CHAPTER 2
.
.
Seperti yang telah dijadwalkan, rapat anggota Tim Penyelidik Pembunuhan dimulai pada pukul 4 sore. Semua anggota telah hadir di ruangan rapat itu. Masing-masing dari mereka telah memegang materi yang akan dibahas dalam rapat sore itu.
"Ck! Bahkan kita tidak bisa menebak motif dari pembunuhan ini. Kasus ini terlalu acak jika disebut pembunuhan berantai. Korban tak satupun yang saling kenal atau memiliki kesamaan. Pembunuhan ini juga terlalu rapi, sulit untuk menebak siapa Lightsaber itu. Apa dia membunuh sesukanya saja?" Ujar lelaki tertua, Detektif Kim Jaejoong sambil memijit pelipisnya yang berdenyut memikirkan kasus yang tak kunjung selesai.
"Sepertinya si Lightsaber itu adalah pembunuh profesional, apa dia pembunuh bayaran? Tapi aku sudah memeriksa semua daftar pembunuh bayaran yang kita kejar hingga sekarang, namun tak satupun yang mengarah pada ciri-ciri si Lightsaber ini." Detektif Luna Park juga ikut memberikan argumennya.
"Tadi ketika aku dan beberapa petugas pergi ke instansi-instansi untuk memberikan pengarahan tentang kasus criminal yang terjadi belakangan ini, aku melihat gambar yang sama persis dengan yang ada di tubuh korban. Gambar itu aku temukan di dinding gudang belakang sekolah Eldorado International High School." Luhan juga memberikan argumennya sambil menunjuk gambar goresan yang ada pada setiap tubuh korban Lightsaber, seketika yang lain menatap penasaran ke arah Luhan.
"Apa mungkin salah satu warga sekolah itu adalah Lightsaber? Siswa ataukah petugas sekolah?" Tanya Minho.
"Aku juga menemukan hal aneh tadi saat melakukan penyelidikan dengan Kyuhyun. Ada salah satu minimarket yang lumayan jauh dari TKP, kami memeriksa CCTV minimarket tersebut. Di sana terlihat seseorang yang membuka jaket hitamnya dan masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan minimarket itu. Orang tersebut mengenakan seragam EIHS, tapi kami tak bisa melihat wajahnya. Kami hanya dapat melihat punggung pemuda tersebut." Ujar Kibum.
"EIHS adalah sekolah dengan peraturan ketat. Tak ada yang bisa main-main jika bersekolah di sana. Sekolah itu hanya menuntut murid untuk mendapat peringkat tinggi. Mottonya saja 'jika kalah maka semua berakhir'. Apa mungkin siswa yang hanya tahu belajar adalah seorang pembunuh?" Kim Jaejoong tampak tak setuju dengan pertanyaan yang diberikan Minho.
"Luhan kau lulusan EIHS 'kan?" Tanya Kyuhyun tiba-tiba.
"Iya Ketua. Memangnya kenapa?" Luhan heran dengan pertanyaan yang tidak ada kaintannya dengan masalah mereka, begitupun anggota lainnya.
"Di sini Xi Luhan yang paling muda. Dia mengikuti kelas akselerasi dan bisa loncat kelas dua tahun. Berarti sekrang seharusnya Luhan masih berada di kelas 3." Pernyataan yang tak terduga diberikan lagi oleh Kyuhyun, membuat semua anggotanya mengernyit heran.
"Me-memangnya kenapa, Ketua?" Ujar Luhan gugup. Pasalnya Kyuhyun adalah orang yang paling dingin pada Luhan, jadi tadi Kyuhyun seperti memujinya membuat Luhan gugup. Tanpa menghiraukan pandangan heran dari anggotanya dan pertanyaan dari Luhan, Kyuhyun menatap Luhan dengan senyum misteriusnya.
"Bukankah berarti kau itu jenius? Ah begini, kau harus menyamar sebagai siswa di sekolah itu. Oke?" Tak ada yang bicara, menanggapi ataupun menyanggah perkataan Kyuhyun.
1 detik…
2 detik..
3 detik…
"Kau gila?" Tanya Kibum datar. Sedangkan Kyuhyun masih menatap Luhan dengan senyum misteriusnya. Luhan melotot tak percaya dengan perintah yang diberikan sang atasan.
"Baiklah Lu, kau diam berarti kau setuju. Dan kau memang harus setuju! Oke cukup sampai di sini rapat hari ini." Ucapan telak Kyuhyun menerima tatapan protes dari para anggota.
"Yak Cho Bodoh! Bagaimana bisa kau menyuruh Luhan menyamar sebagai siswa? Seharusnya kau menyuruhnya menjadi guru, agar ia bisa memantau kondisi siswa dan guru dengan leluasa. Jika hanya seorang siswa, itu akan sulit menyelidiki para guru dan petugas sekolah, bodoh!" Kibum menjadi kesal dengan keputusan yang diambil ketua mereka.
"Jangan lupakan jika Luhan adalah siswa di EIHS dulunya. Bagaimana mungkin dia kembali menjadi siswa di sana sedangkan ia sudah dua tahun yang lalu keluar dari sekolah itu. Apa yang dipikirkan para guru nanti? Kita juga tidak mungkin mengatakan kalau Luhan adalah seorang mata-mata di sana." Jaejoong ikutan kesal dan tidak mengerti jalan pikiran Kyuhyun.
"Benar apa yang dikatakan Jae Hyeong, Ketua. Apa tak ada cara lain untuk menyelidikinya? Atau bagaimana kalau Luna Noona saja yang menyamar ke sana?" Tanya Luhan.
"Kau menyuruhku menyamar sama saja artinya kau ingin mengakhiri kasus ini." Luna berujar datar sambil membaca analisis kasus mereka. Jelas saja Luna adalah anggota yang paling tidak bisa diajak menyamar. Jika memintanya untuk melakukan riset TKP dan turun kelapangan dengan senang hati pasti dia lakukan, karena itu memang keahliannya.
"Aku setuju dengan Kyuhyun Hyeong. Luhan adalah orang yang paling mengetahui bagaimana sekolah itu. Jika Luhan menjadi guru di sana, sudah pasti ia tak akan di terima. Tapi, jika Luhan menjadi siswa, apa alasannya untuk masuk lagi kesana?" Kyuhyun yang mendengar argument dari Minho terkekeh pelan.
"Masalah itu biar aku yang urus. Luhan, yang pasti kau harus menjadi siswa lagi di sana. Dan aku akan bertindak sebagai wali Luhan." Ujar Kyuhyun telak.
"Ne." Ujar semua anggotanya. Mereka membereskan peralatan mereka dan kembali keruangan kerja. Kenapa tidak ada lagi yang membantah? Jelas saja karena perintah dari Kyuhyun adalah hal telak.
.
.
Sehun baru saja selesai mandi, karena ia baru pulang dari aktivitas rutinnya bermain skateboard sertiap sore. Setelah selesai berpakaian, Sehun menghampiri ponsel pintarnya yang ada di meja nakas di samping tempat tidur. 5 missed call dan 1 message terlihat di layar touchscreen itu. Setelah ia membuka kunci pola ponselnya, ia terlebih dahulu melihat siapa yang menghubunginya. Semuanya dari Kai.
'Yo albino! Kau dimana sekarang? Kenapa kau tidak menjawab panggilanku? Hubungi aku setelah kau melihat pesan ini!' Sehun terkekeh melihat pesan yang di kirim Kai. Tanpa pikir lama, langsung saja ia menghubungi temannya itu.
"Akhirnya kau menghubungiku juga, Albino! Dari mana saja kau? Dari tadi aku mencoba menghubungimu tahu!" Ujar Kai dari seberang line telepon.
"Siapa yang kau bilang albino, Kai? Aku baru pulang dari bermain skateboard. Ada apa kau menghubungiku tadi?" Tanya Sehun.
"Aku bosan. Bagaimana kalau kita pergi main?" Ajak Kai.
"Jangan bilang kau mengajakku pergi ke tempat dia lagi? Telingaku sakit jika berhadapan dengannya, Kai." Kata Sehun memelas.
"Jika dia tahu apa yang kau katakan barusan, aku pastikan bukan hanya telingamu saja yang sakit. Ayolah, kapan lagi kita bermain ke sana. Dia sepupumu Sehun, jika kau lupa." Bujuk Kai yang sangat ingin pergi.
"Kau pikir kau akan aman jika dia tahu kau menyebutnya idiot tadi siang? Haah! Baiklah aku akan pergi. Kita akan bertemu di sana, oke." Putus Sehun yang akhirnya menerima ajakan Kai. Kai yang mendengar itu segera tersenyum lebar layaknya orang bodoh.
"Assa.. Buka saja pintu rumahmu, kita akan bertemu di sana." Ujar Kai yang langsung memutuskan sambungan telepon. Sehun terlihat terkejut mendengar penuturan Kai barusan. Segera ia keluar kamar menuju pintu utama rumahnya. Dan benar saja, dia menemukan Kai dengan senyuman lebar bodohnya sedang berdiri di sana.
"Bagaimana bisa kau sampai di sini, Kai?" Tanya Sehun sambil menatap Kai curiga.
"Tentu saja bisa, tadi supirku yang mengantarku ke sini. Oh ya, apa Ahjumma ada? Aku membawakan takoyaki dan okonomiyaki." Ujar Kai menunjukkan beberapa kotak yang ia bawa.
"Apakah kau sudah menebak aku akan ikut denganmu tadi, makanya kau langsung ke sini?" Sehun menatap Kai dengan tatapan menyelidik tanpa mengindahkan perkataan Kai sebelumnya.
"Hey, apa kau bodoh? Bukankah tadi aku sudah mengatakan kalau diriku sedang bosan? Makanya aku langsung ke sini walaupun kau tidak menjawab panggilanku. Dan sebelum ke sini Eomma menitipkan ini untuk Ahjumma. Aish.. Biarkan aku masuk Oh Sehun! Tanganku pegal membawa makanan ini." Ujar Kai mulai kesal yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu.
"Benarkah? Tapi kenapa tampangmu tidak meyakinkan?" Ujar Sehun yang dihadiahi tatapan tajam oleh Kai.
"Bodoh! Biarkan aku masuk sekarang atau kau kutendang?!" Sehun terkekah mendengar umpatan Kai. Ia mulai beranjak dari tempatnya berdiri. Membiarkan Kai masuk tanpa membantu membawa barang bawaannya. Kai hanya mendelik kesal melihat Sehun yang terus menuju dapur tanpa membantunya. Setelah menutup pintu rumah Sehun, Kai pun mengikuti Sehun ke dapur. Di sana ia menemukan ibu Sehun yang sedang memasak.
"Apa kabar, Ahjumma?" Sapa Kai ketika tiba di dekat ibu Sehun.
"Jongin? Kapan kau datang, nak? Sehun tidak memberi tahuku kalau kau akan datang." Ibu Sehun yang telah selesai memasak menyajikan masakannya di atas meja dan kemudian menghampiri Kai. Sedangkan Sehun sudah duduk manis di kursi, bersiap untuk mengambil makanannya.
"Sebenarnya aku dari tadi sudah berada di depan pintu. Aku sudah menekan bell beberap kali, tapi tidak ada orang yang membukakan pintunya. Sehun tadi juga tidak menjawab teleponnya. Jadi aku baru saja bisa masuk setelah Sehun membuka pintu barusan." Jawab Kai ─setengah berbohong─ yang dihadiahi tatapan protes oleh Sehun.
"Aigoo.. Sehun kenapa kau tidak cepat membuka pintu ketika ada bell tadi? Aigoo.. maafkan Sehun ya Kai? Mungkin dia tidak mendengar ada tamu tadi. Ahjumma juga tidak dengar kalau bell berbunyi tadi." Ujar ibu Sehun yang mendelik kesal pada Sehun.
"Tidak apa-apa Ahjumma. Oh ya, ini ada titipan untuk Ahjumma dari Eomma." Kai memberikan bingkisan yang dibawanya tadi, beberapa kotak takoyaki dan okonomiyaki.
"Aigoo.. Banyak sekali. Terima kasih ya, Kai. Kapan-kapan bawa ibumu ke sini ya. Ahjumma sudah lama tidak bertemu dengan ibumu." Ibu Sehun menerima makanan tersebut dan menatanya di meja makan.
"Oh iya Ahjumma, aku belum melihat Ahjussi dari tadi. Kemana beliau?" Tanya Kai yang kini sudah duduk di kursi meja makan.
"Ahjussi belum pulang. Mungkin sebentar lagi. Kajja, kita makan duluan. Dia bisa menyusul makan malam jika pulang nanti. Oh ya, apa kalian akan pergi malam ini?" Tanya ibu Sehun.
"Ne Eomma. Rencananya kami akan ke tempat si nenek cerewet itu." Jawab Sehun.
"Kalau begitu, tolong sekalian bawakan makanan ini ya? Bukankah Leeteuk dan Kangin masih di Jepang? Anak itu pasti belum makan." Ibu Sehun menyisihkan makanan yang akan dibawakan untuk keponakannyan.
"Eomma jangan berlebihan. Dia sudah besar. Jangan terlalu mengkhawatirkannya. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri." Ujar Sehun yang kesal terhadap ibunya yang selalu mengkhawatirkan sepupunya satu itu.
.
.
Kini mereka berdua ─Kai dan Sehun─ sudah sampai di depan rumah sepupunya. Mereka pergi menggunakan mobil sport milik Sehun. Semenjak tadi mereka memencet bell rumah itu. Namun, tidak ada satupun orang yang keluar membukakan pintu. Salahkan mereka yang lupa menghubungi tuan rumah.
"Kai, apa kau sudah menghubunginya? Kenapa tidak ada yang keluar untuk membuka pintu. Bukankah Ahjussi punya banyak maid ya?" Tanya Sehun yang masih terus memencet bell rumah mewah itu.
"Ahjussi hanya mempekerjakan maid pada siang hari, jika kau lupa." Kai segera merogoh saku jaketnya. Ia segera mendial nomor sepupunya, berharap segera dijawab oleh orang yang dituju.
"Wae?" Terdengar suara dengan nada malas dari line telepon.
"Akhirnya kau menjawab teleponku. Yaa! aku dan Sehun ada di depan pintu rumahmu. Dari tadi kami menekan bell rumahmu, tapi kau tak datang untuk membuka pintu. Cepatlah ke sini, kami sudah hampir membeku tahu!" Ujar Kai setengah membentak kesal.
"Apa kau baru saja membentakku Kamjong?! Jangan harap kau dapat masuk ke rumahku, Kai." Kata orang di seberang line telepon dengan nada tak kalah kesal.
"Yaa yaa nanti saja kau marah-marahnya. Sekarang buka dulu pintu sialan ini. Aku sudah kedinginan, bodoh!" Umpat Kai yang mulai menghembuskan nafas ke telapak tangannya.
"Siapa yang kau bilang bodoh? Kau kira hanya dirimu yang kedinginan, bodoh?" Orang tersebut terdengar menghembuskan nafasnya dan langsung mengakhiri sambungan telepon. Membuat Kai menatap kesal ponselnya yang tiba-tiba saja putus sambungan.
"Kai, kau baru saja membangunkan nenek sihir." Ujar Sehun datar dan pelan. Kai menatap tak mengerti ke arah Sehun. Ia malah melihat Sehun yang menatap ke arah belakangnya. Penasaran, ia pun melihat yang dari tadi di lihat Sehun.
"Minggir, bodoh! Kau menghalangi pintu masukku!" Ujar orang yang dari tadi ada di belakang Kai sambil melangkah lebih dekat pada kedua sahabat itu. Orang itu membuka pintu dengan kunci yang ada di tangannya. Seketika aura tak mengenakan melingkupi sekitaran Kai.
'Aish.. Sial! Kenapa aku malah membangunkan sisi nenek sihirnya?" ─batin Kai.
"Baekhyun-ah.. ini ada titipan dari Eomma untukmu." Ujar Sehun menginterupsi pergerakan orang yang baru membuka pintu tadi.
"Dari Ahjumma? Untukku?" Tanya Baekhyun dengan berbinar memastikan ucapan sepupunya. Sehun hanya mengangguk menjawab pertanyaan Baekhyun. Ia memberikan bingkisan yang dibawanya kepada Baekhyun.
"Terimakasih Sehun-ah. Oiya, jangan lupa sampaikan juga salam dan terimakasihku untuk Ahjumma. Ayo masuk Sehun-ah." Setelah dirinya dan Sehun memasuki rumah mewah itu, ia langsung menutup pintu meninggalkan Kai seorang diri di luar sana. Kai yang ditinggal sendiri menatap horror pintu yang baru saja tertutup dengan tidak elit itu.
"Yak Byun Baekhyun, Oh Sehun, biarkan aku juga ikut masuk. Tak tahukah kalian seberapa dinginnya di luar sini." Ujar Kai memelas sambil masih mengetuk-ngetuk pintu itu.
"Salah siapa kau mengataiku bodoh, Kamjong! Itu pelajaran untukmu supaya kau tidak mengataiku sembarangan lagi." Kata Baekhyun di balik pintu sambil melipat tangan di dadanya.
"Jangan lupa, kau juga mengatakan Baekhyun idiot di sekolah tadi siang!" Sehun setengah berteriak menghadap pintu agar suaranya di dengar oleh Kai. Kai yang mendengar penuturan Sehun barusan mendadak pucat, mulutnya komat-kamit mengucapkan umpatan untuk Sehun, sahabat dan sepupu tercintanya. Baekhyun? Jangan ditanya lagi. Jika ini adalah anime sekarang sudah ada tanduk iblis di kepalanya. Oh jangan lupakan rambut merahnya yang semakin merah karena kesal.
"Apa yang kau bilang tadi, Kai? Aku idiot?" Tanya Baekhyun penuh penekanan sambil membuka pintu rumahnya dan melihat tajam ke arah Kai, membuat nyali Kai menciut melihat kemarahan Baekhyun.
"Oh.. Eh.. I-iya.. K-kau memang tertlihat i-idiot di sse-sekolah. Eh tapi kau tidak adil jika hanya menghukumku diluar sendirian, Baek. Sehun juga mengataimu nenek sihir yang membuat telinganya sakit jika mendengarmu bicara." Tutur Kai. Baekhyun langsung melihat ke sampingnya tempat dimana tadi Sehun berdiri. Namun, sekarang dia tak melihat lelaki itu lagi.
"Huh! Masuklah! Kali ini aku sedang tidak ingin menghajar kalian. Berterimakasihlah pada Ahjumma yang mengirimkan makanan untukku melalui kalian, karena kalian yang mengantarkan makanan itu aku jadi tidak ingin menggambar tubuh kalian." Ujar Baekhyun kembali dengan nada ceria dan berbinar menatap bingkisan di tangannya.
Mereka pergi ke lantai dua, ke kamar Baekhyun setelah sebelumnya mengambil sumpit dan peralatan makan di dapur. Kini mereka duduk di sofa abu-abu yang ada di kamar itu sambil menikmati makanan dan bermain video game. Baekhyun makan dengan lahap sambil mengomentari permainan Kai. Sedangkan Sehun? Ia hanya menatap malas kedua sahabatnya, atau lebih tepat sepupunya.
Sehun memperhatikan kamar Baekhyun. Meskipun sudah sering ke sini, pasti ada saja yang berubah dari kamar lelaki cantik tapi menakutkan itu. Seperti sekarang, ia menemukan gitar baru Baekhyun yang terletak di samping meja belajarnya, atau koleksi gambar Baekhyun terbaru, dan kini matanya menangkap sebuah objek yang membuatnya terkekeh pelan.
"Apa yang kau tertawakan, Albino?" Tanya Baekhyun masih sibuk memakan makanannya.
"Kau benar-benar terlihat bodoh dan idiot dengan tampilan itu di sekolah." Ujar Sehun teringat kejadian tadi siang, saat ia melihat Baekhyun keluar dari gudang penyimpanan barang di halaman belakang.
"Apa yang barusan kau katakan? Jika kau mengatakan hal bodoh itu lagi, aku tak akan segan menjadikanmj koleksi gambarku, Hun." Ujar Baekhyun datar. Sehun dan Kai yang mendengar itu bergidik ngeri. Namun, dengan segera Sehun merubah ekspresinya seperti semula.
"Kau tidak akan setega itu padaku kan, Hyeong?" Tanya Sehun takut-takut. Bukannya menjawab pertanyaan Sehun, Baekhyun malah mengeluarkan pisau lipat tajam dari dalam sakunya.
"Mian Hyeong, aku hanya bercanda. Habisnya kenapa kau menggunakan style itu ke sekolah? Tidakkah kau merasa marah saat Channyeol membully dirimu di sekolah? Kau bahkan meminta kami untuk bersikap tidak mengenalmu." Ujar Sehun membela diri.
"Aku hanya ingin mencoba gaya baru. Tidak aka nada satupun yang mengenalku di sekolah kecuali kalian. Aku tak ingin kehidupanku di sekolah menjadi ribut karena berteman dengan kalian, dancer terbaik EIHS." Jawab Baekhyun dan melanjutkan makannya.
"Kalau begitu, jangan menjadikan ruangan music sebagai markas kita." Ujar Sehun yang membuat Baekhyun mendelik.
"Akan aku jamin tidak akan ada orang yang mendatangi ruangan music saat kita berkumpul di sana. Aku sudah mengatur jadwal club music di sore hari setiap hari sabtu." Perkataan baekhyun sukses membuat Sehun terdiam.
'Tak ada gunanya berdebat dengan nenek cerewet itu.' ─ batin Sehun.
"Hyeong, siapa yang akan kau jadikan koleksi gambarmu selanjutnya?" Tanya Kai. Entah sejak kapan ia sudah berbaring di ranjangg Baekhyun sambil memainkan sesuatu. Sontak Sehun dan Baekhyun mengalihkan pandangan mereka kepada Kai. Sehun terlihat terkejut melihat benda yang dimainkan Kai.
"Kapan kau mendapatkannya, Hyeong?" Tanya Sehun sebelum Baekhyun sempat menjawab pertanyaan Kai.
"Tadi siang di gudang belakang sekolah. Kau bertanya seperti tidak tahu saja kalau kini adalah giliranku." Ujar Baekhyun.
"Aku memang tidak tahu. Aku tidak mendapat pesan apapun." Mendengar perkataan Sehun, Kai dan Baekhyun langsung mengalihkan pandangan mereka pada maknae itu.
"Coba lihat ponselmu! Aku saja sejak pulang sekolah tadi mendapat pesannya." Sehun langsung membuka ponselnya. Dan benar saja, ponsel itu tidak menyala, lowbath. Ia mendapat tatapan tajam dari Baekhyun dan Kai karena lalai tidak mencharge ponselnya. Bagaimana bisa ponsel sepenting itu tidak di chargenya semalam? Oh sungguh ia benar-benar lupa. Segera Sehun meminjam charger Baekhyun dan mengisi daya ponselnya. Ketika ia menghidupkan kembali ponsel tersebut, langsung masuk satu pesan ke dalam ponselnya. Jelas saja ia segera membuka pesan tersebut.
"Setelah karya Wind yang memuaskan, selanjutnya kalian akan melihat karyaku minggu depan. Light" Isi pesan terbut membuat Sehun menatap Baekhyun dengan senyum misteriusnya.
"Tak kusangka giliranmu sangat cepat, Light. Aku baru saja menyelesaikan tugasku semalam." Ujar Sehun.
.
.
Pagi itu tidak seperti biasanya. Terjadi kehebohan di kelas 3-1. Seluruh mata memandang ke depan kelas. Dimana terdapat seorang pemuda manis berdiri dengan canggung karena perhatian penuh yang tertuju padanya. Pemuda itu adalah siswa baru di sekolah itu. Ah bukan, lebih tepatnya siswa baru di kelas 3-1.
"Selamat pagi.. Aku Xi Luhan, kalian bisa memanggilku Luhan. Semoga kita bisa berteman." Ujar Luhan dengan senyum lima jari yang terkesan dipaksakan.
"Selamat datang Luhan. Aku Kim Joonmyeon ketua kelas 3-1. Kau bisa memanggilku Suho." Salah seorang siswa berdiri dan memperkenalkan dirinya sebagai ketua kelas. Luhan tersenyum membalas perkenalan Suho tadi.
"Luhan, kau bisa duduk di sebelah Baekhyun. Byun Baekhyun, angkat tanganmu." Ujar Kim Saem. Luhan beranjak dari depan kelas menuju kursi nomor 3 dari depan, setelah sebelumnya ia membungkuk dan mengucapkan terima kasih pada wali kelas barunya. Ketika ia berjalan menuju bangkunya, entah kenapa ia mendengar orang-orang berbisik ke arahnya.
"Hai Baekhyun, aku Luhan. Semoga kita bisa saling membantu." Ujar Luhan yang sudah duduk di kursi di samping Baekhyun. Baekhyun hanya mengangguk sekali sambil memperbaiki kacamata kebesarannya, dan kemudian ia menunduk lagi.
"Hoi Red Byun! Akhirnya kau mendapat teman duduk huh?!" Kata orang yang di belakang Baekhyun dengan nada sinis sambil menendang pelan kursi Baekhyun. Luhan yang menatap Baekhyun hanya diam dan terus menunduk mengalihkan tatapannya pada lelaki yang ada di belakang Baekhyun. Namun, lelaki itu malah menatapnya tajam, seakan mengancam.
'Apakah Baekhyun target pembullyan di kelas ini?' Pikir Luhan sambil menilik penampilan Baekhyun yang bisa disebut hampir seperti nerd.
TBC or END
.
.
Jin repost fict ini, soalnya tadi fict ini gak sengaja ke hapus.. Jin rada ceroboh hehe, mohon di maklumi oke..
Reader-nim annyeong! ^^ Jin bawa chapter baru nih.. terima kasih sudah mau membaca dan mereview karya Jin yang abal-abal ini.. apa kelamaan ya kalau updatenya seminggu sekali? rencananya fict ini setiap hari rabu updatenya.. tapi kalau ada saran lain dari reader-nim akan Jin pertimbangkan..
Sekali lagi setelah membaca jangan lupa tinggalkan jejak oke? (^,^)
