"The string between two souls"

Chapter 1 "I hear what you hear, I feel what you feel"

Siang hari di sebuah sekolah. Lonceng pertanda waktu istirahat pun berbunyi, semua anak-anak keluar dari kelas dan membawa bekal makan siang nya ke kantin untuk menyantapnya bersama dengan kawan sebaya mereka.

Berbeda dengan kedua anak kembar ini, Ruki dan Ayato berjalan menuju taman belakang sekolah yang sepi.

"Ayato! Kemari sebentar, aku ingin menunjukan sesuatu padamu."

"Ah~ baik lah"

Ayato pun menghampiri ruki yang sedang duduk di depan sebuah semak-semak mawar,

"Ada apa ruki?"

"Ini, aku ingin mengenalkan mu pada Tsubaki. Tsubaki, kenalkan, ini Adik ku Ayato"

"Ru-ruki~ dia bukan manusia!"

Dengan rasa takut Ayato melangkahkan kaki nya kebelakang,

"Jangan takut Ayato, dia hanya kesepian, Tsubaki tak akan melukai kita"

"E-eh~"

Dengan rasa penasaran dan setengah ketakutan, Ayato pun menghampiri Tsubaki dan mengenalkan dirinya,

"A-aku Ayato, sa-salam kenal"

Ayato pun segera bersembunyi di belakang punggung Ruki,

"Untuk anak berumur 12 tahun, kalian berani juga menemui ku. Tapi aku senang kalian ingin berteman dengan ku. Kebanyakan orang menghindari taman ini karena keberadaan ku, padahal aku tak ingin menyakiti atau pun menakuti mereka semua."

Keluh Tsubaki pada Ruki dan Ayato.

Lonceng pun berbunyi kembali, pertanda jam istirahat telah habis,

"Baiklah Tsubaki, Besok kita bertemu lagi ya"

Seru Ruki sambil melambaikan tangan nya pada Tsubaki,

"Ayo Ayato, kita masuk kelas"

"Sa-sampai jumpa Tsubaki"

"Sampai Jumpa"

Tsubaki pun tersenyum pada kedua anak yang meninggalakan nya itu.

Ayato dan Ruki pun memasuki kelas mereka masing-masing dan mengikuti pelajaran.

Saat pelajaran Metematika berlangsung, seorang anak laki-laki jahil melempari Ayato dengen segulung kertas.

"Aduh, siapa yang melempari ku?"

Tanya Ayato yang berbisik pada dirinya sambil menengok ke kiri dan kanan,

Anak itu pun melempari Ayato sebuah kertas lagi, namun kali ini tidak mengenai Ayato, melainkan mengenai Guru metematika yang sedang menulis soal di papan tulis, guru itu pun segera membalikan badan nya menghadap murid-murid nya yang di lihatnya sedang duduk dan menulis,

"Siapa yang telah melemparkan kertas pada ku ini?!"

Seorang anak kali-laki yang duduk di belakang Ayato menyalahkan Ayato,

"Ayato yang melakukan nya pak!"

"Ayato! Apa benar begitu?!"

Guru itu pun segera menghampiri Ayato,

"Tapi mereka yang melempari bapak!"

Jelas Ayato pada Gurunya,

"Jangan berbohong kau Ayato! Kali ini akan bapak maafkan, lain kali kau akan aku suruh membersihkan kamar madi sampai jam pulang usai!"

"ba-baik pak."

Sang guru pun kembali menulis di depan kelas. Sesaat setelah itu, Anak laki-laki itu pun melempari pak guru dengan kertas, dan kali ini kertas nya bertuliskan "Berisik kau guru Berengsek!"

Dengan emosi memasuki kepala nya, guru itu pun membantingkan penghapus papan tulis dan menghampiri Ayato lagi,

"Sudah! Ini keterlaluan Ayato! Pergi ke Kamar mandi! Bersihkan semuanya! Dan jangan pulang sampai Lonceng pulang berbunyi!"

"Tapi aku! Pak!"

"Cukup! Ayato! Cepat bersihkan kamar mandi!"

Ayato tak bisa meredakan emosi gurunya, ia pun menuruti perintah gurunya. Anak-anak itu pun menertawai Ayato yang berjalan keluar dari kelas nya.

"Sayang… Ruki tak 1 kelas dengan ku…"

Saat Ayato sedang sibuk dengan pekerjaan nya membersihkan kamar mandi, segerombolan anak laki-laki pun datang menghampirinya,

"huh?! Apa kalian tidak puas menyalahkan aku dan membuat aku melakukan pekerjaan ini?!"

Seru Ayato sambil mengenggam sebuah lap Pel,

"Ha! Kami tak akan puas sampai melihat mu menderita di neraka sekalipun!"

Seru seorang anak bertubuh tinggi yang berdiri di hadapan Ayato,

Anak-anak itu pun mulai mendorong Ayato hingga ia terjatuh, mereka memukuli Ayato, menendangi nya dan meludah padanya.

"Hahahahahah! Anak aneh ini enaknya di apakan lagi ya?"

"Akan ku kencingi Dia, siapa yang mau ikut?"

"Aku setuju!"

Semua anak itu pun bersorak sambil mengencingi Ayato yang tergeletak tak berdaya dengan luka di sekujur tubuhnya.

Tiba-tiba, Angin kencang membanting pintu kamar mandi, anak-anak itu pun spontan melihat ke arah pintu, terdengar langkah kaki yang mendekati Kamar mandi, anak-anak itu pun semakin takut di buat nya.

Rupanya Ruki menghampiri mereka,

"Ha! HAHAHAHAHAAHAH! Apa ini yang sebenarnya kalian takuti?! Anak aneh satu lagi!"

Tiba-tiba anak yang menertawai Ruki pun terhempas jatuh ke lantai,

Ruki menatapi nya dengan tatapan tajam, anak itu pun merasa tenggorokan nya tercekik, ia mulai tak bisa bernafas,

"Kurang- Kurang ajar kau!"

Seorang anak melempari Ruki dengan Sebuah ember yang berisikan air kotor, tetapi ember itu malah terhempas balik ke arah anak yang melemparkan nya.

Ruki pun mengangkat tangan kirinya dan mulai mengepalkan tangan nya seolah-olah menggenggam sesuatu, tiba-tiba, anak yang berdiri di sebelah Ayato pun terangkat, ruki menghempaskan tangan nya ke lantai seolah membanting kan nya, dan anak yang tubuhnya terangkat itu pun terhempas keras ke lantai.

Seorang anak dengan tubuh tinggi itu pun ketakutan, tubuhnya bergetar sampai mengeluarkan air kencing di celananya.

Ruki pun menghampirinya dan berbisik padanya,

"Sekali lagi kau sakiti adik ku… Aku tak akan puas sampai melihat mu menderita di neraka sekalipun!"

Anak-anak itu lari terbirit-birit karena ketakutan. Ruki pun membantu Ayato untuk bangun dan membersihkan tubuhnya dengan handuk basah yang ia bawa,

"Ayato kau pakai Jaket ku saja ya, seragam mu akan ku bawa ke loundry"

"Iya… ngomong-ngomong. Kenapa kau bisa tahu aku ada di sini? Lalu! Kata-kata yang kau katakan tadi itu kan kata-kata yang mereka katakan pada ku!"

Seru Ayato kebingungan dan penasaran,

"Hehe, apa kau sudah lupa? Ibu kita bilang kita ini anak kembar kan? Biasanya anak kembar punya insting yang lebih peka di bandigkan Kakak-berAdik lain nya~"

"Ooh, begitu ya.. tapi, terimakasih banyak. Tanpa Kakak, mungkin aku bisa mati di sini hari ini juga haha"

"Haha! Mana mungkin aku tega membiarkan kau mati di sini, nah! Sekarang ayo kita pulang!"

"iya!"

Ayato pun tersenyum pada kakak kembar nya itu, mereka pun bergandengan tangan dan berangkat pulang menuju rumah mereka.