Teman Hidup
Request by:
Alpheratz3100
Rated:
T
Genre:
Romance, Fantasy, School-life
Warning:
Shounen-ai, Soulmate!AU, Highschool!AU, OOC, Typo(s), tidak sesuai EYD, bikin bosen
.
.
.
Happy Reading!
.
.
.
Taeil menatap tanda mate pada pergelangan tangan kanannya yang semakin hari semakin terlihat jelas.
Tanda berupa bunga Magnolia dan terdapat marga seseorang yaitu 'Seo' terlihat sangat indah, lambang itu sudah ada sejak lahir dan saat masih bayi tanda itu terlihat samar. Dan jika waktunya akan bertemu dengan soulmate-nya lambang itu terlihat jelas.
Para submisif seperti Taeil mendapat tanda saat mereka lahir, tapi para dominan mendapatkannya saat mereka menatap mata pasangannya dengan tidak sengaja. Kapanpun dan dimanapun.
Jika submisif berupa marga, lain dominan yang berupa nama pasangannya walaupun samar beserta dengan tanda bunganya.
Mereka benar-benar akan menjadi soulmate jika terdengar suara 'Klik' saat keduanya bersitatap dengan pandangan penuh memuja satu sama lain.
Dan saat ini Taeil mulai kebingungan karena tandanya mulai terlihat terang beda dengan tanda sewaktu dia masih berumur duabelas tahun, terlihat samar dan hanya terlihat tanda bunga bukan marga seseorang.
.
"Jadi marganya Seo?"ucap lelaki manis pada Taeil. Namanya Doyoung, salah satu teman submisif Taeil dan adik tingkat kelas dua, memiliki tanda bunga Lily of valley dan marga seorang 'Jung'. Tidak seperti Taeil, dia sudah bertemu dengan soulmate-nya yang ternyata adik tingkat kelas satu di sekolah mereka. Doyoung sedang berada di kelas Taeil untuk menjemputnya.
"Memangnya ada apa Doyoung?" Taeil membalasnya dengan pertanyaan, dirinya kini sibuk membersihkan tempat duduknya dikelas. Ini hari Rabu dan ada jadwal klub setelah pulang sekolah, tepatnya bola voli pria. Taeil dan Doyoung adalah anggota tim inti.
"Hanya terpikir bahwa marga soulmate-mu adalah Seo Johnny, kapten tim basket, musuh bebuyutanmu hyung."
Taeil mendelik, "Kau tidak punya kenalan selain itu? Pemilik marga Seo bukan hanya dia."
"Aku hanya menebak, memangnya apa yang salah?" dan dibalas dengusan oleh Taeil, Doyoung memaklumi, memang seseorang bernama Johnny itu bagaikan polusi untuk Taeil, setiap bertemu mereka tidak akan akur, meskipun bukan karena memperebutkan gymnasium untuk latihan klub salah satunya.
Doyoung menatap tanaman yang ada di meja Taeil, bunga Magnolia putih dengan semburat pink yang lembut ya? Dirinya jadi penasaran bagaimana wujudnya. Belum mekar karena Taeil belum bertemu dengan pasangannya. Doyoung yakin bunga itu pasti akan mekar saat belum menginjak seminggu.
Akademi Neo Culture, junior high school dan senior high school yang jadi satu berupa komplek, setiap warga sekolah memiliki pot ukuran kecil yang akan tumbuh bunga yang menjadi tanda soulmate-nya. Uniknya adalah bunga itu akan menyesuaikan ukurannya sesuai dengan pot lalu tidak akan mati meskipun jarang menyiramnya. Dan siswa-siswi meletakkan potnya diatas meja tempat duduknya.
Milik Taeil adalah Magnolia, pohon yang berbunga jadi tanamannya seperti bonsai mini berwarna hijau karena kuncupnya belum mekar. Jika mekar akan terlihat seperti Cherry Blossom karena warna Magnolia milik Taeil berwarna putih dengan semburat pink.
Pandangan Taeil mengedar keseluruh ruangan kelas, teman-teman satu kelasnya sudah bertemu dengan soulmate mereka, bunga mereka sudah bermekaran dengan indah, jadi tinggal dirinya saja yang belum. Bahkan teman sebangkunya, Youngjae, sudah kelewat penasaran dengan bunga milik Taeil. Bukan Youngjae saja, hampir satu kelas penasaran dengan bunganya. Karena mitosnya soulmate yang memiliki bunga Magnolia adalah pasangan yang dianugerahi kebahagiaan melimpah.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan hyung, pasti kau akan bertemu dengannya."
"Kuharap begitu."
.
Haechan langsung berlari saat melihat Taeil dan Doyoung berjalan bersama ke gymnasium, "Hyung~ hari ini kita kalah telak!" sedikit berteriak pada Taeil, Doyoung hanya terkekeh melihatnya, jatuhnya bukan seperti saudara tapi seperti orang tua dengan anaknya bagi Doyoung. Omong-omong, Haechan ini sepupu Taeil, siswa kelas dua junior high school Neo Culture.
"Jangan bilang jika gymnasium sudah dipakai oleh klub basket."
Anggukan yang didapat Taeil dari Haechan, wajahnya langsung memerah, menahan amarah sepertinya. Bukannya isi perjanjian jika hari Rabu klub voli dulu yang menggunakan gymnasium. Terus kenapa klub basket memakainya sekarang!?
Brak!
Lelaki Moon langsung membanting pintu gymnasium tidak peduli menjadi pusat perhatian, ada kekeliruan disini. "Seo Youngho.. keluar kau!?"
Dan lelaki tinggi itu sudah ada dihadapan Taeil, "Kenapa?"
"Kau! Sudah berapa kali melanggar perjanjian!?" tanpa disadari pula jarak keduanya mulai semakin dekat. Dan Taeil harus rela mendongak untuk menatap mata tajam milik Johnny. Sialan, kenapa Johnny harus tinggu sekali sih!?
"Cerewet! Klub basket sudah mendapat izin dari Jeon saem, memangnya kenapa?"
"Tapi Jeon saem tidak mengatakan apapun padaku!"
Karena suara Taeil bisa dikatakan sangat keras, mau tidak mau mereka berdua harus jadi pusat perhatian. Mulai lagi–pikir siswa yang berada di gymnasium kecuali Johnny dan Taeil. Hal ini sering terjadi, tapi sayang jika dilewatkan. Semua siswa-siswi tahu mereka seperti anjing dan kucing, tapi dibalik itu semua siswa-siswi menyadari bahwa pertengkaran tidak penting mereka ada momen manis yang dibangun. Dan tentu saja sampai membuat para siswi mendirikan klub terselubung untuk mendukung hubungan keduanya. Tapi semua kecewa saat mengetahui Johnny memiliki tanda bunga Seroja bukannya Magnolia. Jadi sebelum mereka berdua bertemu dengan soulmate-nya, para siswi masih bisa menikmati kedekatannya.
"Dengar ya, pendek, kita sudah men–"
"Siapa yang kau bilang pendek, hah!?" teriak Taeil pada Johnny, lelaki tinggi itu sedikit terkejut, tapi setelahnya langsung menyeringai.
"Memang kau pendek, lihat kau saja hanya sebatas di bawah telingaku." Lalu Johnny meletakkan telapak tangan kanannya pada pucuk kepala Taeil yang sampai membuatnya bergumam betapa halusnya rambut hitam si pendek ini.
Taeil merasakan rambutnya di acak sampai membuat poni di dahinya berantakan, sedikit menggeram kedua tangannya langsung memegangi pergelangan tangan Johnny. "Tolong sopan sedikit dengan seniormu, dasar–" ucapannya terhenti karena melihat pergelangan tangan Johnny. Tanda mate milik lelaki tinggi itu, meskipun samar, sepertinya dia baru mendapatkannya sekarang, Taeil tahu akan warna bunganya, tapi masih belum terlihat jelas itu jenis bunga apa dan siapa nama yang tertera disana. Warnanya putih dengan semburat pink.
"Tandamu.."
Johnny langsung menarik tangannya, "Ini Seroja. Kenapa memangnya? Kau ingin menertawakanku karena baru sekarang mendapatkan tanda mate? Maaf saja, aku ini dominan."
"Cih, aku hanya bertanya."
"Oh, kau ingin namamu terukir di tanganku, lalu kita jadi soulmate begitu? Dalam mimpimu saja, dasar pendek." Johnny mengatakannya seringan kapas tanpa menyadari raut wajah Taeil yang sedikit, um.. kecewa?
Buk!
"Aku juga tidak sudi." Berlalu begitu saja meninggalkan gymnasium, Taeil sudah tidak peduli dengan latihan klub voli, bahkan sampai Haechan mengejarnya pun Taeil semakin mempercepat langkahnya. Entahlah, hatinya sudah terlanjur terluka mendengar ucapan Johnny. Lalu kenapa dia seperti ini? Bunga mereka saja berbeda kenapa rasanya sakit sekali. Dia bisa merasakan bahwa matanya memanas dan sebentar lagi pasti mengeluarkan air mata. Dan Taeil benci itu.
Johnny yang terkena timpukan bola voli oleh Taeil hanya bisa meringis, saat Taeil mengatakan kalimat tadi dadanya langsung berdenyut sakit. Sebenarnya dia ini kenapa?
.
Dua hari setelahnya kelas Taeil sedikit ramai meskipun harus mengerjakan tugas dari Shin saem, beliau tidak masuk tapi tugasnya menumpuk, "Oh, kuncupnya bertambah lagi ya?" Youngjae yang sudah selesai dari tugas langsung menatap pot milik Taeil, teman sebangkunya.
Taeil tersentak saat mendengarnya, "Eh, tapi kapan aku bertemu dengannya?" gumamnya masih bisa didengar oleh Youngjae.
"Bisa saja kau tidak sengaja kan."
Youngjae sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat kuncup baru dari bunga itu, tanaman milik siswa-siswi diletakkan berdampingan, jika bangku sebelah kanan meletakkan tanaman miliknya di sebelah kiri begitu sebaliknya. Jadi Youngjae dengan mudah melihat Magnolia milik Taeil karena tanaman itu berdampingan dengan Lilac ungu miliknya.
Tatapannya terhenti pada satu titik dipohon kecil itu, ada satu bunga yang sudah mekar meskipun ukurannya paling kecil. "Taeil, kau benar-benar bertemu dengan soulmate-mu ya? Coba kau lihat ini."
Pot itu langsung digeser Youngjae di depan Taeil agar sang pemilik tahu.
"Dia sungguhan mekar?"
"Itu indah sekali Taeil, tidak terbayang jika semua mekar, pasti lebih indah dari ini."
Taeil sungguh terkesan dengan bunganya ini, mereka benar-benar cantik. Tapi Taeil pikir akan mekar semua jika benar-benar bertemu, ternyata satu persatu, "Apa kau dulu juga seperti ini Youngjae?"
Lelaki dengan pipi chubby itu langsung menatap Taeil, "Kurasa begitu, karena Lilac merupakan bunga majemuk, jadi mereka mekar satu persatu. Tapi mereka mekar saat aku bertemu dengan Daehyun hyung. Pasti milikmu juga bagitu, jadi, soulmate-mu itu siapa?"
Taeil langsung mengerjap, pandangan yang awalnya menatap Lilac ungu milik Youngjae beralih pada Magnolia kecilnya yang mekar, jadi soulmate-nya siapa? Hei, bahkan dirinya juga tidak sadar kapan mereka bertemu.
"Kulihat dari wajahmu, aku tidak akan mendapat jawaban apapun sepertinya."
"Maafkan aku.."
"Untuk apa minta maaf? Itu hal biasa saat soulmate akan bertemu." Youngjae tersenyum manis setelahnya.
Di tempat lain, tepatnya kelas milik kapten basket. Johnny sedikit menyerngit saat melihat pergelangan tangan kanannya, tanda miliknya mulai terlihat sedikit jelas. Dan nama seseorang terlihat maupun hanya setengah, Tae.
Jadi siapa Tae ini, Taeha? Taerin? Atau Taeyong?
Kepalanya langsung menggeleng saat bagian Taeyong, mereka sama-sama dominan, yang benar saja.
Fokusnya langsung teralih pada tanaman miliknya, ada kuncup bunga yang mekar, meskipun kecil, Johnny benar-benar takjub dengan itu. Karena demi apapun bunganya sangat indah, tidak seperti dulu yang selalu menganggap Lily of valley milik Jaehyun –adik tingkat kelas satu– yang berbentuk seperti lonceng kecil berwarna putih itu indah ternyata miliknya sendiri tidak kalah dari milik Jaehyun.
Para dominan sudah memiliki pot terlebih dahulu walaupun masih tak tahu akan bunganya sendiri. Saat tatapan mereka bertemu tidak sengaja, tanaman itu akan langsung muncul di ikuti dengan tanda yang muncul di pergelangan tangan.
Dan sepertinya Johnny melupakan satu nama yang berawalan Tae, tapi sepertinya memang Johnny tidak memikirkannya sama sekali.
"Cepat tumbuh, Seroja manis."
.
Setelah bel pulang berbunyi, Haechan langsung tergesa pulang dengan Taeil di karenakan mereka serumah. Saat sampai rumah pun dia langsung menarik lengan Taeil dan mengajak untuk pergi kekamar Taeil. Bahkan sampai membuat Nyonya Moon kebingungan.
"Haechan kenapa?" saat anaknya dan keponakan manisnya ini lewat disebelahnya dengan tergesa.
"Tidak apa-apa Eomonim." Kata Haechan dan Taeil hanya mengangkat bahunya. Tanda tak tahu.
Di kamar, Taeil langsung mengganti seragamnya dengan baju santainya dan sedikit mengomel karena Haechan langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur milik Taeil.
"Jadi, sebenarnya kau ingin bicara apa, Haechanie?"
Posisi Haechan langsung berubah menjadi duduk bersila menghadap Taeil yang juga bersila. "Coba hyung lihat ini." Lengan seragamnya ditarik keatas, Haechan memperlihatkan tanda soulmate-nya pada Taeil, tentu saja lelaki yang lebih tua terkejut.
"Sejak kapan!?"
"Biasa saja hyung, kemarin lusa saat kau 'bermesraan' dengan Johnny hyung di gymnasium." Taeil langsung melotot sebal, "Bicara lagi seperti itu, ku cakar wajahmu."
Haechan langsung terkekeh, lalu melihat tanda soulmate-nya yang berupa bunga Matahari dan marga seorang– Tunggu, kenapa miliknya aksara China? Soulmate-nya bukan orang Korea?
"Hyung, jangan mandi dulu. Kau bisa membaca ini?"
"Coba ku lihat, Wan– Wang– Ah! Ini dibaca Wong!"
Seketika Haechan pusing, dia tidak ada gambaran tentang soulmate-nya. Pernah berjumpa dengan seseorang bermarga Wong saja tidak pernah. Astaga, sepertinya soulmate-nya ini akan menyusahkan.
.
Besoknya, Haechan melakukan latihan wall passing dengan lesu, akhir-akhir ini klub voli laki-laki sering latihan meskipun harus berbagi gymnasium dengan klub voli perempuan tapi kadang mereka latihan di gymnasium anak laki-laki meskipun harus mendengarkan omelan dari Taeil hyung yang tidak ada habisnya untuk klub basket.
Haechan sedikit bingung saat klub basket masuk ke gymnasium, omong-omong klub voli sedang latihan di gymnasium laki-laki. Mereka masuk lalu duduk di pinggiran dan menonton latihan klub voli, tentu saja ini membuatnya bingung tadi. Dia pikir Johnny hyung akan datang ke Taeil hyung dan 'bermesraan' setelahnya. Lelaki tinggi itu malah duduk dipinggiran bersama yang lain dan sesekali berkomentar akan gerakan Taeil hyung. Dia tidak menghampiri Taeil hyung, tapi bermesraan ala mereka tidak berhenti.
"Hei, hei! Passing-mu terlalu lemah pendek!" teriak Johnny.
"Berisik tiang!" Haechan menghela nafas, kenapa mereka berdua tidak disatukan saja Ya Tuhan.
Sampai tepukan pada bahu membuatnya menoleh, "Eh, Lucas hyung, kenapa?"
"Ku bantu kau latihan ya? Aku bosan hanya menunggu klub voli selesai latihan."
"Boleh! Kebetulan partner latihanku tidak masuk hari ini."
Dan disebrang Lucas sudah mengambil kuda-kuda siap menerima bola, lemparan pertama dilakukan Haechan dan diterima dengan baik oleh Lucas, "Ternyata hyung pandai bermain voli."
Lucas balas tersenyum, "Hampir semua olah raga bola aku mampu, tapi yang ku gemari hanya basket." Haechan membalasnya dengan senyuman pula, tidak sadar bahwa Lucas tercekat akan senyumnya. Dan tanpa diduga datang bola voli secara tiba-tiba lalu menghantam tubuhnya.
"Aduh.."
"Ya! Lucas hyung!" teriak Haechan sampai membuat semua yang di gymnasium menatapnya. Mereka menoleh dan langsung berdecak, Haechan terlalu panik hanya karena bola voli. Tapi kecuali Johnny, aslinya dia ingin sekali tertawa saat melihat Lucas terhantam bola kunig biru itu, tapi ide licik mampir di otaknya.
"Ya! Bagaimana jika Lucas tidak bisa menggunakan lengannya, pendek!?"
Taeil sudah geram sedari tadi, kata-kata pendek terus di dengarnya dari lelaki bongsor itu, bahkan bola yang mengenai Lucas bukan darinya. Kenapa dia yang disalahkan?!
Dirinya beringsut maju, "Kau, berhenti memanggilku pendek, aku benci itu." Tatapan matanya penuh emosi. Cukup, Taeil lelah mendengar semua ini.
"Memang kau pendek, mau apa lagi. Sekarang tanggung jawab, klub basket esok hari melakukan latih tanding dan kau membuat pemainku cedera. Kau–"
Sudah cukup, "Dia hanya terkena bola voli bukan meriam, dan kau, Seo Youngho, setiap kau memanggilku pendek dengan nada kasar memangnya kau tahu bagaimana perasaanku, ini sakit sekali. Aku memang lemah, hanya karena kata makian seperti itu aku bisa menangis." Dan sekarang Taeil benar-benar menangis tanpa suara, matanya masih fokus manatap mata tajam milik Johnny.
Tanpa diduga Taeil melempar bola voli yang sedari tadi dipegangnya kasar sampai menimbulkan dentuman keras, lalu berlari meraih tas miliknya dan keluar dari gymnasium dengan membanting pintu.
BRAK!
Semua yang berada di gymnasium terdiam, tak terkecuali Johnny. Entah kenapa perasaannya kini campur aduk. Kenapa rasanya dia bersalah sekali? Bisa dilihat banyak tatapan nyalang dari klub voli untuknya.
Jaehyun menatap pintu gymnasium lalu menatap Johnny, "Hyung, kau sepertinya sudah keterlaluan kali ini. Lagi pula, Lucas terlihat baik-baik saja."
Dan Johnny hanya bisa menunduk, perasaan ini benar-benar membuatnya tidak nyaman. Seperti melepas sesuatu yang berharga, entah itu apa.
.
Saat waktunya menjelang tidurpun, dikamarnya, Johnny hanya bisa menatap hiasan pada atap kamarnya dalam diam. Perasaan ini sangat mengganggu, latihan basketnya tidak di lewati dengan baik. Jadi setelah insiden Taeil membanting pintu semua anggota klub voli memilih membubarkan latihan. Untuk apa latihan tanpa wakil kapten, kebetulan kapten mereka tidak hadir karena sakit. Yang tersisa hanya Doyoung yang menunggu Jaehyun selesai latihan walaupun sangat ingin memukul wajah milik Johnny. Dan Haechan yang ada janji dengan Lucas untuk pergi ke rumah Renjun.
Beberapa kali ditegur oleh anggota lainnya, Johnny hanya bisa meminta maaf. Dia benar-benar merasa kacau.
Johnny menghela nafas, hari ini ternyata dilalui dengan berat hati.
Tangan kanan miliknya dibawah naik, menatap tanda soulmate-nya, dan seketika matanya terasa panas dan air mata tidak mampu ditahan saat melihat nama soulmate-nya yang terlihat jelas dan begitu indah terukir disana. "Seharusnya aku tahu lebih awal, maafkan aku." Lengan kanannya dibawa untuk menutup matanya dan menangis dalam diam sejadi-jadinya.
.
"Johnny, fokus! Sekali lagi kau seperti ini, aku akan meletakkanmu dibangku candangan. Fokuslah meskipun ini hanya latih tanding." Ucap sang pelatih yang sedikit lelah dengan sifat Johnny hari ini.
Saat latih tanding semua murid bebas untuk menonton atau tidak. Tapi karena ini klub basket yang banyak digemari jadi podium di lapangan penuh oleh murid-murid, terlebih lagi para siswi. Menonton aksi kumpulan lelaki tampan di klub basket sekolah sendiri sekaligus sekolah lain. Kadang-kadang acara latih tanding ini bisa mendatangkan jodoh. Ada-ada saja.
Doyoung sedikit berteriak saat Jaehyun bisa mencetak three point, dan Taeil yang disebelahnya hanya bisa memandang malas. Coba kalau bukan paksaan Doyoung, Taeil tidak akan mau duduk di podium yang berisik ini, perempuan-perempuan satu sekolahnya ini sungguh berisik.
Taeil memandang ke depan, tatapannya tidak sengaja melihat sosok Johnny, entah mengapa ada rasa simpati saat melihat lelaki itu tidak bersemangat saat bermain. Sudah berapa kali Johnny terkena omelan pelatih.
"Johnny, pergi ke bangku cadangan sekarang!" teriakan pelatih saat time out itu membuat semua murid menoleh. Seo Johnny yang terkenal akan permainan basket yang handal harus duduk dibangku cadangan. Sepertinya lelaki itu sedang mengalami sesuatu.
Dan Taeil terlihat semakin cemas, harusnya kau tidak seperti ini Taeil. Itu rutukan dalam hati, tapi wajahnya sangat menggambarkan orang yang sedang cemas.
Terlihat kini Johnny sudah menjadi perbincangan para murid yang berada di podium, mengatakan dia tidak ada niatan untuk bermain, sampai dia bukan kapten basket yang becus. Hentikan, Taeil sudah muak mendengarnya, dia tahu Youngho bukan orang yang seperti itu. Tapi di hati kecilnya berteriak, masih belum memaafkan Youngho.
Saat dirinya hampir beranjak, Doyoung menariknya untuk duduk kembali. "Hyung, ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu." Taeil bisa merasakan nada serius dari Doyoung.
"Dia, seperti itu, karena merasa bersalah padamu. Pagi tadi, dia ingin sekali menemuimu tapi aku melarangnya dan dia berlalu pergi, jadi–"
SRAK!
Taeil sudah meninggalkan Doyoung dalam sorak sorai para murid karena latih tanding di mulai kembali. Dia turun dari podium, perasaan cemas ini semakin menjadi. Menghampiri bangku cadangan pemain basket, hanya ada tiga orang, salah satunya adalah seseorang yang membuatnya merasakan cemas yang berlebih. Dua orang sisanya tanpa dimintapun langsung mengerti situasi dan lalu pergi dari sana, menyisakkan Taeil dan Johnny.
Johnny sedikit menyerngit karena sinar matahari tidak menimpanya, dia mendongak, betapa terkejutnya dia. Taeil berdiri di hadapannya, dengan mata sembab dan wajah memerah menahan tangis.
"Hyung–"
"Kenapa kau pengecut sekali!? Hanya karena Doyoung berkata seperti itu, kau langsung mundur sebelum mencoba. Aku semakin membencimu dan aku tidak akan memaafkanmu, hiks..."
Tatapan mereka masih beradu, dan tanpa di duga semuanya berjalan begitu cepat.
'Klik'
Bunyi saklar itu terdengar. Taeil langsung menunduk, tidak berani menatap mata tajam Johnny.
"Kau dengar hyung, tatap mataku."
"Tidak, aku–" wajahnya dibawa kesamping, enggan menatap mata milik Youngho yang entah mengapa terlihat teduh.
"TATAP MATAKU HYUNG!"
Latih tanding itu terhenti, semua pemain di lapangan dan podium terdiam sambil menatap Johnny dan Taeil.
"Baiklah, aku bisa mendapatkan pasangan lebih baik bahkan lebih cantik darimu. Dasar pendek."
"Kenapa kau tidak pergi mencarinya!?" tamparan hampir mengenai pipi milik Johnny, pergelangan tangan itu digenggam dan menarik tubuh mungil Taeil untuk mendekat. Tatapan lembut langsung ia berikan pada Taeil, dengan jarak seperti itu Johnny bisa melihat mata indah milik Taeil.
Sedangkan Taeil sendiri sudah merona luar biasa dengan mata yang masih berhiaskan air mata.
Johnny perlahan membuka genggaman tangannya, pandangan matanya langsung beralih pada tanda soulmate milik Taeil. Lalu senyuman berkembang indah di bibirnya, "Margaku terlihat indah, kau lihat namamu disini, dia juga terlihat tak kalah indah." Ucap Johnny sambil menunjukkan tanda miliknya.
"Lalu.. kenapa kau bersikap buruk padaku?" Taeil berusaha mengatakannya disela isakan kecilnya.
"Kau ingat, dulu hyung datang kepadaku pertama kali di gymnasium langsung memukul kepalaku, jadi aku sedikit tak suka. Lalu aku saja baru mengetahui namamu tadi malam."
Johnny menunduk, menyatukan keningnya pada kening pasangan jiwanya. Taeil semakin merona, dia bisa melihat mata tajam nan rupawan itu lebih dekat dan mengagumi wajah tampan miilik Johnny.
"Jadi, hyung mau memaafkanku?" Tanpa pikir panjang, Taeil langsung menerjang tubuh bongsor Johnny yang hanya terbalut kaos sleeveless putih dan celana training pendek berwarna hitam.
Dibenamkan wajahnya pada dada bidang sang dominan, menghirup wangi maskulin yang menenangkan. Lalu membalas ucapan Johnny dengan anggukan. Pelukan balasan di dapat oleh Taeil, siapa lagi kalau bukan Johnny.
Dan semua orang yang terdiam langsung bertepuk tangan tak terkecuali para pemain basket sekolah lain. Momen pertemuan soulmate biasanya hanya di lewati berdua atau yang paling parah ada dua orang yang melihat, tapi ini, seisi podium dan pemain di lapangan itu melihat momen ini. Menyaksikan bagaimana pasangan jiwa ini bertemu penuh haru dan kebahagiaan yang melimpah.
Anak-anak pemandu sorak yang kini sedang tak mengenakan pakaian pentas, langsung meraup bunga-bunga yang berguguran, melemparkannya pada pasangan itu dan tentu saja di ikuti yang lain. Tenang saja, bunga itu masih berkualitas bagus dan tersebar diseluruh podium. Memang lapangan di kelilingi pohon-pohon berbunga tersebut.
Johnny tertawa merasakan banyak bunga berwarna pink cerah itu mengenainya dan Taeil. Lalu disusul kekehan lucu dari Taeil dan tanpa di sadari Johnny sudah mendekatkan wajahnya pada Taeil.
Dan kecupan singkat itu berlalu. Taeil hanya bisa mengerjap matanya lucu, dia sungguhan kaget. Johnny tidak bisa menahan senyum dengan sikap submisifnya ini.
"Ish... Youngho." Keluhnya.
"Love you." Ucap Johnny sambil kembali memeluk Taeil. Dan tepukan riuh kembali terdengar.
.
Kini Taeil sedang berada di kelas pasangannya, menunggu Johnny berberes dan pulang bersama. Tapi raut wajahnya seperti ingin memakan bulat-bulat Johnny.
"Jadi kau tidak begitu mengerti tentang bunga soulmate?" dan anggukan di dapat oleh Taeil.
Taeil menyentuh pot dengan pohon bunga Magnolia yang bermekaran milik Johnny, "Sudah jelas-jelas ini Magnolia, kenapa kau sebut Seroja!? Tak masalah jika itu Teratai, karena mereka terlihat mirip. Tapi ini, Astaga Youngho, jangan bolos saat pelajaran botani!"
Pelajaran botani –khusus dipelajari untuk masalah soulmate.
"Maafkan aku, kau kenapa sih masih sering marah padaku?" ucapnya sambil berjalan keluar kelas, omong-omong Johnny sudah selesai berberes.
Taeil mulai menyamai langkah lebar itu, "Dasarnya memang kau menyebalkan."
Johnny tergelak, lalu tangan mungil itu dibawa menyatu dengan tangannya dan memasukkan kedalam saku jaketnya. Dia menoleh kesamping, dan Taeil menatapnya, "Meskipun menyebalkan begini, aku ini soulmate-mu, belahan jiwamu yang hilang hyung."
Cup!
Kecupan lembut diberikan pada Taeil, dan yang lebih pendek merona luar biasa.
"Tuh kan, kau memang menyebalkan." Rengeknya.
Bukannya menjauh dia juga semakin mengeratkan genggamannya pada Johnny. Dan keduanya menikmati rasa hangat yang diberikan satu sama lain. Sambil berjalan pelan menuju parkiran, mereka membagi kehangatan yang ada. Dan jarak kedua semakin dekat dan menempel.
Ternyata jika sudah bertemu dengan soulmate rasanya sangat membahagiakan. Meskipun dulunya dia adalah musuh bebuyutanmu.
.
.
.
Finish.
.
.
.
a/n:
Untuk Alpheratz3100, sumimasen. Ini tidak sesuai requstmu ;( ini pertama kalinya aku bikin Soulmate!AU :( dan typo-nya kemana-mana ;(
Kalau masalah bunganya bingung tanya aja, aku sengaja pake bunga yang gk biasa ;3 Aku suka bunganya Jaedo ;3 beneran kyk lonceng kecil-kecil gitu ;3
Dua chapter ke depan masih yang request di Lembut dan Sedikit Keju ya, jadi yang disini requestnya sabar dulu ;3
Aku gk tahu kapan Lembut dan Sedikit Keju update, karena moodku hilang gara-gara murid yang aku tutorin ngilangin ff yang isinya pasangan beruang ini enaena di new york ;( dikira bikin enaena gampang ;( aku tuh bertapa dulu tahu ;(
Terima Kasih untuk;
JohnD-J || xoxoxiu (emang habis gitu ngapain sih, gk paham aku ;( || Jirin-ssi || chuu97 || CottonCandy98 (kakak udah ku follback ya!)
Review?
(Ini kenapa jebol 3K+ Levi mana Levi, pengen ndusel aku)
