Hate, Hurt, Kill Me Now!
CHAPTER 2
Warning! YAOI, Semi-antagonis!Main chara, M-PREG bikin muntah (ini serius), Alur tidak beraturan, Typo(s) gak masuk akal.
Pair! Johnny x Ten
NCT adalah punya Sment, saya cuma pinjem nama dan gejolak cinta yang mereka rasakan satu sama lain (?)
.
Happy Reading
.
Benar dan salah itu sesuatu yang semu. Ketika pepatah mengatakan manusia akan dewasa saat mereka telah bisa membedakan apa itu benar dan salah, lalu kenapa orang dewasa masih banyak terjerumus dalam kesengsaraan yang diawali dari sesuatu yang salah? Kenapa mereka membuat pilihan yang salah?
Mata manusia kadang rabun untuk melihat ada sebuah titik putih ditengah hitam. Tapi begitu peka melihat noda hitam di atas putih.
Ten tidak suka mengakuinya. Dia tidak suka mengakui betapa banyak hal dia korbankan untuk berbuat baik, tetapi sia-sia hanya karena satu kesalahan yang bahkan tidak dia lakukan. Hanya karena dia anggota kelompok Shiyam. Parahnya, satu-satunya penerus pemimpin kelompok Shiyam. Kebaikan-kebaikan itu tak pernah terlihat. Tertutup oleh stereotip identitas kelompok yang dia pegang.
Diluar semua itu. Toh, Ten tak benar-benar putih. Dia melakukan kesalahan tentu saja. Memeras, penipu, memaksa, menyekap, apapun dia lakukan untuk mewujudkan tujuan-tujuan kelompok dan grupnya. Tapi apakah itu adalah tujuannya?
BRAK!
"Kantor penyiaran CBS sudah gulung tikar dua tahun yang lalu. Mantan gubernur Bae Seoung Ho dipenjara karena tuduhan kasus korupsi setahun lalu. Dan sekarang, Bae Joo Hyun meninggal diduga bunuh diri lompat dari atap gedung apartemennya."
Ten menatap satu persatu orang yang datang dalam pertemuan kelompok itu. Ia melihat begitu hebat sang kakek memilih mereka berdasarkan kelicikan dan kecerdasannya sebagai orang-orang penting kelompok Shiyam.
Tak satupun menanggapi kalimat berita Ten. Semua orang mengetahui berita duka yang terjadi bertubi-tubi pada keluarga itu. Tapi, mereka tidak paham apa hubungan keluarga itu dengan kepentingan mereka.
"Kalian tahu, keluarga itu, musuh kita itu... menyerahkan permatanya padaku. Seo Hye In."
Sontak ruangan tersebut berubah gaduh. Tak ada yang menyangka hal itu akan terjadi. Keluarga seberang sana tidak mungkin sebodoh itu menyerahkan keturunannya pada kelompok musuh. Kini malah timbul pertanyaan, apa yang sedang direncakan keluarga Seo itu.
"Aku tidak pernah lagi berhubungan dengan mereka sejak dua tahun yang lalu. Kami tidak berkomunikasi dengan baik, kami tidak saling bertengkar. Tapi tiba-tiba, Irene memberikan hak asuh anaknya padaku. Bukankah itu aneh?"
"Tuan Lee, apa mungkin mereka sedang merencanakan sesuatu?" tanya salah satu pria paruh baya.
"Rencana? Sampai saat ini mereka punya hanya Seo Youngho. Apa mungkin dia rela membuat skenario untuk membalas kita dengan membunuh istrinya? Harga yang tidak setimpal."
"Lalu, apa yang membuat tuan khawatir? Mereka sudah tidak punya apapun untuk menyerang kita."
"Yang membuatku khawatir?"
Ten terkikik kecil. Smirk geli terpampang di wajahnya.
"Aku khawatir bukan keluarga mereka yang ingin menyerang kelompok Shiyam. Tapi salah satu dari kalian!"
Ketidakpercayaan sang pemimpin membuat wajah beberapa orang berubah masam. Mereka tak sependapat dan tak terima dikatai sebagai penghianat.
"Aku akan cari tahu. Kalau terbukti ada seseorang dari kalian yang memanfaatkan keluarga Seo untuk berkhianat terhadap kelompok Shiyam, kalian tahu akibatnya. Rapat selesai!"
.
Johnny membuka pintu kamar anaknya dengan lemah. Ruangan bernuansa biru muda yang sengaja ia ciptakan untuk sang putri dengan sepenuh hati, kini tak terlihat indah. Bayi berusia hampir dua tahun yang menghuni kamar itu tengah tertidur dalam dekapan pengasuhnya.
"Kau tidak perlu datang lagi mulai besok." Ucap Johnny pada pengasuh Herin. Wanita itu hanya bisa mengangguk pasrah. Paham sepenuhnya dengan keadaan sang majikan yang tidak membutuhkannya lagi.
Di kamar itu, akhirnya Johnny berdua dengan malaikatnya. Satu-satunya keluarga yang sekarang dia punya. Tanpa sadar laki-laki itu telah menangis tersedu. Melihat wajah tenang putrinya membuat hatinya hancur. Dia merasa tidak berguna sebagai laki-laki, sebagai kepala keluarga, sebagai ayah. Semua perannya sudah dia rusak sendiri.
"Maafkan daddy."
Johnny tidak bisa membayangkan Herin ikut menghilang dari hidupnya. Dia ingin membawa putrinya pergi jauh-jauh dari kota ini, kalau bisa ke Amerika dimana dia dilahirkan. Namun, dengan bekal apa dia pergi kesana? Kini dia hanya pengangguran yang tidak punya uang. Bahkan hidup mereka esok hari, Johnny tidak bisa memastikannya.
"Dad..." suara kecil itu membuat Johnny terperajat. Ia segera menghapus air matanya.
Herin merangkak mendekati Johnny. Tangannya menggapai-gapai udara meminta gendongan. Sang ayah tentu saja tidak menolak permintaan itu. Saat akhirnya ada di dalam dekapan Johnny, Herin tak mengatakan apapun. Dia hanya diam memeluk leher ayahnya.
"Daddy akan lakukan apapun. Bersabarlah..."
.
Pertemuan pagi itu tidak lebih hanya sekedar pengambilan Herin dari Johnny oleh Ten. Tidak ada penolakan, tidak ada caci maki yang keluar dari bibir Johnny. Saking lancarnya, Ten mulai menduga-duga isi kepala Johnny. Apa yang laki-laki itu pikirkan sekarang sampai bisa bersikap setenang itu?
Kini dia berdiri di depan gerbang sekolah Minhyung dengan menggendong Herin. Anak itu menangis keras saat dipaksa berpisah dengan ayahnya. Selama satu jam tangisan itu tak berhenti. Membisingi seisi mobil sampai Taeyong berdecak beberapa kali. Ten hanya menepuk punggung balita itu terus menerus tanpa berkata apapun. Matanya menerawang jauh. Tak fokus dengan apa yang tengah dia lakukan.
Beberapa orang tua yang juga menjemput anaknya terlihat heran dengan keberadaan gadis kecil yang tertidur dalam gendongan Ten. Bisik-bisik diantara mereka terdengar terlalu jelas untuk Ten dengar. Mereka mencibir dan sibuk menduga-duga kenapa bayi itu sekarang ada bersamanya.
Lalu, ibu Jeno mendekatinya. "Anakmu? Aku tidak tahu kau hamil lagi."
Ten tidak menjawab. Terlalu banyak hal yang sedang dia pikirkan sampai memikirkan jawaban pertanyaan itu saja dia merasa kepalanya mau pecah. Dia akhirnya hanya tersenyum penuh misteri. Menghormati keputusan ibu sahabat temannya yang memilih langsung bertanya ketimbang mencibir di belakang.
Seperti biasa, Minhyung keluar dari gedung sekolahnya bersama Jeno. Tetapi kali ini dia tak terburu mendekati Ten karena minta digendong. Mata jernihnya seakan mengkilap melihat sosok anak perempuan di gendongan ibunya. Sampai beberapa saat dia hanya menatap Herin tanpa bicara atau mengomentari apapun.
"Minhyung, perkenalkan. Ini Herin." Ucap Ten pada anak laki-lakinya. Dia bahkan sampai membalikkan badan agar Minhyung bisa melihat wajah Herin yang masih tertidur.
"Helin? Helin, nugu?"
Pertanyaan yang sama kini dipertanyakan anaknya. Dan Ten tetap merasa bingung untuk menjawabnya.
"Teman Minhyung yang baru. Mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita?"
"Apa itu altinya kita keluarga? Kata ibu gulu, semua yang tinggal dalam satu lumah itu keluarga."
Ten tertawa kecil. Putranya ternyata kritis juga. Benar-benar calon penerus Shiyam. Dia meraih tangan Minhyung lalu mengajaknya berjalan ke mobil.
"Minhyung mau makan apa? Kita kedatangan Taeyong."
"Woaaa! Minyung mau tteok! Pakai keju. Disuapi Taeyong!"
Lagi-lagi Ten tertawa. Kali ini cukup keras sampai Herin terbangun.
Minhyung duduk di kursi belakang bersama dengan Herin yang duduk di kursi khususnya. Sementara Ten duduk di depan bersama Taeyong.
"Annyeong..." bisik Minhyung pada Herin yang kebingungan. "Aku Minyung, kamu... em..."
"Namanya Herin." Kata Taeyong seakan bisa membaca kebingungan Minhyung.
"Iya! Halo Helin! Kamu kecil sepelti Koeun, apa altinya kamu pelempuan?"
Herin menatap Minhyung, lalu Ten yang sekarang sedang melihat interaksi kedua balita itu. Tiba-tiba tangan Minhyung dengan jahil mencubit pipinya. Sontak gadis kecil itu menjerit lalu tangisnya pecah.
Taeyong menepikan mobilnya tanpa komando. Ten keluar dari mobil lalu pindah ke belakang. Dia segera mengambil Herin lalu mencoba menenangkannya.
"Jalan, Taeyong." Tahu bahwa tangisan itu tidak akan cepat berhenti, Ten menyuruh Taeyong untuk menjalankan mobil agar tidak buang waktu. Sibuk dengan menenangkan Herin, Ten tak melupakan eksistensi Minhyung yang ketakutan. Dia melihat Herin yang menangis keras dengan pandangan bersalah.
Anak kecil itu masih polos. Dunia belum sempat mengotori pikiran mereka. Ten takjub dengan raut wajah bersalah Minhyung. Entah kapan terakhir kali wajahnya menampakkan raut demikian. Seakan-akan perasaan bersalah memang sudah hilang dari hatinya.
"Minhyung tahu salah apa?" tanya Ten.
"Mianhae, Helin. Oppa, hik... Oppa salah kalena Helin sangat imut."
"Pft..." tawa tertahan Taeyong mengalihkan fokus Ten untuk sesaat. Dia sepertinya cukup merasa terhibur dengan drama balita itu.
"Anak pintar. Sekarang bantu papa tenangkan Herin."
Tanpa diminta dua kali Minhyung langsung ikut menepuk punggung Herin seperti papanya.
"Taeyong."
"Maaf, tuan."
.o0o.
Adalah hal aneh saat murid baru datang di pertengahan tahun ajaran. Biasanya hanya siswa-siswa bermasalah yang pindah sekolah di saat seperti ini. Gosip-gosip selalu menyebar dengan cepat tentang murid baru itu. Kebanyakan tentang masa lalunya yang mungkin bermasalah dan perilakunya yang tidak menyenangkan. Tapi kali ini sepertinya mereka akan terdiam dengan mulut menganga.
Taeyong selesai memperkenalkan dirinya di depan kelas. Dia menunggu beberapa saat ketika sang guru mempersilahkan murid lain untuk bertanya, namun tak ada yang membuka suara meski rahang mereka terbuka seakan siap jatuh.
Ketampanan Taeyong membuat mereka tak berkutik. Seorang yang duduk di pojok kelas mengernyitkan dahinya melihat si anak baru. Lalu, mengalihkan pandangan ke lapangan sepak bola dimana anak-anak tingkat dua sedang pelajaran olahraga. Kehadiran sosok 'sampah' baru tidak menarik perhatiannya. Diantara mereka ada sosok kecil yang berlari secepat cheetah.
"Yeoksi! Uri Ten."
Taeyong dipersilahkan duduk di kursi depan yang kosong. Sembari berjalan, matanya menatap lekat seseorang yang duduk di pojok kelas.
"Semoga kau senang di sini Taeyong-ssi." Perempuan yang duduk di samping Taeyong memberikan senyuman terbaiknya. Taeyong membalas sapaan itu dengan anggukan kecil. Tak lebih.
Saat istirahat makan siang, Johnny langsung menuju gudang seperti biasanya. Si murid baru sudah menghilang dari kelas. Padahal biasanya dia yang paling cepat keluar kelas.
Dia menjadi orang yang pertama sampai di gudang. Ten selalu punya waktu yang sulit di jam istirahat. Perempuan-perempuan genit itu pasti mengerubunginya seperti lalat mengerubungi kotoran. Benar-benar makhluk rendahan yang tidak punya selera, pikirnya. Itulah yang membuat Irene berbeda dari mereka. Irene berkelas, baik hati, santun, punya senyuman tipis yang sangat cantik. Tidak ada perempuan yang mampu mengalahkan kecantikannya di mata Johnny. Rasanya dia tak sabar dipertemukan dengannya dalam acara perjodohan dua minggu lagi.
"Senyum-senyum sendiri. Gila."
Tiba-tiba Ten datang memecah pikirannya tentang Irene. Dia meletakkan kotak makan siang di meja lalu membukanya tanpa mengulur waktu.
"Aku rela gila untuk Irene."
"Perempuan itu lagi. Sudahlah sampah, berhenti berkhayal. Meski kalian di jodohkan, dia tidak akan suka pada berandalan sepertimu."
"Aku bisa berubah, tahu!"
"What!?" Ten berseru. Lalu gelak tawa keluar dari mulutnya. "Gak yakin deh! Kamu itu sudah ditakdirkan jadi berandalan."
"Pokoknya kalau dia ingin aku berubah, aku akan berubah. Demi dia aku akan lakukan apapun."
"Meski itu berarti kau bukan menjadi dirimu sendiri?" Ten mengunyah makanannya sembari melemparkan pandangan meremehkan pada Johnny. Mata itu selalu bisa membuat orang yang melihatnya merasa kecil. Namun sampai beberapa saat keheningan masih enggan pergi. Johnny tak gentar sama sekali. Ten berdehem. "Palsu tau!"
"Sss... kenapa kau selalu tidak suka sih topik tentang Irene? Jangan-jangan kau suka padaku ya? Cemburu ya?"
UHUK!
Ten tersedak hebat. Dia langsung kalap mencari minum. Johnny yang melihatnya cuma tertawa. Masa bodoh dengan penderita temannya. Tanpa sengaja, matanya melihat sosok bayangan di tanah depan pintu. Matanya mengernyit. Tanpa basa-basi dia menghampiri sosok bayangan itu dan menemukan Taeyong berdiri di depan pintu gudang dengan santainya.
"Sedang apa kau disini?" Jelas kehadiran orang asing itu menyulut kemarahan Johnny.
"Yah! Uhuk! Biarkan dia disana. Dia pengikutku."
"Mwo!?"
Taeyong memandang Johnny tanpa ekspresi.
"Daebak! Kelompok Shiyam itu benar-benar, ckckck!" Johnny kehilangan kata-katanya. Dia kembali masuk ke dalam. "Aku ingin masuk ke kelompokmu kalau bisa. Saat itu terjadi, beri aku satu pengikut sepertinya. Tapi jangan terlalu tampan. Menyusahkan."
"Kenapa? Dia berbuat ulah di kelas?"
"Semua perempuan di kelasku terpukau padanya. Padahal kan ada yang lebih tampan di kelas dibanding dia."
"Siapa? Jangan bilang..."
"Tentu saja aku!"
Setiap hari kebiasaan itu terulang. Ten dan Johnny akan makan bersama di dalam gudang sementara Taeyong berdiri di luar seperti penjaga.
Sampai suatu ketika Johnny menghampiri Taeyong saat jam makan siang. Saat itu, si murid baru belum meninggalkan kursinya. Dia menatap Johnny, bingung.
"Kenapa?"
"Wah! Ternyata kau bisa bicara. Ayo pergi."
"P-pergi kemana?"
"Tentu saja tempat kita!"
Tempat kita. Sebuah frasa yang asing di pendengaran Taeyong. Jantungnya berdebar cepat. Merasa eksited dengan ajakan itu. Tanpa dia sadari, Johnny telah menariknya pergi. Meninggalkan tatapan penuh tanya mereka yang melihat.
"Kenapa dia duduk disini?" Ten menatap Taeyong seakan siap menguliti.
"Sudahlah! Kalau berdua denganmu terus, aku bisa dikira berkencan denganmu. Kalau ada dia, gosip itu tidak akan muncul."
"Tapi kan-"
"Dia pengikutmu sih, tapi maaf ya mulai sekarang dia jadi temanku dan tempat ini milikku jadi ikuti aturanku. Setuju, cantik?"
"What-"
"Apa makan siang kita kali ini?"
.o0o.
"Kau harus membantuku!"
Dua orang pria dewasa tengah bersitegang di ruang tamu rumah salah satunya.
"Youngho hyung..."
"Hanya ini yang aku punya, Jae. Aku hanya ingin Herinku kembali. Satu-satunya yang bisa membantuku adalah pengacara hebat sepertimu. Kukira kita teman."
Jaehyun memijit jembatan hidupnya yang terasa sakit karena terlalu lama menggunakan kacamata. Dia lelah luar biasa dengan kasus yang baru dia selesaikan kemarin. Kini laki-laki bertubuh tinggi yang mengaku sebagai temannya itu memintanya merebut kembali hak asuk anaknya. Demi Tuhan dia butuh istirahat.
"Ya. Kupikir hanya kita yang memulai pertemanan dengan tawuran, hyung."
"Jangan bahas itu sekarang. Aku sedang tidak ingin tertawa Jung!"
"Baiklah." Ucapan Jaehyun terpotong oleh kehadiran suaminya yang menghidangkan teh buat mereka berdua. Setelah laki-laki itu pergi, dia baru melanjutkan. "Apa yang ingin kau tuntut dari masalah ini? Irene sudah mempercayakan Herin pada Ten. Tidak ada yang bisa digugat."
"Dengan cara apapun! Tolong pikirkan apa yang bisa kita lakukan."
Keputusasaan yang tergambar di wajah Johnny membuat Jaehyun menghela napas. Ada sebuah pemikiran yang terlintas. Namun, apakah ide ini akan diterima mengingat Johnny harus membuka lukanya.
"Pertama kita harus selidiki mengapa Irene membuat wasiat seperti itu. Dan kenapa seseorang membuat surat wasiat? Karena mereka berniat untuk mati. Tapi, kenapa seseorang berniat untuk mati? Kenapa Irene bunuh diri? Kasus ini bisa kita ajukan ke pengadilan untuk diselidiki."
"Mengangkat kasus bunuh dirinya Irene?" Johnny bimbang dengan hal itu. Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian sang istri. Tidak pernah sekalipun ia mencurigai sebab lain mengapa wanita pujaan hatinya nekat untuk mengakhiri hidupnya. "Kau pikir ini akan berhasil?"
"Ya, kupikir begitu. Aku hanya... kau tahu kelompok Shiyam. Mereka bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Aku ragu ini bukan kasus bunuh diri."
Percakapan itu berhenti pada sebuah keputusan. Mereka akan mengumpulkan beberapa saksi dan bukti untuk menyerahkan masalah ini ke pengadilan. Ya, itu adalah keputusannya.
Jaehyun terdiam di kursinya. Ia teringat sosok kecil Ten yang tertawa keras seperti anak kecil dengan darah mengucur dari keningnya beberapa tahun lalu. Jika dilihat sekilas, tidak ada yang menyangka sosok mungil dan cantik sepertinya adalah anggota kelompok Shiyam dan sekarang bahkan menjadi pemimpinnya.
Tidak banyak hal yang Jaehyun dengar tentang kehidupan Ten beberapa tahun terakhir. Dia hanya tahu kelompok Shiyam mulai menurunkan intensitas cara licik mereka di bawah tangan dingin si pemimpin baru. Juga ada sebuah kabar yang menyebutkan Ten memiliki seorang putra.
"Jaehyun..."
"Ya?"
"Aku dengar semuanya." Jaehyun tersenyum tipis. Dia menarik suaminya untuk duduk di sebelahnya. "Jangan ambil kasus ini. Kita tahu betapa berbahaya kelompok Shiyam."
"Apa menurutmu Ten yang urakan itu berbahaya?"
"Jaehyun, itu masa lalu. Dia sudah berubah. Belum lagi kaki tangannya yang licik. Sudahlah, lupakan kasus ini. Aku tidak ingin berurusan dengan kelompok itu."
"Youngho hyung teman kita."
Jaehyun meraih tangan suaminya. Membelai tangan itu agar ia tenang.
"Begitu pula, Ten. Mungkin berdiri ditengah-tengah bukan ide yang buruk. Asal jangan berurusan dengan kelompok itu!"
"Doyoung-ah." Laki-laki di hadapan Jaehyun tercenung. Saat namanya disebut, itu artinya Jaehyun ingin membicarakan sesuatu yang serius. "Aku tidak percaya kelompok Shiyam tidak terlibat dalam kematian Irene. Tapi, aku juga percaya Ten tidak akan menyakiti seseorang yang dicintainya."
Doyoung menggingit bibir bawahnya. Geram dengan pola pikir suaminya. Namun, akhirnya dia menghela napas kesal. Dipeluknya Jaehyun. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang suami. "Dasar bodoh. Jangan drama di saat seperti ini."
"Itulah alasan kenapa kau mencintaiku."
.o0o.
Pertemuan kelompok Shiyam kedua bulan itu, Ten diharuskan untuk hadir. Dia telah melewatkan pertemuan pertama karena pergi 'main' dengan Johnny. Kali ini ia tak berkutik saat dijemput paksa orang-orang kakeknya.
Seperti pertemuan-pertemuan lain yang membosankan. Ten duduk di samping kakeknya sembari memainkan cangkir teh yang kosong. Ampas dan sedikit air yang tertinggal di sana menjadi mainan baru baginya.
"Grup Seo, pemilik kantor penyiaran CBS, tengah mencoba menjodohkan permata mereka dengan bunga milik Bae Seung Ho. Menurut informasi, Bae Seung Ho sedang menggalang kekuatan untuk pencalonan gubernur periode berikutnya. Pernikahan bisnis akan segera terjadi diantara mereka."
Topik itu mengambil alih perhatian Ten. Seorang yang menyampaikan berita itu nampak sangat bangga dengan informasi yang baru saja disampaikannya. Padahal buatnya, berita itu basi.
"Apa yang kita incar dari wilayah pilih Bae Seung Ho?" tanya Presedir Leechaiya.
"Sebuah proyek pembangkit listrik tenaga surya. Rencana lama itu akan terealisasi pada periode depan. Saya berniat memenangkan tendem untuk proyek itu. Tapi, jika Bae Seung Ho terpilih menjadi gubernur, saya tidak yakin tendem itu akan jatuh ke tangan kita. Dia Anti-Shiyam, juga anti jalan kotor."
Sedetik kemudian, gelak tawa terdengar nyaring memenuhi ruangan. Ten memegang perutnya yang sakit karena terlalu keras tertawa. Meski begitu, tawanya tak kunjung berhenti. Hal itu mengundang tanda tanya besar di otak anggota kelompok Shiyam.
"Aku pikir kelompok kita cukup kuat untuk melawan pemerintah. Tapi ternyata masih ada orang-orang yang bermimpi tinggi tanpa diimbangi mental baja. Pengecut."
Presedir Leechaiya berdehem untuk menghentikan celotehan Ten mengenai anak buahnya. Tetapi sang cucu seakan tak mengindahkan isyarat itu. Dia menyimpan tangannya di atas meja. Menghentikan tawa lalu menatap satu persatu petinggi kelompok Shiyam yang berkumpul.
"Berapa orang Shiyam yang menjadi pejabat daerah disana? Ingatlah bahwa kebijakan pemerintah tidak hanya bersumber dari kepala daerah. Kita masih bisa mengendalikan pemerintahan mereka dari bawah. Cukup perbesar sayap Shiyam di kalangan orang-orang berpangkat kecil serta anggota legislatif. Kekuatan kita sudah cukup besar dengan semua itu."
Kini giliran Presedir Leechaiya yang tertawa. Dia menepuk pundak cucunya penuh bangga.
"Tapi Ten, permasalahan kita sekarang adalah mencegah hal rumit itu terjadi. Bagaimana menurutmu? Kau 'kan teman dekat penerus grup Seo."
Mata Ten memicing. Dia melirik kakeknya yang tersenyum penuh makna. Dalam hati Ten mengumpat. Sudah tertulis dengan jelas apa maksud laki-laki tua itu dari omongannya.
"Aku bisa atasi masalah perjodohan itu. Serahkan padaku."
Tapi, toh dia juga tidak menginginkan perjodohan itu terjadi.
.
Jam pulang sekolah sudah terlewat lima menit yang lalu. Guru di depan kelas sepertinya sengaja menulikan telinga saat bel berbunyi jadi sampai sekarang masih menjelaskan tentang tiga kerajaan Korea yang membosankan. Meski baru lima menit, tapi untuk Ten terasa seperti ratusan jam. Yang dia lakukan sekarang hanya memandang jam dinding yang konstan menggerakkan jarum detiknya.
Guru botak, cepatlah selesaikan dongengmu itu! Pantas saja kau botak, memikirkan hal tidak berguna sebanyak itu.
"Ten Chittaphon Leechaiyapornkul!"
Seruan yang mengglegar bagai petir itu membuat Ten refleks berdiri. Dia sudah menyiapkan diri jika akan dimarahi si guru botak karena melamun. Tapi ternyata panggilan itu bukan darinya, melainkan Seo Youngho yang berdiri panik di depan kelas.
"Ayo cepat!" laki-laki tinggi itu menarik tangan Ten dengan kasar. Menyuruhnya untuk ikut.
"Tunggu-tunggu! Tasku!"
Kedua remaja itu berlari keluar kelas tanpa mempedulikan teriakan sang guru dan tatapan heran serta kagum dari teman sekelas Ten.
Mereka berlari menyelinap diantara siswa-siswa lain yang memenuhi koridor. Sebenarnya Ten ingin tanya kenapa si berandalan itu menariknya keluar kelas dan mengajaknya lari sebegini cepat. Tapi untuk mengejarnya saja Ten kualahan, apalagi melontarkan pertanyaannya.
"Tuan, kau tidak apa-apa?"
"Wha! Kenapa kau disini?"
Tiba-tiba saja Taeyong sudah berlari di sampingnya. Sama terengahnya.
"Aku datang ke kelas tuan bersama Johnny. Dari tadi aku disini."
"Ah. Terserah!"
Tanpa sadar mereka bertiga telah keluar dari lingkungan sekolah. Tak jauh dari sana, tampak sebuah lapangan tak terurus yang sepertinya menjadi tempat tujuan Johnny. Benar saja. Mereka berhenti disana. Bergabung dengan gerombolan murid laki-laki sekolah mereka yang lain. Ini pertama kalinya Ten melihat Johnny bergabung dengan mereka.
"Aku bawa dua orang." Ucap Johnny sambil meringis bangga.
"Heh, kau yakin dengan mereka berdua? Kecil begitu." Salah satu orang bermuka paling garang menatap Ten dan Taeyong sangsi. Tatapan itu membuat Ten naik pitam.
"Tidak sopan! Siapa yang kau sebut kecil hah? Muka jelek!"
"Kurang ajar kau bocah!" laki-laki yang bermuka garang ikut-ikutan naik pitam. Dia nyaris memukul Ten jika bukan Taeyong yang menangkap kepalan tangannya. Gerakan tiba-tiba Taeyong membuatnya melongo.
"Sudah-sudah. Kita kan punya tujuan yang sama. Jadi jangan bertengkar begini. Dan asal kau tahu saja, dua orang ini dari kelompok Shiyam."
"What!?" yang terkejut itu bukan hanya si muka garang. Tapi semua orang yang ada di sana.
Awalnya Ten hanya ikut saja saat gerombolan itu berjalan ke lingkungan sepi yang dia tahu sebagai pinggiran kota. Bahkan saat ia melihat beberapa orang dari mereka membawa balok kayu dan sesuatu seperti gir sepeda. Uuuh... pasti sakit kalau kena itu.
Tapi saat ia melihat gerombolan laki-laki lain dengan membawa barang yang nyaris sama menghadang mereka,
"Johnny kau tidak bilang kita akan tawuran!" Ten memukul lengan Johnny yang berdiri di sebelahnya.
"Kau kan tidak tanya! Lagi pula kau kan jago berkelahi, kenapa takut?"
"Karena mereka bawa gir sepeda, bajingan! Kalau kena kepala bagaimana!?"
"Tuan tenanglah. Aku akan melindungimu."
"Melindungi matamu! Kita berdua dijebak disini Lee Taeyong! Sadarlah!"
"Wah, enak sekali punya pengawal ya..."
"Ini bukan saatnya iri brandalan!"
Ten menatap gerombolan yang makin dekat itu. Ia meneguk ludah. Ah, ternyata aku bisa takut juga.
Tidak ada kata mundur dalam kamus Ten. Sekalipun ingin mundur, dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Johnny. Jadi dia menyiapkan diri.
"Baiklah, tidak ada pilihan lain. Taeyong, habisi semuanya."
Dalam sekejab, kedua kelompok itu melebur jadi satu. Saling baku hantam tanpa kenal buluh. Mau berbadan besar mau berbadan kecil, semua saling sikat. Ten tidak menyia-nyiakan kemampuan muang thainya, dia menendang beberapa orang sampai jatuh tergelepar. Di sekitarnya, selalu ada Lee Taeyong yang menyingkirkan orang-orang bertubuh besar, yang laki-laki itu pikir tuannya tak bisa hadapi. Johnny disisi lain menghajar orang-orang terdepan kelompok itu.
"Huah! Pukulanmu lumayan juga, Youngho."
"Cih, kau yang tidak berkembang, Jung Jae."
"Johnny dibelakangmu!" teriak Taeyong dari sisi yang lain. Berkat teriakan itu, Johnny berhasil menangkis sebuah balok kayu yang diarahkan padanya dengan sebuah tendangan. Beberapa saat kemudian, seseorang memiting orang yang hendak memukul Johnny. Orang itu Ten. Dengan semangat berapi-api dia nyaris mematahkan leher laki-laki itu.
"Rasakan! Mati kau! Beraninya dekati Johnny-ku!" desis Ten.
"YAK! JANGAN SENTUH DOYOUNG!" tanpa mempedulikan peringatan itu, Ten merubuhkan orang dalam pitingannya ke tanah.
"Lawanmu aku, Jung Jaehyun." Johnny tak membiarkan Jaehyun mendekati Ten yang sibuk memiting Doyoung. Tangannya melayang ke pelipis Jaehyun hingga laki-laki itu terhuyung. Selang beberapa detik, Jaehyun yang menendang perut Johnny hingga jatuh. Dia memukuli pria yang sudah tergeletak di tanah itu hingga berdarah-darah. Lalu Johnny membalik posisi mereka, menghajar wajah tampan Jaehyun tanpa ampun.
Ten hendak membiarkan Doyoung yang berdaya saat lawannya itu tiba-tiba menendang tulang keringnya. "Shit!"
"Aku tidak selemah itu."
Ejekan si kelinci buluk membakar amarah Ten. Persetan dengan muang thai, persetan dengan aturan main seni bela diri yang membingungkan. Ten tanpa pikir panjang menjambak rambut Doyoung dengan erat sampai dia yakin rambut itu akan lepas pada waktunya.
"Akh! Rambutku!" Doyoung tak mau kalah. Dia mencakar wajah Ten dengan beringas. Beruntung, kukunya panjang dan runcing.
"Ma beautiful face! You fuck*ng bitch!"
Semakin banyak korban berjatuhan. Darah dimana-mana. Rintihan kesakitan seperti musik pengiring pertarungan jalanan itu. Sampai suara lain ikut bergabung menambah kegaduhan. Sirine mobil polisi.
"Tuan! Ada polisi!" Taeyong yang sempat menghilang dari pandangan tiba-tiba muncul. Dia menarik Ten keluar dari duel mautnya dengan Doyoung.
"Ten, polisi! Lari!" dan itu suara si berandalan Johnny. Jadi si sok berani itu takut polisi!?
Ten berlari tertatih dengan tangan yang masih diseret Taeyong. Kakinya sakit ditendang pelacur Do-shit-young.
Menyadari hal itu bisa menghambar acara kabur mereka, Johnny yang tadinya berlari di belakang mengambil alih Ten. Dia menggendong Ten seperti karung beras di bahunya.
"GYA!"
Belasan polisi menyisir tempat kejadian. Mau tak mau mereka bertiga masuk kedalam sebuah bangunan bekas toko dan bersembunyi di sana. Ten siap memaki Johnny yang dengan seenak jidat memanggulnya. Tapi dua sosok asing yang tiba-tiba datang di belakang bersama mereka membuat mulut nyinyirnya nyaris bereaksi.
"Jangan berisik! Pokoknya kita dalam misi yang sama. Kabur dari polisi!" Doyoung segera membekap mulut Ten dengan tangan penuh tanahnya.
Sembari menenangkan deru napas yang berantakan, Ten mencubiti Doyoung seperti mengajaknya bertarung diam-diam. Tentu saja sang lawan menerimanya dengan senang hati
"Berhenti bersikap seperti anak kecil. Doyoung hentikan." Jaehyun menarik Doyoung mendekat ke arahnya.
Pertengkaran itu sukses menjadi fokus tiga orang lainnya. Otomatis, beberapa kali mereka saling bertukar pandang.
"Aku tidak tahu kalau musuh sesungguhnya siswa yang suka tawuran itu polisi. Kenapa kita bersembunyi di sini bersama?" Taeyong tertawa. Dan hal itu sukses membuat Johnny dan Ten kaget.
"Wah, kalimat panjang pertamanya Taeyong."
"Lah, bisa tertawa juga kau?"
"Apa dia tidak pernah bicara?" tanya Doyoung.
"Iya. Dia sangat pendiam. Soalnya Ten ini majikannya." Jawab Johnny tanpa beban. Seperti menjawab pertanyaan dari anak TK tentang satu tambah satu.
"Majikannya?" Jaehyun membeo.
"Aku anggota kelompok Shiyam, dia pengikutku. Kenapa? Masalah? Hah?"
Kedua pasang mata orang paling asing di sana membulat. tak percaya mereka baru saja menghajar anggota kelompok gangster terkenal di Korea.
"Ya! Bilang dari tadi dong! Kalau tahu begitu, aku tidak akan menghajarmu."
"Wah, aku merasa di bohongi. Bisa-bisanya kalian membawa pro ke masalah kita, Youngho."
Johnny hanya tersenyum penuh kemenangan sembari mengangkat bahu.
"Bukannya kita tidak bisa disini terus? Kita harus pergi sebelum ketahuan." Ucap Taeyong yang akhirnya menyadarkan yang lain bahwa situasi mereka itu bukan situasi ideal untuk mengobrol.
"Benar. Kalau begitu, kami akan keluar lewat pintu belakang. Sekarang. Selamat tinggal." Johnny langsung membuat keputusan. Dia menggendong Ten lagi seperti sebelumnya. Kini yang digendong hanya pasrah.
"Ya! Jangan ember tentang posisi kami sekarang." Ancam Jaehyun yang sepertinya dianggap angin lalu oleh Johnny.
Mereka bertiga keluar dengan hati-hati dari bangunan itu. Tapi, memang keberuntungan bukan di tangan mereka. seorang polisi memergoki mereka, "P-pak! Ada yang lain di sana. Di dalam gedung itu..." tunjuk Johnny tanpa rasa bersalah ke gedung bekas persembunyian mereka.
"Taeyong, lari dihitungan tiga..." bisik Johnny. "Satu,..."
"TIGA!"
"Yah! Lee Taeyong!"
"Akh! Lambungku terhantam bahumu, brengsek!"
.o0o.
Minhyung tidak mengerti kenapa papanya tidak pernah tersenyum saat melihat Herin, yang dia pikir adalah adik perempuan barunya. Papanya memberikan Herin makanan, menenangkannya saat menangis, tapi tidak pernah benar-benar terlihat bahagia melakukannya.
Bocah empat tahun itu sekiranya masih terlalu kecil untuk berempati pada perasaan orang lain. Tapi, dia hidup bersama dengan sang papa selama ini. Minhyung hampir hafal bagaimana raut senang, sedih orang tua satu-satunya itu.
Herin si adik kecil ada kalanya membuat Minhyung sebal. Dia mendapatkan banyak sekali perhatian ketimbang dirinya. Bahkan dari Taeyong sekalipun. Sekarang laki-laki itu lebih sering menggendong Herin dari pada dia, orang papanya itu juga lebih sering membelikan mainan untuk Herin. Saat Minhyung bertanya kenapa Taeyong melakukan itu, jawabannya sama sekali tidak dia mengerti.
"Karena Herin sendirian."
Padahal jelas-jelas saat itu mereka bertiga sedang bersama-sama. Lalu kenapa Herin sendirian?
Sejak hari pertama Herin masuk ke dalam rumahnya dan menjadi keluarganya, Minhyung dengan senang hati berbagi kamar dengannya. Papa membelikan sebuah tempat tidur baru yang dia letakkan di seberang tempat tidur Minhyung. Dengan warna sprei pink yang kontras dengan kamar abu-abunya. Sembari menunggu kantuk, Minhyung akan memandangi Herin yang pasti tertidur lebih dulu karena kekenyangan susu.
Hari ini tepat satu bulan sejak kedatangan anggota baru menghuni rumah mereka. Minhyung yang sengaja menandai tanggalan di kamarnya dengan spidol merah bersorak gembira. Dia berlari menghampiri papanya yang menyiapkan sarapan di dapur.
"Papa! Papa! Tebak hali ini hali apa!"
"Hari apa? Sabtu."
"Tepat sekali! Eh, aduh bukan itu! Tebak lagi!" ucap Minhyung semakin bersemangat. Dia mengikuti langkah Ten yang mondar-mandir dari dapur ke meja makan. Sesekali Ten harus menghindar agar tidak menabrak anaknya. "Papa! Ayo tebak!"
Ten menghela napas. Sebal sekaligus gemas dengan tingkah anaknya. Jadi, dia menyamakan tinggi dengan sang anak, menyisir rambutnya yang berantakan dengan jemari lalu berkata, "Sarapannya siap. Kenapa kau tidak ke apartemen sebelah dan memanggil Taeyong?"
"Taeyong ikut makan pagi hali ini? Wae?"
"Dia ulang tahun."
Mata bulat Minhyung membesar. "Wuah! Daebak!". Lalu dia berlari keluar rumah dengan penuh semangat setelah itu.
Tepat setelah Ten selesai menata meja makan, suara tangisan Herin terdengar nyaring. Gadis kecil itu sudah bangun. Dia terduduk di tempat tidur sembari mengucek matanya.
Ten meraih Herin. Dia mengguncang tubuh kecil itu dalam gendongannya agar berhenti menangis. Herin merespon Ten dengan memeluk lehernya.
"Jangan menangis. Jangan lemah. Kau harus jadi gadis yang kuat."
"Hiks... hiks... Hue! Mommy!"
Rengekan itu membuat Ten paham apa yang membuat Herin menangis sekencang ini.
Ten kecil terbangun dari mimpi buruknya. Sekelilingnya gelap. Masih malam. Hawa dingin AC membuat bulu romannya mengembang. Menambah kengerian dalam benaknya.
Dia bermimpi tentang pembunuhan kedua orang tuanya. Darah berceceran di lantai, mayat keduanya tergeletak tak berdaya dengan lubang di kepala dan dada mereka, orang-orang mengelilingi mereka dengan senyuman lebar di wajah. Dan Ten melihat dirinya sendiri yang bersembunyi di balik lemari dengan wajah datar. Tanpa perasaan.
Seketika dia menangis. Keras sekali sampai beberapa pelayan datang dan hendak menggendongnya. Tapi, Ten menampik mereka lalu menangis lebih keras sampai fase tantrum. Tenggorokannya sampai kering dan sakit. Rasanya seperti darah siap keluar kapan saja dari sana.
Sang kakek datang setelah itu. Seluruh pelayan pergi meninggalkan kamarnya. Lelaki tua itu menatap Ten dari pintu. Tidak mengatakan apapun hingga Ten merasa heran dan berhenti menangis.
"Jangan menangis. Jangan lemah. Kau harus jadi orang yang kuat."
Saat itu rasanya Ten benar-benar marah. Apa anak seusianya tidak boleh menangisi kepergian tragis orang tuanya? Apa dia tidak boleh bersedih dan marah karena orang di sekelilingnya bahkan tidak menyayanginya dengan baik? Ten ingin lari karena ketakutan. Bagaimana jika hidupnya akan berakhir seperti orang tuanya? Apa dia akan dibunuh juga?
"Ten harus jadi orang kuat agar tidak ada satupun merendahkanmu."
"Hidup ini tidak mudah, Herin-ah. Kau harus tumbuh menjadi gadis yang kuat. Jangan biarkan seorang pun menakutimu. Aku, tidak akan membesarkanmu sebagai seorang putri. Jadilah ksatria. Jadilah pelindung untuk orang-orang disekelilingmu."
Sarapan hari itu sedikit berbeda. Tentu saja kehadiran Taeyong dan sup rumput laut di atas meja menjadi alasannya. Minhyung menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan heboh untuk Taeyong. Pemandangan langka dimana balita pendiam itu menjadi sangat aktif.
"Terima kasih Minhyung."
"Sama-sama! Eh, Taeyong tahu tidak ini hali apa? Selain hali ulang tahunnya Taeyong tentu saja."
"Memang hari apa?"
"Hali ini tepat sebulan Helin jadi adiknya Minyung! Hebat kan? Papa ayo layakan!"
Mungkin gadis kecil itu merasa terpanggil. Ia melihat Ten. "Aakan! Hihihi!"
"Aigoo, Helin lucu sekali." Minhyung tidak bisa mengendalikan tangannya lagi. Dia mencubit pipi Herin sebelum Taeyong berhasil menghentikannya. begitu Minhyung menyadari kesalahannya, dia langsung menarik tangannya. Takut sang adik akan menangis.
Namun kali ini dia tidak menangis. Mata Herin hanya berkaca-kaca dan bibirnya melengkung ke bawah. Tangannya yang memegang sendok terangkat tinggi, lalu saat berikutnya dia melemparkan benda plastik itu ke Minhyung. Sukses mengenai dahinya.
"Hueee... Papa! Helin jadi nakal."
Tangisan Minhyung tidak membuat Ten angkat bicara ataupun beranjak menenangkan anak lelakinya. Malah, dia sibuk tersenyum sembari kembali memakan sarapannya. Begitupun Taeyong.
"Papa!"
"Herin sudah jadi gadis hebat. Harusnya Minhyung bangga." Barulah Ten buka suara kala Minhyung tidak berhenti merengek sampai sarapan selesai. "Ngomong-ngomong, ayo kita rayakan sebulannya Herin seperti yang Minhyung mau. Ke sungai Han? Makan mi instan?"
Mata Minhyung berbinar. Jarang-jarang papanya mengijinkan dia makan makanan instan.
"Setuju!"
.
Saat matahari sudah condong ke barat, 'keluarga' kecil itu pergi ke sungai Han. Dua orang dewasa disana memilih untuk tetap duduk di tikar sambil mengawasi dua anak kecil yang bermain kejar-kejaran.
"Tuan... aku punya kabar mengenai Johnny." Ten tak menanggapinya. Namun, itu adalah pertanda untuk Taeyong melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan. "Dia bekerja di sebuah perusahaan kecil sebagai manajer pemasaran. Lalu, dia juga tengah bersiap mengajukan kasus bunuh diri Irene ke pengadilan. Pengacaranya Jung Jaehyun."
"Ah, begitu. Mereka masih berusaha mengambil Herin ya?"
"Sebagai ayahnya, saya pikir itu wajar."
Ten melirik Taeyong tak suka. Dia tidak tahu sejak kapan pengikutnya itu berani berpendapat. Tapi sejak kapan pun itu, Ten tidak suka argumennya di balas dengan argumen.
"Maafkan saya."
"Terus awasi mereka. Aku yakin mereka menyimpan kecurigaan pada kelompok Shiyam."
"Saya mengerti."
Mata Ten berfokus pada Minhyung dan Herin. Dua anak kecil itu, mau tak mau harus terlibat dalam permasalahan besar orang tua mereka.
Maafkan aku.
.
.
TBC
.
A/N maaf karena moment Johntennya kuraaaang banget! Ini lagi bikin permasalahannya, nanti untuk lovey doveynya(emang ada?) belakangan.
Aku rada ragu sama FF ini. RAGU AJA TEROS, DASAR PLINPLAN. Ehm... ini pertama kalinya bikin FF dengan tema rada dikit berat. Bingung gitu kalo-kalo ada salah di bagian 'hukum' atau 'perusahaan' atau segala macam ilmu yang ada dalem FF ini pokoknya. Mohon maaf ya kalau gak sesuai sama kenyataan yang ada di dunia.
Maaf juga sama moment Taeten yang gobl*k. Yah, nikmati saja lah ya...
Hope You Like It ^^
