Main Cast : Chanyeol X Baekhyun
Other Cast : Temukan di dalamnya :)
Disclaimer : ChanBaek vers. (Remake)Fic ini milik Gloomy RosemaryakaCupidKyumin
.
.
Previous Chapter
"AAAAARHHHH! Ahh~ arhnnn...mhhmpph!" Baekhyun mencabut paksa jarinya, begitu benda asing dalam rektumnya bergetar keras. Namja cantik itu mati-matian membekap bibir, dengan tubuh menggelepar liar di atas ranjang, ia tak bisa melakukan apapun selain mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi dan kembali menghempasnya di ranjang, kala vibrator itu semakin kasar menumbuk prostatnya.
"Nggaahhh~ ah! ah!...C—Chanyeoolll!"
,
.
,
Chapter 2
Love Sick
by. Gloomy Rosemary aka CupidKyumin
.
.
.
.
"Shit!"
Manik obsidian itu tiba-tiba saja memicing tak suka, begitu melihat sebuah mercy silver terparkir apik di halaman mewahnya. Ah Sungguh! Chanyeol membenci pemilik mobil silver itu.
"Sejak kapan pelacur itu datang kemari!" Desis Chanyeol sembari melepas helmetnya, sedikit berdengus muak sebelum menuruni motor sport miliknya.
Berulang kali bibir merah itu mengumpat lirih, ini tak seperti rencana di awal...Chanyeol memang sengaja pulang terlambat dengan tujuan untuk menghindari Ayahnya. Namun apa yang dilihatnya detik ini benar-benar bertolak jauh...terlalu muak jika harus menatap mata pelacur itu terlebih wajahnya. Pikir Chanyeol
.
BRAAKKK
Chanyeol menendang kasar pintu utama itu, tak pelak membuat dua orang yang tengah bersenda mesra di dalamnya tampak berjengit terkejut.
"Y-YACKK! DIMANA SANTUNMU HAH?!" Teriak Minho pada akhirnya, Pria itu beranjak bangkit hendak menyentak marah, namun sosok ramping di sisinya terlihat kekeuh menahannya.
Seolah terbiasa dengan seruan tersebut, Chanyeol hanya mengulas seringai dan melangkah malas. Tak terlihat sedikitpun menaruh hirau pada raut Ayahnya yang kini mengeras menahan amarah.
Tapi Minho tak bisa begitu saja, membiarkan sikap tak pantas Putranya terus berlarut. Ia memaksa bangkit, dan menghardik pemuda tinggi itu.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini!?" Geramnya seraya mencekal cepat lengan Chanyeol,Sebagai seorang Ayah, tentu Ia meradang bukan main melihat putra tunggalnya itu hanya melenggang acuh, tanpa sedikitpun membuka santun.
"Setidaknya kau bisa mengucapkan salam pada Taemin, bersikaplah—
"Tch!" Decih Chanyeol serayal menghempas kasar tangan Miho. Lalu melirik tajam pada seorang namja cantik yang duduk di seberangnnya. Rasa muaknya semakin menjadi, kala melihat tatapan teduh itu...munafik sekali, pikirnya.
Chanyeol begitu angkuh mengunyah permen karetnya seraya menunjuk namja cantik bernama Taemin itu. "Sampai pelacurmu itu, tak lagi menginjjakkan kaki di rumah—PLAKKKK
"Jaga bicaramu! Taemin bukan pelacur!"
Masih dengan wajah memaling ke kanan, Chanyeol menyeringai tajam... tak sedikitpun terlihat raut meringis menahan sakit, karena memang ia telah terbiasa diperlakukan demikian. Chanyeol sedikit menggerakkan rahangnya dan terkekeh keras begitu menyadari sudut bibirnya kembali berdarah. Itu mengingatkannya pada sosok manis yang menamparnya di sekolah beberapa jam lalu. Bedanya...tamparan Baekhyun tak sekuat tamparan Ayahnya.
"Menyenangkan hn? Memberi pertunjukkan untuk Pelacurmu? Tampar lagi jika kau belum puas"
"KAU—
"M—Minho! Tidak Minho ... Ku mohon hentikan" Taemin berlari cepat, menahan tangan kekar yang kembali terangkat, siap melayangkan tamparannya. Ia beralih menangkup wajah Minho dan menatap lekat matanya, berusaha meluruhkan amarah pria itu.
"Aku tak bisa membiarkan anak tak berguna ini, sesuka hatinya memanggilmu pelacur Taemin...kau calon—
"Gwaenchana...aku bisa memahaminya. Ku mohon jangan bersikap sekeras ini pada Chanyeolie." Taemin tersenyum lembut berusaha meyakinkan pria tampan itu. Bahwa ia benar-benar menaruh harap pada permintaannya tersebut. Taemin sepenuhnya memahami posisinya saat ini. Kehadirannya yang mendadak...tentu tak bisa di terima begitu saja oleh anak seperti Chanyeol. Ya... butuh waktu untuk mendekat dan meluluhkan hati Chanyeol yang dingin.
"Cha.. ganti seragammu dan lekaslah makan malam...aku telah memasakkan makanan kesukaanmu hari ini"
"Aku tak butuh perhatianmu! Kau tak akan bisa menggantikan Ibuku! Sampai kapanpun itu!" Desis Chanyeol seraya menghempas kasar jemari lentik yang membelai pipinya. Tatapannya kian menghunus tajam, melemparkan perhitungan penuh pada sosok cantik yang kini memandangnya sendu.
Chanyeol beralih mengeluarkan permen karet yang telah bercampur dengan darah segar miliknya, dan menginjaknya di depan Taemin, sebelum akhirnya menghentak pergi menuju kamarnya.
"YACK! CHANYEOL—
"Minho biarkan... Chanyeol butuh waktu untuk menerimaku...anak itu tentunya sangat kehilangan dengan kepergian Yoona"
"Tapi itu sudah 5 tahun lamanya Taemin. Chanyeol tentu membutuhkan sosok ibu untuk mendidiknya... kau tau? semakin besar anak itu semakin sulit aku mengendalikannya, Aissh! Bagaimana mungkin anaka itu memiliki tabiat seperti itu!"
Taemin tersenyum, memandang teduh Pria kekar itu. "Semua butuh waktu. Chanyeol akan berubah, kau harus mempercayai itu...Di dalamnya mengalir darahmu. Sikapnya sudah pasti menurun darimu juga" Canda Taemin berusaha sedikit menenangkan Minho. sesekali ia mengerjap polos mendatangkan kekehan pelan dari calon suaminya itu.
"Ahh jangan memandangku seperti itu...kau membuatku tak tahan Min"
.
.
" Engh~ J—jangan di sini Minho Akh!~" Taemin meremas kuat surai hitam itu, terlihat panik mengelak cumbuan Minho, berkali-kali ia mendorong dada kekar pria itu. Tapi tetap saja tubuh rampingnya terbanting ke sofa merah di sisi keduanya, dan menerima hisapan-hisapan kasar di lehernya
"Minho! Tunggu, jika Chan~eumphftth~ mmh"
.
.
.
.
BRUGHH
Chanyeol membanting kasar tas punggungnya di lantai, Ia benar-benar meradang. kehadiran Taemin semakin memperkeruh hubungannya dengan Minho. Bagi Chanyeol...Pria itu yang telah membutakan mata Ayahnya hingga begitu cepat melupakan ibunya. Meski Yoona telah tiada...tapi jika Ayahnya memang mencintainya, tentu tak akan semudah itu terpikat pada sosok Pria semacam Taemin. Dan Taemin pula yang membuat Ayahnya kini begitu ringan tangan padanya, memukul dan menampar sesuka hati tanpa peduli di mana ia berpijak.
Taemin tak lebih dari sekedar pelacur dan penjilat di matanya. Semua perhatian dan tatapan lembut namja itu, tak berarti apapun untuknya...sekali pelacur tetaplah pelacur! Itu yang kini terpatri di hati Chanyeol.
"BRENGSEK!"
Amarahnya makin menjadi, kala mengingat tanggal pernikahan Ayahnya dengan namja itu makin di depan mata. Chanyeol menghempas apapun di atas meja belajarnya membuat segalanya berhamburan di kamar yang semula bersih dan rapi itu.
Chanyeol beralih menghempaskan tubuhnya di ranjang dan memejamkan mata...segalanya terasa penat. Terlebih sosok manis bernama Byun Baekhyun itu tak kunjung menghubunginya, tentu itu sangatlah memperburuk suasana hatinya.
.
.
Hingga Tiba-tiba saja seringaian terulas di bibir merah itu, Chanyeol tau apa yang bisa Ia lakukan pada teman—ah! lebih tepatnya mangsa mungilnya itu.
"Lihat apa yang akan terjadi .. Baekhyun~ah"
KLIK
Chanyeol terkekeh pelan sembari melempar-lempar remote control dalam genggamannya. Membayangkan Baekhyun saat ini tentu sangatlah menggoda, tubuh mungil ramping itu sudah pasti akan mengglepar liar karna vibrator miliknya.
Setidaknya menemukan kelinci manis itu...sedikit memberinya hiburan di tengah batinnya yang kacau. Ya...ia bisa sesuka hati bermain dengannya bahkan menguasainya dengan mudahnya.
Chanyeol kembali menghempaskan tubuhnya di ranjang dengan senyum terkembang.
"Baiklah...aku tak bisa melepaskanmu Byun Baekhyun" Lirihnya saat menatap lekat siluet dalam layar gadgetnya, sesosok namja mungil tengah bersama dengan pria yang diyakininya sebagai Ayahnya.
Ya...beberapa jam lalu ia sempat mengikuti mobil Baekhyun. Tentunya setelah bermain dengan kelinci manisnya, memancing rasa penasarannya untuk mengetahui kediaman sosok mungil itu. Dan benar saja semua memang berjalan sesuai keinginannya.
.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain...
.
.
"AAARHHH! Ahh~ arhnnn...mhhmpph!" Baekhyun mencabut paksa jarinya, begitu benda asing dalam rektumnya bergetar keras. Bocah manis itu mati-matian membekap bibir, dengan tubuh menggelepar liar di atas ranjang, ia tak bisa melakukan apapun selain mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi dan kembali menghempasnya di ranjang, kala vibrator itu semakin kasar menumbuk prostatnya.
Nafasnya begitu memburu, terlalu payah mengimbangi sengatan kejut dalam organ intimnya. Berkali-kali ia menggeleng kasar, dengan tangan mencengkeram tepian ranjang, hingga jemari lentik itu tampak memucat pasi.
"Engh~ Arrghtt!" Lagi, erangannya kembali mengalun tertahan.. Baekhyun tak tau...Sampai kapan benda asing itu mengorek dari dalam dan membuatnya semakin payah. Bahkan manik caramel itupun terlihat sembab penuh dengan bulir bening di pelupuknya
Baekhyun frustasi...
Ia tak bisa terus menerus menjerit dan memekik, meskipun menginginkannya. Tentu saja, semua alasan itu karena kedua orang tuanya . Oh Tuhan...raut macam apa yang akan terbesit di wajah mereka jika tau kondisinya tampak mengenaskan seperti ini. Terlebih untuk Jaejong,
Wanita itu sudah pasti histeris dan menggila...melihat benda mengerikan bersarang dalam lubang anal Putranya. Namun tak cukup dengan semua itu...karena alasan terbesar bagi Baekhyun adalah...ia 'malu'
Ah...ayolah, Baekhyun bukan bocah ingusan lagi dan mendapat pelecehan sexual semacam ini... tentu membuatnya menanggung malu luar biasa, Meskipun itu di depan Ayah dan Ibunya sekalipun.
.
.
"Nggahhh~ ah! ah!...C-Chanyeol! Mmpfthh" Baekhyun mendongak seraya membekap bibir, kala tubuhnya tiba-tiba mengejang. Kedua matanya terbelalak lebar...melihat cairan kental itu menciprat dari ujung milikknya hingga mengenai perut dan sebagian dadanya. Apa ini? mungkinkah dirinya sedang klimaks?
Maldo andwae! Benda terkutuk macam apa yang membuatnya 'keluar' sebanyak ini. Bukan! Bukan karena vibrator itu, melainkan seorang yang telah mengendalikannya. Baekhyun tau betul siapa orang itu. Ya...Namja yang tak sekalipun bermain-main dengan ucapannya,dan apa yang terjadi pada dirinya saat ini...semakin melekatkan keyakinannya...bahwa Chanyeol benar-benar telah mencengkeramnya dengan kuasa dan keangkuhan itu.
"Nnnh~ Arghmpfthh...hiks B—berhentih."
Baekhyun terisak di tengah rintihannya, tubuhnya semakin melemas akan tetapi vibrator itu tetap bergetar tanpa jeda. Tidak! Baekhyun tidak kuat lagi menahannya...ia terlalu lelah disiksa tanpa sentuhan dan tanpa alasan seperti ini.
"Sayang..."
Tiba-tiba seseorang memanggilnya dari luar.
Ia tau itu suara Ibunya.
"Baekhyun...apa yang terjadi di dalam? Buka pintunya Sayang"
Kringat dingin merembas dari keningnya, begitu mendengar seruan dan derap langkah Ibunya terdengar berbaur di luar kamarnya. Baekhyun meraih selimut dan menggigit kuat-kuat kain tebal itu, bagaimanapun...Baekhyun tak bisa membiarkan Ibu dan Ayahnya mengetahui petaka yang tengah menimpa dirinya saat ini.
.
.
.
"Uhnnnn~ M—mimpi buruk!" Seru Baekhyun.
"Mimpi buruk?" Jaejong mengernyit curiga, apa ia tak salah dengar? Dan lagi... sangat tidak biasa Putranya tidur awal. Bahkan ini masih pukul 7 malam.
Jaejong tau benar Baekhyun akan menggelayut manja ingin ditemani melihat anime kesayangannya pada pukul itu.
Tapi bagaimana mungkin...
Ah! Firasatnya benar-benar memburuk. " Buka pintunya Sayang...Eomma ingin—
"B—biarkan Baek-hyuun ti—dur!."
Rasa cemasnya seakan tertelan begitu saja kala mendengar jeritan keras dari dalam kamar pink Putranya, meski nyatanya jeritan itu terdengar tersendat-sendat. Jaejong kembali menarik kesimpulan...Baekhyun tengah menangis. Ia menduga..suasana hati Putranya masih memburuk karena keputusan pindah sekolah itu, tentu ia menyalahkan dirinya diri akan perihal tersebut. Bagaimanapun keputusan sepihak ini sudah pasti terlalu menekan batin Baekhyun.
Tak ingin memperkeruh suasana hati namja kecilnya, Jaejong beralih mengusap pelan pintu Baekhyun dan berbisik lirih. "Eomma tak bermaksud menyakiti hatimu seperti ini, kami hanya menginginkan yang terbaik untukmu Baekhyun ..maafkan Eomma. Cha...kembalilah tidur Sayang"
Jaejong menghela nafas pelan dengan senyum tersimpul begitu mengambil langkah pergi. Baekhyun terbiasa dimanja, tentu keinginan yang tak dipenuhi akan membuatnya kesal bukan kepalang. Namja mungil itu mebutuhkan sekat untuk menenangkan diri...ya, seperti yang diucapkan suaminya beberapa saat lalu.
.
.
.
"Unnhh~" Baekhyun menggeleng kasar...ia tau, ibunya tengah menyalahkan dirinya sendiri. Semua kata yang terucap sama sekali tak mendiskripsikan kondisinya saat ini, bukan karena keputusan pindah sekolah itu...tapi semua karena pelecehan yang ia terima dari satu iblis berkedok pelajar di sekolah elite itu.
.
.
Masih dengan tubuh yang menggelinjang, Bocah itu mati-matian menggapai rektumnya. "A—arghttt!." Rintih Baekhyun perih... begitu melesakkan dua jarinya sekaligus ke dalam lapisan yang telah basah itu. apapun yang terjadi ia harus membuang jauh-jauh benda menjijikkan itu dari dalam tubuhnya.
Baekhyun makin kuat menggigit bibir bawahnya, saat ujung jarinya menyentuh sesuatu yang bergetar dan keras, ia makin melesakkan kedua jarinya berusaha meraih dan menjepit benda tersebut.
Tapi sial!Cairan rektumnya membuat benda itu terlalu licin dan makin terdorong lebih dalam...Baekhyun pasrah mengerang dengan tubuh menggigil di atas ranjangnya. Apalagi yang bisa ia lakukan? Benda itu melesak terlalu dalam...dan jarinya tak mampu menggapainya.
.
.
.
"Nnn~...ARGHTTTT!" Baekhyun mengatupkan gigi kuat, kala merasakan perutnya mengeras...satu tarikan nafas menyertai hentakan pinggulnya ke atas, dan cairan kental itu kembali merembas deras dari urethranya.
Bulir bening semakin merembas, terlalu muak melihat dirinya kini...bagaimana mungkin seseorang memperlakukan tubuhnya serendah ini. Apakah hanya sebuah tamparan berbuah akibat dengan harga dirinya yang terinjak? Tidakkah itu membuatnya merugi...ya! Semuanya begitu tak adil bagi Baekhyun.
"Ngh~ B—brengsek! Ahnn."
Berapa banyakpun umpatan yang terucap dari bibirnya, sama sekali tak menghentikan apapun. Vibrator itu tetap bergetar liar menumbuk prostatnya, dan semakin terasa menyiksa kala tubuhnya berangsur-angsur menjadi sensitif. Baekhyun tak sanggup memegang kesadarannya jika lebih dari ini, meski merintih lemah...namun manik indah itu perlahan menutup. Membuat air mata yang menggenang jatuh lebih cepat dari pelupuknya.
Ingin memanggil Eomma...
Tidak! Baekhyun tidak akan melakukannya...Ia memang selalu bergantung pada Jaejong dan mendapat luapan kasih sayang melebihi apapun dari wanita cantik itu. Tapi jika terjebak dalam kondisi semacam ini, tentu pantang bagi Baekhyun merengek pada Eommanya untuk menarik keluar Vibrator itu dari dalam buttnya. Itu bukan lelucon bagi namja sepertinya, ya walau nyatanya Baekhyun memang 'anak' Eomma.
'Jadi kau tau apa kesimpulan dari semua ini bukan? Telfon aku jika kau menginginkanku mengeluarkan vibrator itu'
Manik caramelnya seketika terbelalak lebar begitu ucapan namja itu kembali terngiang. Apa yang harus Baekhyun lakukan untuk menghentikan semua ini. Eommanya ataukah...memenuhi tawaran menjijikkan itu.
Baekhyun memaksa menggeliat ke sisi kiri, beringsut dengan tubuh gemetar demi meraih smart phone Pink miliknya.
Berulang kali ia mengumpat lirih dalam rintihannya, begitu menyadari tubuhnya tak lagi sejalan dengan pikirannya. Terus menggeliat liar diluar kendalinya. Semua karna vibrator itu! ia tak memiliki kesempatan untuk memegang kesadarannya secara penuh.
"Nghh~" Erang Baekhyun kala jemari lentiknya berhasil meraih benda persgi itu, ia mengatupkan gigi kuat-kuat...sebisa mungkin berpegang pada kesadarannya.
Berhasil!
Meski samar...tapi Ia menemukan nama 'Chanyeol' dari sekian kontak yang tersimpan dalam ponselnya. Entahlah, sepertinya berdiri di batas limit membuat segala indranya menajam dalam sekejap.
Baekhyun memejamkan mata erat, kesabarannya serasa dijerat ketika mendengar nada tunggu dalam linenya. Oh sungguh...ingin rasanya membakar namja Park itu hidup-hidup.
"Chanh—hyeolh! Angkat—
"Hn...apa kau merindukanku Baekhyun? ah aku sempat menduga kau terlalu menikmati benda itu...hingga tak —
"H—hentikan... Nnnghh!"
Baekhyun mengerang jengkel, kepalanya benar-benar akan meledak jika terus menerus seperti ini. Ia tak butuh semua ocehan gila Chanyeol. Vibrator mati dan dirinya terbebas dari semua rintih menjijikkan itu. Ya...hanya itu yang diinginkan Baekhyun saat ini.
"Bagaimana jika aku tidak bersedia?"
"A—APA KAU GILA! Nggh~...A—AHH!"
Shit! Bagaimana mungkin ia kembali mencapai klimaks di saat berhasil menyambung kontak dengan Chanyeol. Dadanya kembali kembang kempis, terlalu ringkih jika harus menahan semuanya lebih dari ini. Cukup! Baekhyun tak sanggup lagi.
"Ku mo—hon ...nnh~" Rintihnya , Baekhyun menggeleng lemas...ia tau cairannya begitu banyak menggenang di bagian selatan tubuhnya dan membuatnya lengket.
"Sesuai permintaan."
Bersamaan dengan kekehan ringan itu, benda yang terus menerus mengoyak prostatnya berhenti bergetar. Baekhyun menarik nafas panjang sebelum akhirnya kembali memejamkan mata erat...jangankan untuk bangkit, sekedar menyeka peluh di wajahnya saja ia tak mampu.
"Kau menikmatinya?"
Meski belum sepenuhnya pulih dari letihnya, namun mendengar pertanyaan itu membuat manik caramelny membulat lebar. Tidak! Ia sama sekali tidak menikmatinya...tubuhnya serasa diperas mengeluarkan cairan kental itu. Baekhyun takut...berulang kali ia menggeleng kasar, seolah-olah Chanyeol memang tengah memandangnya.
"T—tidaak!...hhh..hh" Engahnya, masih dengan kepala menggeleng kasar...paras cantiknya begitu memucat, cemas kalau-kalau Chanyeol membuat benda mengerikan itu kembali bergetar dalam tubuhnya. Secepat yang ia bisa, Baekhyun melesakkan jarinya ke dalam...kembali berusaha mengambil vibrator itu tapi tetap saja usahanya berbuah sia-sia. Jemarinya tak cukup panjang meraih benda keras tersebut. "Ukh~ tak sampai"
"Kau akan menyesal, jika berusaha menarik benda itu keluar...ingat Baekhyun, hanya aku yang bisa melakukannya."
Baekhyun nyaris memekik mendengarnya, kedua matanya memandang tak tentu arah...terlalu takut bahkan gelisah, seakan Chanyeol tengah mengawasinya saat ini
Baekhyun tau...Chanyeol bukanlah sosok yang akan bermain-main dengan perhitungannya. Setiap kata yang terucap menjadi suatu kenyataan yang mutlak...tentu ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama.
"Ku mo—hon... k—keluarkan" Ucapnya tersendat-sendat. Apalagi yang bisa dilakukannya selain menyerah...Chanyeol benar-benar tak memberinya opsi lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Temui aku di taman bersebrangan dengan rumahmu."
"R-rumahku?! Taman Kwangsan?" Baekhyun seketika terlonjak mendengarnya, bagamaina mungkin Chanyeol menyebut sebuah taman yang berdekatan dengan rumahnya, bukankah itu berarti Chanyeol telah mengetahui kediamannya. Dan lagi...bagaimana cara Chanyeol mengeluarkannya jika di tempat terbuka seperti itu? mungkinkah ia kan dipaksa telanjang bulat di sana?... Chanyeol Gila!
"Aku sedang menuju tempat itu"
"MWOOO?! Appa dan Eomma—tuuut...tuuuut...tuuut
"YAHH!"
Baekhyun membulatkan mata, dan menatap jengkel gadget pinknya. Begitu Chanyeol memutus sepihak sambungan telfon tersebut. Kesabarannya benar-benar terpangkas habis dengan semua sikap Chanyeol. Selalu bertindak sesuka hati...pemaksa dan angkuh. Ah! Baekhyun benar-benar tidak rela wajah tampan itu dimiliki oleh namja semacam Chanyeol. Itu tidak adil!
"MICHIGGO ANNYAAA!"
.
.
.
.
"Yunnie...aku tak bisa melihat Baekhyun seperti ini terus menerus,a—aku ... hiks" Jaejong begitu tergugu dalam dekapan suaminya, hatinya serasa remuk mendapati Baekhyun kini tak lagi bermanja-manja dan melekat erat dengan dirinya, memang baru hari ini Baekhyun demikian...tapi itu sudah membuatnya kehilangan setengah mati. Terlebih...Baekhyunpun berani berbicara keras bahkan membentaknya, itu bukan pribadi Putra kecilnya, dan sungguh Jaejong begitu merindukan tawa riang namja mungil itu.
"Sshh...kau terlalu mencemaskannya Boo, jangan terbiasa memanjakan anak itu...lihat apa akibatnya...kau bisa menyimpulkannya sendiri bukan?"
Ucap Yunho seraya mengelus pelan kepala istrinya, bagaimanapun semua sikap kekanakan Baekhyun memang berawal dari Jaejong yang begitu keras kepala memanjakan buah hatinya. Tak bisa dicegah di setiap detiknya, selalu menimang,membelanya bahkan melindunginya saat berbuat salah...sama sekali tak menginginkan mutiara kecilnya tersentuh oleh siapapun yang membuatnya retak. Semua Jaejong lakukan di depan anak itu sendiri, tentu saja Baekhyun menjadi pribadi yang mudah menutup hati saat keinginannya tak terpenuhi. Ya...karna memang Baekhyun terbiasa mendapatkan apapun dengan hanya mengerjap dan merengek manja pada Ibunya.
"T—tapi bagaimana jika Uri Baekhyun membenciku? Hiks...aku –aku tak kan sanggup jika—hiks...ku mohon Yunnie, jangan sekolah itu...turuti kemauan—
TAP...TAP...TAP
Isakkannya terhent. Jaejong terbelalak lebar, begitu melihat buah hatinya berlari tergesa menapaki anak tangga rumahnya. Penampilannya memang terlihat sembab...namun satu yang membuatnya mengernyit heran, Baekhyun ingin pergi kemana dengan ransel kecil di punggungnya...ah! jangan bilang jika—
"S—Sayang. ..apa yang ingin kau lakukan semalam ini? T-Tidak! Jangan meninggalkan rumah seperti ini...maafkan Eom—
"Eommaa~ Baekhyun ingin belajar bersama teman...boleh nee?"
"B—belajar?" Manik indahnya kembali membulat lebar, tunggu...kali ini ia tidak salah dengar bukan? Oh sungguh...ini benar-benar kontras dengan sikap Baekhyun beberapa saat lalu. Tidakkah bocah mungil itu membentaknya keras untuk membiarkannya seorang diri, begitu tertutup dan dingin. Tapi kini...rengekan manja dan tatapan menggemaskan itu berada tepat di hadapannya, Putranya telah kembali!
"T-tugas dari Sunny Seonsaeng, B-Baekhyun tak bisa mengerjakannya sendiri...boleh nee? Appa...Eommaa~" Rengek Baekhyun sembari mengguncang lengan Ayah dan Ibunya bersamaan.
Yunho masih mengernyit mendengarnya, ia benar-benar merasa ganjal dengan perubahan sikap Baekhyun. jelas-jelas anak itu menentang keras keputusannya perihal sekolah baru itu...tapi yang ia lihat kini seolah Baekhyun memang telah menerima kenyataan, buktinya ia begitu bersemangat ingin mengerjakan tugas dari pendidiknya. Tidak! Tidak...ini sangat aneh, mustahil sekali Baekhyun berubah pikiran...atau mungkinkah ini hanya alasan Baekhyun untuk mengelabuinya, agar bisa bertemu dengan semua teman bermainnya?
'Ah! anak itu benar-benar keterlaluan, sampai kapan Baekhyun akan berbaur dengan semua Yeojja itu?' Batin Yunho sembari menghela nafas berat.
"Benarkah kau ingin belajar bersama temanmu? Yeojja atau namja huh?" Selidik Yunho penuh curiga.
"Namja! Baekhyun ingin belajar bersama teman sekelas Appa...aisshh Baekhyun berangkat"
"Tunggu! Baekhyun" Yunho menarik ransel Baekhyun sebelum anak itu berlari keluar, mau tak mau tubuh mungil itu turut tertarik kebelakang. Dan Baekhyun hanya mempoutkan bibir dengan menyilangkan kedua lengan di dadanya.
"Biar Appa yang mengantarmu" Lanjut Yunho sembari mengelus kepala Putranya.
"Appa tak percaya Baekhyun?!" Anak itu mulai menghentak kaki, menatap kesal pada Ayahnya. "Temanku Namja...dan Dia sudah menungguku di Taman! Baekhyun bisa pergi sendiri!" Kekeuh anak itu semakin memaksa.
"Menunggu? Jangan coba-coba menipu—
"APPAAA!" Jerit Baekhyun frustasi, Chanyeol akan kembali berulah jika membuatnya kesal menunggu. Ia tak bisa berlama-lama mengulur waktunya bersama kedua orang tuanya jika tak menginginkan vibrator itu kembali hidup dalam tubuhnya. Merasa kebas dan jengkel...Baekhyun merogoh ponselnya dan mendial cepat nomor seseorang.
"Chanyeol! Kau di sana?!" Seru Baekhyun gusar begitu tersambung dalam line telfonnya.
"Hn...Byun Baekhyun jangan membuatku—
"Appa kau mendengarnya? Ini suara namja bukan? Chanyeol namanya...dan dia bukan Yeojja!" Racau Baekhyun begitu mengeraskan telfonnya, tanpa peduli sosok namja dalam sambungan telfonnya tampak mengerutkan kening tak mengerti.
Yunho tampak mengangguk paham mendengarnya, ia kembali mengelus kepala Baekhyun. Setidaknya ini kemajuan...Baekhyun memiliki seorang teman namja. "Kanapa Chanyeol tidak kemari saja?"
"I-itu karena Chanyeol...C-Chanyeol pemalu. Aisshhh Appa jangan banyak bertanya, Baekhyun ingin mengerjakannya!" Baekhyun beralih mengguncang tubuh agar terlepas, lalu berlari cepat ke arah Jaejong.
Chup
"Eomma! Baekhyun berangkat!" Serunya usai mengecup pipi Jaejong
Membuat wanita itu mengerjap tak rela. "Baekhyun! Biarkan Appa mengantarmu Sayang"
Seakan tak ingin mendengar, anak itu tetap berlari cepat menuju pintu utama. Tanpa peduli seruan cemas Jaejong. Bagaimanapun ia tak bisa begitu saja membiarkan Putra kecilnya keluar seorang diri di tempat yang masih asing untuknya.
"Yunnie...apa yang kau lakukan? Ikuti anak itu...kita belum mengenal siapa temannya, dan Baekhyun belum memehami betul tempat ini, kejar Yunnie!" Panik Jaejong seraya menarik lengan kekar Yunho, memaksanya untuk segera bergegas.
"AKU NAMJAAAA!" Jerit Baekhyun tiba-tiba dari luar rumahnya, bocah itu tau...ibunya begitu berlebih mencemaskannya.
"Kau dengar itu?...jangan membuatnya semakin kesal Boo...biarkan Baekhyun menjadi namja dewasa dengan sendirinya"
"Tapi Yunnie—
"Sshh percayalah pada Baekhyun... tidak baik selalu mengurungnya di rumah. Anak itu perlu berbaur dengan semua teman barunya...lagipula ini masih pukul 8 malam"
Jaejong merengut, entahlah...Suaminya benar-benar menyebalkan kali ini. sedari tadi firasatnya begitu memburuk. Tapi Yunho berulang kali mengelaknya. Alih-alih menenang...perasaan kesalnya malah semakin memuncak ke ubun-ubun.
"Aku tak akan sudi memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada Baekhyun!" TAP...TAP...TAP
Yunho berjengit terkejut, mendapat perhitungan keras dari istri cantiknya...bagaimana mungkin Jaejong semarah ini padanya. Yunho berlari secepat mungkin mengejar hentakkan kaki Jaejong menuju kamarnya. Ohh! Ini mengerikan...ia tak akan mendapat jatah malam ini, jika istrinya tiba-tiba bersikap demikian.
"Boo ..kau marah padaku? Yyaa...jangan seperti ini ayolah...aku—
"Jangan coba-coba mendekatiku!" Jaejong tiba-tiba saja berbalik arah, dan mendorong hidung Yunho dengan telunjuknya, memaksa pria kekar itu keluar dari kamar keduanya.
"Y—yya! Boojae"
.
.
.
Baekhyun menautkan tangan erat, dan meremas-remasnya gusar kala melihat siluet Chanyeol tampak bersandar pada sebuah tiang di tengah taman itu. jemari panjang pemuda itu memutar random gadget hitam miliknya, terlihat jelas namja itu tengah bosan menunggu.
Dengan ragu ia menyeret langkah mendekat, sesekali Baekhyun meringis tak nyaman kala vibrator dalam rektumnya berdesakkan dengan prostatnya, saat dibuatnya untuk berjalan.
Ia menahan nafas gugup, begitu sosok tinggi itu menyadari kehadirannya dan menatapnya lekat. Sungguh demi apapun itu...Baekhyun bisa melihat kilap angkuh dari sudut manik obsidian itu. Ingin rasanya berlari mundur...namun bagaimana nasib tubuhnya kelak jika ia memaksa melarikan diri. Chanyeol sudah pasti tak akan membiarkannya begitu saja, dan lagi...ia tak menginginkan namja itu membuatnya klimaks bertubi-tubi dengan benda mengerikan miliknya.
"Mendekatlah"
DEG
Baekhyun benar-benar lupa cara bernafas dengan benar, kala wajah stoic itu terangkat...membuat temaram cahaya lampu menerpa garis wajahnya di tengah kegelapan itu. Chanyeol bagaikan manekin hidup dengan semua pahatan menakjubkan miliknya...tubuh tinggi, sedikit pucat dengan surai yang semakin coklat karena bias cahaya itu benar-benar menawan sadarnya.
Baekhyun bergeming ..sama sekali enggan melanjutkan langkahnya untuk mendekat. Entahlah...jantungnya tiba-tiba saja berdebar seliar ini.
"Jangan membuat benda dalam tubuhmu mengulang ucapanku Byun Baekhyun"
Baekhyun terbelalak lebar dan menggeleng kasar, berusaha kembali menarik paksa rasa takjubnya. Chanyeol tak pantas untuk dikagumi...ya! Baekhyun begitu yakin...sesosok iblis sepertinya tengah terperangkap dalam tubuh malaikat itu.
Dengan tatapan menghunus tajam, Baekhyun berjalan menghentak kaki. Dan berdiri penuh perhitungan di depan pemuda tinggi itu.
"Aku sudah memenuhi keinginanmu! Jadi lepaskan benda menjijikkan itu sekarang juga!"
Chanyeol menyeringai. Ia makin mengikis sekat dengan namja mungil itu dan menarik pinggulnya mendekat...membuat Baekhyun kembali terbelalak lebar, menyadari milik keduanya saling menekan kuat.
"A—apa yang kau—
"Hmmh...bersikap manislah padaku" Bisik Chanyeol seduktif tepat di telinga Baekhyun, sedikit meniupnya sebelum akhirnya mengulum penuh lapisan lembut itu.
"A—ahnnn~." Baekhyun menggigil, diremasnya kuat-kuat kemeja bagian dada Chanyeol. Tubuhnya melemas...bibir dan lidah Chanyeol terlampau panas menyengat titik sensitifnya.
Tunggu! Ini masih di muka umum ...kendati terlihat sunyi namun tempatnya berpijak saat ini sangatlah berdekatan dengan rumahnya, bagaimana jika kedua orang tuanya tau. Tidak! Itu akan sangat mengancamnya.
"Lepaskan!" Sentak Baekhyun seraya mendorong kasar dada Chanyeol, cumbuan basah di telinga kirinyapun terlepas secara paksa.
Chanyeol menyipitkan mata dengan seringai tersungging. "Bukankah sudah kukatakan untuk bersikap manis padaku." Ucap Chanyeol sambil mengangkat dagu Baekhyun agar menatapnya.
"Apa kau buta di mana kita berdiri saat ini! Kau tak memiliki hak apapun untuk memerintahku sesuka hatimu Park!"
"Oh ya? Bagaimana jika aku tetap berhak melakukannya?"
"Bermimpilah untuk—
KLIK
"A—AHH...nghh"
Baekhyun melunglai dan jatuh semakin jauh ke dalam dekapan namja tinggi itu, bagian dalam rektumnya kembali terasa diperas untuk mengeluarkan sarinya, begitu vibrator Chanyeol bergetar maksimum.
"Kau lihat? Park Chanyeol bisa menguasaimu kapanpun Dia mau... Baekhyun." Seringai itu kembali terulas tajam di bibir merahnya, berulang kali Chanyeol membelai kepala Baekhyun dan terkekeh menang menyadari tubuh mungil itu begitu gemetar dalam pelukannya.
"Hentih...ahnn~ ah...ahhh Je—balhh"
Seolah puas mendengar Baekhyun memohon sepayah itu padanya, Chanyeol menghentikan cepat sengatan kejut vibratornya. Dan makin kuat merengkuh pinggang Baekhyun agar tak merosot begitu saja.
"Apa salah—ukh...K-kau memperlakukan ku seperti ini, apa salahku?." lirih Baekhyun tersendat-sendat. Ia tak lagi bisa menopang dirinya lagi, rasanya segalanya telah dicengkeram Chanyeol hingga mustahil baginya untuk menebas kuasa itu.
"Kau tak memiliki salah apaapun sayang. Hanya saja...aku terlalu senang bermain dengan kelinci semanis ini"
Baekhyun menggeleng lemah. Apa? bermain?...tidakkah Ia seperti direndahkan dengan semua ucapan itu. Meski lelucon... tapi sungguh itu benar-benar menikamnya telak. Baekhyun masih memiliki perasaan dan harga diri, bagaimana mungkin namja itu menginjaknya dengan mudahnya. Apa yang sebenarnya ia hadapi saat ini? Baekhyun benar-benar tak bisa menerkanya...terlalu mengerikan jika harus membayangkan Chanyeol akan benar-benar mengendalikan dirinya secara penuh.
"Le—paskan" Lirih Baekhyun... meski tau, mustahil Chanyeol menyanggupinya...tapi besar harapannya Chanyeol sedikit menaruh iba pada dirinya saat ini.
"Dengan senang hati"
Baekhyun tersentak, ia menatap lekat wajah stoic itu...berharap Chanyeol tak sekedar memepermainkannya lagi. Tapi jika memang benar...apakah harus di tempat semacam ini? Tidak Mungkin!
"Ikuti aku" Ucap Chanyeol, seraya menggenggam jemari lentik itu agar mengkutinya, Namun Baekhyun hanya diam mematung. Rencana busuk apalagi yang ingin Chanyeol lakukan untuk melecehkannya.
"Tch...apa kau lupa? Park Chanyeol tak pernah mengingkari janjinya Baekhyun...ayo jalan!" Chanyeol menyeret paksa namja mungil itu mendekati motor besarnya, sementara Baekhyun hanya menunduk pasrah.
Baekhyun terlalu takut
Menghadapi Chanyeol seorang diri seperti ini, benar-benar serasa dikuasai rasa cekamnya. Tak ada yang bisa Baekhyun lakukan selain menunduk dan terisak menahan tangis.
.
.
.
"Pakai"
Baekhyun mengusap kasar air matanya begitu Chanyeol menyodorkan helm hitamnya, keningnya kembali bertaut heran...apa niat Chanyeol sebenarnya.
"i-ini..."
"Cepat pakai! atau kau ingin aku mengeluarkannya di sini saja? Geurrae...lepas celanamu"
Bocah manis itu meneguk ludah payah, cepat-cepat ia meraih helmet Chanyeol dan memakainya cepat. "Apa yang i—ingin kau lakukan?"
Chanyeol terkekeh ringan mendengarnya, ia begitu santai menaiki motor besarnya dan menepuk pelan sisi belakangnya...mengisyaratkan pada namja mungil itu lekas mengikuti dirinya.
"T—tidak, kau ingin membawaku kemana?" Tanya Baekhyun dengan tangan gemetar memegang helmet hitam itu, ia sedikit melangkah ke belakang...bersiap melarikan diri.
"Tentu saja ke rumahku untuk melepasnya"
"M—mwoo?" Baekhyun menggeleng kasar, ia takut bukan kepalang kali ini. mengapa harus ke rumah Chanyeol? Oh sungguh Baekhyun semakin yakin, namja itu memiliki niat buruk untuk mencelakai tubuhnya.
"A—aku tak membutuhkan bantuanmu, b—biar aku meminta orang lain untuk mengeluarkannya...t—terima kasih Chan~
Belum sempat ia mengambil langkah, Chanyeol lebih cepat mencekal lengannya dan menariknya kembali mendekati motor sport itu.
"Akh! L—lepas!..Hiks...Lepaskan aku! Ku mohon!"
Chanyeol benar-benar mengeras mendengar Baekhyun meracau demikian...apa dia bilang? Meminta orang lain untuk mengeluarkannya? Oh shit! Tak ada yang berhak melakukan itu selain dirinya sendiri.
Tanpa suara, Chanyeol memaksa mengangkat tubuh mungil itu agar segera menaiki motornya...tak ayal Baekhyun makin menjerit histeris dibuatnya. Ini pemaksaan namanya! Chanyeol benar-benar akan menculiknya.
Dengan panik...Baekhyun berusaha mengambil ponsel pinknya, berniat menghubungi Yunho. Ah...ia benar-benar menyesal menolak tawaran Ayahnya itu untuk mengantarnya...seharusnya tak kan terjadi hal semacam ini.
'Aku takut Eomma! Appaa!' Jerit Baekhyun dalam hati.
.
.
"Hiks...A—Appaa Eumpfthh~" Baekhyun terbelalak lebar, ponsel yang digenggamnya pun dapat dengan mudah dirampas Chanyeol, begitu sebuah ciuman membekap telak isakannya.
"Jangan melawanku" Bisik Chanyeol tepat, didepan bibir Baekhyun, sesaat ia menjilat lapisan manis itu...dan kembali memagutnya hingga namja cantik itu benar-benar menangkap maksud hatinya.
.
.
.
"Hiks"
Baekhyun menunduk dalam...sama sekali tak sanggup mengangkat wakah piasnya, Kala motor besar itu melaju dengan kecepatan maksimum. Tangisannya makin menjadi-jadi saat Chanyeol meremas tangan putihnya agar memeluk lebih erat perut pemuda tinggi itu. "Bereganglah yang benar"
"Eommaaaaaaaa~"
"Aisshh apa kau tak malu, menangis sekeras itu di sepanjang jalan? Huh!"
'PLAKK'
"Y—YACKKK!"
Tiba-tiba saja...Baekhyun menampar keras kepala Chanyeol dari belakang. Persetan Chanyeol akan murka dan membalasnya lebih mengerikan dari semua ini. Rasa takutnya benar-benar menenggelamkan segalanya, Baekhyun kebas...dan ia merasa kacau.
"Turunkan aku di sini!" jerit Baekhyun masih degan menangis keras.
"Tck! Berisik!"
Tanpa menghiraukan rontaan dan jeritan histeris itu, Chanyeol melajukan motornya dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang lain memegang erat kedua lengan putih Baekhyun yang memeluk perutnyanya. Was-was jika bocah itu tiba-tiba saja melompat dari atas motor. Oh...tidak akan menjadi lelucon...jika itu benar-benar terjadi.
.
.
Skip Time
Chanyeol mengacak surai ikalnya frustasi dan mendesah jengah dengan apa yang dihadapinya saat ini. 15 menit yang lalu ia tiba di halaman rumahnya...namun selama itu pula ia berdiri menahan hawa dingin hanya untuk membujuk Baekhyun masuk ke dalam rumahnya.
"Apa kau akan terus menerus seperti ini? Cepatlah berdiri!" Bujuk Chanyeol lagi. bagaimana bisa ia memaksa keangkuhannya jika Baekhyun tiba-tiba saja seperti ini. berulang kali Chanyeol melontarkan ancaman dan desisian tajam agar Baekhyun takut dan mengikutinya...tapi tetap saja percuma... bocah mungil itu tetap kekeuh berjongkok di samping motor besarnya, dengan kepala menunduk dalam.
"Aku tak akan melakukan apapun terhadapmu, cepat berdirilah"
"..."
Masih sama...Baekhyun membisu dengan kepala menggeleng kasar. Membuat helaian pirang itu terkibas seiring gerakan kepalanya.
Merasa jengah...Chanyeol beralih memaksa menarik tangan kanan Baekhyun, namun yang terlihat...namja cantik itu lebih memilih memegang erat-erat ban motor Chanyeol. Sama sekali tak menginginkan siapapun memaksanya beranjak dari posisinya.
"Kau benar-benar menggelikan, tanganmu akan kotor jika seperti ini"
Baekhyun kembali menggeleng...biarlah tangannya dipenuhi bercak hitam. Ia benar-benar tak bisa menguasai dirinya lagi dari perasaan takut itu. Sekali lagi...mengapa harus di rumah Chanyeol?
"Geurrae! Jika memang kau menginginkan vibrator itu selamanya bersarang dalam tubuhmu. Aku pergi...tetaplah duduk di luar seperti itu!"
Chanyeol angkat tangan, dan melangkah santai menuju pintu utama rumah mewahnya...meninggalkan Baekhyun yang masih duduk bulat di samping ban motor sportnya.
"HIKS!"
Namun isakkan keras itu berhasil menghentikan langkahnya, Chanyeol berdengus jengah sebelum akhirnya memutar haluan menuju Baekhyun. Dan memaksa mengangkat bridal tubuh mungil itu dengan tiba-tiba.
"A—ah! Apa yang kau lakukan! Tidak...tidak! Turunkan aku! ...aku tak ingin masuk ke dalam!"
Namja tampan itu sama sekali tak merespon apapun, tetap melangkah mantap memasuki rumahnya tanpa peduli Baekhyun makin meronta liar dalam dekapannya.
.
.
,
"Kau kriminal! Memaksaku! Menculikku hiks...Appa akan menghajar—
"F—fasterhh...ahnn~ Yeah se—perti ituh..M-Minhooo...Akhh! Ohh!"
"Ini nikmath...Minnie...ssshhh."
"Akh! Akhhh...ahhh!."
Baekhyun berhenti meronta, saat tiba-tiba saja mendengar desahan dan pekikkan keras bersahutan dari ruangan di seberangnya. Kedua matanya membulat lebar...ia memandang ruangan itu dan Chanyeol bergantian, berusaha menuntut penjelasan pada sang pemilik Rumah tersebut.
"Tutup kedua telingamu" Ucap Chanyeol kemudian, tanpa menghentikan langkahnya.
"A—apa?"
"ikuti apa kataku...jika tak ingin tuli karena suara menjijikkan itu"
Seolah mempercayainya, Baekhyun cepat-cepat menutup kedua telinganya dan mengerjap polos...siapa yang mau telinganya tiba-tiba tuli? Itu mengerikan.
Tapi siapa yang mendesah seperti itu...apa mereka hantu rumah Chanyeol? Ah...pantas saja, namja itu seperti iblis.
Tak henti-hentinya Baekhyun bermonolog dalam batinnya, membayangkan segala kemungkinan Chanyeol menjadi sosok yang sedemikian mengerikannya.
.
.
.
.
BRUGH
"Akh!"
Baekhyun memekik kecil begitu Chanyeol menghempas tubuhnya ke sebuah ranjang King size. Ia merambati cepat tepiannya begitu nyawanya kembali terkumpul dan sadar dirinya kini telah berada di kamar Chanyeol.
"Lepas celanamu"
Titah Chanyeol tiba-tiba, sontak Baekhyun kembali histeris mendengarnya. Baekhyun beralih secepat mungkin merangkak ke sudut ranjang dan meringkuk bulat di sana.
"Yya! apa kau selalu merepotkan seperti ini?" sentak Chanyeol gusar.
"K—kau yang memulainya! Kau memasukkan benda itu ke dalam tubuhku! Itu salahmu!. Seru Baekhyun sambil memeluk erat-erat tas ranselnya.
Chanyeol kembali mengulas seringai mendengarnya, sebenarnya mudah saja baginya jika memaksa dan melucuti semua kain yang membalut tubuh Baekhyun. Namun rasanya ia sedang ingin bermain perasaan dengan namja mungil itu.
"Benar...itu salahku, lalu bukankah ini saatnya aku mempertanggung jawabkan semua kesalahan itu?" Ujar Chanyeol sembari merangkak menaiki ranjangnya tanpa sedikitpun melepas seringaian tajam itu.
"J—jangan mendekat!"
"Why? Apa kau ingin aku menekan ini" Chanyeol menunjukkan sebuah benda hitam bertombol di tangannya.
Tak perlu dijelaskanpun Baekhyun tau benar benda macam apa itu. Ya! Benda yang akan membuatnya menggelinjang liar hanya dengan sekali tekan.
"Berhenti mempermainkan tubuhku!. Jerit Baekhyun keras, ia makin menenggelamkan kepala dalam dekapan lengannya. Terlalu frustasi menghadapi semua tatapan dan seringaian tajam itu.
"Semua akan mudah jika kau diam dan patuh padaku."
Merasa putus asa dan tak memiliki pilihan lain, Baekhyun itu pada akhirnya mengangkat kepala dan memandang Chanyeol dengan gemetar. Semuanya memang mutlak bukan kesalahannnya...itu karena Chanyeol! meskipun besar keinginannya ingin mencekik Chanyeol hidup-hidup, tapi rasanya percuma...oh ayolah dirinya kini telah terjebak di sarang namja itu.
.
.
.
Baekhyun menutup mata dengan kedua tangannya, begitu menyadari Chanyeol beralih cepat membuka pengait celananya dan menariknya turun hanya dalam sekali gerakan.
Ketakutannya merambat cepat saat tangan dingin itu meraba batas underwearnya, apapun yang terjadi pada dirinya saat ini. Baekhyun benar-benar tak memiliki nyali untuk membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya kelak. Ia memang menggigil takut...tapi bagaimanapun itu, vibrator yang tertanam dalam tubuhnya harus secepatnya terlepas detik ini juga.
"Uhnn~" Tubuh mungil itu tersentak saat Chanyeol menarik underwearnya hingga batas lututnya, memperlihatkan genital mungil yang memerah karena terpaan AC.
Chanyeol sempat meneguk ludah payah melihatnya, demi apapun itu...namja mungil di bawahnya memiliki kulit putih mulus tanpa cela.
Ia membawa pandangannya ke atas, dan terkekeh pelan melihat Baekhyun tampak tegang menggigit kuat-kuat bibir bawahnya. Menggemaskan sekali...pikirnya.
Chanyeol melirik jam dindingnya sekilas, ah...bukan waktu yang tepat untuk mengulur waktu seperti ini. Meski nyatanya...jauh dalam dirinya kini sesuatu tengah tersulut dan kian menjadi-jadi kala melihat Baekhyun menggeliat tak nyaman di hadapannya.
.
.
"Apa yang kau lakukan!" Baekhyun tiba-tiba saja bangkit terduduk dan menutup cepat rektumnya dengan telapak tangan, kala menyadari Chanyeol nyaris melesakkan jari telunjuknya.
"Tentu saja mengambil benda itu"
"Dengan jarimu?!" Mata kecilnya semakin terbelalak lebar...terlalu bergidik membayangkan jari panjang itu masuk ke dalam tubuhnya.
"Hn..." Gumam Chanyeol seadanya, masih dengan memegang kedua kaki Baekhyun yang tertekuk, agar tetap terbuka lebar.
Baekhyun menggeleng kasar, yang benar saja Chanyeol menjamah tubuhnya hingga sejauh itu...oh Tuhan, makhluk macam apa yang kini menyeringai di hadapannya. Tak ada sedikitpun raut bersalah di wajahnya, sepenuhnya angkuh dan dingin.
"Terserah saja, jika kau tak menginginkanku mengambilnya...asal kau tau, benda itu akan semakin masuk ke dalam sistem pencernaanmu jika tidak segera di tarik keluar. Selamanya akan bersarang di perutmu...kecuali—
Chanyeol menggantungkan ucapannya, dan mendekati telinga kiri Baekhyun. "Kau melakukan operasi." Lanjutnya lagi dan menyeringai menang begitu melihat ia berhasil membuat paras cantik itu memucat pasi.
Baekhyun lemas, pikirannya melayang cepat pada mata pisau dan jarum tajam serta berbagai obat-obatan dengan aroma mengerikan. Tidak! Baekhyun tak ingin pisau dan jarum tersebut membelah perutnya hanya untuk mengeluarkan vibrator terkutuk itu.
"A—andwae! Aku takut! C-Chan Keluarkan...ku mohon keluarkan!"
Chanyeol menggigit bibir bawah demi menahan tawanya, mudah sekali mengelabui Baekhyun dengan bualannya. Ia sedikit menghela nafas dan memasang wajah sedihnya, tentu saja untuk menarik simpati dan rasa percaya namja mungil itu.
"Aku akan mengeluarkannya sekarang Baek"
Baekhyun mengangguk cepat, pasrah saja pada Chanyeol yang kembali membuka kakinya lebih lebar...memperlihatkan rektum merah dengan bercak putih...sisa klimaksnya beberapa saat lalu.
.
.
"Ukhh~"
Baekhyun mengernyit tak nyaman, begitu satu jari panjang Chanyeol terdorong kuat ke dalam rektumnya.
"Rileks" Bisik Chanyeol masih berusaha melesakkan seluruh ruas jari telunjuknya ke dalam, seringaiannya kembali terbentuk melihat paras baby face itu semakin dipenuhi semburat merah.
"A—ahh~"
Chanyeol memejamkan mata, berusaha fokus menajamkan indranya demi menemukan letak benda keras itu. berulang kali pula ia menahan nafas...sungguh lengkingan Baekhyun benar-benar menggoda hasratnya untuk berbuat lebih.
Dapat!
Ujung telunjuknya menyentuh sesuatu yang keras, ia mengerjap takjub...bagaimana mungkin benda itu melesak sejauh ini. tentu saja jari mungil Baekhyun tak akan mampu mencapainya.
Ia beralih menggerakkan jari tengahnya untuk turut melesak...namun baru ujungnya yang masuk...Baekhyun tiba-tiba saja memekik sakit.
"Akhh! S—SAKIT!"
"Tahanlah sedikit." Ucap Chanyeol masih terus melesakkan jari panjangnya, tanpa menghiraukan Baekhyun makin mendongak kesakitan.
"SAKIT! Hks" Rintih Baekhyun lagi. Ini awal baginya seseorang memeperlakukannya demikian...perih meski sebenarnya terselip rasa nikmat di dalamnya.
Sementara Chanyeol tampak meneguk ludah payah...ini hebat, rektum Baekhyun begitu ketat menjepit dua jarinya. Sempat terlintas dalam benaknya...untuk segera mencabut dua jari itu dan menggantinya dengan miliknya yang kini mungkin telah mengeras. Itu akan benar-benar nikmat dan memuaskannya.
.
.
"Nngh~ Ah...P-ppali keluarkan aakkh"
"Bisakah kau tenang, vibrator itu akan masuk lebih dalam jika kau bergerak terus menerus"
Baekhyun seketika membekap bibirnya, berusaha mati-matian menahan desahan kala jemari Chanyeol berulang kali menyentuh prostatnya. Ia semakin membuka lebar kedua kakinya...membari sekat lebih bagi Chanyeol untuk mengusaikan segalanya.
"Uhmmppp~." Baekhyun tersentak begitu Chanyeol menekan kuat perutnya dan membuat gerakan mengurut ke bawah. Ia benar-benar tak bisa mendiskripsikan semua sensasi itu...terlebih dua jari Chanyeol yang masih bergerak aktif di dalam rektumnya semakin membuatnya menengadah dengan nafas memburu.
"Aku berhasil mendapatkannya, jangan melakukan gerakkan sekecil apapun...mengerti?"
Baekhyun mengerjapkan mata piasnya sebagai responnya, keningnya makin mengernyit nyeri begitu merasakan jamari panjang itu berusaha menarik keluar sebuah beda bulat berukuran sedang dari dalamnya.
.
.
"Nnn~...Nggaahhh!" Pekik Baekhyun bersamaan dengan tertariknya vibrator itu dari dalam rektumnya, kedua matanya masih terpejam erat dengan nafas terengah-engah.
Sesaat kemudian ie membuka mata sayunya dan kembali berjengit menyadari Chanyeol kini tengah memandangnya begitu lekat.
"Benda ini menakjubkan bukan?" Ujar Chanyeol sembari menunjukkan vibrator hitam itu. tampak cairan rektumnya meleleh dari benda tersebut dan sela-sela jari Chanyeol. Sungguh...itu membuat Baekhyun meneguk ludah payah melihatnya.
.
.
"A—aku ingin pulang"
Chanyeol hanya menyeringai tipis menanggapinya, ia beralih cepat memenjarakan tubuh mungil itu ... setengah menindihnya.
Tak ayal Baekhyun menjerit panik karenanya, ia tau kemana seringaian dan gerak-gerik itu akan membawa nasibnya kelak. "T—tidak! Ku mo—hon lepaskan! menyingkir dari tubuhku!."
"Bagaimana jika aku memberimu sesuatu yang bisa memuaskanmu lebih dari vibrator ini?"
"KAU GILA! lepaskan aku Park."
"Nikmati saja...ssshh."
Chanyeol terkekeh ringan melihat namja mungil itu meronta lemas di bawahnya, ia telah di batas limitnya...tentu akan sayang sekali jika menyia-nyiakan kesempatan hebat ini. Tangan kanannya bergerak lihai melepas pengait celana dan mengeluarkan miliknya yang berereksi maksimum. Sementara tangan lainnya tampak begitu kuat memasung pergelangan tangan Baekhyun di atas kepalanya, sama sekali tak memberinya sekat untuk melarikan diri lagi.
"AHH! C-CHANNYEOL! Tidak! Hiks...B—berhenti!" Jerit Baekhyun saat menyadari Chanyeol kini tengah menggesek bibir rektumnya dangn kepala penis berukuran besar itu.
Apa yang harus ia lakukan di saat-saat seperti ini. Chanyeol ingin memperkosanya... nyalinya begitu menciut, membayangkan segalanya akan terenggut dalam sekejap oleh namja brengsek itu.
.
.
"A—AHH! Kepalaku sa—kit ! Nghhh~"
Chanyeol mengernyit heran, melihat Baekhyun tiba-tiba menjerit keras dan lunglai begitu saja saat penisnya nyaris terdorong, membelah rektum ranum itu. Sesaat ia mengurungkan niatnya untuk menyetubuhi Baekhyun, dan beralih membelai pipi tirus itu.
"Hei Baekhyun" Panggil Chanyeol sembari menepuk pipi kanan Baekhyun.
"..."
"Byun Baekhyun?"
"..."
Tapi nihil...tak ada respon apapun, namja cantik itu tetap bergming di bawah rengkuhannya. Chanyeol menatap cemas, apa yang sebenarnya terjadi padanya? Bagaimana mungkin Baekhyun tiba-tiba pingsan seperti itu. Ini benar-benar bukan suatu yang baik.
cepat-cepat ia menarik celananya ke atas. Dan bergerak sigap membenarkan posisi berbaring Baekhyun di ranjangnya.
"Baek ...buka matamu." Serunya kalut masih dengan menepuk-nepuk pipi Baekhyun.
"Yya! Byun Baekhyun!"
Chanyeol panik bukan kepalang melihatnya, namja cantik itu sama sekali tak merespon apapun. Tak ingin membuang waktu percuma...Chanyeol berlari cepat mengambil apapun yang dibutuhkannya, untuk menyadarkan Baekhyun.
.
.
.
Sebelah matanya terbuka, melirik penuh was-was ke segala penjuru kamar berukuran King itu. Senyumnya terkembang riang, begitu tak menemukan Chanyeol di manapun. Rencananya berhasil!
Cepat-cepat Baekhyun meraih celananya dan mengenakannya secara serampangan, segalanya harus ia lakukan dengan cepat...sebelum namja itu kembali memasuki kamarnya dan menggagalkan rencana setengah berhasil ini.
"Aku harus secepatnya melarikan diri dari sini." Gumamnya, dengan mata menelisik tajam.
Baekhyun memekik girang, begitu menemukan sebuah jendela...tepat lurus di depannya. Secepat yang ia bisa Baekhyun berlari menggapainya dan membukanya kasar.
"O—ommo...ini tinggi sekali." Baekhyun begitu berjengit menatap ke bawah jendela tersebut, maldo andwae...ini lebih dari 15 meter.
Oh Baekhyun benar-benar merasa terjerat buntu jika seperti ini, apa yang harus ia lakukan untuk melarikan diri.
DRAP...DRAPP...DRAAP
Nafasnya seketika tercekat mendengar suara derap mendekat di luar kamar, ia tau itu langkah Chanyeol.
"B—Bagaimana ini?" Panik Baekhyun.
Mustahil jika harus kembali berbaring di ranjang, dan kembali melanjutkan sandiwara itu...ia tak kan mungkin terus menerus memasang tubuh kaku...diam seperti mayat hanya untuk menyelamatkan diri dari terkaman Chanyeol itu akan mambuat tubuhnya pegal dan mati rasa.
Opsi lain adalah...'Lompat dari jendela'...
.
.
.
.
"Byun Baekhyun,— Oh! SHIT!."
.
.
.
.
.
.
TeBeCe
Allooohaaa Gloomy datang lagi bawa next chapter Love Sick. bangun! bangun!
Oya ada perombakan di chap 1.
Sesuai saran dan masukkan :)
Peran Kai dan Sehun ditukar, jadi Kai yang beringasan dan Sehun yang agak kalem menghanyutkan hehe.
Okee Lanjut apa Hapus niihh?
Reviiiiiuw ne, makin banyak makin kilat update.
LOFL (Love of Fallen Leaves, minggu yaakk)
IG; Gloomy_rosemary
dan untuk:
inspirit7starlight , Ice Freya , selepy, Elinassi , meanieismylifeu, restikadena90, Innocent Vee, littlehunhan , jeonjanuariya01 , AdisKMH , park kkuma , veraparkhyun, winter park chanchan, mochiB, Tiara696 c, lupa , mons'cbhs'kjd , AlexandraLexa , annachanbaek07 , Baekhyun Cantik , sehunluhan0905 c, Siti855 , Chocolatera , buny puppy c, Chanyeolliee , elisabethlaurenti12399, Lee Na Rin, chan92 , ennoo96 , jjaeseopj , LittleOoh, sitikkaebsongbae,neniFanadicky , yodabacon614 , 90Rahmayani, byunlovely , dyeo0102, icing , BananaOhbanana, Esmeraldaisya , kimi2266 , Chanbaek769 , zahrohalatiah, Puji Hkhs, Eun810 , firelight6114, DongchimiChanbaek , Chanbaeknaena , Eka915 , nolachanbee , yollie wife , pongpongi , Sherlyn78 , Shimamariam21, chanbaexi, byunlovely c, baekyeol1097 , mutianafsulm , bbhyn92, istmrbee , PRISNA CHO, VlnChuu, Senrose996 , Anonymous , micopark , rismaaa45 , sintaexolsintaexol9591, n3208007 ,dan All Guest
Terima kasih banyaaaaak sudah mereview
jangan lupa review lagi neee,
Annyeoooong Saraaanghaaaaaeeeeeeeeee
