Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto, I am writing just for fun.
Warning : Rate M, Sexual content, tolong adik-adik dibawah umur 18 jangan dibaca.
The Heiress and The Bartender
Chapter 2 :
SUNDAY MORNING
Ino menggeliat di bawah selimut yang menutupi tubuhnya. Wanita itu mengerjapkan mata memandang nar-nar dinding bercat putih. Dia memalingkan wajah dan menemukan cermin lebar yang memantulkan wajah bangun tidurnya. Dia terlihat berantakan. Wanita itu duduk di tepian ranjang. Mengingat dengan jelas apa yang terjadi semalam. Di kamar yang sempit itu Ino menemukan tali tergeletak di sudut ruangan. Sebuah kursi kayu dan Kalung beserta rantai anjing di atas meja. Ino sangat heran bukankah tidak boleh memelihara hewan diapartement lagipula dia tidak melihat anjing disitu.
Ino menyentuh pergelangan tangannya yang memar kemerahan dan nyeri akibat bergesekan dengan borgol yang dipakaikan semalam. Dia memutuskan untuk turun dari ranjang dan meraih t-shirt milik Sai yang tersampir di kursi. Seharusnya dia bertanya dulu dengan pemilik rumah tapi dia malas berkeliaran telanjang di rumah orang tak dikenal. Pria itu tidak akan marah-marah kan kalau di pinjam bajunya sebentar.
Ino mendengar suara dari arah dapur. Sai dengan tubuh setengah telanjang berdiri di depan kompor pria itu hanya mengenakan boxer dan apron berenda.
"Baru bangun nona cantik?" pria itu memandang Ino tangannya memegang sutil sibuk memasak.
Ino tertawa. "Ku dengar pria yang memasak itu sexy. Tapi ini sungguh mengelikan. Apa perlu high heels ku untuk menyempurnakan penampilanmu?"
"Oh, apa pria dengan high heels salah satu fantasimu?, Aku tidak menyangka kau begitu nakal. Tapi jujur saja kostum dan cross dressing tidak menarik minatku"
"ha, jadi kau tidak horny melihat wanita berkostum sexy?"
"Mungkin bila kau mau memakai kostum pelayan dan menuruti semua perintahku aku akan terangsang, tak ada yang lebih menarik buatku selain seorang wanita yang penurut"
Ino bersedekap memandang Sai dengan rasa tidak percaya "Sepertinya kau punya masalah kejiwaan bila kau ingin semua wanita menuruti perintahmu"
"Aku bicara dari pengalaman Ino, Para wanita selalu bersedia menurutiku terutama mereka yang jatuh cinta" Sai mengatakan itu dengan datar seolah-olah memanfaatkan perasaan orang adalah hal wajar untuknya
"Oh..Man, Aku tak percaya ada wanita yang begitu bodoh jatuh cinta padamu dan di manfaatkan. Tentu saja kau tampan but that's all. Aku tak akan mungkin jatuh cinta pada pria yang manipulatif"
"Apa itu tantangan nona cantik?, Hei, Kau melanggar aturan one night stand. Seharusnya kau sudah pergi dari tadi. Mengapa kau masih disini dan memakai t-shirtku dan berlagak seperti sudah kenal lama. Apakah ini tidak berlebihan?" tanyanya lagi. Sai terbiasa bersikap dingin dan sinis sebab begitu banyak wanita yang salah paham bila dia bersikap ramah. Yang dia inginkan hanya seks dia tidak ingin di ganggu oleh hal emosional semacam cinta.
Kening Ino berkedut yah memang seharusnya dia pergi berjam-jam yang lalu. Entah apa isi otak Ino menunda kepulangannya. Sungguh memalukan pria itu sampai memintanya pulang.
"oh yeah, Jadi kau mengusirku sekarang. Baiklah. The party is over so bye.." Ino berbalik ke kamar dan akan segera berpakaian bersiap untuk meninggalkan rumah itu. Tapi Sai muncul di ambang pintu
"Maaf Ino, aku tidak bermaksud kasar. Aku tidak tahu mengapa kau tinggal sampai siang disinidan bersikap bersahabat. Apa kau tertarik membuat ini berlanjut?" Sai menyukai wanita berambut pirang itu. Tiap kali dia memandang sosok Ino darahnya langsung berdesir dan membuatnya terangsang. Ino tentu saja punya daya tarik seksual yang tinggi. Tapi Sai bukan pria hormonalyang mudah terbawa nafsu hanya saja di bawah tatapan mata berwarna aquamarinenya semua logika dan kontrol diri Sai tidak bekerja"
Ino yang kesal karena di usir tentu saja balas bersikap sinis "Oh, Siapa bilang aku ingin terlibat dengan mu lagi. Aku akan segera pergi koq. aku merasa menyesal ikut denganmu. Kau membuang-buang waktuku karena kau tidak sehebat yang kaukira" Ino mengangkat dagunya dengan angkuh. Pria ini menganggap dirinya tinggi dan Ino tidak rela gengsinya di injak-injak. Para pria rela mencium kakinya untuk mendapatkan sedikit perhatian dan dia tidak akan membiarkan laki-laki tanpa latar belakang seperti Sai menghinanya.
"Begitu" mata Sai berkilat dengan sedikit emosi mendengar hinaan yang terlontar dari mulut sensual wanita jalang yang semalaman merintih dan melenguh kenikmatan. Sai mendekati Ino layaknya seekor Panter yang sedang ia mendorong dan menjatuhkan wanita itu ke tempat tidurnya. Sai menindih dan mengunci tubuh Ino dengan tubuhnya. Dengan sengaja dia menempelkan kejantanannya yang sudah mengeras di antara kedua kaki Ino. Wanita itu sama sekali tidak bisa bergerak.
"Kau" Ino kehilangan kata-kata. Dia merasakan benda yang semalam menghunjam dan memenuhi dirinya dengan kenikmatan telah siap di balik celana yang di kenakan pria itu.
"Coba katakan lagi. Kau tidak menginginkanku" Sai menjilat jari telunjuknya dan menyelinap diantara kaki Ino.
"Ah.." Ino tersentak. Jari telunjuk Sai sudah masuk dalam vaginanya. Lalu pria itu mengunakan ibu jarinya untuk mengelus clitoris yang kian membesar dan semakin sensitif.
"Masih bisa bilang kau tidak menyukai ini?" bisiknya rendah dengan lidahnya yang ahli dia menggelitiki kulit sensitif di leher ino. Hal itu membuat Ino sedikit gemetar dan melupakan kekesalannya. Tubuhnya mengkhianati pikirannya dengan bereaksi terhadap sentuhan pria itu.
Sai senang wanita itu sudah sangat basah karena dirinya. Lalu dia menambahkan satu jari lagi
"ah... ah...ah.. lagi.." dengan spontan Ino menggeliatmengangkat pinggulnya. Jari-jari Sai menggelitik dinding vaginanya mengirimkan sensasi menyenangkanke sekujur tubuhnya. Mata hitam Sai menatap wajah Ino yang kini merona karena nafsu.
Sai baru berniat menyelipkan jarinya yang ketiga tapi dia berhenti karena mencium bau hangus dari dapur "Kuso, " Pria itu berlari mematikan kompornya. Dan melihat daging yang dia masak telah menjadi arang.
Ino yang masih limbung mengikuti Sai ke dapur. Mengapa pria itu suka sekali berhenti di tengah-tengah Ino jadi kesal, Mungkin pria itu hanya berniat mengodanya "Ada apa Sai?"
"Makan siangku sudah menjadi arang" Dia meratapi potongan daging yang menghitam itu.
Ino menghembuskan nafas meniup helian poninya yang panjang "kenapa tidak makan siang di luar saja?"
Sai memandang wanita itu dengan datar wanita kaya macam Ino mana mungkin mengerti hidup kekurangan. "Jujur nona, Aku hanya bartender miskin yang gajinya hanya sanggup untuk membayar sewa apartemen dan hidup sederhana"
"Bagaimana kalau kita makan siang biar aku yang traktir?" wanita itu tanpa banyak pikir mengajak Sai makan di luar
"Aku tidak suka berhutang budi nona kaya"
"Hm..begini saja karena sepertinya kau butuh uang, bagaimana bila kau setuju menjadi budakku dan aku akan membayarmu dengan baik" Ino selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dengan menggunakan uang dan kecantikannya. walaupun begitu rendah untuknya membayar pria untuk seks dia hanya ingin membantu Sai.
Sai tiba-tiba merasa marah, "Kau pikir aku gigolo? Maaf nona aku sudah berhenti menjalankan pekerjaan itu bertahun-tahun yang lalu"
Ino menganga. "What, Jadi kau pernah jadi gigolo?"
"Mengapa terkejut? Aku hanya mencoba bertahan hidup dan seperti yang kau bilang aku tampan"
"Ok, Aku minta maaf soal tawaran ku bila itu menyinggungmu. Bagaimana kalau kita berteman?"
"Teman macam apa Ino? Kau dan Aku dari dunia yang berbeda"
"Ya, Kau benar tapi kita sama-sama suka seks. Mengapa kita tidak menjadi seks friend?"
"Kedengarannya cukup bagus, tapi tadi kau bilang tidak ingin terlibat denganku lagi?" Sai menyunggingkan senyum palsunya menyindir Ino
"Wanita selalu diijinkan untuk berubah pikiran kau tahu itu kan?"Ino merasa Sai akan memberinya petualangan baru yang tidak akan di dapatkannya dari para pria yang sering di kencaninya dan Ino tidak akan melewatkan kesempatan menjajal permainan baru yang terlihat menjanjikan.
"Tapi aku memperingatkanmu bercinta denganku tidak selalu indah dan aku menginginkan seorang budak yang dengan senang hati memuaskan hasratku"
Ino tersenyum lebar " Cobalah membuat Nona besar sepertiku menjadi budakmu, Aku sendiri sedang mencari pria yang bisa menaklukkanku"
"Hm..Ino kau salah paham ini bukan soal penaklukan. Ini soal kerelaan dan penyerahan diri bila kau tidak rela membiarkanku mengambil kontrol atas dirimu kau tidak bisa bersamaku. Aku tidak mau harus menaklukanmu untuk membuat mu patuh. Kau harus bersedia memberikan kepatuhan itu padaku"
Sai melangkah mendekati wanita itu, Tangannya meraih tangan Ino. Mendadak jantung wanita berambut pirang yang hanya berbalut t-shirt kedodoran berdetak kencang. Ketika Ino berpikir Sai akan merengkuhnya dalam pelukan. Pria itu malah menyentak dan memuntir tangannya. Sai dengan kasar membalikkan wanita itu dan mengimpitnya ditembok. Wajah dan dada Ino melekat pada keras dan dinginnya tembok ruang tamu Sai, Pria itu menelusuri rambut panjang ino hanya untuk menjambaknya kemudian
"Ino, Setiap kali kau melawanku aku akan menghukummu, dan Ini hukuman karena kau telah menghinaku" Dengan satu sentakan Sai melepaskan boxernya. Lalu memaksa Ino meregangkan kakinya untuk memberikannya jalan. Pria itu kemudian menghunjamkan penisnya dengan keras dan kasar pada Ino yang sama sekali belum siap
"Ah...Sakit, Sai sakit" Ino sangat merasa tidak nyaman dan nyeri begitu penis yang besar bergesekan dengan dinding vaginanya tapi dia tidak meminta Sai untuk berhenti. Kiba yang liar saja tidak sebegini kasarnya Ino merasa seperti sedang diperkosa. Ino heran mengapa dia malah jadi terangsang diperlakukan dengan kasar. Apa dia memang sedikit masochist. Perlahan-lahan Ino menjadi licin dan becek seiring meningkatnya nafsu wanita itu dan Ino mulai merasakan riak-riak kenikmatan dalam setiap dorongankeras pria itu dalam dirinya.
"Diamlah Nona Cantik. Ini sebuah hukuman dan memang sudah seharusnya terasa tidak enak" pria itu tidak berhenti bergerak dengan kasar.
Ino merasa malu mengakui kalau dia menikmati rasa sakitnya. "ah, ah, ah" tumbukan pinggul sai dengan bokongnya membuat payudara Ino yang besar bergesekan dengan tembok. Gesekan kecil itu membuat Ino merasa geli dan nikmat.
"Nona cantik, sepertinya kau menikmati hukuman ini"
"Jangan bicara" Ino mengerutu mengapa pria itu mesti buka mulut dan merusak suasana.
"aw..ah. .aw" Ino merasakan tamparan keras pada bokongnya. Dia yakin kulitnya sudah pasti memerah.
"Kau lupa aku masternya. Bila kau berani berbicara aku akan memukulmu lebih keras lagi nona" Sai berbisik ditelinganya.
Ino tidak percaya penis pria itu terasa semakin besar di dalam dirinya sepertinya memukuli pantantnya membuat pria itu tambah bergairah. Desah nafas Sai membuat Ino memejamkan mata dia merasakan Sai bergerak semakin cepat. perlahan-lahan gelombang kenikmatan merambat di sekujur tubuhnya. Dia menahan keinginannya untuk berteriak dengan menggigit bibirnya dalam-dalam ketika mencapai klimaks.
Sai mencengkrampingangnya dengan keras. Dia menghujamkan dirinya semakin dalam dan Ino bisa merasakan tekanan itu hingga dinding rahimnya. Otot-ototnya yang telah menjadi semakin sensitif mencengkram Sai dengan kuat. Ino mendengarkan pria itu melenguh menikmati kehangatan vaginanya sebelum akhirnya menyemburkan benih kehidupan dalam rahimnya.
Mereka berdua bernafas dengan cepat dan tidak beraturan. Sisa Air mani menetes dari selangkangan Ino. Wanita itu jatuh terduduk karena kakinya lemas. Sai membiarkan Ino duduk di lantai, sementara dia berdiri telanjang mengamati wajah wanita itu yang kini berkeringat dan merona sewarna bunga mawar menikmati dominasinya atas wanita berambut pirang yang bersimpuh dan terdunduk dihadapannya.
Iris aquamarinenya bertemu manik hitam legam. Ino menengadah menatap Sai tajam tapi bibir wanita itu menyungingkan seulas senyum tipis " Dasar Bajingan"
"Wanita jalang, kau tampak pantas duduk di lantai seperti itu" ucap pria itu puas.
"Sepertinya anda sangat menikmati permainan kekuatan di antara kita master" Ino memainkan perannya menjadi wanita submisive dan dia merasa permainan ini menyenangkan.
Sai berjongkok dan merangkum wajah wanita itu dengan kedua telapak tangannya. Gesture tersebut membuat Ino shock. Sai menatapnya lekat dan serius " Turuti perintah ku dan aku akan selalu memuaskanmu"
Ino merasa terhipnotis oleh mata hitam kelam yang begitu dalam. Dia tidak bisa melihat emosi apa pun dari mata itu bahkan tidak ada sisa euforia setelah seks yang menyenangkan. Mata itu terlihat dingin dan mati. Ino merasa terseret dalam lubang hitam. Bulu kuduknya meremang membayangkan apa yang akan pria ini lakukan pada dirinya bila dia memasrahkan diri menerima pria itu sebagai masternya.
Seumur hidup tidak ada yang berani memerintah Yamanaka Ino tidak juga ayahnya. Bisakah dia melakukan ini tapi wanita itu penasaran dia tidak pernah menjadi seorang yang penurut. Apakah egonya akan terluka bila dia menjadi submisive dia harus tahu soal ini. "Aku..." Ino ragu menjawab apa.
Bibir Sai mendekatinya "Aku mengerti ini menakutkan Ino, kita harus saling mempercayai maka permainan ini bisa bekerja. Aku tidak akan memaksamu melakukan hal-hal di luar batasanmu dan kau selalu bisa berhenti"
"Aku setuju" Rasa penasaran mengalahkan akal sehat.
Pria itu menciumnya singkat, lalu Sai masuk ke kamar tidurnya. Dia kembali dengan membawa sebuah chokersimple dari kulit berwarna hitam berhiaskan lingkaran yang terbuatdari perak di tengah-tengahnya. Dia Berlutut mengaitkan kalung itu di leher jenjang Ino. "Sekarang kau milik ku"
Ino menyentuh kalung yang melekat di lehernya. Sesaat dia melihat wajah Sai yang stoic melembut. "Ino sekarang kita akan membicarakan aturannya. Kau menyerahkan seluruh kontrol atas dirimu padaku. Ini tidak hanya untuk urusan seks. Aku akan membuat keputusan untuk dirimu dan selalu bertanya padaku"
"Sai bukankah ini berlebihan, kau tidak bisa mengatur hidupku kita baru saja kenal semalam. Aku hanya mau menjalankan BDSM untuk kegiatan erotis semata bukan gaya hidup"
"Begini saja Ino. Saat kau bersamaku maka aku adalah master mu dan kau harus menurutiku seratus persen bila kau sedang sendirian jalanilah hidupmu dengan normal"
"Ok. Aku bisa hidup dengan itu ada lagi?"
"Ya, Aku meminta eksklusivitas, Selama kau menjadi milikku kau tidak terlibat secara emosional dan seksual dengan orang lain"
Ino tidak menjawab, Dia tidak yakin bila dia sudah akan puas bila hanya bermain-main dengan Sai. Permintaan Sai membuat mereka seolah-olah punya hubungan yang serius.
"Ino, aku tidak tawar menawar soal ini. Setuju atau kita batalkan saja permainannya"
Ino mendesah kalah,"Aku setuju asal kau pun tidak terlibat dengan wanita lainnya" dengan begini Ino merasa itu sebuah keputusan yang adil.
"Tidak masalah buatku, Aku hanya bisa mengurus satu wanita setiap saat. Dan satu hal penting harus kau ingat Bila aku mendesakmu terlalu jauh ucapkan stop maka aku akan berhenti. Sangat penting untuk memiliki safe word dalam permainan ini karena aku tidak tahu seberapa toleransi dan limitmu pada rasa sakit dan penghinaan. Yang kita inginkan adalah kesenangan aku tidak ingin memberikan mu trauma fisik dan mental, Kau mengerti? dan jangan mengkianati kepercayaanku dengan tetap bertahan dan tidak berhenti ketika kau sudah tidak sanggup lagi ini merusak hubungan kita sebagai D/s"
"Ok aku paham, Jadi sudah berapa kali kau punya hubungan D/s dengan seseorang?" Ino penasaran. Dia tidak banyak menemukan benda aneh di kamar Sai. Hanya cermin, Borgol dan tali yang tergeletak di sudut kamarnya, sepertinya Sai bukan penganut hard core BDSM.
"Tidak pernah sama sekali, yang kulakukan hanya membawa sedikit kink ke tempat tidur"
"Bila ini hal baru untukmu bagaimana kau tau kalau kau lebih tertarik menjadi seorang dominan?"
"Simple Ino, Sepanjang hidup aku selalu menjadi orang yang penurut dan mengikuti aturan orang yang lebih berkuasa dari diriku. Jadi aku selalu berfantasi bagaimana seandainya aku menjadi seorang yang mengontrol orang lain aku menawarkanmu sebagai submisive dengan alasan yang sama. Kau harus tahu bagaimana rasanya dibawah"
"Tapi Sai tapi kau juga harus mengeksplorasi sisi yang lain, Siapa tau kau juga menyukainya" Sai meraih tangan wanita itu dan membantunya berdiri. "Jadi apa ide mu?"
"Biarkan aku sekali-kali menjadi dominan dan kau menjadi submisive"
"Ok aku setuju, Rumah ku aturanku. Rumah mu aturanmu"
"Deal, Dengan demikian kita resmi berteman" Suara perut Ino menyadarkan mereka ini sudah lewat tengah hari.
"Sepertinya kita butuh makan"Sai masuk ke kamar tidurnya mengambil pakian dari lemari dan Ino mengikutinya.
"Apa rencanamu Sai? Aku tidak ada kegiatan hari ini"
"Aku juga sedang free, Mungkin kita bisa makan siang bersama"
"Ya, tapi aku mau pulang dulu kau bisa ikut ke apartemenku aku masih punya banyak sisa makanan di kulkas. Omong-omong bisa aku pinjam pakianmu? Aku tidak mau mengenakan mini dress sexy siang bolong begini"
"Tidak Ino, Aku memerintahkanmu untuk memakai pakianmu yang semalam" Wanita itu menunduk dan bergegas memakai dress dan high heelsnya. Ino paham Sai hendak membuatnya malu dan benar saja begitu ino keluar dari pintu apartemen Sai banyak mata memandanginya dan berbisik-bisik.
Bahkan para remaja pria yang sedang bermain basket di lapangan bersiul-siul melihat wanita itu lewat. Ino menegakkan tubuh dan mengangkat dagu berjalan dengan rasa percaya diri, walau dia yakin semua orang bisa melihat Ino habis dugem dan bermalam di tempat lelaki.
Sai berjalan sejajar dengan Ino dan dengan sengaja dia menepuk dan meremas bokong wanita itu di hadapan para remaja itu. Siulan mereka mejadi semakin keras dan Ino mendesis marah.
"Sai, Ingat tempatku aturanku. Begitu kita sampai di apartemenku posisi kita akan berbalik"
"Aku tahu, aku menanti perlakuan macam apa yang akan Ratu Ino berikan padaku"
Mereka masuk ke mobil dan Ino menyetir menuju apartementnya. Sepanjang perjalanan Ino memikirkan cara manis untuk menyiksa pria di tahu ini akan sangat menyenangkan.
