Naruto menunduk. Tatapannya kosong. Gadis malaikat itu tahu apa yang telah diperbuatnya, meneteskan air mata di tempat saat dia harus mengantarkan roh adalah pelanggaran tingkat berat yang dilakukannya selama gadis itu menjadi seorang malaikat pengantar roh.

Naruto mendengar suara pintu yang terbuka. Gadis itu menengadah, beberapa tetua ada di sana. Duduk di belakang meja hakim dengan wajah serius dan mengerikan. Sedikit, rasa takut menjalar di hati gadis itu, namun ketika tahu bahwa tindakan yang dilakukannya membuat Uchiha Sasuke hidup kembali, gadis itu sedikit menampilkan senyuman tipis.

"Ayo masuk!" perintah seorang pengawal yang tengah mencengkeram lengannya. Naruto menurut. Gadis itu melangkah perlahan dengan tangan yang diikat ke belakang. Pakaian resminya sebagai malaikat pengantar roh tak tampak menempel di tubuhnya. Gadis itu hanya mengenakan dress putih sependek lutut, baju seorang tahanan malaikat.

"Terdakwa telah memasuki persidangan!" ucapan dari seorang pria yang ada di pojok ruang menggema. Hakim-hakim beserta para tetua menyiapkan diri, mengambil selembar catatan yang memang tersedia di meja mereka masing-masing.

"Naruto-san," Naruto maju ke depan kemudian berlutut. Gadis berambut pirang panjang itu menundukkan kepalanya, bersiap mendengar keputusan para tetua dan dakwaan-dakwaan terhadapnya.

"Dosamu sungguh berat," Suara berat yang sedikit bergetar itu adalah suara Danzo. Tetua malaikat itu memandang Naruto dengan tajam. Sepertinya Pria setengah baya bermata satu itu adalah juru bicara dari semua hakim yang ada di persidangan itu. "Menukar nyawa seorang manusia dengan sebelah sayapmu, sungguh perbuatan yang melanggar. Karena kesalahan yang kau buat, dunia malaikat kacau balau."

Naruto hanya diam, tak membantah. Jujur saja dia tidak tahu bahwa air mata malaikat pengantar roh yang sedang bertugas dapat membuat roh yang dijemputnya kembali ke tubuhnya, dengan bayaran sebelah sayap milik si pengantar roh. Ya, tapi jikapun dia tahu, Naruto toh akan menangis juga.

"Karena itu, Hukumanmu adalah, di lempar ke sumur kegelapan," keputusan itu membuat Naruto semakin sedih. Sumur kegelapan adalah sumur di mana hanya ruang berupa hampa udara. Gelap, dingin dan sendirian. Sendirian di tempat seperti itu, untuk waktu yang pastinya sangat lama. "Selamanya."

Dan palu diketuk sebanyak tiga kali. Pandangan Naruto semakin kosong. Dia sudah tidak punya harapan lagi...

"Bawa Naruto ke tempat hukumannya sekarang juga!" perintah itu membuat dua orang malaikat penjaga yang tadi menggiringnya ke ruang sidang menghampiri Naruto, menuntunnya untuk berdiri dan memapahnya. Naruto pasrah. Setidaknya pengorbanan yang dilakukannya dihargai dengan nyawa Sasuke.

Dan nyawa Sasuke lebih berharga daripada hukumannya di ruang kegelapan.

"Naruto-chan!" panggilan yang terburu-buru itu membuat langkah Naruto terhenti, gadis itu berbalik, mendapati sesosok malaikat dengan ciri fisik serupa berada di ambang pintu. Gadis malaikat itu terngah-engah. Baju yang dikenakannya adalah baju malaikat pengantar roh tingkat S.

"Naruto-chan!" lagi gadis itu memanggil Naruto. Naruto tersenyum sendu. Melihat senyum sendu orang yang amat disayanginya, gadis dengan rambut yang diikat ponytail itu segera berlari, hendak mendekati Naruto namun gagal ketika beberapa pengawal mencegahnya.

"Le-Lepaskan aku! Hei! Naruto-chan! Naruto-chan!" Ino, yang kini menyandang marga Yamanaka berteriak histeris. Tangannya berusaha menggapai Naruto yang jaraknya begitu jauh dengannya.

"Naruto-chan! Jangan tinggalkan aku! Kau sudah berjanji kan? Kau sudah berjanjikan? Kau tidak akan meninggalkanku seperti Deidara!" teriak Ino. Membuat air mata Naruto mengalir. Dengan lirih gadis itu berkata, "Maaf, Ino!"

.

.


A little Wish

By : Fuyu-yuki-shiro

.

.

Disclaimer:

Naruto (c) Masashi Kishimoto

.

Warning:

Sekuel dari The Fallen Angel.

.

Happy Reading...


Apa yang akan dilakukannya kepadaku?

"KUBUNUH KAU!" dan dia melayangkan pisau itu, mengambil ancang-ancang untuk menancapkannya kepadaku. Melihat itu membuatku hanya bisa diam di tempat. Dihadapanku, Ino dengan segenap amarah yang meluap mengacungkan pisaunya ke arahku. Sekelebat ingatan sebelum aku menjalani hukuman itu terbayang semakin jelas saat aku menatap pisau yang mengkilap-kilap itu. Semakin dekat pisau itu dengan wajahku, semakin jelas kuingat wajah Ino saat itu.

Kesedihan, kegundahan, kekecewaan, dan kemarahan...

Dan ketika mata pisau yang runcing itu hanya beberapa senti lagi dari bola mata biruku, aku menutupkan mataku.

Apa hidupku akan berakhir sekarang?

"JANGAN! JANGAN PERGI! TIDAK! NA-"

Suara yang menggema di otakku membuat mataku kembali terbuka dan...

BLAR!

.

.

Dengan kesal Uchiha Sasuke menekan klakson mobilnya. Gelisah dan resah memenuhi benaknya. Bayangan wajah Naruto, kekasihnya yang sedang berada dalam bahaya membuat keresahan itu semakin meningkat.

"Sial!" Sasuke mengumpat sembari memukul klakson depan sana ada perbaikan jalan dan Sasuke tidak bisa memutar jalan karena di belakangnya ada mobil yang lain.

Pasrah dengan mobilnya yang sudah tidak bisa digerakkan lagi, pemuda berambut seperti pantat ayam itu menjatuhkan kepalanya ke sandaran jok mobil. Kelopak matanya tertutup, angannya melayang ke percakapannya dengan Naruto beberapa waktu yang lalu.


"Sasuke-jichan..." panggil Naruto dengan senyum menggodanya. Sasuke mendengus.

"Diam dobe, berhenti memanggilku, jiichan!" balas Sasuke sengit. Naruto tersenyum. Menutup pintu ruang milik kekasihnya kemudian duduk di hadapan Sasuke.

"Orang-orang melihat kita seperti itu, seperti paman dan keponakannya," ucap Naruto kalem. Sasuke mendengus. Diliriknya bocah perempuan 14 tahun yang juga merupakan kekasihnya. Meski sudah lima bulan berlalu, Sasuke masih tak percaya bahwa bocah perempuan dihadapannya itu adalah gadis yang sama dengan gadis malaikat teman sekelasnya sepuluh tahun yang lalu.

"Tak perlu membahas ini, kita sudah sepakat, bukan?" ucap Sasuke datar, mencoba mengalihkan pembicaraan. Bocah perempuan bermata biru sapphire itu tersenyum.

"Sasuke," panggilnya. Sebelah tangannya terulur untuk menggenggam punggung tangan pria yang disayanginya, yang dicintainya. "Kau tahu, aku... takut."

Bola mata biru itu melirik ke atas, ke arah sepasang onyx yang menatapnya fokus, kedua alis itu bertaut, bertanya dalam diam. Naruto tersenyum ketika telapak tangan yang besar melingkupi punggung tangannya yang kecil.

"Ada sebuah legenda di dunia malaikat kami."

"Aku tidak tahu kalau di dunia malaikat juga ada legenda?" pernyataan itu terdengar sinis, Naruto mengembungkan kedua pipinya, terlihat chubby dan manis di mata Sasuke.

"Teme~"

"Baiklah... baiklah...," Sasuke menyerah, bersiap mendengarkan.

"Seorang malaikat terjatuh ke bumi karena sayapnya yang patah, bertemu dengan seorang manusia yang baik hati. Manusia itu mempunyai bola mata yang indah, membuat malaikat yang rapuh itu langsung jatuh cinta kepada si manusia," sampai ini, Sasuke dapat menangkap maksud dari kekasihnya yang tiba-tiba saja menceritakan ini.

"Lalu?"

Sebelum melanjutkan ceritanya, Naruto menghembuskan nafasnya, berat.

"Malaikat ingin bersatu dengan manusia yang menolongnya dan dia merelakan sebelah sayapnya sebagai bayaran atas dirinya yang berubah menjadi manusia," Naruto tersenyum, senyum yang sendu. "Malaikat itu berhasil menjadi manusia, berhasil menjalin hubungan dengan manusia yang dicintainya,malaikat berdosa itu tak pernah memikirkan kalau dia akan mendapatkan hukuman dari dosa yang telah diperbuatnya."

Sasuke berdiri, mendekati gadis kesayangannya kemudian merangkulnya. Secara tidak langsung, menyuruh gadis itu berhenti bercerita.

"Hukuman yang di terima si malaikat berdosa itu adalah manusia yang dicintainya mati di tangan sahabatnya, dan malaikat itu pun menyerahkan sebelah sayapnya yang lain untuk menghidupkan kembali manusia yang dicintainya dan akibatnya, malaikat itu terjatuh ke lubang hampa."

"Dobe."

"Aku menukarkan sebelah sayapku untukmu, aku juga seorang malaikat pendosa. Meski aku tidak tahu kenapa aku bisa ada dalam sosok tubuh seperti ini, tapi kenyataan bahwa aku tidak menjalankan hukuman yang diberikan dari tetua malaikat... kh... Aku takut, mereka menambah hukumanku, aku takut..."

"Jangan berfikir yang macam-macam dobe, tak akan kubiarkan kau hilang, aku tak akan membiarkan kita berpisah lagi, tidak akan."


Itu janji Sasuke. Itu adalah janji yang Sasuke ucapkan sepenuh hati. Yang akan dipenuhinya apapun bayaran yang harus dibayarnya.

.

.

Lagi-lagi aku berada di tempat gelap ini. Lagi-lagi aku bertemu dengan bocah itu. Bocah dengan rambut dan bola mata yang sama denganku. Menengadah menatapku. Tapi pandangan matanya berbeda dari kemarin.

Bukan tatapan yang marah seperti kemarin, apalagi tatapan penuh kebencian. Yang ditunjukannya kali ini adalah tatapan yang sendu.

"Kenapa?" suara itu begitu lirih. Bocah itu menunduk. "Kenapa kakak melupakanku?"

Tiba-tiba saja kepalaku sakit. Kilasan-kilasan balik berseliweran di kepalaku. Membuat kepalaku sakit. Aku meringis kesakitan dan bocah itu hanya menatapku dengan dingin.

"Ukh..."

Kilasan-kilasan balik itu menyakitiku.

"ARGH!"

Aku terbangun. Mimpi itu datang lagi dan entah kenapa mimpi itu terasa buruk di kepalaku. Perlahan aku terbangun dan meringis kesakitan ketika kepalaku berdenyut. Aku merasakan daya pandangku menyempit. Ah, mata kananku diperban oleh seseorang.

"Kau baik-baik saja?" pertanyaan itu membuatku menoleh. Seorang perempuan berambut merah muda menatapku dengan khawatir.

"Sakura-chan?" tanyaku ragu. Sejenak gadis, ah wanita dihadapanku kaget. Satu kalimat yang diucapkannya membuatku bingung.

"Kau mengingatku?"

.

.

Jantung Sasuke berdegup kencang ketika tidak mendapati Naruto di sekolahnya. Kebodohannya yang melupakan fakta bahwa hari ini jadwal Naruto sedikit lebih cepat dari biasanya. Sasuke segera menyalakan mobilnya menuju rumah kekasihnya.

"Kushina-senpai –" panggilan itu membuat Nyonya Namikaze yang berada di dapur menoleh. Uchiha Sasuke, yang diketahuinya sebagai adik kelasnya semasa bangku kuliah itu berdiri terengah-engah. Kushina mendengus, sudah kebiasaan bungsu uchiha itu masuk seenaknya ke rumahnya.

"Ada apa Sasuke?" tanya Kushina malas, meletakan pecahan gelas yang baru selesai dikumpulkannya.

"Apa Naruto sudah pulang?" tanya Sasuke. Kushina menautkan jarinya.

"Naruto?"

Sasuke memukul keningnya pelan. Dia sungguh lupa kalau sekarang nama kekasihnya bukan lagi Naruto, tetapi Naru.

"Maksudku Naru," ucap Sasuke meralat dengan agak canggung. Dia tidak biasa dengan nama baru kekasihnya itu. Kushina hanya ber"Oh" saja.

"Dia belum pulang, kupikir dia bersamamu," ucap Kushina, sedikit khawatir. Pasalnya perasaannya tidak enak sejak tadi. Mendengar itu, Sasuke langsung berbalik pergi. "Tunggu Sasuke!" panggilan itu membuat langkah Sasuke berhenti.

"Apa ada yang terjadi dengan Naru? Maksudku, apa kau menyembunyikan sesuatu tentang Naru?"

Pertanyaan itu membuat si bungsu Uchiha terdiam.

.

.

Aku masih menatapnya. Menatap wajah Sakura dengan bingung dan tajam. Sekarang rambutnya sepanjang pinggang dan Ya... sepuluh tidak bertemu membuatnya semakin terlihat cantik, kuakui itu. Tapi bukan itu yang jadi masalah kenapa aku menatapnya, tetapi karena ucapannya tadi.

"Kau mengingatku?"

"Matamu sedikit terluka, tapi tidak meninggalkan bekas luka apapun. Hanya saja kau harus diperban selama beberapa hari," alih-alih menjawab, Sakura-chan malah mengalihkan pembicaraan. Aku menatapnya, sedikit keraguan tertera di wajahnya yang cantik. Mata emeraldnya bergerak liar, menatap ke manapun asalkan tidak menatap mata biruku.

"Kau tahu kau tidak pernah bisa mengalihkan pembicaraan, Sakura-chan."

"Argh! Baiklah!" ucap Sakura-chan begitu mendengar ucapan itu yang terkesan tajam. Sakura-chan langsung menatapku dengan serius.

"Kau tidak seharusnya mengingatku dan mengingat sesuatu yang berhubungan dengan masa lalumu itu, Naruto. Dan seharusnya kau tidak bisa melihat Ino dan..." Ucapan Sakura-chan berhenti ketika gadis itu memperlihatkan sayap putihnya yang lebar. Blazer yang dipakainya berubah menjadi pakaian malaikat pengantar roh. "Aku dalam bentuk malaikat..."


...

To Be continued

...


Ok, Chap dua ampe di sini dulu... hehe

Sorry lama, karena banyak yang harus saya pikirkan sehingga saya harus mengabaikan fict-fict yang sudah menanti untuki di update... hahahaha

Ok, bales reviuw...

monkey D eimi : Makasih atas pujiannya, jadi malu.. hehe. Dan... Apa yang dilakukan Ino sudah terjawab di Fict ini, silakan baca ya... repiuw?

CCloveRuki : Apakah Sasuke bisa menyelamatkan Naruto? Dan apakah Kushina seorang malaikat? Akan terjawab di chap berikutnya... makasih udah Repiuw... gmana dengan fict ini? Hehe

Rose : Ortunya Naru gak tahu kalau Sasu pacaran ama Naru... yang mereka tahu Sasuke menganggap Naru hanya sebagai ponakannya, ingat usia mereka yang terpaut lebih dari 13 tahun, hehe.

natsuki-riri : Sakuranya udah muncul... makasih udah baca... silakan repiuw lagi... hehe

ayushina : Iya, masalahnya udah rumit... semoga gak terlalu tambah rumit... tapi sepertinya bakalan tambah rumit... hehe silakan repiuw lagi...

NHL-chan : Wah, NHL-chan repiuw lagi.. makasih ya... n,n sepertinya sekuelnya lebih rumit dari the fallen angelnya, hehe. Silakan repiuw lagi...

Ashahi Kagari-kun : Wah, berarti Ashahi-san baru sampai suka fict aku ya... belum sampe menarik.. hehehhehehe Tapi makasih repiuwnya... Aku gak pernah bikin ending SasuNaru pisah kok~ *memandang ke arah lain* tapi gak tahu deh kalau di chap-chap sebelum endnya.. hehe. Maaf gak bisa update cepet... mau repiuw lagi? Hehe

Gak nyangka yang baca cukup banyak, yang Fave juga lumayan Banyak...

Nah... bagaimanakah dengan chap 3? Ada yang mau nyumbang-nyumbang ide? Hahaha

Ok... Repiuw Please~