Disclaimer: Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Albus Potter/Josie Nott (OC), Lily Luna Potter, James Sirius Potter
Warning: Setting: Canon dengan beberapa fakta kanon yang diubah dan dimodifikasi sesuai keinginan penulis. Including some OCs. POV berganti-gantian setiap bab.

Enjoy!


FATE: Beyond the Boundary
© qunnyv19

.

Chapter 1: Unexpected Guests
Josie


Aku rindu dengan pisau belatiku.

Mungkin memang benar bahwa dengan pisau itu aku merasa lebih aman dan tak terancam. Padahal aku punya tongkat sihir, tapi yang paling dekat denganku—terutama secara emosional, padahal dia adalah benda mati—adalah pisau itu. Pisau dengan gagang berukir yang unik dan fleksibel, bisa menyesuaikan gagangnya dengan pegangan siapa pun.

Tapi sekarang pisau itu sudah tidak ada. Pisau itu telah musnah karena Sumpah Tak Terlanggar yang kulakukan dengan Albus Potter berbulan-bulan yang lalu. Dan yang menghancurkannya adalah Albus Potter sendiri.

Sumpah Tak Terlanggar. Yang kulakukan bersama Albus mempunyai tiga isi, yaitu … pertama, aku akan menjauh dari Rose Weasley, kedua, aku akan menjaga semua rahasia aku dan dia serta siapa pun yang mengetahuinya dari Rose Weasley (dalam hal ini Albus mengacu pada pembunuhan yang kulakukan pada Hugo, dan orang lain yang mengetahui hal ini adalah Scorpius Malfoy) dan yang ketiga … aku akan menghentikan semua kegiatanku yang berhubungan dengan pisau, benda tajam, yang berpotensi untuk membunuh, untuk selama-lamanya.

Aku menatap cermin besar di hadapanku. Rambut hitam lurus yang tergerai sampai pinggang. Gaun hitam elegan yang dipilihkan oleh Mum untuk pesta hari ini, dan walaupun aku tak mau, Mum menyuruhku untuk memoles make up di wajahku. Aku menyentuh leherku. Dulu ada kalung yang tergantung di sana, namun sekarang sudah tak ada lagi karena … kesalahan yang kubuat di masa lalu. Lagi pula, kalung itu sebenarnya bukan milikku.

Berusaha untuk tersenyum tak membuahkan hasil. Wajahku malah menjadi aneh. Tapi Mum sudah berpesan bahwa aku harus tersenyum dan membanggakan nama Nott di pesta yang diadakan untuk kolega-koleganya nanti. Ya, pesta yang diadakan satu minggu sebelum Natal ini diselenggarakan oleh kedua orangtuaku dan mengundang beberapa teman dan rekan terdekatnya. Aku, sebagai anak satu-satunya, harus bisa menjaga nama Nott dengan baik.

Seandainya saja aku adalah Albus Potter.

Albus Potter. Pemuda dengan wajah menawan dan berhasil me'nemu'kan aku sebelum aku kembali kehilangan kontrol atas semua tindakanku yang berbahaya. Dengan sifat yang mampu mengendalikan apa pun di bawah tangannya, serta sikap tanpa cela yang selalu ditunjukannya, dia adalah salah satu murid teladan di Hogwarts.

Ia tak akan pernah kesulitan menghadapi pesta-pesta seperti ini. Apalagi dengan senyum dan sikap santunnya ….

Dan kenapa juga aku memikirkannya di saat-saat seperti ini? Sebentar lagi pesta akan dimulai. Harusnya aku lebih fokus dengan penampilanku, yang omong-omong, tidak terlalu dingin dan mengerikan seperti biasa karena make up yang ada.

Ketika aku menyisir rambutku, seseorang mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam. Ia memakai gaun panjang sampai mata kaki berwarna emerald. Warna itu mengingatkanku akan mata Albus Potter. Warna mata si pemakai gaun tersebut—Mum—juga emerald. Gaun tersebut dibuat dengan bahan tekstil terbaik yang bisa ditemukan di Dunia Sihir, sangat cocok untuk wanita seperti Mum.

"Josie." Ia melihatku berada di depan meja rias dan mendekat dengan langkah perlahan yang anggun. "Duduk yang tegak."

Aku pun duduk lebih tegak dan menaruh sisirku di atas meja rias. Mum berdiri di belakangku, kedua tangan menahan bahuku, dan kami berdua sama-sama melihat ke arah cermin.

"Sebentar lagi kau berulang tahun," katanya, melihat wajahku melalui pantulan kaca. "Ingin mengadakan pesta atau tidak?"

"Tidak," jawabku dengan cepat. Aku bukan orang yang suka dengan pesta. Apalagi pesta yang diadakan untuk diriku sendiri.

Ia mengangguk. Tak ada perubahan ekspresi pada wajahnya. "Kau harus keluar lima menit lagi. Beberapa orang sudah berdatangan. Biasakan untuk tersenyum."

Aku mencoba tersenyum di depan cermin. Hasilnya benar-benar aneh. Mum tidak berkomentar dan menarik tangannya dari bahuku lalu pergi begitu saja. Suara hak tingginya bergema di kamarku.

Kalau aku mengadakan pesta ulang tahun … apakah Albus Potter bersedia datang? Bagaimana tanggapan orangtuaku kalau aku ingin mengundang seorang Potter?

Aku mulai berharap terlalu jauh lagi. Tak ada yang bisa diharapkan dari libur Natal ini kecuali pesta-pesta dan kunjungan antar keluarga.

Tangan kiri kutumpu di atas meja. Tak ada bekas sayatan yang sempat terlihat jelas di kulit putih pucatku. Tentu saja, bekas itu bisa dihilangkan dengan mudah menggunakan sihir. Tapi tak ada yang bisa menandingi sensasi ketika sedang menyayat-nyayat tanganmu sendiri ….

Aku menatap cermin lagi. Aku punya sumpah yang tak boleh kulanggar.

Ketika aku bosan, biasanya aku mengambil pisau dan menyayat tanganku sampai aku puas.

Aku menarik napas panjang. Itu bukan hobi yang patut dipelihara. Tidak tahu sekarang sudah mencapai lima menit atau belum, aku berdiri dan keluar untuk mengikuti pesta yang akan berlangsung. Aku memakai hak tinggi, dan aku tidak terbiasa untuk menggunakan sepatu seperti ini, sehingga aku berjalan dengan perlahan.

Saat berada di luar kamar, aku melewati lorong-lorong yang ada di rumahku. Memang rumahku cukup luas jika dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain, namun masih kalah dengan Malfoy Manor yang dibangun dengan megah dan mewah.

Ruang tengah sudah didekorasi seindah mungkin. Kebanyakan warna-warna yang dipakai adalah perak dan hijau, khas Slytherin. Memang sudah ada beberapa orang yang berada di sana. Ketika jam berbentuk ular yang ada di dinding berdesis tujuh kali, itu sudah menandakan pukul tujuh malam dan pesta dimulai.

Dentingan antara gelas-gelas koktail terdengar pelan dan riuh-rendah percakapan juga terdapat di sini. Aku melihat kebanyakan memang kolega kedua orangtuaku. Tak banyak anak seusiaku yang berada di sini. Kemudian aku melihat ke arah kanan. Ada sesuatu yang tidak wajar.

Ada Scorpius Malfoy.

Bukannya dia bilang bahwa dia akan tetap bersama Weasley sampai tiga hari yang akan datang di Hogwarts? Apa yang dia lakukan di sini? Padahal baru beberapa jam aku sampai di rumah. Apa dia berubah pikiran atau?

Aku mengambil salah satu gelas yang ditawarkan oleh Peri Rumahku dan melangkah perlahan menuju Scorpius Malfoy. Ia memakai pakaian formal berwarna putih gading. Aku menepuk pundaknya sekali dan dia langsung menoleh. Dia melihatku dari atas sampai bawah.

"… Aku memang sudah sering melihatmu memakai make up dan dress, tapi sepertinya kali ini yang paling cocok."

Aku mengangkat bahu. Tak tahu apakah itu pujian atau sekadar basa-basi, karena Scorpius Malfoy terkenal akan mulutnya yang pandai berbicara. "Apa yang kaulakukan di sini? Tak jadi tinggal di Hogwarts lebih lama?"

Ia menggaruk-garuk lehernya lalu menggoyangkan gelas yang ada di tangannya. "Mum menarikku ke sini untuk pesta ini. Tak bisa membantah." Kemudian ia mengangkat bahu. Wajahnya kecewa sekali. "Jadinya aku tidak jadi berada di Hogwarts lebih lama."

Aku menyesap sedikit minuman yang berada di gelas. Bukan alkohol, tentu saja, karena aku belum cukup umur. Scorpius sendiri sudah sering meminum Fire Whiskey, tapi aku tak tertarik untuk mencobanya. Minuman ini mempunyai rasa segar di ketika berada di lidah dan meledak-ledak ketika berada di perut, bertujuan agar yang meminum ini bisa merasakan semangat yang sama dengan minuman itu sendiri.

Kami tak berbicara lagi karena sudah ada beberapa orang yang menghampiri Scorpius dan diam-diam aku menyelinap pergi, tak tertarik untuk ikut pembicaraan orang-orang tersebut. Di sekitarku sudah banyak yang hadir—beberapa yang kukenal adalah Sam Zabini, anak sulung dari Blaise Zabini dan Pansy Parkinson, yang datang bersama adiknya, Sean Zabini. Mereka berdua sama-sama Slytherin, Sam kelas enam dan Sean kelas empat. Aku tidak terlalu mengenal Sean walaupun gosipnya dia cukup populer, tapi untuk Sam … sebaiknya aku tidak membicarakan dia.

Lalu ada lagi Vincent Goyle, keturunan satu-satunya dari keluarga Darah Murni Gregory Goyle. Ada beberapa orang lagi … tapi yang paling bersinar adalah Crystal Hillian Loyne. Dia merupakan satu-satunya anak dari teman orangtuaku yang bersekolah di Beauxbatons. Dengan pesona yang ia punya, dengan mudah ia menjadi pusat perhatian pesta ini dibandingkan aku, anak dari Tuan Rumah pesta ini sendiri.

Aku berkeliling lagi. Beberapa orang menghampiriku, tapi dengan cepat aku mengatakan berbagai alasan untuk pergi dari sana. Aku benar-benar bukan tipikal orang yang bisa pergi ke pesta dan bersenang-senang. Justru aku merasa tertekan kalau ada kegiatan sosialisasi seperti ini.

Tak ada yang lebih membosankan daripada ini ketika aku melihat sesuatu yang lewat di sampingku.

Ada jendela tinggi sempit yang terdapat di ruang tengah, jaraknya satu jendela lima meter, dekorasinya minimalis mengikuti interior ruangan. Tirainya terbuka, menampilkan salju yang yang turun dengan lebat di luar sana. Di luar memang dingin, namun di dalam ruangan ini sangat hangat karena terdapat mantra-mantra yang sudah digunakan oleh Peri Rumah kami.

Dari jendela tersebutlah aku melihat sesuatu tadi. Tak benar-benar melihat, namun seperti ada yang melesat begitu saja di sebelahku. Aku melihat jendela tersebut dengan saksama dan mendekatinya perlahan. Tak ada siapa-siapa, hanya tumpukan salju dan beberapa penyihir yang masih terus berdatangan menuju rumah kami.

Apa hanya firasatku saja? Tapi tadi terasa nyata ….

Aku mengangkat bahu dan menyesap minuman itu lagi. Tak ada rasa semangat yang tumbuh hanya karena aku meminum minuman tersebut. Minuman sihir bahkan tak berpengaruh untukku. Aku beranjak pergi dari sana dan berkeliling lagi. Aku tak akan heran kalau setelah pesta ini selesai, aku akan diceramahi panjang lebar karena aku tak mampu bersosialisasi seperti Scorpius Malfoy yang sudah berbicara mungkin dengan seluruh orang yang ada di ruangan.

Tadinya aku berencana untuk kembali ke kamar, namun seseorang sudah memanggilku dengan suara pelan tapi tegas yang membuatku langsung berhenti melangkah. Ini suara ayahku.

"Dad?"

"Josie. Ikut aku sebentar."

Beberapa pasang mata mengikuti langkah kami. Dengan patuh aku mengikuti Dad sampai sisi terpojok ruangan. Ayahku, Theodore Nott, merupakan sosok laki-laki yang kurus dan kulitnya kini kecokelatan, akibat sering bekerja di lapangan yang merupakan tugas Kementerian Sihir. Ada beberapa bekas luka di tangannya karena Perang Besar Hogwarts beberapa tahun yang lalu, tapi aku tidak begitu tahu mengenai detilnya.

Aku sangat jarang berbicara dengan ayahku secara pribadi. Jika berbicara di acara-acara resmi seperti ini, kami bisa berakting seolah-olah kami sudah sering berbincang-bincang, padahal aslinya benar-benar jarang. Kalau dia mengajakku berbicara berarti ….

"Kau mengundang Potter?"

Aku tidak menjawab apa-apa karena aku benar-benar bingung. Aku tidak tahu Potter siapa yang dimaksud, sementara yang benar-benar kukenal hanya satu, dan tidak banyak di Dunia Sihir yang menggunakan nama Potter karena nama itu sangat sangat terkenal, juga aku tidak mengundang siapa pun ke pesta ini karena aku tidak benar-benar tertarik.

"Aku tidak mengundang siapa pun."

"Berikan penjelasan kepadaku kenapa ada dua Potter yang berada di luar dan salah satunya mengatakan ingin bertemu denganmu."

"Aku tidak—" Aku menghentikan kalimatku. Potter. Satu-satunya Potter yang kukira ingin menemuiku adalah Albus Potter, karena hanya dia Potter yang paling … 'dekat' denganku. Sementara aku tidak begitu mengenal yang lainnya. Tapi kenapa Albus datang ke sini? Apa ada sesuatu yang penting? Bukankah dia sedang menyelenggarakan pesta di The Burrow? "—Albus Potter?"

Ayahku mengerutkan dahinya. "Kau mengundangnya atau tidak?"

Aku menggelengkan kepala. Ayahku melihatku dengan tak sabar, satu tangannya memainkan tongkat sihir, diputar-putarnya sampai membuat aku jengah.

"Bolehkah aku menemuinya?"

Ia tak memberikan respon kira-kira selama dua menit. Entah apa yang dipikirkannya, aku pun tak pernah mengerti jalan pikirannya.

"Lima menit."

"Terima kasih."

Aku segera berjalan lebih cepat dari yang tadi. Seperti saat aku mengikuti Albus Potter dulu, jalanku secepat ini. Ada rasa berdentum-dentum di seluruh tubuhku, dan aku yakin ini bukan efek magis dari minuman yang sudah kuminum beberapa menit yang lalu.

.

Albus Potter berdiri dengan tegap. Ia memakai setelan resmi yang benar-benar cocok dengan perawakannya. Meskipun ia hanya memakai satu lapis pakaian, ia tak terlihat kedinginan. Malah, ia terlihat sangat percaya diri dengan penampilannya. Aku mengalihkan pandangan ke seorang Potter yang satu lagi.

Tubuhnya tinggi, lebih tinggi dari Albus. Rambutnya hitam dan sedikit terkena salju. Matanya kecokelatan, dan dia juga tak terlihat kedinginan meski memakai baju yang kasual. Ya, dibandingkan Albus, Potter yang satu ini hanya memakai kaus dan celana panjang biasa. Kurasa dia bukan tipe orang yang suka untuk memakai pakaian formal.

Kemudian aku beralih ke Albus lagi dan ia langsung mendekat. Ia membuka kedua tangannya dan memelukku. Jelas aku terkejut. Udara dingin yang tadi menerpa ketika aku keluar ke halaman tak terasa lagi. Sentuhan lembut yang mendadak membuatku tak bisa berbicara untuk beberapa saat sampai akhirnya terdengar suara tengil di belakang Albus, "Hei, kalau mau bermesraan tahu situasi dan kondisi sedikit, dong, adikku tersayang~"

Bermesraan. Entah bagaimana caranya kata itu bisa terlontar dari mulut orang awam. Memang hubungan kami menjadi lebih dekat setelah permasalahan kami selesai, tapi aku yakin Albus tidak menganggapku sebagai orang yang bisa diajak untuk … ber'mesra'an, walaupun aku memang punya perasaan khusus padanya sejak bertahun-tahun yang lalu.

Albus mendengus dan melepaskan pelukannya perlahan, kemudian menghadap ke belakang. Dia memanggil Albus dengan adik berarti … dia adalah kakak Albus. Kalau aku tidak salah ingat, namanya adalah ….

"Aku tidak bermesraan, James Potter," Albus berkata dan kemudian dia menoleh ke arahku lagi. "Josie, kau tidak melakukan sesuatu yang macam-macam, kan?"

Aku benar-benar tak mengerti apa yang sedang Albus lakukan. Harusnya aku yang bertanya terlebih dahulu karena dia tiba-tiba muncul di depan rumahku. "Kenapa kau berada di sini? Dan … kenapa kau tahu alamat rumahku?"

Albus bersikeras untuk memaksakan kehendaknya terlebih dahulu. Dia adalah orang yang tak mau keinginannya terhalangi. Albus Potter. Sifatnya tak pernah berubah. "Jawab pertanyaanku dulu. Apa kau … apa kau melakukan hal yang melanggar Sumpah Tak Terlanggar kita?"

"Tentu saja tidak."

Embusan napas lega Albus terlihat dari uap-uap yang keluar dari mulutnya. Aku mulai merasa kedinginan karena hanya memakai gaun tanpa lengan, tapi aku berusaha menahannya. Kalau aku punya tongkat sihirku, mungkin aku bisa memberi mantra untuk diriku sendiri. Sayangnya tongkat sihir itu berada di dalam kamar.

"Bagus. Sekarang aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi pertama-tama …" Albus melepaskan jasnya dan menyampirkannya di bahuku secara perlahan. Terdengar siulan menggoda yang keluar dari mulut James Potter. Albus membiarkan kakaknya berulah tanpa memberikan komentar apa-apa. Kedua kakak beradik ini benar-benar berbeda tabiatnya.

Aku menunduk. Perhatian yang berlebih sangat jarang diberikan kepadaku, bahkan dari kedua orangtuaku sendiri. Jadi kalau Albus yang kaku dan tegas bisa memberiku perhatian seperti itu akan sangat sangat memalukan, apalagi di depan orang seperti James Potter.

Albus berdeham. "Aku ingin menceritakan soal adikku, Lily Luna Potter."

"Bisakah kita masuk ke dalam?" James Potter melongokkan kepalanya dengan penasaran ke dalam rumahku. "Sangat tidak enak untuk bercerita sesuatu yang panjang lebar di tengah salju. Gadismu juga kedinginan, kan, Al?"

Albus mempertimbangkan itu sebentar dan menatap padaku. "Aku rasa ayahmu tak akan mengizinkan."

Itu memang benar. Sudah diberi kesempatan lima menit untuk bertemu Albus saja aku sudah benar-benar berterima kasih. Tamu tak diundang seperti mereka tak akan mendapatkan belas kasihan dari kedua orangtuaku. Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

"Heeeh~" James Potter menghela napas panjang-panjang dan berkeluh-kesah di hadapanku. "Masa tidak boleh? Padahal kami tidak berniat macam-macam, lho, malah aku bersedia direpotkan untuk urusan ini."

"Bersedia direpotkan?" aku bertanya langsung pada si Potter sulung dan segera diinterupsi oleh Albus Potter.

"Sebenarnya masalah sepele," Albus berkata sambil mendelik kepada kakaknya. "Berkat sihir yang aku punyai, aku bisa melacak rumahmu berada di mana. Dan aku bisa sampai ke sini karena—"

"Karena aku sudah bisa berApparate! Yang dipikirkan Al hanyalah sihir dan sihir, dia tidak bisa berApparate. Memalukan. Di kelas lima aku sudah belajar untuk melakukan itu—"

"—diam, James. Jadi intinya aku 'meminta bantuan'nya untuk pergi ke sini. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan." Albus memberikan delikan sekali lagi kepada kakaknya. Meminta bantuan adalah kata yang diperhalus dari 'menumpang'. Berarti penglihatanku tadi tidak salah. Bayangan yang kulihat dari jendela bisa saja mereka berdua yang selesai berApparate.

Sebelum aku sempat mengucapkan apa-apa, suara yang hadir di belakangku membuatku tak bisa bergerak selama beberapa detik.

"Josie? Kenapa kau berada di luar? Ini teman-temanmu?"

"Mrs Nott." Albus, dengan refleks serta sikap yang luar biasa, segera membungkuk sedikit dengan satu tangan yang berada di depan dada. "Maaf mengganggu pesta keluarga kalian. Saya Albus Potter. Di sebelah saya ada kakak saya, James Potter."

James hanya tersenyum miring dan tak memberi satu pun ucapan untuk ibuku.

"Oh. Potter? Aku tak menyangka akan ada dua orang Potter yang diundang oleh putriku malam ini." Sebuah sentuhan di bahu sebagai tanda ibuku bermaksud bahwa akulah putrinya. "Jas siapa ini? Milikmu, Albus Potter?" tanya ibuku sambil meremas-remas bagian bahu jas Albus yang berada di tubuhku.

Albus memberikan senyum tipis dan mengangguk.

Respon dari ibuku membuat kedua Potter melebarkan mata. "Kenapa kalian masih berada di luar? Masuk saja. Saljunya juga tidak begitu bersahabat."

Aku menoleh tak percaya pada ibuku. Daphne Nott—dulunya Greengrass—yang bisa memberikan ekspresi apa pun yang ingin ia tunjukkan pada orang-orang. Kali ini ia memberikan senyum ramah dengan mata yang hampir menyipit.

James terlihat senang dan memamerkan gigi-giginya yang rapi, yang seperti hendak mengatakan, 'tuh kan, mana mungkin kita tidak diizinkan masuk!' sementara Albus tak banyak berkomentar dan matanya beralih terus antara aku dan ibuku.

"Oh, ya ampun. Sangat tidak sopan bukan membiarkan kalian berdua berada di luar sementara kami punya pesta meriah di dalam? Josie," ibuku membalikkan tubuhku sehingga kami bisa berhadap-hadapan. Ia membungkuk dan berbisik tepat di telingaku, "Kita harus membicarakan hal ini setelah pesta usai." Dan dengan cepat dia berdiri tegak lagi sambil tersenyum kepada kedua Potter. "Josie akan memimpin jalannya. Ayo."

Dengan ibuku yang sudah pergi terlebih dahulu ke dalam, aku bisa jauh lebih rileks dan menghadap kepada kedua Potter. Hal pertama yang aku lakukan adalah melepaskan jas Albus dari bahuku dan mengembalikannya.

"Kenapa dikembalikan?"

"Aku tidak mau masuk ke dalam dengan kombinasi jas dan gaun."

Albus menatap jasnya dalam-dalam kemudian kembali mengenakannya. James Potter melihat sekeliling dengan mata cokelat berkilat-kilat dan antusiasme yang tinggi. Aku memberi isyarat kepada mereka berdua dan masuk ke dalam rumahku. Beberapa kepala langsung menoleh kepada kami, terkejut karena ada tamu lain tak diundang yang berada di sini, terutama murid-murid Hogwarts yang tahu tentang kedua Potter bersaudara.

Pusat perhatian pesta tertuju pada mereka berdua. Aku ingin melarikan diri, tapi Albus tak membiarkan tanganku lepas dari tangannya. Aku berpikir bahwa setelah pesta berakhir, akan ada hal-hal tak enak yang akan terjadi. Bagaimana tanggapan ayahku setelah aku melanggar janjinya? Tapi bukan aku yang sepenuhnya melanggar, mengingat ibuku ikut campur tangan.

Albus dengan sopan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, berkata bahwa ia dan James memang tidak diundang tapi karena ada keperluan denganku, yang membuatku ditatap beberapa kali oleh mata-mata yang penasaran. Sementara James Potter lebih mudah mengendalikan perhatian yang tertuju padanya. Itu adalah sifat naturalnya, kurasa.

Seakan-akan masalah yang ada di depan mata belum cukup, seseorang datang dan langsung mengonfrontasi Albus. Siapa lagi kalau bukan sepupuku yang paling berisik … Scorpius Malfoy.

"Potter," hardiknya ketika dia sampai di tempat kami. James yang merasa terpanggil segera menoleh, tapi melihat pandangan Malfoy junior terpaku pada Albus Potter, jelas yang dipanggil adalah adiknya. Apalagi ia tak pernah berinteraksi dengan si Malfoy di Hogwarts. "Kenapa kau bisa ada di sini?!"

"Malfoy," Albus membalas dengan tenang, namun dahinya berkerut. Aku tahu apa yang ia pikirkan: kenapa Malfoy ada di sini padahal jelas-jelas ia berkata akan bersama Rose tiga hari lagi di Hogwarts. "Aku juga ingin bertanya kenapa kau ada di sini—kau sudah meninggalkan sepupuku di Hogwarts. Kalau aku tidak salah kau sudah berjanji padanya untuk menemani sampai tiga hari ke depan."

"Bukan urusanmu." Scorpius terlihat geram sekali dengan kehadiran Albus di tengah-tengah pesta kami, apalagi sebagian besar tamu tertarik dengan kehadiran Potter bersaudara, membuatnya kehilangan perhatian di pesta. Scorpius beralih kepadaku, "Kau tidak mengundangnya, kan, Josie?"

"Aku tidak mengundang mereka. Albus ada keperluan denganku."

"Penting sekali ya sampai-sampai mengacau di pesta ini~" Scorpius menyilangkan tangan di depan dada dan berlagak superior. "Asal jangan cari masalah saja di sini, Potter."

Albus memilih untuk tidak menjawab dan berbicara kepada tamu lain, sementara Scorpius meninggalkan kami setelah memberikan pandangan terakhir pada Albus.

Ketika kerumunan sudah mulai menyepi, aku berkata pada Albus bahwa kita bisa berbicara di ruangan lain. Tapi belum sempat aku mengatakan itu, seseorang sudah muncul di tengah-tengah kami. Langkahnya begitu percaya diri dan menyeruak di antara Albus dan James.

"Ada bintang baru di sini, ternyata." Crystal Loyne memberikan pandangan tajam kepada kedua Potter bersaudara. "Padahal kalian tidak diundang, lho. Sejak kapan pesta untuk rekan-rekan kerja anggota keluarga Nott menjadi acara perkumpulan anak … Hogwarts?" Ia mengangkat alis dan menatapku heran. "Josie, aku baru tahu kalau kau berteman dengan Potter."

"Halo, nona cantik yang tiba-tiba muncul tanpa perkenalan." Dengan mudah James Potter mengambil alih perhatiannya dan mengulurkan tangannya di depan Crystal. "James Potter. Kau takut tidak bersinar lagi di pesta ini, eh?"

"Aku tidak sembarangan bersalaman dengan orang, tahu?"

"Nah. Aku ini bukan sembarang orang. Kalau kau perhatikan baik-baik, kau akan sadar siapa bintang sebenarnya dan menyesal tidak berkenalan dengan bintang tersebut."

Sementara Crystal dan James ribut soal siapa bintang dan kenapa James bisa ikut-ikutan berada di sini padahal dia bukan orang yang penting, aku menarik Albus sehingga kami berdua bisa menyelusup keluar dan mencari tempat yang lebih privasi di tempat lain.

Tempat yang kupilih adalah ruangan yang sedikit lebih kecil dari ruang tamu. Hanya terdapat sofa-sofa yang besar berada di sini dan satu perapian di tengah-tengah ruangan. Sofa-sofa tersebut mengelilingi perapian yang memiliki empat sisi dengan rapi dan menarik. Ruangan ini aku yang meminta kepada Dad dan Mum karena ketika aku sedang bosan dengan suasana kamar, aku akan pergi ke sini. Warna yang serba hitam membuatku jauh lebih tenang dibandingkan kamar yang terlalu terang.

Aku duduk terlebih dahulu di sofa sebelah kanan. Albus mengikuti dan ia duduk di sebelahku. Ia mengeluarkan tongkat sihir dan menyalakan perapian yang berada di tengah ruangan. Kemudian ia menoleh dan berujar, "Masih kedinginan?"

Padahal aku tidak pernah berkata aku kedinginan dan aku berusaha keras untuk menutupinya. Apakah Albus memang selalu bisa membaca pikiran orang?

Aku menggeleng untuk merespon pertanyaannya. "Tidak. Terima kasih. Jadi … ada apa tentang adikmu sampai kau mau datang ke sini? Setahuku sekarang ada pesta penyambutan di The Burrow."

Ia menghela napas panjang dan tak ada senyum lagi di wajahnya. Lenyap. Ekspresinya kini lebih serius daripada yang pernah kulihat selama ini. Kemudian, ia mulai bercerita. Bercerita tentang keadaan Lily setelah pembunuhan Hugo yang telah kulakukan. Keadaannya yang semakin menjadi-jadi, tak mau berbicara dan sulit untuk makan, sehingga dirawat di St. Mungo selama lebih dari lima tahun. Setelah keluar, kebiasaan-kebiasaan anehnya muncul.

Seperti meramal.

Ramalan lagi. Ramalan berbulan-bulan yang lalu membuatku terjalin dengan sebuah tali khusus yang menjamin hidupku sampai mati. Sumpah Tak Terlanggar.

"James mengatakan akan ada satu metode yang ingin dicoba oleh Dad," ia menerangkan, "Tapi sebelum aku bisa tahu apa metode yang dimaksud, terjadi keheningan tiba-tiba di The Burrow dan kami berdua masuk. Saat itulah aku merasa bahwa Lily memang sudah berubah."

Aku merasa bahwa hal ini benar-benar sangat buruk.

"Tadinya ia pingsan, namun saat kami masuk dia bangun perlahan dan langsung menatap ke arahku. Ia berkata sesuatu seperti ini, 'ada korban karena suatu janji' sehingga yang langsung teringat olehku adalah kau, Josie."

Korban karena suatu janji. Apa Albus berpikir ….

"Kau mengira bahwa aku melanggar Sumpah Tak Terlanggar dan aku akan menjadi korbannya," aku membuat pernyataan yang aku yakin kebenarannya. Tak dibutuhkan waktu lama sampai akhirnya Albus mengangguk.

"Dengan pemikiran itulah aku langsung datang ke sini. Bukan kebetulan kalau Lily tiba-tiba menatapku seperti itu."

Albus langsung datang ke sini karena mengkhawatirkanku … bahkan ia menurunkan sedikit harga dirinya untuk meminta bantuan pada kakaknya yang jahil, James Potter. Ini mungkin klise sekali tapi, aku merasa ada kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya di perutku.

Oh, banyak sekali kupu-kupu.

"Aku tidak akan melanggar janjiku, Albus," aku berkata demikian karena tidak ingin membuatnya cemas. Memang ada pemikiran ingin kembali memiliki sebuah pisau dan merasakan sensasi tangan yang tersayat-sayat, tapi setelah mendengar apa yang telah diceritakannya, aku tidak akan bertindak seperti itu lagi.

Albus tak memberikan respon apa-apa. Sepertinya ia masih berpikir tentang sesuatu.

"Apa yang dibicarakan Lily tak pernah meleset, walaupun terkadang memiliki makna yang taksa. Jangka waktu terpanjang empat hari dan tersingkat lima menit … harusnya ada sesuatu yang bisa kulakukan dengan ini."

Pemuda itu terlihat sangat frustrasi dengan situasi sekarang. Rambut hitamnya tak serapi biasa dan iris zamrud yang biasa berkilau karena keinginan akan sesuatu kini menggelap dan tak ada sinarnya.

Apa yang bisa kulakukan untuk membantunya?

"Albus, apa pun yang sedang kau pikirkan, percaya padaku kalau aku tidak akan melanggar sumpahku sendiri," aku berusaha meyakinkannya walaupun aku sendiri tak yakin. Hasrat untuk memegang pisau semakin sering untuk datang. Tapi harusnya aku bisa bertahan. Aku tak akan bisa melihat wajah Albus Potter menjadi seperti ini karena aku.

Sudah cukup adiknya menjadi menderita karena aku yang membunuh Hugo. Apa sekarang aku juga menyebabkan penderitaan pada Albus?

"Aku tahu," ia berkata pada akhirnya. Aku bernapas sedikit lebih lega setelah mendengar dua kata tersebut. Aku menyandarkan punggungku kepada sofa dan melihat api pada perapian yang menari-nari dengan lincahnya di tengah-tengah barisan sofa di ruangan.

Tak ada yang berbicara di antara kami. Albus duduk di sebelahku, jaraknya begitu dekat. Aku sangat kikuk ketika berjarak terlalu dekat dengan orang lain atau bersentuhan dengan orang asing. Hal ini termasuk pada Albus Potter. Karena … karena Albus bukan siapa-siapaku, kan. Dibilang kami sudah berhubungan lebih jauh daripada titel teman itu bohong besar. Albus tak menganggapku siapa-siapa selain 'Josie Nott, penyihir normal' bukan 'Josie Nott, pembunuh Hugo'.

Tidak tahu kenapa, yang terpikirkan olehku saat ini adalah kata-kata yang diucapkan ibuku tadi saat di kamarku sebelum pesta dimulai.

Aku menyuarakannya perlahan. "Seandainya aku mengadakan pesta ulang tahun, apakah kau akan hadir, Albus?"

Pertanyaan itu menarik perhatiannya. Ia menoleh ke arahku. "Kapan kau berulang tahun?"

Dia tidak tahu apa-apa tentangku. Tentu saja. Tidak ada orang lain yang mengenal diriku sebaik aku mengenal diriku sendiri. "Dua puluh empat Desember."

"… Malam Natal," ia berkata dengan nada suara rendah dan kini bersandar pada sofa, tak terlalu tegak lagi seperti tadi. "Keluargaku pasti mengadakan acara pada malam Natal …."

"Kalau kau tidak bisa, tentu saja aku tidak memaksa," kataku cepat-cepat. Ini benar-benar memalukan. Harusnya aku tidak mengatakannya saja dari tadi. "Itu hanya pemikiran selintas lalu saja. Lagi pula aku tidak tertarik untuk mengadakan acara ulang tahun."

"Tapi kalau kau mengadakannya pada siang hari, kemungkinan besar aku bisa hadir," tukas Albus, tak mendengarkan perkataanku barusan. "Seandainya kau mengadakan pesta ulang tahun pada malam Natal, aku tak yakin banyak keluarga yang hadir. Mereka punya acara sendiri-sendiri, 'kan."

Benar juga. Pemikiran Albus sudah jauh sampai ke situ sementara yang kupikirkan adalah apakah Albus akan datang ke pestaku atau tidak. Sejak kapan aku menjadi bodoh seperti ini?

"Saranmu akan kupertimbangkan," jawabku pada akhirnya. Dan aku tidak berbicara apa-apa lagi atau yang keluar adalah kata-kata bodoh. Aku tidak sebodoh ini. Kehadiran Albus Potterlah yang membuatku pikiranku menjadi kacau.

Keheningan yang seperti ini membuatku jauh lebih tenang daripada terlibat konversasi yang aneh dan canggung. Kebiasaanku adalah berdiam dan membiarkan orang lain yang mengambil alih pembicaraan. Kurasa, karena hal itulah aku tidak pernah bisa menjadi pusat perhatian, terutama pesta besar seperti ini yang dihadiri oleh bintang-bintang lain yang jauh lebih bersinar dibandingkan aku.

Aku sebenarnya ingin tahu bagaimana hasil kelanjutan perdebatan antara Crystal Loyne dan James Potter, tapi tidak mungkin aku pergi dari sini sekarang.

Sebab berada di samping Albus Potter sudah membuatku nyaman.

"Josie, persis di rumahmu sekarang ada pesta yang sedang berlangsung."

"Betul," aku membenarkan. Kenapa tiba-tiba Albus berkata seperti itu?

"Pesta akan terasa hambar tanpa dansa." Albus berdiri dari tempatnya dan berlutut di depanku. "Mau berdansa?"

Oh ya ampun ini benar-benar memalukan. Aku tidak pernah berdansa dan aku tidak bisa berdansa, apalagi di tempat yang sempit seperti ini. Satu ruangan penuh dengan sofa dan di tengah-tengah terdapat perapian.

Seperti bisa membaca pikiranku, Albus berkata, "Kita bisa berdansa mengelilingi perapian saja karena di sini tidak terlalu ideal untuk berdansa. Atau kau ingin berdansa di ruangan yang penuh dengan tamu di luar?"

"Tidak," sahutku dengan cepat dan menerima sambutan tangannya. "Tidak. Maksudku, aku tidak ingin berdansa di luar. Di sini saja."

Albus tersenyum. Senyum seperti biasa. Seperti sudah tahu apa jawabanku dan dia sudah memprediksinya bahwa hasilnya akan menjadi seperti ini. Kedua mata emeraldnya tak terlalu gelap seperti tadi. Ada cahaya di sana, walaupun aku tidak yakin bahwa cahaya itu murni dari dirinya sendiri atau terpantul dari perapian.

Aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya dan tangannya berada di pinggangku. Wajah Albus bersinar. Dia terlihat seperti malaikat. Sikap sempurnanya. Senyumnya. Bagaimana cara dia berbicara dan bagaimana dia membawaku mengelilingi perapian. Bagaimana dia bisa membuatku nyaman di tengah-tengah acara dansa yang tak pernah kulakukan. Bagaimana dia bisa membuat tubuhku seperti ingin meledak padahal dia tak melakukan apa pun, hanya menatapku dan melanjutkan berdansa.

Tak ada musik. Tapi cukup untuk membuatku merasa berdebar-debar. Langkah-langkah kami bergema. Antara ketukan sepatunya dan sepatu hak tinggiku. Udara yang menguar dari api hangat menyelip antara jari-jari kami yang menemukan satu sama lain. Tanpa penonton. Tapi cukup membuatku seperti dilihat oleh beribu-ribu orang karena sepasang mata yang menatapku tak henti-hentinya. Aku tak berani bernapas. Padahal napasnya menyentuh kulitku.

"Josie."

"…"

"Jangan lupa untuk bernapas."

Benar, harusnya aku bernapas. Aku bernapas perlahan-lahan. Menghidu aroma yang keluar dari tubuh Albus dan tubuhku. Bercampur dengan api yang membakar. Aku merasa panas, padahal apinya tak menyentuh diriku.

Kami melangkah perlahan. Ke kiri dan ke kanan. Sebelah tanganku dan tangannya bergerak seirama dengan kaki yang memutari perapian empat sisi di tengah-tengah ruangan. Albus tersenyum. Aku harus bernapas lagi kalau masih ingin berdansa bersamanya.

Beberapa menit berlalu. Aku tak merasa ada detik-detik jarum panjang yang mengganggu. Aku sedang menikmati waktu. Rasanya aku akan kecewa kalau semua ini berlalu begitu saja.

Kami melakukan kontak mata untuk yang kesekian kalinya. Baiklah, aku memang pemalu. Aku tak bisa bertatapan dengan orang begitu lama kecuali untuk mengintimidasi orang tersebut, terberkatilah aura dingin yang kupunyai. Tapi dengan Albus Potter … malah aku yang merasa terintimidasi. Dia terlalu kuat. Kontan aku memejamkan mata. Dan aku merasakan kepalanya yang mendekat. Hidung bersentuhan ….

"Well, well. Lihat apa yang kutemukan di sini."

Otomatis aku melepaskan peganganku dengan Albus dan mundur dengan cepat. Albus tetap berdiri di tempatnya, tak terpengaruh oleh suara yang baru saja terdengar di ruangan ini. Aku menoleh. Benar-benar waktu yang tidak tepat untuk Sam Zabini datang menginterupsi.

Sam Zabini. Anak sulung dari keluarga Zabini. Ia memakai setelan warna perak dengan kemeja berwarna hijau tua polos. Begitu mencolok, begitu mewah. Rambut pirangnya—nyaris putih—lebih berantakan daripada yang biasanya. Kedua matanya yang berwarna biru terang berkilat-kilat. Bukan kilatan yang sering kutemui pada diri banyak orang. Tapi kilatan-kilatan nakal. Berbahaya. Bahkan lebih berbahaya dari diriku sendiri.

Dengan kasualnya ia menyisipkan kedua tangan ke dalam saku celana dan mendekat ke pada salah satu sofa, kemudian duduk dengan kedua kaki terlipat dan kedua tangan yang terbuka lebar-lebar di atas sofa. Seolah-olah dialah bos dan pemilik ruangan ini. Tak ada yang berbicara dan tak ada yang menanggapi kata-kata Sam saat pertama kali dia datang ke sini.

"Selalu kabur ke tempat ini setiap ada pesta, eh, Josie?"

Aku tidak menjawab. Seharusnya aku melihat Sam sebagai orang yang sedang berbicara padaku, tapi mataku terpaku pada punggung Albus Potter. Apa reaksinya terhadap orang seperti ini? Apa naluri prefeknya keluar dan dia akan memberi teguran pada Sam Zabini?

"Zabini, kalau aku tidak salah ingat?" Albus membuka pembicaraan dan kata-katanya mengalir dengan lancar. Tak takut sama sekali dengan kakak kelas—Sam Zabini kelas enam. Dia lebih tua satu tahun dari kami berdua—juga dengan gayanya yang sembrono. Albus bisa mengendalikan dirinya sendiri. "Apa kau tak pernah diajari tata krama di keluargamu? Kau baru saja masuk begitu saja dan duduk tanpa meminta izin kepada yang punya rumah."

Sebuah dengusan mengejek terdengar. "Perfect Prefect Potter. Julukan sampah yang terdengar setelah kau menjadi prefek. Selalu menuntut semuanya untuk menjadi sempurna?" Matanya membulat dan seringaiannya keluar. Mirip seringaian seperti Scorpius, menggoda dan nakal, tapi kali ini ada sentuhan lain. Sentuhan yang ganjil. Sam Zabini terlihat seperti penjahat di sini. "Pada akhirnya kau tidak bisa melakukan apa-apa di luar Hogwarts dan hanya berlindung di bawah ketiak kedua orangtuamu." Ia tertawa terbahak-bahak. Tawa yang tak murni. Palsu.

Semua tentang Sam Zabini sangat palsu. Aku tahu tentangnya.

"Aku hanya berbicara sebagai orang yang masih mempunyai moral, Zabini," kata-kata tajam Albus Potter keluar. "Sepertinya Josie tak senang dengan kehadiranmu di sini."

Memang. Tapi aku tidak mau mengatakannya langsung pada yang bersangkutan.

Sam mengangkat alisnya dan menatapku dengan pandangan meremehkan. "Dengar itu, Josie? Katanya kau tidak senang aku ada di sini. Kenapa pula ada orang brengsek seperti ini ada di sini, sih?"

Aku tak menjawab apa-apa. Kalau Sam Zabini mengoceh lebih banyak lagi, maka, mungkin akan ada satu masalah lagi yang timbul. Jika aku bisa cukup tahan dan tidak memberikan respon apa-apa, bisa saja aku menghindar darinya.

Albus, di sisi lain, merasa ada hal lain yang belum ia ketahui dan mengalihkan pandangannya padaku. Dan seperti biasa pula, aku tak bisa tahan jika terintimidasi dan aku menunduk dengan cepat. Berusaha tak melihatnya.

"Kau mengekspektasikan bahwa Josie akan senang melihat kehadiranmu di sini, Sam Zabini?" Albus memancing kata-katanya.

"Oh, tentu saja." Sam Zabini tersenyum miring dan ia membungkukkan tubuhnya. Wajah putih pucatnya bersinar di depan perapian. "Aku kan tunangannya."

.

.

.

to be continue.

.

.

.

Special Thanks for:

albusP lover, Dakotta C, Ein Mikara, Clairy Cornell, ElectraMalfoy, dee greengrass, Hay Anime14, dan p3 potter untuk sudah me-review dan dihaturkan terima kasih sebanyak-banyaknya bagi yang sudah mefavoritkan fanfiksi ini!

.

notes:

welcome to 'FATE', Sam Zabini! :P

bingung juga mau ngasih tag karakternya, karena peran antara Lily Luna Potter, James Sirius Potter sama Sam Zabini (OC) lumayan seimbang. tentu saja saya tidak bisa menghilangkan tag Albus Potter dan Josie Nott (OC) sebab mereka merupakan tokoh utama. bagaimana menurut kalian? ah, tapi seiring berjalannya waktu sepertinya antara ketiga karakter itu akan ada satu yang tak terlalu signifikan.

makin sibuk akhir-akhir ini jadi tolong doakan agar bisa mengetik fanfiksi dan mengupdatenya lebih cepat.

trims yang sudah mau baca (apalagi review + fav + alert) ^^

love,
qunnyv19