"Aku menemukan bahwa semakin keras aku bekerja, semakin banyak keberuntungan yang kupunya."—Thomas Jefferson
Oyassan Galore
KageHina
Police-Yakuza AU
Haikyuu! © Furudate Haruichi
.
.
Chapter 2: A Big Exchange
.
.
Dalam 23 tahun hidupnya, Kageyama belum pernah sekalipun terbiasa dengan seseorang berkepribadian ganda. Maksudnya adalah seseorang yang dapat mengubah watak mereka secara drastis, entah itu disengaja maupun tidak.
Bayangkan saja, bagaimana rasanya jika Tsukishima yang bersifat seperti itu ternyata adalah seorang pria cengeng yang menangis diam-diam jika seseorang menyembunyikan kacamatanya? Satu hal yang pasti—rahangnya akan merosot, menyisakan mulutnya yang terbuka lebar dengan shock.
Dan saat itu juga, di hadapannya, berdiri seorang pria muda yang dikatainya berkepribadian ganda itu. Baru saja beberapa jam yang lalu Kageyama melihatnya dalam balutan kimono merah, dengan kedinginan dan kengeriannya berhasil menyelesaikan masalah yang menyeret Karasuno hanya dalam beberapa detik. Dan sekarang, Hinata menampakkan diri kembali di hadapannya. Namun bukan sebagai seorang oyabun, melainkan maid.
Karena penampilan dan ekspresi yang berubah drastis itu, Kageyama tak bisa melakukan apapun selain diam berdiri di sana, bengong, sambil memandangi Hinata dari ujung kepala hingga ujung kaki berkali-kali.
Dia memang tahu bahwa banyak sekali yakuza yang berbakat dalam akting dan jaga imej, tetapi dia tidak menyangka perubahannya… dapat sedrastis ini. Dari seorang kriminal menjadi seorang maid imut? Tentu saja Kageyama sebagai pihak yang berselisih dengan Hinata berasa ingin pingsan saat itu juga, saking kagetnya. Imej mengerikan Hinata yang selama ini berhasil terbangun di dalam benak Kageyama terasa pecah seketika.
"Kenapa kau ada di sini!?" Hinata mengulangi pertanyaannya yang lama tak terjawab. Wajahnya tidak kalah kaget dengan Kageyama. Yang mengherankan, dia nampak tak keberatan Kageyama melihatnya berpakaian moe seperti itu. "Jangan bilang kau dan teman-temanmu sudah mengetahui tempat ini?"
Kageyama menaikkan sebelah alisnya. Itukah hal pertama yang dikhawatirkannya? Padahal, kalau Kageyama berada di posisi Hinata, dia mungkin akan menjerit histeris ketika musuhnya—entah polisi, yakuza musuh, atau berandalan jalan—menyaksikanya dalam kostum imut. Namun Hinata justru terlihat kalem-kalem saja.
"Aku kebetulan menemukan tempat ini," jawab Kageyama pada akhirnya.
"Jangan berbohong," geram Hinata. Dengan kostum yang dikenakannya sekarang, geramannya terdengar seperti ngeongan kucing kecil yang lucu bagi telinga Kageyama. "Kau pasti sudah memberitahu teman-temanmu untuk mengepung tempat ini."
"Aku mengatakan kebenarannya." Kageyama menghela nafas tidak sabar. Belum ada lima menit dia menghadapi Hinata, dan kepalanya sudah dilanda pening berat. "Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi aku datang kemari hanya untuk makan. Kalaupun kau keberatan aku ada di sini, aku bisa langsung pindah ke tempat makan lain."
Hinata menatapnya dengan dahi terlipat. "Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"
"Tidak banyak. Aku hanya menginginkan sebuah makan malam yang tenang," jawab Kageyama dengan nada sarkasme. "Dengar, oyabun-san, aku sama sekali tidak berniat untuk mengurusimu sekarang. Kalau aku menangkapmu, aku juga tidak akan bisa segera menjebloskanmu ke penjara. Seperti perkataanmu sebelumnya, kau invicible terhadap hukum di sini. Jadi, aku tidak akan melakukan apapun."
Hinata terdiam sejenak sambil menatap Kageyama dengan menyelidik. "Tapi, kau bisa saja melakukan hal lain."
"Hal lain apa?" tanya Kageyama, setengah menghela nafas karena jengkel. Dia ingin cepat-cepat memakan sesuatu sebelum rasa panas pada perut kosongnya bertambah parah.
Hinata mengedikkan bahu. "Entah. Apa saja. Misalnya… menyebarkan foto dan berita kalau oyabun Karasuno menjelma menjadi maid? Kalau kau tidak bisa menjatuhkanku dengan hukum, pastinya kau bisa mencari cara lain."
Astaga, yakuza yang satu ini, Kageyama memijit pelipisnya. Di dalam situasi seperti ini, Kageyama bahkan tidak sempat menertawakan atau mengomentari kostum yang dikenakan Hinata. Si yakuza terus saja mendesaknya dengan rasa was-was tingkat tinggi.
"Berapa kali harus kukatakan, aku tidak akan melakukan apapun, Hinata-boke," tukas Kageyama. Sang oyabun jelas tidak suka dengan panggilan baru Kageyama untuknya, dilihat dari keningnya yang mengerut tebal. "Kau lihat pakaian apa yang kukenakan? Pakaian bebas, bukan seragam polisi. Aku kemari untuk beristirahat, untuk makan malam. Aku akan berterima kasih padamu kalau kau bersedia untuk tidak menahanku di sini sambil berdiskusi tentang kehidupan pekerjaan. Sekarang, kalau kau memang tidak memperbolehkanku di restoran ini, aku akan keluar."
Hinata menatap sejenak Kageyama dengan bibir bawah yang digigit.
"…Baiklah," Setengah detik kemudian dia membalas. "Kau hanya akan makan malam, kan? Kalau begitu, tidak masalah… Yah, sebenarnya masalah juga, tapi apa boleh buat. Untuk kali ini, aku mempercayai perkataanmu. Tapi," Hinata mengangkat jari telunjuknya untuk menuding Kageyama dengan sorot mengancam. "Awas saja kalau kau berbuat yang tidak-tidak. Aku tak akan segan untuk menghabisimu."
Untuk beberapa saat, Kageyama mengerjapkan matanya. "Kau mengizinkanku berada di sini? Kau sedang kesambet apa?"
Hinata telah memutar badan, kini memandunya menuju salah satu kursi di pojok ruangan. Beruntung, dia dapat menebak preferensi Kageyama—dia lebih suka duduk di tempat yang tidak ramai.
"Aku tidak sedang kesambet apa-apa," balasnya ringan. Dia mengeluarkan senyuman licik yang telah menempatkan diri pada ingatan Kageyama. "Kau tahu? Dengan membiarkanmu makan di sini, kau tidak bisa lari seenaknya sambil membawa informasi penting mengenai ini." Hinata memberi penekanan sambil menarik rok maid dengan kedua tangannya dari samping. "Sebelum itu terjadi, aku akan terlebih dahulu mengancammu atau memberi suatu iming-imingan agar kau mau bungkam mulut."
Kageyama mendengus pelan.
"Sialan," desisnya. "Seharusnya aku tahu orang macam apa kau ini."
Hinata tertawa pelan.
Restoran tersebut, sesuai keinginan Kageyama, tidak terlalu ramai malam itu. Meja-meja hitam bundar yang dikelilingi oleh empat set kursi kayu cokelat masing-masing diletakkan membentuk baris-baris rapi dalam tempat makan itu. Kageyama baru saja menyadari bahwa ada pelayan lain di sana, selain Hinata. Bedanya, mereka semua laki-laki tulen yang tak berkostum maid seperti Hinata, dan justru mengenakan kostum butler yang mempesona.
Yang mengejutkan, Kageyama pernah menyaksikan wajah sebagian dari pelayan-pelayan itu. Pria pendek pemberani yang tadi menentang pemimpin gang, misalnya. Atau pria lain dengan cukuran mirip biksu yang sering berada di samping pria pendek tadi. Bahkan sampai pria bersurai kelabu dengan senyum bak malaikat yang berjaga di balik meja kasir.
Barulah Kageyama menyadari semuanya.
Sang polisi menelan ludah. "Jangan bilang restoran ini…"
"Benar," Hinata mengangguk meskipun Kageyama belum mengakhiri kalimatnya. "Restoran ini adalah kamuflase kami. Tujuan utamanya memang itu. Di sini, kami menyamar sebagai pegawai restoran biasa. Ah, tapi, ada juga anggota yang mengatakan bahwa restoran ini adalah tempat di mana kami bisa menjadi manusia biasa. Bukan yakuza, hanya warga Jepang biasa."
"Siapa yang membangun restoran ini?" tanya Kageyama, mendadak penasaran dengan semuanya.
Hinata mendengus geli. "Sejak kapan ini berubah menjadi sesi interogasi, Pak Polisi? Kau bilang kau hanya akan makan, bukan?"
Kageyama menggerung sebal, tidak sabar. Dengusan Hinata berubah menjadi tawa lepas. Dia merasa puas dapat menggoda rasa ingin tahu seorang kepala polisi bernaluri detektif macam Kageyama.
"Santai, Kageyama-kun. Kau sudah mengingatkanku tadi kalau kalian tidak akan bisa menjebloskan kami ke penjara. Selain itu, tidak ada salahnya membeberkan sedikit hal tentang kami. Semuanya akan menjadi menarik. Wajah kebingunganmu termasuk," Hinata mengulum senyum lebar, mempersilakan Kageyama duduk ketika mereka sampai pada meja yang dituju. "Nah, apa yang ingin kau pesan, goshujin-sama?"
Kageyama memberi Hinata tatapan paling mematikannya, yang tentu saja tidak mempan terhadap belut licin macam pemuda berambut oranye itu. Dia memasang wajah merengut ketika tangannya menerima buku menu yang diulurkan oleh sang maid.
"Kau tidak senang kupanggil 'goshujin-sama'?" Hinata merengut sambil meletakkan telunjuk pada bibirnya, pura-pura kecewa. "Padahal pria lain saja sudah langsung mimisan. Imanmu kuat juga, ya. Sepertinya aku harus lebih berusaha."
"…Hal seperti itu tidak akan mempan padaku, tak peduli seberapa keras kau mencoba," gumam Kageyama, matanya telah lepas dari Hinata dan kini berada pada daftar menu di hadapannya. "Jangan sombong, maid bodoh."
Tanpa sedikit pun merasa sakit hati, Hinata justru tertawa lepas. "Kau ini tidak kreatif dalam mengumpat, ya? Lebih baik kau ikut kelompok yakuza-ku, nanti kau akan mendapat banyak diksi dalam mengejek dan mengumpat."
Beruntung, Hinata tidak berniat untuk terus mengetes kesabaran Kageyama dan segera mengingatkan sang polisi kembali tentang pesanannya. Usai Kageyama memesan dengan suara serak kental dengan kekesalan, Hinata memberinya kedipan singkat sebelum akhirnya menghilang.
Kageyama menunggu dalam diam, menyisir seisi ruangan dengan iris birunya. Sesekali, dia menyaksikan pelayan yang berlalu lalang ke sana kemari, mengambil dan mengantarkan pesanan. Benar kata Hinata. Seperti ini, mereka sama sekali tidak terlihat seperti yakuza. Tawa dan senyuman mereka tak kalah lebar dari penduduk biasa. Bahkan, jika dibandingkan dengan Kageyama, mereka jauh lebih ramah.
Seharusnya, restoran itu sama saja merupakan kandang Karasuno. Kandang yakuza yang harusnya penuh dengan kriminal dan dosa. Namun, bukannya merasa was-was dan semacamnya, Kageyama justru merasa nyaman dengan suasana di sana.
"Tempat mereka menjadi manusia biasa… ya?" Kageyama bergumam pelan dengan dagu tertopang pada tangannya. Dia mengamati lebih lama hiruk pikuk di dalam restoran sebelum suara bernada tinggi milik Hinata kembali menyambutnya.
"Maaf menunggu!" ucap Hinata, masih tersenyum. Dia meletakkan pesanan Kageyama berupa sepiring sup ayam dan secangkir teh hangat di depan sang polisi. Masih ada satu gelas lagi di atas nampan. Kageyama menebak bahwa itu adalah pesanan untuk meja lain. Ternyata tidak.
Hinata justru mengambil tempat duduk di hadapannya, lalu meraih gelas terakhir di atas nampan dan menyeruputnya sebentar sebelum meletakkannya di atas meja perlahan. Rupanya itu adalah segelas cokelat hangat untuk dirinya sendiri.
"Kenapa kau duduk di sini?" Kageyama memberi Hinata tatapan menyelidik. Dia bisa lebih galak dari ini, tapi biarlah. Dia tak ingin tenaganya habis untuk menghadapi yakuza yang satu itu.
"Eh? Memangnya tidak boleh? Kageyama-kun, kau tidak mau dekat-dekat denganku?" Hinata memajang ekspresi sakit. Kageyama berani menjamin bahwa dia sedang mulai menjahilinya lagi.
"Kau mengganggu," gumam Kageyama. Batinnya dongkol luar biasa, tetapi tak bisa melakukan apa-apa, karena Hinata pasti akan membalasnya dengan kalimat dan gerakan yang lebih pintar. "Bukankah kau harus bekerja?"
Hinata menggeleng, meletakkan dagu di atas kedua tangannya yang bertautan. "Aku sudah meminta izin untuk istirahat. Lagipula, ada tamu penting di sini, jadi tidak apa-apa kalau aku menemaninya sekalian, kan?"
Kageyama membiarkan tatapannya berada pada Hinata cukup lama. "Kau terlihat menikmati peranmu," komentarnya, lantas menunjuk kostum maid Hinata dengan sendoknya ketika sang yakuza memberinya tatapan bingung.
"Oh, ini?" Hinata berdiri sebentar, lalu berputar-putar di tempatnya layaknya seorang model profesional. "Aku terlihat imut, kan?" Mendapat dengusan dari Kageyama, Hinata tertawa renyah. "Tentu saja aku menikmatinya. Kau tahu bahwa ada banyak assassin yang menggunakan teknik seduksi? Aku juga menggunakan teknik itu, menyamar seperti ini, lalu mendapatkan hati pria—bahkan wanita—hanya dengan sedikit godaan di sana sini. Dengan ini, aku bisa mengendalikan banyak orang untuk menjadi bidakku. Padahal, yang hanya perlu kulakukan adalah tersenyum, memasang wajah dan pose imut, dan mengeluarkan kalimat-kalimat rayuan."
Kageyama bergumam datar, mengunyah makanannya. Itu menjelaskan mengapa Hinata terlihat begitu rileks tadi, dia sudah terbiasa dilihat orang-orang dalam kostum macam itu. "Kedengarannya praktis."
"Sangat," Hinata manggut-manggut menyetujui, sampai detik ini masih terlihat menikmati mengobrol bersama polisi. Kageyama hampir tidak percaya bahwa dia adalah orang yang sama dengan yakuza mengerikan pembenci polisi yang berhasil mengendalikan suasana ricuh semudah membalikkan telapak tangan. "Makanya, aku sangat kecewa ketika mendapati bahwa batinmu kuat sekali. Haruskah aku menggunakan cara yang lebih ekstrim? Misalnya—"
"Jangan lakukan itu," desah Kageyama. Hanya dengan membayangkan berbagai macam skenario mengerikan jika Hinata menggunakan seduksi ekstrim padanya, Kageyama merinding jeri.
Sayangnya, Hinata memilih untuk tak mendengarkannya dan berlari mendekati Kageyama, lantas dengan seenak jidat menghempaskan badannya di atas pangkuan sang polisi. Senyumnya bertambah lebar, kali ini dia tertawa-tawa menyaksikan wajah Kageyama yang sudah seperti kepiting rebus.
"Hinata!?" Kageyama berteriak histeris. Berpasang-pasang mata tertuju kepada duo yang terlihat… mesra itu. Hinata sengaja menikmati posisinya, dan kini malah bergelayut manja pada leher jenjang Kageyama. "Kenapa kau duduk di sini, bodoh!? Minggir sana—"
"Tidak mau~" Hinata membenamkan wajah pada bahu Kageyama, bahunya bergetar menahan tawa.
"Kau mengganggu!" Kageyama mencoba mendorong Hinata, tapi gagal. "Dan semua orang memperhatikan kita, dasar—"
"Oooh, benar juga! Biarkan aku menyuapimu, Kageyama!" ujar Hinata dengan wajah sumringah. Dia merebut sendok dari tangan Kageyama, mengambil sesuap sup, lalu mengarahkannya pada mulut Kageyama. "Ayo, buka mulutmu! Aaaaan…"
Kageyama menggeleng cepat dengan mulut tertutup, menolak untuk disuapi oleh Hinata karena satu—ini terlalu memalukan, dua—dia dilihat banyak orang, dan tiga—Hinata adalah yakuza, bukan orangtua atau pacarnya.
"Ayolah, sekali saja! Setelah itu aku akan turun dari pangkuanmu."
Dengan iming-imingan tersebut, Kageyama setengah tidak rela memajukan wajahnya sambil membuka mulut. Hinata dengan senang hati memasukkan sendok tersebut ke dalam mulutnya dengan, anehnya, cukup lembut. Maksudnya, dia beruntung Hinata tidak memilih untuk menyodok mulutnya menggunakan sendok itu.
Sekilas, telinga tajam Kageyama dapat mendengar desas-desus pelan di sekitarnya.
"Hei, kau lihat itu? Mereka romantis sekali…"
"Sho-Shou-chan! Waifu-ku! Tidaaaak!"
"Heh, aku bertaruh pasti pria itu mengancam si maid untuk melakukannya."
"Eh, mereka bermesra-mesraan di tempat umum seperti ini?"
Warna merah telah merambat pada telinga Kageyama. Dia bersiap membuka mulut untuk mengeluarkan kalimat protes lain, tetapi tidak bisa karena dia baru sadar Hinata belum menarik keluar sendok itu dari mulutnya, dan justru memandanginya dengan mata berkaca-kaca.
"Ja-Jadi ini rasanya menyuapi seseorang…?" Hinata mengusap setitik air mata dengan dramatis. "Aku sudah hampir lupa… Sudah lama sekali sejak aku menyuapi adik perempuanku…"
Entah sejak kapan semua ini berubah menjadi drama.
Sebelum kejadian bertambah tidak karuan, Kageyama menarik sendok tersebut dari mulutnya dan mendorong tubuh Hinata, kali ini dengan serius sehingga Hinata terpaksa harus mengungsi dari pangkuan sang polisi yang nyaman. Seolah tidak ada hal aneh apapun yang baru saja terjadi, Hinata berdehem pelan, menepuk-nepuk roknya yang kusut, sebelum akhirnya duduk kembali.
Selama beberapa saat, hanya suara dentingan antarperalatan makan di tangan Kageyama yang mengisi keheningan.
"Kalau tidak salah, tadi kau bertanya siapa yang membangun restoran ini," Hinata mengambil nafas dalam, menumpu kepala pada satu tangannya yang tidak sedang memegang gelas cokelat hangat. Dia terdiam sebentar, memandangi minuman di tangannya. "Yah… Jawabannya adalah leluhur kami. Dan ya, restoran ini sudah ada sejak Karasuno pertama kali dibentuk."
Kageyama menghentikan sendok yang hendak mendarat di dalam mulutnya, memandangi Hinata dengan tidak percaya. "Kau akan memberitahukannya?" Keningnya mengernyit heran. "Kau tidak sedang demam, kan, Hinata bodoh?"
"Kejam sekali! Padahal aku sudah mau berbaik hati menjawab pertanyaanmu…" Hinata memanyunkan bibirnya. "Kau sendiri juga… cukup menurunkan penjagaanmu di depan yakuza sepertiku. Maksudku, apa kau tidak curiga? Siapa tahu aku bisa saja memasukkan racun di dalam makananmu. Aku juga bisa menusukmu dari belakang ketika kau tidak menyadari. Atau jangan-jangan, seperti dugaanku, kau adalah salah satu dari polisi-polisi naif di luar sana yang mudah memberikan kepercayaan mereka?"
"Jangan berkata seperti itu," sela Kageyama dengan wajah tidak suka. "Mereka… Kami tidak naif."
Hinata menghembuskan nafas sambil melambaikan tangannya. "Yah, seberapa banyaknya aku mencoba menghujat kalian, kau pasti akan tetap melindungi mereka… seperti tadi sore."
Kageyama memilih untuk tidak membalas perkataan Hinata. Sepuluh menit berjalan tenang, Hinata tak lagi berkata-kata, mungkin sudah kehilangan ketertarikan sejak dia menemukan bahwa Kageyama cukup keras kepala dan tidak membiarkan teman-temannya dilecehkan. Tepat setelah Kageyama menelan habis teh hangat yang dipesannya, suara derap kaki dan nafas cepat membuat kepalanya—dan tentunya kepala Hinata—tertoleh ke sumber suara.
Seorang pria bersurai kelabu yang tadi berjaga di balik meja kasir berlari-lari kecil menghampiri Hinata, sebuah telepon genggam di tangannya. Wajahnya panik.
"Hinata," ucapnya di sela-sela tarikan nafasnya. Melihat Kageyama, dia mengangguk pelan sebagai sapaan sebelum kembali fokus pada Hinata. "Paman pemilik gerai es krim meneleponmu. Ada… berita buruk. Dia ingin bicara denganmu. Ponselmu dari tadi tak diangkat, jadi dia meneleponku."
Hinata memandang pria itu dengan kening mengerut. Ekspresi riangnya beberapa saat lalu luntur. Topeng seorang maid ceria telah dilepas, dan kini dia kembali pada wajah aslinya—wajah seorang oyabun Karasuno yang dingin. Tanpa menunggu lebih lama, dia meraih telepon yang diserahkan oleh rekannya.
"Halo?" Hinata tak bisa menyembunyikan wajah cemasnya. "Oji-san? Ya… Ya… Apa? Siapa yang…" Selama beberapa detik, Hinata mendengarkan dalam diam, sesekali mengangguk, wajahnya bertambah pucat setiap detik berlalu. Samar-samar, Kageyama dapat mendengar suara dari seberang sana.
…tokoku diserang…
…semuanya menjadi sandera…
…mereka mengancamku…
…sedang berlindung di dalam lemari pendingin…
Tidak butuh waktu lama untuk merangkai semuanya menjadi satu kesatuan dugaan yang akurat. Kageyama sontak menegakkan punggungnya sambil memperhatikan raut wajah dan gerak-gerik Hinata.
"Astaga… Baiklah, aku akan segera ke sana. Oji-san, tetaplah berlindung di sana, oke?"
Setelah itu, sambungan terputus. Hinata beranjak dari duduk nyamannya dengan wajah pucat. Nampaknya, dia belum melupakan kehadiran Kageyama di dekatnya karena dia sempat menolehkan kepalanya untuk menatap Kageyama tegas.
"Pulang sekarang, Kageyama. Aku ada urusan mendesak," katanya tanpa basa basi. Tatapannya pada Kageyama tinggal beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, sorot matanya awas dan penuh ancaman. "Jangan pernah berpikiran untuk mengikutiku."
Hinata mulai berjalan menjauh, tapi sebelum dia menghilang dari sudut pandang Kageyama, sang polisi terlebih dahulu menghentikannya.
"Aku ikut," ucap Kageyama yakin, membuat Hinata menghentikan langkah untuk menatapnya tidak percaya sekaligus marah.
"Apa yang kau katakan!?" Hinata dengan cepat berjalan mendekati Kageyama dan mencengkeram kerah kemejanya. "Sudah kubilang, polisi seharusnya diam saja! Kalian hanya akan menambah beban! Para berandalan itu seratus persen akan memanfaatkan sandera, dan kau tidak akan bisa melakukan apa-apa!"
Kageyama tidak membalas bentakannya. Hening sebentar, hanya terdengar suara nafasnya yang tersengal. "Pulanglah, Kageyama. Ini adalah urusan Karasuno. Aku tidak ingin kepolisian terlibat. Aku memang telah membiarkanmu berkeliaran di restoran milik kami, tapi aku tidak bisa membiarkanmu berkeliaran di dalam urusan kami. Kalau kau tidak segera pulang, aku akan menyuruh anak buahku memulangkanmu secara paksa."
Hinata menatapnya lekat-lekat. Kageyama menggigit bibir bawahnya, dia harus bertindak cepat. "Aku harus menjamin keselamatan semua orang di sana. Jika aku boleh ikut denganmu untuk melakukannya, aku janji tak akan membeberkan satu kata pun informasi mengenai kalian ke kantorku."
"Kau masih ingin bermain polisi-polisian di saat seperti ini?" Hinata nampak menahan helaan nafasnya.
"Ini bukan mainan. Aku serius. Tugasku penting, salah satunya adalah agar menahanmu untuk tidak membuat kerusuhan yang tidak berarti di sana. Kalau kau kelewatan membunuh orang di sana, apa yang akan terjadi pada anak kecil dan remaja di sana? Mereka bisa saja trauma," Kageyama mendesak. "Biarkan aku ikut, Hinata."
"Omong kosong. Tugasmu sebagai polisi bukanlah satu-satunya alasan kau ingin ikut, aku yakin itu. Setelah semuanya selesai, kau bisa saja melanggar janji dan melapor pada kantormu, kan?" Hinata mengepalkan kedua tangannya. "Maaf saja. Tapi aku tidak bisa mempercayai seorang polisi. Mereka, kau, adalah musuh alamiku."
Kageyama menghela nafas, mengacak surai hitamnya. "Baiklah. Kalau kau memang sekukuh itu, aku akan menawarkan sesuatu yang lebih ekstrim." Tatapan penasaran Hinata seolah mendesaknya untuk melanjutkan perkataannya. Setelah mengambil nafas dalam-dalam, barulah Kageyama melanjutkan dengan tenang, "Kalau kau membiarkanku ikut, aku akan mengabulkan satu permintaan apapun darimu. Ah, kecuali permintaan yang membuatku mengkhianati pekerjaanku."
Kedua mata Hinata melotot tajam. "Kau gila, Kageyama!? Seberapa fanatiknya kau dengan pekerjaanmu sampai mau mengorbankan dirimu kepadaku seperti itu?"
"Kalau demi melindungi penduduk di sela-sela kekacauan yang melanda Jepang ini, aku rela menjadi gila," jawab Kageyama sekenanya sambil menyeringai. "Untuk catatan, kalau aku tak mau mengabulkan permintaanmu nanti, kau bisa mengancamku dengan segala macam cara."
Hinata nampak menelan ludah, belum pulih dari kakagetannya. "…Kau serius? Aku bisa meminta apapun?"
Kageyama mengangguk mantap, tanpa keraguan sedikit pun. "Serius. Sekarang, cepatlah. Atau pemilik gerai itu akan terancam."
Hinata memandanginya sekali lagi, menatapnya lamat-lamat, lalu menghembuskan nafas. "Kau tahu, Kageyama? Kau adalah polisi paling aneh yang pernah kutemui." Dia dijawab dengan seringai kecil yang samar dari Kageyama. "Tunggu aku berganti baju. Aku adalah oyabun di sini, jadi jangan melakukan apapun jika aku tak mengizinkanmu."
Kageyama mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Mati-matian menahan senyuman. Akhirnya, dia satu langkah lebih dekat dengan yakuza. Dengan Hinata Shouyou.
Mungkin, dia memang bilang bahwa dia bukanlah mata-mata kepolisian, tetapi tak dinyana, dia adalah mata-mata bagi dirinya sendiri, pencari kebenaran sejati.
XOXO
Jika biasanya Kageyama berhadap-hadapan dengan yakuza, kali ini dia berdampingan dengannya. Risiko terlibat dalam pertarungan, terluka karena adu jotos maupun adu senjata, bahkan risiko terlihat oleh rekan sekantornya justru membuatnya merasa tertantang. Dia sudah lama sekali menginginkan sesuatu yang sedikit berbeda dari kehidupan normalnya.
Ternyata, nekat seperti ini mengasyikkan juga.
Hinata, telah berada dalam balutan kaos hitam tanpa lengan serta celana panjang, memimpin berlari di depan, sementara Kageyama mengikuti di belakang. Sang oyabun memutuskan untuk tidak membawa satu pun teman-temannya karena dia bisa menyelesaikannya sendiri, katanya.
Tentu saja, pada awalnya teman Hinata dengan surai kelabu tadi, yang rupanya bernama Sugawara Koushi, tak setuju. Namun, Kageyama membantu membujuk, memberi alasan bahwa dia ada di sana untuk setidaknya membantu Hinata meredam suasana. Pada akhirnya, Sugawara melepas Hinata sendirian dengan Kageyama, wajahnya sedikit tidak rela.
Mereka pun tiba pada gerai es krim yang dimaksud. Dari pintu kaca gerai itu, Kageyama dapat melihat beberapa orang bertato yang tengah memegang senjata api. Semua warga tidak beruntung yang terjebak dalam kejadian itu mengangkat kedua tangan masing-masing, tak dapat melakukan apapun.
"Kau tunggu di luar. Sembunyi di balik pot besar ini, amati situasi dari situ," Hinata melemaskan jari-jarinya. "Jalankan tugasmu dengan baik. Jika kau melihatku bertindak berlebihan, segera hentikan aku. Mengerti, Pak Polisi?"
Meski pada dasarnya Kageyama benci diperintah oleh orang lain, dia mengangguk tanpa keberatan. Sebuah keberuntungan Hinata memperbolehkannya ikut. Berada sedekat ini saat seorang yakuza beraksi benar-benar kesempatan langka yang hanya bisa didapatnya dalam saat-saat tertentu. Dia harusnya justru berterima kasih pada Hinata.
"Mohon kerja samanya, Kageyama-kun."
Hinata melemparkan cengiran lebar, sebelum akhirnya membuka pintu kaca gerai es krim dengan perlahan. Seperti ketika dia menghentikan perseteruan antara Karasuno dengan gang non-yakuza tadi sore, langkah kakinya perlahan tetapi keras, gemanya mengisi setiap jengkal ruangan.
Menyiapkan dirinya sendiri, Kageyama berjongkok di balik sebuah tanaman hias yang cukup besar, mengamati sang oyabun dari sana. "Jangan melakukan hal yang berlebihan, Hinata," bisiknya pelan, berharap-harap cemas sambil memelototi Hinata dari balik tempat bersembunyi.
Di dalam sana, Kageyama melihat seseorang—yang kemungkinan adalah pemimpin mereka—melirik Hinata dengan sinis. Dia memindahkan moncong senjatanya pada pria berkepala oranye itu. "Siapa kau, sialan!?" bentaknya kasar.
Hinata sama sekali tidak berjengit kaget. Wajahnya datar, sama sekali tidak takut. Sepanjang hidupnya, mungkin dia telah menghadapi seseorang yang jauh lebih mengerikan dari pemimpin berandalan jalanan. Mungkin juga dengan kengerian selevel Ushijima. Preman kecil seperti itu jelas tak dapat menandingi.
Tanpa sepatah kata pun, Hinata melangkah maju. Perlahan, dengan intimidasi penuh, dia mendekati preman tersebut. Kageyama tak tahu wajah dingin macam apa yang dipakainya, tetapi wajah preman itu terlihat begitu ketakutan. Dia sama sekali tak akan menertawakan preman itu—Kageyama bahkan sempat merasakan dirinya berkeringat dingin. Hinata bukan seseorang yang bisa diajak main-main—dia adalah yakuza, dan di atas itu, seorang oyabun.
"Kau punya lima detik untuk keluar dari tempat ini," ujar Hinata, mengambil satu lagi langkah maju. "Lima…"
Preman itu menggertakkan gigi-giginya. "Si-Sialan, kau pikir kau ini siapa, hah!?"
"Empat." Kageyama yakin, Hinata tengah tersenyum lebar saat ini.
"Kalian semua, hajar dia!"
"Tiga, dua, satu." Hinata mempercepat hitung mundurnya, lantas mendorong kepalan tangannya dengan kuat pada wajah salah satu preman yang mendekatinya. Kedua matanya bergerak cepat. Ada tujuh orang di sana termasuk pemimpinnya, jumlah yang tidak merepotkan bagi Hinata. Satu orang baru saja tumbang setelah dipukulnya, menyisakan enam orang.
Dia menyikut dua orang yang datang dari kanan dan kirinya secara bersamaan, lalu menyundul keras kepala orang yang hendak menghajarnya dari depan. Empat orang tumbang, tiga tersisa. Seorang lagi mengumpat pada Hinata, lalu berlari dengan kecepatan penuh sambil membawa sebuah pisau kecil di tangannya. Hinata dengan mudah menghindari, lalu menekuk dan melipat tangannya dari belakang, dan sebagai gerakan pamungkas dia menendang punggungnya hingga jatuh ke lantai.
Sebuah pisau menarget kepalanya, dan dengan mudah Hinata kembali menghindari. Dia berjongkok, lalu dengan cepat menendang betis orang itu kuat-kuat. Satu lagi tumbang. Tinggal dua orang. Pemimpinnya tetap berada di belakang, tak berani melawan, dan menyuruh satu anak buahnya yang tersisa untuk menghajar Hinata.
Orang itu memasang kuda-kuda tinju amatir. Hinata hampir tertawa geli. Dia memberi tinju ke arah mata Hinata, saking lambat gerakannya sampai Hinata sempat nyengir sebelum benar-benar bergerak menghindar. Tinjunya lalu mendarat pada leher orang itu. Anak buah terakhir tumbang, menyisakan pemimpinnya seorang diri.
"Bagaimana? Kau mau maju?" Hinata memanas-manasinya. "Mumpung aku bersedia melayanimu. Atau kau sebenarnya takut?"
Preman itu menggertakkan gigi-giginya lagi dengan kuat. "Sialan! Dasar bedebah!" Entah mengapa, dia tiba-tiba berlari menuju ke arah dapur. Sekilas Hinata berpikir bahwa dia berniat melarikan diri, tetapi tidak. Apa yang dilakukannya membuat kedua mata Hinata membola.
Dia menyeret sosok pria paruh baya yang menggigil dingin, baru saja keluar dari persembunyiannya di dalam lemari pendingin. Tubuhnya semakin menggigil karena takut. Ketika iris cokelat mendarat pada warna ungu pada sekujur tubuh sang pria, habis dipukuli dan ditendang, Hinata menahan nafas.
"Oji-san!" teriaknya khawatir. Pria itu tak lain adalah pemilik gerai es krim yang sangat dikenalnya. Melihatnya dalam kondisi mengenaskan seperti itu membuat amarah menggelitik di dalam perut Hinata, nafasnya semakin pendek dan tidak teratur.
"Heh! Kejutan! Kau tahu siapa ini!?" Preman itu tergelak, tangannya mengguncang tubuh pria itu kasar. "Benar! Dia adalah sandera paling berharga. Pria ini adalah pemilik gerai ini! Kalau kau bergerak sedikit saja, aku akan menendangnya lagi sampai tulangnya patah. Angkat tanganmu sekarang!"
"A… Apa yang kau…" Hinata mendesis, kedua tangannya terkepal. Kalau tidak ada warga biasa di sekitarnya, dia pasti sudah menyelesaikan semua kegaduhan ini sejak lama, dengan cara yang lebih brutal. "Lepaskan dia!"
"Kau tidak mendengarkan perkataanku? Angkat tangan! Oh, jangan-jangan kau ingin kuberi contoh terlebih dulu, ha?" Preman itu menyeringai buas. "Ini dia!" Kakinya dengan mudah mendarat pada perut sang pria, membuatnya terbatuk-batuk sambil mengeluarkan isi perutnya. "Hei, duduk yang benar!" Preman itu menendangnya kembali, kali ini pada wajahnya.
"Hentikan," bisik Hinata. Kedua pupilnya melebar. Warna cokelat cerah pada matanya memudar, menggelap. "Hentikan."
"Hah? Apa katamu? Aku tidak dengar!" Preman itu tertawa lagi. "Oh, ngomong-ngomong, ini adalah hadiah untukmu, Pak Tua, karena si bodoh itu tidak mau mengangkat tangannya!" Kaki itu mendarat lagi pada dada pria tak bersalah tersebut. Kali ini, dia terjembab ke belakang, batuknya lebih parah. Preman itu tak iba, dia terus menginjak-injakkan kakinya pada dada sang pria, sambil tertawa seperti orang gila.
"Kau…!" Hinata menggeram, meraih pisau kecil yang telah disembunyikannya di balik kaosnya, lantas berlari gesit menuju preman itu. Pada wajahnya, sama sekali tak nampak setitik pun rasa belas kasihan. Hanya ada amarah mentah di sana.
"Oi, oi, kau benar-benar tidak peduli dengan orang tua in—" Perkataan preman itu terpotong ketika sebuah pisau diarahkan pada lehernya. Dalam sekejap, Hinata telah sampai di hadapannya, kelincahan dan kegesitan mengalahkan siapapun di sana. Tak dapat melakukan apapun, preman itu menelan ludah, membuka matanya lebar-lebar, kaget.
Dan detik berikutnya, dia roboh begitu saja. Menerima tendangan kuat pada perutnya, menyisakan Hinata sebagai satu-satunya orang yang berdiri penuh kemenangan di sana.
"Jangan pikir trik murahan itu bisa mengalahkanku," ucap Hinata dingin. Kepala oranye tertoleh pada pria pemilik gerai, seketika wajahnya melembut. Dia berjongkok, memunculkan senyuman lega, dan menanyakan apakah pria itu baik-baik saja dengan nada hangat yang benar-benar kontras dengan tadi.
"Terima kasih, Shouyou," Pria itu terisak pelan. "Terima kasih banyak telah datang, Nak… Terima kasih…"
Hinata menggeleng, masih tersenyum. "Meski begitu, aku terlambat. Lihat, tubuhmu terluka begini. Ah, biar kulepas dulu tali pada tubuhmu…"
Dengan cekatan, Hinata mulai melepas tali yang mengikat kuat sang pria. Tak menyadari bahaya yang perlahan merayap dari balik punggungnya. Seorang pemuda di antara penduduk itu mencoba memperingatkannya, tetapi dia diancam, disuruh bungkam dengan senjata yang teracung padanya.
Dari tempatnya tergeletak, pemimpin preman tadi menyeringai lebar, senjata api terarah pada semua penduduk yang ada di balik punggung Hinata agar mereka tak menghancurkan rencana busuknya. Diam-diam merayap, mendekati seorang bocah laki-laki kecil, dan menangkapnya. Dia arahkan pistolnya pada kepala hitam anak itu.
"Jangan bergerak!" teriaknya tiba-tiba. Hinata melompat kaget, baru saja selesai melepaskan tali dari tubuh pria pemilik gerai, lalu berbalik. Wajahnya berubah pucat ketika dia menyaksikan apa yang terjadi. "Bergerak sedikit saja, dan aku akan langsung menembak kepala kecil ini!" Dia meletakkan ujung senjata api yang dingin pada kepala anak itu, membuatnya menangis kencang.
"Tch, dia keras kepala," desis Hinata sambil menggigit bibir bawahnya. Dia tidak mengira semuanya akan menjadi seperti ini. Jauh lebih rumit dari perkiraannya.
"Kau, kepala oranye!" Preman itu memandang Hinata penuh benci. "Aku muak dengan perilaku sok heroikmu! Kau tahu? Kau menghancurkan rencana yang sudah lama kususun, keparat!" Dia menghentakkan kakinya keras-keras. Wajah marahnya lalu hilang, digantikan oleh seringai lebar yang membuat Hinata mual. "Sebagai gantinya, akan kubuat kau menderita. Akan kubuat batinmu menderita, sambil menyaksikan bagaimana aku menghajar bocah laki-laki ini habis-habisan sampai dia tidak bisa masuk sekolah lagi selamanya!"
"Apa katamu?" Sebulir keringat menuruni wajah Hinata. Dari sudut matanya, dia menyaksikan preman itu memanggil—memaksa salah satu temannya yang bonyok untuk berdiri. Mereka menghampiri salah satu meja kaca yang ada di sana.
Kedua mata Hinata terbelalak. Meja kaca. Kaca.
Gawat sekali.
Apa yang ditakutkan Hinata benar terjadi. Anak buah preman itu mengangkat meja tersebut, lalu menempatkan diri di hadapan bocah kecil itu. Bocah yang malang tersebut segera menangis keras-keras. Ibunya mencoba mendekatinya, tetapi diancam oleh si preman.
"Hai, bocah kecil…" Preman itu tersenyum lebar. "Menikmati es krimmu? Kalau begitu, mau kuberi sesuatu yang lebih menyenangkan lagi?" Bocah itu takut-takut menggeleng. Pilihan yang salah, karena preman itu langsung memasang wajah marah. "Sombong sekali kau, bocah!"
Dia memberi kode pada anak buahnya, yang langsung mengangkat tinggi-tinggi meja kaca itu, bersiap melemparkannya pada tubuh sang anak. Semua orang di sana memejamkan mata, dengan penyesalan dan kesedihan karena tak kuasa melakukan apapun. Ibunya menangis terisak-isak sambil meneriakkan nama anaknya.
"Aku harus melakukan sesuatu," Hinata mengadu gigi-gigi dalam mulutnya. Dengan badannya yang kecil, semua bagian tubuh anak itu pasti tak dapat selamat dari serpihan kaca. Dia tak akan bisa keluar dari gerai ini tanpa mandi darah, tanpa perih di sekujur tubuh. Dan Hinata tak mungkin bisa membiarkan hal sekejam itu terjadi.
Dia adalah yakuza. Tetapi para penduduk bukanlah musuhnya. Dari dulu, dia tidak pernah menemukan bahwa menyakiti penduduk yang lemah tak berdaya sebagai sesuatu yang menyenangkan. Bukan berarti bahwa dia lebih menikmati kekejaman yakuza yang menjual organ badan dan mengelabui banyak wanita menjadi pekerja prostitusi, bukan.
Hinata muak melihat orang-orang yang menganggap diri mereka kuat bertingkah seenaknya, melukai banyak orang. Sejak dia kecil, dia sangat muak.
Dia membenci hal semacam itu. Dia membenci orang-orang seperti itu.
Hinata mengepalkan kedua tangannya. Masih ada yang bisa—sempat dilakukannya. Dia tidak akan membiarkan siapapun terluka.
"Hentikan, sialan!" Tanpa berpikir panjang, Hinata menggunakan seluruh kecepatan yang dia miliki untuk menuntun kakinya menuju anak itu, dan berhenti di hadapannya sambil merentangkan kedua tangan dengan mata terpejam. Dia siap menerima rasa sakit macam apapun, luka macam apapun. Kedatangannya kemari tidak akan ada artinya jika dia tak bisa menyelamatkan siapapun.
Karena itu, seharusnya dia sudah merasakan perih di sekujur tubuh ketika meja kaca itu menghantam tubuhnya, lalu pecah menjadi kepingan-kepingan kecil yang beberapa di antaranya tertancap pada kulitnya, menorehkan luka di berbagai tempat.
Namun, dia tidak merasakan apapun. Tak ada darah yang mengalir. Tak ada rasa sakit.
"Hina… ta."
Kedua mata karamel terbebalak lebar, pemiliknya sangat mengenali suara itu. Dia menyaksikan sosok yang sangat dihafalinya—sosok yang seharusnya adalah musuh alaminya. Namun, di sini dia berada. Di hadapan Hinata, melindungi sang oyabun dan merelakan dirinya sendiri terkena meja kaca yang dilemparkan kuat ke tubuhnya.
"Ka… Kageyama?" Hinata menatap Kageyama, kedua matanya berkaca-kaca. Tidak menyangka pria yang kelihatannya tak begitu peduli dengan yakuza seperti Hinata akan bersedia menjadikan dirinya sebagai tameng bagi sang oyabun. Dan karena suatu alasan yang belum dia temukan, tidak kuasa menyaksikan sosok pria itu yang berdarah-darah.
"Bohong… Kageyama…? Kenapa?" Hinata berbisik tidak karuan, isi kepalanya kacau. Dia mencoba mengambil nafas di sela-sela kepanikannya, mengumpulkannya menjadi sebuah teriakan, "Kenapa kau melindungiku, bodoh!"
Kageyama tidak menjawab. Nafasnya tersengal, mungkin karena sakit luar biasa yang dideritanya. Darah terus mengalir dari kepala, lengan, bagian tubuh manapun yang tertancap kaca. Pandangannya menerawang, tak bisa fokus—dan akan tumbang kapanpun saja.
Pria muda itu hanya bisa mengeluarkan erangan kecil sambil menahan rasa sakitnya, dan tanpa bisa berbuat apapun, dia meletakkan kepalanya di atas bahu kecil Hinata, mengotori kaos hitam dan kulit di sekitarnya dengan darahnya.
Namun, masa bodoh, Hinata tak peduli dengan semua itu. Jemarinya merayap menuju tangan Kageyama yang sangat dingin, bergetar pelan. Menggenggamnya erat, berharap hal itu bisa meringankan sedikit rasa sakitnya.
"Kageyama? Bertahanlah… Hei, Kageyama…" Hinata mengusap-usap punggung tangan Kageyama dengan ibu jarinya. Suaranya sendiri bergetar hebat. "Jangan… Jangan menutup matamu, bodoh!"
Kageyama mendengus lemah pada bahunya, seperti mengatakan padanya bahwa 'aku tidak mungkin bisa melakukan hal itu, Hinata-boke'. Selanjutnya, kesadarannya hilang begitu saja. Berat tubuh Kageyama sepenuhnya menimpa Hinata, dan kedua tangannya terkulai lemas. Hinata membulatkan kedua matanya, panik. Dia harus segera membereskan semuanya dan mengobati luka Kageyama sebelum dia kehilangan terlalu banyak darah.
Bagaimanapun juga, dia masih berhutang satu permintaan pada Hinata. Mana mungkin sang oyabun akan membiarkannya mati.
"Hah! Benar-benar drama yang memuakkan!" Preman itu meludah, kemudian melanjutkan tawanya. "Apa untungnya melindungi orang sok heroik sepertimu!? Dia benar-benar orang terbodoh yang pernah kulihat!"
Pandangan nanar Hinata berpindah pada sosok pemimpin preman tersebut yang masih tertawa lebar. Agaknya, sang preman menyadari hawa mengerikan yang menguar dari keberadaan Hinata, sehingga dia tiba-tiba menghentikan tawanya dengan mata melebar.
"Pergi."
Preman itu membuka mulut lebar-lebar, masih cukup keras kepala untuk membalas Hinata. Jika keadaan Kageyama tak separah ini, Hinata pasti akan menggunakan waktu manisnya untuk menyiksa dan membalaskan rasa sakit Kageyama pada preman sialan itu. Kenyataannya berbeda. Dia tak punya banyak waktu.
Seberapa inginnya dia membuat wajah menyebalkan itu memar hingga tak dapat dikenali lagi, dia harus menahan dirinya.
"Jika kau masih menyayangi hidupmu, pergi sekarang juga," ujar Hinata dingin. Suhu ruangan terasa ikut menurun karena ketegangan yang kental. "Ketika aku menatapmu lagi untuk yang kedua kalinya, aku tidak akan mengampunimu."
"Berani sekali kau pada Bos, hah!?" Anak buah preman itu melangkah maju, menghantamkan tinju pada tangannya yang lain dengan muka garang yang bonyok, nampaknya belum terlalu kapok.
Pemimpin mereka rupanya lebih pintar. Dia menendang anak buahnya itu pada betisnya dan menyumpahinya. "Bodoh! Kau ingin mati, apa!? Dia tidak main-main!" Dia lantas memberi satu tatapan penuh benci pada Hinata, mendecakkan lidahnya, lalu berlari terbiri-birit sambil berusaha membopong satu per satu teman-temannya.
Agaknya, dia mengerti bahwa Hinata tidak sedang bermain-main. Semua gertakannya tak ada tandingannya dengan hawa membunuh kuat milik Hinata. Kalau mereka berhadapan, preman itu pasti akan jatuh terduduk bahkan sebelum mengambil satu langkah ke depan, gemetar karena menyaksikan iris cokelat yang menggelap, menjanjikan sesuatu yang menyakitkan.
Setelah dua preman itu pergi sambil susah payah menyeret teman-temannya, seisi gerai es krim lengan sejenak. Hanya ada suara sirine ambulans—beruntung, ternyata ada warga yang cukup pintar dan cekatan untuk menelepon ambulans. Hinata jatuh terduduk, membawa Kageyama ke bawah bersamanya. Dia memeluk bahu tegap itu, membenamkan kepalanya di sana, memejamkan mata sambil mengata-ngatai Kageyama 'bodoh'.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dada Hinata terasa sesak akan begitu banyak dilema.
XOXO
Kageyama terbangun dengan rasa perih dan pegal pada sekujur tubuhnya. Kedua matanya perlahan terbuka, lalu mengedip, mencoba mengatur cahaya terang dari lampu yang tergantung di langit-langit kamar. Tangannya hendak bergerak ke atas, untuk mengucek mata, tetapi tidak bisa karena tertahan oleh sesuatu. Sambil perlahan memulihkan seluruh kesadaran, dia baru menyadari ada sesuatu yang berat di atas tubuhnya.
Matanya yang semula mengarah ke langit ruangan berpindah pada tubuhnya sendiri. Rasa kantuk langsung menghilang, kedua matanya hampir melompat keluar dari tempatnya. Warna merah mulai merambat menaiki wajahnya.
"Hi… Hinata!?"
Kageyama mengedip pada seonggok daging hidup dalam wujud Hinata Shouyou yang tengah terlelap tanpa dosa di atas tubuhnya, kepala oranye tersandar di dada bidang Kageyama, dan kedua tangan terkepal dengan renggang seperti anak bayi. Naik turun pada dadanya teratur. Wajahnya begitu damai, lepas dari segala macam topeng ekspresi yang selama ini dia pakai.
Teriakan Kageyama yang menggema membuat tidurnya terusik. Hinata mengerang pelan, kedua matanya bergerak-gerak sebentar di balik kelopak mata, sebelum akhirnya terbuka lebar untuk menampakkan dua iris cokelat yang belum sepenuhnya fokus, masih dipenuhi kantuk.
"Hng? Kageyama?" Dia menguap pelan. "Kau sudah bangun?"
Kageyama memilih untuk mengabaikan betapa hangatnya tubuh Hinata yang berada di atasnya. Seharusnya ini aneh. Ini semua memang aneh. Baru beberapa jam mereka berhadap-hadapan sebagai musuh, dan sekarang mereka berada pada ruangan yang sama, tempat tidur yang sama. Yang lebih aneh lagi adalah batin Kageyama yang tak bisa diajak diam, tenang, dan wajahnya yang tak bisa diubah menjadi netral.
"Kenapa kau di sini?" Kageyama berhasil bertanya tanpa harus tersandung-sandung dengan perkataannya.
Hinata tersenyum penuh arti, mungkin pura-pura tidak tahu seberapa malunya Kageyama dengan posisi tubuh mereka yang terlalu dekat. "Aku? Ah… Benar juga. Tadi malam, tubuhmu dingin sekali, jadi aku pikir tidak ada salahnya kalau aku menghangatkanmu."
Ya, Hinata pasti sengaja melakukannya, tahu bahwa Kageyama lemah dengan kontak fisik. Dasar yakuza licik.
Kageyama berusaha sebisanya untuk melayangkan tatapan mematikan di sela-sela wajahnya yang memanas. "Kau tidak melakukan sesuatu yang aneh… kan?"
Pilihan kata yang salah. Tentu saja Hinata akan menjadikan itu sebagai amunisi untuk semakin menggoda Kageyama. "Entah? Aku tidak tahu hal aneh apa yang kau maksud, tapi aku memang melakukan beberapa hal kepadamu tadi malam," Hinata membasahi bibirnya dengan wajah menggoda. "Coba saja periksa seluruh tubuhmu nanti."
"Tanpa diperiksa saja aku sudah bisa tahu kalau kau melakukan sesuatu pada tubuhku dengan perban-perban ini."
Hinata memandanginya dengan heran. "Bukan aku yang melakukannya. Itu hasil kerja Suga-san."
"Sugawara-san?" tanya Kageyama memastikan. Dia menghela nafas lega ketika Hinata menarik tubuhnya mundur, lalu duduk sebentar di ambang tempat tidur sambil mengucek kedua matanya dan menguap sekali lagi. "Kau tetaplah di sini, akan kupanggilkan Suga-san untuk memeriksamu."
Pria berambut oranye itu melangkah keluar, menutup pintu kamar dengan pelan. Kageyama mendapat waktu untuk mengamati seluruh keadaan tubuhnya. Semua kejadian semalam terjadi begitu saja, terlalu cepat, hingga ketika dia mencoba mengingatnya, semua terlihat buram. Dia memandangi tangannya yang dililit perban, kemudian meraba perban-perban lain pada tubuhnya yang tak tertutup pakaian—kepala, leher, bahu. Rasa sakitnya memang tak separah tadi malam. Kageyama sudah merasa lebih baik.
Perhatiannya teralih kepada suara pintu yang kembali terbuka. Sugawara tersenyum lebar, memasuki ruangan sambil menggumamkan kata permisi. Sebuah tas hitam ditentengnya, lalu diletakkannya pada meja kecil di sebelah ranjang tempat Kageyama berbaring.
"Selamat pagi, Kageyama!" sapa Sugawara ramah. "Bagaimana perasaanmu?"
Kageyama membalas sapaan tersebut dengan anggukan lemah. "Jauh lebih baik."
"Senang mendengar itu. Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku dan Hinata tadi malam," papar Sugawara sambil mengobok-obok isi tas, mencari sesuatu. "Setelah semuanya selesai, untung saja ada yang cekatan memanggil ambulans," Sugawara mendekati Kageyama dan mulai memeriksa lukanya. "Tentu saja, mulanya kau akan dilarikan ke rumah sakit, tapi Hinata tidak mau. Dia sampai-sampai mengancam petugas dari ambulans dan menyumpal mereka dengan uang untuk mengantarkanmu ke rumahnya saja."
Kageyama bergumam pelan, memahami jalan pikiran Hinata. Jika dirinya berada di rumah sakit, maka berita jatuhnya Kageyama akan tersebar dan rekan-rekan polisinya akan tahu. Itu bisa menjadi cukup merepotkan bagi Karasuno.
"Jadi… ini rumah Hinata?" Kageyama menyimpulkan dari kalimat Sugawara, mendapat anggukan, tanda bahwa dirinya benar.
"Dia sampai menangis melihat badanmu yang berdarah-darah. Hinata benar-benar khawatir," tutur Sugawara. Kageyama melipat keningnya, tak dapat mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
"Hinata… menangis?" Untuk seorang polisi sepertinya?
Sugawara tertawa renyah. "Yah… dia paling benci melihat teman-teman dan orang tak bersalah di sekitarnya terluka. Dia sudah…" Sugawara menunduk, ekspresinya simpatik. "Dia pernah berkali-kali melihat sesuatu yang kejam di masa lalunya."
"Dia adalah yakuza yang aneh," komentar Kageyama, pandangannya menerawang.
"Kau benar," Sugawara menghembuskan nafas, lalu tersenyum kecil. "Hinata… Memang seperti itulah orangnya. Ah, tapi, tolong jangan terlalu keras dengannya. Dia… tidak sejahat dan sekuat kelihatannya."
Kageyama memandang Sugawara dengan penasaran, tetapi memutuskan untuk tidak mendesaknya mengenai hal itu lagi.
Mereka mengobrol sedikit banyak tentang kehidupan Sugawara selagi pria itu memeriksa luka Kageyama sekali lagi. Rupanya, pria bersurai kelabu itu cukup talkatif. Dia dapat dengan mudah mempercayai Kageyama dan tak keberatan membeberkan jati dirinya sendiri. Ketika ditanya, dia menjawab bahwa dirinya memiliki mata tajam yang dapat mengetahui mana orang baik dan jahat. Dia bilang, Kageyama termasuk orang baik.
Sugawara merangkap sebagai yakuza sekaligus dokter—dan sebagai kasir di restoran milik Karasuno, kalau itu termasuk. Karena keahliannya dalam bidang medis ini, dia menjadi anggota paling diandalkan di Karasuno. Siapapun membutuhkannya, karena bagaimanapun juga, dokter merupakan peran penting dalam sebuah kelompok yang riskan dengan pertarungan, seperti yakuza. Pria itu membuka sebuah klinik kecil dan mengatakan bahwa Kageyama bisa datang ke sana kapan saja.
"Baiklah. Kau memang sudah mendingan," Sugawara mengeluarkan beberapa plastik berisi obat dari tasnya. "Jangan lupa mengganti perbannya. Lalu, minum obat ini jika kau masih merasa sakit. Oh, jika lukanya sudah cukup kering, kau bisa membiarkan perbannya dibuka."
Kageyama mengangguk mengerti. Sugawara memberinya senyuman hangat sekali lagi sebelum pamit pulang. Pintu kamar tidak segera tertutup, ada Hinata yang menghadang Sugawara di depan pintu. Dia nampak sedang memaksa Sugawara untuk menerima sebuah bingkisan—Kageyama tidak sengaja mendengar bahwa ternyata itu adalah kue kering.
Usai sang dokter menghilang dari pandangannya, Hinata berjalan masuk ke dalam ruangan—yang bisa jadi adalah kamarnya sendiri. Dia mengenakan celemek putih—syukurlah, bukan yang bermotif bunga-bunga, love-love, dan semacamnya atau tawa Kageyama akan meledak—yang mengisyaratkan bahwa dia kemungkinan berasal dari dapur, memasak.
Dengan senyum secerah matahari, dia berjalan ke sisi ranjang Kageyama. "Bagaimana kata Suga-san? Kau sudah baik-baik saja?"
Kageyama mengiyakan. "Begitulah…"
"Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku akan membawakanmu sarapan pagi." Sebelum Kageyama sempat mengucapkan apapun—mungkin terima kasih, mungkin gerutu agar Hinata tak perlu repot-repot—Hinata memutar tubuh dengan cepat dan berjalan sambil melompat-lompat kecil, seperti tupai yang terlihat segar setelah hibernasinya.
Sang polisi benar-benar tidak mengerti dari mana asal kebaikan Hinata yang tiba-tiba datang. Perkataan Sugawara kembali mengapung pada kepalanya. Apakah benar Hinata menangis untuknya? Kalau begitu, jangan-jangan kebaikannya yang mengagetkan ini datang setelah dia khawatir melihat Kageyama terluka?
"Mana mungkin," dengus Kageyama, wajahnya dibuang ke samping. "Yakuza seperti dia… tidak akan berpikir sesederhana dan senaif itu."
Kageyama telah belajar betul bahwa dia tak seharusnya menaruh harapan tinggi pada siapapun di dunia kriminal dan politik. Mereka semua tidak lebih dari pada bedebah yang saling mengadu kelicikan.
Hinata datang satu menit kemudian, dengan nampan yang membawa sepiring sarapan di atasnya. Ketika Kageyama mengamati wajahnya, senyuman itu ternyata masih belum terhapus. Hanya perasaannya saja, atau Hinata hari ini terlalu… hyper?
"Jangan melihatku seperti itu. Kepalaku masih ada satu, kan?" Hinata tertawa melihat wajah Kageyama yang seperti orang sembelit. Dia meletakkan nampan itu pada meja kayu di tengah ruangannya. "Kau bisa berjalan, kan? Aku lebih suka kalau kau tidak makan di atas tempat tidurku, jadi tidak apa-apa kalau kau duduk di sini, kan?"
Ah. Jadi benar, ini kamar Hinata. Segala macam perabotan di ruangan itu sangat bergaya, penuh warna. Dindingnya berwarna biru tua—warna gelap yang cukup cocok untuk membantu mempercepat tidur. Tidak ada yang menghiasi dinding itu kecuali jejeran poster di dekat tempat tidurnya. Salah satu poster itu menggambarkan sosok pemain voli legendaris, Little Giant, dan Kageyama dibuat penasaran apakah Hinata menyukai voli atau hanya mengoleksi poster itu secara iseng.
"Hei, kau tidak ada masalah dengan kari, kan?" Hinata masih tersenyum, kali ini sambil menunjuk sepiring kari hangat di atas meja.
"Tidak. Itu… kesukaanku," Kageyama dengan setengah tidak rela mengaku, sesaat kemudian menendang dirinya di dalam batin karena secara tidak sengaja membeberkan hal bersifat privat kepada Hinata.
"Oh, syukurlah!" Hinata tertawa riang. "Nah, nah, ayo duduk! Makanlah yang banyak!"
Kageyama menurut, menghempaskan tubuhnya di atas sofa hijau di sebelah Hinata. Sebenarnya, sebisa mungkin dia ingin duduk jauh dari Hinata, karena seratus persen yakuza kecil itu akan menggoda dan menjahilinya lagi, tapi apa boleh buat.
"Kau tidak memasukkan racun pada makananku, kan?" tanya Kageyama, memastikan.
"Aku sudah melakukannya dari dulu kalau aku memang berniat begitu!" Hinata tertawa lebar.
Kageyama mengangguk, mencoba mempercayai perkataan Hinata. Dia mengucapkan selamat makan pada dirinya sendiri, lalu beringsut maju, meraih sesendok kari itu dan mencicipinya. Lidahnya dibuat terkesima oleh rasa lezat yang meledak di dalam mulutnya, menyihirnya dan membuat wajahnya membeku seketika.
"Bagaimana?" Hinata menatap wajahnya dengan ingin tahu. Matanya berkilat semangat. "Bagaimana rasanya, Kageyama?"
Kageyama mengunyah pelan, memikirkan kata-kata di dalam kepalanya sejenak, lalu memutuskan untuk berkata jujur. "…Tidak buruk."
"Hehe! Tentu saja!" Hinata membusungkan dadanya dengan bangga. "Aku kan waifu idaman semua orang!"
Kageyama memberinya tatapan aneh. Waifu? Serius? "Hanya perasaanku saja, atau kau lebih… berisik hari ini?" tanya Kageyama, ingin mengkonfirmasi kejanggalan pada Hinata. Pria muda itu melebarkan senyumnya, kedua kaki diayun-ayunkan dengan santai.
"Bagaimana tidak? Aku benar-benar… senaaaang sekali hari ini!" Hinata menggambarkan 'senaaaang'nya itu dengan kedua tangan yang terbuka lebar. "Begini. Jadi, kau kan sudah sadar…"
Kageyama berhenti memakan sebentar, kedua mata membulat. Jangan-jangan Hinata memang tidak se-kurang ajar yang dia kira… jangan-jangan, dia memang mengkhawatirkan kondisinya—
"Makanya aku bisa menagih 'satu permintaan' darimu! Hore!" Hinata melompat di atas sofa. Kageyama berkedip pelan, terperangah. Segera saja menyesal telah menaruh harapan pada oyabun sialan di sampingnya itu.
"Oh… Oke." Kageyama melanjutkan makannya perlahan, dengan wajah sedih dan kecewa seperti seorang cowok yang habis diputus pacarnya, aura hitam mengelilingi keberadaannya. "…Sudah kuduga," gumamnya pelan sekali, berhati-hati agar tidak terdengar Hinata.
"Jadiii, Kageyama…" Senyum tanpa dosa berubah menjadi senyuman sadis. Seketika, bulu kuduk Kageyama berdiri. Dia merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan pada nada bicara Hinata. Seharusnya, dia tidak pernah berkata akan memberinya satu permintaan. Si Hinata itu pasti akan memanfaatkannya dan membuatnya malu habis-habisan.
Melihat kebenciannya pada polisi yang dianggapnya lemah, dia bisa saja memerintahkan Kageyama dan rekan-rekannya agar mereka tak pernah muncul di dalam kasus kerusuhan manapun dan mendekam manis di dalam kantor, persis seperti yang diinginkan Hinata. Kageyama menendang dirinya sekali lagi di dalam kepalanya. Bodoh sekali dirinya ini.
Benar kata pepatah, penyesalan datang di akhir. Kageyama benar-benar berharap Hinata akan sedikit berbelas kasihan padanya.
"Aku ingin kau menjadi budakku!"
Tentu saja tidak.
Kageyama tersedak ludahnya sendiri. "Ha-Hah!? Apa katamu!?"
"Makanya," Hinata tersenyum manis, sesekali tertawa-tawa. Seperti anak kecil yang tidak bisa menahan rasa senangnya ketika akan diberi hadiah mainan. "Aku ingin kau menjadi budakku."
"Itu tidak sesuai perjanjian," geram Kageyama. "Aku bilang kalau permintaan itu tidak akan membuatku berkhianat pada pekerjaanku, kan?"
"Siapa bilang menjadi budakku membuatmu mengkhianati kepolisian?" Hinata meletakkan jari telunjuk pada bibir Kageyama yang hendak terbuka untuk memuntahkan kalimat protes. "Kita hanya akan saling memanfaatkan, Kageyama. Simbiosis mutualisme."
Kageyama menggeleng, beringsut menjauh dari tangan Hinata. "Tidak bisa. Aku tahu kau bisa memanfaatkanku dengan otak cerdasmu itu. Selain itu, dengan saling memanfaatkan, kita sama saja mengkhianati organisasi masing-masing."
Hinata menatap Kageyama tajam. Bibirnya mengerucut tidak suka. "Tapi, Kageyama-kun…" Bahu Kageyama berjengit pelan. Menyadari bahwa saat Hinata menggunakan kata '-kun' di belakang namanya, itu berarti Hinata sedang bermain-main atau menggodanya.
Dan benar saja, Hinata tengah merangkak perlahan menuju pangkuannya dengan pandangan berkaca-kaca. Entah sudah berapa banyak pria yang termakan seduksi Hinata seperti ini. "Kalau kau menjadi budakku… aku bersedia memberimu tubuhku, tahu." Hinata menelengkan kepalanya, sengaja membiarkan Kageyama melihat leher mulus yang berujung pada kulit halus di balik kaos longgarnya.
"Aku tidak butuh seperti itu," sergah Kageyama, mencoba mendorong Hinata menjauh, tapi sejauh ini gagal.
"Eh? Kau yakin tidak menginginkan tubuhku?" Hinata mendudukkan dirinya pada pangkuan Kageyama, tanpa bisa ditolak oleh sang polisi. Senyum kemenangan menampakkan diri pada wajahnya. Jemarinya menari-nari di atas kaos—mungkin pemberian Sugawara atau Hinata—berlengan pendek yang dikenakannya, dari perutnya, naik menuju dada. Lantas, kedua lengannya memeluk leher Kageyama. Akibatnya, kedua wajah mereka saling berdekatan sekarang.
Hinata tak sedikit pun gentar menyaksikan wajah garang yang dipakai Kageyama. Dia tahu seduksi tidak akan seratus persen mempan pada Kageyama. Namun, masih ada cara lain.
"Yang kumaksud dengan 'memberikan tubuhku' itu… termasuk mulut, kau tahu," Hinata menyusuri bibir bawahnya menggunakan jari kelingking. "Kau bisa menggunakan mulutku untuk berbagai hal…" Hinata membenamkan jemarinya pada surai hitam yang halus, mendorong kepala pria muda itu ke depan sehingga dia dapat mendekatkan bibirnya sendiri pada telinga Kageyama. "Mungkin contohnya, untuk memberitahu sesuatu yang ingin kau ketahui?" bisiknya pelan.
Sepanjang Hinata menggodanya, Kageyama sama sekali tidak mengubah ekspresi datarnya, sehingga wajah kaget yang perlahan ditampakkannya sangat kentara. Hinata tertawa pelan, jemarinya mengusap-usap pipi Kageyama.
"Itu benar, Kageyama. Kau bisa tahu semuanya. Apapun. Kalaupun ada sesuatu yang tak kuketahui, aku bahkan mau menanyakan pertanyaanmu itu pada seorang informan dan membayarnya menggunakan uangku."
Kageyama nampak menelan ludah dengan raut wajah yang sulit diartikan. "…Kau serius?"
"Seratus persen serius. Ada sesuatu yang ingin kau ketahui, bukan?" Hinata menatapnya dengan pandangan menenangkan. "Kalau tidak, kau tidak akan mungkin bersikeras ikut denganku mengatasi kerusuhan di gerai es krim tadi malam. Sekali lihat saja aku tahu. Kau sedang mencari sesuatu dariku—informasi."
Kageyama memaksakan sebuah tawa. Hinata benar-benar hebat. Awalnya, dia sendiri yang berniat untuk memanfaatkan Hinata. Rupanya selama ini, justru dirinya yang dimanfaatkan. "Sudah kuduga kau tahu."
"Tentu saja," Hinata menyeringai puas. "Aturan dalam simbiosis ini mudah. Ketika kau menjadi budakku, kau harus melakukan semua perintahku. Jika kau berhasil menjalankannya dengan baik, aku akan memberimu hadiah berupa informasi apapun yang kau inginkan. Tetapi, karena aku adalah tuanmu di sini, aku berhak menilai apakah informasi yang kau minta sepadan dengan usahamu. Mengerti? Oh, dan kau juga bisa bilang saja kepadaku kalau kau menginginkan tubuhku. Sesuai janji, aku akan memberikannya padamu. Aku tidak keberatan kok melakukan sedikit ini itu denganmu—"
"Tidak butuh," potong Kageyama ketus.
Hinata terkikik geli sebentar, lalu kembali memandang Kageyama dengan dua bola cokelat yang menghanyutkan. "Jadi… jawabanmu, Kageyama? Bukannya kau punya banyak pilihan, sih. Kalau saja kau menolak, aku bisa saja mengancammu dengan berbagai cara agar kau setuju."
Sang polisi mengambil nafas dalam, memejamkan kepala. Saat itu juga, Kageyama menyadari bahwa dia telah berada di dalam genggaman tangan Hinata, bak seorang boneka atau robot yang siap dikendalikan sesukanya. Walau begitu, berapa kalipun alarm peringatan berbunyi nyaring dalam kepalanya, dia tidak bisa mengelak.
Dia sudah benar-benar berada di dalam kendali Hinata. Yakuza itu tahu apa yang dibutuhkannya, apa yang diinginkannya. Bayangan akan karirnya yang terancam, atau wajah teman-temannya yang memandangnya sengit karena telah berkhianat, dia tak mempedulikannya lagi.
Kageyama telah jatuh terseret dalam permainan Hinata. Dan dia sendiri dengan senang hati akan mengikuti permainan tersebut.
"Aku bersedia," jawabnya tenang.
Sesaat, ketika Kageyama melihat kilatan senang pada kedua mata Hinata, dia tahu bahwa hidupnya akan benar-benar berubah mulai sekarang.
"Pilihan yang bagus, Kageyama," Hinata mengelus-elus kepala Kageyama dengan senyuman penuh arti, seolah dia ingin membenamkan fakta di dalam kepala Kageyama bahwa dia benar-benar telah menjadi budaknya sekarang. "Sebagai hadiah, aku akan menjawab satu pertanyaanmu kali ini. Ayo, tanyakan apapun padaku."
Anehnya, hanya ada satu pertanyaan yang muncul di kepala Kageyama. Dan pertanyaan tersebut bukanlah sebuah pertanyaan yang menyimpan jawaban krusial. Itu hanyalah pertanyaan sepele yang sekilas terlintas di dalam kepalanya, tetapi berhasil membuat benaknya merasa ganjil.
Maka, dia menyuarakannya.
"Semalam… Kenapa kau menangis untukku?"
Senyum pada wajah Hinata terhapus. Wajahnya terlihat benar-benar terkejut dengan kedua mata terbelalak lebar, sama sekali tidak menyangka Kageyama akan menanyakan sesuatu seperti itu. Dia tidak segera menjawab, mulutnya tertutup dalam waktu yang cukup lama. "…Apakah Suga-san mengatakan sesuatu?"
"Aku seharusnya menerima jawaban, bukan pertanyaan lain." Kageyama menaikkan sebelah alis. "Dan kau memang menangis, kan?"
Untuk sejenak, Hinata kembali bungkam, suaranya surut, pergi entah ke mana. Hanya ada ekspresi yang sulit diartikan pada wajahnya. Lalu, sedikit demi sedikit, warna merah meledak seperti kembang api pada wajahnya.
"Memangnya kenapa kalau aku menangis!?" Hinata memalingkan wajahnya malu-malu. Sesekali melirik Kageyama dari sudut matanya. Jemarinya bermain-main dengan anak rambut pada area leher Kageyama. Matanya menatap ke segala arah kecuali Kageyama. "S-Semua orang juga pernah menangis, kan? Lagipula, kau tidak tahu seberapa parah kondisimu waktu itu…"
Kageyama ingin mengucek matanya. Hinata yang seperti itu bertingkah malu-malu? Benarkah Kageyama tidak salah melihat?
"Tetap saja, rasanya aneh mengetahui dirimu mau menangis untukku. Ditambah lagi, alasanmu menangis adalah karena rasa khawatir terhadap seorang polisi yang harusnya menjadi musuh bebuyutanmu."
"Sapa bilang aku mencemaskanmu?" Hinata menggigit bibir bawahnya.
"Lalu kenapa?" desak Kageyama tidak sabar. Warna merah sudah sepenuhnya hilang pada wajah Hinata, digantikan oleh ekspresi yang lebih serius.
"Kau ingin tahu kenapa?" Hinata menghembuskan nafas pendek. Pikirannya menerawang jauh pada sesuatu yang terjadi di masa lalunya. "Aku tidak pantas untuk dilindungi seperti itu. Kau seharusnya lebih menyayangi tubuhmu sendiri daripada harus mengorbankannya untuk orang sepertiku."
Jadi, dia seperti merasa bersalah? Jujur saja, Kageyama masih belum dapat memahami makna kalimat Hinata.
"Kenapa kau berkata demikian—kalau kau tidak pantas dilindungi?"
Ada sebuah misteri di antara semua kekacauan ini, bagaikan harta karun tersembunyi, yang menggoda siapapun untuk menggalinya, tak peduli seberapa dalam orang tersebut harus berjuang menggali untuk mendapatkannya.
Dan Kageyama salah satu dari banyak orang yang tergoda untuk mendapatkan harta karun itu—dia akan terus bertanya dan bertanya pada Hinata sampai keingintahuannya terpuaskan.
Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu mengenai Hinata dan yakuza yang harus diketahuinya.
"Psst," Hinata menempelkan jari telunjuk pada bibir Kageyama. Sebelah matanya mengedip jahil. "Janjiku adalah satu pertanyaan. Aku sudah menjawabnya. Simpan pertanyaan lainnya untuk esok hari. Oke?"
Kageyama rasa, dia sudah lebih dari siap untuk menggali harta karun tersebut. Tak peduli apapun dampak yang diakibatkan dari tanah yang digalinya.
TO BE CONTINUED
Nonono saya tahu chap ini gaje, saya ngetiknya agak ngebut, keburu hari Senin. Keburu masuk sekolah lol.
Kageyama kayaknya ngebet banget kepingin informasi tentang yakuza, ya? Bahkan udah hampir ga peduli lagi sama apa yang bakal terjadi sama karirnya. Itu karena… ada something di masa lalunya. Suatu saat akan dijelaskan.
Entahlah, seluruh fanfic ini berasa lepas kendali. Saya hanya mengetik sesuai inspirasi yang tiba-tiba muncul. Oh iya, karena libur saya hanya Sabtu dan Minggu, dua hari itu adalah kemungkinan saya update. Kalau misal nggak update, berarti lagi sibuk-sibuknya.
Terima kasih untuk semuanya saja yang sudah mau membaca, review, fav, dan follow fanfic ini!
Dan balasan untuk reader OYABUN, chapter dua telah hadir. Iya sih, sekilas emang kayak Kisaragi Momo lol. Saya dapet imej female Hinata yang gitu dari doujin KageHina yang judulnya Hanabi. Sumvah di sana Hinata imut banget. Semoga chapter ini memuaskan dirimu, kalau tidak saya minta maaf. Emang agak ngebut sih waktu nggarap ini, soalnya keburu Senin dateng. Oh iya, terima kasih sudah review. Review-mu membuatku berbunga-bunga. /tjiah
Mungkin segini dulu curcol dari saya. Bocoran chapter depan… kalau saya nggak berubah pikiran, next chap bakalan tentang Kageyama yang sedang belajar tentang yakuza (tjiah) dan Hinata muter-muter kota sambil memeras tenaga budak barunya (pukpuk Kage, gapapa kan, hadiahnya setimpal kok, ntar malem Hinata nunggu di kamar… buat njawab pertanyaanmu, jangan mikir yang aneh-aneh Kag! :v)
Well, sampai jumpa di chapter depan!
