.

.

.

.

Yosh! Setelah sekian lama akhirnya bisa juga melanjutkan fic abal penuh typo ini.

Sankyu atas saran kalian di review~

Selamat menikmati kisah DRARRY ku ini :)

.

.


.

~After War, new war on my feelings begin to grow bigger~

.

.

Tak pernah terpikir oleh seorang Draco malfoy untuk berhubungan dengan seorang yang sejak kecil sudah terkenal dengan keberuntungannya bertahan hidup setelah diserang penyihir jahat sepanjang masa, apalagi menjadi suaminya. Menjadi pasangan tak wajar pertama dengan legenda yang mengikuti mereka.

.

Yang satu pahlawan sejak kecil dan yang satunya mantan death eater.

Siapa yang menyangka hal itu bisa terjadi?.

.

Mind to look back to the past, when the first time Draco realized his feeling?.

The new war one draco's feeling begin.

.

Pahlawan?. Dipuja?. Terkenal?.

Kata itu tak asing di kehidupan Harry. Si kacamata yang rambutnya selalu berantakan ini. Jadi makin terkenal setelah keberhasilannya mengalahkan lord voldemort.

Melanjutkan hari-harinya di hogwatrs sebagai murid tahun ke tujuh dibawah nawungan Minerva McGonagall kepala sekolah sekaligus penanggung jawab dari asrama Gryffindor.

Namun sayang. Bukan kebahagiaan yang didapat Harry setelah kemusnahan dark lord itu. Bukan juga kedamaian yang dicari dan ditunggunya selama ini. Justru rasa tak nyaman dan kepedihan yang tak pernah ia harapkan kehadirannya. Kian menjadi-jadi seiring berjalannya waktu.

.

.

Seperti biasa hari-hari menjelang ujian akhir sangat menyibukkan ketiga sekawan asal Gryffindor ini. Saat ini ketiganya sedang membolak-balik buku sejarah penyihir selama abad 18 yang akan menjadi salah satu bahan ujian hari jum'at nanti.

Jangan ditanya ada berapa banyak materi untuk ujian akhir mereka. Karena percayalah kau takan mau tahu. Bahkan Neville yang maniak herbologi pun kewalahan karena materi ujian yang menyangkut herbologi dicabangkan kedalam lima cabang lainnya dan diujikan dalam satu hari penuh.

.

"Hey, lihat si sombong Malfoy juga belajar" ujar salah satu siswa di samping meja trio Gold Gryffindor.

"Yeah, kau ingat? Dia menangis saat di suruh voldemort untuk membunuh proffesor Dumbledore " ejek kawan nya yang berrambut coklat pendek.

Trio Gryffindor menunduk tak nyaman. Sangat berbeda dengan Draco Malfoy yang mendelik penuh benci pada Harry. Astaga. Kenapa harry lagi yang harus kena?.

"Hahaha, ternyata Malfoy itu sangat payah" lanjut si laki-laki yang tadi pertama kali membicarakan Draco.

"Setidaknya dia lebih berani daripada kalian!" Harry yang sudah geram sedari tadi akhirnya berteriak keras. Membuat siswa-siswa lain menoleh kearah mereka.

"Uh, maaf, maksud ku berhentilah mengganggu nya. Biar bagai mana pun dia yang menolong kalian selama ini" lanjut Harry pelan setelah semua orang memberinya pandangan aneh karena berteriak di perpustakaan –terlebih teriakan itu untuk membela seorang Draco Malfoy.

.

Ketiga murid Hufflepuff tahun ke lima itu diam setelah melihat reaksi Harry.

Draco yang duduknya tak jauh dari trio gryffindor dan trio Hufflepuff yang mengejeknya itu hanya mendengus kesal. Membolak-balik buku ramuan nya dengan penuh penekanan di jari-jari tangan yang berkedut menahan emosi.

.

.

Sudah satu setengah semester sejak tahun ke tujuhnya di ulang dan sejak hari dimana ia menunjukan bahwa ia selama ini adalah pengikut voldemort –Draco ingat dengan sangat kejadian itu dan takan pernah tak ingat. However, Draco dan orang tuanya pada akhirnya juga mengikuti jalan Profesor Snape –menjadi agen ganda.

Lalu apa-apaan bocah-bocah Hogwarts ini?. Mengejeknya, menghinanya, merendahkannya. Terutama Harry, ia benci bocah berluka petir di dahi itu. selalu membelanya jika anak-anak lain mengejeknya. Draco tahu Harry sangat merendahkan dia. Harry kira Draco lemah hanya karena selalu diam saat murid-murid lain mengejeknya, Harry jadi menunjukan bahwa Draco sangat lemah dengan membelanya –mempermalukannya di hadapan semua penghuni Hogwarts.

.

Lima menit setelah Draco merasa kekesalannya tak urung hilang. Entah karena bocah tahun kelima dari Hufflepuff yang melanjutkan dan tak juga menghentikan ocehan mereka tentang kejadian setengah tahun lalu atau Harry yang terus membela Draco. Yang jelas semakin ia mendengar semua ocehan itu semakin ia sangat kesal.

Brak!.

Pansy, Theo, dan Blaise yang ada satu meja dengan leader mereka –Draco Malfoy- mengenjang keget saat si blonde menggebrak meja cukup keras.

Draco bangkit dari kursinya dan menutup bukunya keras. Membuat trio Hufflepuff terdiam. Wajahnya masih sesinis biasanya. Ia berjalan dengan arogan melewati meja si trio Hufflepuf kemudian meja kosong di depannya lalu berhenti sebentar di meja Harry.

.

"Puas mempermalukan ku, Potter?, seharusnya ibu ku membunuh mu saat itu" ujar Draco sinis lalu beranjak pergi sebelum Harmonie dan Ron sempat membalas ucapannya. Meninggalkan Harry yang terbengong kaget atas kata-kata Draco.

"Sialan, si Malfoy itu.." komentar Ron yang mengepalkan jari-jari tangannya.

"Jangan dipikirkan Harry," ucap Harmonie.

"Ya, aku sudah terbiasa" jawab Harry perih.

.

.

Pukul 08:00 malam.

Makan malam.

Ah~ ya makan malam.

Satu-satunya kesempatan Harry untuk mengisi perutnya setelah ia bolos makan siang tadi. Tapi..

Ah~

Ia sangat malas untuk keluar asrama. Meski sudah sangat sering Draco menyalahkannya atau menjelek-jelekannya, rasanya tetap sangat pedih. Mana bisa ia bilang itu biasa?.

Draco adalah satu-satunya yang paling benci padanya. Dan itu sangat mengganggu si surai hitam berkacamata ini.

.

.

"Hai mate! Nanti kau sakit" Ron, si rambut merah masih berusaha membujuk sahabanya ini untuk turun dan makan malam setelah beberapa kali gagal.

"Pergilah" jawab Harry lemas.

"Mate, apa kau mau aku menghajar si Malfoy itu?" tanya Ron lagi.

"Tak perlu, aku yang salah" jawab Harry.

"Kau membelanya lagi, Harry" tegas Ron tak suka.

"Ini kenyataan, aku tak membelanya" bantah Harry.

"Harry, mau sampai kapan kau begini?" Ron sangat khawatir.

"Pergilah, aku tak lapar" tegas Harry seraya menyelimuti tubuhnya dengan selimut di ranjangnya.

"Huh, baik. Teruslah seperti itu, hingga kau sadar kau hanya membuang waktu mu" Ron kesal dan meninggalkan Harry di kamar asrama Griffingdor itu sendirian.

.

.

Ron menyusuri koridol sembari menggerutu kesal. Ditendangnya batu-batu kecil di depannya untuk melampiaskan kekesalan.

Dukk! Tuk!

"Aww!" teriak salah satu siswi berseragam Slytherin setelah kena batu yang di tendang Ron.

"Ups sorry.." ucap Ron gugup.

"Tsk, Weasley.. apa kau tak punya mata?" sentak Pansy Parkinson yang tadi kena batu. Disebelahnya Theo bersiap-siap memukul Ron tapi ditahan Blaise.

"Aku sudah minta maaf" elak Ron tak nyaman saat para slytherin itu menatapnya menuntut.

"Sendirian Weasley?" sindir Draco yang baru saja datang. Ron mendelik sebal.

"Urus urusan mu sendiri, Malfoy" cela balik Ron.

"Kau!" Pansy kini makin emosi melihat teman –boss –nya di sinisi oleh Ron.

"Diam Pansy" sergah Draco saat dilihatnya Pansy hendak menyerang Ron dengan tongkat sihirnya.

"Kurasa teman mu sudah menyadari kesalahannya" ucap Draco seraya memandang rendah Ron.

"Maaf saja, tapi teman ku tak punya urusan apapun dengan mu" bantah Ron tak kalah sinis.

"Hati-hati dengan ucapan mu Weasley.. ingat –"

"Kau mau bilang kalau Harry hutang nyawa pada ibu mu hah?" potong Ron.

"Aku bosan dengan bualan mu itu" lanjut Ron seraya beranjak pergi meninggalkan Draco cs.

"Cih!, Wea-Sley!" geram Draco.

.

.

.

~A few days later~

.

.

"Mion, kau duluan saja, ada buku yang belum ku baca" Harry berlalu menuju rak berisikan buku-buku tentang sihir hitam.

"Kau yakin?" tanya Harmonie memastikan.

"Ya" Harry tak menghiraukan sahabatnya itu, ia langsung beranjak menuju salah satu meja di dekat kaca setelah mendapatkan buku yang ia cari.

Harmonie beranjak meninggalkan sang sahabat yang kesehariannya kini menjadi semakin memprihatinkan. Jarang makan, jarang bicara, jarang ikut bemain dan jarang melakukan rutinitas mereka –minum teh bersama Hagrid.

.

.

"Sendirian lagi?" tanya seseorang dengan suara sinis.

"Hn" gumam Harry tanpa menggubris keberadaan si murid asrama slytherin dan komplotannya yang lagi-lagi mengintimidasinya dengan tatapan maupun cemoohan tajam.

.

Sekalipun begitu.

.

.

"Kau tahu, buku tentang si pengecut Draco sudah diterbitkan" ucap salah satu murid perempuan berseragam Ravenclaw pada dua gadis lainnya yang berseragam Hufflepuff bergosip ria di depan meja Harry dan gerombolan pengikut Draco Malfoy.

"Hm, seperti biasa" Draco tiba-tiba menundukan tubuhnya.

"Kenapa tak kau lakukan seperti biasa?" bisik Draco tepat di telinga Harry.

"Menggeramlah dan katakan pada mereka untuk berhenti membully ku" lanjut si blonde dengan nada mengejek.

.

Harry memejamkan matanya. Menggeram dalam hati.

Ya. Tidak lagi. Sudah cukup. Entah apapun yang akan dilakukan si blonde ini nantinya ia tak mau lagi mendengarkan omong kosong Draco.

Hanya duduk dan membaca sembari menahan kepalan tangan di balik sampul buku tebal yang menutupi tangannya.

'Tidak lagi, Draco. Aku tak mau lagi ikut permainan mu' Harry mencoba mengukuhkan pendiriannya.

"Kenapa kau hanya diam?, bukankah ini saat yang bagus untuk membuat nama ku semakin terkenal?" ujar Draco lagi.

" 'draco si penakut', 'draco si sampah' 'draco pengecut', aku tak sabar meunggu yang selanjutnya" Draco memandang Harry lagi.

"He-em" Draco manggut-manggut saat Harry tak sedikitpun menggubrisnya.

"Sudah bosan rupanya?" tanya si blonde.

"Hey Pansy, pukul aku" ujar Draco datar. Pansy, Theo dan Blaise membulatkan mata mereka.

"Pansy" Pansy si gadis tinggi galak itu terdiam. Ragu antara menganggap bosnya ini waras atau tidak.

"Pan –"

"A..aku tak bisa Malfoy, kau bercanda kan?" Pansy berkata gugup.

"Oh Pansy, bukankah akan menjadi berita yang bagus 'Draco Malfoy kalah dipukul wanita, apalagi itu temannya sendiri' " ujar Draco penuh ejek.

"Demi apapun kau kelewatan Drac, aku tak ikutan" Blaise Zabini akhirnya menegur para siswi yang tadi menggosipkan Draco sambil berlalu pergi.

"Cih, pengganggu kesenangan" gerutu Draco sembari berlalu meninggalkan Harry diikuti Theo dan Pansy.

"Lain kali yang tadi itu harus di coba, kau pasti senang, Potter" ujar Draco sebelum ia benar-benar meninggalkan Harry.

'tidak, aku muak Malfoy. Aku muak dengan semua ini. Kau sengaja membuat semua orang membully mu. Kau hanya peduli kesenangan mu sendiri' batin Harry kesal sekaligus binggung.

.

.

"Di kerjai lagi?" si rambut merah –Ron – menegur Harry yang memang sudah sadar akan keberadaan sahabat yang membuntutinya terus selama beberapa minggu terakhir.

"Hn, dia membingungkan dan menyakitkan" ujar Harry.

"Entahlah, dia memang aneh" Ron bergabung dengan Harry di meja.

"Kapan kau akan berhenti ?" lanjut Ron membuat Harry yang sibuk membolak-balik halaman buku membatu sesaat.

"..Entahlah.." aku Harry pasrah.

"Besok kau akan dikirim ke Durmstrang, kurasa kau bisa istirahat dari dia" Ron menutup buku Harry dan menarik buku itu dari jangkauan Harry.

"Istirahat, Harmonie dan aku akan membantu keperluan mu besok" Ron berlalu sembari menenteng buku yang tadi dibaca Harry dan menaruhnya di rak.

"Oh, Mion, kau bisa urus dia? Dia sangat kacau" Ron yang melihat kehadiran Harmonie langsung berlalu keluar perpustakaan, kini ia tak perlu pusing memikirkan cara membujuk Harry istirahat. Sudah ada ahlinya disini.

.

.

.

Draco memutar-mutar kaleng minumannya. Bergumam pelan dan melamun diantara kegelapan di puncak menara astronomi di depan jendela. Membiarkan tubuhnya terhembus angin dingin dengan melepas jubah dan seragamnya. Mengekspos dada bidang putihnya yang terbentuk indah dengan petakan-petakan otot-otot di tubuh dan lengannya.

.

"Kesepian?" suara familiar itu sedikit mengagetkan si blonde.

"Untung itu kau" Draco menggerutu acuh.

"Merindukan kekasih?" Blaise menggoda si blonde lagi. Draco menyipit, pura-pura tak mengerti pernyataan sahabatnya yang paling berani menentangnya.

"Harry Potter" Blaise memperjelas pertanyaannya. Draco mendecih tak suka.

"Yang benar saja, bocah itu?" Draco berkata emosi.

"Hem, kau bisa membodohi semua orang bahkan dirimu sendiri. Tapi tidak aku Drac" Blaise melempar seragam Draco pada pemiliknya.

"Ini tak lucu bahkan untuk jadi sebuah lelucon garing" Draco tetap mengelak.

"Semakin kau menolak mengakuinya semakin terpatri jelas di dahi mu itu"

"Katakan lagi dan akan ku kutuk kau"

"Che, pada akhirnya kau hanya menyiksa perasaan mu karena tak mengakuinya"

"Blaise, tinggalkan aku sendiri" Draco berkata penuh penekanan.

Blaise mengangkat bahu dan berlalu meninggalkan sahabatnya yang ia akui sangat keras kepala.

.

Draco mengetukkan dahinya ke keca jendela. Menerawang jauh ke luar sana. Sudah beberapa hari setelah Harry Potter dikirim untuk tugas khusus pertukaran pelajar di Durmstrang.

Apakah dia merindukannya?.

Tanpa sadar Draco memikirkan kata-kata Blaise tadi.

Ha-a.

Tak lucu kan jika ia jatuh cinta pada mainannya?.

Apalagi itu adalah Harry Potter.

.

.

Dua minggu sudah si bocah kacamata bernama Harry Potter ada di Durmstrang. Tak ada yang istimewa. Kesehariannya hanya menjawab wawancara para murid, membantu mengejarkan beberapa ilmu sihir, menyalin informasi penting dan beraktifitas seperti murid Durmstrang.

.

Malam ini adalah malam terakhir Harry Potter berada di sekolah sihir yang menurutnya seperti markas militer ini. Malam tak bersahabat diluar sana. Harry memandang keluar jendela dengan bosan. Uap panas dari kerongkongannya membantu kaca yang berembun semakin buram. Menutupi awan gelap diluar sana.

.

Harry kembali ketempat tidurnya. Di Durmstrang ia hanya tidur sendirian di salah satu kamar khusus yang disiapkan untuknya. Mungkin itu penyebab rasa bosannya. Gemuruh guntur dan derasnya hujan tiba-tiba saja memenuhi pendengarannya. Selain bosan ia juga menjadi begitu gelisah. Entah apa yang mengganggu pikirannya.

.

Harry sedikit kesal karena kekhawatirannya tak juga menghilang. Ia memejamkan mata erat-erat berusaha tertidur. Sayangnya usahanya nihil. Gemuruh guntur tak sekeras suara-suara yang menggema di kepala Harry. Ia kenal suara itu. sura yang selalu mengejek dan membuatnya jengkel.

.

Harry mencengkram kepalanya keras-keras. Tiba-tiba saja rasa sakit dikepalanya bertambah menjalar keseluruh tubuhnya. Dia menjerit tapi tak sedikitpun keluar suara darinya. Harry panik. Kupingnya mendadak tak bisa mendengar apapun. Rasa sakit membuatnya merintih tak bersuara dan bergerak kacau bahkan hingga terjatuh ke lantai.

.

'Apa Yang Terjadi' kepala Harry terus menggumamkan kata-kata itu.

Keadaan semakin gelap, padahal cahaya lampu dari ruangan itu tetap bersinar terang. Tak ada yang bisa dilihatnya. Harry mengaum frustasi sebelum ia kehilangan kesadarannya sepenuhnya.

.

Dingin. Sempit. Sesak. Gelap.

Harry mengerjap-ngerjapkan matanya dan berusaha bergerak diruangan yang cukup sempit itu. posisinya sangat menyakitkan. Kegelapan membuatnya tak tahu ada dimana dia saat ini.

.

Harry meronta diantara kegelapan. Kesulitan menghirup udara ia terus meronta. Lagipula bagaimana bisa dia ada di tempat sekecil ini?. Harry berhenti meronta saat didengarnya derap langkah kaki yang mendekat kearahnya. Jantungnya berdegup kencang. Perasaan tak enak beberapa waktu lalu dirasa sudah kembali lagi ia rasakan.

.

Harry semakin pundung ketakutan dan bingung. Sesekali meringis pelan saat tubuhnya menabrak dinding-dinding sempit disekitarnya. Suara langkah kaki tak terdengar lagi. Sekilas cahaya memanjang terlihat dihadapan Harry. Semakin meluas terbagi ke kedua arah.

.

Mata Harry melebar saat dia sadar ada dimana dia dan siapa yang ada dihadapannya. Rasa takut, khawatir, marah, kesal, semua merujuk ke jantung Harry. Tapi dia tetap membisu, sama seperti si pelaku yang menyebabkan semua ini.

.

Diluar hujan semakin deras. Gemuruh petir juga terdengar beberapa kali. Sosok arogan dan sombong masih menatap korbannya dengan sinis tanpa sepatah katapun. Si korban sendiri masih menerawang jauh dari kenyataan untuk sekedar berfikir apa motif si pelaku memperlakukannya seperti ini.

.

Tangan putih pucat si pelaku hendak menutup lemari yang di dalamnya ada si korban. Harry langsung menahan pintu itu menutup dari dalam. Si pelaku tak jadi menutup pintu itu dan menatap tajam si korban.

.

"Kalau kau mau keluar, cepatlah!" teriak si pelaku kasar. Harry menunduk dan buru-buru keluar.

Menara astronomi. Tak disangka beberapa waktu lalu Harry ada di tempat asing yang cukup jauh dari tempat yang familiar dengannya ini dan sekarang ia ada di menara astronomi. Tempat faforitenya di Hogwarts.

"Barang-barang mu sudah ada di asrama mu" jelas si pelaku dingin.

"Kenapa?" tanya Harry murung.

"Cih! Jangan cengeng dan manja. Bagai mana? Perjalanan mu dengan lemari penghilang yang sudah ku modifikasi ini? Menyenangkan?" si pelaku menyeringai puas.

"Kau keterlaluan Malfoy, kau tahu itu sungguh menyakitkan" Harry terduduk lemas. Tak kuat bicara lebih banyak dari itu sekalipun ia ingin.

"Jangan cemas, kau masih hidup kan" Draco Malfoy menutup kembali lemarinya dan menyihirnya menjadi sekecil kepalan tangan lalu menaruhnya di saku.

.

"Kurasa kau perlu jemputan jadi aku menjemput mu" ujar Draco seraya berjongkok di depan Harry yang terduduk lemas dan kesakitan.

Harry menatap Draco tajam. Kilatan kemarahan di mata Harry lebih terang dari kilat yang menyambar diluar sana.

"Huu~ Scary" ejek Draco.

"Hentikan semua omongkosong ini Draco!" bentak Harry. Draco menarik rambut Harry kasar dan menekuk tangannya kebelakang.

"Jangan buat aku marah, Potter dan jangan pangil nama ku" desis Draco tajam.

Harry merintih sakit. Saat tak ada jawaban, Draco akhirnya melepaskan cengkramannya.

"Kau tak adil, Draco" lirih Harry. Mata Draco berkilat marah. Dia akan menyerang Harry lagi jika Harry tak berteriak padanya.

"Cukup! Permainan apapun yang kau lakukan aku tak ingin terlibat" Draco diam dan menyipitkan mata.

"Kau terlalu kejam, kau mengolok-ngolok ku, mecaci ku, menyalahkan ku bahkan mengasari ku tapi aku tak pernah tahu alasannya" lirih Harry.

.

"Untuk sampah seperti mu tak perlu alasan" desis Draco sembari melipat kedua tangan di dada.

"Apa aku benar-benar sampah dimata mu?" lirih Harry. Draco mendengus.

"Jika ini tentang kenapa aku bisa hidup jangan salahkan aku, aku tak pernah meminta lahir sebagai Harry Potter, aku tak pernah meminta lahir sebagai penyihir terkenal, aku hanya berusaha hidup" Harry nampak lebih frustasi dari biasanya. Emerlad hijaunya berair. Sesekali ia berusaha menarik napas disela tangisnya.

.

"Kenapa kau begitu kejam Malfoy, ku kira karena kau berbeda kau bisa paham aku, ternyata kau malah lebih kejam dari yang lainnya" Draco menyipit makin tak suka.

"Aku hanya ingin hidup seperti yang lainnya, hanya ingin biasa saja seperti yang lainnya" Harry menutupi wajahnya.

"Aku hanya ingin seperti yang lainnya. Segala hal yang kuteriama selama ini. Aku muak. Aku muak..." Harry mengusap airmata yang terus membanjirinya.

.

"Menangislah sepuas mu pecundang" Draco menyeret Harry kembali ke lemari penghilang. Harry meronta dan berusaha lepas.

"Tidak, tidak, aku tak mau lagi.. aku bisa mati lemas jika menggunakan itu lagi.. kumohon jangan" Draco melempar Harry hingga menabrak lemari.

"Bukankah mati lebih baik untuk mu?" desis Draco. Mata Harry membulat lalu meredup seketika.

.

"Jangan banyak mengeluh, tugas mu hanya menerima cacian dan makian ku saja" desis Draco.

"Astaga~" gumam seseorang di dekat pintu tak jauh dari Draco. Draco menderik sebal dan menatap tajam si pemilik suara.

"Blaise, sebaiknya kau sudah mengerjakan tugas mu"

"Ya,ya,ya tuan ku" jawab Blaise dengan nada bermain-main.

"Drac, kau terlalu kasar. Dia akan menjadi abu jika kau terus begitu padanya" sindir Theo yang bersandar di bahu Blaise.

"Cih! Pergi saja dan bawa si Potter ini ke asramanya, mungkin sedikit pengobatan bisa kau berikan jika kau memang kasihan padanya" Draco kemudian beranjak meninggalkan ketiga orang disana.

.

Harry menatap murung tak terarah. Dia membiarkan saja Blaise dan Theo yang mengolesi beberapa luka memar di tubuhnya bekas tadi terhimpit lemari dan tubrukan keras antara kepala dan lemari.

.

"Jangan membencinya hanya karena dia melakukan ini pada mu" gumam Blaise membawa Harry kembali ke kenyataan.

"Dia hanya pura-pura galak untuk memenuhi keinginannya" lanjut Blaise. Harry memandang pria itu binggung.

"Jika ada yang paling merindukan mu itu pasti dia, jika ada yang selalu khawatir tentang mu, itu juga pasti dia" Theo menambahi dengan gaya bercanda santainya.

.

"Apa maksunya?" lirih Harry.

"Ha-ah, kau caritahu sendiri lah." Jawab Theo.

"Nah, kau hanya memar, tapi kau butuh istirahat juga jadi kau tak perlu datang ke ujian ramuan besok" ujar Baise ambigu. Harry terbelalak lagi.

.

"Kau bisa ke asrama sendiri atau perlu bantuan?" tanya Theo.

"Kurasa aku baik-baik saja" jawab Harry pelan.

Theo dan Blaise kemudian bangun hendak pergi.

"Oh ya, sekedar info, tuan Malfoy kami sangat kesepian dua minggu terakhir ini, dia terus kemari dan sering bolos kelas bahkan jarang ke perpustakaan seperti biasa " ungkap Theo dengan nada main-main sebelum benar-benar pergi. Blaise sedikit menyikut Theo untuk menyuruhnya berhenti bicara.

.

Harry tersenyum. Blaise dan Theo pun tersenyum sambil melambai.

"Tiap orang punya cara masing-masing menunjukan perasaannya" tambah Blaise seraya pergi meninggalkan Harry.

'Mungkin aku terlalu takpeka' gumam Harry dalam hati.

.

.

~Dua hari kemudian~

.

"Hei mate, bagai mana kau bisa ada di Hogwarts dengan keadaan memar begitu?" tanya Ron prihatin melihat sahabatnya terbaring di ruang uks.

"Hanya kebetulan, kurasa" jawab Harry.

"Apa mereka menyiksa mu?" tanya Ron.

"Bodoh, Harry itu tamu kehormatan, mana mungkin mereka menyiksa Harry" sela Harmonnie.

"Tapi kau lihat kan? Ia bahkan sakit sejak pulang dari sana"

"Aku hanya terjatuh, tak apa" Harry menengahi.

"Terjatuh?" Harmonie mencium gelagat aneh seperti biasa.

"Ah sudahlah, terpenting kau lolos dari ujian ramuan dan ujian mantra penangkal sihir hitam. Bisa kubayangkan sepusing apa jika kau ikut" ujar Ron teringat kembali soal-soal dan hal-hal yang harus ia lakukan saat ujian.

"Ya, aku harus berterimakasih pada seseorang karna itu" Harry tersenyum. Harmonie dan Ron berpandangan heran.

.

.


.

Yosh akhirnya walau agak gaje tapi selesai juga.

Sorry.. karena ini kumpulan oneshot jadi agak lama bikinnya :D

See you next storry :)