sofa," usul Jongin

Chen hanya mengindikan bahu tak berniat protes.

"Hyung, tolong bawa Kyungsoo ke sofa! Aku akan ambil selimut dan bantal untuknya" pinta Jongin sambil memberikan tubuh Kyungsoo yang ia bopong pada Chen. "Dan tolong..jika dia bangun bilang saja dia tidak kemana pun malam ini. Demam membuatnya berhalusinasi," lanjutnya.

"Tapi dia tidak demam" sanggah Chen. Jongin memandanginya dengan memohon. "Baiklah..."

Jongin memasuki kamar Kyungsoo lagi. Keadaannya sama seperti terakhir ia melihat. Meja besar berbentuk pesergi dengan peta wilayah di atasnya. Lampu gantung bercahaya putih menyala redup. Senapan laras panjang berjejer di rapi di sisi kanan dan kiri ruangan. Peti-peti kayu bertumpuk di sudut-sudut ruangan. Cangkir besi dengan asap mengepul. Ia mulai mendekati meja tersebut. Gerakanya terhenti ketika mendengar langkah kaki mendekat. Jongin buru-buru bersembunyi di balik peti-peti kayu.

Seorang berperawakan tegap dengan sepatu boot berjalan menggema ke seluruh ruangan. Baju dan topi militer yang ia gunakan menguatkan tebakannya bahwa ini salah satu ruangan di barak kemiliteran. Seseorang lagi datang, kali ini dengan tegesa-gesa lalu bersimpuh. "Sir, pertimbangkan keputusan Anda! Saya yang bersalah atas kasus ini," ujarnya memohon.

BUGHH! Pukulan keras menjawab semua permohonannya. "Appa! Kumohon!" ucapnya sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah.

"Meoongg..." Jongin menengok ke arah kucing hitam di sampingnya. Seketika ruangan kembali keseperti semula dengan ranjang berbalut sprei putih, almari sedang di sudut ruangan dan meja rias disampingnya.

"Bagaimana bisa?" ucap Jongin setengah berbisik kepada sang kucing.

.

.

.

Sejak kejadian itu mereka bertiga tak ada yang menyinggungnya lagi, namun di dalam diri Kyungsoo yakin dirinya benar-benar pergi malam itu. Si penghuni baru tiba-tiba menghilang. Chen maupun Jongin pun selama seminggu ini tidak kelihatan batang hidungnya. Chen sibuk dengan restaurant barunya, mungkin. Tapi Jongin, Kyungsoo rasa bocah hitam itu tak punya kesibukan yang lain selain bersekolah. Entahlah..mungkin selain besekolah, dia bertapa di gunung lalu menjadi biksu.

Hari ini Mr. Jung membicarakan masa kelam bangsa ini. Para penduduk bertahan hidup di tengah kemiskian, anak-anak menjadi yatim piatu, istri-istri menjadi janda, para pemegang kekuasaan sebelumnya mau tak mau bertekuk lutut mengabdikan dirinya ke musuh atau para gadis pengecut memilih menjadi simpanan penjajah.

Hingga Mr. Jung menceritakan bagaimana mengesankannya koordinasi para tentara dari dulu hingga sekarang. Ayah Mr. Jung adalah seorang tentara yang berdedikasi pada bangsanya. Berbadan tinggi tegap dengan banyak lecana yang menempel di bajunya. Mr. jung juga tinggi tapi di usianya yang matang ini ia tak juga punya istri. Kyungsoo jadi agak kasian.

"Mereka bertahan hidup di hutan, memakan apa pun yang bisa mereka makan. Ular, tikus..." ucap Mr. Jung sambil berjalan melewati bangku-bangku kami.

"Tikus" cicit seorang gadis di bangku belakang. Wajahnya menggeram jijik.

"Apa pun demi negaranya," lanjut Mr. Jung dengan suara lantang.

"Bagaimana jika Anda lahir menjadi tentara negara yang penjajah? Apa Anda akan ikut menjajah atas nama nasionalisme bangsa Anda?" Seorang pemuda tanpa permisi memasuki kelas kami, tak hanya itu dia bahkan menantang Mr. Jung dengan pertanyaannya.

Kyungsoo tak tau harus berdecak kagum atau berdoa demi keselamatan pemuda itu, mengingat ia terlambat untuk kelas ini. Mr. Jung memandangnya dengan pandangan tak terbaca.

"Maafkan saya, Mr. Jung. Saya akan duduk dan mengunci mulut saya" ujarnya lalu memilih duduk bangku kosong di depanku.

Kali ini aku yakin, Mr. Jung tak akan memberikannya point A untuk mata kuliah ini. Kecuali pemuda berbahu lebar dan jakung ini mau jadi simpanan nenek Mr. Jung, itupun kalau neneknya masih hidup. Oh ayolah, sepertinya pagi ini otak Kyungsoo mulai tak waras lagi.

"Baiklah, nak. Terkadang kita tak bisa memilih siapa pemimpin kita, siapa negara kita, bahkan ketika kita sudah bersumpah. Seorang tentara berjanji untuk negaranya. Karena di negara tersebut keluarga dan sanak saudaranya tinggal. Melindungi negara berarti melindungi keluarga mereka pula," Mr. Jung menaikan sebelah alisnya menunggu respon apapun dari si penannya.

Namun tak ada tanggapan maupun sanggahan yang ia dapat, Mr. Jung tersenyum angkuh . Bagaimana pun aku tak setuju dengan alasan Mr. Jung akhirnya Kyungsoo buka mulut. "Maaf, Mr. Jung. Sepertinya Anda melupakan sesuatu, tidak semua keluarga tinggal dalam satu negara. Dan kalau pun saya menjadi tentara yang menjajah bangsa lain, saya akan – "

"... memilih menghianati bangsa saya."

Semua orang dalam ruangan tercekat akan ucapan Kyungsoo, tapi tanpa Kyungsoo sadari pemuda di depannya menyungingkan senyum penuh arti.

"Kau perlu berlajar nasionalisme lagi, Nona Do" ucap Mr. Jung penuh penekatan. Kelas pun berakhir tepat setelah Mr. Jung melayangkan peringatannya. Kurasa aku tak akan lulus di mata kuliah ini, batin Kyungsoo.

Kyungsoo mulai mengemasi barang-barangnya, semoga hujan tak mendahuluinya mengingat hari ini langit bewarna hitam sepanjang hari. Buru-buru ia melangkah meninggalkan kelas, menuruni tangga untuk mencapai aula utama gedung ini. Dari pintu aula, orang-orang berlarian menghindari hujan seolah air hujan adalah sebuah granat yang siap meledakan mereka.

"Aku punya payung" ujar seseorang di sampingnya. Kyungsoo menatapnya bingung, dia tak menawarinya, dia hanya memberitahu bahwa dia punya payung.

"Ya, aku bisa liat itu" balas Kyungsoo sesopan mungkin.

"Ayo!" ia menarik tangan Kyungsoo untuk bergabung di bawah hitamnya.

Suasana menjadi cangung. Tak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Tak mengenal satu sama lain namun sekarang berjalan di bawah payung yang sama di tengah hujan. Hebat bukan. "Mmm...namaku Do Kyungsoo" ucap Kyungsoo membuka suara pertama kalinya.

"Aku tau" balasnya singkat. Kyungsoo hanya bisa mendengus kesal, bukankah dia seharusnya berbalik memperkenalkan diri.

Suasana kembali sunyi, hanya suara air hujan membentur payung, Kyungsoo rasa semakin deras dan bercampur angin. Sesampainnya di halte dekat, mereka berdua hanya bisa menghela nafas pelan melihat halte yang sudah basah kuyup akibat air hujan yang terbawa angin.

"Sepertinya kita harus tetap berdiri sampai bus lewat," ucapnya sambil merapatkan tubuh Kyungsoo ke arahnya. Sampai-sampai Kyungsoo mampu mencium aroma tubuh pemuda itu. Reflek Kyungsoo sedikit menjauh. Namun pemuda itu menariknya kembali. "Jangan jauh-jauh aku takut kau kebasahan."

"Do Kyungsoo...nama yang cukup cantik," gumannya dengan pandangan kosong. Kyungsoo menatapnya bingung. "dan tidak asing" lanjutnya tanpa menoleh.

"Thanks" balas Kyungsoo dengan sepenuh hati. Pemuda itu menoleh sekilas.

"Kita akan sering bertemu. Terima kasih untuk apel dan bunga – " ucapnya mencoba mengingat nama sebuah bunga.

Ya Tuhan berarti dia si penghuni baru, berarti malam itu. Tiba-tiba rasa kesal menyelubungi Kyungsoo mengingat kedua sepupu kurangajar yang berani membohonginya. Ia bersumpah akan akan menjewer telinga mereka berdua hingga merah.

"Baby breath," sambung Kyungsoo.

"Ah, jadi itu namanya."

"Meskipun bunganya kecil-kecil namun bisa mekar sangat lama, makanya orang menyebutnya sebagai lambang kesucian, ketulusan, dan kebahagiaan. Florist biasanya mengabungkan dengan mawar sebagai simbol teramat kuatnya cinta sejati" jelas Kyungsoo sambil mengosok-gosokan tanganya agar tetap hangat.

Grep! Sebuah tangan lebar menghentikan aktifitas Kyungsoo mengosok-gosok tangan. Jari-jari panjangnya menelusup celah-celah jari kanan Kyungsoo hingga jari-jari mereka saling bertautan. Pemuda itu mendekat dan dengan sekali gerakan ia membawa tangan kanan Kyungsoo ke saku jaketnya.

"Kau kedingianan?" tanyanya lirih.

Kyungsoo mendongakkan wajahnya mengingat jarak sedekat ini membuat perbedaan tinggi badan mereka terasa.

"Hah?" tanya Kyungsoo ragu-ragu. Apa dirinya jadi tuli? Bukannya ia tidak dengar tapi aroman pemuda ini yang kuat begitu mendominasi membuat pikirannya kacau.

"Kau tahu, ibuku bilang aku begitu lincah dan cerdas ketika bayi. Oleh karena itu dia memberiku nama – "

Kyungsoo dapat melihat wajah pemuda iu semakin mendekat. Oh tidak ini buruk.

"Chanyeol," bisiknya tepat di telinga Kyungsoo. "..Park Chanyeol"

Cup! Satu kecupan di sudut bibir Kyungsoo. Tanpa sadar Kyungsoo mengeratkan tautan tangannya di saku jaket pemuda bernama Chanyeol itu. Chanyeol sedikit menundukan wajahnya agar dapat melihat Kyungsoo yang sedari tadi diam.

Kyungsoo merutuki kebodohannnya yang hanya bisa menatapnya tanpa berkedip sekali pun. Terlalu terkejut dengan semua ini. Keterkejutannya bertambah dua kali lipat kala ia melihat air mengalir dari pelupuk mata Chanyeol, membuat jalur di pipi. Kemudian memejamkan matanya yang sudah terlanjut basah.

Entah kenapa melihatnya begini membuat Kyungsoo sakit, ia tak tau apa yang membuatnya sedih. Mereka berdua baru kenal beberapa detik yang lalu. Tapi entah dorongan dari mana, Kyungsoo beranikan berbalik memberikan kecupan di kelopak mata kanan pemuda itu.

Jujur ini perkenalan yang dramatis seumur hidup Kyungsoo. "Kenapa kau menangis?"

Chanyeol menjawab ragu-ragu, "Aku tidak tau, aku hanya merasakan kerinduan yang meluap-luap saat ini. Rasanya seperti sudah menunggu bertahun-tahun untuk bertemu denganmu. Mungkin ini sedikit berlebihan,tapi itu yang aku rasakan"

Entah siapa yang memulai, bibir mereka berdua saling bersentuhan lagi. Melumat satu sama lain. Tak peduli hujan deras, toh Chanyeol masih setia memegangi payung untuk bernaung dari hujan.

Tanpa mereka berdua ketahui, Jongin duduk di atas sepedanya di bawah guyuran hujan menyaksikan kedua sejoli bersatu lagi di kehidupan ini. "Ternyata begini yang kurasakan dulu,"

.

.

.

"Kyung...Kyungsoo...Soo-yaa." Kyungsoo merasa tubuhnya di guncang-guncang kasar. Terpaksa ia bangun dari rasa kantuknya. Kyungsoo membuka matanya yang berat lalu menguceknya pelan. "Oh ayolah ini hari minggu, sepupuku sayang...," keluh Kyungsoo sambil menatap garang pembuat onar pagi ini,

"Soo-ya!" panggil Jongin tegas. Oke, jika Jongin sudah murka siapa pun bagaikan rakyat jelata yang meminta pengampunan pada rajanya. Bahkan Chen sang kakak tak berkutik. Percayalah.

"Aku menuntut penjelasanmu hari ini, Kyung!" ujar Jongin lalu melenggang pergi dari kamar Kyungsoo dengan langkah berat. Kyungsoo tak pernah melihat Jongin semarah ini.

Kyungsoo duduk manis di boncengan sepeda Jongin. Tanpa percakapan. Jongin mengayuh sepedanya dengan cepat. Seperti terburu-buru dikejar waktu. Jika Jongin tidak dalam keadaan marah, sebenarnya ini hari minggu yang cerah. Mereka berdua melewati pepohonan rindang dan ladang-ladang penduduk yang sedang berbuah. Para hewan-hewan ternak sedang menyebrang di jalan raya. Tak lupa angin pagi yang segar dan sinar matahari yang begitu hangat jika menyentuh kulit.

"Maaf" ucap Kyungsoo pelan. Kyungsoo tak tau dimana salahnya. Tapi mengingat Jongin bukanlah orang yang mudah marah. Bahkan ketika ia menewaskan kelinci putih kesayangan Jongin akibat kelalaiannya. Kelinci berbulu putih bersih itu terkapar di jalanan dengan noda merah mencemari bulunya yang cantik. Itu pun Jongin tak marah, dia bilang 'memang ini sudah waktunya'. Namun, ia tahu Jongin amat sedih hari itu. Seharian Jongin hanya duduk di depan gundukan pasir berhias bunga. Tak mau bicara pada siapa pun.

Jongin memarkir sepedanya di depan kedai Paman Sam. Paman Sam menyambut kami dengan senyum terkembang, lalu mengiring kami ke meja dekat jendela. "Kalian mau teh, kopi, atau yang lain?" tawar Paman Sam.

"Teh oolong saja" balas Kyungsoo.

Paman Sam mengalihkan pandangannya ke Jongin, "Kulihat kau kurang tidur lagi, nak. Apa kau mau teh bunga chamomile seperti biasanya?" Jongin menjawabnya dengan anggukan.

"Kau juga sering kemari?" tanya Kyungsoo pada Jongin.

"Ya" balas Jongin. "Lebih tepatnya belakangan ini, aku membutuhkan teh buatan Paman untuk membantuku tertidur," jelasnya.

"Sejak kapan?" tanya Kyungsoo penuh nada kekhawatiran. Jongin menatapnya sayu, matanya kelihatan lelah.

"Sejak kau bangun dari demammu" jawab Jongin pelan.

"Jongin, berhenti membohongiku. Aku tak demam aku tau benar itu. Ini seperti bukan dirimu Jonginn!" peringat Kyungsoo.

Jongin menunduk. "Maaf, aku terpaksa. Kau pingsan hari itu dan – " ia menghentikan penjelasannya, kepalanya semakin menunduk.

"... dan kamarmu berubah menjadi ruangan seperti barak di militer-militer. Dengan dua orang bercakap-cakap tanpa tahu kehadiranku. Ini gila kan" lanjutnya diiringi senyum getir. "Aku sampai pergi ke psikater – " nafanya mulai naik turun tak beraturan.

Dengan gerakan reflek Kyungsoo menyentuh dan menggenggam tangan Jongin yang ada di meja. Memberinya sedikit kekuatan. "Kau tidak gila Jongin, kenapa kau kesana? Kau mungkin hanya kelelahan lalu melihat yang tidak-tidak. Itu hanya ilusi saja. Semua orang pernah mengalaminya "

Jongin menarik tangannya dari genggaman Kyungsoo sambil menggeleng tertunduk. "Aku harap begitu. Tapi sayangnya bukan..."

Kyungsoo menunggunya berbicara lagi, namun Jongin malah mengambil buku catatan kecil dari sakunya. "Ada yang ingin aku tunjukan padamu. Tapi sebelum itu aku akan bertanya padamu. Apa kau sudah bertemu lagi dengan si penghuni baru?"

"Ya" balasku singkat.

Jongin menghela nafasnya pelan, "Sedekat apa kalian?"

"D-dekat a..apa?" ulang Kyungsoo tergagap.

"Katakan saja kalian sudah sedekat apa." Tanya Jongin lagi dengan suara dalam, dia menakan suaranya agar tidak meninggi.

Kyungsoo mulai berpikir jawaban apa yang tepat untuk sepupunya ini. Haruskah dirinya mengatakan pertemuan dramatisnya hingga kencan pertama dirinya dengan Chanyeol.

"Sial. Aku kecolongan," umpat Jongin seakan bisa menebak semuannya.

"Dengar Jongin, dia orang baik. Aku berkenalan dengannya lalu dekat dan menjalin hubungan. Bukankah itu normal? Kau tak berhak marah begitu" ucap Kyungsoo membela dirinya.

Jongin membalasnya dengan menatap tajam. Kyungsoo bersumpah bocah ini memiliki aura yang tidak dimiliki anak-anak seusianya. Hanya dengan tatapannya saja, membuat kaki Kyungsoo entah sejak kapan mulai lemas. Tatapan penuh akan kekuasaan dan ketegasan.

"Normal? Katakan itu pada orang yang bercumbu mesra setelah sedetik berkenalan" balas Jongin sinis.

"B-bagai-mana kau bisa tau?" tanya Kyungsoo gelagapan seperti ketauan mencuri pakaian dalam istri raja. Kyungsoo yakin jika ia melakukan itu, besoknya aku sudah menjadi santapan harimau peliharaan raja. Mengerikan.

"Aku menunggumu di dekat halte hari itu. Aku sudah mencoba menelponmu beberapa kali" jelas Jongin jengkel.

"Kupikir kau menelepon untuk urusan lain. Kau juga tak bilang ingin menjemputku sebelumnya, jadi ku pikir – "

"Ya, aku memang tak berniat menjemputmu sebelumnya. Tapi tiba-tiba hari itu perasaanku tidak enak, aku takut terjadi apa-apa denganmu"

"Kau...kau sudah melihat semuannya, tapi kenapa kau masih bertanya apakah aku sudah bertemu lagi dan menanyakan kedekatanku dengannya. Kau mengujiku?" tanya Kyungsoo tak habis pikir sebenarnya apa mau Jongin.

"Maaf. Kupikir perkenalan kalian yang dramatis membuatmu berpikir ribuan kali menerimanya. Bahkan aku menduga ada adegan 'mari aku tampar', tapi dugaanku ternyata salah."

"Dia melakukannya karena dorongan hatinya, Jonginnn...kau harus tau itu" ucap Kyungsoo memberinya pengertian. "Kenapa kau sepertinya membencinya? Kenapa kau seperti orang yang cemburu? Kemarahanmu tak berdasar Jonginn!"

"Dia hanya mengkhawatirkanmu dan sisanya kurasa memang rasa cemburu," suara Paman Sam yang membawa teh pesanan. "Lebih baik cepat carikan dia jodoh, sepupumu ini sepertinya berniat akan menikahi kucingku, Molly... "

"Kucingmu.. Maksudku Molly saja yang terus mengikutiku, Paman!" kata Jongin membela diri.

"Molly hanya ingin menghiburmu, nak... Makanya ia terus mengikutimu."

"Tolong Paman, katakan pada Molly untuk berhenti mengikutiku dan tidur disisiku setiap malam. Dia kucing kecil yang mengerikan dan menggemaskan disaat bersamaan."

"Baik untuk alasan ini, sepertinya Molly yang keterlaluan. Aku akan memarahinya nanti. Lanjutkan obrolan kalian, aku ada di dapur jika butuh sesuatu." Paman Sam pamit kembali ke pekerjaannya.

Jongin beralih memandang Kyungsoo lagi. "Sampai dimana kita tadi? Ahh kemarahanku tak berdasar. Kau tau, Kyung? Kau dan si peng - "

"Chanyeol... Namanya Park Chanyeol, " potong Kyungsoo.

"Bahkan marganya pun sama. Tolong dengarkan aku sekali ini saja, mungkin ini sedikit gila.. Aku juga gila mampu mengingat ini semua. Walaupun beberapa bagian aku tak ingat. Intinya aku, kau, dan si penghuni baru sudah terikat secara takdir. Kita selalu terhubung di kehidupan sebelumnya dan kau selalu meregang nyawa karenanya... Yang sekarang kau panggil dengan nama Park Chanyeol.. Karena dia, kau selalu mati, Kyung!"

Jongin mengambil nafas pelan sebelum melanjutkan. "Aku sudah melihatmu berkali-kali mati di hadapanku, Kyung! Itu hal mengerikan yang pernah ku ingat. Untuk itulah aku begitu khawatir padamu!"

"Ini tidak lucu, Jongin" bentak Kyungsoo. "Jika kau hanya ingin menceritakan cerita konyol tentangku, lebih baik aku pergi." Kyungsoo berdiri dari tempat duduknya berniat pergi.

"Kembali ketempatmu, SELIRRR SOO-BIN !" seru Jongin membuat Kyungsoo berdiri mematung di tempatnya. Ia ingin pergi tapi ketika Jongin memanggil nama itu, dirinya merasa terpanggil dan patuh secara tak sadar.

Kyungsoo duduk di kursinya lagi dengan ekspresi bingung. Mata bulatnya semakin membulat, "S-selir?"

Jongin menimpali dengan suara lemah,"Ya, kau pernah jadi selir, tentara, dan sebagai pegawai biasa sebelum ini. Terserah kau percaya atau tidak. Aku hanya memperingatkanmu. Aku hanya mencoba peruntunganku menyelamatkanmu di kehidupan kali ini."

"Aku paham kau sedikit berbeda dari kami. Tapi bukan berarti bisa mempermainkan dengan bualanmu, Jongin. Bagaimana bisa kau mengingat semua di kehidupan lalu?"

"Aku juga tidak tau, Kyung! Aku pintar bukan karena aku belajar setiap hari, aku hanya mengulang apa yang telah ku pelajari dulu. Aku hafal semua cerita era kepemimpinan Raja Yi Jong, karena aku ada disana, Kyung!" ucap Jongin setengah frustasi.

Kyungsoo memegangi kepalanya yang mulai pening. Dirinya tak tau yang dikatakan Jongin apakah kebohongan atau memang benar-benar jujur. "Kalau pun yang kau ceritakan benar. Aku tidak peduli Chanyeol akan membawaku ke dalam cerita tragis, mati sekalipun. Aku yang mengatur hidupku, takdir hanya boleh mengikutiku tanpa mengusik hidupku. Jadi terimakasih dan tolong berhenti mengkhawatirkanku! "

"Baik.. Baik...Aku akan berhenti, jika itu mau mu. Aku hanya mau membuktikan cerita yang kuceritakan merupakan hal yang benar-benar terjadi di masa lampau."Jongin mengambil buku catatannya yang ia keluarkan dari sakunya tadi. Menuliskan sesuatu, lalu menyobeknya. Menaruhnya di meja lalu pergi dengan perasaan kecewa.

Kyungsoo mengambil sobekan kertas itu. Membacanya dengan dahi berkerut. Perpustakaan kota rak 8 nomor 1288. Selain sobekan kertas, ternyata di bawahnya ada sebuah foto lawas prajurit tentara yang berfoto tanpa membawa senjata dengan senyum mengembang di bibir mereka. Di baliknya ada tulisan, "Gwaenchanha nunmul heulliji malgo... "

"Darimana kau dapat foto itu?" Paman Sam tiba-tiba datang lagi mendekati Kyungsoo.

"Jongin," jawab Kyungsoo singkat.

Paman Sam mendesah pelan. "Aahh anak itu. Ngomong-ngomong yang pendek, alisnya tebal dan cukup tampan itu mirip denganmu. Bedanya dia laki-laki."

"Dia tidak bohong." guman Kyungsoo tanpa sadar.

.

.

TBC

.

.

Note:

Banyak yang minta MASK untuk tambah chapter agar endingnya lebih bagus dan ngga bikin bingung. Saya paham chapter terakhir yang saya buat agak ngegantung, saya hanya bisa bilang saya usahakan. Untuk cucu nenek do, agak susah membangun Kyungsoo kecil yang lucunya na'udzubillah ke versi remaja atau dewasa. Saya takut ntar ngga lucu lagi si baby Soo.

Saya mau move on dari MASK, tp karakter mereka selalu hinggap di otak saya. Saya mau membangun karakter baru mereka di cerita ini. Walaupun agak kurang berhasil. Huft.

Oke, intinya terima kasih mau membaca ocehan dan tulisan saya yang tidak jelas ini. Semoga yang sedang patah hati kek saya, cepet di beri kebahagiaan yang lain.