Biasanya, perasaan hampa akan selalu menyapanya sesaat setelah dia terbangun dari alam mimpi—atau haruskah dia sebut sebagai flashback?

Orang berkata, jika kau selalu memikirkan sesuatu, sesuatu itu akan terbawa dalam alam tidur, menjadi bunga dalam tidurmu. Mereka berkata, bahwa seseorang atau sesuatu yang terlintas dalam benakmu sesaat sebelum kau memejamkan mata, akan hadir dalam mimpimu.

Namun Sasuke tidak beranggapan demikian. Bertahun-tahun, dirinya hanya akan mendapatkan visi yang sama. Entah itu kejadian yang telah terjadi di masa lalu, ataupun tidak sama sekali; hanya kegelapan.

.

.

.

Metanoia ©︎ Haruna Yumesaki
Naruto ©︎ Masashi Kishimoto
Rated T
Sequel of 'Unexpected Love'
「うちはサスケ x 日向ヒナタ」
「"Nephent"; something that can make you forget pain, grief or suffering.」

.

.

.

Belum lama memang keduanya mengenal satu sama lain sedalam Naruto mengenalnya. Mau berapa kalipun Sasuke menyangkal, Naruto memang teman baiknya. Ah, lagipula, Sasuke sudah mulai mencoba untuk menerima eksistensi orang-orang di hidupnya.

Naruto dan Sakura, misal. Atau Guru Kakashi.

Naruto memang bodoh. Sangat bodoh, idiot, kekanakan—banyak kata tidak baik yang bisa Sasuke gunakan untuk mendeskripsikan si kuning jabrik. Meskipun begitu, Naruto adalah ninja yang kuat. Penuh tekad, tidak pantang menyerah. Dia keras kepala, dan sifat satunya itu yang membuat Sasuke berhenti mendorong Naruto menjauh dari kehidupannya. Karena percuma saja, orang bodoh dan keras kepala sepertinya tidak akan pernah mendengarkan.

Sakura adalah gadis yang baik. Dia cantik, Sasuke mengakuinya, dan jangan lupakan kepintarannya. Sakura bukanlah kunoichi biasa, dia berada di bawah pengawasan Tsunade, mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi salah satu Ninja Medis terhebat.

Guru Kakashi... Sasuke menghormatinya. Memang, sang Guru selalu terlihat ogah-ogahan dengan buku kecil bertuliskan 'Icha-Icha' sambil bersandar di pohon saat dia seharusnya mengawasi anak didiknya berlatih. Bahkan terkadang gurunya yang satu itu absen, entahlah, Sasuke tidak mau tahu. Tapi Sasuke tetap menghormatinya.

Beberapa bulan terakhir, Sasuke merasa pertahanannya mulai melemah, hanya terjadi tiap kali dia berada di dekat seseorang— bahkan dengan hanya melihatnya dari ujung matanya, Sasuke merasa— tergerak.

Diam-diam Sasuke mendecak, kesal, merasa bodoh.

"Siapa sangka ternyata gadis pendiam itu yang membuatku seperti ini."

Nephente —

"Sasuke-kun?"

"Hm?"

Suara lembut dari sang gadis bersurai gelap itu membuat Sasuke mengarahkan atensinya pada sumber suara, beralih dari buku yang sedari tadi dia baca.

Keduanya sedang berada di kediaman Sasuke— atas kemauan si pemuda sendiri. Dia tidak ingin berada di tengah-tengah keramaian, dan satu cara agar mereka bisa berdua tanpa mengkhawatirkan orang-orang tidak penting yang berlalu lalang adalah, di kediaman Sasuke.

Hinata sempat menolak, namun Sasuke jelas tidak memberikan banyak pilihan.

Walaupun gugup setengah mati, Hinata sebenarnya senang bisa menghabiskan waktu dengan Sasuke. Ia tidak akan berbohong, Hinata ingin mengetahui lebih banyak tentang sang pemuda, dia ingin bisa mengerti Sasuke. Maka dari itu, rasa gugupnya dia lawan, siapa tahu kesempatan ini hanya datang satu kali.

"Hinata?"

Nampaknya Hinata tenggelam dalam pikirannya sendiri, dia sampai lupa tadi memanggil Sasuke. Bahkan sampai si pemuda dingin rela menyimpan buku yang dibacanya di meja.

"H-Ha'i?"

Kedua onyx tersebut terpaku pada sosok gadis mungil yang manis, tepat pada lavender lembut milik Hinata. Membuat sang gadis salah tingkah mengetahui Sasuke telah memperhatikannya sedari tadi.

"A-ah, gomen... Aku hanya..."

Hinata tidak yakin apakah dia harus mengungkit persoalan kemarin, karena dia tahu Sasuke tidak ambil pusing dengan hal tersebut, dan moodnya bisa cenderung berubah bila ditanya hal yang sama terus menerus.

Di sisi lain, Hinata merasa bersalah dan dia tidak akan bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Sesaat sebuah bayangan Sakura yang melihatnya dengan kecewa melesat dalam pikirannya, membuatnya memejamkan matanya, dan menggelengkan kepalanya mencoba untuk menghapus gambaran tersebut dari pikirannya.

Tidak sampai beberapa detik kemudian, kedua matanya kembali terbuka, memperlihatkan manik lavender indah yang malu-malu bertemu dengan onyx yang biasanya dingin itu, tengah melembut. Jemari panjang Sasuke berada di antara helaian surai indigo selembut sutra milik si gadis, menyelipkan helaian yang menutupi frame wajah bulat Hinata ke belakang telinganya. Agar Sasuke bisa melihat wajah sang gadis lebih jelas.

"Kau terlalu memikirkannya." Suara berat Sasuke terdengar lebih halus di telinga Hinata.

Seolah cenayang, dari perkataan yang terlontar, Sasuke sepertinya mengetahui apa yang tengah Hinata pikirkan. Apa dirinya begitu mudah di baca?

"Aku... merasa bersalah..."

"Jangan."

Sebelum Hinata bisa mengatakan apapun lagi, Sasuke segera memotong perkataannya. Apa yang dilakukan olehnya membuat jantung Hinata berdegup kencang tak karuan.

Sasuke menarik Hinata kedalam dekapannya, lengannya melingkari tubuh mungil sang Putri Hyuuga, menahannya di tempat. Dia menundukkan kepalanya, bersandar di bahu gadisnya, mencium aroma lavender yang belakangan ini membuatnya tergila-gila.

Sementara Hinata, masih dalam tahap recover dari keterkejutannya. Namun tak lama kemudian, tubuhnya rileks, membiarkan dirinya ikut terlena dalam dekapan hangat dan nyaman Sasuke. Ia turut membalas melingkarkan lengannya pada si pemuda Uchiha.

Untuk beberapa saat, tak ada suara yang terdengar. Keduanya bungkam, menikmati keheningan yang nyaman dalam pelukan kasih yang terbagi. Sasuke tidak ingin melepaskan dekapannya. Kehangatan yang menjalar di dadanya memang sangat asing, pun dengan jantungnya yang kini berpacu. Namun entah mengapa, rasanya semua ini... sangat nyata.

"Sasuke-kun.."

"Untuk sekali," Sasuke lagi-lagi memotong sebelum Hinata berkata apapun. "Cobalah untuk membiarkan dirimu bahagia."

Hati Hinata terasa sakit. Ucapannya memang benar. Hinata terlalu memikirkan hal ini.

Dulu, kebahagiannya adalah pemuda bersurai pirang dengan senyum lebar yang bisa mencerahkan hari monoton Hinata.

"Apa kau tidak bahagia disini bersamaku?"

Tidak. Itu tidak benar, Hinata berkata dalam hati.

"Untuk sesaat, aku merasa dadaku merasa sesak." Hinata menggumam pelan, sedikit mengeratkan pelukannya pada Sasuke.

Si pemuda Uchiha pun menutup mulutnya, dia akan membiarkan Hinata menyelesaikan perkataannya kali ini.

"Aku senang, Sasuke-kun."

"Senang sampai membuat dadamu sesak?"

Kekehan kecil lolos dari bibir sang gadis. "Aku senang... Untuk pertama kalinya, seseorang ingin aku bahagia."

"Bodoh."

Gadis sepertimu tidak pantas menderita. Kau sangat suci, namun yang kau rasakan hanya rasa sakit dari seorang pemuda yang bahkan tidak menyadari telah menyakitimu.

"Aku bahagia, Sasuke-kun."

"Hm?"

"Seperti ini bersamamu..."

Hangat.

Rasanya seperti, kehangatan ini bisa menambal lubang di hati dingin Sasuke.

"Baguslah."

Karena bersama dengan Sasuke, Hinata merasa dirinya memang dibutuhkan. Dicintai.

Rasa sakit yang dirasakannya akibat cinta yang bertepuk sebelah tangan kini memudar.

Sasuke benar-benar membuktikan perkataannya saat itu.

Denganku, melupakan Naruto akan menjadi lebih mudah.

Nephente —

Sasuke dan Hinata menghabiskan waktu bersama sampai matahari tenggelam, tergantikan oleh langit malam yang indah.

Bisa menyantap masakan Hinata sebagai makan siang dan makan malam dalam satu hari. Sasuke seolah memakan masakan homemade dari restoran bintang lima.

"Hinata."

"Um?"

"Aku ingin terus menyantap makanan buatanmu."

Mengerjap, Hinata menyimpan mangkuk sup misonya di meja makan, "Aku bisa membuatkanmu bento―"

"Dan memakannya bersama."

Hinata tidak cukup yakin jika dia bisa terus bolak-balik dari kediaman Hyuuga ke kediaman Uchiha tiap malam untuk mengantar makan malam. Hiashi dan Neji akan sangat curiga.

"M-Mungkin lain kali Sasuke-kun.. bisa makan malam di rumahku?"

Ide yang buruk, memang. Mengingat Hiashi dan Neji adalah pria yang bisa dibilang over-protective terhadap Hinata. Bahkan Hanabi pun sama saja seperti Hiashi dan Neji, tentu saja Hanabi lebih suportif... Hanya saja, dia senang memberi ancaman yang tidak kalah menakutkannya dari Neji.

". . .Bersama dengan Ayahmu dan Neji?"

Terakhir kali Sasuke menginjakkan kakinya di kediaman Hyuuga, dia malah di ajak untuk sparring dengan Neji, dan Hinata malah dibawa pergi oleh Hanabi.

Hinata menggigit bibir bawahnya gugup, merasa bersalah mengingat Neji kerap mencoba untuk menjauhkan Sasuke dari Hinata tiap kali Sasuke berkunjung.

"Baiklah. Tidak buruk untuk mencoba."

Sebuah senyuman merekah di wajah cantik si gadis, membuat Sasuke cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan melanjutkan ritual makan malamnya.

Percakapan mereka berlanjut, walaupun Hinata yang mendominasi, karena Sasuke akan membalas dengan gumaman dan komentar tiap kali Hinata selesai berbicara.

Sasuke sama sekali tidak menyesali hari ini.

Kekosongan itu hilang. Hinata membuat hidupnya tak lagi hampa.

Rasa sakit itu hilang, Sasuke berhasil membuat Hinata perlahan melupakan sumber patah hatinya.

Ya, Sasuke tidak menyesali apapun.


つずく —


Halo...?

Akhirnya fanfic ini apdet juga. :'D

Apa kabar? Iya, readers-tachi boleh menimpuk saya sepuasnya kok. Ini melebihi janji saya untuk apdet, luamaa banget saya hilangnya kan?

Kira-kira masih ada yang mau baca, gak, ya? Haduh. Mana tulisan saya jadi acak-acakan begini pula. Ini saya nulis apa sih? Kok rasanya nggak nyambung ya :'D

Untuk yang masih bersedia membaca, saya benar-benar butuh ide dan pencerahan T T

Oh iya. Jikalau saya membuat NaruHinaSasu, kalian bersedia untuk membaca? Saya bener-bener kesemsem sama NaruHina. (Habis cari doujin kyut NaruHina di pinterest, saya kelepek kelepek tolong). Karena saya pernah membuat SasuHina, GaaHina... Saya jadi ingin buat yang NaruHina juga. Aduh, gitu deh, pokoknya. Saya lagi kesemsem.

Big thanks to Lin Xiao Li, sasuhina 69, clareon, caaries laventa (kalaupun ada yang negatif, Saskey sih nggak mikirin. Yang penting dia bahagia dengan Hinata XD Maaf ini masih pendek juga TT), Yulia, Dita250, NurmalaPrieska, pengagumlavender26 (Wah, pertanyaan jackpot nih. Kayaknya Naruto sendiri belum punya jawaban konkret tuh heheh), Himouto-da, Damai, myzmandraa99, kurooo.

Untuk yang penasaran dengan reaksi Sakura... Muehe, saya sudah ada planning untuk chapter selanjutnya. Next chapter sepertinya akan ada sedikit kebimbangan hati nih x3

Yosh, terimakasih untuk para readers yang masih setia menunggu. Maaf saya selalu lama apdetnya T T Kehidupan kelas 12 itu menyiksa, coy. Hadeh. Moga cepat lulus, deh, biar bisa bebas lagi T T

See you in the next chapter!