Sasuke sungguh tak mengerti dengan keadaan ini. Di hadapannya berdiri seorang wanita berambut merah muda, bermata hijau, dengan senyum yang merekah dari bibirnya, lalu wanita itu berkata, "Selamat pagi."
Ia terpaku. Otaknya sedang berusaha mencerna semua yang terjadi. Hingga sebuah suara yang ia kenal memanggilnya, "Oi, Sasuke! Kasihan anakmu dicuekin gitu."
Aa. Seolah tersadar, ia pun menundukkan kepalanya dan melihat seorang anak kecil nan mungil dan lucu menggemaskan sedang menarik-narik celana panjangnya seolah meminta perhatian.
Anak?
Anak Uchiha Sasuke?
MEMANGNYA KAPAN IA MENIKAH?!
.
.
.
.
.
.
.
Mimpi
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Special for Uchiha Sasuke
Happy Birthday ^^
.
.
.
.
.
.
.
"Ayaaah~" rengek bocah bermata hitam itu sambil menarik-narik celana laki-laki itu. Sasuke hanya terdiam. Sungguh, ia tak mengerti. Demi nama Fugaku dan Mikoto, usia Sasuke baru lima belas tahun. Ia bahkan belum mimpi basah. Oke. Lupakan masalah mimpi itu. Karena kini Sasuke sudah melupakan perihal mimpi itu.
"Ryuu, jangan begitu, Sayang." Wanita bernama Sakura itu pun mencoba melepaskan tangan mungil anaknya dari celana Sasuke. Mata anak itu berkaca-kaca. Bisa dipastikan sebentar lagi ia menangis. Sakura segera menggendong anaknya dan menatap Sasuke. Ia sendiri tak mengerti dengan sikap Sasuke yang terlihat bingung.
"Kau baik-baik saja, Sasuke-kun?" tanya Sakura sambil menempelkan tangannya ke dahi Sasuke. Laki-laki itu tersentak dan secara refleks mundur selangkah. Sakura mengernyit heran. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Jangan mendekat!" pinta Sasuke dingin. Kali ini Sakuralah yang terkejut. Sasuke tidak biasanya seperti ini. Kemarin pun masih baik-baik saja. Mereka masih bersikap seperti sepasang suami istri dan orang tua untuk Ryuu. Sikap Sasuke sangat hangat padanya. Sasuke sangat menyayangi buah hati mereka. Tapi pagi ini, sikap Sasuke berubah seratus delapan puluh derajat.
Sakura tidak mengerti.
Sakura tidak akan mengerti.
Benar-benar tidak mengerti.
"Arrrggghhh...!"
"SASUKE!"
.
.
.
.
.
.
.
Deg
Laki-laki itu membuka matanya. Bisa dirasakan keringat membanjiri tubuhnya. Napasnya terengah. Berulang kali ia harus menarik napas lalu menghembuskannya lagi demi menenangkan hatinya. Matanya melirik jam yang ada di meja samping ranjangnya.
Pukul 21.30
Itu artinya Sasuke baru memejamkan matanya selama lima belas menit. Dan selama lima belas menit itu ia seperti ditarik ke dalam dunia yang asing. Dunia yang begitu damai, menenangkan. Dunia baru yang membuatnya melihat ada seorang wanita dan seorang anak. Dunia yang berbeda dengan dunianya kini. Namun mengapa ia harus berkeringat? Mengapa dunia itu membuatnya frustasi dalam sekejap? Sasuke tak mengerti.
Ia mengambil segelas air minum, lalu meneguknya perlahan. Kemudian ia kembali memejamkan matanya. Dapat dirasakan hawa dingin menyusup melalui celah jendela kamarnya.
Kosong.
Semuanya gelap.
Perlahan ia membuka kembali matanya. Ia bermimpi. Mimpi. Ya. Uchiha Sasuke dapat kembali bermimpi. Mimpi yang membuat denyut jantungnya meningkat. Mimpi yang entah mengapa membuatnya merasakan firasat aneh. Ia tak tau. Tapi tubuhnya serasa gemetar.
Uchiha Sasuke, galau.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah lima tahun berlalu sejak kejadian itu. Sasuke sudah kembali hidup normal seperti biasanya. Tak ada satupun yang tau perihal mimpi aneh itu. Sasuke tak pernah menceritakannya pada siapapun. Ia menyimpannya sendiri. Kalaupun ada kejadian aneh yang tak terduga, itu semua tak ada hubungannya dengan mimpi itu. Setidaknya itulah yang Sasuke pikirkan dan ia tanamkan dalam otak jeniusnya.
Sudah lima tahun. Itu artinya ia sudah berada di Konoha selama kurang lebih empat tahun. Tidak terlalu banyak perubahan di dirinya. Hanya mungkin, ia sedikit lebih baik. Mungkin tidak secepat itu lukanya sembuh, tetapi Sasuke sudah berusaha untuk memaafkan dan mengikhlaskan semua yang terjadi. Dan Tuhan nampaknya sangat sayang padanya. Dapat dilihat bahwa kini ia diterima dengan sangat baik di Konoha. Hokage pun mempercayakan Kepolisian Konoha padanya. Lalu rekan setimnya di Taka diperbolehkan tinggal disana. Mereka bertiga tinggal serumah dengan Sasuke.
Usia Sasuke sudah dua puluh tahun. Itu artinya ia sudah melewati masa pubertas. Secara biologis, ia bisa dikatakan sudah dewasa. Meski sikapnya terkadang masih terkesan labil untuk lelaki seumurannya. Tetapi ia jauh lebih baik. Sikapnya kepada orang lain jauh lebih hangat. Jadi sudah pasti banyak para gadis yang mengincarnya. Jangankan para gadis, wanita sudah berumur yang belum menikah pun ikut mengincarnya. Dan hal itu membuat Sasuke tak habis pikir. Ia bahkan belum berniat untuk menikah. Memikirkan perempuan saja tidak.
Uchiha Sasuke masih ingin melajang.
.
.
.
.
.
.
Ada satu malam yang dilalui oleh Sasuke dan Suigetsu. Mereka berdua berada dalam kamar Sasuke. Tak ada niat terselubung dari Suigetsu. Ia hanya ingin mengunjungi rekan serumahnya itu. Pasalnya Sasuke jarang sekali pulang ke rumah. Entah ia pergi kemana. Suigetsu tak tau, demikianpun dengan Karin dan Juugo. Maka, malam itu Suigetsu dengan baik hati menemani mantan ketua Tim Taka tersebut.
"Jadi apa maumu?" tanya Sasuke datar. Suigetsu terkekeh. Sasuke pun tak mengubah ekspresinya.
"Bicaramu itu masih saja menyebalkan," jawab Suigetsu setengah tertawa. Sasuke tak peduli. Ia fokus pada laporan penyelidikan mengenai sebuah kasus perampokan di Konoha. Suigetsu menyaksikan mantan ketuanya itu dengan seksama. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Lalu tiba-tiba ia menyeringai.
"Hei, Sasuke!"
"Hn."
"Kau kenal Haruno Sakura?"
"Hn."
"Dia lumayan cantik, ya?"
Sasuke menghentikan kegiatannya. Ia menoleh pada Suigetsu dan mendapati lelaki itu tengah tersenyum yang entah mengapa terlihat mengerikan untuknya. Namun ia kembali tak mempedulikan lelaki itu. Matanya kembali fokus pada laporannya. Suigetsu tak kehabisan ide. Ia kembali bertanya pada Sasuke.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Sasuke."
"..."
"Aku pikir Sakura dan Naruto pacaran."
"..."
"Kau sudah tau itu belum?"
"Bukan urusanku."
"Hahaha. Mereka akan segera menikah."
"Lalu?"
"Memangnya kau tidak mau, eh? Bukankah Uchiha hanya tinggal kau saja?"
Sasuke terdiam cukup lama mendengar pertanyaan Suigetsu. Menikah? Jujur saja. Ia tak pernah memikirkan itu. Ia tak tau. Ia bahkan tak mengenal wanita dalam arti yang sesungguhnya. Ia tak pernah punya rasa yang dikatakan orang sebagai cinta. Ia tak pernah dekat dengan wanita, kecuali...
Haruno Sakura.
Dan ia kembali ingat pada mimpinya lima tahun silam. Mimpi yang terasa begitu nyata. Mimpi yang tak pernah ia mengerti maksudnya. Mimpi bahwa ia memiliki istri bernama Haruno Sakura.
"Aku tidak memikirkan itu," jawab Sasuke dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
"Hhhh... Aku jadi curiga," ujar Suigetsu sambil mendesah pelan. Sasuke menaikkan alisnya bingung. Ia memperhatikan gelagat rekannya itu.
"Jangan-jangan kau tidak normal."
"..."
"Jangan-jangan kau belum pernah mimpi basah."
"..."
"Jangan-jangan kau..."
"..."
"Gay?"
Sumpah demi apapun di dunia ini, Sasuke yang biasanya minim ekspresi mendadak berubah. Ia menatap horor wajah rekannya itu. Rahangnya mengeras. Amarahnya seperti sudah di ubun-ubun. Kalau bisa, ia ingin membunuh Suigetsu sekarang juga. Enak saja ia dianggap gay. Itu menjatuhkan harga dirinya sebagai pria sejati. Ia normal. Sangat sangat normal. Ia pun pernah...
"Aku sudah mengalaminya."
"Apa?"
"Mimpi basah."
Seketika itu juga tawa Suigetsu meledak. Dan Sasuke pun sudah siap dengan Sharingannya.
.
.
.
.
.
.
Kejadian malam itu tak pernah dilupakan oleh Suigetsu. Ia merasa menang. Dan ada satu hal yang tak pernah lepas dari pikirannya: Uchiha masih sangat polos. Bahkan Suigetsu tak pernah membayangkan bagaimana jika Sasuke menikah dan bagaimana malam pertama mereka. Mungkin Sasuke yang akan mundur. Atau ia malah bilang, "Jangan dekat-dekat."
Sungguh hiburan yang sangat menyenangkan, batin Suigetsu. Tetapi ada satu hal yang mengganjal di pikirannya. Siapa wanita yang masuk ke dalam mimpi Sasuke?
.
.
.
.
.
.
"Aku ingin bicara."
"Eh?"
Seorang Haruno Sakura dengan sangat terpaksa harus menuruti permintaan Uchiha bungsu itu. Bukan Sakura tidak mau ikut Sasuke ke rumahnya. Hanya saja ia masih ada pekerjaan. Namun Sasuke yang keras kepala memaksanya. Katanya ada yang penting. Memang sepenting apa? Lagipula, sikap Sasuke sangat aneh. Biasanya ia tak pernah mengajak Sakura seperti ini. Sikapnya pada gadis itu tak berubah. Masih dingin seperti dulu. Dan ini membuat Sakura bertanya-tanya. Memang apa salahnya? Ia sadar ia menyebalkan. Tapi itu bukan alasan untuk Sasuke bersikap dingin padanya. Toh ia menyebalkan pun demi Sasuke.
Mengingat itu semua membuat Sakura ingin meremas rambut kepala ayam milik Sasuke. Atau kalau mau sedikit lebih jahat, ia akan menghajar Sasuke habis-habisan. Tapi ia tak pernah tega. Dan tidak akan pernah melakukan itu.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Sakura memulai percakapan. Pasalnya, semenjak mereka tiba di depan kediaman Uchiha, Sasuke sama sekali tak bicara. Ia hanya berdiri terdiam sambil memandangi rumahnya. Sementara Sakura berada tepat di belakangnya.
"Tinggallah," jawab Sasuke tegas. Matanya yang tajam itu langsung berhadapan dengan mata hijau milik Sakura.
"Eh? Ma-maksudmu apa?" tanya Sakura tergagap. Jantungnya berpacu lebih cepat. Ia nyaris kehilangan kata-kata.
"Tinggallah di rumahku!" jawab Sasuke dengan nada yang terkesan memaksa. Sakura membulatkan matanya tak percaya. Tinggal di rumah Sasuke? Maksudnya apa tinggal dengan Sasuke? Mereka berdua tidak ada hubungan apa-apa. Bahkan Sasuke pun terlihat menjauh dari Sakura.
"Kita menikah."
Oh Tuhan, Haruno Sakura sangat tak percaya dengan pendengarannya kali ini. Bolehkah ia menampar dirinya sekarang? Ini pasti mimpi. Mimpi dan mimpi. Hanya mimpi.
"Ada apa denganmu, Sasuke-kun? Kenapa tiba-tiba begini?" tanya Sakura. Ia terlihat bingung dengan sikap Sasuke. Namun Sasuke malah berbalik menatap tajam dirinya.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu." Sorot mata Sasuke nampak begitu tajam.
"Ap―"
"Kenapa kau selalu menghantuiku?" potong Sasuke cepat. Tatapan matanya seakan mengintimidasi. Sakura membelalakkan matanya. Ia hendak berkata namun Sasuke kembali menyelanya.
"Kenapa kau selalu mengejarku? Apa maumu, Sakura? KATAKAN PADAKU APA MAUMU!" Sasuke bertanya serentet pertanyaan sambil mencengkeram bahu Sakura. Gadis itu sedikit meringis. Ia sama sekali tak mengerti maksud ucapan Sasuke. Selama Sasuke kembali, ia tak lagi mengejarnya. Gadis itu fokus pada rumah sakit. Ia bahkan hampir tak punya waktu untuk memikirkan Sasuke.
"Sasuke-kun, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," jawab Sakura sambil berusaha menyingkirkan tangan lelaki itu. Namun Sasuke malah semakin erat mencengkeramnya. Tatapan matanya menusuk dalam. Sakura terdiam. Entah kenapa ia begitu takut. Ini pertama kalinya Sasuke bersikap kasar padanya.
Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat. Sasuke berusaha mengendalikan emosinya yang entah mengapa bisa lepas seperti tadi. Sakura hanya menundukkan wajahnya. Matanya terasa panas sekarang. Sikap Sasuke menyakitkan hatinya lagi.
Tak ada yang memulai pembicaraan selama hampir setengah jam. Sasuke pun akhirnya melepaskan cengkeramnya. Ia pun ikut menundukkan wajahnya. Ia tak tau apa yang sebenarnya ada di pikirannya. Ia merasa sedikit frustasi.
"Sakura..." Sasuke mengangkat wajahnya. Menatap wajah sendu sang Haruno. Kedua mata berbeda warna itu saling bertatapan, saling berusaha membaca satu sama lain. Hingga akhirnya Sasuke memecah keheningan ini.
.
.
.
.
.
.
"Bisakah... Kau berhenti muncul di mimpiku?"
.
.
.
.
.
.
"Eh?"
.
.
.
.
.
.
Malam itu tak hentinya Sakura tersenyum. Wajah Sasuke yang terlihat polos dan jujur sangat manis. Akhirnya ia mengerti. Ia sepenuhnya mengerti bahwa lelaki itu juga menyayanginya. Pengakuan jujur Sasuke membuat hatinya menghangat. Mungkin Sasuke memang jodohnya. Karena sejauh apapun ia pergi, pada akhirnya tempatnya kembali hanyalah disini. Di hati wanitanya. Di kampung halamannya.
.
.
.
.
.
.
"Terima kasih."
.
.
.
.
.
.
The End
.
Alhamdulillah. Akhirnya saya bisa menyelesaikan fic ini. Karena jujur, saya gak nyangka responnya sangat baik. Dan jujur aja, sebenernya ini fic iseng doang. Ehehe :D
Semoga chapter terakhir ini memuaskan (walau saya ngerasa agak kurang memuaskan). Ehehehe
Dan Happy Birthday suami saya tercintah :DD #cipokSasu #digaplokSakura
Terima kasih untuk semua readers dan reviewers yang sudah membaca, mereview, memfave, dan mengalert fic saya. Terima kasih banyak semuanya. ^^
.
Special Thanks For:
Hikari Matsushita, vannychan, Biiancast Rodith, Uchiha Yui-chan, yumi, LeEdacHi aRdian Lau, kiro-aki, NavyDilla, Ifaharra sasusaku, sasa-hime, Kiki RyuEunTeuk, kHaLerie Hikari, desypramitha2, The Amor Goddess, Sakusasu 4ever, BlueSnowPinkIce, Saga desu, Guest, cheryxsasuke, Yukina Itou Sephiienna Kitami, Neko Darkblue, neela dragneel, Tsurugi De Lelouch, Himetsuka, Scarlet24, Ai Nekozawa Dark Angel, uchiharuno susi, miss chery24, mako-chan, Rosachi-hime, Luci Kuroshiro, iya baka-san, Always sasusaku, eL-yuMiichann, Fany-san, MuFylin, poo, aktika-chan, creoposkya, Andromeda no Rei, Brown Cinnamon, sherlock holmes, Merrya Narcissa Bellatrix, Rie saka, Natsuyakiko32, Natsumo Kagerou, milkyways99, hanazono yuri, Guest (Erica Christy), Lyn kuromuno.
.
Maaf bila ada kesalahan nama dan maaf jika namanya ga ada. Soalnya ane copas dari kotak review ane. Hehehehe
Dan maaf bila ceritanya tidak memuaskan. Tapi sekali lagi terima kasih. :)
