Untitled

by: chohana

.

.

.

.

.

Sunday is gloomy,

My hours are slumberless,

Dearest the shadow

I live with are numberless

Little white flowers will

never awaken you

Not where the black coach

of sorrow has taken you

Angles have no thought of

ever returning you

Would they be angry

if I thought of joining you?

.

.

.

.

.

Gelap gulita angkasa raya masih setia menyelimuti sang Gaia, menunggu Hemera tiba membawa secercah cahaya di tengah gulita. Tetes demi tetes butiran air mata langit, meloncat dengan irama yang selaras. Rintik demi rintik itu terjun dengan melodi tanpa musik.

Bak anak panah mereka menghujam bumi, membangunkan petrichor dari dalam sana. Ketika tangisannya mulai mereda, petrichor mulai berkelana. Membaur pada hawa dingin Kota Seoul. Aromanya yang begitu kentara terendus, menciptakan kisah tersediri bagi masing-masing penghirup. Saat itu, manusia masih berkelana di alam bawah sadar. Melewatkan begitu saja relaksasi dari sang alam.

Benar jika saat ini masih terlalu awal untuk beraktivitas, terutama pada hari Minggu. Hawa yang telah menyentuh kata dingin itu membuat anak manusia semakin nyaman bergelung dalam selimut masing-masing. Enggan untuk sekedar menampakkan tubuhnya walau hanya sebesar biji padi. Namun tetap saja ada pengecualian bagi beberapa anak manusia lain. Pengecualian ini berlaku bagi sosok Luhan.

Lelaki itu mengalami stagnasi dalam waktu panjang. Dirinya terjerat di dalam sebuah persimpangan menyemakkan. Persimpangan yang memecahkan kepalanya di tengah dinginnya Kota Seoul.

Ada kala dirinya ingin berserah pada angin. Membiarkan angin menghembus sepintal benang kusut dalam benaknya. Namun rasa-rasanya begitu sulit untuk membiarkan angin membawa benang-benang itu sebelum dirinya menemukan ujung pangkalnya.

Satu hal yang dikatanya harus ia lakukan saat ini: membiarkan air jatuh membasahi kepala hingga wajah seputih porselen itu. Tak peduli jika air yang mengalir pada keran wastafel-nya itu sedingin es, ia tetap menikmatinya. Butir-butir air mencoba untuk menjelajahi kulit pucat di balik kaus yang bernoda, sedangkan lelaki itu acuh.

Luhan memandangi pantulan wajah basahnya di cermin yang sedikit dihiasi bulir-bulir air. Begitu dalam ia tatapi manik matanya sendiri. Tenggelam dalam danau tenang di tengah pupilnya. Jemarinya meremas kedua sisi wastafel. Mencetak noda menyerupai pola jemarinya. Pikirannya melayang ke beberapa sisi yang bertolak belakang, kembali menciptakan perang antara sisi-sisi dalam raganya.

Jarum jam tak berhenti berdetak. Waktu terus mengalir seperti aliran air keran yang tak ia tutup. Sepersekian detik kemudian, noda merah pekat pada beberapa titik di wastafel menarik seluruh atensinya. Matanya terkatup rapat diiringi helaan napas berat.

Jemarinya bergerak. Menampung air keran menggunakan telapak tangannya. Ia basuh noda-noda yang mengotori wastafel putih gading miliknya. Mengusapnya perlahan, tak ingin melihat kembali bercak-bercak yang begitu meremukkan hatinya.

Dengan hati yang masih bekecamuk, dibawanya tubuh menggigilnya menuju bath up yang telah terisi penuh oleh air dingin. Menenggelamkan hampir seluruh tubuhnya adalah pilihannya saat ini. Berharap seluruh untaian benang kusut di benaknya ikut tenggelam. Tenggelam bersama seluruh darah menjijikkan sekaligus menyakitkan pada tubuhnya.

Ia tak peduli bila tubuhnya akan membeku dalam air tersebut, ia tak peduli akan apapun tentang dirinya saat ini, yang ada di pikirannya adalah satu.

Hari ini, sungguh hari minggu yang suram.

.

-.UNTITLED.-

.

Suasana hening, dalam sebuah ruangan berukuran enam belas meter persegi maupun ruang di belakang kaca satu arah. Luhan tenggelam dalam amarah yang semakin meluap, lelaki di hadapannya terdiam dengan sebuah ketenangan pada rautnya. Aura keduanya yang bertentangan, membumbung tinggi hingga membaur dengan atmosfir.

Bagaimana bisa terjadi suara detak jarum jam pada pergelangan tangan yang terdengar begitu memekakkan telinga, bahkan hembusan napas yang teratur pun terdengar bak angin di pesisir pantai? Oh, astaga! Tak adakah salah satu dari kedua belah pihak yang ingin memecahkan kesunyian ini?

Mungkin ada dari sebagian orang yang tahan akan keheningan dan kesunyian. Mengikuti alur hingga dengan sendirinya keheningan dan kesunyian itu membuyar. Tapi tentu saja hal ini tidak berlaku bagi Luhan. Dirinya bukanlah seseorang yang dapat menunggu dan menghabiskan begitu banyak detik berlalu dalam keadaan itu.

"Bagaimana mungkin keparat ini benar-benar menggunakan haknya untuk tetap diam?" Pikir Luhan dalam kekesalan yang amat mendalam. Sungguh ia ingin menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat. Bukan hanya lelaki itu yang harus ia pikirkan. Ada banyak hal lain yang tengah menunggu dirinya. Bagaimana bisa lelaki gila itu menyita banyak waktu dan tenaganya?

Di ambang batas kesabarannya, ia coba menembakkan pertanyaan untuk yang kesekian kalinya. "Jadi tuan Kim, sampai kapan kau akan menjadi batu?" Rahangnya mengeras, jemarinya terkepal di atas permukaan meja.

Luhan merunduk, sekedar menatap wajah lawan bicaranya itu. Jemari yang terkepal perlahan terbuka dan bergerak untuk mendekatkan secarik kertas bergambar pada lelaki di hadapannya. Berharap strategi ini mendapat respon dari si lawan bicara.

Luhan memincingkan matanya sembari mengetuk-ngetuk jemari di atas kertas tersebut. Membuat ketukan konstan dan mengintimidasi di atas gambarnya.

"Kau mengenalnya, bukan?"

Pihak lawan tetap bertahan dalam pendiriannya. Sudah lewat dua puluh empat jam lelaki tersebut memilih untuk membisu.

Brak!

Luhan memukul permukaan meja, cukup membuat lelaki berbalut seragam oranye itu terperanjat. Emosi Luhan telah tiba di ubun-ubun, sedikit demi sedikit meluap. Tidak meledak, Luhan berusaha keras menahan.

Lelaki di hadapannya mendongak, membalas tatapan Luhan. Dari balik manik hitam itu terpancar begitu banyak perasaan yang Luhan sendiri tak bisa deskripsikan.

"Kau hanya menyusahkan dirimu." Raut lemah itu, perlahan berubah menjadi senyuman. Namun tetap tak melepaskan raut lemahnya. Senyuman itu dilemparan kepada anak-anak manusia di balik kaca satu arah. Ketegangan semakin menguar hingga ke luar ruangan kedap suara itu.

"Lalu, apa yang harus ku lakukan agar aku tidak menyusahkan diriku sendiri?" Luhan menumpukan seluruh beban tubuh pada kedua sikunya di atas permukaan meja. Wajahnya ia dekatkan ke arah lelaki tersebut, berusaha menunjukkan bahwa dirinya-lah yang sudah pasti akan segera memenangkan perang dingin di antara mereka.

Jika diibaratkan catur, Luhan adalah Raja Putih sedangkan narapidana di hadapannya adalah Raja Hitam. Luhan memiliki berbagau bidak catur, Raja Hitam hanya sendiri di board bagian seberang. Lantas mengapa sulit sekali bagi dirinya untuk mengalahkan Raja Hitam tanpa bidak?

"Kau hanya perlu membebaskanku—" Lelaki itu mengikuti pergerakan Luhan. Ia mendekatkan wajahnya dengan raut begitu menantang. "—sebelum aku mencicipi darahmu yang kuyakini semanis stroberi."

"Apa...?"

"Kau sudah tidak bisa—"

Tak!

Penonton dari balik kaca satu arah bergegas memasuki ruangan saat lelaki itu menekankan besi borgol pada pergelangan tangannya ke leher Luhan. Luhan tak dapat berkutik saat besi itu menjepit trakeanya. Bahkan untuk sekadar menghela napaspun begitu sulit.

"SUDAH KUBILANG KAU HANYA PERLU MEMBEBASKANKU!"

Detik selanjutnya, Luhan terbatuk. Siksa itu terlepas dari Luhan saat beberapa lelaki menarik si penyerang untuk keluar dari ruangan kedap suara itu.

Luhan menyentuh lehernya, merasakan otot di sana begitu tegang. Ia mendesis menahan sakit yang semakin menjalar.

"Kau baik?" Kris—salah satu rekan kerjanya—muncul dari balik pintu, membawa raut penuh kekhawatiran yang berusaha disembunyikan. Diusapnya pundak Luhan lembut sebelum akhirnya menuntun Luhan untuk meninggalkan ruangan tersebut.

Luhan masih terus mengusap lehernya sendiri. Goresan tipis terukir di leher putih miliknya. Pola kemerahan yang samar, tampak kontras dengan warna kulitnya. Memang bukanlah luka yang tergolong parah, namun tetap saja ada rasa perih dan memanas menjalar di sekitarnya.

"Kau tunggu di sini, aku ambilkan air." Dirinya mendapat sebuah anggukan patuh dari Luhan sebelum memutar balik tubuh semampainya.

Luhan menurunkan pinggangnya di atas sebuah bangku panjang kemudian bersandar pada besi yang terasa dingin. Menatap ke arah langit-langit lorong dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang ke berbagai arah. Jemarinya tetap tak henti mengusap-usap lehernya. Berharap rasa perih perlahan pergi meninggalkannya.

Helaan napas Luhan begitu terdengar memenuhi telinganya sendiri. Lorong tempatnya berada —yang saat itu kosong— memantulkan suara helaan napasnya. Tidak, ini bukan karena goresan di leher atau ancaman dari seorang psikopat. Tindakan itu lebih kepada menunjukkan keputusasaannya dalam menyelami hidup.

Matanya sudah lelah memandang. Dalam helaan napas dan pejaman mata, ia istirahatkan seluruh jira dan raga. Berusaha pasrah atas kenyataan yang menyita seluruh tenaganya. Dalam benaknya terus menari pertanyaan : akankah aku bisa menerima kenyataanya kelak?

Di sela pikirannya yang terus memutar, ia rasakan kehangatan menjalar di pipi kirinya. Mata yang baru saja terpejam kembali terbuka lebar. Tanpa melirik ia tahu kehangatan itu berasal dari sebuah cangkir yang menempel di pipinya.

"Minumlah." Luhan mengambil alih cangkir berisi kopi hangat yang diberikan seorang lelaki. Badan tinggi semampai itu mengisi sisi kosong permukaan bangku.

"Thanks, Kris."

"It's okay."

Luhan menyesap kopi tersebut. Dinikmatinya sensasi pahit dan hangat yang menjalar di sepanjang kerongkongannya. Ia kemudian berdecak kagum karena perpaduan bubuk kopi dan gula pasir yang sangat pas di lidahnya. Merasa secara tidak langsung Luhan memuji dirinya, Kris terkekeh lembut.

"Aku mempelajarinya dari Xiumin-Ge. Dia memang benar-benar ahli dalam membuat kopi."

"Dan kau benar-benar memiliki niat untuk belajar meracik kopi." Tawa renyah mereka memenuhi lorong ketika Luhan menyelesaikan kalimatnya. Namun semua itu hanya berlangsung sejenak. Sepersekian detik yang lalu suasana lorong itu kembali sepi. Hanya terdengar suara keributan samar dari ruangan-ruangan lain.

Luhan mengabaikan keeksistensian Kris. Lebih memilih berkutat pada secangkir kopi di tangannya, menarik sebuah filosofi dari cairan pahit sekaligus manis itu.

"Lehermu terluka?"

"Hanya goresan kecil. Akan sembuh dalam beberapa saat." Luhan tersenyum tanpa adanya niat untuk menengok wajah Kris. Bunyi menyeruput kembali terdengar dari arah Luhan. Kris pun ikut tersenyum walau tak tahu sebenarnya arti senyuman yang terbentuk di bibirnya sendiri.

"Kulihat akhir-akhir ini keadaanmu terlihat tidak terlalu baik. Ada sesuatu?"

Luhan bergeming. Jemarinya ia gunakan untuk mengusap bibir cangkir dengan lembut seolah takut akan merusaknya. Mata rusa itu terus tertuju pada kopi yang hanya tersisa kurang dari setengah volume cangkir.

Kris sadar, sangat sadar bahwa Luhan saat ini tengah tak mengharapkan kehadiran dirinya. Ia tahu Luhan saat ini terlihat tak menyukai akan kehadiran dirinya hanya dengan sebuah helaan dari Luhan. Padahal, Luhan sendiri tak tahu kepada siapa helaan napas penuh keputusasaan itu ia hembuskan.

"Aku bukan ingin mencampuri urusanmu, tetapi jika kau butuh bantuanku, aku akan berusaha membantumu." Kris menepuk pundak Luhan lalu bangkit dari posisinya. Kedua sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah kurva. "Aku pergi dulu."

Luhan masih bergeming. Ia benar-benar tak peduli apapun tentang rekan kerjanya itu. Menganggap Kris hanya setitik debu di sudut ruangan.

Saat ini Luhan seperti tenggelam di dasar lautan nun jauh di sana. Dirinya berusaha berenang untuk mencapai permukaan laut, tapi begitu berat untuk melakukannya. Haruskah ia menyerah saja?

Pemuda Cina itu bangkit dari posisinya. Gelas porselen itu ia tinggalkan di atas permukaan kursi. Tanpa membuyarkan pikirannya, ia melangkah menjauhi tempat itu.

.

-.UNTITLED.-

.

Detakan jarum jam berpadu dengan hembusan napas. Menciptakan melodi tersendiri yang mengisi setiap sudut sebuah ruangan dengan putih mendominasi.

Luhan mengeja untaian kata dalam secarik kertas putih. Ada perasaan membuncah di dalam dadanya saat ini. Perasaan seperti gelembung-gelembung soda memenuhi dadanya. Ada perasaan khawatir, tidak tenang seperti ; apa yang harus kulakukan selanjutnya? Apa aku bisa menjalaninya?

Maniknya ia gulirkan menuju sosok lelaki di hadapannya. Setelan putih yang ia gunakan, begitu cocok dengan ruangan tempat mereka berada. Putih dan bersih, layaknya seorang malaikat surgawi. Namun bagi Luhan, dirinya itu hanya perantara dari Tuhan untuk menyampaikan kisah memilukan.

Terjadi adu tatap selama beberapa detik sebelum akhirnya Luhan bersuara. Namun, sayangnya sang lawan bicara tak bisa mendengar begitu jelas ungkapan Luhan. Kalimat itu tercekat di antara sisi-sisi tenggorokan Luhan, hanya beberapa kata tak berarti yang lolos dari cengkraman tenggorok miliknya.

Luhan menghirup oksigen dengan perlahan kemudian mengeluarkannya kembali. Begitu terus secara berulang hingga dirinya dapat mengeluarkan suara dengan sedikit lebih jelas.

"Adakah cara mengobatinya?"

"Jika memiliki keinginan untuk sembuh, pasti ada jalan." Lelaki itu membuka snelli [1] yang menempel di tubuhnya. Ia sampirkan benda itu pada sandaran kursi yang berderit saat sebuah beban terlepas.

Langkah kakinya ia bawa untuk mendekat ke arah tubuh Luhan yang saat ini hampir menyerupai bunga layu. Bersandar lemah pada bahu kursi.

"Aku akan membantumu." Luhan merunduk semakin dalam ketika sebuah usapan hangat mengenai punggungnya.

Jemari yang sejak tadi diam, akhirnya tak tahan untuk tidak meremas surai kecoklatannya. Luhan tak ingin menangis, enggan menampilkan sisi rapuhnya. Luhan menarik napasnya dalam-dalam. Mati-matian ia menahan agar setetespun air mata tak jatuh. Payah ia menahan perasaan yang bercampur aduk di dada.

Ketika air mata akhirnya meleleh juga, dia menggigit bibir hingga nyaris berdarah, berusaha menahan suara tangis.

Sungguh saat ini keadaan Luhan begitu kacau. Ia menyembunyikan wajah menyedihkan itu di balik surai lebatnya yang menjuntai.

"Luhan, berhenti menyakiti dirimu. Aku ak-"

"Berhenti mengatakan omong kosong itu, Byun Baekhyun! Aku tahu ini tidak bisa disembuhkan! Kau pikir aku ini apa hingga dengan mudahnya kau ingin membodohiku?!"

"Luhan..." Baekhyun menatap punggung sempit Luhan sendu, tak kuasa dirinya menahan tangis. Ia akhirnya menerjang punggung itu. Merengkuhnya begitu erat, membiarkan Luhan terisak dalam rengkuhanmya. "Percaya padaku Luhan. Kumohon, percaya padaku."

Raungan keras dari Luhan memenuhi ruangan tersebut. Putih yang mendominasi semakin membuat Luhan merasakan pusing. Dirinya merasa begitu tersiksa saat itu. Tersiksa fisik maupun batin.

"Menangislah... menangislah..." Baekhyun mengusap lengan Luhan. Berharap Luhan akan sedikit membaik jika ia mengekspresikan rasa bercampur aduk di dadanya dengan tangis dan raung.

Gelembung-gelembung soda dalam dada Luhan meledak.Tangis Luhan semakin menjadi. Tak peduli jika anak manusia di luar sana akan mendengar raungannya. Sungguh ia benar-benar tak mempedulikan hal sepele semacam itu. Dipikirannya menari begitu banyak pertanyaan, penyataan, bahkan tangisan. Jiwanya itu ikut menangis.

Sinar mentari yang menyusup dari sela-sela ventilasi menyapa tubuh mereka lembut. Menjalarkan kehangatan musim semi pada diri mereka masing-masing. Bahkan mentari pun juga mencoba agar Luhan merasa lebih baik. Sayangnya Luhan tak acuh akan hal itu.

Tak ada niatan dalam hatinya untuk berhenti menangis, bahkan hingga sang mentari telah berganti tugas dengan rembulan. Ia tetap menangis, hingga terlelap. Harapannya saat itu hanya satu : saat ia terbangun, semua kembali seperti semula. Mustahil memang jika Luhan mengharapkan seperti yang terjadi di dongeng-dongeng atau drama picisan. Namun, tak ada salahnya bukan jika dirinya berharap?

.

.

.

.

.

to be continue

[1]Snelli : jas dokter

hallo? ehe

gimana? tertarik ga? kalo ngga ya discontinue.

ditunggu reviewnya~

btw, lebih suka yang versi ini atau yang kemaren?

Published on FFN

December 03rd, 2017

11.37 PM

Revised

February 04th, 2018

12.08 AM

-hana