Hargai karya yang kalian baca dengan meninggalkan jejak. Enjoy!
[ Wonderwall 1st Chapter ; Blooming ]
Seoul sudah memasuki minggu ke-4 di musim semi, namun terpaan udara dingin belum juga beranjak meninggalkan kota yang sibuk itu. Seokjin merapatkan kembali jaket tebalnya lalu masuk ke rumah- sekaligus perpustakaan milik kakeknya. Ia melepas jaketnya setelah merasakan sedikit efek dari penghangat ruangan, sambil mengeluh sesekali tentu saja. "Kakek, aku pulang~", seru Seokjin semangat.
Langkahnya pun berhenti di ruang makan saat Ia melihat kakeknya sedang menata piring dan gelas. Sudah waktunya makan siang bagi kakek Kim dan cucu tersayangnya itu. "Perlu bantuan, 'kek?", Seokjin menghampiri kakeknya yang tampak belum menyadari keberadaan sang cucu.
"Astaga, Jin-ah.. kau mengagetkanku. Tidak perlu, kau sudah repot belanja dan memotong bahan-bahan tadi pagi. Sekarang giliran kakek. Sudah sudah, duduklah", sang kakek pun mengarahkan Seokjin untuk duduk di kursi makan dan hanya disambut kekehan kecil dari bibir si manis. "Terima kasih, kek".
Kakek Kim pun meletakkan panci kecil yang berisi sundubu jjigae kesukaan Seokjin. "Gila, sudah musim semi tapi rasanya seperti berada di gunung es", keluh sang kakek. Seokjin pun menyendok sup tadi lalu ia tuangkan ke mangkuk kakeknya. "Kukira hanya tubuhku yang kurang sehat, ternyata kakek juga merasa begitu".
Sepasang kakek dan cucu itu pun makan dengan lahap seperti biasa. Di tengah cuaca yang masih dingin ini, makan sup selagi masih panas adalah hal terbaik bagi mereka berdua.
Usai makan, Seokjin pun merapikan sekaligus mencuci peralatan makan mereka. Sang kakek ikut membantu dengan mengelap meja makan. "Sekarang kakek istirahat saja, biasanya kakek mudah flu kalau cuaca seperti ini". Kakek pun senang-senang saja saat Seokjin bilang begitu, tak diragukan lagi memang cucu tersayangnya. "Kau yang terbaik, Jin-ah".
Seokjin pun menyudahi kegiatannya di ruang makan dan menuju pintu depan untuk memasang tanda 'buka'. Tepat pukul satu, perpustakaan kecil milik kakeknya akan dibuka lalu tutup sekitar pukul lima sore. Setelah itu Seokjin akan bersiap di kursinya, menyambut pengunjung yang akan datang untuk membaca buku di tempat maupun meminjam buku untuk dibaca di rumah.
'tring', bel kecil di pintu depannya pun berbunyi. Pengunjung pertama.
Seokjin yang baru saja duduk pun sedikit kaget. "Selamat da- tang..", ujarnya kaku. Bagaimana tidak, itu adalah 'dia'. Seorang pengunjung tampan yang akhir-akhir ini menarik perhatian Seokjin. Yang Seokjin ketahui dari daftar buku tamunya hanyalah sebuah nama, Kim Namjoon.
Pria itu menunduk sopan pada Seokjin lalu Ia langsung melangkahkan kaki jenjangnya ke rak buku-buku sosial, mengambil sebuah buku tebal lalu duduk di kursi yang disediakan disana.
Kim Namjoon sudah mengunjungi perpustakaan milik kakek Kim sejak awal musim semi. Awalnya Seokjin tidak terlalu menanggapi keberadaan pria tampan itu. Namun, semua berubah saat pertama kali Seokjin tanpa sengaja melihat senyuman menggoda disertai lesung pipi milik Namjoon saat membaca sebuah buku. Penasaran. Rasa itu kian tumbuh di dada Seokjin sampai detik ini.
Hampir satu jam berlalu, Namjoon pun berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri rak buku lain yang kebetulan dekat dengan meja Seokjin. Seokjin pun sedikit melirik ke arah pria itu, dan tanpa sengaja kedua netra mereka bertemu selama beberapa detik. Merasa sedikit panas, Seokjin pun memutus pandangannya lalu melirik kembali. Sayangnya, pria tinggi itu sudah kembali ke tempat duduk dengan buku tebal lain di tangannya. Mungkin berlebihan, tapi rasanya Seokjin ingin membenturkan kepalanya ke meja sekarang juga.
Sekitar pukul dua lebih sepuluh menit, kakek Kim keluar dari kamarnya. "Oh.. si pintar Namjoon-ah", sapa sang kakek pada pelanggannya itu. "Kakek Kim", balas Namjoon lalu membungkuk sopan. Tanpa disadari, seseorang disana merasa iri dengan interaksi kecil mereka.
Sambil merengut, Seokjin mengeluarkan ponselnya untuk bermain game. Kakeknya sudah kembali ke dalam setelah mengecek keadaan perpustakaan, tidak tahu untuk apa beliau melakukan itu.
Namjoon menyelesaikan bacaannya sekitar pukul tiga, karena beberapa pengunjung mulai berdatangan. Ada yang datang hanya untuk membaca komik sambil melirik si penjaga perpustakaan manis, ada pula yang benar-benar mencari bahan untuk tugas. Namjoon yang kurang suka keramaian pun akhirnya beranjak pergi. Tapi sebelumnya Ia sudah berpamitan dengan sopan pada Seokjin seperti biasa.
Sudah lebih dari 4 jam lalu sejak Namjoon meninggalkan perpustakaan tempat Seokjin bekerja, dan selama itu pula pria 26 tahun itu memikirkannya. Terima kasih kepada sang kakek yang tanpa curiga memberi tahu sedikit informasi mengenai 'crush'-nya itu. Seorang model berusia 24 tahun, sekaligus seorang mahasiswa di Universitas Hanyang- tidak terlalu jauh dari kampusnya.
Yang tidak Seokjin maupun kakeknya ketahui adalah status hubungan dan orientasi seksual Namjoon. Bagaimana jika Namjoon straight dan bahkan sudah memiliki kekasih? Wanita mana yang tidak ingin jadi kekasihnya, ya 'kan? Dengan sekali kedip, semua wanita akan berlutut padanya.. dan oh- Seokjin kita juga pasti ikut bertekuk lutut akan pesona seorang model Kim.
Usai makan malam, Seokjin akan mengurung diri di kamar untuk menyicil draft tesisnya. Setelah bosan, Ia hanya akan bermain game atau chatting dengan Hoseok. Ngomong-ngomong soal Hoseok, Seokjin ingat jika Ia belum melapor soal Namjoon hari ini. Dengan semangat, Seokjin mengambil ponselnya lalu mengetik kata-kata di ruang chat.
Keesokan harinya Seokjin beraktifitas di kampus seperti biasa. Kali ini Seokjin sedang berkutat dengan laptopnya di perpustakaan kampus. Mencoba menyusun draft tesis tercintanya yang sudah menunggu untuk diselesaikan. Oh, ingatkan Seokjin kalau draft itu akan diperiksa besok oleh Mr. Park tepat jam 9 pagi.
"Jin hyung", sapa seseorang tiba-tiba lalu duduk di depan Seokjin.
"Oh, Hoseok~~".
"Sebegitu senangnya melihatku?", goda Hoseok sambil menaik-turunkan alisnya.
"Bodoh. Aku ingin membicarakan yang semalam~", ujar Seokjin sumringah kemudian bergegas menutup laptopnya. Doakan saja ada mukjizat supaya tugasnya sudah selesai saat Ia membukanya lagi nanti.
Hoseok menghela nafas, Ia memasang wajah 'siap-mendengarkan-walaupun-akan-melelahkan' nya lagi.
Dan benar saja, hampir satu jam Seokjin bercerita panjang lebar hanya karna matanya dan Namjoon tidak sengaja bertemu kemarin. Bahkan sesekali mengaitkannya dengan takdir Tuhan.
"Jadi.. Kau tidak berhasil mendapatkan kontaknya?", dengus Hoseok.
"Aku tidak mau mati muda.. kontak mata dengannya saja aku sudah mau pingsan", jawab Seokjin dengan wajah bersemu seperti anak gadis yang baru mengenal cinta.
"Aish.. begini, aku punya teman lama di Hanyang. Namanya Yoongi. Kalau hyung memang serius, aku akan minta bantuan padanya".
"A-Aku serius.. tapi... pasti memalukan. Tidak tidak, aku akan jadi penggemar rahasianya saja seumur hidup", Seokjin menunduk, membayangkan hanya bisa jadi pengagumnya saja sudah sangat menyakitkan. Bagaimana jika Ia melihat Namjoon dengan orang lain?
Sementara Seokjin sibuk dengan pikirannya, di sebrang meja, Hoseok sedang melakukan hal yang lebih berguna. "Halo, Yoongi hyung? Ini Hoseok. Ya, sudah lama tidak mengobrol.. hahaha".
Seokjin mendelik pada Hoseok. Menarik-narik tangannya beberapa kali agar Hoseok berhenti berbicara dengan orang bernama Yoongi itu. Hoseok hanya menunjukkan seringaian isengnya pada Seokjin dan tetap melanjutkan obrolannya dengan Yoongi.
"Yoongi hyung, kau kenal dengan model bernama Kim Namjoon? kudengar dia satu kampus denganmu. Temanku berencana untuk mewawancarainya untuk tugas akhir", ujar Hoseok berbohong.
"Oh, dia adik kelas hyung?? Kebetulan sekali kalau begitu..". Bukannya senang yang Seokjin rasakan, Ia malah panik. Menyalahkan dunia yang begitu sempit ini sambil.. memukul-mukul meja tanpa bersuara. Syukurlah Ia masih ingat kalau ini perpustakaan. Tak lama, Hoseok menutup telponnya dan memandang Seokjin dengan senyuman lebar.
"Pertemuan dengan model Kim kesayangan hyung akan diatur, bersiaplah", ujar Hoseok sambil mengerlingkan matanya lalu pergi begitu saja meninggalkan seniornya yang membatu di tempat.
"JUNG HOSEOK SIALAAAAAAN"
"Sssstt! Ini perpustakaan!"
Seokjin kembali ke rumahnya dengan langkah lunglai. Bayangkan saja, setengah hari di kampus hanya digunakan untuk satu jam pelajaran dan menyusun tesisnya- yang sayangnya hanya menghasilkan dua lembar ketikan baru.
Kembali ke rutinitasnya setelah makan siang, menjaga perpustakaan. Walau rasanya ingin sekali tidur dan berguling di kamar, Seokjin tidak akan tega pada kakeknya. Rasa kantuknya pun menguap begitu saja saat Seokjin mendengar bunyi bel dari pintu. Itu Namjoon, tentu saja. Seperti biasa, Ia akan memberi salam sederhana pada Seokjin dan berlalu menuju rak-rak buku begitu saja.
Dia datang lagi.
Tampan sekali.
Seru Seokjin dalam hati kecilnya. Sesekali melirik sang pujaan hati yang tengah asik membolak-balik halaman buku di hadapannya. Rak-rak buku yang berjejer tak menghalangi Seokjin untuk mencuri pandang ke arah Namjoon. Merasa masih kurang cukup, Seokjin memberanikan diri untuk menghampiri sang model Kim.
Dengan membawa tumpukan buku sebagai alibi, Seokjin pun menjalankan aksi 'pura-pura mengembalikan buku ke tempatnya' sambil terus melirik Namjoon yang masih tak bergeming. Dengan sedikit kesal karna tak sedikitpun digubris oleh Namjoon, Ia pun mengeluarkan ponselnya dan nekat mengambil gambar sang model Kim.
Ckrek.
Dengan sialnya, Namjoon menoleh ke arah Seokjin. Yang ditatap pun mematung di tempat dan kembali memasukkan ponselnya ke kantung celana.
"M-maaf.. Kakek menyuruhku untuk mengambil foto pengunjung disini untuk kenang-kenangan. Kalau kau tidak berkenan, aku akan mengha-"
"Tidak, simpan saja tidak apa-apa", kebohongan Seokjin terpaksa dipotong dengan jawaban kilat dari Namjoon. Seokjin yang kikuk pun memutuskan untuk kembali ke mejanya dan bersumpah akan membenturkan kepalanya nanti. Namun, baru beberapa langkah, sebuah suara memaksanya untuk berhenti.
"Jadi kakek Kim itu kakekmu?",
Itu suara Namjoon. Bertanya pada Seokjin tanpa mengalihkan pandangan dari buku tercintanya. Seokjin pun berbalik sambil berusaha menetralkan nafasnya. Ia jadi semakin ingin membenturkan kepalanya ke meja setelah ini.
"Um.. iya, b-beliau kakek kandungku", jawab Seokjin sedikit terbata. Oh, siapapun akan begitu di hadapan sang pujaan, bukan?
"Hm..", gumam Namjoon singkat lalu mengulas sedikit senyum untuk Seokjin. Seokjin yang sudah tidak mampu menahan perasaan yang membuncah pun memutuskan untuk pamit lagi dari hadapan Namjoon. Dengan sedikit berlari, Ia kembali ke mejanya lalu menyembunyikan wajah merahnya dibalik tumpukan buku.
"Hyung... apa??", teriak Hoseok di sebrang telepon.
"Akuuu dan Namjoon.. bicara", jawabnya dengan bibir yang sedikit mengerucut.
"Apa yang hyung bicarakan memangnya?".
"Rahasia!".
"Kujamin pasti tidak penting".
"Heeey!".
"Oh iya, hyung mau tau satu hal menarik?".
"Apa?".
"Tadi pagi Yoongi hyung sudah mengajak Namjoon untuk bertemu. Tapi Namjoon menolak".
"Tuhkan sudah pasti Ia tidak ma-"
"Karna Ia ingin pergi ke perpustakaan kakekmu, hyung.. Jadi dia bilang tidak bisa interview hari ini".
Seokjin mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali, sedikit mengorek telinganya untuk meyakinkan agar Ia tidak salah dengar.
"J...jadi maksudmu.. Namjoon-ku menolak tawaran interview palsumu dan memilih untuk pergi ke perpustakaan kakek??", seru Seokjin semangat- dan sedikit berteriak lebih tepatnya.
"Tepat sekali".
Dan untuk kesekian kalinya, Seokjin dibuat tak mampu bergerak hari ini.
-- To Be Continued
Yeaaaay akhirnya update! Jangan lupa komentarnya yaaa
yang silent reader aku sunat (?)
