Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Taehyung lebih perpisahannya bersama Jimin.
Taehyung pikir mungkin ia terkena karma karena dulu sempat berlaku tidak baik pada orang seperti Jimin sehingga kini ia justru merasa tercekik ketika Jimin akan pergi.
"Tae, aku bisa batalkan ren-"
"Kalau sampai kau bilang tidak mau pergi ke Amerika hanya karena aku, aku bersumpah akan mengiris bokongmu dan menggorengnya seperti menggoreng bacon." Gertak Taehyung.
Jimin masih merajuk. Ia berada di dalam kamar Taehyung, merebahkan tubuhnya di atas ranjang Taehyung sementara si empunya ranjang tengah duduk di depan laptopnya yang menyala. Terlihat sibuk dengan game.
"Tapi aku tidak mau di sana sendirian, Tae. Nanti kalau aku rindu pada Busan bagaimana?" Jimin melayangkan rajukan untuk kesekian kalinya, berharap dengan begitu Taehyung akan luluh.
Taehyung bangkit dari duduknya membiarkan laptopnya menyala dengan foto bulan purnama sebagai wallpaper desktopnya. Ia meraih kepala Jimin yang terkulai di atas kasurnya, tanpa ragu menariknya agar menjadikan paha kurusnya sebagai bantal.
"Aku tidak mau jauh darimu." Rajuk Jimin sembari menatap rahang Taehyung yang melengkung tajam.
Jika saja Jimin jeli, mungkin ia akan melihat rahang itu mengetat samar, "Ini mimpimu, jangan jadi lemah cuma gara-gara tidak ada aku. Kalau kau rindu Busan, kau tinggal pulang."
"Kau seperti Mama, tidak ada yang menentangku pergi. Apa kalian sebegitu inginnya jauh dariku?"
Taehyung menjitak pucuk kepala Jimin pelan walau Jimin menanggapinya dengan pekikan sakit berlebihan, "Justru kami mendukungmu, dasar tidak tahu diri."
"Mendukung apa? Kalian menyuruhku jauh-jauh, jahat sekali," Jimin menutupi kepalanya, "jangan pukul kepalaku lagi!" Pekiknya sebelum punggung jemari milik Taehyung mengetuk kepalanya.
"Kau pantas mendapatkannya, Bangsat. Otakmu tertukar dengan otak gurita atau bagaimana sih?" Taehyung mendengus kecil sebelum menarik hidung Jimin gemas, "kami ingin kau bahagia. Kau harus mewujudkan mimpimu dan buat kami bangga."
Taehyung melepaskan jepitan jemarinya di pucuk hidung Jimin ketika Jimin mulai memekik sambil memakinya, "Lepas! Sakit, Brengsek!"
Taehyung malah menarik kedua belah pipi Jimin menggunakan kedua tangannya, "Siapa mengajari kau mengumpat seperti itu, hah?"
"Kau!" Tuding Jimin cepat.
"Apa? Aku?" Taehyung melebih-lebihkan ekspresi kagetnya sebelum kembali menarik pipi Jimin tanpa ampun.
Wajah Jimin semakin terlihat buruk karena Taehyung mulai menekan pipi Jimin membuat mulutnya mengerucut sebelum menariknya lagi membuat mulut Jimin melebar dalam seringai separuh ringisan.
Ah, Taehyung akan merindukan waktu bercanda bersama Jimin seperti ini, dia yakin sekali.
"Kau berangkat dua minggu lagi 'kan?" Tanya Taehyung.
Jimin menjawab dengan anggukan sembari menangkup kedua pipinya yang memerah akibat kebrutalan sahabatnya.
Memang sebelum Jimin memulai perkuliahannya, ia akan pergi ke Seoul untuk mengikuti berbagai macam bimbingan dan pelatihan berbahasa inggris selama 3 bulan sebelum keberangkatannya yang Jimin lebih suka sebut sebagai pelatihan dasar survival di Amerika.
"Kalau begitu kita akan tamasya akhir minggu ini."
Mata Jimin berbinar, "Benar?"
Taehyung mengangguk sambil mengacak rambut Jimin di atas pangkuannya. Dadanya berdesir samar.
x
x
Kepingan kedua:
MIDSUMMER MOONLIGHT
(BTS Fict, AU, OOC, bromance, friendzone, VMin, inspired by 4 O'clock RMV's song)
(Tokoh bukan milikku. Kupakai sebagai bentuk kekagumanku pada mereka.)
Enjoy!
x
x
Jimin membiarkan dirinya dibonceng Taehyung menggunakan sepeda motor miliknya yang tentunya Taehyung kendarai dengan kecepatan tidak manusiawi, Taehyung 'kan keturunan alien, batinnya. Jimin menggendong tas besar berisi berbagai macam hal yang sudah Mamanya siapkan begitu ia berkata akan pergi ke pantai bersama Taehyung.
Ada kebahagiaan meletup di dadanya. Ia tahu benar bahwa Taehyung tidak suka cuaca panas namun kini ia membawa Jimin pergi ke Pantai Haeundae.
Taehyung memarkir motornya di tempat parkir umum 'tak jauh dari pantai. Ketika Jimin melepas helm yang dipakainya, Taehyung menyodorkan tangan. Jimin pikir Taehyung hendak meminta helm maka Jimin menyodorkan helm biru yang tadi dipakainya.
Taehyung mendecak, "Bukan helm. Tasmu sini!"
Jimin mengerjap, "Eh tidak," lalu ia tersadar, "biar aku yang bawa. Aku ini kuat."
"Aku tahu kau kuat, Jimin-ah. Tapi dari tadi kau yang menggendongnya, sini gantian." Taehyung hendak meraih tas besar itu namun Jimin menjauh.
"Biar aku yang bawa." Lalu ia berlari kecil setelah meletakan helmnya di atas motor Taehyung begitu saja.
"Tunggu aku, hei! Haish, bocah itu." Taehyung ingin merutuki Jimin namun berakhir dengan mengaitkan helm itu di kaitan motornya dan segera berlari secepat kijang menuju Jimin yang berlari kecil namun terlihat heboh karena tas besarnya yang terguncang-guncang ke atas-bawah seiring langkah kakinya.
"Pantaaai." Pekik Jimin semakin senang.
Taehyung hanya tertawa kecil sebelum menarik Jimin duduk di tembok yang memisahkan bagian atas yang berupa tanah ditambah pepohonan rindang dengan bagian bawah berupa pasir kecokelatan. Ada 2 anak tangga menurun sebelum ia bisa merasakan pasir di bawah sepatunya.
"Duduk dulu, oke? Kita lihat apa yang Mamamu bawakan." Ujar Taehyung.
Jimin nampak kecewa namun akhirnya duduk sebelum mengambil foto pantai Haeundae banyak-banyak, ia bilang ia harus membawa banyak kenang-kenangan agar ketika rindu nanti ia punya banyak obat. Ada-ada saja.
Jimin berbalik melihat Taehyung tengah melepas jaketnya menampakan lengannya yang rata 'tak berlekuk -Jimin rasa Taehyung butuh olahraga lebih banyak- karena ia mengenakan kaus 'tak berlengan di balik jaketnya. Jimin tersenyum dan menekan shutternya diam-diam.
"Mau makan dulu?" Tawar Taehyung.
Jimin mengangguk, "Mama bawakan apa?"
Taehyung membuka tempat bekal 3 susun itu, ada daging berbumbu pedas, sup tofu dengan rumput laut dan kimchi. Nasi berada di tempat terpisah. Beberapa sendok juga sumpit dan botol minum berisi air putih.
"Lihat yang Mamamu bawakan," Taehyung mengangkat cup ice cream besar yang dibalut ice pack agar suhunya tetap dingin, "ia memang Mama paling juara."
Jimin tertawa, "Tentu saja Mamaku itu Mama paling juara."
"Katakan padanya aku mau jadi anak angkatnya." Kelakar Taehyung.
"Mana sudi aku punya adik sepertimu." Balas Jimin.
Taehyung hanya tertawa lalu menyodorkan Jimin sumpit dan memulai makan mereka. Kali ini Taehyung yang memfoto Jimin yang tengah sibuk makan. Ia terlihat lucu dengan bibir belepotan bumbu dan pipi menggembung, berlatarkan pantai berair biru terang dan anak-anak berkulit kecokelatan tengah bermain pasir di belakangnya.
"Pelan-pelan, Jimin-ah." Ujar Taehyung.
Jimin mengangguk, "Di Indiana belum tentu aku bisa menemukan masakan seenak masakan Mamaku."
Yang tidak Jimin tahu, sup yang tengah Jimin makan itu adalah sup yang dibuatnya tadi pagi di rumah Jimin ketika anak itu masih bergelung di dalam selimut. Seperti kepompong raksasa.
"Aku bisa memaketkannya untukmu." Balas Taehyung.
"Dan akan sampai dua minggu kemudian, lengkap dengan jamur kehitaman dan berbau busuk." Jimin menimpali cepat.
Taehyung diam 'tak menjawab, namun tanpa sadar Taehyung melarikan jemarinya mengusap saus di ujung bibir Jimin, "Kau belepotan." Katanya cepat ketika menyadari Jimin menghentikan makannya.
"Aaa, Taehyungie so sweet sekali siiih." Jimin memekik kecil dengan suara diimut-imutkan yang justru terdengar creepy di telinga Taehyung.
"Hentikan, Bodoh. Kau itu tidak bisa beraegyo," Taehyung menepuk wajah Jimin dengan tangannya yang lebar, "ya Tuhan selamatkan mata dan telingaku."
Jimin hanya tergelak, "Kalau aku wanita pasti aku sudah bersemu."
"Ya. Lalu aku akan menarik wajahmu dan kita akan berciuman seperti pasangan kekasih tidak sadar tempat." Balas Taehyung sarkas.
"Terdengar menantang." Jimin mencubit dagunya dan memandang Taehyung jenaka.
"Jadi kau mau kucium sekarang?" Dan Taehyung menimpali 'tak kalah baiknya.
Mereka berdua tertawa karena candaan 'tak lucu mereka. Mungkin mereka pun tidak tahu hati mereka satu sama lainnya saling mendamba. Ada getar yang disembunyikan Taehyung dan ada binar yang coba Jimin padamkan.
"Seperti kau pernah pacaran saja." Jimin yang pertama kali menghentikan tawa keduanya.
"Kau juga belum pernah, Bangsat." Taehyung membalas cepat.
"Aku bertaruh ciumanmu payah." Jimin mulai mengunyah kimchinya mengabaikan tatapan Taehyung yang tajam dan melubangi segala yang dipandangi.
"Apa perlu aku buktikan?" Taehyung bertanya dengan suara dalam.
"Woaaah, aku masih normal, Tae." Jimin menyilangkan tangannya di depan dada.
Taehyung mendecih, "Bukan dengan kau," ujarnya lalu dengan gerakan dagu ia menunjuk seorang wanita dengan hotpans dan pakaian tipis nyaris transparan yang lewat 'tak jauh dari mereka, "tapi dia."
Jimin tersenyum masam, "Aku tidak mau terlihat berteman dengan pria pelaku pelecehan di tempat umum ya, Tae."
Taehyung mengangkat bahunya sebelum fokus pada makanan di tangannya, walau lirih ia sempat berbisik, "Dia bahkan mau jadi pacarku kalau aku menyatakan cinta padanya."
Dan Jimin mengakui dalam hati: Taehyung terlalu memesona untuk diabaikan.
x
x
x
Jimin tengah sibuk berkejaran dengan ombak. Taehyung mengamatinya 'tak terlalu jauh. Ia tidak bisa ikut bermain air dan membiarkan tas serta ponsel mereka dicuri orang lain mengingat kondisi pantai yang cukup ramai karena saat ini kebetulan musim panas tengah ada di puncaknya. Maka ia berakhir duduk di atas pasir dengan tas mereka di sisinya dan mulai memotret Jimin.
Ini adalah kesukaan Jimin. Musim panas dengan matahari di atas kepala, bonus pantai Haeundae Busan yang selalu ia rindukan. Satu cup ice cream rasa cokelat milik mereka masih ada di dalam tas, Jimin bilang ia ingin memakannya nanti ketika mulai lelah bermain air.
Taehyung tersenyum melihat Jimin yang seperti ingin terjun ke dalam air laut namun terpaksa menahan hasratnya karena ia tidak membawa pakaian lain.
Beruntunglah ia mengenakan celana jeans longgar berwarna baby blue dengan panjang sedikit di bawah lutut, sehingga ia tidak perlu repot menggulungnya. Taehyung yakin celana itu seharusnya sepanjang lutut namun ketika dipakai Jimin menjadi sebawah lutut, tentu saja akibat dari tinggi badan Jimin yang apa adanya. Jimin mengenakan kaus putih bergaris-garis horizontal berlengan panjang sebagai atasan yang kini sudah ia gulung sebatas siku, ia sibuk mengejar ombak dan berlari sambil tertawa kecil ketika ombak itu datang, persis anak kecil.
Taehyung mengarahkan lensanya pada Jimin yang berjongkok di tepian dengan tangan mengacak air laut. Ada langit biru yang berpadu dengan air laut yang bewarna kebiruan jernih sebagai latar. Taehyung menekan shutternya dan tersenyum pada hasil bidikannya yang terlihat indah. Entah karena latar fotonya yang indah atau justru karena Jiminlah yang menjadi objek fotonya.
'Tak lama Jimin mendekat setelah puas bermain air, "Bosan main air sendiri."
Taehyung menyeka kening Jimin yang basah menggunakan handuk kecil berwarna biru yang telah disiapkan Mamanya Jimin. Entah karena keringat atau karena terciprat air laut basah di keningnya itu, tetapi wajah Jimin tertekuk lucu.
"Nanti tas kita ada yang mencuri, Jimin-ah." Jawab Taehyung menimpali sebelum membiarkan Jimin sibuk mengoleskan sunblock ke wajah dan tubuhnya, lagi.
"Ayo makan ice cream saja." Ajak Jimin.
Taehyung bangkit dari duduknya membuat kening Jimin mengernyit penuh tanya.
"Anginnya agak kencang, nanti pasirnya terbang ke ice cream." Ujar Taehyung sambil berjalan menjauh.
Jimin mengekori Taehyung ke tempat pertama mereka makan tadi, menerima sendok kecil yang Taehyung sodorkan. Dengan sabar membiarkan Taehyung membuka ice pack yang membungkus cup ice cream rasa cokelat dengan taburan choco chip dan saus cokelat favoritnya.
Melihat Jimin yang begitu antusias, Taehyung gatal untuk tidak bertanya, "Kau kenapa menyukai musim panas dan sinar matahari juga ice cream rasa cokelat?"
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Jimin menghentikan kegiatannya menyendok ice cream dan menatap Taehyung dengan sorot hangat yang membuat Taehyung merasa berada bersama sahabat yang sungguh tepat, "Karena musim panas tidak membekukanku. Aku takut jadi dingin," Jimin mengangkat bahunya, "aku tidak mau hatiku membeku. Juga matahari karena aku ingin sepertinya, aku ingin seperti matahari dan menyinari orang-orang yang aku sayangi. Lalu ice cream rasa cokelat yang selalu membuatku bahagia, aku pun ingin menjadi seperti itu, aku ingin menjadi sumber kebahagiaan. Yah kurang lebihnya seperti itu."
Taehyung menghembuskan napas kasar, "Kau ingin semua orang di sisimu bahagia begitu?"
Jimin mengangguk cepat, "Kurang lebihnya begitu."
"Kau mengambil perumpamaan yang buruk." Kata Taehyung.
"Ya," Jimin memutar sendoknya di atas ice cream, "aku tidak sepertimu."
"Aku?"
"Kau menyukai dini hari yang sepi karena kau bisa merenungkan banyak hal saat itu 'kan? Dan kau suka bulan karena sinarnya tidak membakar kulitmu. Kau suka fajar karena kau suka mendengar burung-burung baru bangun yang berkicau riuh menyongsong matahari terbit, memulai hati dengan penuh suka cita dan harapan. Kau mungkin orang paling aneh yang memikirkan banyak hal sebelum fajar, tapi itu tidak buruk." Jimin berkata panjang lebar.
"Aku tidak bilang begitu." Kilah Taehyung.
Jimin mengulaskan senyum malu-malu, "Itu hanya dugaanku. Kalau aku matahari apa sinarku melukaimu? Kalau iya, aku akan berubah menjadi sirius dan tidak akan melukaimu."
Taehyung menyenggol bahu Jimin, "Kau tidak puitis, Jimin-ah. Berhenti menggombaliku."
Jimin tertawa kencang.
Sayangnya Jimin tidak tahu, bagi Taehyung Jimin bukanlah matahari ataupun bintang sirius di hidupnya,
tetapi bulan.
"Ayo habiskan ice creamnya. Setelah ini kita jalan-jalan." Ujar Taehyung sembari merapikan rambut Jimin yang berantakan tertiup angin.
"Tidak bohong?"
"Iya, tasnya sudah kosong. Aku bisa mengejar ombak bersamamu."
Senyum Jimin secerah hari ini.
x
x
x
Keduanya berjalan bersisian dengan kaki telanjang tanpa alas kaki. Jimin yang bersikeras ingin tinggal sampai matahari terbenam meski tubuhnya letih setelah mengejar-ngejar ombak bersama Taehyung.
Karena posisi pantai Haeundae yang menghadap ke selatan, maka mereka bisa melihat matahari terbenam atau terbit dari pantai ini.
Mereka berjalan ke arah matahari terbenam di samping gedung-gedung tinggi. Jimin membiarkan kaki telanjangnya menapaki pasir yang basah, sesekali ombak akan datang menyapunya mengantarkan dingin yang asing. Di sisinya ada Taehyung dengan tas besar di punggung, salah satu tangannya menjinjing plastik berisi sepatunya dan Jimin yang menumpuk berdesakan.
Keduanya diam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sebelum akhirnya Jimin tersadar, ia mengambil kamera yang tergantung di lehernya dan membidik satu momen di mana ada burung terbang di langit berlatarkan sunset dengan awan-awan kelabu terbiaskan jingganya matahari. Jimin memutar tubuh dan menyaksikan wajah Taehyung dari arah samping yang disapu cahaya matahari terbenam dan angin mempermainkan poninya.
Rahang yang tegas, hidung yang mancung dan bibir yang begitu memikat. Atau pun pipinya yang halus dan matanya yang tajam. Taehyung sempurna, tanpa cela, Jimin pikir.
Taehyung terlihat terlalu fokus dengan pemandangan di depannya, membuat Jimin menekan shutternya beberapa kali menangkap perpaduan maha indah antara Taehyung dengan senja di musim panas di pantai favoritnya.
"Berhenti memotretku." Ucap Taehyung lirih.
Menyadari kegiatannya akhirnya diketahui, Jimin terkikik kecil, "Untuk kenang-kenangan, Tae. Nanti di Bloomington belum tentu aku bertemu pria yang mirip denganmu."
"Kau berharap menemukan penggantiku, begitu?"
"Bu-bukan begitu!" Jimin menyergah panik mengundang tawa di bibir Taehyung.
"Aku bercanda astaga."
Jimin mendecak sebal.
Pada akhirnya meski sedikit ragu, Jimin meraih jemari Taehyung yang bebas dan menggenggamnya dengan jemarinya yang lebih kecil, "Jangan protes! Anggap saja kau tidak merasakan apapun." Jimin berujar galak.
Mengundang tawa di bibir Taehyung, tawa yang selalu Jimin suka. Ingin rasanya ia memasukkan suara tawa Taehyung ke dalam botol kosong. Membawanya ke Amerika di mana ia akan membuka tutupnya untuk mendengar suara tawa itu ketika rindu menghajarnya hingga babak belur.
Taehyung balas menggenggam jemari Jimin, "Sial, kita sungguh seperti pasangan homo."
"Anggap saja hari ini kita memang homo. Besok aku jamin kau akan meneteskan air liur melihat paha Hyuna seperti biasanya." Balas Jimin.
"Baiklah. Homo bersamamu terdengar cukup menjanjikan." Taehyung menaik turunkan alisnya jenaka.
Jimin hanya menyenggol bahu Taehyung sebagai balasan.
"Jadi kau mau aku bertingkah seratus persen homo hari ini, atau hanya sebagian?" Tanya Taehyung.
Kaki mereka melangkah. Ombak di sore hari ini cukup tenang menyapa kaki telanjang mereka. Angin berembus sedikit kejam karena mengantarkan dingin terlalu kuat, beruntunglah matahari belum terbenam seluruhnya sehingga masih ada sisa kehangatan untuk sepasang insan yang tengah mengukir kenangan.
"Sepenuhnya." Ujar Jimin pada akhirnya.
"Wah pilihan bagus," ujar Taehyung sebelum menarik wajah Jimin ke arahnya dan mendesis tepat di hadapan wajah Jimin, "kalau sepenuhnya aku pasti sudah akan menciummu di suasana sebagus ini."
"Tae … " Jimin tergamang.
Taehyung tersenyum, tampan sekali. Sebelum wajahnya mendekat membuat napas Jimin tercekat.
Mungkinkah?
Dan satu kecupan Taehyung benamkan di atas kening Jimin yang terselimuti poninya yang mulai memanjang.
Ada langkah yang terhenti. Ada dua tubuh yang mendekat. Ada napas yang tercekat. Pula ada satu kecup yang diberikan bibir yang masih belum mau meninggalkan tempatnya terbenam.
"Baik-baiklah di Bloomington nanti," ujar Taehyung sembari melepaskan kecupannya dan menarik tubuh Jimin ke arahnya. Memeluknya erat, "jangan jadi anak nakal dengan terbawa pergaulan bebas di Amerika sana. Selamanya kau harus tetap jadi Chimchimku, pria gendut dengan kacamata tebal dan rambut yang ketinggalan zaman. Maka di sini aku akan tetap jadi Taetaemu, pria sok ganteng yang hobi memandangi bulan."
Jimin mengangguk, "Aku pasti akan kembali."
"Kembalilah. Tarikan Don Quixote paling indah untukku nanti." Taehyung menenggelamkan hidungnya di puncak kepala Jimin yang beraroma matahari bercampur keringat juga aroma alaminya yang tercium seperti aroma susu dan bedak bayi.
Ketika Taehyung melepas pelukannya, Jimin menatapnya dan tertawa kecil, "Apa ini seratus persen homomu?"
Taehyung sekali lagi mengulaskan senyum paling tampan yang ia punya, "Menurutmu?"
Ada satu peluk dan dua kecup dilayangkan.
x
x
x
Taehyung pikir ia sudah tidak punya banyak alasan untuk menangis seperti bocah, tetapi ketika hari di mana Jimin akan berangkat ke Seoul untuk pelatihan sebagai mahasiswa asing nantinya dilangsungkan, ia menangis seperti bayi. Memeluk Jimin di depan mobilnya yang terbuka.
Ada koper besar Jimin di sana, lengkap dengan Jimin yang menggendong tas hitam besar berisi barang-barang pentingnya.
Banyak peringatan yang Taehyung ingatkan, juga berbagai macam kalimat bernada khawatir yang ia ucapkan. Jimin membalas 'tak kalah panjangnya.
Ada Tuan dan Nyonya Park yang menatap perpisahan mereka dengan pandangan harunya.
Namun akhirnya Tuan Park harus mengingatkan mereka masalah waktu. Dan Taehyung harus menahan dirinya mati-matian untuk tidak mengejar Jimin, memeluknya dan tidak membiarkan siapapun menarik Jimin menjauh darinya. Juga Jimin yang harus menahan dirinya untuk tidak berlari menghambur ke dalam pelukan Taehyung dan membiarkan Taehyung egois dengan melarangnya pergi.
Ada dua sahabat yang terpisah.
Maka ketika mobil Tuan Park menjauh, Taehyung sadar separuh jiwanya tertinggal di dalam sana.
x
x
x
Nyaris 3 bulan berlalu.
Jimin masih menghubungi Taehyung setiap harinya sekedar bicara bahwa ia pusing setengah mati pada bahasa inggris yang dipelajarinya atau tentang ceritanya mengurus perizinan yang rumit hingga mengurus paspor dan visanya.
Taehyung selalu ada di sana. Mendengar keluhan Jimin. Sesekali menyempatkan diri untuk sekedar mengirimi Jimin foto bagus dari tempatnya berada.
Taehyung sebagai calon mahasiswa baru pun sama sibuknya. Sebenarnya pilihan universitas mereka sama. Pilihan pertama adalah Indiana University Bloomington dan yang kedua adalah Dong-A University. Taehyung diterima di Dong-A sehingga Ibunya menyarankan ia untuk berkuliah di Busan saja mengingat reputasi Dong-A sebagai Universitas Negeri yang mumpuni.
Taehyung tidak bisa berkata banyak. Sadar pula Ayah dan Ibunya memiliki penghasilan tidak sebesar penghasilan Ayah dan Ibu Jimin, terlebih ia memiliki dua adik kembar yang kini berusia 10 tahun. Ia harus mengalah karena Ibu dan Ayahnya pun telah mengalah membiarkan ia berkuliah di jurusan yang ia sukai meski menurut kebanyakan orang termasuk Ayahnya: sastra tidak menjanjikan banyak.
Ia tengah berada di minimarket ketika ponselnya berbunyi nyaring.
"Yeoboseyo?"
"Tae?"
Taehyung mengernyit mendengar suara Jimin yang terdengar sedikit- -entahlah. Gabungan geritan samar dengan suara khas orang sedang flu.
"Ya?"
"Pesawatku berangkat 3 jam lagi."
"Apa?"
Taehyung nyaris menjatuhkan kaleng kopi dan roti yang tengah digenggamnya.
"Kau bicara apa? Kau bilang kau berangkat minggu depan."
Taehyung merasa dadanya sesak ketika Jimin terisak, "Aku berbohong. Maafkan aku. Aku hanya takut tidak bisa pergi jika melihat wajahmu."
"Dan lebih baik pergi tanpa melihatku begitu?" Tanya Taehyung pada Jimin.
"Bukan begitu. Aku hanya berat meninggalkan Papa dan Mamaku, jika ada kau di sini juga, aku 'tak yakin bisa pergi."
"Kupikir kita sahabat, Park Jimin."
"Demi Tuhan, Tae. Kau sahabatku. Justru karena kau sahabatku aku tidak bisa. Aku tidak sanggup. Dengar, kau harus baik-baik saja selama aku pergi. Kau harus janji akan menungguku pulang. Tidak ada kopi berlebihan, kau tidak boleh makan sembarangan, jangan ceroboh, kau ha-"
"Gate berapa?"
"Apa?"
"Katakan kau lewat gate berapa?"
"Taehyung tunggu, Taehyung." Jimin terdengar panik di seberang sana.
"Aku akan menyusulmu."
Ada tubuh yang berlari, ada napas yang terkesiap.
x
x
x
Katakan Taehyung bodoh karena mungkin memang iya. Waktu dari Busan ke Seoul menggunakan subway bisa sampai 3 jam dan Jimin bilang pesawat yang ditumpanginya akan take off 3 jam lagi.
Taehyung tahu mungkin tidak akan sempat. Namun apa salahnya mencoba bukan?
Ketika Jimin membalas pesannya mengatakan dia ada di boarding room, hati Taehyung kalut. Sungguh yang ia inginkan sekarang hanyalah melepas kepergian Jimin langsung di hadapannya.
Subwaynya masih melaju. Taehyung duduk tidak nyaman. Sebentar lagi ia akan sampai di Seoul lalu menuju bandara Incheon.
Ketika pesan Jimin kembali masuk yang mengatakan ia sudah ada di dalam pesawat dan tinggal menunggu pesawatnya take off juga permintaan maaf puluhan kali karena tidak memberi tahu Taehyung, bonus sebuah ungkapan sayang dan ucapan bahwa ponselnya akan dimatikan.
Taehyung menatap ke luar jendela, menunggu.
Ada air mata yang lolos. Tidak mengapa bukan mengucapkan selamat jalan dari jauh?
Taehyung menutup mata, melihat pesawat yang terbang di udara.
Mungkinkah ada Jimin di dalam sana?
Tidak masalah bukan jika ia berharap Jimin akan baik-baik saja?
"Jiminie pabo." Desisnya seiring rindu dan haru yang mencekik. Padahal Taehyung berniat untuk menginap di Seoul di hari keberangkatan Jimin.
Rencananya hancur lebur, berantakan. Nyaris 'tak berbentuk.
x
x
x
Hari-hari Taehyung berjalan seperti biasa.
Di hari pertama Jimin berada di Amerika, anak itu menghubunginya lewat skype dan menangis tersengguk-sengguk. Jika saja Taehyung tidak ingat pada keharusannya menguatkan Jimin, pasti ia sudah turut menangis.
Jimin yang bercerita tentang hari-harinya yang berat terutama karena ia tidak menemukan teman dengan bahasa yang sama dengannya, atau kesulitannya menangkap apa yang dosennya ucapkan. Jimin bilang ia tinggal di asrama dengan 3 orang perkamarnya dan kebetulan ia ditempatkan dengan seorang pria asal India dan Inggris yang baik padanya.
Namun seiring berjalannya waktu, Jimin mulai jarang menghubunginya lewat skype bukan hanya karena perbedaan waktu yang menyiksa karena perbedaan waktu Seoul dengan Indianapolis yang berselisih di angka 11 jam, namun juga karena mungkin Jimin sudah mulai terbiasa.
Tidak ada lagi kata-kata rindu yang Jimin ucapkan. Lebih sering hanya sapaan kecil atau candaan yang ia lempar pagi buta saat Taehyung tengah berkelana di alam mimpinya di mana di Indiana sana Jimin tengah menikmati waktu sore harinya setelah kuliah.
Taehyung selalu menyempatkan diri untuk sekedar menyapa Jimin, bahkan memilih untuk menyesuaikan jamnya dengan Jimin di mana ia sering terlibat percakapan dengan Jimin di jam-jam gila untuk saling melempar canda.
Karena bagi Taehyung, mendengar tawa Jimin dan mengetahaui anak itu baik-baik saja adalah sesuatu yang berharga. Lebih dari jam tidurnya. Yang bahkan terkikis lebih dari setengahnya untuk mengerjakan tugas kuliahnya.
Sastra dan segala bacaaan tebalnya. Taehyung sungguh sangat butuh tidur setelah mengerjakan tugasnya yang mengharuskannya membuat resensi untuk buku setebal 500 halaman dalam waktu 2 hari.
Namun ketika ponselnya berdenting dan Jimin mengatakan harinya begitu buruk dan kini ia tengah menangis sendirian di kamarnya, Taehyung tidak ragu untuk menekan icon call saat itu juga.
x
x
x
Satu tahun berlalu. Taehyung pikir Jimin akan pulang saat natal, namun ia bilang ia bisa pulang 2 tahun sekali untuk menghemat biaya yang perlu dikeluarkan orangtuanya mengingat Jimin merupakan mahasiswa biasa dan tidak ada beasiswa akademis yang membantunya.
Maka malam ini adalah malam natal pertama tanpa Jimin berada di sisinya dan berdebat apakah sinterklas nyata atau tidak. Maka kali ini adalah malam pertama di mana Jimin menghubunginya di sore hari ketika di Indiana justru tengah pagi buta. Mengucapkan selamat natal dengan mata bengkak lengkap dengan hidung dan mata yang memerah.
Taehyung tahu, pasti berat bagi Jimin.
Suatu hari ketika musim dingin sampai di penghujungnya, Jimin bilang ia bertemu dengan teman baru yang berasal dari Korea, ia bernama: Jeon Jungkook.
Maka obrolan mereka selanjutnya didominasi oleh Jimin yang bercerita tentang Jungkook yang pandai, lebih muda dua tahun darinya namun berada di tingkat yang sama karena program akselerasi yang dijalaninya ketika SMA atau Jungkook si jenius fisika yang berkuliah di IU dengan beasiswa penuh dari pemerintah US. Tentang Jungkook yang suka makan kimchi dan nori, yang menggilai Justin Bieber, yang menyukai warna merah seperti warna jaket IU miliknya, atau tentang Jungkook yang pandai beladiri dan pernah menghajar preman kampus yang membullynya. Yang serius ketika tengah menghitung kalkulus juga tentang asrama mereka yang ternyata cukup dekat namun konyolnya selama satu tahun penuh mereka tidak pernah bertemu. Tentang betapa bahagianya ia bisa bicara menggunakan bahasa korea di US sana.
Hatinya mencelos.
Taehyung ingin menampik kenyataan dengan terus berusaha ada untuk Jimin tetapi sepertinya sebanyak apapun perhatian yang ia beri: jarak mereka yang terpaut ribuan kilometer tidak bisa mengantarkan hangat di hati Jimin yang mungkin kedinginan. Mungkin itulah pula alasan Jimin tidak pernah menanyakan kabarnya atau bagaimana hari-harinya di Busan sana.
Suatu ketika, saat wajah Jimin terpampang di layar laptopnya dan ada wajah pria tampan yang turut hadir, dengan kulit putih, mata bulat dan gigi seperti kelinci yang Jimin kenalkan sebagai Jeon Jungkook dengan pipi yang bersemu merah jambu, Taehyung sadar: mungkin Jimin tengah jatuh cinta.
x
x
x
"Siapa dia?"
Taehyung berbalik ketika kakak tingkatnya yang bernama Jung Hoseok bertanya. Mereka tengah berada di café 'tak jauh dari kampusnya. Taehyung yang sengaja meminta bantuan kakak tingkat yang kini begitu akrab dengannya itu untuk mengerjakan beberapa tugas mata kuliahnya.
"Oh, dia temanku," jawab Taehyung sembari melirik wallpaper laptopnya yang merupakan foto Jimin dengan senyum lebar tengah berdiri di gerbang masuk IU, "sahabat lebih tepatnya."
Hoseok tertawa kencang, "Tidak ada sahabat yang menggunakan foto sahabatnya sebagai wallpaper desktop seperti itu, Tae-ya."
Giliran Taehyung yang tertawa, "Dia sungguh sahabatku. Sahabat dekat, sudah seperti saudara kembarku."
Hoseok mengamati foto Jimin di laptop Taehyung. Gerbang dengan warna crème dengan bahan bebatuan dan gedung megah dengan atap kerucut seperti di negeri dongeng. Juga bunga tulip berwarna merah yang tumbuh segar di bagian depan gerbang. Ada dua jalur untuk pejalan kaki di sisi kanan dan kiri gerbang itu dengan bagian tengah besar yang di banyak sisinya ditumbuhi bunga tulip merah.
"Di mana itu?" Tanya Hoseok penasaran.
"IU." Jawab Taehyung singkat.
"Maksudmu Indiana University?" Tanya Hoseok dengan mata terbelalak kaget.
"Ya."
Dan satu jawaban singkat yang Taehyung ucapakan membuat rahang Hoseok jatuh membentur lantai secara imajiner.
"Jenius apa dia bisa masuk ke IU?" Hoseok bertanya dengan mata berbinar takjub.
"Tari, Hyung." Taehyung tersenyum sama bangganya, "dia penari contemporary dance sejak masih di dalam kandungan."
Hoseok tertawa kecil mendengar kelakar Taehyung, "Hebat. Aku kasian pada Mamanya."
Taehyung mengangkat sepasang alisnya bersamaan tanda bertanya.
"Bayi lain mungkin akan menendang-nendang di dalam kandungan," pancing Hoseok.
"Dan ia meliuk, begitu?" Sambung Taehyung.
Keduanya tertawa.
Taehyung melarikan jemarinya mengklik beberapa folder, bersiap untuk mendiskusikan tugas mata kuliahnya dengan Hoseok sebelum Hoseok berucap tanpa beban.
"Kau yakin tidak menyukainya?"
"Hm?" Taehyung masih sibuk dengan laptopnya.
"Sahabatmu itu," Hoseok menghela napas dalam, "kau yakin tidak menyukainya?"
Jemari Taehyung di atas keyboard terhenti. Membeku hingga kaku.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, Hyung." Jawab Taehyung akhirnya setelah mampu mengatur hela napasnya sendiri.
Hoseok yang biasanya berpembawaan ceria kini menautkan jemarinya di atas meja, memasang pose serius yang lucu di mata Taehyung jika saja topik pembicaraan mereka bukanlah tentang Jimin.
"Siapa namanya?" Tanya Hoseok lagi.
"Jimin, namanya Park Jimin." Taehyung menimpali lirih. Dengan gugup ia meraih milkshakenya dan meminumnya sedikit demi mengurangi ketegangan yang mendadak menyerang tubuhnya. Walaupun Taehyung baru mengenal Hoseok setahun belakangan ini, namun kemampuannya menyelami perangai Taehyung tidak bisa diremehkan.
"Jadi kau yakin tidak menyukai Park Jimin itu?"
Taehyung bungkam. Sibuk dengan berbagai macam pemikiran yang tiba-tiba menggema di dalam otaknya.
"Begini, Tae. Aku pikir sesayang apapun aku pada sahabatku, aku tidak akan menjadikan ia wallpaper laptop atau ponselku. Itu barang pribadi, benar? Dan kurasa, aku mungkin akan menjadikan wallpaper foto kami berdua alih-alih fotonya sendiri," Hoseok mengusap punggung Taehyung, "kecuali jika aku menyanyanginya lebih dari sekedar sahabat."
Taehyung tersentak. Dengan gerakan nyaris patah-patah ia berbalik menatap Hoseok yang masih memasang senyum dan wajah penuh pengertian.
"Jika yang kau takutkan adalah perkataan orang-orang tentang hubungan sesama jenis kupikir itu bukan masalah besar. Di zaman ini hubungan seperti itu sudah lumrah dan kurasa selama kalian berdua bahagia kenapa tidak?"
"Dia sahabatku, Hyung. Tidak lebih." Akhirnya Taehyung membalas ucapan Hoseok.
Hoseok mengangguk faham, "Baiklah jika kau bilang ia sahabatmu mungkin ia memang sahabatmu dan aku yang sok tahu tentang perasaanmu."
Taehyung mengulaskan senyum meski terpaksa. Perkataan Hoseok tidak menyinggungnya, tidak sama sekali. Mungkin lebih tepatnya adalah perkataan Hoseok menohoknya sedemikian keras.
"Hanya saja jika yang kau khawatirkan adalah persahabatan kalian," Hoseok memandang ke arah luar melalui jendela kaca, "mungkin akan sedikit canggung jika kau mengutarakannya. Tapi itu lebih baik daripada tidak."
Ada binar sendu yang berkedip di retina Hoseok.
"Atau kau akan menyesal seperti aku," Hoseok berbalik menatap Taehyung lekat, "aku pernah sepertimu. Mencintai sahabatku sendiri dan yah aku tidak mengutarakannya karena tidak ingin merubah kedekatan kami, tapi setelah ia mempunyai kekasih, persahabatan kami tetap berubah dan hampir setiap malam aku berpikir jika dulu aku jujur, mungkin semuanya tidak akan seperti ini."
Perkataan Hoseok menggema di dalam otaknya. Benarkah ia menyukai Jimin?
"Nah mana tugasmu? Ayo kita mulai kerjakan!"
x
x
x
Setelah perdebatan alot dengan dirinya sendiri akhirnya Taehyung menemukan kenyataannya. Ia memberanikan diri di suatu dini hari di pertengahan musim panas di mana bulan sabit melengkung cantik.
Di Indiana sana pukul 4 sore ketika di Korea tengah pukul 3 dini hari. Taehyung yang meminta waktu Jimin untuk bicara dengannya kali ini. Jimin sempat menolak karena seharusnya Taehyung tidur saja. Namun ketika Taehyung berkata bahwa ia sedang ingin pergi ke taman dan memandangi bulan, Jimin akhirnya mengiyakan.
Ketika panggilan terhubung yang Jimin lihat adalah keremangan wajah Taehyung yang hanya disinari lampu taman berwarna jingga. Sedangkan yang Taehyung lihat adalah Jimin dengan latar taman bermain dengan beberapa anak tengah berkejaran atau bermain jungkat-jungkit.
"Ada hal menarik apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Jimin mengawali pembicaraan.
Taehyung mengulaskan senyum kecil meski sadar wajahnya tidak nampak jelas, "Apa ya?"
Jimin tertawa, "Katakan ada apa? Apa kau baru saja menyatakan cinta pasa seorang gadis atau merana karena ditolak?"
Taehyung tertawa pelan, "Tidak, enak saja. Justru kau yang terlihat seperti itu."
Memang benar, Jimin terlihat begitu bahagia. Wajahnya tersenyum dan sesekali ia tertawa dengan pandangan menatap langit yang mengisyaratkan hal yang membuatnya tersenyum adalah hal yang tengah ia ingat atau pikirkan.
"Memang terlihat jelas ya?" Tanya Jimin dengan sebelah tangan menyentuh pipinya yang merona. Taehyung tahu pipi Jimin memang mudah memerah seperti mengenakan blush on ketika tertawa, kelelahan atau kedinginan. Tetapi ia yakin benar kali ini bukan itu alasannya.
"Tentu saja, Bodoh. Kapan sih kau bisa membohongiku?" Ujar Taehyung dengan nada berusaha seperti biasanya.
Ketika Jimin tersenyum semakin lebar dan menghela napas panjang, perasaan Taehyung memburuk.
"Kemarin Jungkook menyatakan cinta padaku … "
Tidak. Jangan dilanjutkan.
"Kau tahu orang gila itu menyatakannya di depan gerbang dengan modal setangkai tulip merah yang ia petik sembarangan?"
Hentikan. Kumohon hentikan.
"Ia sampai kena teguran gara-gara hal itu, dasar orang gila … "
Taehyung ingin sekali memutus panggilan itu dan melempar laptopnya sejauh mungkin. Tidak siap dengan ucapan Jimin selanjutnya.
"Dan masalah terbesarnya justru aku sama gilanya dengan menyukai orang gila seperti dia." Jimin tersadar dengan diam Taehyung, jemarinya melambai di depan kamera, "Tae? Hei, Tae? Apa panggilannya terputus?"
"Tidak. Aku mendengarkan." Jawab Taehyung lirih.
"Kau pasti terkejut ya?" Tanya Jimin dengan wajah mendekati kamera, "gelap sekali di situ aku sampai tidak bisa melihat wajahmu."
Taehyung diam. Kebingungan mencari jawaban.
"Oh selamat kalau begitu, Chim. Akhirnya kau punya pacar dan meninggalkan status jomlo putus asamu."
Jimin tertawa. Jomlo putus asa adalah julukan yang selalu Jimin gunakan untuk menyebut diri mereka sendiri ketika duduk menunggu pagi di taman dekat rumah mereka.
"Kau tidak apa?"
"Apanya?"
Jimin terlihat gelisah di seberang sana. Suara pekik kanak-kanak terdengar nyaring, "Sahabatmu, yah maksudku aku …"
Taehyung setia menunggu.
"Aku jadi homo. Gay. Apalah namanya itu. Yeah, kau tahulah." Ucap Jimin amburadul. Bahasa Koreanya kini sekilas terdengar seperti logat bicara orang-orang Amerika sana.
"Apa itu masalah, Jimin-ah? Selama kau bahagia aku tidak apa-apa." Balas Taehyung.
Jimin tersenyum tulus meski ada kilatan sendu sekilas menyambangi netranya, "Terima kasih kau tetap mau jadi temanku."
Taehyung tertawa sumbang, nyaris terdengar seperti kekehan orang mabuk, "Aku sahabatmu, ingat? Kau soulmateku. Apapun asal kau bahagia, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Ucapan Taehyung membuat benak Jimin menghangat, "Jadi hal menarik apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Taehyung tidak tahu harus menceritakan apa, otaknya macet. Tidak bisa mengingat hal-hal baik barang sedikit. Sebelum akhirnya kilatan Hoseok dan Choi Minji yang merupakan sahabat wanitanya melintas.
"Aku sedang tertarik pada seseorang," jawab Taehyung dengan mata melirik ke samping dengan jemari menggaruk hidung, secara naluriah menunjukkan kebohongannya, "nama gadis itu Choi Minji."
"Katakan bagaimana wajahnya? Apa dia secantik Hyuna idolamu itu?" Tanya Jimin dengan suara bergetar.
"Tidak," Taehyung menatap wajah Jimin lekat, "ia tidak secantik Hyuna. Malah ia sedikit buruk rupa," Taehyung tertawa kecil, jika Jimin bisa bahagia dengan Jungkook maka ia pun harus menunjukkan bahwa ia bahagia agar tidak membebani Jimin, "matanya kecil dan tidak ada lipatannya."
"Lanjutkan." Pinta Jimin.
"Yah rambutnya hitam uhm- sebahu mungkin dan ia senang sekali menggusak rambutnya ke belakang. Hidungnya tidak terlalu mancung, bibirnya tebal dan kulitnya halus meski tidak terlalu putih-"
"Kau sudah menyentuhnya?" Tanya Jimin cepat.
Taehyung tertawa pelan, "Yah. Begitulah, beberapa kali aku pernah mencubit pipinya. Ia juga tidak terlalu tinggi dan pipinya chubby."
"Kuliah di Dong-A juga?"
Taehyung menggeleng, "Tidak. Ia kuliah di universitas lain, jauh dari Dong-A."
Jimin terlihat mengangguk-angguk paham, wajahnya disinari matahari sore hari, "Fakultas?"
"Seni tari." Jawab Taehyung cepat.
Entah hanya perasaannya atau memang gadis yang diceritakan Taehyung sedikit mirip dengannya, "Kau benar-benar mencari penggantiku ya? Kenapa harus seseorang seperti itu sih? Jangan bilang kau tertarik padanya karena ingin menyuruhnya menari di pagi buta sepertiku begitu?"
Taehyung tertawa, "Tidak. Bukan begitu, sungguh."
"Lalu?" Angin berembus menerbangkan helaian rambut Jimin, membuat Taehyung iri karena ingin mempermainkan helai demi helai rambut Jimin dengan jemarinya pula.
Taehyung hanya diam. Menatap langit yang sudah semakin terang, mungkin sebentar lagi fajar.
"Aku berniat mengutarakan perasaanku padanya."
"Lakukan dong! Jangan bilang kau takut mengutarakan cinta padanya atau aku akan pergi menemuinya di Korea sekarang juga." Ucap Jimin menggebu-gebu.
Sayangnya Jimin tidak tahu gadis itu hanyalah akal-akalan Taehyung semata, bahkan ia belum pernah bertemu dengan gadis yang Hoseok ceritakan tempo hari. Ia hanya tahu sebatas nama dan fakta bahwa gadis itu pernah begitu dekat dengan Hoseok. Karena yang Taehyung ucapkan tentang gadis itu sebenarnya adalah tentang pemuda bernama Park Jimin, bukan gadis bernama Choi Minji.
"Sayangnya sebelum aku bilang satu kata saja, gadis itu justru menceritakan tentang kekasihnya," Taehyung menarik pandangannya dari langit dan menatap wajah Jimin di layar laptopnya, "kasihan tidak sih jadi aku? Belum bilang cinta sudah ditolak."
"A-ah." Jimin terlihat bingung mencari kata-kata.
"Ah Jimin, sudah dulu ya? Baterai laptopku low, aku lupa tidak mengisinya tadi." Ucap Taehyung berdusta.
"Baiklah. Kau jangan sedih, ya. Aku jamin gadis itu akan menyesal nantinya." Jimin menampakan raut menyesal nun jauh di sana.
"Aku tidak sedih kok. Sudah ya? Hubungi aku lewat kakao saja nanti. Sampai jumpa Jimin-ah."
"Sampai jumpa, Tae."
Sebelum panggilan video mereka terputus Taehyung sempat berujar, "Jaga dirimu baik-baik. Aku sayang kau, Jimin."
Dan belum sempat Jimin menjawab, Taehyung sudah memutuskan panggilan itu.
Dengan pelan Taehyung mematikan laptopnya, melipatnya sebelum membiarkan tubuhnya merosot dari ayunan dan tangisnya pecah.
Ia membiarkan tubuhnya jatuh ke tanah, dengan kepayahan ia memeluk lututnya sendiri dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Baru kali ini ia merasakan rasa sakit yang sedalam ini. Baru kali ini ia menangis seperti pria tanpa masa depan. Ia 'tak tahan lagi, ia 'tak bisa menutupinya lagi.
Ia menjerit keras, memukul kepalanya sendiri dan meraung seiring rasa sakit yang menggunung di hatinya dan air mata mulai menelaga di matanya.
Sungguh ia tidak ingin menangis dan menjadi lemah namun ia sadar semua tentang Park Jimin akan selalu mampu membawa reaksi yang luar biasa untuknya. Luar biasa bangga, luar biasa bahagia hingga luar biasa terluka.
Matahari belum terbit dan bulan masih bersinar meski temaram. Belum ada burung kicau yang bernyanyi yang ada hanya gemerisik suara serangga malam dan dengung burung-burung nokturnal. Juga jeritan tidak tahu waktu dari seorang pemuda yang tengah patah hati.
Ada hati yang hancur sepagi ini.
x
x
to be continue
x
x
A/N: (warn: bahasa non baku, curhat di sana-sini)
Kepingan kedua selesai hurray! Tinggal keping ketiga yang merupakan ending. Sebenarnya FF ini bisa dijadiin oneshot atau twoshot sih, tapi malah kujadikan threeshot. Ada beberapa alasan, salah satunya adalah: aku ingin membawa emosi yang berbeda di tiap chapternya haha tapi kayanya gagal. Gayaku mah gitu, di awal dibikin manis di akhir diremuk-remukin. Maapkeun. Oh iya aku batal bikin endingnya sama kaya FF lamaku karena beberapa hal, termasuk: aku gamau dapet cap Author Spesialis FF Galau haha XD
Terima kasih banyak kepada reviewer di ch kemarin, sayang kalian semua pokonya:
ViScarlett, KimLiyaaaa, Monday Kid, ChimSza95, 24noona, valerry. kim, Guest, avis alfi, audriepramesthi, itsinetta, bxjkv, calzea, Name favulously.
Oh iya, kalau ada yang kurang jelas atau terasa mengganjal silakan diutarakan di kolom review ya, nanti di A/N ch depan aku bahas.
xoxo,
December D.
