Chapter 2

An Rui terbangun dengan nafasnya yang memburu serta keringat yang bercucuran. Rasa sakit dan kecewa melebur jadi satu. Feeling insecure, mungkin hal ini lebih menggambarkan perasaannya saat ini. Pikirannya masih kalut dengan mimpi yang baru saja Ia alami, meski Ia tidak dapat mengingatnya. Seperti suatu hal mengerikan terjadi. Pikiran dan hatinya yang berkecamuk membuatnya kembali menangis dalam diam. Waktu masih menunjukkan pukul 6.30, itu artinya tidak lebih dari dua jam dirinya tertidur dan tiba-tiba saja Ia merasakan kram berlebih di perutnya.

Rasa sakit yang mendera terlalu membebani, namun tak tahu harus berkeluh kesah pada siapa. Bukan, bukan karena Ia tak memiliki sahabat maupun kerabat, but she couldn't has found someone she trust the most yet. Menurutnya, tidak mudah untuk membuka ataupun sekedar berbagi apa yang sedang dirasakan, terlebih ketika Ia sedang merasa tertekan. Ya, bisa dikatakan trust issue. She just doesn't know who to talk about her probs without getting hurt. Dirinya merasa lebih baik untuk tetap diam dan memendam permasalahan dari pada harus menderita ketika membicarakan hal yang tidak menyenangkan.

Masalah terbesarnya kini adalah Chanyeol yang notabene merupakan seorang public figure sehingga tidak semudah itu untuk mengungkap hubungan spesial yang terjalin di antara keduanya. Bahkan hanya segelintir orang yang berhak tahu perihal hubungan mereka, selain keluarga, kerabat terdekat, dan agensi yang menaungi Chanyeol.

Semakin lama berdiam diri rasanya semakin menyiksa, batin An Rui. Kemudian Ia teringat akan tugasnya yang ditinggalkan semalam sehingga ia memutuskan untuk segera beranjak dari kamarnya. Terlalu fokus pada hatinya, Ia lupa akan jadwal bulanannya. Ya, her period is coming! And it really kills her. Her mood, her physic, her feelings are all messy and successfully drop her down. Seraya menyesap teh hangatnya, Ia bersandar di sofa. Berusaha tak memikirkan apapun. Dysmenorrea yang dideritanya semakin parah seiring dengan tingkat stresnya yang sedang memuncak.

Sesungguhnya Ia tidak sedang berada dalam mood yang baik untuk makan, tapi Ia sadar kondisi fisiknya menuntut asupan ekstra. Tidak hanya karena tanggung jawabnya terhadap tugas-tugas kuliah, namun tanggal pernikahannya pun semakin mendekat. Ia sengaja membuat tuna sandwich with blueberry jam, her favorites, berharap rasa mual yang mendera tidak mengganggu acara sarapannya kini. Belum sempat Ia mengigit sandwich-nya, bel apartemen pun berbunyi. Sekilas melirik jam dinding dan masih menunjukkan pukul 7.33. "Siapa orang yang bertamu sepagi ini?", gerutunya. Mood-nya memang sedang tidak baik dan ditambah dengan sakit kepala yang luar biasa menyerangnya. Benar-benar kondisi yang buruk untuk memulai kamis paginya.

Fokusnya yang terbagi pada kepala yang sakit serta perut yang kram membuatnya tidak berpikir untuk sekedar melihat layar intercom. Terkejut Ia ketika melihat Suho Oppa telah berada tepat di hadapannya sehingga membuatnya limbung. Beruntung Suho cukup sigap untuk menangkap tubuhnya dan membantu untuk kembali duduk di sofa. Kekhawatiran menyelimuti diri Suho melihat wanita yang sudah dianggapnya sebagai adik saat ini terkulai lemah dengan wajah yang sangat pucat, lingkaran hitam di bawah matanya, serta sembab di matanya.

Pun masih tampak kilauan air di pelupuk mata sipitnya, hasil tangisan satu jam yang lalu. Suho memaksanya untuk ke rumah sakit atau setidaknya mendatangkan dokter pribadi, namun ditolaknya. Alih-alih menceritakan kejadian tadi malam, justru An Rui berkilah dysmenorrhea-nya sedikit parah akibat stres yang dialami seputar tugas kuliah dan urusan pernikahan. Ia masih berusaha menutupi apa yang terjadi tadi malam.

Sepuluh menit berlalu tanpa ada yang membuka suara. Suho tidak menyangka kondisi An Rui nyatanya lebih buruk dari bayangannya, bahkan lebih buruk dari keadaan Chanyeol malam tadi. Setelah menyisir seisi apartemen, Suho menemukan setangkup sandwich yang masih utuh di atas meja makan. "Rui-ya, kau belum menyentuh sarapanmu. Ini sudah hampir pukul 8 dan kau tampak sangat pucat. Aku suapi?". Hanya gelengan kepala yang terasa sangat berat sebagai jawaban yang diterima Suho. Lima menit cukup untuk membujuknya untuk mau menggigit satu kali sarapannya, namun nyatanya hal itu berhasil membuat gadis berdarah Tionghoa itu memuntahkan seluruh isi perutnya dan berakhir pingsan ketika keluar dari kamar mandi.

Dokter Ahn datang 35 menit setelah Suho menelepon. An Rui tidak dapat mengelak bahwa kondisi fisiknya sangat lemah. Dokter hanya menyarankan Ia untuk beristirahat lebih banyak, makan makanan sehat dengan teratur, dan upayakan untuk meminimalisir stres. Pesan terakhir sang dokter sukses membuat Suho menahan nafasnya. Beberapa jenis obat disarankan oleh dokter Ahn untuk membantu menenangkan fisik An Rui dan mempercepat proses penyembuhan.

Selepas perginya dokter Ahn, Suho segera menghubungi seluruh member, kecuali Chanyeol dan Baekhyun. Ia harus meminta bantuan setidaknya untuk mendorong agar An Rui mau menceritakan kegundahan hatinya dan membantu memberikan dukungan moril. Bercerita kepada keluarganya merupakan opsi terkahir, Suho tahu itu. Keluarga An Rui tentu akan sangat menentang hubungannya dengan Chanyeol bila mengetahui permasalahan tersebut. Suho tak ingin kejadian ketika keluarga Chanyeol menentang hubungan keduanya terulang kembali.

Satu jam kemudian Yixing datang. Ia memutuskan untuk menjenguk An Rui terlebih dahulu sebelum berolak ke Cina nanti malam untuk melakukan sebuah pemotretan atas nama salah satu brand yang meng-hire-nya sebagai brand ambassador. Serupa dengan Suho, Ia telah menganggap An Rui sebagai adiknya sendiri, meski Ia tahu bahwa An Rui pernah jatuh hati kepadanya sebelum akhirnya Chanyeol berhasil menakhlukan hatinya.

Suho menceritakan seluruh kejadian tadi malam kepada Yixing. Siapa pun yang mendengarnya, dipastikan akan sangat terkejut. Mereka sudah sepakat termasuk dengan Chanyeol untuk memberitahukan perihal ini di waktu yang tepat. Namun sepertinya kali ini Chanyeol salah membuat perhitungan. Keduanya mendiskusikan langkah terbaik yang harus segera dilakukan dalam waktu dekat. An Rui tidak mungkin bertemu dengan Chanyeol dan juga Baekhyun, at least hingga suasana hatinya sudah lebih terkontrol dan kondisi fisiknya membaik.

Sekitar pukul 1 siang, Suho membangunkan An Rui. Yixing telah memesan makan siang dan juga meminta supir pribadinya untuk menebus resep yang diberikan oleh dokter Ahn tadi. Pikirannya sudah berangsur membaik dan hey, mengapa kedua bandmate tunangannya berada disini? An Rui sedikit menaruh curiga karena kedatangan mereka tepat disaat Ia terpuruk dan sangat membutuhkan orang lain.

Selagi Yixing menyuapinya, An Rui bertanya "apa yang membuat kalian datang kesini?". Keduanya saling betatapan dan Suho segera menjawab "tadinya aku hanya berniat untuk membawakan moon cake kesukaanmu sebelum kau pergi ke perpustakaan", seraya menunjuk kotak moon cake di atas meja makannya. Ia akhirnya teringat bahwa dua hari sebelumnya, Ia sudah memberi tahu Suho bahwa Ia akan pergi ke perpustakaan jumat pagi dan Suho berjanji akan membelikan moon cake sebagai penyemangat. Kemudian Yixing segera menambahkan, "dan aku memiliki beberapa hal yang harus aku diskusikan dengan Suho secara langsung sebelum aku berangkat ke Cina nanti malam". Meski perasaan curiga masih ada, namun Ia tak memiliki keberanian untuk menanyakannya lebih lanjut. Ia memilih diam, mengubur dalam-dalam kegundahan yang sedang dirasakan.

Tanpa sadar, air mata menggenangi pelupuk matanya lagi. Yixing melihat hal tersebut dengan jelas dan mencoba menyadarkan An Rui dari pikirannya sendiri. Namun dengan tatapan kosong dan tak mengindahkan panggilan dari Yixing, pipinya kembali basah. Ia tak kuasa menahan perasaannya lagi. Beban ini terlalu berat. Ia segera beranjak dari sofa menuju tempat tidurnya, kemudian menangis di pinggir ranjang dengan tangan yang memeluk lutut. Suho dan Yixing hanya mengamati dari ruang TV. Mereka sadar An Rui masih membutuhkan waktu untuk sendiri. Suara tangisnya lambat laun terdengar semakin jelas. Memilukan dan sangat mengiris hati. Hanya dengan mendengarkan suara tangisnya pun, sudah dapat dibayangkan betapa sakitnya hati An Rui saat ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore dan Yixing harus segera pergi menuju bandara. Ia menaiki beberapa anak tangga untuk sampai di ruang tidur An Rui. Apartemen yang berjenis loft berukuran 32m2 memang sedikit unik karena ruang tidurnya berada di atas dapur dan kamar mandi. Yixing berpamitan pada An Rui sambil memeluknya dan berpesan agar apapun masalah yang sedang dihadapinya kini, jangan pernah sungkan untuk menghubunginya kapan pun. Yixing memastikan bahwa Ia akan selalu ada untuk adik kesayangannya tersebut. An Rui terlihat sedikit lebih tenang dengan ucapan Yixing dan segera Ia mengangguk kecil sambil tersenyum lemah. Setidaknya Ia memiliki harapan untuk mendapatkan bantuan dari Gege yang dulu pernah menyita hatinya. Tentu Ia tahu dan sangat yakin bahwa Yixing akan membantu dan dapat dipercaya untuk menjaga rahasianya.

Setelah Yixing pergi, Suho segera menuju ruang tidur An Rui. Suho meminta izin agar Ia diperbolehkan menemaninya disana. Hanya ada anggukan samar tanpa suara, kecuali isak tangisnya. Pelahan Suho mendekati An Rui dan memeluknya. Hatinya pun menangis menyaksikan kepiluan yang ada. Tak ada yang bisa disalahkan. Ia hanya berharap semua permasalahan ini segera mendapatkan titik temu dan tentunya berupa kebaikan untuk keduanya. 15 menit berselang, akhirnya An Rui membuka suara, setelah Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Suho memang dapat dipercaya. Tangisnya semakin pecah saat Ia mengingat kembali kata demi kata yang dilontarkan oleh Chanyeol tadi malam. Namun pada akhirnya tak satu pun hal luput dari pengetahuan Suho.

EXO's dorm

Hanya tersisa Chanyeol dan Baekhyun sebab keduanya memang tidak memiliki jadwal apapun hari ini. Sebenarnya Chanyeol berencana untuk mengunjungi kediaman keluarganya. Namun mengingat semua tidak berjalan sesuai ekspektasi, Ia mengurungkan niat tersebut. Keluarganya memang mengetahui perihal hubungan kasih antara Chanyeol dan Baekhyun dulu dan tidak ada satu pun yang menentang. Hari ini Chanyeol berniat untuk menceritakan kepada kedua orang tua dan kakak perempuannya bahwa Ia sudah berterus terang pada An Rui. Berhubung orang tuanya belum mengetahui akan niatnya tersebut, Ia hanya menelepon Ibunya di pagi hari seperti yang biasa Ia lakukan setiap harinya. Lagipula Chanyeol merasa badannya kurang sehat.

Baekhyun merasa ada yang aneh dari Chanyeol, meski Ia tidak mengetahui kejadian malam tadi namun Chanyeol terlihat sangat diam dan cenderung menghindari Baekhyun. Baekhyun tidak suka dengan situasi seperti ini. Ia memang masih menyimpan seluruh cintanya untuk Chanyeol, namun Ia sadar bahwa dunia tidak merestuinya. Itulah mengapa Baekhyun merelakan kebahagiaan Chanyeol dengan An Rui. Tidak pernah sekali pun Baekhyun terbesit untuk menjauhi Chanyeol, meski tak munafik bahwa rasa cemburu itu ada.

Baekhyun langsung masuk ke kamar Chanyeol tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Betapa terkejutnya Ia ketika melihat seluruh isi kamar Chanyeol seperti kapal pecah, banyak benda bergeletakan di lantai. Sesuatu hal besar pasti terjadi. Chanyeol bukan tipikal orang yang akan membiarkan barang-barang kesayangannya berantakan, apalagi sampai berada di atas lantai, termasuk boneka Nick dan Judy kesayangannya. Potret dirinya dengan An Rui yang biasa tergantung manis di dinding atas kepala ranjang kini sudah berpindah tempat ke dalam pelukan Chanyeol.

Saat ini Chanyeol sedang tertidur dengan posisi yang tidak wajar dan tentunya sangat tidak nyaman. Tak ingin mengganggu tidurnya karena Baekhyun dapat melihat kesedihan dan juga rasa sakit yang Chanyeol rasakan. Wajah polosnya tak dapat menutupi itu, bahkan ketika tidur pun semuanya begitu jelas bagi Baekhyun. Ia tidak hanya sekedar 1-2 tahun tinggal bersama dengan Chanyeol, bahkan Ia pernah menjalin hubungan spesial lebih dari 5 tahun. Selagi Ia menenangkan hatinya sendiri, Ia merapikan seisi kamar Chanyeol.

Ketika Baekhyun menaruh bonekanya di sisi ranjang, Chanyeol sedikit terusik dan akhirnya terbangun. Hanya satu kata yang dapat menggambarkan situasi saat ini, canggung. Baekhyun segera menarik diri, "ah ah.. maaf mengganggu tidurmu. A-aku... ku pikir kau sakit, jadi aku memutuskan untuk mencarimu. Ah ya, member lain memiliki banyak kegiatan hari ini. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa memanggilku. Aku akan kembali ke kamar". Baekhyun segera mengalihkan pandangannya dari mata Chanyeol dan bergegas keluar dari ruangan itu. Namun dengan segera Chanyeol menahan pergelangan lengan Baekhyun, memintanya untuk tetap disana. Chanyeol benar-benar membutuhkan Baekhyun. Hatinya sungguh tak menentu saat ini. Baekhyun mau tidak mau menuruti permintaan Chanyeol dan duduk di samping Chanyeol yang saat ini sudah menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.

Chanyeol kemudian menceritakan semuanya. Ia sungguh tak tahu apakah telah mengambil keputusannya tepat untuk mengatakan yang sesungguhnya pada An Rui. Bak petir di siang bolong, tangis Baekhyun pun pecah. Di satu sisi Ia merasa kasihan pada An Rui, namun di sisi lain Ia khawatir pada Chanyeol. Namun Baekhyun tidak bisa mengelak bahwa hatinya masih dimiliki oleh Chanyeol, seutuhnya. Egois itu masih ada. Ia masih berharap akan ada kesempatan lain yang dapat mempersatukan keduanya. Tapi sesegera mungkin Ia tepis pemikiran tersebut dan berusaha keras menahan air matanya. Sejujurnya saat ini mata Baekhyun sudah terasa sangat panas. Hanya saja, Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu mendukung apapun keputusan Chanyeol. Apalagi saat ini Chanyeol sudah menyandang status sebagai An Rui's fiancé, bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan.

Rupanya Baekhyun cukup cepat pulih dari keterkejutannya. Ia menenangkan Chanyeol yang sudah kembali menggila dengan tangisnya. Begitu frustrasi dengan kondisinya saat ini. Baekhyun meyakinkan Chanyeol bahwa semua akan baik-baik saja. Setidaknya Ia berharap semua akan kembali seperti sedia kala, sesegera mungkin. Entah apa yang dipikirkan dan dilontarkan oleh Baekhyun saat itu, tapi kata-katanya sangat menenangkan bagi Chanyeol hingga akhirnya Chanyeol bisa kembali tidur dengan tenang. Setelahnya Baekhyun pun kembali ke kamar dengan lelehan air mata di pipinya. Pertahanan itu hanya efektif untuk beberapa saat. Ternyata menguatkan hati sang mantan pacar kembali membuat hatinya terasa remuk berkeping-keping. Saat ini giliran pikirannya yang berubah kalut.

TBC

How about this?

Apakah ada yang nungguin? Maaf banget baru bisa balik nulis karena real life lagi bemar-benar demanding, so yaa... I'm so sorry

Komen dan/atau review-nya please :)

Thank you!

-candyjelly614