Author Note: Oh yeah! Akhirnya saya kembali menuju perkarangan saya. Setelah saya mendapat rangking satu, laptop disita, dapet THR, Minal aidin wa waidzin-an, balik kesekolah, guru tega kasih pr, tu―#plaakk!
Oke daripada kumat cerewetnya, silakan baca~
Disclaimer: Katekyo Hitman Reborn punya Amano Akira. Jadi yah, saya hanya mampu mengklaim fanfic yang selalu membuat saya harus bayar biaya internet XD
Don't like? Don't REEEEAAAADDDD!
Chapter 2. Ten Years Later
―Possible, the truth always make a hurt in your heart
―Me to my friend
Jemari Nana menyentuh pelan bingkai foto yang telah termakan usia. Foto keluarga berserta sahabat putranya di taman Namimori. Tulisan di pojok kanan bawah seolah – olah menjadi janjinya sampai mati.
'Aku akan melindungi keluargaku dan sahabatku!'
Tulisan yang di tulis dengan spidol hitam, Nana hanya bisa tersenyum. Seharusnya ia merawat foto ini, agar tidak rusak―sesuai apa yang dilakukan anaknya. Tapi, semua orang yang mendapatkan salinan foto itu malah merobeknya di hadapan Tsuna.
Satu – satunya foto tersisa hanyalah di kamar Tsuna.
Meski satu rumah, sudah sepuluh tahun Nana sama sekali tidak menyentuh kamar Tsuna. Butuh tiga hari lamanya Nana harus membersihkan debu tersebar dimana – mana, sarang laba – laba menghiasi sudut – sudut dinding, dan beberapa sampah yang belum sempat dibuang sepuluh tahun yang lalu.
Tapi Nana jauh lebih mengharapkan kalau ruangan itu berantakan, seperti khas anaknya. Ketika dibuka, kamarnya rapi. Seolah – olah mengatakan kalau Tsuna akan pergi selamanya.
8 Desember 2014, tiga hari setelah kejadian sepuluh tahun yang lalu.
Saat membuka laci, Nana tersenyum pahit. Bungkus beberapa obat terlarang dan beberapa botol minuman keras tersebar di dalam laci. Disitu juga ada dua botol obat tidur dan beberapa pisau yang masih ada bekas darah Tsuna
Ah ya, dua minggu setelah kejadian itu Tsuna mengalami depresi berat. Pemuda berambut coklat itu menjadikan semua obat – obat terlarang untuk perlariannya. Tsuna membenci minuman keras, tapi dia meminumnya dengan dosis tinggi. Jauh lebih buruk ketimbang Iemitsu yang hampir setiap pulang selalu mabuk.
Tsuna juga mencoba bunuh diri sebanyak duapuluh kali selama satu bulan. Sebagai orang tua, Nana sama sekali tidak mengizinkan Tsuna mati. Karena kejadian itu, Nana malah membuatnya menderita dengan menggurungnya di kamar. Lalu semuanya, memutuskan umtuk memenjarakan Tsuna, untuk merasakan penderitaan seumur hidup.
Ironisnya, tidak ada satupun yang mengulurkan tangan untuknya. Tidak ada yang peduli dengan orang yang telah menyelamatkan hidup mereka berkali – kali, sampai hampir mengorbankan nyawanya berkali – kali.
Tes...
"Ts-tsu-kun..."
Cairan bening mulai membasahi pipi Nana, lalu jatuh ke lantai kamar Tsuna. Untuk pertama kalinya ia gagal sebagai seorang ibu. Seorang ibu yang seharusnya selalu ada untuk anaknya selama ia ketakutan di kelamnya dunia. Seharusnya dia membantunya. Tidak ada seorang ibu yang tega meninggalkan anaknya.
Membutuhkan sepuluh tahun Nana dan lainnya menyadari kesalahan terbesarnya. Seadainya saja mereka jauh lebih cepat menyadari kesalahpahaman. Pasti sekarang Tsuna masih disini. Tsuna tidak perlu menderita di penjara. Tsuna tidak perlu menggunakan obat terlarang. Pasti Tsuna akan menyambut mereka dengan senyuman hangatnya yang tulus.
Sekarang Nana sama sekali tidak yakin.
Ketakutan menjalar keseluruh tubuhnya yang mulai rentan karena faktor usia. Nana takut, apakah Tsuna masih hidup? Atau dia sekarat? Tapi yang jelas, anaknya pasti mengalami luka hati yang paling sakit diantara mereka.
Bahkan sekarang mereka belum sanggup mengeluarkan Tsuna dari penjara. Terlalu takut apa yang akan Tsuna lakukan untuk melampiaskan penderitaannya selama ini. Takut saat mereka membebaskanya, Tsuna telah tiada. Terlalu takut untuk meminta kata maaf padanya.
Jika bertemu dengan Tsuna, apakah Tsuna masih akan menatap dirinya seperti biasa? Memberikankah senyuman hangat yang menjadi kebiasaannya yang selalu membuatnya tenang. Mungkinkah dia akan tertawa yang membuatnya merasa paling bahagia di muka bumi ini.
Apakah Tsuna mau menerima dirinya? Seorang ibu yang menolak kehadiran anaknya selama sepuluh tahun.
"Ts-tsu-kun... k-kumohon, ma-maafkan ib-ibu..."
Kata maaf itu, seandainya saja Nana bisa menyampaikannya secara langsung ke anaknya, Sawada Tsunayoshi.
―Believe―
5 Desember 2004, Sawada Tsunayoshi membunuh tiga orang dan melukai dua orang kerabat Vongola. Hukuman yang dijatuhkan berupa kurungan di penjara air seumur hidup.
Hampir lima belas kali Gokudera Hayato, mantan tangan kanan Tsunayoshi, membaca dokumen kasus Tsuna sepuluh tahun yang lalu. Tidak ada kejanggalan dalam penulisan, fakta dan beberapa bukti tercantum di lembaran deskripsi kasus itu. Malah ini sudah seharusnya menjadi kasus yang sudah dipecahkan secara akurat.
Tapi kenapa kebenaran justru terbalik?
Tiga hari yang lalu, bertepatan tanggal 5 Desember 2014, Kawahira menceritakan kebanaran sesungguhnya dibalik kasus sepuluh tahun yang lalu. Sekaligus menjelaskan kenapa beberapa rahasia Vongola terbongkar di mata famiglia musuh.
Kenyataan, korban kejahatan Tsuna adalah seorang penghianat Vongola.
Gokudera kembali menghisap rokok kesayangnya itu. Sepertinya dia ingin mengajak Yamamoto atau Ryouhei minum – minum di pub malam. Kepalanya benar – benar pening, Gokudera benar – benar butuh istirahat optimal.
"Gokudera, bolehkah aku masuk?"
Suara Yamamoto Takeshi, rekan kerjanya. "Ya," sahut Gokudera.
Pria berambut hitam itu membuka pintunya. Dari kemejanya saja, Gokudera sudah tahu apa yang ia lakukan tadi. Berlatih pedang sampai – sampai keringat membasahi kemeja mahalnya.
Mata Gokudera menyipit, "Ada apa kau kesini? Malam – malam begini juga kenapa kau latihan?"
"Maa, maa, aku hanya ingin berlatih saja. Kau―"
"Menyelidiki kasus sepuluh tahun yang lalu." Gokudera menghembuskan asap rokoknya sembari memegang kepalanya. "A-ku sama sekali tidak menyangka hal ini..."
"Yah," Yamamoto menunduk. "Aku juga sama sekali tidak menyadari, kalau Tsuna melindungi kita sebenarnya."
Yamamoto duduk di sofa kamar Gokudera, kebenaran masa lalu benar – benar membuatnya sama sekali tidak menyangka. Lima orang korban Tsuna itu adalah orang jahat―bermaksud menghancurkan Vongola dan mengambil tri-ni-sette.
Tapi mereka jauh lebih percaya dengan mereka ketimbang Tsuna. Mereka telah membuat Tsuna depresi dan berakhir di penjara Vendicare dengan kondisi benar – benar buruk.
"Sebelum masuk Vendicare, Jyuudaime menggunakan beberapa obat terlarang dan minuman keras dosis tinggi." Ah, sudah lama sekali, Gokudera tidak memanggil Tsuna dengan julukan Jyuudaime. "Kudengar sekarang Jyuudaime sedang sekarat."
"Apakah sudah dibebaskan?"
Gokudera menggeleng.
Pada akhirnya, mereka hanya mementingkan diri sendiri.
―Believe―
Kebenaran selalu menyakitkan.
Reborn hanya terdiam di balik topi fedora khasnya. Satu gelas vodka pesannya sudah hampir tiga jam menganggur di depannya. Dibandingkan menikmati alkohol, lebih menyenangkan kalau melihat germelap bintang bertebar di langit gelap Palmero.
"Hik, Rebooornn, ke-hik-kenapa kau tidak hik-minum."
Pandangan Reborn teralih. Iemitsu, teman minumnya kali ini benar – benar mabuk. Tiga botol sake kesukaannya yang ia beli di bar ini sudah habis.
"Kau mabuk," komentar Reborn sembari menegak vodka. "Sudah sepuluh tahun, akhirnya kebenaran sesungguhnya terucap..."
Iemitsu menunduk, tidak bisa berkomentar. Realitas yang selama ini ia pegang teguh sepuluh tahun yang lalu akhirnya menunjukan wajahnya sesungguhnya.
"Kalau dipikir – pikir, kitalah yang paling layak disebut pembunuh ketimbang Tsuna..."
"Ya," Iemistu kembali menegak sake, botol keempat. Ah, betapa enaknya sake disaat begini. "Aku seharusnya melihat diriku sendiri sebelum membentak Tsu-kun dan mengurungnya."
"Tadi aku mendapat telepon dari Mama. Ia menemukan beberapa obat tidur dan pisau bekasnya." Reborn terdiam sejenak, menenangkan dirinya. "Dia meminum alkohol dosis tinggi dan beberapa varian narkotika penenang."
"Ha, ayah macam apa aku ini..."
Hening sejenak.
Iemitsu menyadarkan dirinya ke sofa merah bar. "Kira – kira, apakah Tsu-kun akan memaafkan dosa – dosa kita?"
"Entahlah," jawab Reborn tanpa mengalihkan pandangannya. "Sebagai manusia, Tsuna juga pasti memiliki dendam."
―Believe―
Satu – satunya yang masih 'waras' disini hanyalah Vongola Primo, Giotto del Vongola.
Sepuluh tahun yang lalu tempat ini indah, malah jauh lebih indah ketimbang tempat – tempat yang pernah ia temui. Ribuan bunga dan hewan bertebaran di mana – mana. Suasananya selalu cerah jika siang, lalu kalau malam cocok untuk suasana romantis bagi sepasang suami istri yang baru menikah. Yang paling mencolok disini adalah pohon besar di bukit kecil, tempat tinggal berbagai hewan.
Tapi itu sekarang hanyalah omong kosong. Langit selalu mendung. Banyak bunga layu dan bangaki hewan tersebar dimana – mana. Tanah yang dulu sangat subur dan penuh dengan rumput, sekarang hanyalah tanah yang retak yang suatu saat akan longsor. Pohon besar itu sekarang hanyalah pohon mati yang dipenuhi gagak hitam, mempersuram kondisi disini.
Disinilah alam bawah sadar Vongola Decimo, Sawada Tsunayoshi.
Tsuna selalu duduk di balik pohon besar itu. Matanya selalu sembab, dan wajahnya sama sekali tidak menyiratkan semangat hidup. Tubuhnya mungil dan kurus, belum lagi seluruh kulitnya pucat pasi, menyiratkan betapa tragisnya dirinya.
"Decimo..."
Tidak ada suara.
"Ayo kita pergi dari sini. Kau hanya memperburuk dirimu disini."
"Tidak apa – apa..." suara yang parau itu hanya membuat Giotto terdiam. "Aku jauh lebih suka disini. Orang sepertiku pantas disini."
Duduk dihadapan Decimo, Giotto hanya mengelus rambut coklatnya yang kini sudah tak terurus. "Itu hanya kesalahpahaman, mereka sekarang sedang mencoba untuk membebaskanmu."
"Itu tidak akan pernah. Mereka hanya mengharapkan aku mati."
"Decimo, tenanglah. Jangan biarkan dirimu putus asa."
Mata Tsuna yang sama sekali tidak memiliki cahaya semangat hidup menatap mata biru Giotto. "Aku... hanya ingin lenyap, Primo."
"Decimo..."
"Kumohon, bisakah kau berhenti melarangku untuk lenyap. Berhenti memberiku sky flame yang membuatku sulit untuk mati!"
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu."
"Lalu sekarang apa yang kau tunggu!" seru Tsuna. "Mereka ingin aku lenyap! Jika aku lenyap semuanya akan baik – baik saja! Aku benci hi―!"
"Maafkan aku Decimo..."
Sebelum tubuh Tsuna mencium tanah, Giotto langsung menangkapnya dengan tangannya. Satu – satunya yang kini ia bisa lakukan hanyalah ini, membuatnya dia tertidur dan melindunginya dengan sky flame miliknya.
Tapi, sebagai mahluk tidak sempurna, Giotto juga memiliki batasnya. Sky flame kini makin surut, jika tidak ada satupun orang yang memegang cincin sky Vongola. Intinya sekarang Tsuna benar – benar diambang kematian.
Sekarang apa sih yang dipikirkan oleh Vongola? Apakah mereka tetap membiarkan Tsuna dalam kondisi ini? Giotto tidak bisa membiarkan keturunannya meninggal dengan tragis disini.
"Dia masih depresi?"
Giotto―yang mengendong tubuh Tsuna―berbalik, melihat Kawahira yang berjalan kearahnya. Pria pirang itu mengangguk pelan sembari memperhatikan tubuh mungil Tsuna. Lama kelamaan tubuh ini makin ringan dan transparan. Ini menandakan bahwa Tsuna akan meninggal karena faktor tubuhnya yang sekarat.
"Bagaimana dengan kondisi Vongola?"
Mata Kawahira beralih, ingin menyembunyikan jawabannya. Tapi intens mata Giotto yang kian menaik membuat Kawahira harus menjawabnya. "Vongola masih belum berani untuk membebaskannya."
Giotto tersentak. "Belum?! Apa yang mereka pikirkan?!"
Kawahira menggeleng. Meski dia menjaga tri-ni-sette selama sepuluh generasi, tapi dia tetap tidak bisa membaca pikiran seseorang.
"Sial! Apakah mereka tidak sadar betul dengan kondisi anak ini?!"
"Giotto-kun, sebaiknya kau tidak marah – marah disini atau kau mungkin menghancurkan satu – satunya harapan hidup yang tersisa di Tsuna."
"Ah, maaf..."
Giotto melirik sebuah bunga di sampingnya. Bunga lily putih yang masih mekar dengan indah. Lily itu tersimpan satu harapan Tsuna yang masih Tsuna lindungi dengan sky flame. Giotto juga membantu melindungi bunga itu, tapi sebenarnya dia sama sekali tidak ingin melindunginya. Malah dia ingin menghancurkannya.
Hanya saja, jika bunga lily putih ini hancur―berarti kematian Tsuna.
Warna putih adalah melambangkan hal yang tulus, tapi kenapa mesti bunga lily putih ini yang bertahan. Kenapa tidak pohon besar yang biasa Tsuna gunakan sebaga tempat tidur.
Bunga lily, berarti kematian. Jika arti bunga lily putih digabungkan, maka memiliki arti, kematian untuk sebuah harapan yang tulus.
Tsuna rela mati demi keluarganya yang tercinta.
Giotto mengeratkan gendongannya. "Bagaimana kondisi musuh?"
"Obat yang mereka berhasil suntikan ke Tsuna mulai berkerja. Aku tidak tahu rencana mereka, tapi untuk sementara tubuh Tsuna sekarat karena black flame milik Bermuda dan Vongola," jelas Kawahira.
"Itu berarti obat itu belum memberi efek."
Kawahira mengangguk. "Untuk sementara, hanya kita dan Sepphira yang tahu tentang kondisi Tsuna sesungguhnya." Diam sejenak, Kawahira menarik nafasnya. "Apa yang kau lakukan dengan Tsuna? Aku yakin kau tidak akan mudah menyerahkan mudah Tsuna pada Vongola."
"Ya," jawab Giotto pelan. "Aku akan membuat pelajaran kepada semua keluarga Tsuna."
"Pelajaran? Jadi kau memihak musuh?"
Giotto menggeleng. "Musuh kali ini adalah urusan generasi tri-ni-sette pertama. Aku tidak ingin melibatkan keluarga Tsuna." sahut Giotto.
"Tapi mereka ingin melibat Tsuna dalam urusan ini. Kau akan melakukan apa untuk melindungi Tsuna?"
Hening sejenak.
"Aku akan membuat mereka merasakan penderitaan Tsuna yang ia alami."
―To be Contiued―
Akhirnya selesai juga! Ah... sudah lama sekali enggak update~ keasyikan baca komik KHR yang sudah diterbit-kan.
Then, Gomene pendek, awal – awal menulis aku biasanya pendek sih, moga-moga nanti makin banyak nulisnya, doain aja XP
Balas repiuw:
OzLen: Enggak kok, ini sudah diupdate. Aku bakal kasih tahunya secara flashback, jadi biar terkesan dramatis, thank you
.79. wah terima kasih! Kau boleh panggil aku Aihara, aku panggil Lina-chan ya~ Nah, disini mulai pengen diselamatin, tapi Tsuna-nya sudah terlalu depresi, thank you!
Hikari Vongola. Akan dijelaskan secara rinci dengan flashback, ikutin kisahnya XD! Arigato!
Kisasa Kaguya. Hehehe, kepo ya...#plak! Tenang nanti dijelaskan secara flashback, ini Cuma prolog dimasa depan
Armelle Aquamar Eira. Sudah diupdate, pertanyaan Ar-san akan kejawab secara flashback, ini Cuma prolog TYL. Aku santai, tenang saja~ Grazie
ShizukiAkiraTriana. Yeee... padahal udah baca lanjutannya~ :P, Tri-chan, nulis FF dong
Dark dhonih. Ah, baru kemarin baca sekarang sudah update, anda beruntung sekali~ Thank You!
Almighty X. Ah, jangan~ sam aku saja! Hahahahaha *uhuk, uhuk*Kalau itu akan diperjelas secara aktual setajam silet *korban iklan~* Grazie
Oke, aku punya banyak deathline, jadi aku tergantung banyak review kalau update. Jadi kalau kalian ingin FF-ku cepet diupdate, PM/review~
Okeee... selain Believe, kalian pilih update disini ya~
Mafia TV: Road to Stars (Kali ini Mafia TV-nya sesuai dengan peraturan FFn)
Today, In Namimori High School (Aku sudah dapet materi banyak disini!)
―Ditunggu kritik sarannya! Yang penting review! XDDD
See ya,
Aihara
P.S: Review or Delete! XD
