(a/n) hyaah beres juga chappie dua. tapi ini baru awal dari kisah mereka. Hm, disini diceritain sudah dua belas tahun berlalu. Tokito dan Kyoichiro umurnya sekarang 22 tahun.
summary: Tokito yang mulai putus asa akan keberadaan Kyoichiro mulai mencoba mencari cinta yang baru. Hum, siapakah cowok beruntung itu? :3. Find it out !
***12 TAhun Kemudian***
"To...Tokito...Hei Tokito" Ujar ibuku sambil menggoyang-goyangkan badanku. Aku pun membuka mataku dan menatap pada sosok yang sudah membangunkanku itu. "Tidur kok sambil senyam senyum begitu. Ayo bangun, bantu ibu masak makan malam" Sambungnya. Aku pun menggeliat sembari menguap. Aah, lagi-lagi mimpi tentang masa kecilku itu. Aku bangkit dan berjlana menuju dapur untuk membantu ibu menyiapkan makan malam.
Dua belas tahun sudah berlalu sejak aku berpisah dengannya. Kyoichiro Mibu, teman baikku, cinta pertamaku, sekaligus ciuman pertamaku. Semenjak dia pindah entah kemana, kami benar-benar hilang kontak. Dia bagaikan, 'pfuah', hilang seperti asap. Yah walau memang kuakui, dulu teknologi komunikasi belum semaju sekarang dan kami sama sekali tidak kepikiran untuk bertukar alamat surat. Habis mau bagaimana lagi? Dia pindah gak bilang-bilang dan seminggu sebelumnya pun kami sama sekali tidak berbicara.
Aku mengambil segumpal daging dan mulai memotongnya diatas talenan. Kira-kira sudah tumbuh jadi seperti apa dia? Apa dia jadi makin tinggi? Makin tampan? Makin keren? Apa dia masih ingat padaku? Ah Kyoichiro...sampai kapan kau membuatku menunggu?
Makan malam pun selesai, kuangkut semua piring kotor ke bak cuci lalu mencucinya. "Toktio, besok temani ibu ke supermarket belanja bulanan, ya" Pinta ibuku.
"Ya" Jawabku tanpa mengalihkan mata dari piring yang tengah kubersihkan.
'Pihak protokoler kerajaan Negara Onmyoden sudah memberikan kepastian akan kedatangannya ke Jepang dalam rangka kunjungan kenegaraan. Diperkirakan akan datang sekitar...' Uajr seorang pembaca berita ditelevisi yang sedang ditonton ayah . Huh, semua stasiun berita ribut memberitakan kedatangan keluarga kerajaan itu. Padahal kalau mau datang, sih datang aja. Gak usah sampai ribut-ribut segala. Gara-gara itu acara kartun favoritku sampai ditiadakan. Argh, padahl sedang bagian rame-ramenya.
Selesai mencuci piring aku segera naik menuju kamarku dan berbaring dikasur. Kutolehkan kepalaku kearah jendela, memandang lurus kearah jendela besar dibangunan bertingkat dua disebrang sana. Tirainya masih menutup, sama seperti dua belas tahun lalu, ataupun kemarin dan kemarin kemarinnya lagi. Karen aku selalu menatap ke jendela itu setiap hari, berharap sosoknya akan muncul sambil memegang kertas gambar seperti yang biasa kami lakukan dulu. 'SRAK' secepat kilat kututup tirai jendelaku dan membenamkan wajahku dalam bantal. Percuma saja walau aku memandang ke arah jendela itu sampai mataku copot sekalipun dia tidak akan ada disitu. Aku harus melupakannya dan mencari cintaku yang baru.
"Oke, kayaknya sudah semua. Apa ada yang kau perlukan?" Tanya ibuku sambil mencentang daftar terakhir dari list belanja bulanan. Kutatap langit-langit lalu menggeleng. Ibu mendorong troli penuh berisi belanjaan kearah kasir, sementara aku mencari pintu keluar dan menunggu didepan kasir tempat ibuku membayar.
"Hei Tokito" Sapa seseorang. Seorang pria berambut coklat pucat pendek terlihat tengah berjalan kearahku dengan sebuah papan dada ditangannya.
"Hei Akira, gimana kerjaanmu?" Tanyaku. Akira ini adalah temanku ketika masih SMA dulu. Kami bertemu waktu reuni dan sudah sebulan ini dekat dengannya.
"Yah begitulah. Banyak komplain, hehe" Jawabnya, pekerjaannya memang sebagai manager operasional supermarket ini. Maka tak heran dia sering keluyuran disekeliling supermarket untuk mengecek semua elemen disini berfungsi sebagaimana mestinya.
"Yaaah, sudah seharusnya kan? Hihi" Kataku seraya tersenyum kecil.
"Tokito, nanti malam kau sibuk?" Tanyanya.
"Hm, tidak, tuh. Ada apa?" Tanyanya.
"Uuh, aku nemu restoran sushi enak sekitar sini. Bagaimana kalau kita pergi bareng? Aku yang traktir deeh" Katanya. Mendadak ekspresi wajahku pun berubah.
"Sungguh? Wuoah aku sudah lama sekali ingin makan sushi. Tentu aku mau" Kataku kegirangan. Akira tertawa lepas.
"Sudah kuduga kau tidak akan bisa menolaknya. Oke deh, kujemput jam enam sepulang aku kerja, ya" Katanya.
"Oke. Awas kalau telat, looh" Kataku.
"Iya...iya" Jawabnya seraya mengacak-acak rambutku gemas.
"Rapi amat, mau kemana kamu sayang?" Tanya ibuku.
"Diajak makan sushi sama Akira" Jawabku singkat sambil merapikan baju terusan yang tengah kupakai dikaca kamar.
"Hahaha, kencan nih?" Tanyanya. Pertanyaan ibuku sontak membuat jantungku berdegup kencang.
"Iiih ibu. Cuma makan bareng, kok" Protesku.
"Hahaha, iya...iya. Pulangnya jangan kemaleman, ya" Pesannya lalu berlalu pergi. Kutatap kembali pantulan diriku di kaca. Kencan? Satu kata itu sontak membuat pipiku merona merah. Ayolah, dia kan sudah beberapa kali ngajak aku makan. Apa yang aneh dengan ini?.
"Wow, kau terlihat hebat" Puji Akira.
"Tscih, jangan menghinaku" Kataku sambil meninju pelan lengannya.
"Hahaha, kita pergi sekarang, tuan putri?" Tanyanya.
"Iya dooong, kau pikir sampai kapan aku harus menahan lapar, ayoo" Seruku sambil menggamit lengannya dan menggusurnya keluar dari rumahku.
"Pulangnya jangan malam-malam, ya. Titip Tokito, Akira" Pesan sponsor ibuku.
"Ya Nyonya" Jawab Akira tanpa bisa melawan langkahku yang terus menariknya.
"Oke...oke...salmon...salmon maki...salmon maki" Kataku sambil menggosok-gosokkan kedua tanganku menunggu sushi favoritku itu dihidangkan. Begitu piring pesananku ditaruh didepanku, segera kuserbu mereka.
"Hahaha...kau lahap banget makannya" Celetuk Akira. Seketika aku pun menaruh lagi sushi yang beberapa detik lagi akan masuk ke rongga mulutku. Ah, malu sekali rasanya. "Gak apa-apa...gak apa-apa, aku justru paling seneng liat kamu makan lahap" Ujarnya. sepasang rona merah mewarna pipiku melihat wajahnya yang menyinggungkan senyuman. Debaran jantungku meningkat. Akira memakan sushi miliknya, begitu juga denganku. Tapi tentu sekarang tidak serakus ketika semula. Akira menyelesaikan makannya sebelum aku. Sembari menungguku selesai makan, Akira terus memandagiku.
"Apa?" Tanyaku.
"Hmp tidak. Kau manis kalau gembul, ya, hahaha" Ujarnya. Aku menggerutu, sama sekali tidak terdengar seperti pujian.
"Kalau mau denganku kau harus menerima kegembulanku" Ujarku asal. Akira terdiam seraya menatap padaku.
"Serius nih, kau mau denganku?" Tanyanya. Aku tersedak mendengar pertanyaannya. Kutatap wajah kalemnya yang menyinggungkan senyuman tipis. Rona merah mewarnai wajahku.
"Ng, aku tadi Cuma bercanda, kok" Kataku menundukan kepala, malu.
"Tapi kalau aku serius" Katanya bertopang dagu menatap lurus padaku. 'DEG' jantungku seketika berdebar kencang. Auh, aku makin tak berani menganggak kepalaku. "Tokito" Panggilnya lembut. Dengan susah payah, akhirnya kuangkat juga kepalaku ini. "Aku sudah lama menyukaimu." Katanya pelan. Aku menggigit bibir bawahku, bingung dengan apa yang harus kukatakan selanjutnya. Bayangan akan sosok Kyoichiro kembali menari-nari dikepalaku. "Tidak usah kau jawab hari ini. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir" Ujarnya lagi. Aku memandang kebawah sambil mengangguk pelan.
"Daag, tidur yang nyenyak" Pamit Akira dari dalam mobilnya. Aku tersenyum sambil melambaikan tanganku. Akira kemudian memacu mobilnya meninggalkan depan rumahku. Kumematung terdiam memandangi mobinya yang terus bergerak kemudian menghilang dibelokan jalan.
Aku menghela nafas lalu berbalik masuk menuju rumah. "Aku pulang" Salamku.
"Selamat datang, sayang. Sudah makan malam? Atau masih lapar?" Balas ibuku.
"Nggak bu, udah kenyang. Aku mau tidur" Kataku berjalan lurus menaiki tangga menuju kamarku. Begitu masuk kekamar, segera aku mengganti bajuku dengan piyama.
Sambil berbaring menatap langit-langit kamar, pikiranku melayang jauh ketika Akira menyatakan perasaannya beberapa jam yang lalu. Kemudian bayanagn Kyoichiro masuk ke benakku. Aah, aku mesti gimana? Aku tau cepat atau lambat aku memang harus melupakan cinta pertamaku itu. Tapi aku takut, takut Akira akan meninggalkanku seperti Kyoichiro meninggalkanku dulu. Mungkin alasan takut ditinggalkan itu pula yang membuatku tak memiliki kisah cinta lain selepas Kyoichiro meninggalkanku.
Tapi kalau aku terus-terusan menadang kebelakang, seumur hidup aku tidak akan pernah maju-maju. Ternyata, masa dimana aku sudah harus menatap kedepan sudah datang.
.
.
.
TBC
