"Siapa kau sebenarnya?"
Lagi-lagi langkah lelaki berambut pirang itu terhenti oleh sebuah pertanyaan, Naruto pun kembali membalikkan badannya dan melihat wajah yang semula kacau itu, menjadi wajah penuh kebingungan.
Setelah Naruto berhasil menenangkan Sasuke yang terguncang, Naruto berusaha berbicara pelan tentang kejadian saat ini, apa motifnya menyelinap di rumah ini – yang ternyata lelaki berusia 27 Tahun itu telah bersembuyi di dalam rumahnya selama 1 minggu lebih di atas loteng dan akan turun untuk membersihkan diri dan mencari makan saat tidak ada orang di dalam rumah – dan soal Sai yang kini entah dimana keberadaannya, yang pasti saudaranya itu tengah bersama seseorang yang menjadi incaran Naruto.
Kembali ke pertanyaan itu lagi, Naruto menaikkan sebelas alisnya lalu tak lama kemudian ini menghembuskan nafas perlahan, "Bukankah sudah kubilang kalau aku ini anggota intel.." Naruto sedikit memelankan suaranya, "Kau masih belum percaya ya? Kalau begitu ayo ikut aku ke-"
"Kau sepertinya mengenalku dan Sai sebelumnya, apa karena kau 'menginap' di atas loteng selama 1 minggu ini membuatmu sangat mengenal kami berdua?" Tanya Sasuke kembali.
"Mengenal seperti apa? Nama kalian berdua? Hal itu mudah sekali aku dapatkan." Jawab Naruto tenang, "Sebaiknya kita segera-"
"Jangan berpura-pura bodoh, memangnya data intelmu itu menginformasikan kalau kau harus memeluk Sai agar dia bisa tenang?!" – begitu juga denganku?
"Kau sepertinya memiliki hubungan dengan Sai, siapa kau sebenarnya? Beri tahu aku atau aku tidak akan ikut denganmu dan mendengarkan semua alasannya." Ujar Sasuke kemudian.
Lagi-lagi Naruto hanya menghela nafasnya lalu tak lama kemudian ia pun tertawa dengan keras, "Astaga…"
.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu, NaruSai.
Rating : T+ nyerempet M
Genre : Angst and Romance
Warning : BL, Typo bertebaran, OOC.
Maaf telah melucknutkan Sai! XD
.
.
Happy Reading!
.
.
"Dulu saat kita sama-sama masih kecil, aku sering berkunjung ke rumahmu loh, Mikoto Ba-san selalu membuat kue yang enak-enak, jadi sepulang sekolah aku selalu mampir hanya untuk memakan kue buatannya. Benar juga sih, aku memang lebih sering bertemu dengan Sai karena kau selalu menolak bertemu denganku. Setelah lulus SMA aku langsung mengenyam pendidikan militer yang sangat jauh sekali dari Konoha, jadi semenjak itu aku tidak bisa mengunjungi kalian lagi." Pada akhirnya Naruto pun mulai menceritakan masa lalu mereka.
Masa lalu yang menurut Naruto sangat indah sekali dan ia tidak pernah membayangkan jika keluarga Uchiha yang penuh kehangatan – walaupun sedikit dingin – itu menjadi kacau karena keserakahan sang kepala keluarga.
"Saat aku kembali ke Konoha 4 Tahun kemudian, aku sudah dilantik menjadi anggota intel saat itu, betapa terkejutnya aku mendengar kabar itu…" Naruto pun melirik Sasuke yang masih tetap diam mendengarkan, "…aku tahu setelah kedua orang tua kalian… yah begitulah, aku pun juga sering melihat kalian berlalu lalang di kepolisian – aku punya teman di kepolisian – untuk mengurus permasalahan itu. Suatu hari, aku hanya melihat Sai saja yang datang, aku pun memutuskan untuk menghampirinya dan menyapanya, pertama dia juga lupa denganku tetapi lama kelamaan dia malah menangis melihatku, hahahaha karena itulah aku langsung memeluknya dan menenangkan dirinya, tidak kusangka jika cara itu berhasil kulakukan kepada dirimu juga."
"Aku sering bertemu dengan Sai, tanpa aku sadari aku sering menyempatkan waktuku untuk datang ke kantor polisi untuk menemui Sai, aku pun menanyakan alamat rumah kalian yang baru tetapi Sai selalu menolaknya, padahal aku juga ingin bertemu denganmu. Kami pun sering bertemu, bahkan di luar kantor polisi sekalipun. Suatu ketika saat aku mendatangi kantor polisi lagi, aku tidak pernah melihat keberadaan Sai, kata temanku yang bekerja di kepolisian kalian sudah tidak perlu lagi wajib lapor dan memfokuskan diri pada perkuliahan kalian," Naruto menjeda penjelasannya sebelum menghela nafas sedih, "Lama tidak bertemu dengan Sai entah mengapa membuatku uring-uringan sendiri, hatiku terasa kosong..
"…kosong?" Sasuke memandang Naruto lekat-lekat, sepertinya ia mulai tahu hubungan Naruto dan Sai, ah lebih tepatnya perasaan Naruto terhadap saudaranya itu, "Kau menyukainya?"
Naruto balas memandang Sasuke seraya tertawa kecil, "Ah ketahuan ya hehehehe.."
Sasuke menghela nafasnya, bukannya ketahuan juga tetapi memang terlihat jelas sekali.
"Baiklah!" Naruto pun mencoba mengalihkan pembicaraan, "Sekarang bawa semua barang-barangmu yang menurutmu penting, termasuk pakaian-pakaianmu." Lanjutnya kemudian.
"Untuk apa?"
"Sebentar lagi pihak kepolisian akan mengamankan rumah ini dari orang lain termasuk dirimu untuk kepentingan penyelidikan dan karena kau adalah saksi utama kasus ini, perlindungan kepadamu akan dilebihkan dari pada saksi yang lain, karena itu kau tidak bisa tinggal di sini lagi hingga kasus ini selesai." Jawab Naruto, "Kau akan tinggal dengan aman di suatu tempat yang telah disediakan oleh kami, jangan khawatir."
"Lalu bagaimana dengan kuliahku? Aku masih bisa menyelesaikan kuliahku kan?"
"Sayang sekali, pihak kami telah mengajukan cuti kuliah untuk dirimu."
Sasuke tidak tahu lagi harus melampiaskan amarahnya ini kepada siapa lagi. Hahaha. Ia sudah lelah. Lebih baik menurut dari pada membuat masalah lebih panjang lagi. Sekarang ya ia pikirkan hanyalah keadaan Sai, yang saat ini entah dimana keberadaannya.
"Sasuke…" Sasuke mengangkat kepalanya yang tertunduk lalu menatap seseorang yang memanggilnya tadi.
"Percayalah kalau Sai baik-baik saja, kita akan sama-sama mencari Sai dan tidak akan membiarkannya jatuh ke jurang yang sama lagi, ya?" Naruto pun menepuk puncak kepalanya pelan.
Walaupun lelaki itu berusaha menguatkan dirinya, bukan berarti jika di dalam hatinya ia merasa biasa-biasa saja, Sasuke mengerti akan itu, karena Naruto menyukai Sai, jelas sekali Naruto menaruh rasa khawatir sama besarnya sama seperti dirinya kepada Sai.
Hah, jika saja Naruto menyadari perasaannya lebih awal dan menjadikan Sai sebagai kekasihnya, mungkin keadaan ini tidak akan pernah terjadi.
Ah tidak, kalau sejak awal dia berani menolak perbuatan Sai dan lebih memilih untuk di penjara saja, keadaan ini juga tidak mungkin terjadi.
(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)
"Ini adalah kamar apartemenmu, sampai kasus ini selesai kau akan tinggal di sini ya." Naruto pun meletakkan barang bawaan Sasuke – yang dengan senang hati ia bawakan – di dalam sebuah apartemen. Apartemen yang akan Sasuke tempati ini cukup mewah, mungkin ini salah satu bentuk pelayanan yang mereka berikan atas informasi berharga darinya.
Tetapi tetap saja Sasuke tidak merasakan senang seperti orang pada umumnya.
Sebelumnya Sasuke telah mengunjungi kantor utama badan intelijen, kantor yang dulu pernah ia kunjungi bersama teman-teman sekelasnya untuk keperluan studi. Naruto mengenalkannya pada rekan-rekannya yang bertugas menyelesaikan kasus ini.
Pertama adalah Haruno Sakura, walaupun terlihat muda tetapi dia sudah berumur 30 Tahunan – Naruto langsung ditampar Sakura saat memberitahukan fakta itu kepadanya – dia adalah seorang dokter yang ahli di bidang kejiwaaan, tugasnya adalah memeriksa kejiwaan tersangka, korban, maupun saksi yang terlibat dalam sebuah kasus sebelum diserahkan sepenuhnya kepada kepolisian. Nicknamenya adalah Primavera.
Lalu seorang lelaki berambut panjang dengan pupil mata yang berbeda dari manusia biasanya, namanya adalah Hyuga Neji. Nicknamenya adalah Girasole.
Seorang lelaki yang selalu bersama anjing putihnya, seseorang yang meragukannya sebagai saksi – ia sendiri juga tidak peduli – , namanya Inuzuka Kiba. Nicknamenya Canebian.
Dan terakhir, seorang lelaki berambut merah, ia sama sekali tidak mendengar suaranya karena kata Naruto lelaki itu memang pendiam, namanya adalah Sabaku Gaara. Nicknamenya Rosbia.
Sedangkan Nickname Naruto sendiri adalah Aranvol.
Sasuke diharuskan memanggil mereka dengan nickname mereka diluar ruangan mereka bicara saat itu untuk menjaga kerahasian identitas mereka.
"Tetapi jika kau masih ingin tetap memanggilku Naruto juga tidak masalah, yang terpenting jangan mereka-mereka yang sudah aku perkenalkan itu ya!"
"Besok pagi-pagi sekali aku akan menjemputmu untuk penyelidikan, hari ini kau tenangkan dirimu saja terlebih dahulu, jika kau ingin makan kau bisa langsung memesannya lewat telepon apartemen ini. Tenang saja, bahkan koki di apartemen ini adalah seorang anggota intelijen."
Untuk informasi ini Sasuke cukup terkejut mendengarnya.
"Kalau begitu aku pergi du-"
"Naru-Um maksudku Aranvol, aku benar-benar tidak tahu informasi tentang mereka, aku bahkan tidak memedulikan keberadaan mereka di rumah. Apa yang bisa kalian dapatkan dariku?" Tanya Sasuke tak mengerti. Ia hanya tidak ingin pihak intel memberikan banyak harapan kepadanya.
"Berikan saja semua yang kau ketahui dan jawab semua pertanyaan yang akan 'mereka' tanyakan kepadamu tanpa ada kebohongan sama sekali, hanya itu yang bisa aku jawab saat ini. Proses lebih lanjut aku tidak memiliki wewenang untuk memberi tahu, tetapi aku yakin kau tidak perlu disiksa dan dihajar terlebih dahulu untuk memberi keterangan, tenang saja hahahaha!" jawab Naruto seraya tertawa keras.
"Maaf saja kalau aku tidak bisa membantu banyak.." balas Sasuke datar.
"Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan, sekarang kau hanya perlu banyak istirahat, jika kita bisa bekerja sama dengan baik, maka kita akan segera menemukan Sai dan gembong narkoba itu."
(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)
"Mereka telah berhasil menangkap kuncinya, apakah transaksi ini akan tetap dilanjutkan?"
"Hmm… Kenapa tidak? Memangnya kau pikir aku bisa dikalahkan oleh pasukan tengik itu? Tetap lanjutkan seperti biasa dan abaikan mereka, transaksi akan terus dilanjutkan, aku sudah memiliki beberapa orang untuk menangani mereka."
"Baik Tuan!"
Sesosok laki-laki tua dengan wajah mulai berkeriput itu menyeringai kejam seraya memandang seseorang yang tergeletak tak sadarkan diri di sampingnya, tangan kanannya pun terjulur untuk menyentuh sisi wajah sesosok pemuda telanjang yang baru saja 'bermain' dengannya itu.
"Memangnya kau pikir aku tidak memiliki palu yang akan menghancurkan kunci itu hm? Dasar pasukan tengik tidak berguna!"
.*.
.*.
.*.
.*.
.*.
.*.
Setelah menjemput Sasuke dan mengantarkannya ke ruang interogasi, Naruto langsung unjuk diri untuk menghadiri pertemuan yang membahas kasus besar ini, beberapa jam kemudian ia pun memutuskan untuk kembali dan melihat proses pengambilan informasi kepada saksi kunci itu.
"Bagaimana Sakura?" Tanya Naruto tiba-tiba.
Sakura yang sedari tadi mengawasi jalannya interogasi itu memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Naruto, "Lebih baik kau mendengarnya sendiri, Sasuke-san baru saja dihipnotis, akan kami cocokkan informasi darinya secara sadar dan juga informasinya dari alam bawah sadar."
.
Siapa namamu?
.
Uchiha Sasuke
..
Dari mana asalmu?
.
Saya asli Konoha
..
Apa statusmu saat ini?
.
Mahasiswa Hukum
..
Bisakah aku mulai sesi Tanya jawab ini? Jawab saja dengan santai tetapi serius dan jujur, mengerti?
.
Iya, saya mengerti.
..
Siapa Uchiha Sai itu?
.
Dia adalah kakak kembar saya
..
Sudah berapa lama Uchiha Sai melakukan pekerjaannya sebagai kupu-kupu malam?
.
Semenjak Tahun ketiga kami berkuliah.
..
Apakah ada seseorang yang mengajaknya melakukan hal itu?
.
Dia melakukan itu karena keinginannya sendiri
..
Karena apa?
.
Untuk melunasi utang ayah kami kepada Negara dan juga untuk kesenangannya sendiri.
..
Pada poin jawaban atas pertanyaan ini, baik sang penanya maupun Sakura dan Naruto sontak mengerutkan dahinya. Seseorang yang bertugas mencatat informasi pun lekas menuliskannya pada sebuah buku.
Pertanyaan pun kembali dilanjutkan.
..
Berapa utang ayah kalian kepada Negara hingga Uchiha Sai melakukan kegiatan itu?
.
Seratus juta dollar
..
Ini memang informasi diluar topik, tetapi entah kenapa informasi ini sepertinya akan menguak kasus yang lainnya.
"Aku akan menanyakan tentang hal ini kepada Shikamaru," yang Naruto ketahui kasus korupsi itu selesai saat Uchiha Fugaku bunuh diri karena pelakunya hanyalah Fugaku sendiri, seluruh harta Uchiha Fugaku juga telah disita oleh Negara dan itu semua sama saja dengan membayar utang kepada Negara. Lalu apa maksud perkataan Sasuke tadi?
..
Baiklah, langsung saja kepada topik, apa kau mengetahui seorang lelaki tua dengan perban disebelah kiri matanya, datang ke rumahmu untuk Uchiha Sai?
.
Saya pernah melihatnya.
..
Bersama dengan siapa dia datang?
.
Bersama beberapa orang berjas hitam.
..
Apa yang mereka bawa?
.
Beberapa koper di masing-masing tangan mereka.
..
Apakah lelaki tua itu pernah berinteraksi denganmu?
.
Ya
..
Apa yang dia lakukan kepadamu?
.
Dia berkata jika dia menginginkan tubuhku dan dia hampir memerkosaku.
..
Lalu?
.
Aku memukul kepalanya dengan vas bunga hingga ia pingsan, lalu beberapa orang datang menghampiriku dengan bau nafas mereka yang menusuk dan melepas paksa pakaianku. Mereka… Mereka….
Nafas Sasuke mulai tidak beraturan, keringat dingin mulai berjatuhan membasahi pakaiannya, tubuhnya mulai gemetaran, tanpa sadar ia mengingat peristiwa yang hampir membuatnya kehilangan harga dirinya itu.
Tetapi aku berhasil melukai mereka dengan bekas vas yang aku pukulkan kepada pria tua itu dan mengusir mereka semua dari kamarku dengan melemparkan bekas pecahan vas itu lalu menutup dan mengunci kamarku. Semenjak saat itu aku malas berurusan dengan mereka dan mereka juga tidak berani menyentuhku lagi.
..
Ucapkan semua yang kamu ketahui tentang mereka, semuanya.
.
Walaupun begitu… Aku masih bisa mendengar percakapan mereka dari dalam kamar. Soal transaksi, pelabuhan, luar negeri, dan juga kepolisian.
..
Naruto masih diam mendengarkan penjelasan yang Sasuke utarakan dari alam bawah sadarnya, ia sudah sangat yakin jika Sasuke mengetahui informasi tersebut hanya dengan mendengarnya sekilas.
Sasuke memiliki kemampuan untuk mengingat informasi yang ia dengar hanya dalam sekejap, tergantung keinginan Sasuke sendiri untuk tetap menyimpan informasi tersebut di dalam otaknya atau ia ingin 'melupakannya', nyatanya informasi yang ingin Sasuke lupakan itu teringat dengan jelas di alam bawah sadarnya.
Termasuk informasi tentang Peredaran Narkoba yang dengan bodohya mereka diskusikan di luar markas mereka, atau bahkan mereka menganggap rumah milik Sai itu adalah markas mereka? Naruto sendiri tidak yakin.
"Sasuke-san memang saksi kunci kasus ini, ia bisa menjabarkannya dengan lancar walaupun ditengah sesi tadi jiwanya sedikit terguncang. Walaupun dihipnotis sekalipun, jikalau Sasuke-san sendiri merasa terganggu dengan jawaban yang ia utarakan tanpa sadar itu, ingatan sadar Sasuke-san bisa saja memberontak."
Sakura memandang Naruto serius.
"Mungkin sampai ini saja sesi hipnotisnya, jika dilanjutkan jiwa Sasuke-san bisa lelah dan semakin sakit. Salah melangkah sedikit saja, Sasuke-san bisa saja menjadi gila dan rencana kita akan berantakan." Sakura kembali memandang Naruto lalu tersenyum tipis, "Setelah ini kau bisa ajak dia jalan-jalan keluar agar pikirannya lebih segar, terlalu lama di hipnotis juga melelahkan kau tahu."
(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)
"Bagaimana perasaanmu saat ini?"
Sasuke memijat sisi dahinya yang sedikit pusing lalu menganggukkan kepalanya, "Tidak merasa apapun. Apa yang sudah kalian tanyakan kepadaku selama sesi hipnotis tadi?" tanyanya kemudian.
Naruto pun menyalakan mobilnya lalu menjalankannya menuju ke pusat kota, ia memutuskan untuk membawa Sasuke untuk makan ramen di tempat favoritnya, disana juga banyak pilihan makanan jadi ia tidak perlu memaksa Sasuke memakan ramen juga.
"Hanya ditanyai seputar kasus ini kok, kesaksian darimu itu akan dicocokkan dengan kesaksian dari saksi lainnya, juga dari korban dari peredaran narkoba itu. Jangan khawatir." Walaupun tanpa sadar Sasuke harus menceritakan penderitaannya yang memang berkaitan dengan kasus ini
Sasuke sendiri merasa Naruto masih menyembunyikan sesuatu tetapi ia memilih untuk tidak berkomentar akan hal itu, pandangannya pun tertuju pada jalanan yang sudah sering ia lewati ini, "Kita akan kemana?"
"Tentu saja makan siang, memangnya kau tidak lapar?"
"Aku tidak membawa banyak uang."
"Tentu saja aku akan menraktirmu makan Sasuke~"
"Aku tidak lapar."
"Bohong, tadi saja kau sempat menghentikan sesi interogasi karena kau bilang sangat lapar sekali."
Manik hitamnya memandang Naruto tajam, tidak percaya dengan apa yang Naruto katakan, "Apa? Aku tidak mungkin mengatakan hal itu!"
"Kau tidak bisa berbohong saat dihipnotis tahu~"
Sasuke pun melunakkan pandangannya lalu kembali memandang jalanan dengan wajah tak percaya, Naruto yang tengah menyetir itu hanya tertawa kecil melihat reaksi Sasuke yang lucu itu. Faktanya, Sasuke memang tidak pernah mengatakan hal itu, wajahnya terlalu keruh untuk sekedar melemparkan candaan ringan seperti itu.
Mereka – Naruto – pun makan siang dengan penuh semangat, Sasuke hanya memendam rasa puas – karena makan – dengan diam dan menyantap makanan di hadapannya itu dengan tenang.
"Apa yang ingin kau lakukan setelah ini?"
Sasuke dengan malas menjawab, "Tidur, aku lelah."
"Yosh! Aku akan mengantarmu pulang ke apartemen barumu!"
"Aranvol.."
"Hm? Panggil saja Naruto juga tidak apa-apa."
Sasuke memandang Naruto ragu lalu tak berapa lama ia menundukan kepalanya, tiba-tiba saja dadanya terasa sakit, perasaannya tidak enak sama sekali.
"Ada apa Sasuke? Ceritakan saja."
Pemuda Uchiha itu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas makanannya."
"Oh oke, tidak masalah." Naruto tahu jika Sasuke tengah menyembunyikan sesuatu darinya, tetapi ia memilih untuk tidak memperpanjangnya dan kembali fokus mengendarai mobilnya.
"Nanti malam aku akan mengunjungimu lagi, kita akan makan malam bersama dengan kawan-kawanku, kau mau kan?"
"Hn."
Oke, itu artinya 'iya'
Tak berapa lama kemudian mereka telah sampai di depan apartemen yang telah Sasuke tempati semenjak kemarin itu, Sasuke segera keluar dari mobil Naruto lalu membungkukan badannya sebagai tanda terima kasih dan tanpa mengatakan apapun ia melenggang pergi menjauhi mobil Naruto, meninggalkan lelaki berambut pirang itu yang hanya menghela nafas melihat tingkah Sasuke yang sangat sulit ia tebak itu.
Sedangkan Sasuke sendiri, ia terburu-buru masuk ke dalam kamarnya karena ia merasa ponsel di dalam saku celananya ini bergetar, ia tidak ingin mengangkat telepon seraya berjalan karena jika ia terjatuh atau melakukan hal ceroboh lainnya, ia tidak tahu harus menyembunyikan rasa malunya itu kepada siapa.
Ia pun lekas mengangkat telepon tanpa nama itu sembari mengunci pintu apartemennya,
"Ya? Ini Siapa?" hening, Sasuke perlu menunggu beberapa detik sebelum sebuah suara misterius menusuk ke dalam indra pendengarannya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang perlu kau tahu sekarang adalah kakakmu yang tengah sekarat ini, ah sepertinya penyakitnya kambuh atau karena menginginkan pil narkotika ini ya?"
Mata Sasuke membelalak lebar, ia mencengkram erat ponselnya lalu berteriak dengan keras, "Apa yang sudah kau lakukan kepada Sai! Jawab brengsek!"
Mereka adalah pengedar narkoba itu! Ia harus segera memberitahukannya kepada Naru-
"Eits! Aku tidak melakukan apapun kok! Dialah yang membutuhkan pil ini untuk meredakan sakitnya. Kau tahu? Aku bisa saja membunuh lelaki tidak berguna ini jika aku mau loh…"
"HENTIKAN BRENGSEK!"
"Kau ingin aku membiarkannya hidup?"
Orang itu… Orang itu ingin mengancamnya…
Sasuke pun jatuh terduduk dengan lemas.
"Datanglah ke markasku sebelum pasukan intel itu menemukan markas yang kau ketahui itu, kau tidak boleh lagi memberikan informasi tentang kami kepada mereka dan aku akan membiarkan kakakmu ini hidup lebih lama, bagaimana? Mudah kan?"
Pemuda itu kembali menjambak rambutnya dengan keras, ia buang ponselnya ke tembok hingga pecah berhamburan lalu menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya yang ia tekuk.
"Brengsek!" umpatnya tanpa henti.
Mau sampai kapan mentalnya ini akan diuji?
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Ahhhhh~ Terima kasih banyak untuk :
tanoyuka0307, Sapphire Hatsuki Blue, UchTie NSL , RnaNIppon, Sunsuke UzuChiha, Aoi sora ,Guest, whilminiii, niilaaa, Ameami, dan zeynkyubi.
Karena sudah mau meluangkan waktu untuk membaca dan mereview fanfic gaje ini yaa! Terima kasih juga untuk semuanya yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca fanfic amatiran ini :D
Untuk Chapter ini… Kalian masih berniat untuk membaca dan mereviewnya kan? Terima kasihh~
