KOMUROLA X OPTIMUS HWANG
.
.
.
Kwon Hyunbin.
Hwang Minhyun.
OC as Hyunbin's adopted child.
.
.
Mentioned! PD101 Season 2 members and NUEST W members.
.
.
.
.
Sequel : Worry
.
.
.
.
Minhyun berjengit kecil saat ponselnya yang tergeletak di mejanya bergetar panjang. Menandakan adanya sebuah panggilan masuk, tepat saat ia telah menyelesaikan memberi nilai pada buku murid terakhir yang sedang ia periksa.
Dan senyumnya spontan terbentuk begitu mendapati siapa yang membuat sebuah panggilan padanya. Telunjuknya menggeser ikon hijau lantas mendekatkan ponsel putih itu ke telinga.
"iya, bin. Kenapa?"
"udah selesai, yang?"
"udah, kok. Aku lagi beres-beres nih"
"ya udah. Aku nungguin di depan sekolahan ya. Di depan warung gitu lah pokoknya"
"oke, pak"
"ya udah, aku tutup, ya—"
"sebentar!"
"kenapa, yang?"
"aku gak mau, pas aku dateng kamu bau rokok ya, bin"
Lalu gelak tawa berat khas hyunbin, terdengar memenuhi pendengaran minhyun. Wanita bermarga hwang tersebut mencebik samar. Sebal karena peringatannya yang serius, malah dianggap candaan oleh kekasih 6 tahunnya tersebut.
"yang. Aku udah berenti dari setahun yang lalu. Bener-bener udah berenti, yang. Masih aja gak percaya sama calon suami sendiri, sih. Heran aku"
Hati minhyun berdesir saat mendengar kalimat 'calon suami' yang diucapkan oleh hyunbin barusan. Pipinya merona dan ia berdeham untuk mengurangi rasa hangatnya, barangkali.
"lagian juga, aku ngajak si kakak. Mana berani aku, yang, kalo ngerokok deket-deket si kakak"
Alis minhyun mengernyit.
"kakak?"
"iya. Eh, yang. Nih si kakak mau ngomong"
Suara hyunbin terdengar mengecil, sepertinya ia sedang mengalihkan ponselnya pada seseorang. Minhyun pun sedikit gugup. Ia bahkan bingung, kenapa dia gugup.
"kak. Ngomong nih sama mama"
"mama! Aku sama papa udah ada di depan sekolah mama, nih!"
Lah? ini kan jaein. Kenapa kakak—
Minhyun tercenung beberapa detik saat jiwanya yang sempat mengawang dan tersentak kecil saat jiwanya kembali menyentuh tubuhnya yang ada di bumi. Lebih tepatnya, di kubikel miliknya yang berada di ruang guru Sekolah Menengah Seungri.
"ah. Papa bohong nih! Katanya lagi telepon mama. Masa mama gak jawab aku, sih?!"
Minhyun mengerjap lalu kembali berdeham. Untung saja, ruang guru di jumat malam seperti ini lebih lenggang, berhubung kegiatan belajar-mengajar selesai tepat jam 5 sore. Karena hanya ada dia serta 2 rekan sejawatnya yang duduk cukup jauh darinya, yang masih bertahan di dalam ruang guru.
"serius kamu, kak? Enggak, ah! Ini masih nyambung ke mama, kak"
"jaein"
"oh, ada pa! Ada nih mamanya udah ada! Mama! Aku udah di depan sekolah mama, nih sama papa"
Minhyun tersenyum teduh.
"ya udah. Jaein tungguin mama disitu sama papa, ya. Mama sebentar lagi selesai beres-beresnya"
"oke, deh. Tapi, ma—"
"kenapa, sayang?"
"kata papa, nama aku ditambahin kakak. Jadi kak jaein. Mama juga disuruh manggil aku kakak, ma. Kata papa, aku gak boleh nyautin mama, kalo mama manggil aku jaein. Aneh ya ma, si papa"
"kak! Kok bilang papa aneh, sih? Batal ya cupcake-nya?"
"hehehe. Aku bercanda kok, pa. Papa yang paling ganteng buat mama"
Minhyun terkekeh sendiri mendengar candaan diantara ayah-anak kwon tersebut.
"kok buat mama doang, kak?"
"iya. Soalnya, kalo buat aku, gantengan papi dongho"
"dasar! Udah, sini telepon papa, kak. Malah jadi ngobrol, padahal lagi nelepon mama. Abis pulsa papa nih"
"yang"
Telepon sudah kembali menjadi suara berat hyunbin.
"eum?"
"udah selesai beres-beresnya?"
"udah. Ini mau pamitan dulu sama guru-guru yang laen. Aku tutup dulu, ya, bin"
"oke, deh. Hati-hati, yang"
Kening minhyun mengerut seraya ia bangun dari kursinya dan mencangklongkan tas hitamnya pada pundak.
"hati-hati kenapa, bin?"
"hati-hati kesandung. Nanti kalo jatoh, gak bisa ditangkep sama aku, yang. Kan aku gak tau kalo kamu kesandung. Gak keliatan sama aku soalnya. Kalo keliatan sama aku, baru deh aku tangkep, yang"
Minhyun sudah terlampau kebal dengan seluruh kalimat manis yang teruntai bebas dari mulut hyunbin. Bisa minhyun dengar hyunbin tengah tertawa dan jaein yang mengejeknya 'kuno' dari line seberang sana.
"apa sih kamu tuh, pak. Tangkep-tangkep. Emangnya aku ayam, apa? Udah lah. Aku mau pamitan dulu"
"ya udah. Aku tunggu. Hati-hati ya di jalan"
"kamu tau bodo amat gak, pak? Aku tutup"
"oke, oke. Love you"
"I love me too"
"yang—"
PIP
Minhyun tersenyum geli sembari memasukkan ponsel tersebut ke dalam tas bahu miliknya. Setelah mendekap beberapa buku paket yang sengaja tidak ia masukkan kedalam tas, akibat beratnya, minhyun lantas pamit pada rekan sejawatnya yang lebih senior dan keluar dari ruang guru. Menuju hyunbin dan jaein yang sedang ada di toko tak jauh dari sekolah tempatnya mengajar, seperti yang tadi lelaki itu bilang padanya.
.
.
"mama!"
Jaein langsung berlari begitu sosok minhyun tertangkap oleh atensinya. Minhyun pun sedikit merunduk lalu menangkup wajah bulat jaein untuk ia hadiahkan kecupan di kedua pipi tembamnya lalu membetulkan jaket rajutan biru tua yang membalut tubuh jaein sampai batas paha tersebut.
"lama ya, jae?"
Jaein baru saja akan menggeleng untuk menjawab pertanyaan minhyun, saat ia sadar bahwa minhyun tidak memanggilnya dengan sebutan 'kak'. Melihat jaein yang tak kunjung menjawab, minhyun menyipit lantas mengalihkan tatapannya saat mendengar kekehan dari satu-satunya lelaki disana.
"bin. Kamu tuh ya. Ada aja, hal-hal aneh yang kamu ajarin ke jaein"
Minhyun menepuk dengan cukup kuat pangkal lengan hyunbin, begitu hyunbin menyambanginya yang tengah berdiri berhadapan dengan jaein.
"aduh! Bu guru minhyun. Suka anarkis sama calon suami, nih. Gak baik tau, bu. Gak boleh"
Kali ini, minhyun mendaratkan jitakan di kepala lelaki kwon yang mengurai tawa gelinya tersebut.
"kamu, tuh. Ada di rumah, maen sama jaein, bukannya ngajarin jaein yang bener. Malah yang aneh-aneh. Kalo gini mah, jaein biar sama aku aja"
Hyunbin merengkuh kepala minhyun untuk ia kecup pucuk kepala yang menguarkan wangi mawar menenangkan tersebut.
"aku ga ngajarin aneh-aneh, yang. Emangnya, jaein gak boleh dipanggil kakak? Kan jaein, emang bakalan jadi kakak nanti"
Minhyun mencubit ringan pinggang hyunbin, hingga lelaki itu meringis walaupun akhirnya tawa mengambil alih dengan cepat.
"ayo, pulang. Aku mau cepet-cepet mandi, nih"
Hyunbin mengangguk kecil lantas merangkul minhyun, yang menggenggam tangan kanan jaein di sisi kanannya, menuju Audi S8 putih metalik yang parkir tak jauh dari situ.
"tapi si kakak mau beli cupcake dulu, yang. Di tempat biasa"
Minhyun melepas genggamannya lantas merubahnya menjadi rangkulan.
"emangnya jae—eum, kakak, mau beli cupcake apa? Boleh sama papa?"
Minhyun segera mengubah panggilannya terhadap jaein lalu melirik hyunbin tajam lewat sudut matanya.
"rasa coklat sama rasa blueberry, ma. Papa janji mau beliin aku cupcake. Kan kemaren pas pelajaran mewarnai, aku dapet nilai a plus dong ma"
Minhyun tersenyum bangga seraya membukakan pintu belakang untuk jaein yang langsung menempati kursi khususnya. Setelahnya, minhyun menempatkan dirinya di kursi penumpang samping pengemudi.
"kak. Pasang seat-belt sendiri, bisa kan?"
"bisa, dong! Aku kan udah sekolah, pa"
Hyunbin terkekeh seraya menoleh kebelakang lalu mengusak surai kelam jaein saat melihat gadis 6 tahun itu tengah berjuang sendiri memakai sabuk pengaman kursi khususnya, sementara minhyun hanya tersenyum geli.
Hyunbin pun segera memasang sabuk pengaman minhyun, saat melihat wanitanya itu akan menarik tali pengaman. Setelahnya, hyunbin tersenyum sembari mencubit pelan pipi tembam minhyun yang hanya dibalas gelengan maklum dan tatapan jengah dari wanita hwang tersebut.
.
.
Mobil hyunbin berhenti di depan sebuah kedai kue yang tak lagi asing bagi ketiganya. Karena kedai tersebut, sering sekali menjadi tujuan akhir ketiganya kala sedang menginginkan penganan pengganjal sebelum jatuh waktu makan.
Dan karena, kedai tersebut dikelola oleh istri teman dekat hyunbin di kantor yang juga dikenal cukup baik oleh minhyun, Kim Donghan –istri Kim Taedong, yang baru saja mengikat janji suci diantara mereka 3 bulan lalu.
"mau ikut turun gak, yang?"
Minhyun menggeleng pelan.
"aku tunggu disini aja"
Hyunbin tersenyum lembut sembari mengusap kepala minhyun dengan perlahan. Bisa hyunbin lihat bahwa gurat kelelahan tercetak jelas pada wajah ayu kekasihnya tersebut. Ia pun mengecup pipi tembam minhyun, yang mengakibatkan minhyun sedikit berjengit karena pergerakan hyunbin yang tiba-tiba. Minhyun hanya berdesip kecil dan senyum geli terulas di bibir hyunbin, begitu menangkap sapuan rona merah muda tipis, tercetak pada pipi minhyun.
"kak. Papa gendong aja. Tunggu sebentar"
Jaein mengangguk patuh, sembari menunggu hyunbin untuk merengkuhnya dan masuk ke dalam kedai kue tersebut bersama. Bisa minhyun lihat kalau hyunbin terlibat sedikit perbincangan dengan wanita bersurai kelam di kasir sana, sampai akhirnya lelaki itu menggendong jaein –yang membawa satu kantung kertas kecil dan satu gelas kertas, sebelah tangan, dengan tangan kanannya yang menggenggam satu kotak kertas berwarna soft-blue dan keluar dari kedai kue tersebut.
Setelah menaruh jaein di kursinya, hyunbin memutari mobil untuk mencapai kursi pengemudi dengan berlari, masih dengan tangan yang memegang kotak soft-blue tersebut.
"mah. Ini matcha—papa. Aku lupa nama minuman buat mama. Tadi kata tante donghan apa? Matcha—"
Hyunbin menarik tuas rem tangan lalu mengontrol persnelling lantas menginjak pedal gas setelah ia menaruh kotak kue yang ia bawa di pangkuan minhyun.
"matcha latte, kak"
"nah. Iya itu, ma! Matcha latte"
Minhyun pun memutar sedikit tubuhnya untuk meraih gelas kertas yang disodorkan oleh jaein dengan senyuman.
"itu dia yang mau beliin buat kamu, yang. Katanya mama keliatan capek"
Minhyun terkekeh ringan lalu menjulurkan tangannya yang bebas untuk mengusak pucuk kepala si kwon kecil.
"makasih kak jaein"
Jaein tersenyum lebar seraya mengangguk dengan semangat. Membuat hyunbin mengekeh pelan.
.
.
.
.
TBC
Bersambung lagi, hehehe. Tapi, sebenernya ini udah selesai kok. Seriusan hehe. Tapi, kayaknya kebanyakan deh kalo saya jadiin satu chapter. Nanti malem inshaallah saya upload sisanya. Jaringan dikampung saya tidak mendukung heuh~
.
.
Kok saya jadi bayangin pas hyunbin gendong si jaein terus nyanyiin lullaby pake suaranya yang berat. Terus juga, pas hyunbin gendong jaein pake satu tangan sambil bawa kantong kue. Air mana air? Supaya cepet bangun dari mimpi hehehe.
.
.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya, jika ini tidak sesuai ekspektasi. Saya masih dalam tahap pembelajaran dalam menulis cerita imajinasi seperti ini. Karena itu, mohon dimaklumi.
.
.
Dan ini persembahan saya yang selanjutnya. Mohon dimaklumi jika ada kesalahan dalam penulisan maupun pemilihan katanya. Kritik dan saran diperlukan agar menjadi cerminan diri saya untuk kedepannya agar lebih baik.
.
.
.
Sekiranya, sekian curhatan dari saya hehehe. Kalo mau di sekip mah rapopo. Asal jangan lupa di follow, favorite, sama review hehehehe. Timpuk aja timpuk gapapa. Asal nimpuknya pake cinta /nadzis cuih/
.
.
.
Nantikan kelanjutan dari cerita ini /itupun kalo ada yang nungguin. Gede rasa amat lu coeg/
hehehe
.
.
OptimusKomurola-nim : Dia mah bisaan aja gitu. Sok-sokan ngontak minyeon pake acara nanyain caranya ngejalanin fansign. Kebanyakan modus sama minyeon dia mah. Belom aja kepalanya di geplak ama bang dongho hehehe. Terimakasih sudah menunggu
.
.
Delicious Choco-pie-nim : Oke, sip. Ini lanjut kok hehehe. Terimakasih sudah menunggu
