After the Honeymoon

(Remake by chronossoul)

Casts:

VIXX Hongbin (GS) & VIXX Hyuk

~ Chapter 02. Back to Reality ~

KRIIIIIINNNNGGG.

Hah!

Hongbin terbangun dari tidur. Matanya mengerjap. Segalanya masih gelap gulita, hanya sinar lampu dari luar berusaha menerobos sela-sela jendela kamarnya. Ia mengambil weker dan mematikannya. Jarum weker itu menunjukkan pukul empat pagi. Sesaat ia bingung mengapa harus bangun sepagi ini. tak lama, ia mengerang. Kantor. Ya, ini hari pertama ia harus ke akntor lagi setelah selama seminggu bulan madu di Bali.

Hongbin merenggangkan kedua tangannya dan menggeliat malas.

DUK. Tangannya menabrak sesuatu yang lembut di sebelahnya. Hongbin tertegun. Setelah berhari-hari, saat bangun pagi, ia masih saja terkaget-kaget mendapati Hyuk tidur di sampingnya. Semua cerita-cerita tentang pengantin baru yang didengarnya ternyata benar. Hongbin langsung merasa menjadi orang yang typical.

Setengah meloncat, Hongbin turun dari tempat tidur king size yang mereka beli di sebuah pameran furniture.

"Hyuk… Sayang… bangun! Kita harus ke kantor!" Hongbin mencoba membangunkan suaminya sambil mengikat rambut panjangnya yang acak-acakan.

Yang dibangunkan bergeming. Hongbin masuk ke kamar mandi yang masih terletak di dalam kamar tidur utama. Ia menyalakan lampu kamar mandi dan membiarkan pintunya terbuka. Pandangan Hongbin menyusuri sederetan alat-alat mandinya yang didominasi gambar-gambar bunga dan warna-warna feminim. Di sebelahnya, tergeletak serangkaian produk yang lebih maskulin dengan gambar tubuh berotot milik lelaki. Clearly, Hongbin membagi hidupnya dengan seseorang. Sejenak, Hongbin merasa seperti menemukan sebuah realitas dan peran baru. Dia bukan Hongbin lagi. Dia telah menjadi Mrs. Han Hongbin. Seorang istri.

Mata Hongbin berkaca-kaca, dia terharu karena akhirnya ia bisa menjadi istri Hyuk. Sulit menyakinkan pria itu untuk menikah. Hyuk menyukai hubungan mereka apa adanya. Pria itu selalu merasa belum siap memikul semua tanggungjawab yang harus diembannya. Apalagi, ibunda Hyuk tidak begitu menyetujui hubungan mereka.

Ketika akhirnya Hongbin bisa menyakinkan Hyuk untuk melamarnya, sepertinya semua doa-doa yang Hongbin panjatkan selama ini terjawab sudah.

Dia menyalakan keran wastafel dan mengusapkan air ke wajahnya. Sensasi segar langsung menyusup ke kulit mukanya. Hongbin memandang wajahnya di cermin. Matanya masih sulit dibuka karena mengantuk, dan wajahnya tampak legam terbakar matahari. Bulan madu di pantai Bali yang tropis membuat mereka betah berlama-lama berjemur di pinggir pantai. Kulit Hyuk terbakar dengan sempurna. Hyuk menyukainya. Tapi, tidak begitu dengan Hongbin. Ia terus-menerus mengeluhkan kulitnya yang menghitam, yang sering disebut orang bule 'tan'. Sebagai pengantin baru, Hongbin merasa sangat tidak cantik. Siapa bilang pengantin baru itu berseri-seri? Hongbin mengutuk dalam hati.

Hongbin mengintip ke dalam kamar tidur mereka. Selimut tebal masih menyelimuti tubuh Hyuk. Ia masih bergeming dari tidurnya. Hongbin berpikir mungkin ia harus membuatkan sarapan telur mata sapid an secangkir kopi untuk suaminya. Siapa tahu, dengan sarapan itu, Hyuk dapat membuka matanya sepenuh hati.

Wanita itu berjalan keluar kamar mandi, berjingkat melewati pakaian kotor, oleh-oleh dari bulan madu mereka, yang belum sempat dicuci, dan langsung keluar kamar menuju dapur. Dapur mereka adalah dapur bersih dengan kitchen set berornamen kayu, yang menyatu dengan ruang keluarga sekaligus ruang tamu yang interiornya berwarna dominan putih. Meskipun rumah mereka kecil, hanya memiliki dua kamar tidur, Hongbin menyukainya. Pertama, karena ia sebenarnya penakut. Dan yang kedua, mereka tak punya pilihan lain.

Kemarin, mereka sempat berbelanja kebutuhan dasar di supermarket sehingga Hongbin tak kesulitan menemukan kopi kesukaan suaminya. Kopi itu diletakkan dalam plastic belanjaan di atas meja dapur. Microwave mereka masih ada di dalam kardus dan Hongbin sama sekali bukan kompor girl. Itulah sebabnya dia memutuskan untuk membuatkan suaminya Ramyun Cup yang lebih praktis karena hanya diseduh dan siap disantap dalam lima menit.

Hongbin tersenyum geli. Sangat tidak romantic memang, sarapan pertama mereka di rumah baru Cuma dengan Ramyun Cup. Namun, paling tidak, mereka punya cerita lucu yang bisa diceritakan kepada anak cucu nanti.

Hongbin mendorong pintu kamar tidur dengan bahu. Kedua tangannya sibuk membawakan baki berisi kopi dan Ramyun Cup untuk Hyuk. Bau harum kopi bercampur dengan kuah mie membuat perutnya ikut keroncongan. Diletakkannya makanan itu di atas tempat tidur seperti cerita-cerita romantic di film Hollywood.

"Selamat pagi, Sayang! Room service! Breakfast in bed!" Hongbin mengguncang-guncang tubuh Hyuk yang segera menggeliat malas. Mencium bau kopi, mata Hyuk pelan-pelan terbuka lebar.

"Kopi?" Hyuk menggeliat dan mengubah posisi tubuhnya agar duduk sejajar dengan Hongbin. "Kamu bikin kopi?"

"Kenapa? Apa aku terlihat seperti orang yang gak pernah bikin kopi?" Hongbin merasa agak tersinggung dengan tatapan tak percaya Hyuk.

"Iya!" Hyuk menjawab singkat.

"Ih!" Hongbin sudah bersiap berdiri dan pura-pura ngambek. Hyuk tertawa melihat istrinya. Ia menangkap tangan Hongbin dan menariknya kembali ke tempat tidur.

"Terima kasih, Sayang! Kamu baik sekali…" ujar Hyuk sambil mengecup kening istrinya.

~ After the Honeymoon ~

HUFF. Macet lagi!

Hongbin mengutuk dalam hati melihat antrean panjang kendaraan yang akan memasuki Seoul. Rata-rata dari mereka adalah kaum komuter yang berbondong-bondong masuk ke Seoul pada pagi hari dan keluar Seoul pada malam hari.

Sebenarnya, Hongbin tak ingin menjadi komuter. Ia ingin tinggal di tengah kota, dekat dengan kantornya. Dia tak ingin tersiksa dengan perjalanan yang membuat mereka tua di jalan. Namun, apa daya. Sulit sekali membeli rumah di Seoul dengan budget pengantin baru. Bahkan, dengan budget 'pengantin lama' pun hanya segelintir orang yang mampu.

Akhirnya, dengan uang muka seadanya, mereka memutuskan mencicil rumah mungil berhalaman kecil tanpa pagar di daerah pinggiran Seoul. Setiap harinya, mereka berharap dapat menahan lelah dua jam perjalanan pergi dan dua jam perjalanan pulang, seperti hari ini.

Radio mengalunkan lagu baru soundtrack sebuah film terkenal. Radiolah satu-satunya hiburan dalam kondisi yang menyedihkan ini. Hongbin bersenandung riang. Ia mengetuk-ngetukkan tangan di atas kemudi, mengikuti irama lagu. Ia memandang ke kursi penumpang di sebelah, memandang Hyuk yang duduk sambil membaca majalah ponsel terbaru.

Hyuk tidak bisa menyetir. Untuk ukuran kota besar seperti Seoul dan untuk ukuran zaman sekarang, itu aneh (meskipun kita bisa pergi menggunakan kendaraan umum, tapi hey, yang membuat aneh adalah karena Hyuk berasal dari keluarga yang berada). Namun, Hyuk punya ketakutan tertentu pada kemudi karena kecelakaan yang pernah menimpanya sewaktu remaja. Itu membuatnya selalu gagal untuk belajar menyetir. Tapi Hongbin tak keberatan. Ia terbiasa menyetir. Mobil yang mereka pakai ini juga miliknya sebelum mereka menikah. Salah satu harta kebanggaan yang ia beli di sebuah lelang barang bekas pakai perusahaan.

"Bin, kamu tahu nggak?! Ponsel ini punya fitur-fitur yang lebih canggih dari ponsel ku yang sekarang! Bahkan spesifikasinya hampir sama dengan iPhone! Kamu lihat deh!" Hyuk menunjukkan sebuah halaman yang dipenuhi gambar sebuah ponsel yang mengkilat mewah.

Hongbin melirik, berusaha membagi konsentrasi jalanan dengan majalah yang dipegang suaminya.

"Looks good, Darling." Hongbin mencoba berkomentar ringan. Ia tidak mengerti apa pun tentang ponsel dan tidak peduli. Baginya, yang penting ia bisa menelepon, mengirim SMS, dan mengeek e-mail-nya. Itu saja cukup.

"Do you think we should have one?" tanya Hyuk, seperti anak kecil yang memohon untuk dibelikan barang yang tidak begitu diperlukan.

Hongbin terdiam sejenak.

"Terserah kamu." Akhirnya, hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya. Hyuk baru saja membeli ponsel keluaran terbaru. Hongbin merasa Hyuk belum perlu ponsel lain. Namun, ia tak ingin berargumen. Mereka baru saja menikah. Ia tak ingin ada pertengkaran di masa-masa bulan madu mereka. Ia ingin mempertahankan keharmonisan rumah tangga mereka selama mungkin.

"Well, kalau kamu mau, kita bisa singgah ke toko ponsel sore ini setelah pulang kantor!" ajak Hongbin sambil tersenyum ke arah Hyuk. Hyuk tersenyum lebar.

"Terima kasih, Sayang!" ujarnya senang.

~ To Be Continued ~

Emang ada ya, spesifikasi ponsel yang hampir sama dengan iphone? Maaf saya nggak tau soal yang begituan, hehe..

Dan entah kenapa marga Han terasa sangat asing dan agak aneh jika disandingkan dengan nama member lainnya, Han Hakyeon? Han Taekwoon? Han Jaehwan? Han Wonshik? Apalagi Han Hongbin… Tapi yang paling aneh sih Han Jaehwan menurut saya. XD

Emang cuma dek Sanghyuk ajadah yang pantes namanya pake marga Han. :D

Maaf jika ada typo yang bertebaran. :)

Terimakasih sudah menyempatkan baca ff ini. Silahkan ditunggu chapter selanjutnya ^^

Arigatou~ Thank you very Gamsa~ :*