Mereka bertemu di bar Lupin malam itu. Suatu malam yang dingin di penghujung bulan Februari, waktu yang begitu dekat dengan awal musim semi, tapi entah kenapa udara dingin masih arogan menyapa.

Chuuya sedang menganggur hari itu –entah karena Bos Mori sudah kehabisan pekerjaan yang dapat diberikan untuk menyiksanya atau mungkin bos aneh itu memang lalai karena tengah sibuk bersama Elise kesayangannya– dan ia jelas-jelas tidak ingin menyia-nyiakan hal yang amat jarang ia dapatkan ini. Ada cukup banyak cara untuk menghabiskan satu hari libur itu yang terpikirkan di kepalanya (yang dapat dibilang cukup mengejutkan, mengingat masih ada ruang untuk hal sepele seperti itu di antara begitu banyak hal rumit berlabelkan pekerjaan mafia yang tersimpan di kepala si eksekutif tinggi itu). Ia bisa saja memanfaatkan lima belas jam waktu kosongnya untuk membayar utang tidurnya yang selalu terabaikan demi tuntutan pekerjaan –juga untuk mempertahankan jabatannya, tentu saja– tapi ia rasa hari liburnya akan terasa sia-sia jika hanya dimanfaatkan untuk tidur. Ia bisa memanfaatkannya untuk hal yang lebih menyenangkan–minum, misalnya. Ia sempat berpikir untuk membuka sebotol anggur dari tahun '89 –tidak begitu tua, tapi tetap favoritnya– sebagai bentuk perayaan, tapi lagi-lagi, ah, ia rasa anggur itu lebih baik ia minum untuk sesuatu yang lebih berharga, seperti kematian seseorang yang amat ia benci, misalnya.

Atau mungkin kembalinya sosok yang sudah lama pergi.

[Dan kilasan tentang Dazai muncul kembali, menolak untuk pergi.]

Ia melihat ke arah jam yang tergantung di dinding, membaca angka-angka yang ditunjuk oleh jarum-jarum lentiknya. Sial, beberapa umpatan menggema dalam pikirannya saat mengetahui ia sudah menyia-nyiakan beberapa jam waktu kosongnya tanpa melakukan apa pun. Ia segera merapikan dirinya, mengambil mantelnya, kemudian keluar dari apartemennya yang hangat ke dinginnya jalanan di sore hari. Udara dingin langsung menyapa setiap inci kulitnya yang terbuka, memaksanya mengenakan mantelnya –yang sebelumnya hanya tersampir di pundaknya– dengan benar kali ini. Tumpukan salju masih tertinggal di sudut-sudut jalan, enggan untuk mencair, dan ia tahu betul suhu di kota itu hanya akan terus menurun seiring makin larutnya malam. Ia bisa saja jatuh sakit karena kedinginan (salahkan fisiknya yang lemah akan dingin), tapi kali ini ia sedang tidak ingin bernegosiasi dengan rentetan perhitungan serta larangan dari otaknya yang, sejujurnya, memuakkan. Untuk kali ini, ia ingin menjauh dan sendiri, bahkan dari dirinya sendiri. Mengabaikan jeritan perintah internal yang menyuruhnya untuk kembali ke dalam apartemennya dan tidur, ia melangkah di trotoar yang dingin menuju sebuah tempat.


Bar di dekat kantor Port Mafia itu sudah menjadi langganan bagi rekan-rekannya. Meski begitu, Chuuya sangat jarang menghabiskan malam di sana kecuali untuk memenuhi ajakan dari atasan atau sahabatnya (lagipula, untuk apa pergi ke bar jika kau punya koleksi puluhan anggur ternama di rumahmu sendiri). Meski begitu, ia dapat dengan jelas mengingat seperti apa tempat itu; tempat yang tidak begitu ramai, meja bar yang selalu bersih, suasana yang tidak sebising bar pada umumnya, pelayan bar yang menyenangkan (ia tidak ingat namanya), dan minuman yang rasanya tidak buruk. Singkatnya, ia suka tempat itu, dan ia tidak keberatan menghabiskan waktunya di sana–

Anggur di gelas ketiganya kini tinggal tersisa setengah, dan baru saja akan ia teguk habis ketika suara langkah dari pendatang baru terdengar di telinganya. Biasanya ia tidak begitu mempedulikan orang-orang di sekitarnya, tapi kali ini ada sesuatu, entah apa, yang begitu familiar baginya. Ia memusatkan fokus pandangnya –yang untungnya belum terpengaruh oleh alkohol– ke arah pintu masuk. Ketika entitas baru itu tertangkap jelas oleh matanya, keduanya membeku, saling terpaku dengan tatapan heran dan keterkejutan yang tidak sempat mereka sembunyikan. Tepat lima detik kemudian, pemuda di pintu masuk menawarkan senyum.

"Oh, Chuuya?"

–sial.

Sebagai balasan, ia membuang muka–tidak sudi ia menodai lidahnya dengan menyebut nama si brengsek itu. Ia membuang napas dengan keras, sengaja untuk menggambarkan rasa kesalnya, kemudian meneguk habis minuman yang tersisa sebelum akhirnya meminta tambah. Bartender yang bertugas di balik meja bar dengan sabar menuangkan minuman baru ke gelas Chuuya–minuman yang lebih keras dari sebelumnya, sesuai permintaannya. Sementara itu, pemuda yang baru saja datang tadi melangkah masuk dan duduk di sebelah Chuuya. Cukup untuk membuatnya makin kesal. Hampir saja Chuuya hendak berdiri dan beranjak keluar meninggalkan bar demi menjauh dari Dazai, tapi batal ia lakukan mengingat ia harus menghadapi udara yang terlampau dingin di luar. Ia enggan beranjak dari bar sebelum tubuhnya cukup hangat berkat alkohol.

"Apa maumu, Dazai?" tanyanya ketus.

Dazai yang duduk di sebelahnya lebih memilih untuk menunda jawabannya dengan senyum khasnya. Kedua matanya terpaku pada gelas kaca di hadapannya selagi diisi dengan minuman yang ia minta. Ketika bartender itu pergi untuk melayani tamu lain, Dazai mengangkat salah satu tangannya dan meraih gelas itu, memutar-mutarnya selagi mengagumi keindahan cairan bening yang tampak keemasan tertimpa cahaya lampu di atasnya.

Ia meminum dua tiga teguk dengan cepat, sebelum membuka mulut dan bersuara, "Kau pikir aku ini seorang penjahat yang selalu datang hanya untuk memalak, hm?"

Ya, Chuuya ingin membentak, tapi ia urungkan niat itu dan alih-alih mengganti pertanyaannya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Kau sudah bukan bagian dari tempat ini lagi.

"Ah, bukan apa-apa," jawab Dazai. "Tiba-tiba saja aku ingin ke tempat ini." Pandangannya kembali jatuh ke gelasnya, dan Chuuya baru menyadari bahwa nada suaranya pun juga jatuh–entah kenapa terdengar lebih berat, lebih pelan, lebih ... sendu.

"Oh," kemudian meneguk pelan minumannya, membiarkan rasa panas yang tidak asing mengalir di kerongkongannya. Ia meringis ketika sensasi panas mulai berputar di perutnya, tapi lebih memilih untuk mengabaikannya seperti biasanya. Dentingan gelas kaca Chuuya dengan meja marmer menjadi bunyi terakhir yang terdengar di antara mereka sebelum keheningan yang panjang melingkupi. Masing-masing bungkam, tenggelam dalam dunia masing-masing; Dazai masih memutar-mutar dan memerhatikan gelas di tangannya, sementara mata Chuuya dengan sendirinya menelusuri sosok di sebelahnya. Ia mengamati, mencatat hal-hal baru yang melekat pada Dazai, lalu membandingkannya dengan Dazai yang dulu.

Dazai yang pernah menjadi temannya. Dazai yang selalu melihatnya.

Ketika pandangan Chuuya terhenti pada mata Dazai, dua manik cokelat kemerahan itu balik menangkapnya. Seketika, egonya naik dan memerintahkannya untuk mengalihkan pandangan, tapi efek alkohol mulai mengambil alih, membuat matanya terasa begitu berat untuk sekadar ia gulirkan.

Terlebih lagi, ia terlanjur tenggelam ke dalam matanya.

Tatapan mata Dazai yang kosong entah bagaimana telah mengunci Chuuya, menahannya dan menariknya untuk terus menyelam makin dalam dan makin dalam hingga ke dasar yang dingin, kemudian menyerangnya dengan beribu rasa; kepedihan, kesendirian, keputusasaan, serta penyesalan yang telah terpendam begitu lama hingga mati dan membusuk, mencekik Chuuya dan mengambil alih kemampuannya untuk bernapas. Ketika ia akhirnya berhasil menemukan kesadarannya kembali, genggaman tangannya pada gelas telah mengerat hingga ia takut gelas itu akan pecah hanya karena tangannya. Ia menghembuskan napas yang entah sejak kapan ia tahan, kemudian meneguk minumannya lagi. Dazai mengikutinya, menghabiskan minuman yang tersisa hanya dalam dua tegukan, kemudian meminta bartender untuk mengisi gelasnya kembali.

"Kau bukan teman minum yang menyenangkan, ya, Chuuya?" Dazai mencoba menghidupkan percakapan yang sempat mati. "Sangat berbeda dengan teman minumku dulu." Tapi, Chuuya hanya diam, tidak berniat untuk menanggapi pernyataannya. Ia hanya memerhatikan Dazai yang meneguk minumannya hingga habis, kemudian menyusulnya dengan gelas ketiga.

"Sudah berapa gelas yang kau minum?" tanya Dazai.

"Empat," gumamnya tanpa niat. Ia menggoyang-goyangkan minumannya dengan malas. Dadanya terasa begitu berat dan sesak–alkohol mungkin sudah mencapai otaknya. Tinggal menghitung menit sebelum alam sadarnya direnggut sepenuhnya oleh efek minuman keras itu.

"Oh? Tapi kau belum terlihat mabuk. Tumben sekali. Apa kau hanya meminum anggur-anggur muda? Aku tidak ingat Chuuya bisa sekuat ini," ujar Dazai setengah meracau, diakhiri tawa setengah hati. Ia kembali menghabiskan minumannya dengan cepat dan memanggil pelayan bar untuk mengisikannya lagi. Chuuya belum menghabiskan gelas keempatnya, dan kini Dazai telah menyusulnya secepat ini–pemuda itu pasti benar-benar sedang tertekan.

"Begitukah?" gumamnya, lagi-lagi terlalu pelan untuk dapat terdengar di bar itu. Ia menghabiskan cairan yang tersisa di gelasnya, memperparah rasa pusing di kepalanya. Meski begitu, ia suka ketika rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, jadi ia kembali meminta tambah.

"Nostalgia sekali." Dua kata yang terucap dari mulut Dazai menarik atensinya. Dengan mata yang setengah menutup, ia memandang ke arah Dazai yang tengah menatap langit-langit. Tampak jelas pikirannya tengah melayang–entah ke mana, Chuuya sama sekali tidak dapat menerka. "Rasanya aneh kalau mengingat aku dulu pernah di sini."

Dazai kembali meneguk minumannya hingga habis, kemudian meminta tambahan lagi. Lalu ia akan kembali meracau di sela-sela kegiatan minumnya. Setiap kali gelasnya kosong, ia akan meminta tambahan lagi, begitu seterusnya. Begitu mengherankan, sampai-sampai Chuuya hampir melupakan minumannya sendiri karena terlalu sibuk memerhatikan tingkah teman minumnya yang tidak biasa itu beserta racauannya. Ketika Dazai meminta tambahan untuk kesepuluh kalinya malam itu, wajahnya telah benar-benar merah dan racauannya makin menjadi. Sementara itu, Chuuya sudah harus bersusah payah menjaga agar dirinya tidak tumbang seusai menghabiskan gelas ketujuhnya.

Malam makin larut, tapi mereka berdua masih bertahan di bar itu. Dazai masih saja meracau, dan efek alkohol membuatnya makin terbuka dan tidak sadar akan apa saja yang meluncur dari bibirnya; hari-harinya di Port Mafia, bawahannya yang susah diajar, bos dengan beribu perintah yang menyebalkan, malam-malam yang ia habiskan di bar bersama kedua sahabatnya, pengkhianatan, sabotase, pembunuhan, serta alasannya meninggalkan Port Mafia hingga kehidupannya yang baru di Agensi. Sementara itu, Chuuya setia mendengarkan. Tidak jarang ia menyahut dan membalas racauan Dazai dengan racauan yang bahkan tidak saling berhubungan. Setidaknya, ia belum melewati batas mabuknya sehingga ia masih bisa mengerti apa yang Dazai katakan walau pikirannya berkabut. Ia bersusah payah menjaga antusiasnya selagi mendengarkan kejujuran Dazai–ia ingin mengerti dan memahami sosok Dazai lewat ceritanya, setidaknya hingga nanti sebelum semua ingatan tentang malam itu menghilang dan memudar bersama dengan kabut alkohol di kepalanya.

"Aku tidak bisa melupakan Odasaku. Masih belum bisa, dan mungkin tidak akan bisa." Bahkan ketika kejujuran Dazai meremukkan hatinya. "Seharusnya dia tidak mati, aku akan sangat bahagia." Bahkan ketika kejujuran Dazai menghantamnya dan menjatuhkannya. "Kami sering minum-minum di bar ini. Hahaha ... Aku tidak pernah sesedih ini sebelum dia menghilang." Bahkan ketika ia tahu, apa yang Dazai ucapkan hanya akan menyadarkannya bahwa ia tidak pernah dan tidak akan pernah bisa menjadi siapa-siapa bagi Dazai–lupakan status "rekan" yang pernah mereka sandang, bahkan sejak dulu status itu tidak pernah memiliki makna. Hal itu bukanlah apa yang ingin ia dengar. Ia bahkan berpikir bahwa akan lebih baik jika ia benar-benar mabuk dan kehilangan kesadaran saat itu.

Tapi, ia tetap mendengarkan segalanya.

Ia terus mendengarkan dan tetap menyimak. Dazai bercerita banyak kepadanya malam itu, dan ia senang. Dazai telah membagi banyak hal kepadanya. Dazai telah mengungkapkan perasaan senang dan sedihnya. Tapi, Dazai tidak menyebutkan apa pun tentang Chuuya, dan ia tidak bisa marah akan hal itu.

Saat Chuuya sudah terlalu mabuk dan tidak memiliki tenaga lagi untuk tetap terjaga, giliran Chuuya yang menyampaikan perasaannya. Ia membiarkan air matanya lolos hanya untuk kali itu, menjatuhkan kepalanya yang sudah terlalu berat untuk ia tahan ke meja bar yang dingin, sebelum membiarkan sepenggal kalimat meluncur dari bibirnya.

"Aku membencimu, Dazai. Aku mencintaimu. Aku begitu bodoh, jadi tolong kembalilah."

Dan, dengan tenang, ia membiarkan matanya terpejam dan membawanya ke dalam mimpi yang gelap. Ia menyerahkan sisanya kepada Dazai–semua yang tersisa, begitu pun rasa pedulinya.

["Tidak perlu khawatir, Chuuya, aku akan menangkapmu. Serahkan semuanya padaku."]

... seharusnya, kita tidak perlu terpisah.


Senyum kecil terukir di wajahnya melihat Chuuya yang mabuk dan tertidur di bar. Bodoh, umpatnya dalam hati, setengah tertawa. Kau masih saja lemah, pikirnya ketika memerhatikan dua gelas yang telah berkali-kali diisi minuman keras di hadapannya. Ia menang, dan sebagai penutup, ia memesan dua gelas air pada bartender; satu untuknya, satu lagi untuk Chuuya. Ia meletakkan beberapa lembar yen di meja, kemudian berdiri dan mengangkat tubuh Chuuya. Ia sampirkan lengan pemuda yang lebih pendek itu di pundaknya, kemudian beranjak pergi keluar dari bar itu.

Di luar, angin berembus membawa udara dingin tengah malam. Tubuh Chuuya yang sedang tidak sadar merapat ke tubuh Dazai, mencari kehangatan; dan Dazai sama sekali tidak keberatan. Ia memapah Chuuya di sepanjang jalan yang dingin, mengantarnya pulang hingga ke rumahnya–sebuah apartemen yang dulu mereka tempati bersama. Sedikit menyakitkan, tapi ia sendiri juga ingin mengenang masa lalunya tinggal di bawah atap yang sama itu. Tidak banyak perubahan yang terjadi pada apartemen sederhana itu –bahkan password apartemennya masih sama– membuat Dazai makin ingin kembali menetap di sana.

Ia membaringkan Chuuya di kasurnya dengan perlahan. Ia bahkan berbaik hati merapikan dirinya –melepaskan kaus kaki, mantel, serta dasi– sebelum menyelimutinya. Chuuya merapatkan selimutnya, menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti jangan pergi sebelum kembali terlelap ke dalam tidurnya. Dazai tersenyum. Jemarinya menyisir helai-helai rambut Chuuya yang menutupi matanya, kemudian mengecupnya.

"Maaf. Kita sudah terpisah terlalu jauh."


a/n: Cough. Turns out I can't get away from this Soukoku trash hell. Anyway, an update (and, yes, angst because why not?). Thank you very much for everyone who read this story. You really make my day (=

-H.I-