Bad-luck (Maybe?)
By: Ulilil Olala
Disclaimer: Harry Potter © J. K. Rowling
Rated: T
Draco Malfoy x Harry Potter
.
.
.
Summary: Draco sudah benar-benar muak kali ini. Bukan karena penundaan promosinya, dan bukan juga karena pembatalan pertunangannya dengan Astoria. Bukan, bukan semua itu. Dia benar-benar muak dengan pasien istimewa yang terbaring di depannya sekarang. Ya, si pahlawan perang —Harry James Potter!
.
.
.
CHAPTER TWO: PASIEN (BODOH) PEMBAWA PETAKA
.
Draco masih kehilangan kata-katanya setelah mendengar apa yang dikatakan Ron Weasley, dengan muka cemas dan wajah pucat berlebihan—mengenai keadaan Harry Potter, mantan orang yang paling sering dijahilinya semasa sekolah dulu.
Jujur saja, Draco masih tidak habis pikir bagaimana Harry Potter masih bisa bertahan hidup dengan keadaan yang menyedihkan macam sekarang. Atau mungkin rumor itu benar—dulu Crabbe dan Goyle sering membahas bersama Pansy jika Potter adalah jelmaan manusia kucing yang punya nyawa sembilan.
Oke, mana ada bocah sebelas tahun selamat melawan troll gunung? Atau bocah dua belas tahun yang bisa parseltongue dan membunuh monster berbahaya dengan KKM lima bintang dari buku Hewan-hewan Fantastis dan dimana mereka bisa ditemukan—hanya dengan sebuah pedang yang katanya keluar dari topi butut tua? Draco benar-benar tidak mengerti. Memang benar jika Potter adalah orang yang mengalahkan Pangeran Kegelapan. Dan memang benar jika Potter telah melewati ini-itu sendirian, dengan sedikit bantuan dari dua antek menyedihkannya. Tapi, tetap saja, bertahan hidup setelah di-Crucio oleh empat orang, dengan kaki yang hilang separuh itu bukanlah hal biasa. Bulu kuduknya sedikit meremang melihat seonggok pasien menyedihkan dengan darah belepotan di mukanya.
Dia kemudian menghela napas, dan membersihkan luka-luka milik Potter secara perlahan. Weasley diam saja, tahu bahwa ini adalah kesalahannya—dan sudah sepantasnya dia berterimakasih pada Draco atas kebaikan hati Draco yang luar biasa—mau mengobati mantan rivalnya semasa sekolah dulu. Luka pada pipi Potter masih terbuka, dan darah masih mengucur—padahal setahu dia, Hudgens sudah memberi penangangan untuk luka di pipi Potter—atau mungkin...
Sihir hitam.
Seharusnya, dia sudah menduganya. Potter dan Auror. Potter dan kericuhan di Wales. Potter dan sekelompok penyihir hitam yang ingin menggantikan Pelahap Maut yang sudah kalah. Ah—Draco mengerti.
Potter baru saja pergi ke Wales untuk menangkap penyihir hitam Wales selaku Kepala Auror, dan pasti dia kewalahan, kemudian memanggil Auror lainnya, kemudian Weasley pasti ber-Dissapparate sembari membawa Potter—dan mengingat Weasley tidak terlalu cakap apparating pasti terjadi splinching. Kalau tidak salah kronologis kejadiannya pasti begitu.
"Weasley." Panggil Draco. Weasley tampak tak kalah menyedihkan dengan wajah pucat dan rambut berantakan. Kemudian Ron Weasley mendongak ke arah panggilan Draco. "Tadi, apakah kau kesini dengan Potter sehabis ber-Apparate dari Wales?"
Weasley gugup kemudian menjawab pertanyaan Draco, "i-iya, kami baru dari Wales—tunggu, darimana kau tahu kalau Harry habis dari Wales?"
"Ada sebuah penemuan canggih bernama koran."
"O-ooh—iya jadi begitu." Jawab Weasley. Sebenarnya jawaban dari Weasley terasa tidak jelas, tapi itu cukup untuknya.
Kemudian, Draco mengobati luka di pipi Potter—yang sekarang sangat pucat. Dia ingat beberapa penanganan untuk luka semacam ini—karena bibi Bellatrix dulu pernah mengajarinya—kemudian memberinya salep kehijauan berbau menyengat di pipi Potter. Draco baru saja mau memberi Potter Sekle-Gro—ketika pintu bangsal menjeblak terbuka.
Penyembuh Brown berdiri di depan bangsal dan tampak tertekan tetapi sesaat kemudian, air mukanya sudah berubah menjadi berang melihat Draco yang sedang mengobati Potter. Si penyembuh bodoh tukang cari muka itu, memang tidak pernah suka padanya.
"Apa yang kau lakukan, Malfoy!" Brown kelihatannya lebih ke arah memarahinya daripada menanyainya.
"Seperti yang kaulihat, aku sedang mengobati tuan penyelamat dunia sihir dengan luka sambaran petir yang membelah kepalanya, Penyembuh Brown." Jawab Draco kalem. Weasley hanya memperhatikan mereka berdua dengan tidak antusias.
Seperti yang sudah Draco kira sebelumnya, Air muka Brown berubah semakin garang. Draco pura-pura tak acuh pada Brown dan melanjutkan mengobati Potter. Dia kemudian memasukkan empat sendok besar Sekle-Gro pada mulut Potter. Agak sedikit sulit sebenarnya—karena Potter sedang tidak sadar, tetapi tentu saja Draco bisa mengatasinya.
"EEEEHHHH! A-AP-APA! Berani sekali kau Malfoy! Berani-benarinya kau!" Brown tampak sangat berang. Draco menatapnya kemudian hanya mengangkat bahu. Weasley menatap Brown dengan tatapan kosong.
"KAU BERNIAT MERACUNI MR. POTTER! IYA KAN! PASTI TIDAK SALAH LAGI! SEMUA ORANG JUGA TAHU KAU ADALAH RIVAL MR. POTTER SEMASA SEKOLAH! MENGAKULAH! ATAU AKU LAPORKAN PADA PUSAT AGAR KAU DIKELUARKAN!"
Ekspresi Draco masih sama, sementara Weasley hanya menatap bego Brown. Sepertinya Weasley juga tahu jika Brown memang hampir kehilangan akal sehatnya. Semua orang waras dan bisa membaca juga pasti tahu, jika botol yang dipegang Draco bertuliskan Sekle-Gro—bukan Racun Ampuh Pembunuh Masa Kini Abad ke 21. Dia masih tidak mengatakan apa-apa, bahkan ketika Brown sudah menulis memo hijau kepada penyembuh kepala.
Kemudian Draco membuatkan secangkir kopi, dan memberikannya pada Weasles yang tampak menyedihkan. Kentara sekali di wajahnya, jika dia merasa sangat bersalah pada Potter. Weasley menerimanya dengan setengah kebingungan dan mengucapkan terima kasih.
Brown masih terlihat sangat berang, dan Draco tidak peduli. Draco kemudian berjalan kembali mendekati ranjang tempat Potter terbaring, kemudian membebat kencang gumpalan daging menyedihkan—yang tadinya adalah kaki Potter. Untung sekali Dittany bereaksi sangat cepat—jadi luka di kaki Potter, agak sedikit membaik.
Ketika Draco baru saja mau membersihkan kembali darah yang belepotan di sekitar kaki Potter, pintu bangsal menjeblak terbuka lagi.
Draco menengok hanya untuk melihat bahwa penyembuh kepala datang dengan wajah tergesa dan panik. Sepertinya Brown benar memberitahu penyembuh kepala atas tuduhannya pada Draco yang katanya sedang meracuni Potter. Kemudian penyembuh kepala celingkan dan mendapati jika Potter baik-baik saja dan sudah diobati dengan sempurna oleh Draco.
"Brown," kata penyembuh kepala. Wajahnya masam dan terlihat bahwa dia kelelahan. "Hebat sekali kau. Penyembuh kelas satu yang katanya jenius, tetapi tidak bisa membedakan orang yang sedang menyembuhkan dan meracuni orang, eh?"
Brown tidak terlihat panik sedikitpun, wajahnya menantang, kemudian dia berkata, "saya hanya memastikan jika Malfoy tidak akan meracuni Mr. Harry Potter, Sir. Semua juga tahu jika Malfoy mempunyai sejarah yang buruk dengan Potter, dan besar kemungkinannya dia akan menyakiti Mr. Harry Potter. Tadi saya ingin merawat Mr. Potter, tetapi si Malfoy yang tidak tahu malu ini malah mengambil alih tugas saya, padahal pangkatnya lebih rendah daripada saya, Sir. Seharusnya dia kan mengobati pasien wanita yang terkena cacar naga. Saya anggap itu adalah kelalaian dalam menjalankan tugas." Ucapnya dalam satu tarikan napas. Draco mau tak mau teringat akan Granger.
Penyembuh kepala menaikkan satu alisnya kemudian bertanya pada Draco, "dan benar begitu, Malfoy?"
"Sir, seperti yang anda lihat Potter sedang dalam keadaan genting. Dan ketika saya ke sini, hanya ada Hudgens yang sedang berudaha mengobatinya. Dan dia kebingungan, maka saya ambil tangan tugas ini. Karena sesuai peraturan St. Mungo, pasien yang sedang sekarat harus diprioritaskan. Jika saya menunggu kedatangan Penyembuh Brown, sudah dipastikan jika Potter bisa mati karena kehilangan banyak darah. Lagipula, saya sudah selesai menjalankan semua tugas saya untuk mengobati pasien-pasien lainnya sedari tadi." Jawab Draco kalem.
Kemudian selanjutnya, Brown tampak ingin sekali memantrai Draco, sementara penyembuh kepala hanya meghela napas.
"Baik, kalau begitu," penyembuh Brown angkat suara. "Mr. Malfoy, kuserahkan Mr. Potter padamu."
Butuh waktu empat puluh enam detik bagi Draco untuk memahami apa yang dikatakan oleh penyembuh kepala padanya. Kemudian Draco membulatkan kedua bola matanya. OKE DEMI JANGGUT SALAZAR DIA TIDAK MAU MENGURUS POTTER! HELL NO!
Brown juga tampak seperti habis dikecup Dementor. Kemudian dia melancarkan protes besar-besaran. Ketika Draco juga baru akan melayangkan protes, penyembuh Brown angkat bicara.
"Kenapa dengan kalian? Sudah dibuktikan jika Mr. Potter cocok ditangani oleh Malfoy. Dan kau, Brown, aku meragukan kecakapanmu setelah mendengar kau lambat dan salah memberi informasi. Lagipula, keberadaan Malfoy disini akan membantu kesembuhan Mr. Potter, karena diantara penyembuh yang lain, Malfoy-lah yang paling mengenal Potter. Jadi sudah kuputuskan jika Malfoy yang akan merawat Potter."
Brown sudah mangap-mangap seperti Merpeople yang terjebak di gurun pasir, dan Draco masih menganga. "Sir, aku mohon, jangan jadikan Potter pasienku. Aku sudah memiliki sebelas pasien tetap yang harus kutangani, dan kurasa Brown lebih cocok untuk tugas ini."
HELL NO! Dia tidak mau merawat Potter. Astaga dia tahu jika Potter adalah tukang rajuk kelas satu dan astaga—Draco tidak mau lagi berurusan dengannya. Mau Potter dulunya adalah orang yang paling sering dia jahili dulu, Draco tidak peduli. Sesungguhnya Draco mengobati Potter tadi semata-mata hanya untuk menjaga agar manusia bodoh itu tetap hidup, karena dia sudah terikat sumpah penyembuh bahwa siapapun pasiennya, dalam kedaan terdesak penyembuh harus menyelamatkan nyawanya.
"Dia benar, Sir. Bagaimana nanti jika Malfoy mengapa-apakan Mr. Potter. Semua orang tahu riwayat kelamnya, dan mau bagaimanapun, Malfoy adalah rival Mr. Potter. Seharusnya penyihir penting seperti Mr. Potter ditangani oleh penyembuh cakap seperti saya—"
"Cukup kalian berdua. Aku tidak mau dengar apapun alasannya. Malfoy kau akan merawat Mr. Potter sampai sembuh—dan kau Brown, aku tidak yakin kau adalah penyembuh cakap mengingat kelalaian yang sudah kau lakukan. Mengenai pasien Malfoy, kau yang akan menggantikan merawatnya Brown."
"Tapi..."
"Maaf, Sir, saya tidak—"
"Tidak ada tapi-tapi. Kau akan merawat Mr. Potter, Malfoy. Sampai sembuh. Mr. Potter adalah orang penting disini—sebelum beliau sembuh, kenaikan pangkatmu akan ditunda. Dan kau Brown, jika kau membantah lagi, pangkatmu akan diturunkan kembali menjadi penyembuh level tiga. Kalian berdua mengerti?"
Baik Draco maupun Brown hanya terdiam. Oke dia tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Sumpah, dia lebih baik merawat empat puluh pasien sehari, dibanding merawat satu pasien—jika pasien itu adalah Potter. Seharusnya tadi dia membiarkan Potter mati kehabisan darah saja.
"Oh ya—Mr. Weasley?" Penyembuh kepala memaggil Weasley yang masih memperhatikan mereka dengan pandangan bego. "Kau setuju jika Mr. Potter dirawat oleh Mr. Malfoy?"
Ron hanya mengangguk singkat. "Ya, kurasa Harry lebih baik ditangani oleh Malfoy, mengingat tadi Malfoy yang menyelamatkan nyawa Harry pertama kali. Dan dengan ancaman Anda, saya rasa Malfoy tidak akan berbuat macam-macam pada Harry."
"Baik, keputusan sudah ditetapkan. Brown, kau urus pasien Malfoy sekarang, dan kau Malfoy, kau tetap disini untuk mengobati Potter. Ah ya—anda boleh meninggalkan ruangan ini jika berkenan Mr. Weasley." Usai berkata seperti itu, penyembuh kepala meninggalkan ruangan, diikuti Brown yang bersungut-sungut dongkol.
Weasley kemudian berdiri. "Kupercayakan Harry padamu, Malfoy."
Kemudian dia meniggalkan bangsal, membiarkan Draco yang menatap Potter yang masih tidak sadarkan diri. Sepertinya, makan malamnya dengan Astoria harus batal malam ini.
.
.
.
TBC
.
A/n: Hola, ketemu lagi ma Ulil yang imoet. Ulil minta maap banget baru bisa apdet sekarang karena Ulil terkena banyak kendala. Nilai Ulil merosot banget akhir-akhir ini, dan waw Ulil terkena skandal sama pembina Osis jadi iya, dikeluarin dari Osis kemaren-kemaren. Belom lagi dari Maret sampe sekarang, leptop Ulil rusak dua kali, dan pas udah bener, semua datanya ilang, jadi semua draft ff dan folder film sama anime Ulil ilang semua :")
Yah maapkan atas singkatnya chap ini, tapi memang sengaja karena konflik di chap ini Cuma berkisar didaerah sini-sini aja. Dan maap lagi karena alurnya yang gaje dan kecepetan. Tapi makasih banget untuk readers semua yang udah baca fic ini, dan ulil ga menyangka atas respon luar biasa yang kalian berikan. Ulil sangat terharu :")
Oiya, review kalian semua udah ulil baca, dan maap belom bisa ulil bales satu-satu meskipun ada yang udah ulil bales pas awal-awal. Betewe, ulil sedang membusuk di kamar menunggu apdetan Hitorijime My Hero episode 10. Aduh gila Settagawa sama Kousuke unyu banget, ulil ga kuadddd *salah fandom woi*
Ah, udahlah ya, segini aja dari ulil. Sekali lagi maap dan makasih buat readers semua. Ketjup tjintah dari ulilil olala disini :*
